Thousand of Tears

Chapter 62 Amukan Haganezuka


Shinobu menjelaskan kalau Tanjiro telah menguasai dan mempertahankan teknik pernafasan konsentrasi penuh yang dapat membuat stamina tubuh meningkat drastis. Selain itu, Shinobu juga memprovokasi Inosuke dan Zenitsu dengan 'lembut' hingga semangat kembali bangkit dalam diri mereka.

Untuk Inosuke, Shinobu memprovokasinya dengan secara tidak langsung mengatakan kalau Inosuke 'mungkin' tak akan bisa melakukannya. Bagaikan menambahkan api pada perapian yang hampir padam, Inosuke langsung merasa tersinggung dan tak terima dengan ucapan Shinobu. Semangatnya mulai tumbuh dengan berapi-api.

Untuk Zenitsu, Shinobu mengatakan dengan nada lembut kalau dirinya adalah orang yang paling mendukungnya sambil menggenggam kedua tangan Zenitsu. Otomatis Zenitsu langsung kegirangan dan semangatnya naik berkali-kali lipat.

Akhirnya Inosuke dan Zenitsu juga mau mengikuti latihan yang sama seperti Tanjiro untuk bisa menguasai pernafasan konsentrasi penuh.

Shirazumi yang sejak tadi melihat mereka semua hanya bisa menatap datar apa yang baru saja disaksikannya. Hasil dari Tanjiro yang menyemangati dan Shinobu yang menyemangati mereka perbedaan hasilnya bagaikan langit dan bumi...

.

.

.

Akhirnya, setelah sembilan hari berlatih dengan keras, Inosuke dan Zenitsu juga mampu menguasai pernafasan konsetrasi penuh itu. Semangat ketiga remaja itu kini telah pulih seutuhnya.

Untunglah Shinobu yang mengajari mereka. Kalau saja Tanjiro yang mengajari mereka, Shirazumi bisa menjamin kalau hasilnya tak akan bagus.

beberapa hari sebelumnya ada pesan kalau katana Tanjiro dan Inosuke sudah diperbaiki dan akan dibawakan. Tanjiro dan Inosuke merasa sangat senang saat tahu kalau mereka akan mendapatkan lagi katana mereka.

Tetapi, sejak pesan itu diterima, Shirazumi punya firasat tak enak.

"Tanjiro. Entah kenapa firasatku hari ini akan terjadi sesuatu yang buruk. Mungkin akan ada badai..." Ucap Shirazumi yang baru saja menghabiskan secangkir teh hijau di ruangannya yang gelap.

"Mungkin hanya perasaan Nee-chan saja. Hari ini cerah kok~" Ucap Tanjiro yang sedang duduk di atas tempat tidur Shirazumi yang kosong.

"Semoga saja hanya perasaanku. Oh iya, Haganezuka siang ini akan datang kemari kan? aku ingin mengucapkan salam padanya" Shirazumi berkata. Dia juga ingin mengungkapkan terima kasih pada Haganezuka yang telah menempa katana milik adiknya.

"Iya. Nanti siang. Penempa katana Inosuke juga akan datang. Jangan lupa memakai topi kain itu kalau Nee-chan ingin menyapa Haganezuka-san" Ucap Tanjiro sambil menunjuk pada topi kain yang ada di atas meja. Shirazumi mengangguk menanggapi adiknya.

.

.

.

Akhirnya kedua penempa yang ditunggu-tunggu hampir sampai, tapi Tanjiro tak sabar dan ingin menyapa mereka di gerbang. Namun tiba-tiba Shirazumi merasakan hawa yang tidak enak dan hawa itu berasal dari pinggir pagar di luar gerbang.

Dengan segera Shirazumi berlari ke arah Tanjiro yang sedang melambai-lambaikan tangannya ke luar gerbang dan menarik tubuh adiknya itu.

Untunglah Shirazumi tepat waktu menarik tubuh adiknya, karena kalau tidak, mungkin Tanjiro akan kembali dirawat inap.

Wajah Shirazumi menjadi pucat sepucat wajah adiknya saat melihat Haganezuka yang sedang memegang pisau tajam dengan kedua lengannya yang berotot. Suaranya terdengar penuh dendam. Rupanya Haganezuka sangat marah pada Tanjiro yang telah mematahkan katana buatannya dan berniat menusuk Tanjiro dengan pisau itu.

Amarah Haganezuka yang meluap-luap membuatnya mengejar Tanjiro sambil terus berusaha menusuknya dengan sebilah pisau. Haganezuka sampai tak mendengar perkataan siapapun dan terus mengejar Tanjiro.

Tanjiro tak bisa melakukan apapun selain lari dan menghindar. Shirazumi sudah berusaha menghentikan Haganezuka namun gagal total. Akhirnya Shirazumi hanya duduk di engawa dan menunggu kejar-kejaran mereka berdua karena Kanamori, penempa katana Inosuke yang datang berasama Haganezuka mengatakan kalau Haganezuka tak akan mungkin benar-benar membunuh Tanjiro.

"Sepertinya ini wujud dari badai yang ada pada firasat burukku tadi..." Gumam Shirazumi sambil berdiri dan pindah ke ruangan dalam untuk menunggu kejar-kejaran mereka selesai. Walaupun seluruh tubuhnya tertutup, Shirazumi tetap tak suka cahaya matahari.

.

.

.

Setelah satu jam, akhirnya kejar-kejaran itu selesai dan Tanjiro mendapatkan katana baru. Tetapi bahkan setelah itu pun Haganezuka masih memukuli Tanjiro yang untungnya kepala kerasnya lah yang dipukuli.

Namun, rupanya masalah dengan para penempa itu belums selesai. Giliran Inosuke mendapatkan katana miliknya, dia malah dengan sengaja membuat katana miliknya yang berupa katana ganda itu bergerigi dengan membenturkannya pada batu.

Kali ini Katamori yang mengamuk dan ingin membunuh Inosuke. Tanjiro dan Shirazumi berusaha menahan Katamori sedangkan Inosuke nampaknya tak begitu peduli dan masih mengagumi 'hasil karya' buatannya itu.

Shirazumi dan Tanjiro terus berusaha membuat kedua penempa itu tenang dengan berkali-kali meminta maaf. Namun itu tak membuat amarah kedua penempa katana itu reda sseutuhnya.

Haganezuka memang mengamuk karena katana buatannya rusak, tapi dia tak melihat rusaknya secara langsung. Lain halnya dengan Katamori yang menyaksikan katana buatannya dirusak dengan sengaja di depan matanya.

Karena itulah, menjelang sore saat Haganezuka dan Katamori pulang, Katamori tak henti-hentinya menggerutu tak percaya kalau katana buatannya dirusak dengan dibenturkan ke batu. Sedangkan Haganezuka masih mengeluarkan aura 'akan kubunuh kau'.

Selama kejadian itu, Zenitsu malah curhat dengan Nezuko yang masih berada di dalam kotaknya sehingga dia tak menyadari kehebohan yang terjadi.


Bagi seorang pengrajin,

Hasil karya buatannya adalah sebagian dari jiwanya.

Jika kau menghina suatu karya,

Maka kau juga menghina penciptanya.


TBC

Ada kritik & saran?

Aku tunggu ^_^