Judul : Nijuuhassai desu ga, Mondai ga Arimasenka?

Chapter : 3

Crossover : Naruto x Gotoubun no Hanayome

Genre : Romance, AU, comedy, Slice of life, parody, ooc, dll.

Pairing : Naruto Uzumaki x Itsuki Nakano

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto dan Gotoubun milik Negi Haruba, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan :v

Rating : M

A/N :

Sepertinya tidak ada hal yang ingin kukatakan..

.

.

.

.

.

Normal pov*

Hari-hari yang sama untuk pemeran utama wanita kita, Nakano Itsuki sedang duduk sambil menyandarkan kepalanya di ruangan dosen tepat di atas mejanya. Hari ini, dia hanya mengajar untuk setengah hari, tidak disiplin seperti biasanya. Padahal sebenarnya dia masih harus membuat laporan dan menginput data. Hanya saja, entah kenapa pikirannya sedang tidak tenang saat ini.

Aku tidak bisa fokus.. ucapnya di dalam hati pada diri sendiri.

Sadarlah, diriku! kalau begini akan berpengaruh pada pekerjaan..! Lalu dia mencubit pipinya sendiri dan menepuk wajahnya, sementara dosen lain merasa aneh dengan tingkahnya hanya menjauh karena tidak ingin terlibat.

Kemudian matanya melirik pada layar laptop di depannya yang berbunyi karena sebuah pesan dari aplikasi hijau yang disebut RINE, Itsuki langsung menyadari begitu nama Naruto tertera di notifikasinya. Sebelumnya Itsuki tidak pernah bertukar ID dengan Naruto, nampaknya pemuda itu yang mencari melalui grup kelas atau bertanya pada mahasiswa lain yang dia kenal. Itsuki terdiam memperhatikan sampai akhirnya dia mengklik pesan dari Naruto yang menunjukkan sebuah gambar.

"Apa ini?" Gumamnya sendiri untuk melihat apa yang dikirim pemuda itu.

Aku tahu alasannya, ini karena dia terus menerus menghubungiku sejak hari itu.. Itu karena aku tidak pulang dan menginap di rumah Ichika untuk menghindarinya selama tiga hari..

Kemudian yang terlihat adalah Naruto yang menunjukkan hasil potret displaynya, terlihat sepatu wanita yang ditata rapih dengan hiasan bunga di sekitarnya. Itsuki melihat hal tersebut malah bingung, tapi Itsuki membaca kata-kata yang tertera dibawahnya.

Displayku hari ini ada dalam sebuah event, aku harap kau mau melihatnya. Aku menunggumu.

Pesan Naruto dan tertera alamat event fashion di bawahnya.

"Apa dia bodoh? Jelas aku tidak akan pergi.."

Setelah membacanya Itsuki malah kesal, dia tahu itu hanya akal-akalan Naruto untuk menemuinya. Tentu saja, Itsuki tidak mau. Itsuki kembali mengingat kejadian ketika Naruto menciumnya tiba-tiba ketika mereka sedang berbincang di restaurant. Sejak hari itu, hanya hal itu yang menghantui pikiran Itsuki saat ini. Itsuki masih mempertanyakan apakah Naruto masih berniat mempermainkannya karena dia wanita di zona umur yang gawat dan masih lajang.

Kejadian itu terlalu aneh baginya, bahkan mereka baru mengenal satu sama lain.

"Mou, sudah cukup.." Itsuki kembali menyandarkan kepalanya di meja dengan mata tertutup.

.

.

.

.

.

Flashback mode on*

Itsuki menatap Naruto dan terdiam, seraya tangannya menyentuh bibirnya sendiri. Dia masih syok karena pemuda itu baru saja menciumnya di tempat umum. Itsuki yang gelisah melihat sekelilingnya, takut jika ada orang yang mengenalnya. Tentu saja, akan menjadi berita yang heboh kalau dia diduga berkencan dengan Naruto. Belum lagi, Naruto berasal dari keluarga yang terpandang.

"A-apa yang kau lakukan? Bercanda seperti itu tidak lucu.." Itsuki mulai mempertanyakan Naruto yang tengah menatap lurus padanya, hanya melihat matanya Itsuki tahu alur pembicaraan ini bakal serius.

"Nakano-san, aku.."

Tapi, akal sehat Itsuki mengatakan untuk menghentikannya.

"Ah, gawat.. sudah jam segini, aku ada janji bertemu teman.." Itsuki berbohong dan langsung menggenggam tasnya, "..maaf, aku harus pergi.." lanjut Itsuki yang langsung berlari menuju pintu keluar, sedangkan Naruto masih terkejut dengan reaksi wanita di depannya.

"Tunggu, Nakano-san!" Teriak Naruto tapi terlambat karena Itsuki sudah lebih dulu keluar dari restaurant tersebut tanpa peduli hujan deras di luar.

Itsuki berlari sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangan, dia tak menyangka dengan kejadian barusan. Sampai akhirnya dia berteduh disebuah halte bis dan menaiki sebuah bis, bajunya menjadi basah kuyup akibat air hujan. Tak punya tujuan akhirnya dia menelpon saudari perempuannya yang tertua, Ichika.

Flashback mode off*
.

.

.

.

.

Sebenarnya ciuman itu untuk apa?

Itsuki kembali menanyakan pada dirinya sendiri sambil menyentuh bibirnya.

Sial, aku tidak ingin memikirkannya..!

Namun, meskipun pikirannya begitu sebenarnya dia benar-benar memikirkannya. Entah karena apa? Tapi kemungkinan karena tinggal bersama dia mulai terbawa perasaan. Dan dia menyadari kalau pemuda yang tinggal bersamanya itu memang seleranya. Kalau biasanya Itsuki bisa membuka dirinya pada pria yang dia sukai, tapi kali ini berbeda.

Kemungkinan karena memang pemuda itu tipenya karena itu dia tidak bisa mengekspresikannya, tapi jarak umur mereka dan karirnya sebagai dosen tidak mungkin dia abaikan juga. Dia tidak ingin melanggar kode etik pengajar, 'bukan? Meskipun pemuda itu adalah mahasiswa yang dibencinya karena sering membolos. Itulah mengapa wanita ini tidak bisa menerimanya.

Memang benar Naruto itu pria pertama yang merebut status perawannya, tapi baginya itu hanya sekedar nafsu sesaat. Berhubungan pada wanita tua yang terlalu serius sepertinya mungkin belum terlintas di pikiran Naruto. Ujung-ujungnya Itsuki pasti bakal dicampakkan. Itulah mengapa, Itsuki tidak mau berharap yang aneh-aneh dan mempermalukannya nanti.

Itsuki kemudian mengingat cerita dari seniornya Yugito, yang mengaku pernah berkencan dengan Naruto, dia berkata Naruto playboy, pintar berkata manis dan jago urusan main di ranjang. Belum lagi, itu terbukti karena Naruto bersikap agresif ketika memintanya untuk cinta satu malam. Berdasarkan dari perilakunya terhadap perempuan, sudah jelas Naruto itu tidak serius. Pasti pria seperti itu cuma mau tubuhnya saja.

Bagaimanapun aku memikirkannya, itu hanya perasaan sesaat yang akan berlalu cepat, aku tahu itu, jadi untuk apa aku jadi gelisah? Ucap Itsuki dalam hati sambil menopang wajahnya dengan salah satu tangannya menatap layar laptop di depannya yang berisi laporan yang masih diketiknya.

Sudahlah, daripada tidak jelas ngomong sendiri, lebih baik aku selesaikan laporan ini.. aku harus fokus!

Itsuki kembali mengetik sampai laporannya sudah selesai dan tinggal di save.

Yosh, selesai!

Dia tersenyum senang lalu mengarahkan mousenya untuk mengklik tanda x sampai terlihat pemberitahuan untuk menyimpannya, ketika dia ingin mengklik yes, tanpa sengaja tangannya terpeleset dan malah mengklik no.

"Eh?" Itsuki terdiam beberapa saat.

Ah, shimatta! Laporanku!

Dan Itsuki pun kembali menulis ulang laporannya.

.

.

Sejak kejadian kemarin, Itsuki benar-benar tidak ingin melihat Naruto. Wajah seperti apa yang harus ditunjukkannya? Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi pemuda tersebut. Tapi, tidak mungkin dia terus melarikan diri dari masalah seperti ini. Meskipun sebenarnya Itsuki tidak ingin datang ke acara tersebut-

Di pukul 7 malam Itsuki sekarang berada di sebuah event fashion yang diselenggarakan oleh JEFO, sebuah organisasi dari beberapa perusahaan brand yang melakukan event fashion Jepang setiap tahun. Event tersebut ada di sebuah gedung pusat perbelanjaan di Ginza. Di sana sangat ramai karena katanya banyak model terkenal yang menjadi peraga pakaian di panggung fashion show, para juru kamera dan fotografer handal ada di sana memotret modelnya.

Tanpa sadar, aku malah datang juga.. ucapnya dalam hati merasa bodoh.

Itsuki yang malas melihat kerumunan kemudian berbelok lalu menuju kumpulan display yang menampilkan brand tersebut dengan sales handal yang mempromosikannya, lagipula dia datang karena mendengarnya dari Ichika kemarin, bukan berarti dia ingin melihat hasil kerja Naruto secara langsung. Dan benar saja ketika menelusurinya, dia melihat display yang dibuat oleh Naruto yang membuatnya kembali teringat dengan kejadian kemarin.

Kepala Itsuki menengok ke kanan-kiri, memastikan bahwa pemuda kuning itu tidak ada di sekitarnya.

Syukurlah, sepertinya dia tidak ada.. ucapnya dalam hati ketika sedang merenung sejenak

"Oh, Nakano-san!" Panggil seseorang yang sudah Itsuki duga, seketika tubuhnya langsung menegang ketika mengetahui pemuda kuning itu malah berlari mendekatinya.

Naruto menunduk menatap Itsuki yang memalingkan wajahnya, "Tadi aku mengirimmu pesan, sudah lihat?" Tanya Naruto tersenyum menatap Itsuki yang pura-pura melihat hal lain.

"Ah.. itu, sudah.."

"Karena acara ini cuma diadakan setahun sekali, kupikir kau harus melihatnya secara langsung.." Jelas Naruto yang membuat Itsuki malu karena ketangkap basah berkunjung.

"A-aku datang karena tawaran dari saudaraku, bukan berarti aku kemari karena pesanmu.." Jelas Itsuki yang tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman pada Naruto.

"Begitu ya? Berarti saudaramu bekerja di industri seperti ini. Omong-omong, apa kau habis pulang kerja?"

"Begitulah.."

"Jadi kau kemari untuk menemui saudaramu?"

"Ah?! Oh iya.."

"Dia bekerja di bidang apa?"

"Dia modelnya.."

"Wow! Luar biasa.. kalau begitu berarti, kita lihat dari lantai atas saja.."

Naruto kemudian berjalan mendahului Itsuki yang mengekorinya karena tidak tahu harus melakukan apa di tempat itu, matanya menatap Naruto yang tampak dari belakang. Sejujurnya Itsuki merasa aneh karena pemuda di depannya terlihat biasa saja, tanpa ada masalah. Hal itu membuatnya sedikit kesal, padahal dia terus-terusan memikirkannya sampai mengacaukan pekerjaan. Tapi, Naruto justru terlihat baik-baik saja tanpa ada beban.

Apa-apaan dia? Dia sengaja bersikap seperti biasa? Atau baginya ciuman itu bukan hal besar untuk dipikirkan? Sifatnya memang yang terburuk..

Naruto kemudian mengajak Itsuki untuk pergi ke lantai atas untuk melihat fashion show agar nampak jelas, karena di bawah sangat ramai.

"Ini dia, lebih nampak jelas.." ucap Naruto bersender di balkon pembatas, "oh itukah saudaramu? Kalian terlihat mirip.."

"Soalnya kami kembar.."

"Eh? Benarkah?"

"Terima kasih, sudah susah payah menemaniku. Padahal kau sedang sibuk, aku merasa tidak enak. "

"Hah? Kau ini bicara apa? Tidak perlu dipikirkan, ini kulakukan karena kau penulis buku yang kukagumi.."

Itsuki yang menatap Naruto kemudian menunduk tanpa berkata apapun, karena pemuda itu memujinya hanya untuk menarik perhatiannya. Dia tahu itu, jadi dia tidak begitu senang.

"Nakano-san, akhir-akhir ini sibuk ya? Kau tidak pulang selama 3 hari, kau pergi kemana?"

Tuh kan, benar. Pasti itu yang ingin dia tanyakan.. batin Itsuki sudah menduga.

"Aku menginap di rumah saudara yang seorang model itu kok.. tapi karena sudah dekat ujian, jadi pekerjaanku memang menumpuk.." jelas Itsuki yang akhirnya dia mendengar pertanyaan seperti itu juga dari Naruto.

Mata Itsuki menatap Ichika yang sedang bergaya, "Kelihatannya saudaraku sedang sibuk dengan pekerjaannya, kau juga sedang sibuk kan, sepertinya aku pulang saja. Lagipula, aku kemari hanya untuk lihat-lihat.." ucap Itsuki yang langsung berjalan melewati Naruto, melihat akan kehilangan kesempatan ini Naruto tidak tinggal diam.

"Nakano-san!" Tangan Naruto langsung menggenggam tangan Itsuki yang terkejut karena ditahan pemuda itu.

"..A-apa?"

"Sebenarnya, jam kerjaku sebentar lagi akan selesai. Bagaimana kalau kita pulang bersama?" Tanya Naruto yang membuat Itsuki gelisah.

"Kenapa?"

"Apa salahnya? kita kan tinggal bersama. Dan aku ingin membicarakan kejadian kemarin, kau pasti ingin menghindariku lagi, 'bukan?" Naruto menatap langsung mata wanita di depannya, Itsuki menjadi merona karenanya.

"Eh? Siapa yang menghindar, bukankah wajar menginap di rumah saudara sendiri..?" Ucap Itsuki yang berbohong.

Drrrt! Drrrrt!

Kemudian Naruto menyadari bahwa ponselnya bergetar tanda ada panggilan, tertera nama senpai di layarnya. Sepertinya senpai itu mencari Naruto karena menghilang dari pekerjaannya. Itsuki hendak ingin berlari, namun tangannya sedikit ditarik Naruto. Pemuda itu kemudian berbisik di telingahnya.

"Tunggu aku di kafe depan gedung ini.." Naruto memberi pesan singkat sebelum akhirnya pergi ke lift untuk turun sambil menerima panggilan telponnya.

.

.

.

.

.

Itsuki akhirnya menunggu di bangku outdoor kafe, sesungguhnya dia ingin lari dari sana, tapi dia berpikir tidak mungkin jika dia terus-menerus lari dari masalah. Itsuki juga ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah ini agar tidak membesar, bahkan dia sudah berpikir untuk pindah saja. Masalahnya kemungkinan itu akan menyakiti perasaan Naruto. Bukan berarti Itsuki ribet, dia hanya tidak mau sampai dibenci saja.

Mata birunya kini menatap lalu lalang di depannya, orang-orang terlihat berlalu lalang di hadapannya, pandangannya malah teralihkan kepada pemuda-pemudi yang sedang duduk di sebelahnya sambil mesra-mesra selfie bersama. Itsuki sempat berpikir enaknya jadi muda, tidak pernah memikirkan sesuatu yang tidak perlu. Kemudian tangannya menggenggam ponselnya untuk melihat jam yang menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh lima. Semburat merah tidak lepas dari wajahnya, tentu saja dia menjadi gugup karena Naruto akan membicarakan kejadian kemarin.

Di kepalanya terus mempertanyakan, apa yang akan dibahas oleh Naruto? Kalau ingin menduga, pasti pemuda kuning itu ingin meminta maaf atau memberikan alasan lain terkait ciuman yang dia lakukan padanya. Lagipula usia mereka terpaut 7 tahun, mereka juga sama-sama tidak begitu saling mengenal, sudah begitu Naruto pasti dikelilingi kenalan wanita yang masih muda, dan dia bisa memilih siapa saja. Cinta pada kenyataannya tidak mungkin bisa berjalan lancar seperti fiksi.

Kemudian Itsuki mendengar suara langkah sepatu yang berhenti tepat di sampingnya, "Itsuki?" refleks dia menengok pada seseorang yang menyebut namanya.

Mata Itsuki langsung melebar karena yang dia lihat adalah seseorang berjas yang rapih, bersurai jingga dengan mata coklat legamnya yang lembut, seseorang yang dia kenal dan mengisi hatinya dulu, "Yahiko?" ucap Itsuki menyebut nama orang tersebut.

"Ah, sudah kuduga itu kau, boleh aku duduk di sini?" Yahiko tidak mendapat jawaban, "Aku anggap itu sebagai ucapan ya.." dia kemudian duduk di depan Itsuki tanpa izin.

Itsuki terlalu terkejut karena dia bertemu mantan pacarnya ketika masih kuliah, yang kemudian secara sepihak memutuskannya karena masalah kecil. Itu sangat mengerikan bahwa Itsuki masih ingat bagaimana pria di hadapannya memutuskannya di hadapan banyak orang, dan pergi dengan wanita lain.

"Aku terus mencarimu, lho.." ucap Yahiko yang bicara sendiri, "Kemudian, aku bertanya pada Nino dimana kau berada, tapi dia marah-marah padaku dan tidak mau menjawab. Lalu, aku bertanya pada beberapa teman kuliahmu dulu katanya kau sekarang bekerja di universitas Konoha, jadi aku mengikutimu. Maaf ya.." lanjut pria di depannya.

Itsuki hanya menunduk sehingga wajahnya ditutupi oleh poni rambutnya, "Kenapa kau mencariku?" tanya Itsuki.

Yahiko menggaruk belakang kepalanya dengan raut wajah sedih, "Sebenarnya aku baru bercerai, aku melihatnya pergi dengan orang lain dan begitulah.." jelasnya pada Itsuki yang cukup terkejut, meskipun dia merasakan sakit dalam hatinya.

"Menyedihkan.." tanggap Itsuki.

Yahiko tertawa garing, "Kau benar, aku pria menyedihkan.." lanjut Yahiko menutup matanya, dan ketika terbuka dia melanjutkan lagi ucapannya, "..aku sempat kehilangan harapan sampai teringat padamu lagi, aku menyadari bahwa aku sudah menyakitimu. Tapi, kau tahu? saat itu aku masih muda, aku berpikir ingin melamarmu setelah kelulusan, tapi kau terus-menerus mementingkan pendidikan tinggi, kesuksesan, terus-menerus harus menunggu, dan pergi keluar negeri tanpa mendengar pendapatku. Jadi aku merasa aku bukanlah hal penting untukmu.."

"Pada akhirnya kau tidak mempercayaiku, apa kau tahu apa yang aku alami di sana? Aku kesulitan dengan banyak hal, disaat aku gagal aku membutuhkan dukunganmu.. aku selalu menanti kau menelpon atau satu pesanmu, tapi bahkan kau mengabaikan semua pesanku.." Itsuki menggenggam tangannya sendiri di atas meja dengan erat, "..aku berpikir ketika aku kembali kau akan menyambutku, tapi—"

Yahiko kemudian menggenggam tangan Itsuki, "Sekarang aku beda, aku ingin kembali seperti dulu. Aku tahu aku salah, karena berpikiran pendek saat itu.."

"Kenapa sekarang?! Itu sudah tidak ada gunanya, kamu tidak sadar saat ini kau terlihat menyedihkan? Apa kau tidak malu?!" Itsuki menatap Yahiko di depannya dengan pandangan marah, tapi terlihat kesedihan juga yang tersirat bahkan mungkin air matanya akan keluar.

"Aku sudah bercerai, apa kau tahu apa yang aku rasakan? Aku tahu kalau hubungan bukan hanya usaha belaka, terkadang hidup tidak berjalan dengan cara yang aku inginkan.."

Apa-apaan itu?

Itsuki menepis tangan Yahiko yang menggenggam tangannya, "Hari itu, aku tidak bisa melupakan ekspresi kejammu.."

"Kamu sengaja mengingat hal itu supaya bisa membenciku. Jangan lakukan itu.."

"Benar, sampai saat ini, aku bahkan berharap kamu kembali. Tapi ketika melihatmu, aku tidak merasa seperti itu lagi. Aku tidak ingin bersama pria yang merusak hubungannya.." Itsuki kemudian berdiri dan menggenggam tasnya, dia sudah tidak tahan berada di situasi itu dan ingin pergi dari pria di depannya.

Yahiko tentu tidak menyerah, tangannya langsung menggenggam lengan Itsuki untuk menahannya pergi.

"Kamu pasti akan mencintaiku lagi, kamu hanya perlu waktu.." paksa Yahiko yang kemudian Itsuki kembali menepis tangannya.

"Sumimasen, aku tidak mau kembali kepada kesalahan yang sama. Sejujurnya ini tidak mungkin.." ucap Itsuki yang berjalan menjauh, namun Yahiko masih berusaha mengikutinya.

"Aku akan menunggu, kau pasti kembali padaku. Memangnya kau akan kemana? Selain bersamaku!" Yahiko berteriak hingga menimbulkan perhatian orang-orang pada mereka berdua, Itsuki sejujurnya merasa malu dengan kejadian ini.

Itsuki jadi ikut kesal dan tanpa sadar ikut berteriak, "Jangan teriak padaku! Aku bilang ini sudah berakhir, jangan berharap yang aneh-aneh padaku!" ucap Itsuki yang membuat Yahiko tersenyum sarkas di hadapannya.

"Jadi maksudmu kau ingin bersama dengan bocah pirang itu? dengan orang yang kau temui di event itu, kau menyukainya kan?" ucapan Yahiko membuat Itsuki terdiam, pria itu berjalan mendekati Itsuki, "Aku tahu, setiap hari aku lihat kau keluar dari apartementnya, sejauh mana itu? Apa kau sudah melakukannya?"

Itsuki menjadi terkejut karena tahu kalau Yahiko sudah menguntitnya sejak lama, "Kau sudah mengikutiku sejak kapan?!"

"Kau tidak perlu tahu. Jadi kau sudah sejauh mana dengannya?" Yahiko kembali balik bertanya yang entah mengapa tidak bisa dijawab oleh Itsuki, "Begitu ya? Dari wajahmu, pasti kalian sudah melakukannya.."

"I-itu.."

"Dilihat bagaimanapun dia terlihat lebih muda, apa dia muridmu? Itu akan menjadi hal besar, 'kan?"

"Apa kau sedang memerasku?!"

"Aku akan pergi padanya, agar tidak mendekatimu lagi.." lanjut Yahiko yang hendak berjalan, Itsuki tidak bisa membiarkannya karena ini akan membuat masalahnya makin runyam, dia langsung mengejar dan menahan Yahiko.

"Tunggu! Kau mau apa? ini tidak ada hubungannya denganmu!"

"Kau sendiri mengerti hal ini, 'kan? berkencan dengan muridmu sendiri, bisa-bisanya kau memilih anak kecil sepertinya.."

"Aku tidak berkencan dengannya!"

"Kau pikir aku percaya! Setelah melihat semua itu!"

"Kalau begitu, memangnya kenapa kalau aku berkencan dengannya?! Semua yang aku lakukan tidak ada hubungannya denganmu!"

"Hah?!"

Suasana yang memanas itu kemudian berakhir ketika seseorang menarik pakaian Yahiko dari belakang sehingga membuatnya terjatuh, hal itu membuat orang-orang di jalan mulai berkumpul di sekitar mereka karena sepertinya akan terjadi perkelahian. Itsuki melihat pelaku yang membuat Yahiko jatuh adalah Naruto yang sekarang berdiri di depannya.

"Namikaze-kun?" tanya Itsuki yang diabaikan Naruto yang berjalan mendekati Yahiko yang menatapnya kesal.

"Oy, aku tidak tahu kau siapa, tapi kurasa biar aku yang menjelaskan.." Naruto kemudian berjongkok di hadapan Yahiko yang masih tersungkur, "..Seperti yang kau duga, aku dan oneesan disana memang sedang mesra-mesranya, setiap hari kami bercumbu di rumah seperti pasangan baru menikah. Sekarang dia datang menjemputku untuk pulang bersama, bisa kau tidak mengganggu?" lanjut Naruto dengan senyuman lalu kemudian wajahnya memandang dingin Yahiko, "Kalau Oniisan melakukan lebih dari ini, dan mungkin menyebabkan kekacauan di tempat umum, bukankah lebih baik pengganggu sepertimu menyingkir saja?"

Yahiko menatap kesal Naruto, tapi dia juga menyadari kalau dia telah menarik perhatian banyak orang. Matanya tertutup mencoba menenangkan diri, "Sial.." ucapnya yang kemudian bangkit dari posisinya, "..Aku melepasmu kali ini, Itsuki.." ucap Yahiko yang berlalu dari sana.

Naruto pun bangkit dari posisi jongkoknya menatap kepergian Yahiko, memastikan Yahiko sudah cukup jauh, Naruto berbalik menatap Itsuki.

"Nakano-san, kau baik-baik saja? Maaf, aku ikut campur masalahmu. Sampai ngarang cerita juga.." ucapnya dengan senyuman, sejujurnya Itsuki merasa lega karena akhirnya situasi tegang tadi sudah berakhir.

"Tidak, aku justru berterima kasih.." ucap Itsuki dengan wajah murung, beberapa kali tangannya mengusap matanya yang menjadi sembab karena dia kelepasan menangis mengingat masa lalu.

Naruto tahu bahwa wanita dihadapannya tidak baik-baik saja.

"Wajahmu terlihat lelah, bukankah sebaiknya kita pulang saja.." saran Naruto.

Itsuki kemudian mengikuti saran Naruto lalu mereka pulang bersama, selama perjalanan Naruto hanya lirik-lirik saja pada Itsuki tapi tidak berani mengatakan apapun. Meskipun, sebenarnya dia ingin mengajak wanita di sampingnya bicara. Dia merasa mood Itsuki sedang buruk karena ribut-ribut tadi. Tanpa sadar mata Naruto melirik sebuah super market di depannya lalu berhenti.

"Nakano-san.." panggil Naruto menunjuk super market, "Bagaimana kalau kita buat nabe dan beli bir?" tanya Naruto pada Itsuki yang terdiam.

Itsuki memandang ke bawah, "Kau melakukannya hanya untuk menghiburku.."

"Huh? Tidak kok, hari ini aku mendapat pencapaian bagus dengan displaynya, jadi aku ingin merayakannya untuk diriku sendiri. Bahkan, untuk situasi ini, bukankah yang tua yang mentraktir yang muda karena berhasil pada pekerjaannya?" ucap Naruto enteng yang meminta ditraktir pada Itsuki.

Perempatan emosi langsung muncul pada wajah Itsuki, "Hah?! Kenapa aku harus mentraktirmu? Bodoh sekali! Selain itu, aku sudah sering mentraktirmu makan malam tanpa minta imbalan.." jawab Itsuki yang mengomel pada Naruto seperti biasanya.

"Ah, kau benar juga. Baiklah, kalau begitu biar aku saja.." jawab Naruto berjalan melewati Itsuki yang menatap sangar padanya, "..sebenarnya, selama 3 hari kau tidak di rumah, aku jadi kangen masakanmu yang enak.." ucap Naruto tersenyum lima jari di hadapan Itsuki yang terdiam karena Naruto baru saja memujinya.

"Apa sih? Tiba-tiba memuji begitu.."

"Biar aku yang belanja, makanya kau masak buatku, 'ya?"

Sebuah pertanyaan sederhana, namun cukup membuat Itsuki merona meskipun dia menutupinya.

"Baiklah, T-tapi, kau yang cuci piringnya.."

Naruto langsung mengangguk, lalu dia kembali berjalan sambil bersenandung. Itsuki sebenarnya masih merasa pria di depannya ini menyebalkan karena bersikap enteng seperti mempermainkannya. Tapi, di saat bersamaan dia senang juga karena beberapa alasan. Dia terbayang ketika Naruto menciumnya kemarin, membuat dia mempertanyakan tujuan Naruto melakukannya.

Sebenarnya ciuman itu untuk apa?

Dan pertanyaannya kembali terulang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC akhirnya, incaran gw cuma sampai 10 chapter, semoga saja lancar yaa.. fanservicenya chapter depan yaa :v