14. tsuchiura

Hari beranjak petang tatkala Tsukimori membereskan biolanya, bersiap hendak pulang ke rumahnya. Setelah memastikan AC studio yang dia pinjam telah dimatikan, pemuda itu segera mematikan lampu dan mengunci pintu studio. Harum peredam suara yang apek melambaikan ucapan selamat tinggal tatkala tangan Tsukimori mengayunkan daun pintu agar tertutup sempurna.

Pada saat bersamaan, telinga tajam Tsukimori mendengarkan suara pintu studio di belakangnya dibuka. Entah terdorong oleh apa, dia membalikkan tubuhnya ke arah suara itu. Mata emasnya bertemu pandang dengan Tsuchiura, yang membeliakkan matanya karena terkejut bertemu dengan Tsukimori di gedung studio Jurusan Musik Akademi Seisou.

"Tsukimori," Tsuchiura membuka suara. Tangannya masih menggantung di pegangan pintu, tergoda untuk menutup pintunya segera di depan batang hidung Tsukimori. Pemuda itu segera mengerutkan kening, untuk menutupi rasa terkejut dan was-was yang mulai tumbuh di hatinya.

"Tsuchiura," balas Tsukimori sembari menilai penampilan Tsuchiura atas-bawah yang menarik perhatian. Pemuda dari Jurusan Pendidikan Umum itu mengenakan baju olahraga dengan jaket trek yang membungkus tubuh tegapnya dengan apik. Penampilan yang sesuai dengan impresi Tsukimori tentang Tsuchiura yang atletis.

Tsukimori tidak menyadari bahwa tatapan menilai yang dia tujukan kepada Tsuchiura membuat Tsuchiura tidak nyaman. Bahkan, Tsuchiura salah menangkap bahwa orang di depannya ini sedang mencelanya tanpa suara.

"Tak kusangka pangeran biola Seisou sudah selesai latihan hari ini," ucap Tsuchiura sambil tersenyum masam. Mendengar kalimat sarkasme itu, mata Tsukimori otomatis menyipit.

"Kau sendiri bagaimana? Sudah petang begini baru mulai latihan," sindir balik Tsukimori. Punggungnya menegak kaku dalam posisi membela diri. Wajah tampannya ia tegakkan dengan ekspresi beku abadi. Refleks bertahan yang tak dapat dia cegah. Seluruh dirinya ia fokuskan untuk mencari motif apa yang membuat Tsuchiura langsung menyerangnya tanpa peringatan.

Tsukimori sudah biasa dibenci, baik oleh orang yang lebih tua, muda, atau sebaya dengannya. Entah berapa kali dia menerima caci maki secara langsung maupun tak langsung dari mereka. Tindakan perundungan juga merupakan santapan rutin pemuda itu. Maka dari itu, setiap kali dia menangkap gelagat tidak baik dari orang lain, Tsukimori akan selalu dalam posisi waspada dan siap menerkam dengan kata-kata pedas.

Tsuchiura menaikkan salah satu alisnya, tetapi air mukanya tetap dipasang dengan ekspresi yang tak kalah seram dari milik Tsukimori.

"Aku habis melatih anak kelas 10 latihan sepakbola," jawab Tsuchiura dengan hati-hati. Bercakap-cakap dengan Tsukimori selalu terasa seperti berjalan di atas ladang ranjau. Topik apapun yang tidak berhubungan dengan musik selalu memantik kekesalan di wajah Tsukimori.

Rupanya, yang ditakutkan Tsuchiura malah menjadi kenyataan; Tsukimori memiringkan sedikit kepalanya. Matanya berkilau dingin. "Sepertinya urusan sepakbola lebih penting daripada piano, ya. Padahal sebulan lagi kau akan ikut kompetisi piano di Yokohama Minato Mirai Hall. Jangan remehkan kompetisi itu, Tsuchiura. Sedikit saja kau lengah, piala juara satu takkan jatuh ke tanganmu."

"Hei," Tsuchiura menahan diri ketika menyadari suaranya mulai meninggi. Dia berdehem beberapa kali sebelum memfokuskan perhatiannya kembali pada Tsukimori. Berbicara dengan orang ini harus dilakukan dengan kepala dingin. Tsuchiura ingat kalau Tsukimori pernah menegurnya sebagai orang yang terlalu emosional terhadap hal-hal yang tidak penting.

Tidak penting, dari Hongkong.

"Pelatihku yang memintaku karena beliau bilang hanya aku yang bisa diandalkan," jelas Tsuchiura sebagai upaya pembelaan diri. Pemuda itu menaikkan bahunya sembari melanjutkan, "Tak ada yang bisa kulakukan kalau guruku sendiri yang meminta, 'kan?"

Tsukimori menganggukkan kepala, entah sungguhan paham atau tidak.

"Beliau tahu tentang kompetisi pianomu besok?" tanya Tsukimori lagi. Yang ditanya kini menunjukkan sikap bingungnya terang-terangan. Tak paham mengapa Tsukimori bersikap seakan-akan memperpanjang obrolan mereka. Apakah orang ini tidak peka dengan ketegangan yang menguasai interaksi mereka? Selain itu, tangan Tsuchiura gatal untuk segera menekan tuts piano yang menghuni studio yang dia pinjam.

"Tidak, beliau tidak tahu. Sebenarnya, aku tidak memberitahu siapapun tentang itu di sekolah ini," Tsuchiura berkata dan wajahnya tiba-tiba memucat. "Kau tahu dari mana aku akan mengikuti kompetisi itu?"

Tsukimori mengamati wajah lawan bicaranya yang memucat, kemudian memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu dengan hati-hati. "Ibuku salah satu sponsor kompetisi itu. Aku melihat namamu dari daftar peserta yang sudah terdaftar. Kebetulan ibuku meninggalkan daftar tersebut di rumah dan aku melirik ada namamu di sana."

"Begitu," gumam Tsuchiura dan keheningan kembali tercipta di antara mereka. Kedua pemuda berbeda jurusan ini mengisi hening dengan saling menatap, saling menilai satu sama lain. Tsuchiura memperhatikan penampilan Tsukimori yang masih apik meskipun waktu telah tiba di penghujung hari. Jas, rompi, dan dasi cravat-nya masih membalut tubuh ramping Tsukimori dengan rapi.

Sesungguhnya, Tsuchiura bertanya-tanya mengapa Tsukimori repot-repot menyapanya seperti ini. Pemuda ini tahu kalau Tsukimori tidak menyukainya. Entah mengapa, dirinya merasa kalau Tsukimori memandangnya sebagai pengkhianat musik. Tidak serius fokus pada piano, memilih jalan hidup menyimpang dengan memilih masuk Jurusan Umum dan klub sepakbola. Tsuchiura biasanya bisa menahan hinaan terselubung yang selalu digelontorkan Tsukimori tatkala mereka berseteru. Namun jauh di bawah lubuk hatinya, di suatu sudut yang takkan Tsuchiura akui, dia menginginkan apresiasi dari Tsukimori.

"Aku pamit latihan dulu," ujar Tsuchiura tiba-tiba. Yang berucap demikian seakan tak percaya dengan omongannya sendiri. Tangannya otomatis langsung menutup mulutnya. Sudut pipinya terlihat merona.

Tsukimori menanggapi ucapan Tsuchiura dengan menaikkan alis, membuat rona di pipi Tsuchiura semakin pekat. Alhasil, Tsuchiura memalingkan tubuhnya ke arah ruang studio.

"Jangan ganggu aku," ujar Tsuchiura kaku sembari menutup pintu ruang studio. Tak menyadari kalau dia mengucapkan kalimat yang biasanya dikatakan oleh Tsukimori.

Sang penerima kata-kata itu hanya bisa terpaku di tempat dia berdiri. Tidak mengerti mengapa dia hanya bisa berdiri diam di tempat. Tadi itu, mengapa dia memutuskan untuk mengajak Tsuchiura bicara? Biasanya dia akan dengan lihai mengabaikan keberadaan Tsuchiura, menyapanya singkat lalu segera berlalu menuju destinasi berikutnya.

Mungkin karena dia menemui Tsuchiura di studio yang berbalut jaket trek. Mungkin karena dia merasakan dedikasi Tsuchiura yang mampu menunaikan tugas sebagai mentor klub sepakbola sekaligus pianis yang akan ikut kompetisi.

Mungkin karena dia mengagumi Tsuchiura yang mampu bermain piano sesuai standarnya, meski sehari-hari Tsuchiura dipenuhi dengan kegiatan non-musiknya.

Tapi bagaimana dia bisa menyatakan pujiannya itu, kalau orang yang ingin dia puji selalu memasang wajah datar dengan aura permusuhan yang kental begitu?

Tsukimori akhirnya menemukan alasan untuk segera meninggalkan gedung studio Seisou.

Berteman itu rupanya merepotkan, ya.