note. latar waktunya sekian tahun setelah daigakusei-hen berakhir


02. advokasi

Setelah tiga sesi latihan bersama orkestra di ibukota dan satu masterclass di kota lainnya, Tsukimori melangkah masuk ke dalam mansion dalam rangka merebahkan diri. Dahulu kala, ketika usianya masih awal kepala dua, perjalanan pulang-pergi Yokohama dan Wina dalam waktu 72 jam tidak mempan untuk menghancurkan vitalitasnya. Sekarang, empat acara beruntun dalam seminggu sudah cukup membuat temperatur tubuhnya naik sedikit di atas rata-rata. Tidak heran ibundanya suka duduk santai di ruang keluarga sembari menikmati secangkir teh. Rupanya ritual satu itu berguna untuk memulihkan tubuh yang remuk dihantam rutinitas pekerjaan.

Dengan matahari tenggelam di latar belakang sana, Tsukimori mengucapkan salam masuk di genkan. Dua salam kemudian, ia terheran-heran.

Aneh, padahal di bawah kakinya ada sepasang sepatu kesukaan istrinya dan anak perempuannya. Itu artinya mereka di rumah, bukan? Lalu mengapa mereka tak segera datang menyambutnya, sang kepala keluarga, seperti yang mereka lakukan tatkala ia pulang?

Rupanya Tsukimori menemukan jawabannya di dekat kamar mandi.

Dengan baju sekolah yang lusuh dengan tanah, lutut dan siku yang lecet (ada yang berdarah tapi sepertinya sudah dibersihkan), begitulah kondisi putrinya sekarang.

"Papa! Okaerinasai," sambut sang putri ketika melihat batang tubuh ayahnya kembali muncul setelah seminggu pergi dinas. Ia mundur sedikit tatkala melihat wajah lelah sang ayah mengeras.

"Kamu… kenapa kamu terluka begitu?" tanya Tsukimori, berderap mendekati sang anak.

"Oh," sang putri menundukkan kepala, "Karena aku berkelahi."

Alis Tsukimori naik semua, tiba-tiba terkenang pada memori musim dingin kelas 4 SD dahulu kala. Sama seperti kelas putrinya sekarang.

"Dengan temanmu, kan? Siapa namanya? Biar kulac—"

"Papa, okaerinasai."

Sang istri menyambut terlambat dari balik punggung sang suami. Di tangannya, ada baju bersih anaknya dan seperangkat alat medis. Tsukimori tak membalas segera. Sang istri melangkah maju untuk menolong putrinya berbenah diri, tanpa permisi dari suaminya.

"Kenapa kamu bisa berkelahi dengan temanmu? Bukankah kamu cerita kalau teman sekelasmu baik-baik saja denganmu?" selidik Tsukimori sembari mengamati istrinya melepaskan baju anaknya.

Sang putri terdiam lama. Mata emasnya terus memandang keset di bawah kakinya. Tak ingin menjawab pertanyaan ayahnya. Ia takut membuat Papa-nya marah, karena beliau baru saja pulang kerja setelah sekian lama. Ia harus menjaga perasaan beliau supaya nanti malam Papa akan mengajarinya main Ave Maria lagi—

"Tidak apa-apa, Sayang," sang ibu melepaskan pakaian dan membersihkan tubuhnya dengan kasih. "Ceritakan saja. Papa tidak akan marah."

Sang putri, yang kini pasrah telanjang di depan orangtuanya, mulai bercerita tentang bagaimana ia tidak memulai perkelahian. Pelakunya adalah teman satu les piano, yang berkata pada semua orang bahwa sang putri Tsukimori dileskan piano dan biola, serta berhasil loncat tingkat karena ia anaknya Tsukimori Len, virtuoso nomor wahid negeri matahari terbit. Bahkan, si pelaku mengarang cerita bahwa Tsukimori menyogok guru lesnya dengan kursi tiket konser di deret depan pada resital tiga bulan lagi. Terakhir, kucir kembar anaknya dijambak keras sekali oleh si pelaku tadi siang saat tes evaluasi. Kejadian beruntun itu membuat sang putri habis kesabaran.

"Dan aku putuskan untuk menoyor kepalanya pakai case biola dan menendang tititnya!" eksklamasi putrinya begitu ceria dan tanpa beban.

"…Apa."

"Titit, Papa. Aku tendang titit keraaaaas sekali—"

"Bukan itu yang kumaksud."

Sang putri memandang sang ayah dengan ekspresi heran. Tidak paham dengan ucapan Papa-nya barusan.

"Siapa yang mengajarimu berkelahi?" tanya Tsukimori setelah beberapa saat.

Tak disangka, yang akan menjawab pertanyaannya adalah sang ibu. Karena itu adalah ajarannya.

.

.

Setelah menyuruh sang anak beristirahat di kamarnya, Tsukimori tidak membuang waktunya lagi.

Di keluarga Tsukimori, ketika mereka berinteraksi di depan anak, pasangan suami istri ini memanggil satu sama lain dengan sebutan Papa dan Mama. Menurut Tsukimori, panggilan tersebut secara tidak langsung akan mengajarkan sopan santun untuk anaknya. Sebenarnya ia lebih suka panggilan Ayah-Ibu, tetapi kalau dipikir-pikir lagi panggilan tersebut malah merujuk pada orangtuanya sendiri. Lagipula, istrinya lebih suka dengan panggilan Papa-Mama, katanya lebih youthful.

Tapi itu semua menjadi lain cerita ketika ia hanya berdua dengan istrinya.

"Kahoko," mulai Tsukimori. "Kenapa kamu mengajarkan anak kita untuk berkelahi? Kamu tahu betapa berharganya jemarinya untuk bermain musik, kan? Bagaimana kalau nanti jarinya kenapa-napa?"

"Hmm… " gumam sang istri, Kahoko, yang kini setengah mengabaikannya karena sibuk mengeluarkan isi koper. Suaminya ini dengan seenaknya meninggalkan koper medium miliknya di genkan, membuatnya harus menggotong barang tersebut ke kamar master mereka di lantai atas. Harus segera ia bersihkan, karena tiga hari lagi suaminya akan jadi juri kompetisi biola di negeri tetangga.

"Kahoko—"

Desakan tersebut rupanya membuat Kahoko mengalihkan perhatian ke suaminya. Sepasang mata emasnya, yang serupa dengan putri mereka, membalas tatapannya secara langsung.

"Justru karena jemari berharga itulah yang membuatku mengajarkannya untuk membalas dengan kekerasan."

Jawaban tersebut membuat Tsukimori diam.

Setelah Kahoko merasa suaminya cukup tenang, ia pun melanjutkan.

"Perkelahian anak kita bukan perkara menang atau kalah, tetapi tentang mempertahankan apa yang ia miliki. Kalau dia tidak segera bertindak, apa Len-kun yakin kejadiannya tidak akan menjadi tambah runyam? Len-kun pasti tahu sendiri apa yang seorang bocah SD bisa lakukan ketika ia iri dengan temannya yang lebih beruntung."

Ah. Ternyata Kahoko ingat dengan kisah yang ia ceritakan sekian tahun yang lalu saat mereka SMA. Ia kira sang istri menganggap kisahnya sebagai ucapan angin lalu belaka.

"Lagipula," tambah Kahoko, membuat pikiran Tsukimori kembali ke dunia nyata.

"Kurasa Tuhan menciptakan tangan tidak untuk menciptakan nada-nada indah saja, tapi juga untuk baku hantam."

"Kahoko."

Dan panggilan seram tersebut tak diindahkan oleh si empunya nama. Malah ditertawakan kecil belaka.

(Toh, Kahoko yakin Len-kun juga setuju dengannya—walaupun tidak terang-terangan).