15. jajan minimarket
"Tsukimori-kun, apakah kau pernah mencoba oden-nya Family Mart?"
Mata coklat keemasan Tsukimori mengerjap beberapa kali. Panggilan yang berasal dari suara ceria dan merdu itu menariknya kembali ke dunia nyata. Kepala Tsukimori menoleh ke arah sumber suara. Hino, yang masih berjalan di sampingnya, menatapnya lurus. Menanti balasan akan pertanyaannya.
Tsukimori menggelengkan kepala dengan pelan, "Aku belum pernah mencobanya." Ekor mata pemuda itu menangkap satu tangan milik Hino memegang perutnya. "Apakah kau kelaparan?" tebaknya kemudian.
Wajah Hino bersemu merah, tak menyangka Tsukimori akan sepeka itu. Gadis muda itu memalingkan wajahnya ke arah jalan. Di ujung jalan, lampu neon Family Mart melambaikan tangannya dengan menggoda, mengajaknya untuk masuk dan mengisi perut.
"Mungkin Tsukimori-kun bersedia untuk menemaniku beli oden?" tanya Hino dengan suara pelan. Gadis itu kemudian menambahkan, "Aku akan membelikan beberapa untukmu."
Tsukimori menaikkan alis, benaknya teringat pada sesi mengantar Hino pulang yang pertama. Pada kepul asap dari bakpao isi daging babi yang mengisi perutnya yang tak berpengalaman dengan jajanan lokal. Wajah Hino yang merona malu menghiasi kenangan itu.
"Tidak usah repot-repot membelikanku," ujar Tsukimori dengan tenang, membuat Hino membuka mulut untuk kembali meyakinkan dia. Sebelum Hino kembali membujuk, pemuda itu langsung mendahuluinya, "Aku akan beli pakai uangku sendiri, Hino. Kau tinggal merekomendasikan oden yang enak. Akan kuikuti rekomendasimu."
Binar bahagia terbit di wajah Hino. Perempuan itu dengan antusias langsung memimpin jalan. Bahkan ketika kedua siswa Seisou beda jurusan itu tiba di depan pintu minimarket, Hino langsung berlari kecil ke konter oden. Langsung memulai transaksi jual-beli oden dengan karyawan Family Mart.
Tsukimori mengekor di belakang Hino dengan diam, mengikuti rekomendasi oden dari Hino. Sambil menunggu antrian di kasir, mata emas tajamnya dia edarkan ke penjuru Family Mart ke arah makanan dan minuman instan yang nikmatnya belum pernah dia rasakan. Rasa asing yang familiar kembali bertamu ke hati kecil Tsukimori.
Sesungguhnya, Tsukimori tidak pernah jajan di luar rumah. Orangtuanya sangat ketat dalam menjaga makanan yang boleh disantap sang putra. Ibunya mengatur dengan sungguh-sungguh jadwal makan dan menu makanan yang disuguhkan, bahkan sampai kepada camilan yang layak dimakan demi menjaga kesehatan tubuh. Menjadi musisi profesional tidak hanya bergantung pada kemampuan dan wawasan bermusik, tetapi juga pada tubuh sang musisi. Semuanya saling berhubungan; tubuh yang sehat tentu akan menghasilkan musik yang sempurna.
Maka dari itu, sejak kecil lidahnya tak pernah merasakan nikmatnya candu MSG atau gula sintetik yang biasanya bertabur di dalam makanan dan minuman instan. Bahkan ketika Tsukimori tumbuh besar menjadi seorang remaja, keinginan untuk mencicipi makanan dan minuman instan tak pernah tumbuh di hatinya, tak peduli berapa kali teman-teman sekolahnya membawa dan membahas makan-minum.
Sampai detik ini, tentu saja.
"Hino."
Kepala sang gadis berputar ke arah Tsukimori yang mengunci pandangannya kepada rak mi instan mangkok. Pemuda itu tidak membalas tatapan Hino yang penuh tanya. Gadis itu mengikuti garis pandang temannya ini dan mencoba menerka apa maksud tatapan Tsukimori ke arah rak itu.
"Tsukimori-kun ingin beli mi instan mangkok? Ambil saja dulu, mumpung kita sudah masuk antrian."
"Aku tidak tahu harus beli merek apa," aku Tsukimori dengan tenang, membuat Hino menaikkan alis. Untungnya, kata-kata bernada heran nan takjub yang biasanya akan dilontarkan oleh orang lain tak meluncur dari bibir Hino. Membuat hati Tsukimori berbalut rasa lega karena harga dirinya tidak disentil.
Tanpa diduga, Hino meninggalkan meja kasir sembari pamit sebentar kepada karyawan di belakang mesin kasir. Tangan gadis itu langsung menarik lengan Tsukimori tanpa permisi. Menghela pemuda itu ke arah rak mi instan mangkok yang diidam-idamkan. Ada seberkas rasa merah jambu yang mulai tumbuh di hati Tsukimori, tetapi dia abaikan rasa itu. Dia memilih untuk menganggapnya sebagai rasa antusias untuk mencicipi salah satu kenikmatan dunia yang tiada duanya.
"Kalau begitu, aku sarankan untuk mencoba—"
Dan di tengah harum dua mangkuk oden dan mi instan, Tsukimori kembali merasakan beragam momen bersejarah yang takkan pernah dia lupakan.
