note. terinspirasi dari chapter dimana len ngajak kaho nonton resital di salon, detik-detik menjelang len mengabarkan kepergiannya sekolah di luar negeri
06. laporan
Fakta yang tidak banyak orang ketahui tentang Tsukimori Len adalah ia tipe orang yang susah dibangunkan.
Ketika ia bangun, Tsukimori butuh waktu nyaris seperempat jam agar nyawanya turun ke bumi. Ia akan duduk tercenung di atas kasur, menunggu dengan sabar pemandangan kabur di mata menjadi cerah dan pikirannya kembali ke dalam kepalanya. Tsukimori terkadang kesal dengan kelemahannya satu ini, karena hal tersebut membuatnya menjadi orang yang gampang moody apabila ritual paginya tidak dilaksanakan dengan benar. Atau kepala yang super pusing tatkala dibangunkan mendadak.
Suatu pagi di pertengahan bulan Oktober, Tsukimori bangun tidur seperti biasa. Terbaring tenang dalam kondisi masih berselimut, pemuda ini menatap langit kamarnya sembari menyimak suasana tenang nan nyaman yang ditawarkan kamar dan kediamannya.
Samar-samar, ia mendengar suara kasak-kusuk dari luar kamarnya.
"Sayang, kamu harus tahu: semalam Len pergi kencan!"
"Kencan? Sama siapa, Bu?"
"Dengan gadis berambut merah dan berbaju one piece lucu! Yang bermain biola di kompetisi musik intrasekolah bersama Len."
"Ooooh, rupanya sama dia, ya. Tapi Len semalam bilang ia hanya pergi menemani temannya menonton resital."
"Temannya, katamu. Sekarang aku tanya, kalau temannya ini berwujud perempuan seumuran dengan anak kita, menurutmu Len sedang apa, hah?"
"… Dari mana kamu tahu informasi ini?"
"Siapa lagi," jeda sejenak. "Temanmu yang main di resital semalam, ia laporan padaku sekitar jam setengah dua belas malam tadi."
Sepertinya, orang tuanya tidak sadar kalau sedang mengobrol cukup keras di depan kamarnya. Tapi itu tidak menjadi masalah, karena yang diobrolkan masih terombang-ambing di antara dua dunia.
"Temanku langsung laporan padamu sehabis resital. Sebentar, yang berteman dengan dia sebenarnya aku atau kamu?"
"Halah, tidak penting mengurus itu. Yang terpenting adalah anak kita. Akhirnya. Len jatuh cinta."
"…."
"Kenapa kamu diam begitu?"
"… Kalau benar Len sedang kasmaran, lalu kenapa semalam ia pulang dengan muka campur aduk begitu? Kencannya gagal total?"
"… Len sedih? Anak kita pulang dalam kondisi muka cemberut?"
"Begitulah. Aku pulang kantor bersamaan dengan dia yang sedang buka pagar. Ya, dia pasang muka begitu."
"Hmmm."
"… Misa. Kita ngobrolnya terlalu keras. Anakmu nanti bangun."
"Oh, ya. Hmm. Bagaimana kalau kita bangunkan dia pelan-pelan? Seperti dulu, waktu Len masih kecil?"
"Sayang, aku rasa itu bukan ide yang bagus. Anak itu sedang puber, emosinya naik-turun setiap saat. Dia jauh lebih menyeramkan daripada saat masih bayi. Apalagi sepertinya Len habis patah hati. Aku takut."
"Kan kamu ayahnya, bukankah itu tugasmu untuk menenangkan emosi dan hati anakmu?"
"Lho, bukannya itu tugasmu, ya?"
"Ehem."
Tsukimori Len, penghuni termuda di kediaman tiga generasi keluarga Tsukimori, memandang kedua orang tuanya dengan tatapan maha kesal tak terkira. Yang pagi-pagi sudah jadi bahan gosip orang tuanya. Yang sedang khusyuk membahas kepergiannya ke resital bersama Hino semalam.
Sang ibu, Hamai Misa, menyambut wajah cemberut putranya dengan senyum bak bunga matahari. Tangannya otomatis merapikan rambut halus putranya yang mencuat melawan gravitasi.
Sang ayah, memberi senyum yang tak kalah cerah dari istrinya. Sudut mata dan bibirnya yang berkerut tak memudarkan keceriaan yang sengaja ditampilkan demi melawan suasana hati putranya yang buruk.
Kedua orang tua Tsukimori Len langsung terdiam dan hanya bisa memandang sang putra semata wayang yang kini melebarkan pintu kamar untuk bersiap ke kamar mandi. Kedua pasang mata yang berpengalaman mengekori tiap langkah sang anak. Diam-diam mengawasi. Terang-terangan mencintai.
Tsukimori Len bisa merasakan punggungnya sedang diikuti. Pertanyaan menggantung di angkasa, yang menunggu untuk dijawab. Ia tahu orang tuanya bermaksud baik, tapi tolong.
