Thousand of Tears
Chapter 14 Belah Batu itu!
Beberapa hari setelah kejadian yang menimpa Shirazumi, Sakonji mengumumkan kalau dia sudah tak bisa mengajari Tanjiro lagi. Dia sudah tak memiliki apapun yang bisa diajarkan padanya.
Tanjiro dan Shirazumi yang hadir saat itu terkejut mendengarnya. Dia tiba-tiba berkata seperti itu tepat setelah latihan hari itu selesai. Kini terserah Tanjiro, apakah dirinya bisa berkembang atau tidak.
Sakonji menyuruh Tanjiro mengikutinya, Shirazumi pun ikut dengan mereka.
.
.
.
Selama mereka berjalan, tiba-tiba turun salju. Salju pertama di musim dingin. Suhu di sekitar mereka menurun, langitpun menjadi mendung. Melihat keadaan sekitar dimana sinar matahari kini tertutupu awan salju, Shirazumi melepaskan topinya. Pemandangan ini mengingatkannya dengan kejadian mengerikan satu tahun yang lalu.
Mereka bertiga berhenti di depan sebuah batu yang besar. Batu besar itu memiliki tali tambang yang dihias kertas putih diikat di sekelilingnya. Terlihat dengan jelas bahwa tali tambang itu sudah cukup lama diikatkan pada batu itu.
Ujian terakhir yang diberikan Sakonji adalah membelah batu. Tanjiro harus bisa membelah dua batu itu dengan katana yang dipegangnya. Apabila Tanjiro tak sanggup melakukannya, Sakonji tak mengizinkannya mengikuti seleksi akhir di Gunung Fujikasane.
Shirazumi dan Tanjiro menatap batu itu lekat-lekat. Dalam pikiran mereka, bagaimana bisa batu sebesar itu dibelah dua menggunakan katana?
Tanjiro masih menatap tak percaya, sedangkan Shirazumi berkata pada Sakonji "Bagaimana caranya adikku bisa membelah dua batu sebesar ini?" Tanya Shirazumi sambil menunjuk batu besar itu. Raut wajahnya mengatakan kalau dia tak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
"Kalau adikmu itu tak bisa membelah batu iitu dengan katana, maka dia tak berhak menjadi pemburu oni". Jawab Sakonji sambil berjalan menjauhi Tanjiro dan Shirazumi.
Sejak saat itu, Sakonji tidak mengajarkan apapun lagi pada Tanjiro. Sebaliknya, kini dia masih melatih Shirazumi agar bisa bertahan dari perubahannya itu. Sejak kejadian dimana Shirazumi tak bisa lagi memakan makanan nabati, Sakonji melatihnya. Baik dalam menahan nafsu untuk memakan manusia, dan juga memanfaatkan kekuatan oni yang sedikit muncul dalam dirinya.
.
.
.
Setelah enam bulan, Shirazumi tak selemah dulu. Pukulan tangan kosongnya kini bisa merobohkan sebuah pohon, walaupun setelahnya dia melompat-lompat sambil berteriak kesakitan...
Untuk penyembuhan diri, tak ada yang berubah. Masih terhitung sangat lambat bagi oni.
Menu makanannya sudah berubah menjadi seratus persen daging. Ikan, kelinci, rusa, ayam, selama itu daging, Shirazumi bisa memakannya. Tapi yang namanya juga orang jepang, pasti suka nasi. Kadang dia iseng mencoba makan nasi, tapi sudah pasti akhirnya dia akan keluar dan muntah...
Singkatnya... Shirazumi tak banyak berubah.
.
.
.
Selama enam bulan itu juga Nezuko belum sekalipun terbangun. Kini sudah satu setengah tahun Nezuko tak membuka matanya. Setiap hari, Tanjiro dan SHirazumi bergantian mengecek keadaannya. Berharap Nezuko akan baik-baik saja dan suatu hari akan membuka matanya.
.
.
.
Selama enam bulan itu juga Tanjiro masih belum bisa membelah batu besar itu. Anak laki-laki itu terus dan terus berlatih. Mengulang semua yang pernah diajarkan gurunya. Tapi apapun yang dilakukannya, batu itu masih tetaplah utuh.
Pernah sekali Tanjiro emosi dan memukul batu itu dengan sekuat tenaga menggunakan katana. Alhasil katana itu patah. Setelah Sakonji mengetahuinya, Tanjiro diikat digantung semalaman di luar.
Shirazumi yang khawatir dengan adiknya itu ikut duduk di luar di bawah pohon dimana Tanjiro diikat dan menemaninya hingga subuh.
.
.
.
Beberapa hari setelah itu, Tanjiro kembali mencoba mebelah batu itu. Hari itu Shirazumi menemani Tanjiro. Karena matahari senja masih bersinar, Shirazumi menggunakan topi kain miliknya.
Berkali-kali Tanjiro mencoba membelah batu itu, tetap tak bisa juga. Tanjiro kembali emosi dan hampir saja memukulkan katana ditangannya itu pada batu itu dengan ceroboh. Untungnya Shirazumi berhasil menghentikannya. Dia tak ingin Tanjiro digantung lagi oleh gurunya.
Tanjiro menjatuhkan katana di tangannya, tapi bagaimanapun dia ingin melepaskan kekesalan itu. Dengan keras Tanjiro memukulkan kepalanya pada batu yang menjadi 'musuhnya' itu berkali-kali.
Suara dua benda keras yang saling bertabrakan terdengar mengerikan bagi Shirazumi. Dia tahu dahi adiknya itu kerasnya bukan main. Tapi Shirazumi berpikir, tak mungkin kalau Tanjiro tak menrasakan sakit sama sekali.
Shirazumi hendak beranjak dari posisinya yang sedang berdiri dibawah pohon untuk menghentikan Tanjiro melukai dirinya sendiri. Tabi tiba-tiba dia merasakan temperatur udara menurun.
Tanjiro sudah berhenti memukulkan kepalanya, Kini dia sedang menatap ke arah di atas batu seperti sedang melihat sesuatu. Padahal, disana tak ada apa-apa.
Walaupun Shirazumi tak tahu apa yang ada di atas batu itu, tapi dia tahu apa yang sedang terjadi.
"Tanjiro pasti sedang melihat 'arwah'" Ucap Shirazumi sangat pelan hingga hanya dirinya sendiri yang dapat mendengar suaranya.
Ya, Tanjiro bisa melihat arwah.
Walaupun Tanjiro sendiri tak menyadarinya, tapi waktu kecil, dia bisa melihat dan berkomunikasi dengan arwah gentayangan walaupun tak banyak.
Yang mengetahui ini hanyalah Shirazumi, Ayah dan Ibu mereka.
Lagipula semenjak Tanjiro menginjak usia tujuh tahun, itu tak pernah terjadi lagi. Ayah dan ibunya berkata bahwa mungkin saja itu hanyalah kekuatan murni anak kecil yang memang terkadang muncul pada anak kecil yang masih polos.
Jadi akhirnya pembahasan akan hal itu dihentikan seakan tidak pernah terjadi.
.
.
.
Setelah itu terlihat Tanjiro sedang melawan sesuatu. Shirazumi tak bisa melihat apa yang dilawan Tanjiro.
Melihat Tanjiro yang seperti ditendang dan terhempas beberapa meter, Shirazumi tak tahan dan berniat segera menghampiri adkinya. Tapi tiba-tiba tubuhnya terasa kaku. Entah berhalusinasi atau bukan, Shirazumi mendengar suara lembut seorang anak perempuan. Saking lembutnya, Shirazumi berpikir kalau itu hanyalah suara hembusan angin.
'Jangan khawatir. Adikmu akan menjadi lebih kuat'
Itulah yang diucapkan oleh suara itu.
Rasa kaku pada tubuhnya menghilang bersamaan dengan hilangnya suara itu.
Berlatih sendirian dan berlatih bersama temanmu.
Keduanya akan memberikan hasil yang berbeda.
TBC
Ada kritik & saran?
Aku tunggu ^_^
