Thousand of Tears
Chapter 36 Rumah yang Menyeramkan
Mereka bertiga menatap rumah itu. Masing-masing merasakan sesuatu yang aneh dari rumah itu.
Tanjiro mencium bau darah. Zenitsu mendengar suara aneh. Shirazumi merasakan hal yang tak nyaman dari rumah itu.
Tiba-tiba terdengar suara gemerisik daun di semak-semak. Dua orang anak-anak yang terlihat sangat ketakutan sambil memeluk satu sama lain. Yang lebih tua laki-laki, sedangkan satunya lagi perempuan. Sepertinya mereka berdua bersaudara.
Zenitsu masih saja gemetaran, sedangkan Tanjiro mendekati kedua anak itu, berharap bisa mendapatkan informasi mengenai rumah yang menjadi sasaran mereka.
Tapi begitu Tanjiro mendekati mereka, mereka malah menjauh sambil gemetaran. Apalagi setelah melihat penampilan Shirazumi yang tak biasa.
Tanjiro menyadari kalaukedua ank itu pasti terkejut akan dirinya yang mendekati mereka. Selain itu, aroma rasa takut memancar dari kedua anak itu.
Tanjiro berusaha membuat mereka sedikit lebih tenang dengan memperlihatkan burung pipit milik Tanjiro pada mereka. Burung pipit yang dipanggil Chuntaro oleh pemiliknya itu berkicau seakan sedang bernyanyi. Itu membuat kedua bersaudara itu menjadi lebih tenang.
Shirazumi juga dengan hati-hati membuka sedikit celah pada topinya itu agar kedua ana itu bisa melihat wajahnya. Sambil tersenyum, Shirazumi berkata pada mereka.
"Tenang saja. Kami tak akan melukai kalian. Apa itu rumah kalian?" Shirazumi bertanya merujuk pada rumah itu.
Anak laki-laki itu menjawab sambil gemetaran.
"Bu...bukan. I...itu rumah monster"
"Kakak kami diculik oleh monster saat sedang berjalan-jalan pada malam hari. Monster itu datang dan mengambil kakak kami dan membiarkan kami berdua."
Dia menjelaskan sebisa mungkin apa yang telah terjadi.
Menurut penjelasan lebih lanjut dari anak itu, mereka mengikuti jejak darah dari kakak mereka yang terluka saat diserang oleh monster itu. Jejak darah itu berakhir di rumah yang ditinggalkan itu.
Dengan semangat, Tanjiro mengatakan kalau dia akan menyelamatkan kakak mereka, karena itu memang tugasnya.
Sejak tadi Zenitsu menatap rumah itu dengan wajah yang terlihat cemas. Menurutnya, dari dalam rumah itu terdengar suara yang sangat tak mengenakkan. Seperti suara drum, tapi berbeda.
Selain Zenitsu, tak ada yang mendengar suara itu. Nampaknya pendengarannya sangatlah kuat seperti Tanjiro yang memiliki penciuman yang kuat.
Tiba-tiba, dari shoji yang terbuka yang ada di lantai 2, seorang laki-laki dengan tubuh penuh darah dan luka terlempar keluar. Bukan. Daripada terlempar, dia seperti terjatuh. Tapi gravitasinya sangat tidak cocok.
Tanpa banyak berpikir, Shirazumi menggerakkan tubuhnya untuk menangkap laki-laki itu sebelum tubuhnya membentur tanah.
Sejetika bau darah yang menyengat membuat Shirazumi pusing. Tanjiro yang menyadari itu segera mengambil alih laki-laki yang terluka itu dari tangan Shirazumi.
Shirazumi mundur menjauhi adiknya yang sedang mengamati keadaan laki-laki itu. Kain yang menutupi tubuhnya itu kini memilik noda darah di beberapa tempat. Shirazumi mengalihkan perhatiannya dari bau itu sebisa mungkin.
Tanjiro memeriksa keadaan laki-laki itu. Walaupun dia selamat dari jatuh membentur tanah, tapi luka-luka di sekujur tubuhnya sangatlah parah. Dia akan kehabisan darah terlebih dahulu sebelum mendapatkan pertolongan.
Laki-laki itu menggumamkan kata-kata yang menyayat hati. Sepertinya dia sudah berusaha untuk keluar dari rumah itu. Tapi saat akhirnya berhasil keluar, harapan hidupnya sudah tak ada. Tidak lama setelah itu, laki-laki itu menghembuskan nafas terakhirnya.
.
.
.
Belum sempat berduka, tiba-tiba terdengar suara menggeram yang bergemuruh dari dalam rumah itu. Zenitsu semakin gemetar dan kedua bersaudara tadi semakin mengeratkan pelukannya satu sama lain.
Begitu suara itu berhenti, Tanjiro meletakkan tubuh yang sejak tadi dipangkunya itu ke atas tanah. Dia berniat segera menguburkannya setelah tugasnya selesai.
Tanjiro bertanya pada dua bersaudara itu apakan laki-laki itu adalah kakak mereka. Mereka menjawab bahwa orang itu bukanlah kakak mereka. Kaka mereka menggunakan haori berwarna kuning kecoklatan.
Ternyata bukan hanya kakak mereka yang dibawa ke dalam rumah itu.
Untuk berjaga-jaga, Tanjiro meninggalkan Nezuko dan kotaknya pada kedua anak itu sambil berpesan kalau apa yang ada di dalam kotak itu akan melindungi mereka kalau terjadi sesuatu yang berbahaya.
Selain itu, Shirazumi juga ikut menunggu diluar bersama dua bersaudara itu.
Setelah itu Tanjiro mengajak Zenitsu untuk mulai menyelidiki isi rumah itu. Tapi Zenitsu hanya menjawab dengan gelengan kepala berkali-kali sambil gemetaran.
Sesabar apapun Tanjiro, dia masih punya batasnya. Saking kesalnya, Tanjiro memasang muka menyeramkan yang hampir setara dengan topeng Hanya.
Shirazumi sedikit kagum dengan Zenitsu karena sanggup membuat adiknya yang super penyabar itu mengeluarkan aura kemarahan yang langka.
Zenitsu yang melihat wajah marah Tanjiro seketika berpikir kalau wajah Tanjiro lebih menakutkan daripada oni. Karena rasa takut yang mendalam, Zenitsu akhirnya menurut dan mengikuti Tanjiro masuk ke dalam rumah itu.
Shirazumi berdiri bersandar pada pohon sambil bersyukur tak ada satupun anggota keluarganya yang secengeng Zenitsu.
Tanjiro dan Zenitsu memasuki rumah itu dengan Tanjiro yang sedang meredakan amarahnya dan Zenitsu yang masih gemetar dan menangis.
Berbahaya bagi anak-anak pergi keluar malam-malam.
Karena terkadang diantara 3 anak yang pergi,
Hanya 2 yang kembali ke rumah.
TBC
Ada kritik & saran?
Aku tunggu ^_^
