Judul : Nijuuhassai desu ga, Mondai ga Arimasenka?
Chapter : 4
Crossover : Naruto x Gotoubun no Hanayome
Genre : Romance, AU, comedy, Slice of life, parody, ooc, dll.
Pairing : Naruto Uzumaki x Itsuki Nakano
Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto dan Gotoubun milik Negi Haruba, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan :v
Rating : M
A/N :
Sepertinya tidak ada hal yang ingin kukatakan..
.
.
.
.
.
Normal pov*
"Ternyata memang paling nyaman di rumah sendiri.." ucap Naruto dengan senyuman.
Ini neraka.. batin Itsuki.
Itsuki melotot ketika memasuki apartement yang dia tinggalkan selama 3 hari, dia melihat ruangan itu menjadi berantakan seperti kapal pecah. Barang-barang jadi tidak beraturan, pakaian kotor berserakan, bahkan sampai sampah makanan ringan dan gelas cup ramen. Ini bahkan lebih buruk dari kamarnya Ichika, tepatnya ini lebih menjijikan. Pertama kali dalam hidupnya dia melihat ruangan yang sangat tidak beraturan dan kotor, hanya dalam waktu 3 hari.
Dia termenung cukup lama melihat ruang tengah mengabaikan pemuda di sampingnya yang masuk duluan ke ruang tersebut dan menaruh belanjaan dengan senyuman. Itsuki bahkan sampai menutupi hidungnya karena aroma yang tidak enak telah dihirupnya. Dia merasa ada sesuatu yang berjalan di bawahnya, dan ternyata itu serangga hitam yang paling dibencinya.
"Kyaaa..!" Dia langsung berteriak sambil berlari di lorong rumah karena takut dikejar kecoa, tapi kemudian Naruto bisa menangkap kecoa itu dengan sumpit bekas ramen cupnya, Itsuki yang melihatnya langsung bergetar histeris.
"Oh, kau takut kecoa? "
"Kenapa kau bisa setenang itu menangkapnya?! Menjijikan!"
"Yah, aku menangkapnya karena kau takut, 'bukan?" Ucap Naruto yang berjalan ke balkon dan melempar kecoa itu dengan santai.
"Yang lebih penting! Kenapa rumahnya bisa sekotor ini, padahal aku hanya pergi selama 3 hari..! Apa kau tidak membersihkannya?!" Itsuki mengomel lalu Naruto hanya memandang wajahnya dengan polos.
"Ah, aku pikir normal untukku.."
"Dasar jorok!" Omel Itsuki yang kemudian menghela nafas, dia mengangkat lengan bajunya dan mengikat rambutnya.
"Eh? Nakano-san?"
"Sudahlah, untuk sekarang, kita membersihkannya dulu.." ucap Itsuki yang kemudian mengambil sebuah keranjang untuk mengumpulkan barang-barang yang berserakan dilantai, "Kau yang bertanggung jawab, jadi kau yang harus membersihkannya tanpa sisa debu, sedikitpun!" Omel Itsuki dengan berapi-api, Naruto langsung merinding karena wanita di depannya nampak sangat marah.
.
.
.
.
.
Beberapa saat kemudian, ruang tengah akhirnya kembali bersih dan berkilau. Naruto langsung tiduran karena harus berbenah setelah lelah bekerja. Itsuki kemudian mencolek setiap sudut rumah untuk memastikan sudah bersih apa belum, dan dia yakin ini sudah lebih dari cukup. Matanya melirik Naruto yang kelelahan, dia sedikit senang karena memang sebagian besar dia menyuruh Naruto untuk membersihkan ruangannya, sedangkan dia membuat nabe untuk dimakan.
Lagipula, memang Naruto yang membuat ruangan itu seperti neraka. Tentu saja, dia yang harus membersihkannya. Itsuki kemudian membawa panci yang masih panas ke ruang tengah yang terdapat meja kaki pendek. Hidung Naruto mencium bau yang enak langsung bangkit, dan melihat nabe buatan Itsuki.
"Oh! Ini terlihat enak.." puji Naruto yang sudah bersiap dengan sumpitnya.
"Makanlah, lagipula kau bilang kau yang ingin merayakan keberhasilan display itu, 'bukan?"
Naruto mengangguk, "Baiklah, tanpa ragu, aku memakannya sampai tidak bersisa.." ucap Naruto yang memakan daging dari mangkuk, "..hm~ enak!" Ucapnya yang ditatap Itsuki.
Itsuki ikut makan juga, namun sesungguhnya dia masih merasa gundah dengan apa yang terjadi sebelumnya. Tentu saja, tentang ciuman pemuda di depannya dan juga perdebatannya dengan Yahiko. Terlalu banyak masalah pribadi yang membuatnya semakin tidak tenang. Dia merasa sudah tidak ingin memikirkan semuanya. Itsuki yang biasanya suka makan jadi tidak nafsu makan.
Naruto menyadari itu, dia berhenti sejenak dari nikmatnya makanan hangat di depannya. Naruto kemudian membuka segel dari kedua bir kaleng di depannya sehingga mengalihkan perhatian Itsuki padanya. Pemuda itu memberikan bir kaleng itu pada Itsuki yang mau tak mau menerimanya karena sudah dibukakan.
"Selamat atas berhasilnya display buatanku yang akhirnya dapat dipamerkan!" Teriak Naruto yang melakukan gerakan bersulang yang hanya diikuti Itsuki.
Mereka kemudian meminum bir kalengan tersebut bersama, situasi yang aneh bagi Itsuki sesungguhnya. Saat menenggak bir itu, matanya melirik Naruto yang dengan tenang juga minum. Itsuki kemudian membuang muka, dia sudah menduga ini akan menjadi canggung pada akhirnya. Bahkan, tidak ada obrolan menarik yang akan mereka bahas.
Naruto kemudian menggunakan kembali mangkuk kosongnya untuk mengambil makanan, "Omong-omong, pria tadi itu siapa? Kelihatannya kalian ribut sekali.." tanya Naruto yang malah memulai obrolan yang paling sensitif bagi Itsuki.
Bagaimana ini? Rasanya memuakkan.. batin Itsuki mengingat kejadian itu.
Itsuki terdiam sementara Naruto terus makan sambil menunggu wanita di depannya bicara. Naruto meletakkan mangkuk dan sumpitnya di meja seolah dia berhenti makan karena ingin mendengar jawaban Itsuki.
"Aku mendengar pembicaraan kalian sedikit, dia bagian dari masa lalumu, 'bukan?" Naruto kembali memojokkan Itsuki.
Itsuki mengeratkan genggamannya pada kaleng bir sembari menunduk, dia benci memikirkannya. Tapi, Naruto juga terlibat ke dalamnya dan dia cukup merasa bersalah karena hal itu.
"Sejauh mana kau mendengarnya?"
"Maaf jika tanpa sengaja aku mendengarnya, tapi mungkin sejak kau berkata kau berharap dia kembali padamu.."
Itsuki membelalakkan matanya karena Naruto sudah mendengar sejauh itu.
Benar, sampai saat ini, aku bahkan berharap kamu kembali. Tapi ketika melihatmu, aku tidak merasa seperti itu lagi. Aku tidak ingin bersama pria yang merusak hubungannya..
Itsuki teringat sendiri dengan kata-katanya. Lidahnya masih kelu untuk menjawab dan dia masih terdiam. Sejujurnya dia semakin muak saja dengan keadaannya saat ini. Untuk beberapa alasan Itsuki memang masih mengharapkan Yahiko kembali. Tapi, dia tidak ingin terlihat menyedihkan dan mengakui hal itu. Dia hanya tidak ingin terlihat seperti wanita bodoh yang kembali pada seseorang yang sudah membuangnya. Hal-hal yang tidak berarti apa-apa malah berputar-putar di pikirannya saat ini.
"Nakano-san?" Tanya Naruto yang masih diabaikan Itsuki yang malah kembali meminum birnya dengan membabi buta.
.
.
15 menit kemudian..
Naruto melihat Itsuki yang tepar sambil memaksa air bir kalengan yang sudah habis keluar dari sana, "Kenapa tidak keluar?! Apa kaleng ini bocor?" Tanya Itsuki yang wajahnya sudah memerah karena mabuk.
Naruto menatap aneh wanita di depannya, "Huh~ kau ini ya, pasti orang-orang tidak suka minum bersamamu.."
"Hah?! Kau bilang apa?" Itsuki mengomel pada Naruto karena efek mabuk.
"Baru 15 menit kau sudah menjengkelkan dan suka mengeluh, pemabuk yang paling buruk.."
"Berisik! Cuma karena kau anak orang kaya, kau pikir aku peduli?!" Ucap Itsuki yang menggebrak-gebrak meja, "Hidupku ini berat, 'tahu! Sekarang ini musim semi, tapi tidak ada bedanya, semuanya terasa musim salju! Padahal kata-katanya manis banget sampai bikin aku menangis, kapan musim semi sesungguhnya akan muncul?" Itsuki mengeluh di tengah mabuknya sambil kembali membuka kaleng bir baru dan langsung meminumnya lagi.
"Setiap musim memiliki periodenya sendiri, sama seperti manusia yang bisa mati kapanpun, musim atau manusia punya waktu masing-masing untuk bertahan hidup.."
"Aku terjebak kata-kata seperti itu setiap saat sampai akhirnya aku menjalani kehidupan yang sepi sampai sekarang.."
"Kau berlebihan. Tapi bagus kan, saat ini ada pria yang mau denganmu.."
"Yahiko bukan orang yang tepat. Aku bisa merasakan kalau itu tidak akan bertahan lama.." Itsuki mulai menitikkan air matanya, "Kenapa hanya jadwal busku yang terlambat?" Tanyanya.
"Eh? Jadwal bus?" Naruto malah bingung karena Itsuki yang tiba-tiba melantur.
"Ya, kalau ada bus aku bisa pergi ke sekolah, tapi sepertinya dia tidak akan pernah datang~! Bus musim semiku~!" ucap Itsuki yang kembali membenamkan wajahnya di meja sambil merengek.
Naruto mulai berpikir ini akan semakin merepotkan, "Kau mabuk, sudah cukup.." Naruto kemudian mengambil bir kaleng dari tangan Itsuki yang mabuk.
"Kenapa kau mengambilnya?!" Itsuki malah mengomel pada Naruto, dia kemudian berjalan dengan sempoyongan mendekati Naruto tapi keseimbangannya oleng karena mabuk.
Naruto dengan refleks langsung menangkapnya hingga mereka terjatuh dengan posisi duduk dan Itsuki yang memeluknya, Naruto membelalakan matanya karena wanita di depannya menempel sangat dekat padanya. Dia dapat mencium aroma Itsuki dari puncak kepalanya. Itsuki yang tak sengaja lalu melepaskan diri dari Naruto.
"Maaf.." ucap Itsuki karena membuat Naruto menahan beratnya.
Itsuki hendak menjauh sampai Itsuki merasakan kedua tangan Naruto menyentuh wajahnya dan menariknya mendekat pada wajah Naruto, yang seketika Itsuki merasakan bibirnya menempel dengan bibir dari pemuda di depannya. Meskipun mabuk Itsuki menyadari bahwa mereka tengah berciuman, beberapa detik kemudian Naruto melepas tautan bibir mereka.
Itsuki menatap lantai karena tak berani memandang pemuda di hadapannya, "Bisa tidak.. berhenti melakukannya secara tiba-tiba begitu?" Tanya Itsuki yang duduk di depan Naruto sambil menunduk.
"Nakano-san, aku.."
"Aku tahu, kau melakukannya hanya untuk mempermainkanku, 'bukan? Lagipula, kau pasti juga melakukan hal yang sama pada wanita lain. Kau tidak benar-benar serius." Ucap Itsuki mengungkapkan apa yang dia pikirkan tentang Naruto selama ini.
"Hah?" Naruto malah bingung.
"Kalau kau memang tidak serius, bisakah untuk berhenti saja?"
"Nakano-san, kau ini bicara apa?"
Itsuki langsung menggeleng, "Aku sudah dengar sendiri kok! Dari Yugito-san, kau ini tipe pria seperti apa! Aku tidak akan mudah dibohongi olehmu!" Itsuki kembali membuang muka dari hadapan Naruto, "Benar juga, ini pasti menyenangkan untukmu, 'kan? Melihat perempuan menyukaimu lalu membuangnya? Kau sama saja dengan Yahiko-kun.." Naruto hanya memandang serius Itsuki yang tengah mengatakan banyak hal tentangnya, walaupun beberapa hal tepat namun juga ada beberapa hal yang mengganjal.
"Oh, kau bertanya padanya. Tak perlu dipikirkan, sejak awal hubunganku dengannya memang tidak serius.." Naruto menjelaskan mengenai hubungannya dengan Yugito, tapi tetap saja bagi Itsuki alasan seperti itu tidak akan cukup.
"Apa itu? Jadi itu benar. Sudahlah, lagipula ini tidak ada hubungannya denganku. Aku sudah lelah dengan hal ini, anggap saja malam itu atau ciuman itu tidak pernah terjadi. Tidak, aku juga memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi.." Itsuki berujar dengan membuang mukanya dari Naruto, hal itu membuat Naruto tersinggung dan kesal.
Naruto langsung memegang kedua pundak Itsuki agar wanita di hadapannya mau menatapnya, "Kenapa kau tidak memikirkannya?! Anggap saja tidak terjadi?! Yang benar saja!" Pertanyaan Naruto yang mengeraskan suaranya malah membuat Itsuki terkejut karena pemuda kuning di hadapannya terlihat sangat marah dengan perkataannya.
"Padahal aku terus memikirkannya! saat itu kau langsung pergi, lalu kau tidak pulang selama 3 hari! Kau juga tidak membalas pesanku!" Lanjut Naruto.
Itsuki ingin mencari alasan, "Itu karena.."
"Apa kamu sebegitunya tidak suka ML denganku?!"
Itsuki langsung tertohok mendengar pertanyaan Naruto yang ambigu.
"Kalau setiap hari aku diperhatikan olehmu, jelas aku terus memikirkannya! Sudah begitu, kau penulis buku yang pernah aku baca, kan aku jadi semakin memikirkannya!" Itsuki jadi bingung untuk membalas perkataan Naruto.
"Tunggu, kenapa kau yang jadi marah-marah padaku?" Tanya Itsuki agak takut pada pemuda di depannya.
"Wajar, 'kan? Kalau aku berpikir ini takdir seperti cerita novel? Tapi, Nakano-san malah bilang tidak memikirkanku, jadi apa yang harus kulakukan?" Mendengar pertanyaan dari pemuda di depannya cukup membuat Itsuki terenyuh.
Dia pikir Naruto sama sekali tidak memikirkannya dan hanya sekedar iseng, tapi di matanya sekarang pria kuning itu tengah marah besar padanya. Itsuki tidak ingin mempercayainya, mana mungkin pemuda di depannya menyukainya?
"..a-aku tidak mengerti yang kau katakan.."
"Itu karena!" Naruto memandang Itsuki di hadapannya, "Aku menyukai Nakano-san.." lanjutnya yang membuat Itsuki terdiam.
Tidak, dia pasti bohong.. Itsuki masih belum mempercayainya.
"A-aku berpikir aku tertarik padamu bukan hanya naluri, kalau denganmu aku tidak bisa menahan diri.."
Itsuki merona dengan kalimat ambigu dari Naruto, "Bisakah berhenti mengatakan sesuatu yang aneh?!"
"Kau mau kan jadi pacarku?" Tanya Naruto yang langsung membuat Itsuki kembali dilema, meskipun pemuda di depannya memang serius tetap saja rasanya mustahil.
"Maaf, itu tidak mungkin.."
"Kenapa?"
"Tentu saja, kau dengar sendiri, 'bukan? Aku sudah sering kali gagal dalam hal seperti itu jadi mungkin aku akan merepotkanmu, kau juga masih muda, selain itu aku tidak terlalu mengenalmu.."
Mendengarnya Naruto kemudian melunak, "Aku tidak ingin memikirkan tentang perbedaan usia. Aku juga memang tidak terlalu mengenal Nakano-san. Hanya saja orang yang ada dipikiranku saat ini cuma orang yang kusuka, makanya aku jadi semakin memikirkannya. Perasaan yang membuatku ingin lebih lama bersamamu. Kurasa ini hal wajar yang sering terjadi, tapi aku merasa hal yang berbeda dengan Nakano-san.." Naruto kemudian menatap langit-langit ruangan sebelum melanjutkan ucapannya.
Tapi, semua itu benar.
"Kuakui aku bukan pria baik, aku berkencan beberapa kali hanya karena penasaran, tapi bukan hanya itu.." lanjut Naruto yang mendapat tatapan Itsuki, "Aku tidak begitu mengerti hal-hal seperti itu. Makanya, aku terus mencoba mencari jawabannya.."
Naruto ingat sudah berkencan beberapa kali dengan perempuan sejak memasuki masa remaja, bahkan dia melepas status perjakanya ketika memasuki usia 15 tahun karena ajakan dari perempuan yang sekelas dengannya saat les seni dulu. Naruto benar-benar tidak begitu yakin pada siapa yang dikencaninya, dia hanya penasaran dengan manusia yang berbeda gender darinya, manusia yang disebut sebagai perempuan.
Seperti novel atau film yang pernah dilihatnya mengenai heroin yang bisa luluh pada main character, atau tanggapan dari temannya yang penasaran untuk merasakan kelembutan dari seorang perempuan. Meskipun menurut Naruto awalnya itu hanya omong kosong, tetap saja timbul perasaan penasaran.
Itu karena baginya Ibu dan Adiknya adalah perempuan yang menakutkan, pasti bukan jenis yang seperti itu. Mereka itu keluarga, sensasinya berbeda. Makanya, dia penasaran untuk mencari tahu yang lainnya. Jujur saja Naruto hanya memandang mereka dari betapa apik wajahnya. Dia tidak ingin munafik, dia memang suka perempuan cantik.
Dari wanita yang nampak polos dan manis atau tomboi dan blak-blakan, tidak begitu masalah baginya. Setiap dia merasakan aura yang mengincarnya, dia hanya menuruti keinginan mereka. Sosok yang manis menantikannya, karena dia pikir begitu, dia yakin akan menemukan sesuatu yang belum dia mengerti. Dia memang tidak begitu paham makna cinta atau bagaimana perasaan itu timbul.
"Bagiku, Nakano-san itu berbeda.."
"Hah?" Itsuki tentu mengerutkan keningnya dengan penjelasan pemuda di depannya.
"Aku merasa kau itu bisa membuatku tergerak.." ucap Naruto.
Naruto belum menemukannya sampai sekarang, pada akhirnya semua itu hanya menjadi hubungan jangka pendek untuk menuruti hasrat seksualnya. Dan Naruto merasa Itsuki itu berbeda. Sejak mereka tinggal bersama, Naruto berpikir Itsuki akan sama seperti wanita lainnya.
Namun ada perbedaan, apa pun yang dilakukannya, jika itu salah Itsuki akan langsung mengomel padanya, tapi Itsuki tetap sabar menghadapinya dan dia juga memberikan saran atau bantuan. Biasanya wanita hanya berkata besar, tanpa mau membantunya, dan mereka akan berbohong kalau mereka bisa menerima keburukannya.
Entah bagaimana bagi Naruto ego wanita yang selalu ingin terlihat anggun itu menyebalkan, karena itu dia sudah muak dengan drama seperti itu. Hanya saja, baginya sekarang Itsuki itu istimewa. Itsuki bekerja keras di luar, tapi dia juga menangani pekerjaan rumah dengan rapih, dan dia memasak makanan lezat untuknya, dan memberikan nasihat hidup untuknya. Memang mereka hanya bicara semaunya, selain itu mereka tidak melakukan apa-apa.
Tinggal bersama dan mendapat perhatian seperti itu, tentu membuat ketetapan Naruto menjadi goyah. Saat Itsuki menunjukkan kemarahannya dan menggila, Naruto tidak benar-benar bisa menanganinya. Tapi untuk seorang wanita yang jauh lebih tua darinya, Naruto terkejut karena dia bisa tertarik padanya.
Ekspresinya ketika marah mungkin menakutkan, tapi ketika Itsuki merona tersipu malu padanya. Itu reaksi yang nampak begitu imut untuk Naruto. Entah bagaimana, itu yang dirasakannya.
Dan tentu saja ketertarikannya juga semakin timbul begitu tahu bahwa Itsuki itu masih perawan ketika malam itu mereka melakukannya, tidak banyak perempuan yang bisa menjaga status itu ketika mereka jatuh cinta, akhirnya ketertarikan seksualnya malah menuntunnya pada pilihan saat ini. Naruto ingin menjaga wanita di hadapannya. Insting binatangnya berkata tidak ingin wanita di depannya disentuh siapa pun selain dirinya.
"..karena itu Nakano-san, seperti yang aku katakan aku menyukaimu.." ucap Naruto sekali lagi mengungkapkan yang dia rasakan.
DEG!
Itsuki mengepal tangannya dan menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona, sejujurnya mendengar ucapan pemuda di depannya membuat jantungnya berdebar. Ini pertama kalinya dia mendengar ucapan seperti itu, dan itu keluar melalui bibir dari pria yang lebih muda darinya.
"..Itu mustahil.." ucap Itsuki yang menimbulkan kemarahan Naruto karena ditolak, Naruto langsung menatap Itsuki dengan garang.
"Nakano-san!" Naruto menarik tangan Itsuki lalu dia menunduk pada Itsuki hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centi, "Nakano-san, kau suka padaku, 'kan?!" Pertanyaan Naruto tersirat akan pemaksaan, ini pertama kalinya dia sangat egois dan memaksa seseorang untuk menyukainya.
"Tidak, bukan begitu.." Itsuki kebingungan untuk menjawab, dia akui dia mulai tertarik pada Naruto, tapi dia belum siap memulai hubungan baru.
"Kalau begitu, kenapa setiap aku melangkah maju kau malah menjauhiku?" Tanya Naruto lagi yang menimbulkan perasaan bersalah pada Itsuki, dia tahu perbuatannya yang labil itu membuat Naruto terluka.
"..ma..m-maaf.. "
Hanya itu yang dapat diucapkan Itsuki, saat ini wajah mereka sangat dekat ketika saling memandang. Tatapan serius Naruto membuatnya gugup dan tanpa sadar Itsuki kembali menunduk, asalkan dia tak berpandangan langsung dengan Naruto. Itsuki hanya memikirkan sebuah alasan klise, kenapa dia tak ingin bersama Naruto.
"Aku tidak ingin mengulangi hal yang sama, karena aku tidak ingin kau membenciku.." Itsuki masih terbayangi kegagalannya bersama mantan-mantannya.
"Kenapa?"
"Kau tanya kenapa? Itu karena kau bilang kau mengagumi bukuku, sebenarnya mungkin aku juga menyukaimu, jadi.."
"Kau bilang begitu, kalau suka aku kau harus tatap mataku. Setiap kali bicara denganku, di beberapa situasi kau selalu memandang ke arah lain. Selain itu wajahmu memerah, kau juga gugup tanpa alasan.."
"Tidak, itu karena-"
"Itu karena aku, 'benar?"
"Maksudku, aku sendiri tidak begitu mengerti. Sejak ciuman itu, aku menjadi selalu deg-deg-an setiap kau menatapku.." lanjut Itsuki ketika Naruto menangkup wajahnya dengan kedua tangan kasarnya.
"Bukankah itu berarti, kau benar-benar menyukaiku?" Tanya Naruto.
Naruto tanpa kata-kata langsung menciumnya tepat di bibir Itsuki sekali lagi, untuk beberapa saat mereka terdiam menikmati sensasi itu. Sebuah ciuman manis yang dirasakan Itsuki, itu membuatnya tak bisa melawan. Sejujurnya dia menikmati saat-saat itu.
Ketika menjauh Naruto masih melihat wajah Itsuki memerah yang tampak manis baginya, "Waktu aku menciummu di kafe, itu salahmu. Kalau kau terus memperlihat wajah seperti ini, aku mana tahan.." Naruto menatap Itsuki dengan senyuman lembutnya, hanya ditatap seperti itu membuat Itsuki seperti tersengat listrik dan tanpa sadar dia merasa menjadi panas, rasanya dia ingin melarikan diri entah kemana.
Namun, pikiran Itsuki bertolak belakang dengan keinginan hatinya. Dia ingin Naruto menyentuhnya.
"Aku menyukaimu, Nakano-san.." kalimat itu kembali terucap ketika Naruto dan Itsuki kembali saling mendekat dan menempelkan kembali bibir mereka, meskipun ragu Itsuki memeluk punggung pemuda di depannya dan sama halnya dengan Naruto yang merengkuh tubuh mungil wanita di hadapannya.
Ciuman biasa itu kemudian berubah menjadi menggebu-gebu, Itsuki membuka mulutnya ketika benda lunak memaksa masuk, dan dia merasakan lidahnya saling melilit dengan milik Naruto. Decapan dan lenguhan keduanya mulai memenuhi ruangan. Sesaat kemudian Naruto melepaskan bibir Itsuki yang menjadi basah karena ulahnya, Naruto mendorong pelan Itsuki untuk terlentang di lantai.
"Ahn!" Tanpa sadar Itsuki mendesah kecil ketika tangan dingin Naruto mulai menyelinap memasuki pakaiannya dan menyentuh dadanya, sementara pria itu sibuk mencium dan memberi tanda pada lehernya, Itsuki mendongak ketika pria itu melancarkan aksinya.
Tanpa menunggu lama Naruto langsung menyingkap pakaian yang dikenakan Itsuki ke atas, dada besar dengan bra hitam terlihat di mata Naruto. Naruto langsung melepas pengait bra Itsuki yang terdapat di depan. Tangan Itsuki bergerak lalu menutupi dadanya, meskipun ini kali kedua tetap saja dia merasa malu ketika Naruto memandang tubuhnya.
"..ini memalukan.." ucapnya lalu membuang muka dari Naruto yang merona ketika melihat betapa manis wanita di depannya.
"Tidak apa-apa, aku ingin menyentuh mereka secara langsung.." jelas Naruto yang membuat Itsuki tersentak karena permintaan Naruto, tapi secara perlahan Itsuki melepaskan tangan yang menutupi dada besarnya.
Itsuki mengalihkan matanya, ketika tangan Naruto mulai menyentuh dadanya dan meremas kedua gundukan itu dengan tangannya. Itu terasa hangat di tangan Naruto yang tengah mengikuti nalurinya, bentuk milik Itsuki memang sempurna untuk tangannya, kulitnya juga halus sehingga membuat Naruto ketagihan untuk memainkan gundukan tersebut.
"Hnn!" Remasan kuat dari Naruto membuat Itsuki terperanjat tapi entah kenapa dia menikmatinya, pikirannya menjadi kosong setelah menerima cumbuan Naruto.
Ekspresi Itsuki menjadi daya tarik untuk Naruto yang semakin ingin memperdaya wanita di hadapannya, kemungkinan dia tidak akan berhenti. Naruto penasaran dengan apa yang dirasakan Itsuki sehingga memperlihatkan wajah yang begitu manis di hadapannya.
"Nakano-san.." Naruto mengurung Itsuki di dalam kungkungannya, "Kau sangat cantik, aku tidak bisa menahannya lagi.." Itsuki terkejut karena Naruto langsung melesat melahap puncak dadanya dan mengisapnya dengan kuat.
"Ah! Hnn.." Itsuki menutup matanya ketika puncak dada sebelah kirinya menjadi ngilu karena dihisap dan digigit kecil oleh Naruto, sementara dadanya yang sebelah kanan masih mendapatkan pijitan erotis dari Naruto.
"Aah, Namikaze-kun.." Itsuki menyebut pemuda di depannya, Naruto semakin bersemangat memainkan dada besar Itsuki yang tengah dia pelintir dengan jarinya, dia ingin membuat wanita di depannya merasakan kenikmatan. Naruto kemudian bangkit dan menatap Itsuki di bawahnya.
"Hey, mulai sekarang panggil aku Naruto. Aku juga akan memanggilmu dengan namamu, Itsuki.."
Itsuki merona ketika mendengar Naruto mengucapkan namanya, "Eh? Tapi.."
"Setiap kau memanggilku dengan margaku, itu malah mengingatkanku kalau aku lebih muda darimu."
"Rasanya ini aneh.." Itsuki merasa malu untuk menyebut nama pemuda di depannya.
"Sekarang berlatihlah, dan sebut namaku.."
Mata Itsuki bergerak ke arah lain, "Na-naruto.. kun.." ucapnya dengan suara kecil.
"Jangan pakai suffix 'kun', cukup namaku saja.."
"Naruto.." ucap Itsuki yang membuat Naruto tersenyum senang.
"Itsuki.." balas Naruto yang membuat Itsuki berdebar hanya dengan menyebut namanya.
Wanita di hadapannya membuat reaksi yang sangat manis. Naruto benar-benar ingin menyentuh lebih. Tangan Naruto menyingkap rok sepanjang lutut yang digunakan Itsuki, tangannya mengelus paha mulus Itsuki dengan perlahan dan menjalar ke atas.
"Itsuki manis sekali, sekarang mungkin aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Boleh aku menyentuh yang bawah juga?" Tanya Naruto yang meminta izin pada Itsuki yang mengetahui tujuan Naruto, Itsuki ragu untuk menjawab dan dia melirik ke bawah.
Itsuki merona ketika melihat celana yang Naruto kenakan sudah menonjol akibat ereksi, "..i-itu.." Itsuki merasakan tangan Naruto mulai meraba tempat yang paling sensitif dan tertutupi celana dalam berwarna hitam.
"Tunggu sebentar..!" ucap Itsuki sehingga Naruto berhenti, "..di sini kurang nyaman, bi... bisa kita pindah, a-aku juga ingin melepas pakaianku dulu.." ucap Itsuki merona, dia mengalihkan matanya karena malu pada Naruto.
.
.
.
.
.
Itsuki sekarang tengah membuka roknya di depan Naruto yang duduk di pinggir kasurnya, mata Naruto tidak teralihkan dari bokong besar Itsuki yang menggoda dengan mengenakan celana dalamnya. Naruto tidak habis pikir, betapa indah lekukan tubuh wanita di depannya. Itsuki kemudian duduk di samping Naruto.
Naruto terteguk sebelum kemudian dia mulai membuka celananya ke bawah, "Baiklah, kita akan melakukannya sekarang.." Itsuki terkejut ketika pemuda di depannya benar-benar menunjukkan batang perkasanya.
"Se-sekarang juga?!" Ucap Itsuki yang ikutan gugup.
"Maaf, berada di dekatmu membuatku ereksi. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi." Naruto juga merona untuk mengakuinya.
"K-ka.. kalau begitu, aku akan mulai menggunakan tangan dulu.." ucap Itsuki yang ragu-ragu untuk menyentuh kejantanan Naruto yang sudah tegang, Itsuki mulai meremasnya dengan lembut, benda di tangannya terasa hangat dan keras.
"Agh.." Naruto memperhatikan tangan Itsuki yang terkesan masih awam untuk melakukannya.
"Apa itu sakit jika aku menyentuhnya di sini?" Tanya Itsuki ketika dia menyentuh ujung kejantanan Naruto yang mengeluarkan cairan penetrasi.
"Tidak, itu baik-baik saja.."
Pada awalnya, Naruto tidak menyangka bahwa Itsuki mau melakukannya. Tapi, sekarang dia menjadi percaya diri dengan kemauan Itsuki untuk bercinta dengannya. Apa itu artinya mereka sudah pacaran? Karena dosen wanita di depannya bahkan belum mengatakan apapun.
Tapi, tidak masalah bukan? Toh, pada akhirnya mereka melakukannya karena suka sama suka dan bukan paksaan.
Naruto menatap Itsuki yang berdempetan di sampingnya tengah memanjakan kejantanannya, Naruto dapat mencium aroma wangi Itsuki saat itu. Bau Itsuki manis seperti vanilla, entah itu parfumnya atau bagaimana, tapi Naruto menyukai baunya. Tangan Naruto refleks menyelip pada paha Itsuki menuju selangkangan wanita tersebut yang terkejut. Sebenarnya dari tadi dia ingin menyentuh bagian tersebut.
"Eh?! Tunggu!" Itsuki terlihat masih takut-takut jika Naruto menyentuh bagian itu, yah Naruto memang sudah biasa dengan reaksi wanita yang belum berpengalaman seperti Itsuki, biasanya memang masih takut-takut untuk melakukan hal yang lebih.
Naruto tersenyum padanya, "Aku juga ingin menyentuhmu, tidak adil kalau kau tidak menikmatinya.." jelas Naruto yang menyentuh kemaluan Itsuki yang terasa basah di bagian celana dalamnya, Naruto tahu kalau Itsuki juga mulai terangsang.
"Itsuki, kau sangat basah.."
Pernyataan Naruto membuat Itsuki malu, itu mengapa dia tidak ingin disentuh di bagian bawah.
"Ahn! Tidak! Tidak seharusnya kau menyentuh bagian itu..! Hmn~"
"Ini tidak akan lama.." ucap Naruto mulai menggesek dan menekan kemaluan Itsuki sehingga bergelinjang.
"Nnh!" Itsuki juga mulai melakukan gerakan naik-turun pada kejantanan Naruto karena mulai licin, tangan Naruto yang awalnya menyelip di antara paha Itsuki mulai beralih merangkul tubuh wanita itu dan meremas dadanya.
"Nnh.. sebentar lagi aku akan.." Ucap Naruto memberi instruksi Itsuki bahwa dia akan segera mencapai puncak.
"Eh? Sekarang?" Itsuki tidak tahu harus melakukan apa, "Kalau begitu.." Itsuki menunduk lalu dia langsung melahap kejantanan Naruto tanpa pikir panjang, rangsangan yang luar biasa dirasakan Naruto pada kejantanannya.
Naruto tidak tahu bahwa Itsuki akan melakukan itu jadi lumayan terkejut, Itsuki menutup matanya merasakan ukuran yang memenuhi rongga mulutnya, terkadang Itsuki terlihat kewalahan menampungnya dan hanya mengulum bagian ujung kejantanan Naruto. Rasanya hal ini seperti mimpi saja untuk Naruto.
Gerakan yang amatir tapi sentuhan benda lunak yang Naruto rasakan tetap membuatnya makin terangsang. Naruto mengelus puncak kepala Itsuki.
"Kau tidak perlu memaksa memasukan semuanya, kau bisa gunakan lidahmu.." saran Naruto yang diikuti Itsuki yang menjilat dari bawah ke atas, "Hn! Benar, lakukan itu dari dasar.." lanjut Naruto yang menunduk melihat Itsuki melakukan aksinya.
Tanpa sadar kejantanan Naruto berkedut karena akan mencapai puncak, "..Nm.. Aku keluar..!" tepat saat Itsuki mulai kembali mengulumnya, kejantanan Naruto mengeluarkan cairan putih yang memenuhi rongga mulut Itsuki.
Sangat banyak.. batin Itsuki merasakan cairan putih itu yang tertampung di mulutnya, mau tidak mau dia tanpa sadar menelannya.
"..Fuah~"
Itsuki selesai melakukan aksinya lalu kembali duduk dengan tegak, bibirnya menjadi basah dengan cairan putih milik Naruto. Ekspresi wajahnya yang merona tampak tidak berdaya tapi erotis untuk dipandang. Dia mengelap bibirnya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Kau keluar terlalu banyak.." komentar Itsuki yang malah membuat kejantanan Naruto semakin tegak.
Aku ingin menahannya, tapi aku sudah tidak bisa.. batin Naruto dalam hati yang langsung mendorong pelan Itsuki terbaring di kasur, dia juga mulai melepas celana dalam Itsuki dari kaki jenjangnya tanpa izin.
Itsuki tentu terkejut belum lagi melihat Naruto membuka celana dan bajunya hingga telanjang bulat sepertinya. Mata Itsuki memperhatikan otot atletis Naruto cukup terpukau. Naruto mengurungnya dengan penuh nafsu, seperti singa yang siap menerkamnya kapan saja. Pemuda di depannya langsung melebarkan kakinya seperti bersiap untuk segera memompanya, keseluruhan wajah Itsuki merona hanya dengan membayangkannya.
"T-tu..tunggu! Apa yang kau lakukan?"
Itsuki tahu bahwa itu pertanyaan bodoh, jelas-jelas dia tahu bahwa pemuda di depannya tengah bersiap menggagahinya sampai lemas.
"Apa yang kau maksud dengan 'apa'? Aku ingin cepat-cepat menyatu denganmu, Itsuki.."
"Itu berarti, kau akan langsung memasukannya?"
"Aku akan langsung memasukannya.."
Wajah Itsuki memerah menatap mata pemuda di depannya yang sangat yakin, bahkan Naruto sudah menggenggam kejantanannya dan mengarahkan pada liang senggamanya. Tak dipungkirin Itsuki masih ingat rasa sakitnya dan itu membuatnya agak takut. Tapi, Itsuki sendiri sudah tidak bisa menahannya, dia ingin pemuda di depannya melakukan hal yang lebih.
Itsuki menutup matanya ketika Naruto mulai mendorong masuk kejantanannya, "..aku agak takut, jadi lakukan pelan-pelan.." jelas Itsuki menyentuh tangan Naruto untuk memberinya ketenangan.
"Maaf, aku akan melakukannya dengan perlahan.." jelas Naruto yang melambatkan temponya ketika berusaha mendorong kejantanannya masuk.
"Aah.. mn.." Itsuki mulai bisa merasakan di dalamnya melebar menyesuaikan bentuk dengan milik Naruto, sesuatu yang cukup besar hingga menyesakkan, terasa agak menyakitkan, tapi membuatnya bergairah.
"Ah, ini sudah masuk.." ucap Naruto ketika seluruh kejantanannya telah tenggelam dalam kehangatan liang kenikmatan milik Itsuki, itu terasa ketat mencengkramnya, jauh lebih baik melebihi imajinasinya.
Naruto langsung menunduk mencium puncak kepala Itsuki yang berada di bawahnya, "Aku senang melakukannya denganmu.." ucap Naruto yang membuat Itsuki terlena dengan kata-katanya sehingga dia merengkuh erat punggung pemuda di depannya.
"Aku juga.." Mendengarnya Naruto menatap Itsuki yang tersenyum manis padanya, "Ini terasa jauh lebih baik dari sebelumnya.." lanjut Itsuki yang terkesan malu-malu hingga matanya bergerak gelisah.
Ekspresi manis dari wanitanya membuat Naruto kembali melesat mencium bibir Itsuki, "Mnnh! Nnmm~" lenguhan erotis terdengar ketika mereka mulai saling berpagutan, terkadang Naruto menggigit dan menjilat rasa manis dari bibir Itsuki, Naruto mulai melancarkan gerakannya.
Naruto kemudian melepas cumbuannya, "Ah~ Ahn.. Ah.." Itsuki langsung mendesah merasakan Naruto menggerakkan pinggangnya maju-mundur dengan tempo lambat.
Naruto juga terpedaya merasakan betapa nikmat cengkraman yang dia rasakan dari liang senggama Itsuki. Terasa ketat, licin dan hangat. Naruto menatap dada besar Itsuki terutama dengan tonjolan pink yang menggoda. Naruto kemudian menunduk lalu memutarinya dengan lidah.
"Ah! Mn~ ahn..ngh~" Desah Itsuki yang dilanjutkan dengan Naruto yang melahap tonjolan itu dan menghisapnya, seperti bayi yang menyusu pada Ibunya, tentunya dia terus menggerakkan pinggangnya dengan perlahan.
"Ssst.. Sepertinya kau sudah rileks, aku akan bergerak lebih cepat.." jelas Naruto yang bangkit sedikit lalu menopang kedua tangannya di kasur, dia langsung bergerak menghujam Itsuki dengan tempo yang dipercepat.
"Tidak! Jangan! Aku sedang sensitif..hyah! Ahn! Ah! Ahm!" Itsuki mendesah semakin kencang karena Naruto menghujamnya lebih dalam.
Naruto merasa kejantanannya dicengkeram lebih erat ketika mencapai area terdalam, seakan dia sudah mengerti area sensitif dari Itsuki. Saat ini terasa jauh lebih baik daripada ketika dia pertama kali melakukannya dengan Itsuki.
Kedua tangan Itsuki mencengkeram bantal yang dia gunakan, "Aah! T-tunggu.. Ah! Hentikan, Mn~ Jangan bergerak, Ha.. Hn~ Hya! Ah.. Aah!" Desahannya yang keras sudah tidak terhentikan, cara bicaranya menjadi terputus-putus, Itsuki sudah tidak bisa mengendalikan suaranya yang berkonotasi erotis.
Dari ekspresinya Naruto benar-benar menikmati saat-saat itu, reaksi dari Itsuki yang erotis baginya seperti penyemangat Naruto untuk menghujamnya lebih cepat. Guncangan dari Naruto tampak membuat dada besar Itsuki bergoyang. Derit kasur dan suara hantaman antar selangkangan mereka menjadi pengiring di ruangan tersebut. Naruto semakin ingin menggoda wanita cantik di bawahnya.
Naruto menahan paha Itsuki ke atas, lalu menghujam Itsuki lebih dalam dan menekannya, "Ah! Sekarang kau jadi semakin dalam.. Nh.. Nm~ Aah!" Itsuki mulai menggila dikala kejantanan besar Naruto mencapai titik G-spotnya, itu terasa nikmat sehingga membuat pikirannya menjadi kosong.
"Ah! Ahn! Aku sudah bilang aku sedang sensitif, hyah! Berhenti mendorongnya terlalu dalam.. ahn! Ah.. Ahh..!" Itsuki kembali mengomel, namun itu membuat Naruto tersenyum ketika dia mulai menyadari bahwa wanita di bawahnya akan segera mencapai puncak.
"Apa kau akan orgasme?" Tanya Naruto dengan nafas yang tersenggal di sela kegiatan menghujam Itsuki.
"Hn.. Ya, aku merasa sesuatu mulai meluap, Nh! Jadi.. Ah..!" Kedua tangan Itsuki menggenggam lengan Naruto, "..To-tolong.. Ah! lakukan itu lebih pelan.. Mnh!" Rajuk Itsuki yang sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi.
Mendengar ucapannya malah menimbulkan makna lain bagi Naruto, dia malah menahan paha Itsuki dan bergerak dengan tempo sangat cepat.
"Hya! Ahn! Ah.. Kenapa kau bergerak lebih cepat? Aah!"
"Sepertinya aku juga akan datang, Itsuki.. Sst~"
"Tunggu, aku tidak bisa, Ah! Pikiranku jadi kosong jika kau lakukan itu, bodoh! Ahn! Ah! Ah!"
"Huh? Jika itu terasa enak, kau tidak perlu menahannya lagi, Itsuki.." jelas Naruto seraya menunduk merengkuh tubuh Itsuki dalam kungkungannya.
Itsuki yang menegang mencengkram erat pundak Naruto, " Ah..! Ah! Ah! Iku..! Iku..! AAHN!" Desah Itsuki kencang.
Itsuki langsung memeluk erat Naruto ketika mencapai puncaknya dan cairan orgasmenya meluber bersamaan ketika Naruto sekali menghentakan kejantanannya ke dalam, Naruto bisa merasakan cairan itu membasahi kejantanannya dan itu nampak bergairah karena betapa erotisnya saat-saat itu.
"Ah.. aku juga..!" Naruto langsung melepaskan diri lalu mencabut kejantanannya sebelum dia menyemburkan benih cintanya pada liang senggama Itsuki, benih itu langsung mengotori sprei kasur dan tubuh Itsuki.
Ini luar biasa.. pikir Naruto ketika melepaskan diri dari Itsuki yang tersenggal-senggal.
Naruto tidak menyangka bahwa wanita yang berada dikungkungannya jauh lebih mesum dari perkiraannya, meskipun bagian itu yang juga membuatnya senang. Sepertinya bercinta dengan Itsuki akan menjadi rutinitas kesukaannya mulai saat ini. Naruto juga senang mendengar desahan sexy dari Itsuki, begitu pula dengan rona merah di kedua pipinya yang membuat Itsuki nampak manis.
"Maaf, kau terlalu manis, aku jadi terbawa suasana.." ucap Naruto yang sadar kalau dia terlalu berlebihan.
Itsuki kemudian mulai bangkit dengan memeluk bantal menutupi setengah wajahnya, "..dan salah siapa itu? Kau orang mesum yang terburuk.." Hujat Itsuki mendelik tajam pada Naruto, lalu Itsuki menutupi wajahnya ke dalam bantal.
"Tapi, itu membuat moodku baik untuk melakukannya lagi, selain itu kau juga belum puas, 'bukan? karena itu.." Itsuki kembali memperlihatkan wajahnya yang merona seperti tomat karena semakin malu untuk mengutarakan keinginannya, "..ma-mau melakukannya lagi?"
Naruto tidak menyangka bahwa Itsuki yang mengajaknya untuk melakukan ronde kedua, tentunya dia tidak bisa menolak ajakan manis itu karena membuatkan kembali terangsang. Naruto tersenyum pada Itsuki lalu mendekati Itsuki yang ada di depannya, mereka kembali terbaring sementara Itsuki melebarkan kakinya di hadapan Naruto.
"Dengan senang hati.." ucapnya.
Mereka akhirnya melakukannya sampai puas hingga tidak memperhatikan waktu.
.
.
.
.
.
Itsuki membuka matanya ketika dia sadar sinar matahari dari jendela membuatnya silau. Wanita cantik ini terbangun dengan sendirinya lalu menyentuh kepalanya yang terasa pusing. Tubuhnya terlihat tanpa mengenakan apapun selain celana dalam berwarna hitam dan menyadari bahwa Naruto tidak berada di ruangan itu.
"..dia kemana?" Tanyanya pada diri sendiri yang kemudian bangkit dari kasur lalu dia asal mengambil mini dress dan berjalan keluar ruangan.
Indra penciumannya merasakan aroma sedap sup miso, dia mengikuti aroma itu hingga ke dapur dan menemui Naruto di sana yang terlihat memotong daun bawang. Radarnya seakan merasakan kehadiran pujaan hatinya langsung menengok ke arah Itsuki yang berdiri di bibir pintu.
"Kau sudah bangun? Duduklah.." titah Naruto lalu menuangkan sup miso itu di mangkuk, "Kemarin kau mabuk, 'bukan? Aku khawatir kau akan hangover, jadi aku buatkan sup miso.." Jelas Naruto yang meletakkan sup miso itu di depan Itsuki yang sudah duduk ruang tengah.
"Ah, terima kasih.." jelas Itsuki yang kemudian mengambil sup miso di depannya lalu menyeruput supnya, sedangkan Naruto masih menatap Itsuki dengan tersenyum-senyum senang hingga membuat Itsuki yang melihatnya merasa terganggu.
"Apa?" Tanya Itsuki.
"Aku hanya senang, habisnya sekarang kita resmi pacaran, 'bukan? Dengan begini, tinggal bersama bukan masalah!" Tanya Naruto dengan aura blink-blink dan wajah agak merona tapi percaya diri.
Itsuki teringat kemarin malam dia tidak dibiarkan tidur nyenyak oleh Naruto, pemuda itu terus-menerus bercinta dengannya setelah menyatakan perasaannya. Dia mengingat perkataan Yugito bahwa Naruto tahan lama di ranjang, ternyata itu bukan hanya sekedar bualan saja.
Itsuki tahu dia bisa saja untuk menolaknya, tapi dia tidak melakukannya, dia mengakui dia menikmati saat-saat Naruto menggagahinya. Wajahnya memerah mengingatnya, dia teringat bagaimana pemuda di depannya menyentuh tangannya, menciumnya, dan menyatakan perasaannya. Itu sangat memalukan dan dia benar-benar tidak ingin menerima kenyataan.
"Itsuki, wajahmu memerah. Apa kau gugup? Aku juga. Tenang saja, aku sudah jadi milikmu, kau tidak perlu merasa sungkan lagi.." ucap Naruto semakin percaya diri.
"Sudah cukup! Itu sangat memalukan! Sekarang setiap melihatmu, aku akan mengingat sesuatu yang memalukan sampai membuatku ingin mati!" Itsuki malah mengomel-ngomel.
"Oh! Maksudmu sensasi saat akan orgasme? Dari wajahmu terlihat kau tidak ingin mengakhirinya, aku sampai sempat berpikir untuk keluar di dalam.." jawab Naruto malah diperjelas.
"W-wah! Kenapa kau mengatakannya?" Jelas Itsuki yang semakin malu, "To-tolong lupakan itu.." ucap Itsuki menatap ke bawah dengan malu-malu.
"Itu tidak mungkin..!"
"Eeh?!"
"Dipeluk olehmu adalah sebuah pengalaman yang tidak ingin aku lupakan.."
"Aku sudah bilang untuk tidak membahasnya lagi~!" Itsuki mulai merasa kesal.
"Wajahmu saat menyebut namaku juga manis sekali.." Naruto masih terus membahasnya malah membuat Itsuki makin kesal.
"Terserah, lagipula kita melakukannya bukan berarti kita berkencan.." jelas Itsuki terbawa kesal dengan betapa percaya dirinya Naruto, hanya karena setuju melakukan ML untuk kedua kalinya, bukan berarti Itsuki sudah ditaklukan.
"Eh?! Kok begitu?"
Itsuki langsung memalingkan wajahnya dengan cepat, "A-aku belum bilang kalau aku setuju untuk berkencan denganmu.. Aku melakukannya karena mabuk.." lanjut Itsuki bohong padahal dia sangat mengingat tiap detik yang terjadi semalam.
"Tunggu.. Itsuki!"
"Sudah ya, aku harus bekerja.." ucap Itsuki mengabaikan Naruto lalu bangkit dari sana dan bersiap untuk bekerja.
"Eh?! Tunggu, aku masih tidak ingin mempercayainya.." jelas Naruto yang tidak terima karena tertolak dengan cara yang aneh.
.
.
.
.
.
TBC akhirnya..
