Thousand of Tears

Chapter 17 Menuju Seleksi Akhir


Sambil melihat batu yang baru saja terbelah dua, Sakonji mengatakan isi hatinya yang sesungguhnya.

"Aku tak berniat untuk mengirimmu ke seleksi akhir. AKu tak ingin lagi melihat anak-anak didikku mati. Kupikir kau pasti tak bisa membelah batu itu. Tapi kau bisa".

Sambil mengelus kepala Tanjiro yang rambutnya sudah memanjang, Sakonji melanjutkan kata-katanya "Kau berhasil. Kerja bagus. Tanjiro, kau memang anak yang hebat.

Mendengar kata-kata Sakonji, Tanjiro dan Shirazumi terharu dan menangis. Sakonji yang mengetahui itu memeluk dua bersaudara itu sambil berpesan agar Tanjiro kembali hidup-hidup dari seleksi akhir yang akan dilaluinya.

Shirazumi dan Nezuko sebagai oni tak bisa ikut menemani Tanjiro. Tanjiro akan mengikuti seleksi akhir itu sendirian dan meninggalkan Shirazumi dan Nezuko yang masih tertidur dalam perlindungan gurunya.

.

.

.

Malam harinya, Sakonji memasak makanan spesial untuk merayakan keberhasilan Tanjiro yang telah menyelesaikan latihannya. Menu makan malam hari itu adalah nabe. Berbagai macam sayuran dan daging yang direbus terlihat sangat lezat.

Malam itu Tanjiro makan dengan lahap. Shirazumi juga ikut makan, tapi hanya daging ayam liar yang ada dalam nabe itu yang bisa dimakannya. Saat, Shirazumi mencoba untuk mengambil tahu, tangannya dipukul dengan sumpit oleh Sakonji. Tanjiro yang melihat itu tertawa.

Malam itu terasa seperti malam yang ceria. Tapi itu adalah malam perpisahan sebelum Tanjiro pergi dan mungkin tak akan pulang lagi.

.

.

.

Setelah makan malam selesai, Sakonji membereskan mangkuk dan panci yang dipakai untu nabe, sedangkan Shirazumi memotong rambut Tanjiro.

Saat memulai latihan dengan Sabito, Tanjiro berniat untuk tidak akan memotong rambutnya hingga ia bisa membelah batu besar itu. Rambutnya memanjang hingga melewati bahu.

Tiga kali Shirazumi bertanya pada Tanjiro apakah dia benar-benar ingin memotong rambutnya. Padahal menurut Shirazumi lebih baik dibiarkan panjang. Itu membuatnya terlihat seperti ayah mereka.

Tapi Tanjiro tetap bersikeras untuk memotong rambutnya. Tanjiro berkata kalau dia ingin memotong rambutnya sebagai awal yang baru.

Shirazumi menghela nafas dan menuruti keinginan adiknya. Dia mulai memotong rambut Tanjiro.

Di belakang dua bersaudara itu, Sakonji kembali dan mengambil sehelai kimono miliknya yang bermotif air, sama seperti yang selalu dipakainya. Pakaian Tanjiro harus diperbaiki dulu, karena itu Sakonji meminjamkan salah satu kimono miliknya pada Tanjiro untuk dipakai olehnya besok.

.

.

.

Matahari telah terbit dan Tanjiro sudah bersiap untuk berangkat. Setelah memakai kimono yang dipinjamkan gurunya, Tanjiro masuk ke ruangan yang gelap dimana Nezuko tertidur. Di sebelah Nezuko, terlihat Shirazumi yang sedang duduk. Tanjiro sedikit terkejut, karena dia mengira kakaknya itu sudah tertidur karena sudah pagi.

Tanjiro berjalan mendekati dua saudarinya dan duduk di sebelah Nezuko berlawanan arah dengan Shirazumi.

"Akhirnya... Kau pergi juga ya Tanjiro..." Ucap Shirazumi pada Tanjiro. "Ya. Aku pasti akan menemukan cara untuk mengembalikan kalian menjadi manusia". Jawab Tanjiro sambil memegang tangan Nezuko yang masih tertidur.

Shirazumi bangkit dari posisi duduknya dan mendekati Tanjiro. Tanjiro juga bangkit dari duduknya. Sambil berhati-hati agar kuku panjangnya tak mengenai Tanjiro, Shirazumi menyentuh pipi Tanjiro.

"Aku tak mengharapkan apapun selain kepulanganmu dengan selamat" Shirazumi berkata sambil tersenyum kecil. Setelah itu Shirazumi memeluk Tanjiro dengan erat, seakan kalau dilepaskan Tanjiro akan menghilang.

.

.

.

Setelah mengatakan kata perpisahan, Tanjiro pergi keluar dimana Sakonji sudah menunggu. Walaupun Shirazumi bisa ikut mengantarkan kepergian Tanjiro dengan menggunakan topi kain miliknya, Shirazumi tak melakukannya. Dia takut malah akan menghentikan Tanjiro untuk pergi. Karena itu, dia tetap di dalam menemani Nezuko.

Sakonji berjanji pada Tanjiro untuk menjaga kakak dan adiknya agar Tanjiro tak khawatir. Tanjiro yang mengenakan kimono bermotif air, Nichirin pinjaman dari Sakonji, dan Topeng penangkal yang dibuat oleh Sakonji, kini siap untuk menuju Gunung Fujikasane dan mengikuti seleksi akhir.

Belum sampai sepuluh langkah Tanjiro berjalan, dia berbalik dan mengatakan kata-kata yang mustahil menurut Sakonji.

"Aku titip salam untuk Sabito dan Makomo!"

Sakonji yang mendengar kalinat itu terkejut. Karena dua orang yang disebutkan oleh Tanjiro itu sudah lama mati. tapi Tanjiro mengetahui nama itu dan bahkan menitipkan salam seolah pernah bertemu kedua mendiang muridnya itu. Padahal mereka sudah mati bertahun-tahun yang lalu.

.

.

.

Setelah Tanjiro sudah tak terlihat, Sakonji memasuki rumahnya dan berniat mengecek keadaan Nezuko dan Shirazumi.

Saat dia masuk ke ruangan dimana terdapat Nezuko dan Shirazumi, Shirazumi berkata padanya.

"Dia bisa melihatnya. Maksudku, arwah Sabito dan Makomo"

Sakonji yang tertarik dengan ucapan Shirazumi mendekat dan duduk di depan Shirazumi.

Shirazumi menjelaskan pada Sakonji mengenai Tanjiro yang bisa melihat arwah, dan juga mengenai Sabito dan Makomo yang melatih Tanjiro selama satu tahun ini.

.

.

.

Setelah mendengar cerita dari Shirazumi, selama satu menit tak ada yang bicara. Seakan-akan Sakonji sedang mencerna semua fakta itu.

"Begitu ya... kedua anak itu pasti sangat percaya dengan Tanjiro..." Ucap Sakonji setelah menghela nafas.

"Saya juga tak begitu paham Karena saya tak bisa melihat Sabito dan Makomo. saya hanya sesekali mendengar suara Makomo. saya bahkan belum bilang pada Tanjiro kalau saya tak bisa melihat Sabito dan Makomo" Ucap Shirazumi.

Sambil melihat ke bawah seperti sedang merendahkan diri Sakonji berkata "Aku merasa malu pada diriku sendiri. Aku berpikir kalau Tanjiro tak akan bisa memenuhi permintaanku untuk membelah batu besar itu, tai dua mendiang muridku mempercayainya dan terus membantunya."

Shirazumi yang melihat sikap Sakonji, langsung menyanggahnya. "Anda tidak salah. Saya juga kalau bisa, ingin menghentikan Tanjiro. Tapi melihat tekadnya yang kuat, saya tidak sanggup." Shirazumi mengutarakan isi hatinya.

.

.

.

Terdapat tiga orang yang kini menunggu dengan cemas kepulangan Tanjiro.

tanjiro terus berjalan menuju Gunung Fujikasane dimana dilaksanakan seleksi akhir tanpa menyadari, kebenaran akan Sabito dan Makomo akan terungkap disana.


Mengantar kepergian orang yang disayangi memang menyakitkan,

Tapi menanti kepulangannya,

Bisa lebih menyakitkan.


TBC

Ada kritik & saran?

Aku tunggu ^_^