03. wina

Semula dimulai dari perkenalannya dengan Ousaki-senpai.

Ousaki Shinobu, murid kesayangan Saotome-sensei, guru biola yang paling Tsukimori segani. Ousaki Shinobu, seniornya dalam umur, sekolah, dan musik. Ousaki Shinobu, seseorang yang gaya bermain biolanya diam-diam ia irikan. Ousaki Shinobu, kenalan dekat pertamanya.

Tsukimori tahu bahwa ia berhutang budi pada kakak kelasnya, dan rasa bersyukurnya melebihi rasa yang ia rasakah pada hari itu ketika Ousaki menyelamatkan dirinya saat kelas 4 SD.

Sejak ia mengenal status Ousaki-senpai yang dijunjung oleh Saotome-sensei, Tsukimori kecil selalu mendengarkan sesi privat les senpai dengan sensei. Dengan diam-diam, tentu saja. Tuan muda kecil itu diunggulkan dengan statusnya yang masih SD, yang membuatnya mendapat jadwal les lebih awal dari Ousaki-senpai karena yang bersangkutan duduk di bangku SMP.

Setelah tujuh kali sesi menguping, tindakan kurang ajarnya itu akhirnya ketahuan juga. Saotome-sensei yang kesal berhasil diredam emosinya oleh Ousaki-senpai. Katanya, ia tidak keberatan sesi privatnya ditemani adik kelasnya yang menggemaskan.

Tsukimori kecil malu setengah mati mendengar dirinya dipanggil begitu. Meskipun begitu, rasa itu tidak dapat mengalahkan rasa penasaran untuk mengetahui lebih lanjut apa yang membuat Ousaki-senpai spesial.

Sesuatu apa yang Ousaki-senpai miliki dalam musik, yang tidak ia miliki?

(Atau yang belum ia miliki?)

Maka Tsukimori menyimak khidmat gesekan merdu bow biola milik Ousaki-senpai. Mendalami keindahan nan kehangatan dari permainan rumit itu, membiarkan dirinya tenggelam dalam kelembutan yang membuai kalbu…

…ah.

Tsukimori kecil paham.

Kualitas permainan Ousaki-senpai sama seperti kualitas musik ayah dan ibunya.

Tidak heran jiwanya seperti terpanggil pada motif lantunan senpai.

(Tetapi harga dirinya menolak untuk menerima panggilan itu.

Tanpa sepengetahuannya, tentu saja.

Karena ia masih kecil dan belum mengenal dunia.)

.

.

Suatu hari, Tsukimori kecil dan Ousaki-senpai sedang duduk di ruang tamu tempat les Saotome-sensei. Pihak resepsionis mengatakan bahwa sensei sedang ada acara di luar, maka dari itu beliau akan datang terlambat.

Sembari menggerakkan kaki tanda tidak sabar, Tsukimori kecil membiarkan pikirannya berlarian ke mana-mana. Ayahnya pernah berkomentar kalau putranya ini suka melamun.

"Tsukimori-kun? Sekolahmu baik-baik saja, 'kan? Kudengar PR musim panasnya tambah banyak."

"Ah," Tsukimori kecil terbangun dari lamunnya, "sekolahku baik-baik saja, senpai. Kalau senpai bagaimana?"

"Aku?" entah mengapa, pertanyaan setengah hati sang tuan muda menerbitkan senyum Ousaki. "Aku baru saja pulang dari Wina!"

Nama salah satu ibukota termahsyur di benua biru itu segera mengunci atensi Tsukimori. Dengan membeokan kata itu, rentetan kisah musim panas Ousaki di Wina pun mengalir lancar tanpa henti. Tsukimori jelas pernah membaca Wina, Austria sebagai ibukota musik klasik. Tetapi apa yang ia baca rupayanya tak ada bandingannya dengan testimoni langsung dari kakak kelasnya.

Ousaki bercerita bahwa Wina adalah kota yang dari matahari terbit hingga tenggelam selalu dipenuhi oleh musik. Warganya sangat bangga akan sejarah musik mereka yang sangat panjang dan sangat mengapresiasi siapapun yang belajar musik di sana.

"Percayalah, Tsukimori-kun, Wina itu bagaikan surganya musik dunia! Kamu bisa mendengar beragam nada dari seluruh dunia di satu tempat dan menikmatinya dalam satu hari takkan cukup.

"Kamu harus tinggal di sana, belajar di sana, dan merasakan budaya musik mereka hingga rasanya masuk begitu dalam ke sumsum tulangmu!"

Dan dari situ, Tsukimori Len kecil bercita-cita akan pergi belajar ke Wina.