Judul : Nijuuhassai desu ga, Mondai ga Arimasenka?
Chapter : 2
Crossover : Naruto x Gotoubun no Hanayome
Genre :Romance, comedy, Slice of life, parody, ooc, dll .
Pairing : Naruto Uzumaki x Itsuki Nakano
Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto dan Gotoubun milik Negi Haruba, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan :v
Rating : M
A/N :
Silahkan membaca dengan santuy~
.
.
.
.
.
Selesai mencuci gelas bekas kopi Itsuki kemudian melangkah untuk mengambil tasnya dan bersiap untuk berangkat kerja, kaki rampingnya yang melangkah terhenti begitu melihat Naruto yang keluar dari toilet hanya dengan memakai celana dalam. Melihat pemandangan yang tidak terduga langsung membuat Itsuki berteriak.
"Kyaaaa!"
"Wah! Ada apa?!" Tanya Naruto yang ikutan panik.
Sambil menutupi matanya dengan tangan Itsuki menunjuk dengan tangan bergetar, "Kenapa kau tidak pakai baju?! Hentai!"
"Eh? Apa itu masalah? Kau kan sudah pernah lihat juga~" jelas Naruto dengan nada menggoda sebagai candaan, Itsuki malah semakin kesal.
"Meskipun begitu, aku juga tinggal di sini. Setidaknya kau sedikit punya rasa malu! Kau bodoh! Cepat pakai bajumu.." Jelas Itsuki yang berjalan melewati Naruto dengan wajah memerah malu, dia masih ingat jelas setiap inci tubuh Naruto terutama batang dibagian bawahnya. Itsuki langsung menggelengkan kepalanya menghilangkan pemikiran aneh di kepalanya tentang kejadian semalam.
"Baiklah, aku akan memakainya.." Naruto terlihat memakai celana jeans dan kaos putih yang dia gunakan lalu memakai jaket berwarna jingga diluarannya, dia juga akan pergi bekerja sambilan.
Itsuki tidak peduli dan berjalan keluar, dia tengah memakai sepatu slopnya di teras bersamaan dengan Naruto yang berada tepat di belakangnya. Itsuki melihat rambut Naruto yang masih acak-acakan karena bangun tidur.
"Hey, rambutmu sangat berantakan.."
"Oh, rambutku memang sulit diatur setelah bangun tidur.." jelas Naruto menyisir sendiri rambutnya dengan tangan.
"Mou, menunduklah sedikit.." Itsuki mengambil spray rambut dan sisir kecil di tasnya.
"Oh baiklah.." Naruto sedikit menunduk pada Itsuki yang menyemprot spray pada kepala Naruto, dia sedikit berjinjit untuk menyamai tinggi Naruto yang masih berada di tatami.
Itsuki kemudian menyisir rambut Naruto yang dirasa cukup kusut, "Kau sudah ceroboh di pagi hari, apa kau benar-benar bisa bertahan hidup sendiri?"
"Kau sendiri, kau sangat perhatian di pagi hari, apa kejadian semalam membuatmu menyukaiku?" mendengar rayuan Naruto membuat wajah Itsuki bersemu merah, karena dia ingat sekali membalas perlakuan Naruto yang menyentuhnya dan merasa nikmat ketika pria itu menyetubuhinya. Itsuki kembali terbayang semalam dia baru saja cinta satu malam dengan Naruto.
"Urusai..!" Ucap Itsuki yang mendorong Naruto lalu memasukan spray dan sisirnya kembali ke dalam tas, Itsuki membuka pintu sembari menatap Naruto di belakangnya dengan sinis, "Kau ini sudah dewasa, jadi harus bisa merawat diri sendiri. Setelah kau memutuskan untuk hidup sendiri maka kehidupan ini lebih keras dari yang kau bayangkan.." jelas Itsuki yang mulai ceramah mengenai kehidupan sesungguhnya.
"Untuk saat ini, aku bisa mengandalkanmu. Lagipula, kita tinggal bersama sekarang. Bagaimana? Mau berkencan denganku..?" Rayu Naruto yang ikut keluar bersama Itsuki.
"Hah?! Itu hanya untuk 3 minggu..!" Itsuki kemudian menunjuk Naruto di depannya, "Ingat ini, kejadian semalam hanya ketidaksengajaan. Aku tidak ingin kau salah paham padaku, setelah ini kita tidak perlu bicara apapun lagi tentang yang terjadi semalam. Mengerti?" Ucap Itsuki yang menatap tajam Naruto.
.
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian,
Itsuki melihat daging yang berada di rak dingin, dia sedang berada di super market untuk belanja keperluan sehari-hari. Sambil memandangi harga diskon dari daging di tangannya, dia lalu menghela nafas.
"Hah.." dia menunduk lesu memikirkan beberapa hal yang menjadi pikiran untuk 5 hari ini, tentu saja itu semua adalah salah Naruto.
Bagaimana tidak? Itsuki harus tahan dengan betapa joroknya Naruto yang mencampur sampah rumah tangga, baju kotor dan piring atau gelas kotornya juga sering berserakan di lantai, tidur dengan keadaan TV menyala, bahkan sembarangan menaruh barang-barangnya hingga dia sendiri lupa meletakkannya dimana. Belum lagi, dia bolos kuliah hingga menjadi perbincangan hangat di mata dosen fakultasnya. Itsuki belum mengatakan bahwa dia bekerja sebagai dosen di kampus yang sama dengan Naruto sehingga pemuda itu belum tahu apa-apa.
Dan yang lebih menyebalkan, pemuda itu memiliki kebiasaan keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai celana dalam. Itsuki tahu mereka sudah melihat tubuh masing-masing tapi dia tidak suka jika pemuda itu bersikap tidak sopan. Bagaimana pun dia wanita dan malu melihat tubuh laki-laki telanjang di depannya.
Sejak mereka melakukan seks, Itsuki mengatakan pada Naruto bahwa itu kesalahan, agar Naruto tidak salah paham tentang imagenya. Dan tidak akan mengulanginya lagi, Naruto setuju jika itu keinginan Itsuki untuk tidak macam-macam dengannya. Dan setelah itu mereka menjalani kehidupan masing-masing tanpa berkomunikasi sama sekali kecuali ucapan selamat pagi sebelum bekerja atau ketika makan bersama di meja makan. Bahkan, dia membeli kasur baru agar tidak tidur seranjang dengan Naruto lagi.
Sekarang Itsuki berjalan tepat di depan apartementnya dan melihat nenek Chiyo yang sedang menyapu halaman. Melihat wanita tua yang merupakan pemilik apartement membuatnya berinisiatif untuk menyapa.
"Selamat sore.." Ucap Itsuki yang kemudian disambut senyuman nenek Chiyo.
"Ah, Nakano-san. Selamat sore, apa kau habis berbelanja?" Tanya nenek Chiyo yang melihat kantung belanja Itsuki.
"Un, sekalian pulang kerja.."
"Bagaimana? Apa kau betah tinggal di sini?" Tanya nenek Chiyo yang membuat Itsuki teringat dengan kelakuan Naruto, namun Itsuki menutupinya dengan senyuman.
"Tentu, ada banyak hal yang terjadi tapi itu masih baik-baik saja.." jelas Itsuki yang membuat nenek Chiyo merasa lega.
"Syukurlah, setidaknya bersabarlah. Kamar dibawah akan segera selesai dan kau bisa menempatinya.." jelas nenek Chiyo yang mendapatkan anggukan Itsuki.
Setelah berbincang sedikit, Itsuki kemudian melanjutkan naik tangga menuju kamar 205, ketika dia membuka pintu apartementnya dia melihat sepatu Naruto yang berantakan tergeletak di teras. Padahal dia sudah berulang kali mengatakan pada Naruto untuk menyusunnya, kalau dipikir-pikir Naruto ini mirip sekali dengan Ichika yang tidak bisa rapih. Dengan sabar Itsuki membenarkan posisi sepatu Naruto. Syukurlah, dia sudah terbiasa dengan kebiasaan malasnya Ichika dahulu.
Setelah itu Itsuki langsung menuju dapur untuk menaruh belanjaannya ke dalam kulkas dan lemari dapur. Itsuki mulai menyiapkan bahan dan memasaknya. Dia menguncir rambutnya seperti ekor kuda dan memakai apronnya. Entah bagaimana dia memasak untuk porsi dua orang karena tidak enak dengan Naruto, tentunya dengan Naruto yang dia suruh mencuci piring dan bekas memasaknya.
Beberapa saat kemudian dia selesai dan membawa nampan berisi masakannya ke ruang tengah, dia terkejut ketika melihat Naruto sedang serius belajar di meja kaki pendek. Itsuki terkejut ketika melihat Naruto membaca sebuah buku, tentu saja pemuda itu bahkan tidak pernah masuk ke kelasnya sama sekali.
"Hm? kau belajar?" gumam Itsuki ketika Naruto mendongak menatapnya.
"Oh Nakano-san.. Begitulah, seseorang menyuruhku mempelajarinya.." jelas Naruto terkekeh sambil menggaruk kepalanya, dia langsung menutup bukunya dan meletakkannya di bawah begitu tahu Itsuki membawa makan malam. Itsuki melihat judul buku yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah di kampus atau jurusannya.
"Sumimasen, Nakano-san.." Itsuki memandang Naruto begitu pemuda itu secara tiba-tiba meminta maaf, "Kau sampai membuat makan malam untukku, meski ini hanya untuk 3 minggu. Aku pasti selalu merepotkanmu, aku orangnya kurang rapih, dan sering membuat masalah untukmu. Hontou ni sumimasen deshita!" jelas Naruto yang langsung menunduk merasa tidak enak pada Itsuki, entah bagaimana melihat Naruto yang tiba-tiba meminta maaf membuat Itsuki bingung untuk memberi jawaban.
Kenapa tiba-tiba minta maaf padaku..? batin Itsuki.
Itsuki duduk di seberang Naruto menunduk dan meremas tangannya sendiri, "Ka-kalau kau berkata begitu, aku jadi tidak tahu harus bagaimana. Sejujurnya beberapa kebiasaanmu memang menggangguku. Tapi jika kau menyadarinya, baguslah. Lagipula, aku tidak terlalu mempermasalahkannya.." Jelas Itsuki yang langsung membuat Naruto mengangkat kepalanya dan menatap Itsuki.
"Benarkah itu?" Tanya Naruto, "Tapi jika ada yang bisa kulakukan, aku akan membantumu.." mendengarnya membuat Itsuki mulai berpikir.
Sebenarnya aku butuh seseorang membantu pekerjaanku, mungkin aku bisa memanfaatnya.. ungkap Itsuki dalam hati.
"Baiklah, akan aku lakukan. Daripada itu, kau lapar bukan? Makanlah.." Itsuki mengalihkan perhatiannya pada makanan yang sudah tertata di atas meja.
Naruto langsung terduduk tegak di depan Itsuki sembari mengatupkan tangannya, "Itadakimasu!" Ucap mereka bersamaan.
Di tengah sarapan Itsuki mulai bertanya pada Naruto buku apa yang Naruto baca, "Omong-omong, buku apa yang kau pelajari?" Tanya Itsuki pada Naruto yang tengah mengunyah.
Naruto kemudian berpikir, "Itu tentang fotografi, aku berniat bekerja di studio. Lagian tidak ada hal menarik yang kulakukan." Perempatan muncul di dahi Itsuki mendengarnya.
Lalu untuk apa kau memilih masuk ke fakultas sains dan teknologi?! Itsuki sangat kesal ketika mengetahui bahwa Naruto menghabiskan waktunya untuk hal yang tidak jelas.
"Apa kau tidak kuliah?" Itsuki mulai bertanya pada Naruto untuk mengetahui alasan pemuda di depannya.
"Aku kuliah, tapi pelajarannya tidak menarik. Jadi aku malas masuk, rasanya tidak menyenangkan sama sekali."
Tidak menarik?! Itsuki kembali merasa kesal dengan jawaban enteng Naruto, pemuda itu berkata seakan dia lebih pintar.
"Ke-kenapa?" Itsuki akhirnya memancing Naruto untuk bercerita.
"Mungkin karena sejak kecil aku mempelajarinya, bibiku sering mengajakku bermain di labnya. Jadi aku sudah paham soal-soal yang rumit. Siapa yang mengira itu soal tingkat universitas."
Mengerjakan soal tingkat universitas?! Bahkan, aku kesulitan mengerjakan matematika saat SD..!
"Kalau begitu, jawab ini. Sebuah buku bermassa 200 gram berada di atas meja yang memiliki koefisien gesek statik dan kinetik dengan buku sebesar 0.2 dan 0,1. Jika buku didorong dengan gaya 4 N sejajar meja, berapa besar gaya gesek buku pada meja? Dengan gravitasi 10 m/s.." tanya Itsuki.
"Gaya gesek statisnya 0,4. Lalu, gaya penggeraknya 4 N dibandingkan dengan hasil gaya gesek statisnya. Gaya penggerak akan lebih besar dari gaya gesek stastis, yang berarti gaya gesek kinetis.." Naruto sedikit termenung dan berpikir sebentar, " jawabannya 0,2 N.." lanjut Naruto yang membuat Itsuki terdiam.
Benar! Entah mengapa Itsuki tidak ingin mempercayainya, bahkan dia harus menggambar gaya gesek dalam ilustrasi baru bisa mengerti.
"Ka-kalau begitu coba terjemahkan ini dalam bahasa inggris, 'Nenekku membuatkanku kare favoritku untuk makan siang'.. " Tanya Itsuki
Naruto kemudian menelan makanannya lalu menjawab, "My grand mother made me my favorite curry for lunch"
Dia mengatakannya dengan fasih?! Bahkan aku yang sudah mengikuti pelatihan bahasa inggris di amsterdam masih belum bisa sefasih itu~ Itsuki semakin dibuat tidak terima karena mahasiswa yang sering membolos lebih pintar darinya.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya? Semua orang bisa menjawab soal mudah seperti itu.."
Soal yang mudah?!
"Bukan apa-apa kok.." ungkap Itsuki yang memalingkan wajahnya dari Naruto, "Setidaknya jangan membolos, mungkin kau memang pintar dan kau bosan dengan semua soal yang kau kerjakan. Tapi semua pengajar berusaha keras untuk selalu mengajar apapun kondisinya, ketika ada seorang murid yang tidak datang, itu sedikit kejam.." Lanjut Itsuki yang curhat mengenai pengalamannya mengajar.
"Begitu ya?" Tanya Naruto singkat.
Kalau mengerti, jangan membolos! Itsuki kemudian menjadi semakin gondok.
Tidak disangka Itsuki bahwa Naruto memiliki otak yang encer, bahkan mungkin sama pintarnya dengan Uesugi, bedanya pemuda di depannya sama sekali tidak bergairah karena terlalu pintar.
Itsuki ingat dengan jelas dia sangat serius menggapai mimpinya. Dia ingin menjadi guru yang hebat seperti Ibunya. Bahkan, Itsuki mengikuti program kuliah di Amsterdam untuk 2 tahun hingga dia diputuskan mantannya yang saat itu tidak ingin Itsuki pergi dan ingin cepat menikahinya setelah lulus. Tapi, Itsuki tidak peduli dan tetap pergi sampai akhirnya dia sadar bahwa dia dicampakkan. Begitu kembali, mantannya sudah mengencani wanita lain. Itu hal yang paling mengenaskan dalam hidupnya.
Itsuki mulai menyadari dia semakin tua pada ulang tahunnya yang ke 25, lalu setuju saja dijodohkan dengan Uchiha Shisui karena sudah menjomblo dalam waktu yang lama. Karena pria itu terlihat baik dan berasal dari keluarga terpandang, belum lagi dia kenalan ayahnya, Itsuki yakin hidupnya akan sempurna. Ternyata kenyataan berkata lain. Bahkan, Itsuki pernah curi dengar Shisui yang menelpon mesra wanita yang terdengar lebih muda darinya.
..karena terlalu antusias pada mimpiku, kehidupan cintaku tidak pernah berjalan baik~ batin Itsuki meratapi dirinya sendiri, setidaknya dia sudah bercinta dengan pemuda di depannya sehingga tidak menyandang status perawan tua.
Tapi tetap saja dia kesal karena Naruto bisa begitu pintar diusia muda, sedangkan dirinya harus berjuang keras dengan segala cara hingga mempertaruhkan masa mudanya.
"Gochisousama deshita.." lanjut Itsuki yang menyelesaikan makan malamnya.
"Ah, biar aku yang membersihkannya.." jelas Naruto yang membereskan alat makan dan pergi menuju dapur untuk mencuci piring.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Itsuki pov*
"Ohayou gozaimasu.." ucapku begitu masuk ke dalam ruangan dosen, dan disambut dengan pengajar lainnya. Aku berjalan ke dalam menuju meja kerjaku yang berada di tengah.
Selama enam bulan aku sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan ini, meskipun jauh lebih sulit daripada ketika aku bekerja di tempat les atau SMA sebelumnya. Namun, aku menikmati hari-hari di tempat ini.
"Ah, Nakano-san.." aku disambut baik oleh rekanku, Yugito Nii. Atas rekomendasi Shimoda-san, aku mendapatkan pekerjaan ini darinya.
Dia duduk tepat di sampingku, "Bagaimana? Sudah terbiasa bekerja di sini?" Dia bertanya dengan ramah.
"Hai, ini berkat bimbingan Yugito-san.." aku kemudian duduk dan meletakkan barang-barangku di meja, "Pekerjaan ini agak sulit tapi saya cukup puas.." aku melihatnya yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Hm, begitu ya? Tapi kalau ada masalah, kau bisa cerita padaku.." dia berhenti memandang laptop dan tersenyum padaku, Yugito-san memang senior yang baik, beberapa kali aku menanyakan pendapatnya.
"Bicara tentang itu, ada satu mahasiswa yang tidak pernah masuk kelasku.." aku berinisiatif menanyakan tentang Namikaze-kun, "..aku tidak tahu harus bagaimana.."
"Ah, yang kau maksud pasti Naruto-kun.." selaknya yang membuatku memandangnya.
"Menurut anda Namikaze Naruto-kun, orangnya bagaimana? Sejujurnya aku sangat kesal padanya, dia tidak pernah masuk kelasku.." selain itu, kelakuannya di rumah yang berantakan juga membuatku kesal.
"Pada dasarnya dia anak baik dan rajin, tapi entah mengapa dia sepertinya tidak punya minat pada bidang ini.." jelasnya yang membuatku mulai mengerti kenapa dia tidak pernah masuk kelasku, "Meskipun jarang masuk kelas, dia orang jenius. Jadi kami tidak bisa komplen apa-apa.."
Seharusnya katakan sesuatu!
"Apa kau tahu perusahaan Uzumaki Steel?"
"Ah, itu perusahaan baja yang cukup besar. Sudah berdiri bahkan sebelum jaman Meiji, aku sering mendengar beberapa hal tentang itu sebelumnya.." aku ingat jelas Shisui-kun membicarakan kerjasamanya dengan perusahaan itu.
"Naruto-kun itu pewaris Uzumaki Steel.."
"Pewaris..?"
Tiba-tiba aku teringat beberapa hal menyebalkan darinya, setiap hari rumah selalu berantakan dan dia suka keluar dari toilet hanya dengan menggunakan celana dalam. Dan bocah aneh seperti itu adalah pewaris perusahaan besar?
JADI DIA ANAK ORANG KAYA?!
"Selain itu.." wajah Yugito tiba-tiba merona dengan pandangan ke arah lain dan tangannya menyentuh pipinya sendiri, "..dia lumayan tampan dan cukup hebat di atas ranjang.." lanjutnya yang membuatku terkejut.
Tunggu sebentar, apa yang terjadi pada mereka?!
Yugito kemudian berbisik, "Ini rahasia ya, aku pernah berkencan dengan Naruto-kun tapi kita sudah lama putus kok.."
Jadi kau ini mantannya. Dasar bocah mesum, ternyata dia tidak pandang bulu sama sekali.
"Kalau kau penasaran padanya, kusarankan untuk hati-hati. Dia orangnya cukup playboy, dia pintar berkata manis.." lanjutnya yang membuatku teringat dengan malam pertama kali aku bertemu dengan Naruto, dia bahkan merayuku untuk melakukan seks secara terang-terangan.
.
.
.
.
.
"Dengan Statistika deskriptif, kumpulan data bisa tersaji dengan ringkas dan rapi serta mampu memberikan informasi inti dari kumpulan data yang ada.." aku menjelaskan bahan ajarku dengan persentasi, mahasiswa yang aku ajari terlihat fokus namun ada juga yang tidak begitu memperhatikan.
"Jadi di dalam diagram ini kita lihat bahwa-" penjelasanku terpotong dengan suara pintu kelas yang terbuka.
"Ohayou gozaimasu! Sumimasen, aku datang telat.." jelasnya yang membuatku menengok untuk melihat siapa yang berani telat hingga tengah pelajaran seperti ini.
Pemuda bersurai pirang itu mendongak seketika pandangan kami bertemu, tatapannya menatap aneh padaku. Aku sebenarnya terkejut karena salah satu mahasiswaku yang suka membolos berada di hadapanku sekarang. Aku menutupi keterkejutanku lalu menatap tajam padanya. Jujur saja aku sangat tidak suka dengan caranya yang menerobos masuk dan mengganggu pelajaran. Dia tidak sopan.
"Eh? kau-"
"Untuk apa kamu di sana?" Tanyaku padanya yang terlihat kebingungan.
"Eh? Justru aku yang ingin bertanya kenapa kau-"
"Apa saya memberimu izin untuk masuk?" Aku langsung menyelanya yang kembali terdiam, "Keluar.." terangku yang kemudian menunjukkan pintu di belakangnya.
"Tunggu sebentar, oy.."
Aku kembali menatap tajam padanya lalu membanting bukuku di meja, "Keluar!"
"Hai~!" Dia terlihat bergidik ngeri.
Dia terlihat terkejut mendengarku yang berteriak galak di hadapannya. Tanpa protes dia langsung keluar begitu saja. Lihat? Dia tetap bocah di wilayah ini. Akan kutunjukkan padanya betapa kejamnya diriku, fufufu.
"Sumimasen minna, mari kita lanjutkan pelajarannya.." ucapku yang tersenyum mistis di hadapan mahasiswaku.
Nakano-sensei.. menakutkan! Batin mahasiswa yang melihat kejadian itu.
.
.
.
.
.
"Yosh, pekerjaanku sudah selesai. Kurasa setelah ini, aku akan makan di luar.." aku membawa tasku untuk keluar wilayah kampus, beberapa mahasiswa yang berkumpul terkadang menyapaku. Langit-langit mulai terlihat menggelap, sama seperti hatiku yang menjomblo saat ini. Aku berpikir pergi makan sendirian sangat menyedihkan, tentu saja karena orang setidaknya mengajak pacar atau temannya.
Tapi, usiaku sudah tidak muda lagi. Hampir semua temanku sudah menikah, mengajak yang lainnya juga sulit karena mereka punya kesibukan. Bisa saja menelpon Ichika, tapi dia pasti sibuk dengan pekerjaan sebagai artis, selain itu bakal mencolok banget. Semakin berjalannya waktu aku tidak tahu lagi arah hidupku mau kemana, saat kuliah aku punya pacar yang sangat kusukai, tapi dia mencampakkanku karena aku kuliah di luar negeri. Saat aku kembali dia menikah dengan adik kelasku. Terkadang aku berpikir akan bagus jika aku cepat menikah dan mendukung laki-laki yang akan aku cintai. Tapi, aku tidak mau dijodohkan lagi atau mengikuti acara kencan buta.
..lalu beberapa hari lalu, aku bercinta dengan mahasiswa yang baru aku kenal karena saking kesepiannya diriku ini.
Hah! Apa-apaan alur cerita ini?! Berat banget!
Ketika sampai di sebuah restaurant, aku duduk di deretan pojok dekat jendela karena ramai. Yah, soalnya saat ini waktu pulang kerja. Aku melihat menu dan kebingungan untuk memilih. Semua ini terlihat enak sampai-sampai aku lupa cerita menyedihkan barusan, aku jadi bingung memilih apa. Baiklah, aku akan makan semua yang aku inginkan untuk melupakannya.
"Konbanwa, sensei~" jelas suara dari pemuda yang aku kenal, "Kebetulan sekali, saat pulang kerja dari studio aku melihatmu masuk kemari.." seorang pemuda kuning menghampiriku dan duduk di bangku yang tepat ada di depanku.
Tenangkan dirimu, Itsuki. Abaikan saja dia. Menganggapnya seperti hantu yang tidak terlihat, tapi tentu saja dia tidak tinggal diam. Dia duduk tepat di depanku sambil tersenyum-senyum bodoh menatapku. Dia mencoba mencari perhatian padaku.
"Hehe~ aku tidak tahu kalau Nakano-san dosen di kampusku, harusnya kau beritahu aku.." jelasnya yang aku abaikan, "Aku diabaikan nih, kau dingin ya~"
"Ini akan menimbulkan kesalahpahaman, jadi bertingkah saja kau tidak mengenalku.."
"Kenapa?"
"Tentu saja, bagaimana jika ada orang yang tahu bahwa kita tinggal bersama? Seorang dosen dan mahasiswa memiliki hubungan khusus, kau tahu itu tidak akan jadi hal yang baik.." Jelasku.
"Aku tidak masalah, lho.."
"Aku yang bermasalah! Jadi, sudah pergi saja sana!"
Ah sial, nafsu makanku jadi hilang. Meskipun aku sudah membentaknya, anak ini sama sekali tidak pergi. Seberapa keras kepalanya dia.
"Aku tidak bisa mengabaikanmu.."
"Hah?!"
"Soalnya, Sensei sangat manis dan terlihat awet muda. Itu membuatku khawatir jika ada pria tidak baik yang mendekatimu. Seperti tidak bisa membiarkan berlian jatuh begitu saja.." lanjutnya menggombal dengan aura blink-blink, seakan itu bukan masalah untuknya.
Ada apa dengan pria muda jaman sekarang?
"Memangnya kau ayahku, lagipula ucapan itu juga berlaku untukmu.." Aku kemudian membuka kembali buku menu tapi mataku melirik pada sebuah kamera yang diletakkan di meja, "Omong-omong, kamera itu.."
"Ah, kau menyadarinya? Aku baru membelinya setelah kau mengusirku tadi, aku sudah diterima bekerja paruh waktu di perusahaan majalah fashion dari kenalanku.." jelasnya yang tengah mengutak-ngatik kameranya, dia kemudian mengarahkannya padaku, "..Bisakah kau sedikit tersenyum? Kau terlihat jelek.."
"Jangan memotretku. Hah, begitu ya? Selama kau tertarik dengan bidang itu tak masalah, jadi pekerjaan macam apa itu?" tanyaku untuk sekedar basa-basi.
"Aku bertemu macam-macam orang, senpaiku sangat keras membimbingku. Kira-kira menghabiskan 10 sampai 30 lembar, aku juga dapat kesempatan membuat display promosi suatu merk sepatu wanita, kurasa besok akan menjadi hari yang paling menyibukkan. Omong-omong apa kau mau lihat desain display yang kubuat? masih belum selesai sih.." Jelasnya membuatku berpikir dia cukup serius mengenai pekerjaannya saat ini, bahkan sekarang dia menunjukkan hasil displaynya.
"Padahal ada kesibukan lain, kenapa kau repot-repot dengan hal seperti itu?"
"Tidak ada alasan khusus, aku hanya menyukainya. Dulu aku ikut kelas seni dan beberapa kali ikut lomba fotografi, jadi aku cukup ahli untuk hal seperti ini. Aku juga membaca bukunya jadi ingin langsung coba.." dia menunjukkan ekspresi antusias ketika membicarakannya, membentuk lengkungan kurva pada bibirnya, sambil tangannya sibuk menggambar sesuatu di bukunya.
"Nakano-san juga sama, 'kan? Kau menjadi pengajar karena menyukainya, aku melihatmu bekerja dari jendela pintu dan kau terlihat menikmatinya. Kau juga keras dan bertanggung jawab, kau tidak membiarkan seorang murid yang bertingkah seenaknya sepertiku, menggambarkan sekali sikap seorang sensei yang baik."
Aku cukup tertegun mendengarkan perkataannya, "A-aku tetap tidak akan termakan gombalanmu!" Ucapku padanya yang tertawa kecil.
"Eh?! Aku serius kok. Kau punya talenta yang bagus."
Sial, dia sudah biasa melakukan ini. Berucap manis semudah itu.
"Meskipun begitu, kau sering bolos.."
Oh tidak, aku benar-benar senang dengan ucapannya. Aku langsung sesenang ini begitu merasa dia mengatakan hal bagus tentangku. Perasaan aneh macam apa ini ketika aku merasa senang atas pujiannya, bahkan aku tidak bisa menatap mata anak ini. Ayolah buka matamu, Itsuki!
Kenapa aku terus berharap pada keinginan palsu seperti ini? Meski aku tidak benar-benar membencinya, ini mengapa aku selalu gagal pada kesalahan yang sama. Tertarik dengan orang sepertinya. Padahal aku tidak boleh begini-
"Omong-omong, buku yang Nakano-san tulis menarik sekali.." ucapnya mengingatkan padaku buku yang aku terbitkan beberapa bulan yang lalu tentang penelitian yang aku tekuni.
"Eh? kau membacanya?" Tanyaku.
"Aku cuma bilang di sini saja ya, tesismu itu rumit sekali. Kepalaku langsung sakit memikirkannya, tapi penjabaranmu mudah dipahami, di bagian akhirnya aku langsung mengerti banyak hal. Pantas saja aku rasanya pernah mendengar namamu, ahaha!" Dia malah tertawa kemudian dia terdiam kembali, "Orang yang bisa membuat buku seperti itu pastilah hebat, makanya aku bilang kau punya talenta.." lanjutnya.
"Tidak juga, aku membuat buku-buku itu karena aku pikir itu akan membantu orang lain. Ketika aku berpikir ada orang yang kekurangan informasi, jadi aku berusaha mencarinya. Tapi, semua itu didapat karena orang lain yang turut membantu, aku hanya sekedar menulisnya.."
"Tapi, tetap saja, karena Nakano-san menulisnya orang-orang menjadi terbantu. Benarkan? Kau sensei yang baik, kau benar-benar memikirkan muridmu. Semua murid pasti menangisimu saat kelulusan.."
Untuk kedua kalinya aku dibuat tertegun oleh perkataannya, ini pertama kalinya aku dipuji oleh muridku sendiri secara langsung dan bukan dari angket. Aku tidak menyangka dia membaca buku yang aku buat. Seberapa manis ucapannya sehingga aku merasa hangat. Sama seperti sentuhannya di malam itu..
DEG!
Bo-bodoh! Apa yang aku pikirkan? Apa aku baru saja memikirkannya secara seksual?
Bagaimana ini? aku tidak boleh melunak padanya, cukup saja dengan Shisui-kun, aku tidak akan pernah luluh lagi pada lelaki manapun, apalagi dengan yang lebih muda.
Tuk!
Tiba-tiba suara gemuruh terdengar dari jendela, "Ah sial, turun hujan. Aku tidak bawa payung, Nakano-san kau bawa? Kalau tidak, aku bisa membelinya di minimarket terdekat.."
Tidak, aku tidak memikirkannya..
"Nakano-san?"
Dia hanya memujiku sedikit, jadi aku tidak boleh girang sendiri. Aku yakin perasaan seperti ini hanya sesaat.
Kalau kau penasaran padanya, kusarankan untuk hati-hati. Dia orangnya cukup playboy, dia pintar berkata manis..
Seperti yang Yugito-san katakan, dia memujiku hanya untuk mempermainkanku. Lagipula, mana mungkin pria baik mengajak bercinta wanita yang baru ditemuinya. Dia mesum, penjilat, dan tidak tahu sopan santun. Dia diluar tipe idealku.
"Apa terjadi sesuatu? Wajahmu sangat merah, lho.."
"Eh? Maaf, apa tadi?"
Orang sepertinya tidak akan pernah serius, terutama pada wanita sepertiku. Dan dia jauh lebih muda dariku. Karena itu, sejak malam itu aku berpikir dia hanya main-main saja, jadi aku tidak mau memikirkannya.
Meskipun begitu, terlintas aku berpikir bagaimana rasanya-
Aku melihat Naruto yang bangkit dari kursi, dia menunduk di depanku dengan memangku tangannya di meja. Pandangannya yang lurus menatapku membuatku mematung, dan di detik berikutnya aku merasakan benda kenyal pada bibirku yang bertautan dengan bibir miliknya. Dia menciumku. Aku terbelalak saking terkejutnya. Namun, tidak ada oranglain yang terkejut atau menyadarinya karena dia menutupi wajah kami dengan buku menu di tangannya.
.
.
.
.
.
TBC
Bagaimanakah selanjutnya, silahkan saksikan di chapter selanjutnya.
