09. fatamorgana
Ada sesuatu yang tidak beres dengan matanya.
Setiap kali ada suatu perkara yang mengganggu kedamaian batinnya, optik Tsukimori selalu bermain sulap; lawan bicaranya akan berganti sosok menjadi sang dia yang menjadi biang kerok masalah. Semakin dalam masalah tersebut mengusiknya, semakin kuat fatamorgana sang dia menghantui bangunnya.
Pernah, ketika pemuda ini menolak untuk berduet dengan ibunya di konser amal, Tsukimori terus-menerus membayangkan sosok sang ibu ketika ia berinteraksi dengan perempuan acak yang rambutnya mirip dengan beliau. Benaknya mengukir skenario dimana alis elegan sang wanita berkerut tanda kecewa. Bentuk ketakutan yang murni tumbuh di hati sang putra. Kecewa, kecewa, kecewa karena ia bukan putra yang pantas untuk Hamai Misa.
Lagi, ketika Tsukimori bertemu lagi dengan seorang senior yang dahulu kala nyaris meremukkan tangan kirinya dengan batu. Hanya sekilas, tetapi sudah cukup bagi Tsukimori untuk menghindari manusia berambut cepak dengan warna helai rambut terang. Tidak lagi, tidak lagi.
Peristiwa ini pun terulang lagi, ketika lidah Tsukimori tak mampu mengabarkan berita kepindahannya ke Wina pada Hino. Kali ini, fatamorgana menebar sihirnya pada setiap perempuan muda yang mahir memainkan biola. Teman sekelasnya di 2-A, yang tadi siang diminta mendadak untuk memainkan biolanya. Seorang solois yang sebaya dengan Tsukimori, yang video penampilannya ia simpan di gawainya. Miyaji, ketika perempuan itu mengobrol dengannya tentang persiapannya ke luar negeri.
Setiap kali mata kuning keemasannya berkedip, yang ia lihat adalah sabit indah yang mekar di bibir Hino. Yang turut berjalan berdampingan di pusat kota. Melangkah dengan dentum hak sepatu kletak kletak menginjak trotoar. Dentumannya terlalu nyaring. Bukan, itu bukan sepatu untuk sekolah. Tetapi benaknya masih berkata: Hino.
Kamu harus mengatakan yang sebenarnya.
