Thousand of Tears
Chapter 15 Siapa Mereka?
Shirazumi melihat ke sekeliling berusaha menemukan sumber suara lembut itu. Tapi tak ada siapa-siapa di tempat itu selain Shirazumi dan Tanjiro.
Berikutnya terdengar Tanjiro berbicara dengan 'arwah' itu seperti sedang berdebat. Kemudian kembali Tanjiro diserang bertubi-tubi. Menurut suara yang didengar Shirazumi, Tanjiro akan menjadi lebih kuat. 'Mungkinkah ada seseorang yang sedang melatihnya?' Ucap Shirazumi dalam hati.
Suara yang lembut tadi terdengar lagi oleh Shirazumi. "Tenanglah. Aku tahu kau tak bisa melihat kami. Tapi kau bisa mendengar suaraku. Kami berdua akan membantu adikmu agar bisa membelah batu itu. Namaku Makomo, yang sedang bersama adikmu itu Sabito".
Tak disangka, Shirazumi tak terlalu terkejut dengan suara itu. Adiknya kini tengah melawan arwah gentayangan.
Selagi mendengarkan Makomo, Tanjiro dikalahkan oleh Sabito hingga tak sadarkan diri. Dia segera menghampiri adiknya yang telentang dan tak sadarkan diri.
Setelah memastikan adiknya baik-baik saja, Shirazumi menarik nafas lega. Dia ingin membawa Tanjiro kembali ke rumah Sakonji, tapi tubuhnya tak kuat mengangkat Tanjiro yang lebih berat darinya.
Shirazumi tak bisa membawa Sakoni karena pria tua itu sedang pergi ke desa membeli beberapa barang dan menurut pesannya, dia tak akan pulang hingga besok siang.
Tak ada pilihan lain, Shirazumi harus menunggu adiknya tersadar. Hingga matahari tenggelam, Tanjiro tak kunjung sadar. Shirazumi semakin khawatir.
.
.
.
Akhirnya, saat matahari tergantikan oleh bulan sabit, Tanjiro tersadar. Belum apa-apa dia langsung meracau mengenai anak laki-laki yang telah mengalahkannya itu. Tentang seberapa kuatnya dia, seberapa bagus gerakannya.
"Nee-chan! Apa Nee-chan melihatnya!? Gerakannya sangat bagus. Sangat rapih. Tak ada satupun gerakannya yang sia-sia. Aku ingin menjadi sepertinya!?" Tanjiro berkata dengan semangat.
Shirazumi tak bisa menjawab adiknya itu karena di tak benar-benar melihat pertarungan singkat antara Tanjiro dan Sabito.
Tanjiro mencium bau yang tak biasa dari kakak perempuannya. Wajah Shirazumi yang tak tertutupi oleh topinya itu tersenyum kecil seperti menyembunyikan sesuatu.
"Nee-chan. Apa Nee-chan menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Tanjiro sambil sedikit mengerutkan dahinya.
Shirazumi langsung mengubah raut wajahnya dan berdiri dan melipat tangannya di dada dan berkata "Ngak sopan! Nee-chan ini perempuan. Pastinya punya banyak rahasia"
Tanjiro menatap kakak perempuannya itu dengan agak terkejut. Dua detik berlalu dengan kesunyian kemudian terdengar tawa. Shirazumi dan Tanjiro tertawa karena tingkah mereka sendiri.
.
.
.
Shirazumi dan tanjiro berjalan bersama kembali ke rumah guru mereka. Selagi berjalan, dua kakak adik itu saling berbincang.
"Nee-chan, apa aku bisa jadi kuat seperti orang tadi?" tanya Tanjiro pada kakaknya. Dia belum sadar kalau Shirazumi tak bisa melihat Sabito.
"Jangan pakai kata 'orang itu'. Mereka punya nama. Sabito, dan Makomo". Jawab Shirazumi menasihati.
"Nee-chan mengenalnya? Eh, tunggu. Ada dua orang?" Tanya Tanjiro bertubi-tubi. Tanjiro baru bertemu dengan Sabito, karena itu dia tidak tahu kalau ada satu orang (arwah) lagi tadi.
"Aku tak tahu. Anak perempuan bernama Makomo yang memberitahuku nama mereka. Oh iya. Lebih baik jangan katakan mengenai Sabito dan Makomo pada Urokodaki-san". Shirazumi berkata.
Tanjiro yang bingung dengan kalimat terakhir kakaknya itu bertanya penasaran "Memang kenapa tak boleh?"
"Pokoknya jangan!" Jawab Shirazumi dengan nada serius. Dari bau yang dikeluarkan Shirazumi, Tanjiro tahu kalau lebih baik menuruti kakaknya.
.
.
.
Setelah berjalan sambil mengobrol. Akhirnya mereka sampai di rumah Sakonji. Yang dicari dua bersaudara itu pertama kali adalah adik mereka Nezuko.
Wajah Tanjiro dan Shirazumi kembali bersedih melihat adik mereka yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
Shirazumi menyuruh Tnjiro duduk kemudian mengambil kotak obat, kain, dan ember kecil berisi air. Perlahan Shirazumi membersihkan luka-luka adiknya dan membalutnya dengan perban.
"Sudah selesai. Lebih baik kau tidur sekarang. Besok kau akan berlatih lagi kan? Kali ini kau puny lawan yang sebaya." Ucap Shirazumi sambil mengangkat ember kayu yang air di dalamnya sudah mengeruh.
"Eh... Apa...?" Tanjiro berkata bingung. "Sepertinya Sabito dan Makomo ingin melatihmu agar kau bisa membelah batu besar itu" Shirazumi menanggapi adiknya yang kebingungan.
Tanjiro tersenyum membayangkannya. Shirazumi yang sudah kembali setelah membuang air kotor itu mengingatkan kembali Tanjiro agar tidak memberitahu Sakonji mengenai Sabito dan Makomo. Tanjiro yang sedang melepaskan Haorinya mengangguk mengerti.
.
.
.
Shirazumi hanya bisa bergerak bebas saat malam hari, saat matahari tidak bersinar. Karena itu, jatahnya mencuci dilakukannya malam hari menjelang subuh. Paginya, antara Sakonji dan Tanjiro yang menjemur.
Selagi mencuci, Shirazumi memikirkan tentang Sabito dan Makomo. Dari suaranya, Makomo mungkin berumur 13 tahun atau bahkan kurang. Dua anak itu hanya arwah. Dengan kata lain mereka sudah mati.
Tapi kenapa mereka mau melatih Tanjiro? Itu terus terpikirkan olehnya.
Saat membersihkan rumah Sakonji, Shirazumi pernah menemukan tempat penyimpanan di bawah lantai kayu. Disana ada beberapa pedang dan juga beberapa pakaian anak-anak.
Shirazumi memikirkan satu kemungkinan. Mungkin mereka dulunya adalah murid dari Urokodaki Sakonji, namun telah gugur.
Shirazumi tak pernah membicarakan itu dengan Sakonji. Dia takut akan menyinggungnya. Lagipula Sakonji tak pernah membicarakan apapun mengenai murid-muridnya yang sebelumnya.
.
.
.
Saat Shirazumi selesai mencuci, ternyata sudah hampir fajar. Shirazumi meninggalkan kain yang sudah dicuci dan tinggal dijemur itu dan bergegas memasuki rumah. Dia tak ingin sampai terkena sinar matahari.
Seperti hari-hari sebelumnya, saat Shirazumi masuk, Tanjiro masih tidur. Dia sering tidur di depan meja setelah menulis jurnal harian miliknya, sekarang juga sama. Di pinggir meja terdapat tumpukan buku yang berupa jurnal yang ditulisnya sendiri.
Tanjiro bilang dia ingin menceritakan kisah perjuangannya selama berlatih dengan Sakonji pada Nezuko kalau dia bangun nanti.
Shirazumi berpikir, kalau itu ide yang bagus.
Jika tak bisa dilihat,
Bukan berarti tak ada.
Jika tak bisa didengar,
Bukan berarti tak bersuara.
TBC
Ada kritik & saran?
Aku tunggu ^_^
