Thousand of Tears
Chapter 50 Mimpi yang Merupakan Kenyataan
Muzan membawa Shirazumi ke dalam markasnya dengan bantuan Nakime. Markasnya tersebut memiliki rupa yang aneh. Tak ada atas, bawah, kanan, maupun kiri dan memiliki banyak ruangan. Sebuah markas yang berada di dimensi yang berbeda.
Muzan meletakkan Shirazumi di atas sebuah meja yang ada di salah satu ruangan. Terlihat Shirazumi sudah mulai sadar. Memar bekas cengkraman Rui di pipi dan lehernya sudah hilang tak berbekas.
Begitu Shirazumi membuka matanya, yang dilihatnya adalah langit-langit yang tak dikenalnya. Begitu gadis itu menoleh ke samping, dilihatnya wujud pria yang paling dibencinya. Tubuhnya secara reflek turun dari atas meja tempatnya berbaring dan mundur menjauhinya sejauh mungkin.
Shirazumi ingin pergi dari tempat itu sekarang juga. Begitu melihat sebuah pintu, Shirazumi berniat untuk melarikan diri melalui pintu itu. Tapi tiba-tiba pintu itu menghilang. Kini dirinya berada di sebuah ruangan tanpa pintu maupun jendela bersama pemimpin oni.
"A.. Apa maumu!? Kenapa aku ada disini?!" Ucap Shirazumi agak gugup.
Begitu Muzan berjalan mendekati Shirazumi, gadis itu juga semakin menjauh darinya. Muzan berhenti setelah berjalan 3 langkah.
"Kau tahu. Diriku tertarik denganmu. Kukira kau sudah menjadi mayat malam itu, namun kini kau berdiri di depanku sebagai oni yang tak sempurna. Diriku ingin melakukan beberapa percobaan padamu, dan kau tak akan menolak". Ucap Muzan dengan nada dingin namun sopan.
Tentu saja Shirazumi menolaknya. Tapi, sesuai perkataan Muzan. 'Kau tak akan menolak'.
Dengan kecepatan yang tak mampu Shirazumi sadari, Muzan kini berada di dekatnya dan menusukkan satu jari telunjuknya pada samping leher Shirazumi dan mengalirkan darahnya.
Shirazumi tak mampu bereaksi apa-apa hingga Muzan mencabut jarinya itu. Shirazumi merasakan rasa sakit yang amat sangat hingga terjatuh. Gadis itu berguling-guling di atas tatami. Terlihat sekali ekspresi kesakitan yang dari wajah gadis itu.
Sementara Shirazumi menderita kesakitan, Muzan menatap tajam gadis itu seakan menunggu sesuatu.
.
.
.
Hampir 1 meter lagi kepala Zenitsu menabrak tanah, tapi tiba-tiba tubuhnya berputar dan menendang batang pohon itu dan melompat ke arah oni bertubuh laba-laba itu. Gerakannya sangat cepat, berbeda dengan yang tadi.
Zenitsu kembali menggunakan pernafasan petir miliknya dalam keadaan pingsan. Gerakannya sangat cepat hingga bisa menghindari semburan asam beracun yang dikeluarkan oni itu sambil berada di udara.
Cairan asam beracun yang berhasil dihindari Zenitsu kini mengenai batang pohon dan langsung melubanginya. Dapat dibayangkan seberapa mengerikannya jika cairan asam itu sampai mengenai tubuh Zenitsu.
Oni laba-laba itu bingung dengan perubahan sikap dan gerakan dari Zenitsu. Perubahannya terlihat seperti bukan berasal dari orang yang sama.
Oni bertubuh laba-laba itu memerintahkan laba-laba berkepala manusia yang merupakan bawahannya itu untuk menyerang Zenitsu secara bersamaan, tetapi Zenitsu berhasil menghindarinya.
Tapi karena Zenitsu terus-terusan menggunakan kuda-kuda yang sama berulang kali, oni itu menyadari kalau Zenitsu hanya bisa menggunakan satu jurus dan dia mulai kembali meremehkan lawannya.
Dengan membaca pergerakan Zenitsu, Oni itu kembali menyemburkan asam beracun pada Zenitsu. Kebanyakan meleset, tapi ada juga yang mengeai Haori yang dipakai Zenitsu, membuat Haori itu kini ruusak berat.
Racun yang ada pada tubuh Zenitsu semakin menyebar. Apalagi dengan gerakannya itu membuat racunnya semakin menyebar. Kesadaran Zenitsu tak sepenuhnya hilang. Dia terus bertahan walaupun tubuhnya mulai mati rasa.
Dengan racun yang menyebar lebih cepat dari seharusnya, dia mulai muntah darah. Belasan laba-laba berkepala manusia bersiap menusukkan lebih banyak racun pada Zenitsu. Tapi kali ini, Zenitsu melakukan hal yang berbeda dari sebelumnya.
Sejak tadi Zenitsu menggunakan pernafasan petir bentuk pertama, Hekireki Issen. Kali ini pun dia melakukan bentuk pertama tersebut, bedanya... dia melakukannya dengan kecepatan 6 kali berturut-turut.
Akhirnya kepala oni itu terputus dari badannya dengan tebasa Nichirin Zenitsu. Oni itu tak menerima kekalahannya di tangan pemburu pengecut seperti Zenitsu. Tapi itu adalah kenyataan. Perlahan-lahan, tubuh oni itu hancur menjadi debu.
Kini Zenitsu terkapar tak berdaya di atas rumah kayu yang menggantung itu. Tubuhnya sudah tak bisa digerakkan. Tangan dan kakinya pun sedikit memendek karena efek racun itu. Dia merasa kalau semua yang tadi terjadi hanyalah mimpi. Dirinya yang menjadi kuat dan melindungi semua orang itu serasa hanya mimpi.
Zenitsu berusaha memperlambat racun itu dengan pernafasan. Walaupun begitu, dia merasa kalau dirinya tak akan selamat. Dalam hatinya dia meminta maaf pada Shirazumi karena tak bisa menikah dengannya. Tapi setelah itu dia juga meminta maaf pada Nezuko karena tak bisa menikah dengannya. Dalam keadaan kritis pun Zenitsu lebih memikirkan hal itu.
Dari pandangannya yang semakin tak jelas, dia melihat seorang gadis yang menggunakan haori bercorak sayap kupu-kupu. Denagn pandangan yan tak jelas dan tubuhnya yang sama sekali tak bisa digerakkan, Zenitsu berpikir kalau gadis itu adalah dewa kematian yang akan menjemput nyawanya.
Apa yang kau anggap mimpi,
Belum tentu itu adalah mimpi.
TBC
Ada kritik & saran?
Aku tunggu ^_^
