Thousand of Tears

Chapter 54 Petunjuk dari Masa Lampau


Rui mengambil paksa Nezuko dengan benang-benangnya. Karena Rui melakukannya dengan cepat, Tanjiro tak sempat bereaksi apapun hingga akhirnya Nezuko berada di tangan Rui.

Nezuko memberontak dengan mencakar wajah Rui, dan itu membuat Rui menggantungnya dengan melilitkan benang-benangnya tepat saat Tanjiro mencoba merebut kembali adiknya.

Tanjiro menghindari Rui karena mengira Rui akan menyerangnya. Namun ternyta Rui melemparkan Nezuko sambil mengikat dan menggantungnya secara terbalik di udara.

Tanjiro baru menyadari posisi Nezuko saat dia melihat darah menetes dari arah atas. Beberapa meter di atas tanah, Nezuko terikat dan tergantung dengan tubuh berlumuran darah. Benang-benang yang mengikat tubuhnya melukainya, membuat darah mengalir dari luka-luka itu. Padahal luka yang sebeumnya didapatkannya belum semuanya pulih.

Sebagai seorang oni, Nezuko tak akan mati hanya karena kehabisan darah. Rui membiarkannya tergantung hingga kehabisan darah untuk menghukumnya.

Rui sangat taksuka jika sesuatu berjalan tak sesuai dengan keinginannya. Hukuman yang biasa Rui berikan pada 'anggota keluarganya' adalah mengikat dan membiarkannya hingga matahari terbit. Rui sudah berkali-kali melakukan hukuman itu pada 'keluarganya', bahkan sampai mereka mati dibakar matahari. Rui juga akan melakukan itu jika Nezuko masih tetap tak mau menjadi anggota keluarganya.

Tanjiro berusaha menahan emosinya. Dia berusaha berkonsentrasi dan mengatur pernafasannya. Dia tahu, tak akan ada hasil yang baik kalau sampai dia termakan oleh emosi.

Nezuko mulai kelelahan. Matanya tak bisa terbuka lebih lama lagi hingga dia akhirnya tertidur. Seperti biasanya, Nezuko memulihkan tubuhnya dengan tertidur.

Rui yang melihat Nezuko merasa kalau Nezuko itu unik. Shirazumi yang dijanjikan padanya, kemudian Nezuko yang diinginkannya. Dia sedikit bersemangat dengan duang oni yang akan didapatkannya sebagai anggota keluarga barunya.

Tanjiro yang berhasil mengatur nafasnya kini bersusaha menyerang Rui dengan pernafasan air bentuk ke-10, Seisei Ruten. Dengan jurus itu, Tanjiro berhasil memotong benang Rui dengan katananya yang patah.

Rui sempat terkejut, akan tetapi kemampuan Rui tak hanya sampai disana. Dengan menggabungkan darahnya dan benang-benang miliknya, Rui menggunakan jurus yang lebih kuat. Rui menggunakan jurus darah miliknya Kokushiro. Rui berniat mencincang tubuh Tanjiro dengan benang-benang yang membuat pola sarang laba-laba itu.

Tanjiro berpikir kalau dirinya tak akan sempat untuk menghindar. Tapi dirinya tak boleh kalah sekarang. Dengan bertekad kuat untuk menolong Shirazumi dan Nezuko, karena itu dia tak boleh mati sekarang.

Tepat sebelum jaring benang Rui mengenainya, Tanjiro seperti melihat kilas balik akan kehidupannya. Dia mencari cara untuk menghindari kematian melalui semua pengalaman hidupnya.

Dari semua perjalanan kilas baliknya, Tanjiro mengingat suatu peristiwa dimana saat iru dirinya masih kecil dan Ayahnya masih hidup. Suatu ingatan dimana Tanjiro dan Nezuko sedang bermain di halaman rumah mereka sedangkan Ayahnya dan Shirazumi sedang duduk di engawa.

"Tanjiro. Aturlah pernafasanmu. Dan kau akan menjadi seperti Hi no Kami".

Itulah kalimat pendek yang Tanjiro dengar dari Ayahnya.

.

.

.

Muzan kembali memasuki ruangan dimana Shirazumi tengah tak sadarkan diri. Dia melihat jasad seorang gadis yang seharusnya dimakan oleh Shirazumi.

Seluruh luka yang ada pada jasad itu benar-benar menghilang. Bau darah pun sudah tak tercium lagi. Tapi tubuh itu tetaplah tubuh mati. Api yang dikeluarkan Shirazumi hanya menghapuskan semua luka dan darah yang terlihat.

Dengan kalimat singkat, Muzan menyuruhNakime untuk menyingkirkan Jasad itu. Muzan tak peduli apa yang akan dilakukan Nakime pada jasad itu, baik mau dimakan ataupun dibuang.

Muzan semakin tertarik dengan Shirazumi. Dia berpikir, mungkin masih ada sesuatu yang bisa membuatnya terkejut dari diri Shirazumi. Apapun dan bagaimanapun caranya, Muzan ingin menggali informasi dari Shirazumi.

Api berwarna putih yang lalu berubah menjadi warna biru. Belum pernah Muzan melihat jurus darah yang berbentuk api dan bisa berubah warna.

Warna biru adalah sesuatu yang cukup sensitif untuk Muzan. Bunga laba-laba biru. Itulah yang selama ini dicari olehnya. Bahan dari obat yang dulu diminum olehnya dan membuatnya menjadi seperti sekarang ini.

Muzan sendiri tak tahu, apakah yang disebutkan oleh dokter yang dulu memberinya obat tersebut itu mengenai bunga laba-laba biru adalah benar-benar bunga yang berwarna biru ataukah hanya sebuah kode.

Selama seribu tahun Muzan mencari bunga itu, tapi tak kunjung membuahkan hasil.

Sebagai gantinya, dia bereksperimen dengan berbagai oni, namun tak ada yang membuahkan hasil sedikitpun.

Hanya ada satu oni ciptaannya yang keluar dari otoritasnya, namun itupun akibat dari dirinya yang pernah melemah. Selebihnya, oni yang dapat melanggar perintahnya itu hanyalah oni biasa.

Salah satu tujuan Muzan adalah menciptakan oni yang dapat berdiri di bawah cahaya matahari. Pikiran Muzan saat ini tertuju pada satu hal. Jika dia melakukan berbagai percobaan pada Shirazumi yang masih memiliki sifat kemanusiaan yang cukup tinggi, mungkin dia bisa mendapatkan sesuatu.


Kenangan di masa lalu,

Adalah sesuatu yang dapat membimbingmu.


TBC

Ada kritik & saran?

Aku tunggu ^_^