Thousand of Tears
Chapter 19 Amarah Tanjiro
Untuk Tsuki (25/10/2019) : Udah diupdate nih. Silahkan baca :)
Shirazumi sedang berlatih menggunakan katananya sendirian, hingga tiba-tiba dia mendengar suara dua orang anak-anak. Salah satu dari suara itu pernah didengarnya, itu suara Makomo. Sedangkan satu lagi suara milik anak laki-laki.
Shirazumi mendekati sumber suara itu yang ternyata berasal dari tempat dimana terdapat batu besar yang dibelah adiknya.
Dua suara itu nampaknya sedang membicarakan Tanjiro. Membicarakan tentang kemungkinan gagalnya Tanjiro dalam seleksi akhir pemburu oni. Dan juga harapan keberhasilannya karena Tanjiro berhasil membelah batu besar yang belum pernah bisa dibelah oleh siapapun.
Menurut yang dikatakan Sakonji padanya, gagal dalam ujian seleksi akhir itu berarti mati. Wajah Shirazumi memucat mendengar perkataan dua suara itu.
Shirazumi menghampiri kedua suara itu dan berkata.
"Jadi menurut kalian, Tanjiro tak akan berhasil?"
.
.
.
Sabito dan Makomo menatap Shirazumi yang harusnya tak bisa melihat mereka. Tapi itu memang benar. Shirazumi tak bisa melihat Sabito ataupun Makomo. Matanya melihat lurus ke arah batu yang diduduki Sabito.
"Matamu lurus, berarti kau masih tetap tak bisa melihat kami. Tapi kau bisa mendengar suara kami" Ucap Sabito masih tetap dalam posisi duduknya.
Shirazumi tak tahu dimana posisi Sabito dan Makomo. Karena itu dia terus menatapbatu itu saat dia menganggukkan kepalanya. Mengisyaratkan kalau apa yang dikatakan Sabito itu memang benar.
"Walaupun kami dan Urokodaki-san mengajarinya. Itu teap ada batasnya. Sisanya, tergantung dirinya sendiri apakah bisa berkembang atau tidak. Kalau tidak bisa..." Sakonji menghentikan kalimatnya. Tapi Shirazumi melanjutkannya dengan pertanyaan. "Kalau tak bisa, adikku akan mati?"
"Itu benar" Kali ini Makomo yang menjawab.
Shirazumi berusaha tenang dengan menutup mata dan menghela nafas dalam-dalam. Apa yang diucapkan Sabito dan Makomo itu seperti menyentuh luka lama yang hampir terbuka kembali.
Shirazumi tak ingin lagi kehilangan anggota keluarganya. Dalam hati kecilnya, dia sangat ingin menghentikan Tanjiro untuk mengikuti ujian seleksi akhir itu. Tapi sisi hatunya yang lain sangat percaya Tanjiro. Dia percaya adik laki-lakinya itu akan kembali dengan selamat. Demi dirinya, juga demi Nezuko.
Setelah menghembuskan nafasnya yang sempat ditahannya, Shirazumi membuka matanya.
Sambil berusaha tersenyum Shirazumi berkata.
"Aku percaya. Aku percaya adikku akan kembali. Dia sudah berjanji. Tanjiro bukan anak yang suka berbohong, apa lagi melanggar janji."
Sabito dan Makomo yang mendengar ucapan Shirazumi ikut tersenyum.
Tapi senyuman itu tak bertahan lama. Sebagian dari diri Sabito dan Makomo ada di gunung Fujikasane. Mereka bisa melihat apa yang sedang dilakukan Tanjiro.
Saat ini, Tanjiro sedang menghadapi oni yang menjadi penyebab kematian Sabito dan Makomo.
Setelah beberapa saat kesunyian, tiba-tiba Sabito berkata sesuatu.
"Tenangkan dirimu Tanjiro. Nafasmu tak beraturan. Jangan memikirkan kami. Fokuslah pada apa yang harus kau lakukan!"
Sabito berkata seakan sedang berbicara dengan Tanjiro. Makomo menjelaskan tentang sebagian dari diri mereka yang ada di Gunung Fujikasane dan juga keadaan Tanjiro yang sekarang.
Mendengar penjelasan Makomo, Shirazumi terkejut. Wajahnya semakin memucat.
Adiknya sedang dalam bahaya.
.
.
.
Oni dihadapan Tanjiro melanjutkan ceritanya.
Dia menjelaskan kalau dia bisa tahu kalau murid Sakonji mengikuti seleksi akhir. Itu karena topeng yang dibuat Sakonji adalah tandanya. Semua murid Sakonji mengikuti seleksi akhir dengan menggunakan topeng buatannya.
Karena menggunakan topeng itu... Semua murid Sakonji dimakannya.
"waktu kuberitahu gadis dengan kimono bunga itu, dia menangis dan mengamuk. Gerakannya jadi kacau, karena itu kupatahkan tangan dan kakinya". Ucap oni itu sambi tertawa kecil di tiap sela-sela ucapannya. Seakan apa yang sudah dilakukannya itu adalah hal yang lucu.
Ucapannya itu semakin membakar kemarahan Tanjiro.
karena dikuasai amarah, Tanjiro tak bisa berpikir jernih. Tanpa memikirkan apapun dia bergerak menerjang oni yang sudah menyulut amarahnya itu.
Oni itu menyerang Tanjiro dengan tangannya yang banyak, tapi Tanjiro berhasil menebas tangan-tangan itu.
Sebagian dari diri Sabito yang berada di gunung Fujikasane berusaha memperingatkan Tanjiro untuk tidak gegabah. Tapi karena Tanjiro sedang dikuasai amarah. Baik sosok maupun Suara Sabito tak tersampaikan padanya.
Karena bergerang dengan gegabah. Oni itu berhasil menyerang Tanjiro, membuatnya terhempas dan menabrak pohon dengan keras.
Kepalanya terluka, Tanjiro tak sadarkan diri. Topeng yang dipakainya rusak dan pecah.
.
.
.
Dalam keadaan tak sadarkan diri, Tanjiro merasa ada yang memanggilnya. Tanjiro sangat mengenal suara anak laki-laki itu. Itu adalah suara Shigeru. Shigeru memanggilnya berkali-kali hingga akhirnya Tanjiro tersadar dan segera menghindari serangan dari oni itu.
Tanjiro tak punya banyak waktu untuk berpikir kenapa dia bisa mendengar suara adiknya yang sudah meninggal karena tangan-tangan itu terus menyerangnya. Walaupun dia memotong tangan-tangan itu, tangan yang baru akan terus tumbuh seperti tak ada habisnya.
Tiba-tiba dari arah tanah yang ada di bawahnya, Tanjiro bisa mencium bau oni itu. Dia segera melompat setinggi mungkin. Ternyata benar, ada tangan milik oni itu yang keluar dari tanah, mencoba menangkap Tanjiro yang masih melayang di udara karena lompatannya yang tinggi.
Saking tingginya Tanjiro melompat, tak satupun dari tangan-tangan itu yang bisa sampai padanya.
Saat Tanjiro sudah tidak terlalu tinggi berada di udara, saat itula Oni itu kembali mengerahlan salah satu tangannya yang besar untuk menyerang Tanjiro. Oni itu berniat memukul hancur Tanjiro.
Tapi Tanjiro berputar di udara dengan memukulkan kepala super kerasnya itu pada tangan itu.
Karena Tanjiro menghindari tangan terakhir milik oni itu, kini Oni itu tak punya tangan untuk menyerang Tanjiro. Dia merubah dirinya dari mode menyerang menjadi bertahan.
Oni itu melindungi lehernya dengan tangan-tangan sisa yang dimilikinya. Tangan-tangan itu terlalu pendek untuk dipakai menyerang.
Oni itu memiliki leher yang sangat keras. Bahkan Sabito sekaalipun tak bisa memotong lehernya. Karena itulah, Oni itu bisa membunuh Sabito.
Kini dengan lehernya yang dilindungi berlapis-lapis tangan, tentunya semakin sulit untuk dipenggal.
Tapi ternyata itu salah.
Dengan pernafasan air bentuk pertama, Minamo Giri, Tanjiro berhasil menebas leher oni itu.
Tiga tempat yang sering dikunjungi arwah seseorang.
Tempat dimana hal yang berharga baginya berada,
Tempat dimana dia dikuburkan, dan
Tempat dimana dia kehilangan nyawanya.
TBC
Ada kritik & saran?
Aku tunggu ^_^
