13. kesungguhan
Sejak kecil, Tsukimori telah mendedikasikan pagi, siang, dan malamnya untuk musik. Kesungguhannya yang begitu intens untuk bermusik semakin dalam tatkala ia diterima masuk Akademi Seisou. Dirinya yang dahulu saat SMP masih harus berbagi perhatian pada pelajaran umum kini bagaikan hewan buas yang menemukan tubuhnya tak lagi diikat rantai. Guru-gurunya di Seisou tak segan memujinya secara verbal maupun dalam tertulis. Buktinya, nilai-nilai pelajaran Tsukimori selalu tinggi cemerlang.
Namun pujian gamblang para gurunya hanya dibalas Tsukimori dengan kerutan di dahi. Bagi pemuda itu, nilai sekolahnya yang tinggi hanyalah hasil dari dedikasinya setiap hari. Jika ia serius bermusik, maka wajar saja kalau hasilnya akan baik. Selain itu, Tsukimori juga menyimpan dugaan gelap bahwa para guru di Seisou diam-diam menjilatnya karena statusnya sebagai putra tunggal Hamai Misa, donatur Akademi Seisou yang murah hati.
Alasan kedua itulah yang membuat pemuda ini semakin gigih dalam bermusik; ia akan serius bermain biola sampai para penjilat itu melihatnya sebagai Tsukimori Len, bukan sebagai anaknya Hamai Misa.
Karena itulah, ketika ia mendengar nama seorang siswi dari jurusan umum terpilih menjadi peserta kompetisi musik intrasekolah, pikiran dan hatinya tak henti-hentinya memprotes itu.
Bagaimana bisa seseorang yang tidak dari jurusan musik terpilih masuk kompetisi? Atas dasar apa perempuan itu dimasukkan sebagai peserta? Akademi Seisou tidak kekurangan musisi yang potensial sebagai peserta. Apakah standar sekolah ini begitu rendah sampai mau membuka pintu kompetisi kepada seorang perempuan antah-berantah yang rekam jejak bermusiknya nihil?
Bukan tanpa alasan Tsukimori berpikir demikian. Para peserta yang lain, Tsukimori pernah sekali-dua kali mendengar mereka bermusik. Yunoki-senpai dengan alunan flute-nya yang sangat presisi dan elegan. Hihara-senpai yang meniup terompetnya dengan penuh gairah yang menggugah. Shimizu yang sangat patuh pada instruksi partitur dan hormat kepada kehendak komposer. Fuyuumi yang masih gemetaran tetapi begitu lembut membuai.
Orang-orang ini berhak diundang menjadi peserta kompetisi. Mereka telah membuktikan diri mereka menjadi duta musik klasik yang mampu menyuguhkan penampilan yang memuaskan para pendengar.
Bagaimana dengan Hino? Atau Tsuchiura?
Memikirkan dua nama itu menambah beban tak kasat mata sekaligus memancing Tsukimori tentang definisi kesungguhan yang selama ini dianutnya.
