04. dansa terakhir

Sepanjang perjalanan dari studio latihan hingga lobi Akademi Seisou, Tsukimori melewati banyak siswa-siswi yang berbondong-bondong menuju aula tempat diadakannya pesta dansa. Sebagai acara puncak sekaligus penutup dari pekan kesenian tahunan, pesta dansa merupakan ajang bagi banyak anak muda yang menimba ilmu di Seisou untuk mengukir kenangan masa indah di SMA. Tak peduli mau siswa jurusan musik atau umum, semuanya sibuk membicarakan acara itu dengan nada antusias.

Tentu saja, seperti tahun sebelumnya, Tsukimori tidak berniat sama sekali untuk turut berpartisipasi pada acara tersebut. Sebenarnya, mau acara apapun, asalkan itu tidak ada hubungannya dengan memajukan kemampuan bermusiknya, sudah dipastikan Tsukimori tidak akan datang.

Kakinya siap melangkah menuju dinginnya hawa November ketika telinganya menangkap kasak-kusuk gerombolan siswi di pojokan, mendengar nama temannya yang akhir-akhir ini membuatnya kalut.

"Katanya Hino-san berdansa dengan tiga selebriti sekolah, lho," bisik si A dengan nada penuh skandal.

"Kaji-kun, Shimizu-kun, dan Hihara-kun, kah?" tanya si B, sepertinya sedang berklarifikasi.

"HAH SAMA MEREKA?!" pekik si C, lengkingannya menusuk gendang telinga sensitif Tsukimori. "Sebenarnya perempuan itu pakai mantra apa sih sampai bisa didekati oleh mereka? Muka nggak cantik gitu."

"Entahlah, mau mantra kek, santet kek, pokoknya Hino-san jadi belle of the ball tahun ini," sungut si A. "Perempuan itu benar-benar mencuri perhatian semua orang tahun ini."

"Benar juga, sih…" angguk si B dan C. mau tak mau mengakui fakta tentang popularitas Hino Kahoko yang meroket pada tahun ajaran ini.

Ketiganya terus tenggelam dalam percakapan, tidak sadar akan kehadiran pihak keempat yang tak sengaja menguping dan pergi meninggalkan mereka dalam kondisi telinga panas dan pikiran yang tambah kacau.

.

.

Tsukimori sibuk memasukkan beberapa pakaian musim panasnya ke dalam koper ketika ia mendengar alunan biola yang jelas tidak berasal dari dirinya. Tangannya menurunkan dua lembar blus ketika ia membiarkan dirinya hanyut pada musik yang dibawakan oleh ayahnya. Fruhlingsstimmen oleh Strauss, Tsukimori mengerenyitkan alis. Mengapa ayahnya memilih untuk memainkan lagu dansa saat malam buta begini?

Pemuda itu menemukan jawaban tatkala piano menyusul di belakang alunan biola. Ternyata sang ayah sedang berduet dengan ibunya. Dansa musik yang ceria nan menggoda itu membelah malam, mewarnai kediaman Tsukimori yang sudah cukup lama tak mendengar perpaduan kasih mereka.

Rasa kesal entah mengapa tumbuh di hati Tsukimori. Nada-nada yang dimainkan oleh orangtuanya membawanya kembali pada percakapan tidak mutu yang ia dengar tadi di lobi sekolah, membayangkan bagaimana seorang Hino Kahoko berbahagia karena menikmati dirinya berdansa oleh tiga selebritis sekolah—

Tanpa pikir panjang, Tsukimori langsung mengabaikan proses menata pakaiannya dan segera bersiap untuk tidur. Dan ketika tubuhnya sudah bersembunyi di balik selimut, pemuda itu menutup matanya sembari mengatakan pada dirinya sendiri bahwa mengajak Hino sebagai partner dansanya bukanlah hal penting dalam hidupnya.