Thousand of Tears
Chapter 45 Gunung Natagumo
"Tak peduli apapun yang terjadi, jalanilah hidup kalian dengan kepala tegak. Semoga kalian beruntung pada pertarungan selanjutnya".
Itulah yang Nenek Hisa ucapkan pada Tanjiro dan yang lainnya sebagai kalimat perpisahan.
Bagi Inosuke yang hampir sama selkali tak memiliki pendidikan, tentunya itu adalah kalimat yang sangat sulit dicerna.
Sambil berjalan dengan langkah cepat, Tanjiro menjelaskan apa yang dipikirkannya mengenai kalimat yang diucapkan Nenek itu. Tapi seperti biasa, Inosuke malah menyangkal dan menyindir Nenek Hisa. Tentu saja Tanjiro menjadi kesal dan mempercepat langkahnya, membuat Inosuke, Zenitsu dan Shirazumi semakin tertinggal.
.
.
.
AKhirnya dengan dipandu kasugaigarasu, mereka sampai di kaki gunung Natagumo. Saat itu matahari hampir tenggelam.
Tiba-tiba Zenitsu duduk di tanah sambil memeluk lututnya. Dia mulai ketakutan.
Sambil menangis, Zenitsu menolak kenyataan kalau mereka sudah sampai di tempat dimana oni berada.
Bagi Zenitsu, justru Tanjiro dan Inosuke yang tidak normal karena tak merasa takut dengan oni yang akan mereka hadapi.
"Shirazumi-chan~ Kita menunggu disini saja ya~" Ucap Zenitsu pada Shirazumi, membujuk agar gadis itu tidak ikut menaiki gunung dan menemaninya. Tentu saja Shirazumi tak memedulikan ucapan Zenitsu. Malah Shirazumi yang melangkah duluan menuju jalan setapak yang mengarah ke atas gunung.
.
.
.
Tiba-tiba terlihat seorang laki-laki yang memakai seragam hitam khas pemburu oni. Dia terlihat sedang merangkak menuruni gunung. Tubuhnya penuh luka. Dia menatap Tanjiro dan memohon pada orang yang baru dilihatnya itu agar menyelamatkan dirinya.
Tanjiro dan Inosuke langsung mendekati laki-laki itu dengan niat menolong. Shirazumi juga ingin menolong, tapi bau darah membuatnya membeku sesaat. Zenitsu merengek karena merasa ditinggalkan teman-temannya.
Belum sempat Tanjiro lebih mendekat pada laki-laki itu, tiba-tiba tubuh laki-laki itu seperti ditarik oleh sesuatu. Tubuhnya melayang dan masuk kembali ke dalam hutan yang menyelubungi gunung Natagumo. Hanya suara minta tolong yang terdengar begitu tubuhnya tak terlihat lagi. Lalu suara itu hilang, membuat keadaan sunyi. Bahkan Zenitsu pun berhenti menangis untuk sesaat.
Tanjiro berniat untuk memasuki gunung itu untuk menyelamatkan pemburu oni yang tadi. Tapi karena dia mencium bau yang sangat tak mengenakkan dari dalam gunung, dia sidikit memiliki keraguan. Inosuke tiba-tiba sangat bersemangat karena menurutnya dia akan mendapatkan lawan tanding yang baru. Dia mengajukan dirinya untuk berjalan paling depan.
"Zenitsu. Kau sungguh tak ingin ikut? Kau nanti sendirian disini..." Ucap SHirazumi berusaha membujuk Zenitsu.
"Shi... Shirazumi-chan... Kau mengkhawatirkanku...?" Zenitsu berkata menganggap ucapan Shirazumi itu adalah kalimat spesial untuknya. Dia beranjak dari posisi duduknya dan mencoba memeluk Shirazumi.
Shirazumi menghindar sehingga Zenitsu terjatuh dan mencium tanah.
Shirazumi tak memedulikan Zenitsu yang masih dalam keadaan mencium tanah dan mulai berjalan mengikuti Tanjiro dan Inosuke. Tentu saja Nezuko yang berada dalam kotaknya juga dibawa oleh Tanjiro dengan cara digendong.
Akhirnya Inosuke, diikuti oleh Tanjiro dan Shirazumi berjalan memasuki gunung itu. Zenitsu ditinggalkan.
.
.
.
Di sebuah rumah bergaya jepang, seorang pria sedang duduk dengan pandangannya yang menatap lurus. Pria mengelus seekor burung gagak yang berada di pangkuannya. gagak itu terlihat sangat kelelahan. Di samping kanan dan kiri pria itu, sepasang anak kembar menemaninya.
Gagak yang sedang kelelahan itu adalah kasugaigarasu milik salah satu pemburu oni yang dikirim ke Gunung Natagumo. Total pemburu yang dikirim ke Gunung itu adalah sepuluh orang. Tapi situasi berubah sangat drastis sehingga terjadi sesuatu hal yang sangat mengerikan. Gagak itu terbang secepat mungkin menuju kediaman pria yang sedang mengelusnya itu untuk memberitahukan kabar buruk itu.
Menurut berita yang disampaikan gagak itu, kemungkinan terdapat anggota 12 kizuki di Gunung itu. Kalau itu benar, tak akan cukup hanya mengirim pemburu oni biasa. Karena itu, Pria itu memutuskan untuk mengirim dua orang pemburu oni yang memiliki pangkat tertinggi yaitu 'Hashira' (Pillar) untuk mengatasi masalah di Gunung Natagumo.
Sepasang Hashira laki-laki dan perempuan dipilihnya untuk memenuhi tugas itu. Seorang perempuan yang memegang gelar Mushibashira (Pillar Serangga) bernama Kochou Shinobu, dan seorang laki-laki yang memegang gelar Mizubashira (Pillar Air) bernama Tomioka Giyuu.
Gadis Hashira bernama Kochou Shinobu itu seperti menggunakan topeng tersenyum. walaupun dirinya selalu terlihat sedang tersenyum, tapi senyumannya itu jarang terlihat sebagai senyuman yang tulus. Berbanding terbalik dengan laki-laki yang juga memiliki julukan Hashira yang kini duduk di sebelahnya. Tomioka Giyuu seperti menggunakan topeng berwajah datar yang menyembunyikan sebagian besar emosinya.
Sebelum berangkan menuju Gunung Natagumo, Shinobu berkata paga Giyuu.
"Kalau saja manusia dan oni bisa hidup berdampingan, segalanya kana menjadi lebih baik. Bukankah begitu Tomioka-san?" Kochou Shinobu berkata sambil tersenyum.
Tanpa merubah ekspresi wajah datarnya, Giyuu menjawab kalimat Shinobu.
"Itu tak akan terjadi selama oni masih memakan manusia".
Setelah percakapan singkat itu, mereka berdua bergegas menuju Gunung Natagumo. Selama perjalanan, tak ada satupun dari mereka yang membuka pembicaraan.
.
.
.
Begitu memasuki Gunung Natagumo lebih dalam, terlihat banyak sekali sarang laba-laba. Sambil marah-marah, Inosuke menyingkirkan sarang laba-laba yang menghalangi.
Tiba-tiba tanjiro memanggil Inosuke, itu membuat Inosuke yang sedang menyingkirkan sarang laba-laba itu sedikit terkejut.
Tanjiro berterima kasih pada Inosuke karena semangat Inosuke mambuat rasa ragu Tanjiro yang tadi sempat muncul kini menghilang.
Inosuke merasakan perasaan aneh saat Tanjiro berterima kasih padanya. Perasaan itu sama seperti saat Nenek Hisa menawarkan untuk mencucikan pakaiannya yang sudah sangat kotor. Tentu saja karena Inosuke sangat jarang mendapatkan perlakuan baik dari orang lain, apalagi kata terima kasih.
Sebelum Inosuke mengatakan sesuatu untuk membalas kata-kata Tanjiro, Shirazumi menunjuk pada seseorang berseragam hitam yang berbeda dengan orang yang tadi meminta pertolongan.
"Tanjiro, ada pemburu lain disana" Shirazumi berkata menunjuk pemburu oni yang sedang terduduk sambil gemetaran.
Tanjiro mendekati laki-laki itu. Sebetulnya Tanjiro bukannya berjalan tanpa mengeluarkan suara, tapi sepertinya laki-laki itu sedang fokus pada hal lain sehingga dia tak menyadari Tanjiro yang kini ada di belakangnya.
Begitu Tanjiro menyentuh pundaknya, laki-laki itu langsung terkejut dan siap menarik Nichirin miliknya.
Tanjiro menenangkan laki-laki itu dan memperkenalkan dirinya dan juga peringkatnya sebagai Mizunoto. Laki-laki itu malah histeris setelah mendengar kalau yang hadir adalah seorang Mizunoto. Menurutnya masalah yang terjadi di Gunung Natagumo itu tak bisa diselesaikan oleh peringkat Mizunoto. Mereka membutuhkan seorang Hashira.
Inosuke yang kesal mendengar ucapan laki-laki itu yang menganggap mereka tak berguna berbiat menonjok laki-laki itu. Tapi sebelum kepalan tangannya mengenai wajah laki-laki itu, Shirazumi menghentikannya tepat 10 cm dari hidungnya.
"Inosuke! Jangan! Dia ini seniormu kau tahu!" Shirazumi menasihati Inosuke. Karena matahari sudah terbenam, Shirazumi tak menggunakan topi miliknya. Topi kain itu menggantung di punggungnya dengan sebuah tali.
Inosuke memang tak jadi mononjok seniornya itu, tapi kini dia malah menjambak rambut seniornya dan menanyakan situasi yang ada padanya sambil menyebutnya pengecut.
Menurut yang dikatakannya, Setelah mendapat perintah dari kasugaigarasu, sepuluh orang pemburu oni datang ke gunung itu. Tapi tidak lama, terjadi hal yang aneh. Mereka malah saling bertarung dan membunuh satu sama lain.
Saat sedang membicarakan itu, Shirazumi merasakan kehadiran orang lain. Benar saja, dari arah yang dirasakan oleh Shirazumi, tiba-tiba datanglah seorang pemburu oni yang lain. Gerakan tubuhnya sangat aneh. Tulang lengannya terlihat patah, tapi kedua tangan dan kakinya seperti dipaksa untuk bergerak.
.
.
.
Di atas sebuah batu, seorang wanita yang berpenampilan serba putih sedang memainkan benang-benang dengan kesepuluh jarinya.
"Wahai boneka-bonekaku yang manis, menarilah sepuas kalian sampai tubuh kalian tercabik-cabik". Ucap wanita itu tersenyum sambil terus memainkan benang-benang di jari-jarinya seperti sedang memainkan boneka tali.
Satu kalimat penyemangat dari sahabatmu,
bisa menghapuskan keraguan yang ada.
Selama kau tak sendirian,
baik secara fisik maupun secara mental,
kau bisa terus memupuk keberanian dalam dirimu.
TBC
Ada kritik & saran?
Aku tunggu ^_^
