16. peduli

Sepasang mata emas milik Tsukimori tersembunyi di balik kelopak matanya. Menutup rapat demi upaya melindungi diri dan menata hati. Kini, dirinya berada dalam posisi yang terpojok. Duduk di ruang keluarga dengan sepasang orang tua dan kakek-neneknya dalam satu ruangan. Empat pasang mata yang terpaku menuntut penjelasan.

Setelah menarik napas selihai mungkin, Tsukimori memulai penjelasan.

"Mereka yang mengunciku di lemari ruang ganti adalah orang-orang yang sudah tidak menyukaiku sejak lama."

Sesungguhnya, Tsukimori merasa tidak perlu menjelaskan kembali kronologi kejadian sabotase yang menimpa dirinya saat seleksi kedua tadi. Semuanya sudah dia beberkan di ruang direktur akademi dengan jelas, dibantu oleh kesaksian Hino dan Tsuchiura. Direktur Akademi Seisou juga sudah bertindak sebagai hakim yang adil dengan memberikan hukuman yang setimpal pada Kishimoto dan kroni-kroninya. Ayah dan ibunya juga sudah mendengarkan investigasi tersebut. Mereka duduk di sofa empuk milik direktur, menyimak dengan tenang seluruh paparan yang mengarah pada tindakan perundungan kepada putra tunggal mereka.

Tsukimori pikir, ketika palu telah diketuk dan vonis telah dijatuhkan, orangtuanya akan menganggap masalah tersebut selesai. Rupanya mereka ingin membahasnya lebih jauh.

"Persisnya sejak kapan, Len?" sang ayah bertanya dengan suara menuntut yang halus.

"Entahlah," jawab Tsukimori setelah terdiam sejenak. "Mungkin sejak kelas 10."

"Selama itu?" sang ibu berujar dengan tatapan tak percaya. Sang kakek dan nenek turut melemparkan pandangan yang sama kepada sang cucu.

Tsukimori menahan diri untuk tidak bergerak gelisah. Ketegangan yang tadi sudah tiba di ruang keluarga itu semakin membuat pemuda itu terganggu. Dia ingin sekali bangkit dari sofa panas dan segera berlindung dalam privasi kamar tidurnya. Tempat dirinya bisa mengubur segala permasalahan hari dengan latihan biola hariannya. Akan tetapi, apa yang bisa lakukan? Keluarganya takkan mengizinkannya keluar ruangan sebelum Tsukimori memberikan jawaban yang memuaskan.

Lidah pemuda itu kelu. Ingin rasanya membeberkan semua masalah yang telah dipendamnya dalam hati. Namun, entah mengapa harga dirinya tak mengizinkannya. Dia sudah berusaha mati-matian menjadi putra yang sempurna. Nilai bagus, perilaku baik, permainan biola yang tak tertandingi. Apa yang akan keluarganya katakan kalau mereka tahu sang putra sesungguhnya tak sesempurna itu?

"Aku sudah terbiasa tidak disukai oleh teman-temanku," pada akhirnya Tsukimori memberikan jawaban yang mengambang. Meskipun itulah yang menjadi jawaban, raut wajahnya tak dapat berbohong. Sang putra yang biasanya bersikap tenang kini terlihat pias dan berkerut. Seperti memakan buah yang sangat pahit.

Para anggota keluarga Tsukimori mendengar kalimat itu dengan perasaan campur-aduk. Dari cara anak ini mengutarakan kalimat itu, mereka dapat menilai bahwa ada kepahitan yang selama ini disembunyikan dari mereka. Kepahitan yang sebenarnya sudah mereka ketahui, namun tak pernah diklarifikasi.

Pada akhirnya, sang kakek membuka suara. Menjadi wakil yang layak untuk menanggapi permasalahan yang selama ini menggayut hati anggota termuda keluarga Tsukimori ini.

"Maafkan kami, Len."

"Untuk apa? Kalian tidak salah apa-apa," Tsukimori langsung memprotes dengan perasaan tak rela. Bagaimana bisa mereka berbuat demikian? Yang harusnya meminta maaf adalah dirinya.

"Untuk semuanya," sambung sang nenek, yang ditanggapi dengan anggukan persetujuan dari yang lain. "Membuatmu tidak enak hati untuk mengutarakan hal-hal apa saja yang memberatkanmu."

"Len. Kami memohonkan maaf sebesar-besarnya padamu, karena selama ini menutup mata atas segala kesulitanmu. Maafkan kami yang terlalu sibuk bekerja sampai tak sempat mengurusmu dan mendampingimu. Membuatmu harus diperlakukan tak baik oleh mereka …"

Sang ibu tak dapat menahan diri untuk bangkit dari tempatnya duduk dan menghambur ke arah putranya. Tubuh mungil ibunya langsung memeluk putranya dengan erat, seperti mencoba untuk menebus semua kesalahannya dalam satu pelukan. Tsukimori hanya bisa membeku dalam duduknya, menerima pelukan tiba-tiba itu dalam sikap diam karena syok. Indera penciumannya mencium harum parfum lembut sang ibu yang berhasil menenangkan hatinya yang berkecamuk.

Sudah berapa lama dirinya tidak mendapatkan afeksi segamblang ini?

Atau, sudah berapa lama dirinya menahan diri untuk tidak membiarkan dirinya menikmati cinta tak bersyarat dari orangtuanya? Dari keluarganya?

Ayahnya, yang Tsukimori perhatikan dari balik tubuh ibunya, kini turut bangkit dari tempatnya duduk. Berjalan mendekati istri dan anaknya. Ketika dia tiba di sisi istri, tangannya yang besar, yang juga memainkan biola, mengelus kepalanya dengan sayang.

Hati yang selama ini Tsukimori kira begitu keras tak berperasaan seperti sedang mengejeknya dengan guyuran keharuan. Orangtuanya, bahkan kakek dan neneknya berdiri mengelilingi sosok sang remaja ini dengan gestur maaf yang sangat gamblang. Mengapa mereka juga ikut meminta maaf, benak Tsukimori tak berhenti bertanya.

"Apa kau tidak tahu betapa tak sabarnya aku menantikan permainanmu? Dengan kemampuanmu yang hebat itu, kau bisa memainkan semua lagu yang ada di dunia ini. Kumohon, jangan terus berpikiran buruk tentang kami!"

Apakah kalimat yang Hino lontarakan pagi tadi ada hubungannya dengan pelukan penuh sesal dari orangtuanya ini?

Kedua lengan Tsukimori tanpa sadar balas memeluk ibunya.

Barangkali saja itu berhubungan.