12. bersurat

Setelah selesai mengikuti kelas aural di kampusnya, kaki Tsukimori berjalan menuju ke toko alat tulis terdekat. Membeli fountain pen dan kertas surat kualitas terbaik yang ditawarkan toko itu. Dua hari ini, isi kepalanya berisikan tentang Hino, Hino, Hino dan pemuda ini tahu bahwa rasa rindunya pada Hino harus dia lampiaskan segera.

Bersurat merupakan cara berbahasa yang intim yang dia kenali; orangtuanya masih saling mengirimkan surat kepada satu sama lain ketika mereka dipisahkan oleh negara dan benua. Tsukimori mengenang masa-masa dia mencuri kesempatan mengintip isi surat-surat mereka, melebarkan mata pada kalimat-kalimat yang mencerminkan cinta yang dalam kepada si penerima pesan. Tulisan hiragana, katakana, dan kanji yang tertulis di sana terpampang begitu organik, segar, dan otentik. Seakan-akan penulis surat membubuhkan segala isi hatinya yang penuh dengan kasih yang meluap-luap.

Dengan bersurat inilah dia akan menyampaikan rasa kasih nan rindunya kepada Hino. Berkilometer jauhnya dari Wina ke Yokohama, Tsukimori tahu bahwa caranya berkomunikasi tidaklah lazim. Gawainya berfungsi hanya murni untuk percakapan singkat dan cepat; tidak cukup besar untuk menjadi wadahnya menyampaikan segenap perasaannya kepada Hino.

Maka, pemuda ini tak sabar menantikan akhir hari dari aktivitasnya yang padat. Dirinya membayangkan nanti malam, ketika bulan purnama menyinari jendela besar ruang latihan favoritnya di asrama. Dirinya duduk di depan meja, menyusun kalimat demi kalimat yang selalu dia pendam kepada perempuan terkasih itu.