Judul : Nijuuhassai desu ga, Mondai ga Arimasenka?

Chapter : 5

Crossover : Naruto x Gotoubun no Hanayome

Genre : Romance, AU, comedy, Slice of life, parody, ooc, dll.

Pairing : Naruto Uzumaki x Itsuki Nakano

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto dan Gotoubun milik Negi Haruba, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan :v

Rating : M

A/N :

Sudahlah, baca saja.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Itsuki pov*

Aku duduk di ruang dosen sambil mengerjakan materi ajar di laptop. Ruangan ini dihuni oleh beberapa dosen yang terlihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Belakangan ini, Naruto lebih merepotkan dari sebelumnya.

Dia jadi sering masuk kelas di mata kuliahku, belum lagi tatapannya terlihat antusias padaku, karena aku tidak ingin terjadi hal yang membuat orang lain salah paham jadi aku mengabaikannya. Tapi, setiap hari dia menungguku pulang kerja di halte bus dekat universitas, membelikanku camilan manis yang aku suka, entah bagaimana dia benar-benar tahu apa yang aku suka tentang cemilan.

Dan kemudian hampir setiap hari..

"Permisi saya dari toko bunga Hanabana, ada kiriman untuk nona Nakano Itsuki.." seorang kurir muncul dengan tiba-tiba dia langsung menuju ke arahku seperti sudah hafal orang yang dikirimi bunga itu, "..Ini kiriman buket bunga dari tuan Na-"

"Aah! Te-terima kasih!" Potongku yang langsung merebut buket bunga tulip merah itu, jangan sampai dia menyebut namanya.

Kurir itu menunduk lalu keluar dari ruangan, terlihat para dosen di sana penasaran, terutama yang wanita. Tentu saja, ini sudah hari ke-empat aku dikirimi bunga, pasti banyak yang bertanya-tanya aku sedang dekat dengan siapa. Aku melihat kartu ucapan si pengirim yang sudah kuduga siapa yang mengirimnya.

"Aku dengar dari bibi tukang bunga, tulip merah menggambarkan perasaan kecintaan yang mendalam serta kasih sayang yang sempurna. Aku mencintaimu."

-Namikaze Naruto

Oh, yaampun. Setiap hari dia terus-menerus mengirimku bunga yang berbeda-beda. Kali ini tulip, besok apa lagi? Yugito-san nampak tersenyum senang di sampingku.

"Eh? Nakano-san akhir-akhir ini sering dikirimi bunga, kira-kira siapa pria yang sedang tergila-gila padamu~?" Tanyanya yang tersenyum.

"Ah, itu.."

Aku tidak bisa bilang kalau pria itu mantannya. Aku sudah bilang padanya untuk berhenti mengirimiku bunga, tapi kurasa dia tak mendengarkanku. Ini memang romantis dan aku tidak membencinya, tapi ini memalukan. Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Ketika terakhir kali melihat Nino menikah, aku sedikit iri. Aku bahkan menantikan saat-saat seperti ini, tapi akan jadi masalah kalau aku punya hubungan dengan pria lebih muda. Belum lagi dia anak konglomerat.

Aku melihat bunga tulip di tanganku, aku sedikit tersenyum, tapi aku tidak bisa bohong kalau aku senang menerima ini. Mungkin baru kali ini aku merasa ada sosok yang benar-benar serius padaku.

.

.

Normal pov*

Sementara itu, di sebuah restaurant keluarga milik si kembar Miku dan Nino. Miku hanya mencoba sabar untuk menanggapi pria berjas di depannya yang sedang membicarakan tentang kembaran bungsu mereka. Lebih tepatnya Miku sedang menanggapi obrolan dari mantan Itsuki, yaitu Yahiko.

Beruntungnya Nino tidak ada di sana untuk berbelanja kebutuhan, Miku tidak tahu harus menolak Yahiko atau tidak. Akhirnya karena dia memiliki toleransi dia membiarkan Yahiko masuk. Yahiko kemudian memesan kopi dan duduk di meja bar restaurant itu lalu mengajak Miku mengobrol.

"Aku sangat gugup dan tidak bisa bicara.." ucap Yahiko tepat duduk di bangku yang di depannya terdapat Miku di meja patri, dia sedang curhat mengenai Itsuki.

"Begitu ya?" Miku hanya menanggapinya dengan cuek, "Jadi kau merasa itu tanda dia masih menyukaimu?" Tanya Miku yang sudah tahu arah pembicaraan ini.

"Makanya aku bertanya, bagaimana menurutmu?" Tanya Yahiko pada Miku yang kebingungan.

Lalu pintu restaurant terbuka dengan lonceng tanda masuk, Itsuki muncul dari sana lalu masuk ke dalam sambil bergumam cuacanya terasa panas. Langkahnya terhenti begitupun mimik wajahnya menjadi masam ketika melihat Yahiko duduk di hadapannya saat ini, bersama Miku yang terlihat ramah saja. Yahiko hanya tersenyum mendapati kedatangan mantan sambil menunjukkan gelas kopinya.

Itsuki langsung menatap Miku, "Miku, kenapa kamu membiarkan orang ini sembarangan masuk? Aku tahu kau membuka usaha ini tempat umum, tapi kalau ada dia lebih baik aku pergi.." jelas Itsuki yang mulai memanas karena kehadiran mantannya.

Miku yang panik langsung keluar dari meja patri lalu memegang tangan Itsuki, "Bukan begitu, aku mendengar dia menyesali semuanya, jadi aku hanya merasa kasihan.." jelas Miku berbisik yang sebenarnya masih bisa didengar Yahiko.

"Aku tahu kau sering kemari, aku sudah bilang akan membuatmu kembali padaku. Dan lagi, mengusir tamu itu tidak sopan, 'bukan?" Jelas Yahiko yang kemudian menyesap kopinya tanpa menatap Itsuki.

Alasan yang menjijikan tersebut membuat Itsuki menatap tajam pada Yahiko, "Keluar sekarang.." ucap Itsuki memerintah pria di hadapannya.

"Aku akan pergi setelah selesai meminum kopiku.." jelas Yahiko yang terlihat santai saja, menimbulkan perempatan amarah Itsuki.

"Hah~ Terserah kau saja.." Itsuki kemudian duduk di bangku tepat di depan meja patri juga, namun dengan jarak yang jauh dari Yahiko.

Miku menuangkan air putih dari teko lalu memberikannya pada Itsuki yang langsung meminumnya, mata Miku menatap buket bunga tulip merah yang dibawa Itsuki yang tergeletak di meja. Miku mengangkat bunga itu dengan takjub, dia bertanya-tanya darimana Itsuki mendapatkan buket tersebut.

"Ini indah sekali, siapa yang memberinya?" Tanya Miku yang membuat Itsuki mulai salah tingkah hingga pipinya bersemu merah.

"I-ini dari mahasiswaku.."

"Benarkah? Tapi untuk apa? Aku tidak ingat kalau hari ini hari penting, biasanya murid akan memberikan gurunya bunga ketika kelulusan, 'bukan?" Tanya Miku yang membuat Itsuki bingung untuk menjelaskan.

"Aku yakin mahasiswa itu suka padanya, padahal masih bocah, aku juga bisa melakukan hal yang lebih dari itu.." jawab Yahiko yang tiba-tiba bergabung dalam obrolan.

"Kau bisa melakukan hal yang lebih?" Tanya Itsuki yang jadi jengkel.

"Dia hanya anak kecil, apa yang bisa dia lakukan untukmu? Kau hanya menghabiskan waktu yang sia-sia hanya untuk anak kecil.."

"Dia setiap hari mengirimiku buket bunga yang berbeda-beda, yah, meskipun aku belum benar-benar menerima perasaannya. Mungkin aku terima saja, 'kali ya?" jelas Itsuki dengan nada bicara yang sombong untuk memanas-manasi Yahiko.

Miku hanya menatap pasrah pada kelakuan Itsuki yang mulai kekanakan, "Itsuki.." lirihnya yang merasa ini situasi yang tidak mengenakan.

Yahiko hanya menatap santai Itsuki, "Ayolah, jangan katakan hal seperti itu. Kau jadi terlihat menyedihkan.." ucap Yahiko yang langsung ditatap tajam Itsuki karena mendengar sindiran yang menyebalkan.

Itsuki yang emosi mulai berdiri lalu menghampiri Yahiko yang tengah menyesap kopinya, "Kau bilang kau akan pergi jika sudah selesai minum kopimu, 'kan?! Alasan saja!" Ucap Itsuki kesal.

Itsuki kemudian menendang kaki Yahiko yang langsung meringis kesakitan, "Ah, sakit!" Yahiko merintih merasakan ngilu yang menghantam kakinya.

"Bangun! Dan jangan datang lagi!" Teriak Itsuki yang marah-marah sendiri dan terus menendang Yahiko yang merintih kesakitan, mau tak mau Yahiko berdiri tegak untuk menghindari serangan Itsuki.

"Hey, aku juga seorang pria yang punya harga diri.." jelas Yahiko seraya berkacak pinggang di hadapan Itsuki, "Aku jauh-jauh datang kemari untuk mengemis cinta padamu, apa kau tidak melihatnya?!" Yahiko membela diri dan tidak mau kalah karena diusir Itsuki.

"Kalau begitu, jangan datang dan jangan memohon!" Balas Itsuki.

"Dimana lagi kau bisa menemukan pria yang pantas denganmu di usiamu saat ini?" Yahiko bersikeras meyakinkan Itsuki.

"Dunia sekarang sudah berubah, wanita juga bisa berubah! Aku sudah tidak peduli bagaimana jadinya meskipun aku sudah mulai tua!" Teriak Itsuki menatap tajam Yahiko sehingga wajah pria di depannya mulai mengeras karena kesal dengan mantannya yang jual mahal.

"Itu benar, ini bukan eranya pria bisa mengancam wanita dengan usianya!" Ucap Miku tiba-tiba juga ikutan gemas dan kesal.

"Miku, kau memihaknya?" Tanya Yahiko.

"Lagipula, sejak awal aku tidak memihakmu.." Jawab jujur Miku yang sedikit membuat Yahiko tertohok, tanpa berdosa Miku langsung pergi ke dalam dapur.

Yahiko kembali menatap Itsuki di sebelahnya, " Kau sepertinya masih berpikir selayaknya wanita berumur 20 tahunan, tapi kamu harus bangkit dan menghadapi kenyataan, Itsuki.." ucap Yahiko menjelaskan fakta bahwa Itsuki harus menerima kenyataan dia sudah tidak muda lagi, daripada menjadi wanita tua tanpa arah, lebih baik kan rujuk lagi dengan Yahiko.

"Apa yang salah dengan umurku? Bahkan, pria muda seperti Naruto tertarik padaku. Aku bisa saja berkencan dengannya, bukan pria tua bangka sepertimu!" Balas Itsuki yang tidak mau mengalah hingga memunculkan perempatan di kening Yahiko yang mencoba menahan amarahnya.

"Hoo, jadi namanya Naruto. Dan lagi, buat apa dia berkencan dengan tante-tante sepertimu?" Balas Yahiko yang mulai membuat Itsuki semakin kesal.

"Aku tidak ingin melihatmu lagi, pergi sana!"

"Sadar dirilah, Nakano Itsuki!"

Kemudian mereka hanya saling menatap dengan pandangan tajam, lalu bersamaan membuang muka.

.

.

.

.

.

Kemudian di tempat yang berbeda, Naruto sedang menikmati makanan di kantin tempat studio dia bekerja. Beberapa staff berkumpul dengannya di sana, sembari mengobrol masalah pribadi yang melelahkan. Beberapa di antaranya juga seorang pekerja paruh waktu sama sepertinya.

"Belakangan ini pacarku selalu mengirim bunga terus, rasanya beban banget.." ucap seorang wanita yang dicepol dua, diantara mereka yang memulai topik.

"Halah, paling kamu cuma pengen pamer saja kan, Tenten.." ucap Sakura dengan wajah judes.

"Bukan gitu~"

"Lha? Tadi kau bilang pacarmu kirimin bunga buatmu, bikin sirik saja.." Sakura yang pacarnya memang pria cuek, merasa iri.

Naruto tidak peduli dengan perbincangan teman wanitanya dan tetap menikmati makannya, sebenarnya dia tengah menunggu telpon dari Itsuki mengenai kiriman buket bunganya. Itu karena biasanya Itsuki menelpon untuk memarahinya. Tapi, sampai malam tiba wanita itu belum mengatakan apapun.

Itsuki sebenarnya sudah berkali-kali mengatakan pada Naruto untuk berhenti mengiriminya buket bunga karena bunga itu jadi menumpuk di meja kantornya, tapi Naruto berpikir Itsuki hanya malu saja untuk menerima bunga itu.

Instingnya mengatakan Itsuki menyukainya, hanya saja wanita itu lebih canggung daripada perkiraannya. Naruto juga ingin mengutarakan hal yang dirasakannya sampai benar-benar diperhatikan oleh Itsuki. Dia bermaksud untuk mendesak Itsuki terus-menerus, dan tidak akan menyerah sampai Itsuki menerimanya.

"Kalau sekali-kali sih gapapa, tapi ini setiap hari. Kan mengganggu banget!"

"Oh.." yang lain hanya mengangguk mengerti tentang betapa freaknya pacar dari Tenten ini.

"Aku tahu dia sudah susah-susah kirim dan membelinya, jadi aku puji saja. Aku pernah bilang untuk tidak perlu mengirimi barang-barang yang tidak aku butuhkan, eh dia malah marah. Sekarang aku puji dia soal bunga itu, malah dikirim terus. Serius deh, beban banget!" Ucap Tenten yang menghela pasrah sehingga mengintrupsi Naruto untuk menatapnya, karena itu entah mengapa seperti menyindirnya.

"Masa gitu, 'sih? Bukannya cewek suka hal yang romantis?" Tanya Naruto bertanya pada Tenten.

"Iya sih.. Tapi, lama-lama bikin ilfeel.. Misal nih, saat aku bilang suka banget bunga mawar, eh tiap hari dia kirim mawar terus.." lanjut Tenten menceritakan tentang pacarnya yang kelewatan romantis.

"Wuah, ya ampun.. Yah, kalau tiap hari juga lama-lama bosan.."

"Freak banget gitu.."

"Ahahahaha!" Mereka kemudian menertawakannya seperti lelucon, seketika Naruto jadi tidak nafsu makan, lalu menaruh sendoknya pada nampan yang ada di depannya.

"Aku duluan ya, ada urusan.." ucap Naruto yang berdiri sembari membawa nampan makanannya, kepergiannya tanpa alasan membuat salah satu rekan kerja bertanya tentang pesta minum-minum yang akan diadakan malam itu.

"Naruto, kau yakin tidak ikut nomikai nanti malam? Padahal kalau ada kamu, staff cewek-cewek pasti bakal banyak yang ikut.." jelas salah satu rekan kerja Naruto yang merupakan laki-laki yang duduk di sebelahnya.

"Maaf Kiba, aku sudah punya pacar jadi tidak tertarik ikut begituan.." jelas Naruto yang membuat Kiba tersenyum penuh arti, Kiba tidak kaget kalau Naruto sudah dapat pacar baru, karena sejak dulu teman di depannya memang penakluk wanita.

"Serius tuh? Siapa orangnya? Kerja di sini juga?" Tanya Kiba penasaran, begitupun dengan teman ngumpul Naruto yang lain.

"Nggak sih, dia lebih tua dariku.."

"Eh, serius? Jadi dia semacam pekerja kantoran gitu?" Tanya Sakura yang mulai tertarik.

"Iya.."

"Seperti apa dia? Lebih tua berapa tahun?" Kali ini Tenten yang bertanya.

"Wanita yang sebentar lagi akan berumur 30 tahun." jelas Naruto yang membuat orang-orang di sana terdiam, karena Naruto tidak bercerita hal-hal yang menyangkut privasi, bahkan dia tidak pernah bilang mengencani wanita yang lebih tua seperti mantannya Yugito.

Lagipula Yugito itu seorang dosen di kampusnya, dia wanita dewasa dan lembut, Naruto tidak ingin menghancurkan karir wanita sebaik itu. Tapi kalau Itsuki, Naruto ingin mengakui wanita itu sebagai wanita yang dicintainya dengan bangga. Naruto tidak peduli dengan tanggapan mereka lalu langsung berlalu pergi.

"Naruto mengincar tante girang ya?"

"Jadi itu termasuk seleranya, baru tahu.."

.

.

Naruto pov*

Namikaze Naruto, 20 tahun. Aku kuliah jurusan kimia di Universitas Konoha kurang lebih 2 tahun ini. Pacar yang kusebut tadi sebenarnya bukan benar-benar pacarku. Namanya Nakano Itsuki, di tujuh tahun lebih tua dariku, terlebih dia seorang dosen yang baru bekerja di Universitas Konoha.

Kebetulan, karena kesalahan pemilik apartement kami akhirnya tinggal satu atap untuk sebulan. Dan sekarang sudah 2 minggu sejak kami tinggal bersama, jadi seminggu ke depan, salah satu dari kami akan pindah ke ruangan lain.

Aku memasuki toko kue dengan ucapan selamat datang dari pegawainya. Aku dengar Itsuki sangat suka makanan manis jadi aku membeli kue tart yang mungkin dia sukai. Informasiku tentu saja sangat kuat, itu karena aku dengar Uesugi Raiha yang merupakan senpai dari kampusku memiliki hubungan dekat dengannya, aku menanyakan banyak informasi tentang Itsuki darinya. Tentu saja, tanpa sepengetahuan Itsuki.

Aku melihat deretan kue yang ingin kubeli, meskipun begitu pikiranku melayang entah kemana. Terkadang aku bertanya-tanya kenapa aku begitu tertarik pada Itsuki? Aku tidak pernah serius pada seorang wanita manapun, aku berhubungan dengan Yugito yang bahkan jauh lebih tua dari Itsuki, itu juga menjadi hubungan jangka pendek karena aku sadar aku tidak memiliki perasaan yang mendalam padanya, begitupun sebaliknya.

Awalnya aku menggoda Itsuki juga hanya untuk iseng saja karena aku lagi horny saat itu, tapi ternyata dia masih perawan. Sejujurnya aku merasa bersalah padanya karena merenggut waktu pertamanya, tapi disaat bersamaan aku juga senang. Kurasa aku sudah menandai kertas putih polos itu tanpa sadar. Kepolosan dan kenaifannya memang manis. Dia wanita yang baik dan juga penulis buku yang pernah kubaca saat masih sekolah dulu. Saat memikirkan kebetulan yang aneh itu, aku menjadi semakin ingin mengenalnya.

Maksudku, aku sendiri tidak begitu mengerti. Sejak ciuman itu, aku menjadi selalu deg-deg-an setiap kau menatapku..

Sebuah kata-kata sederhana darinya, tapi itu membuatku tergerak. Itu karena, Itsuki memang manis. Itsuki bukan wanita yang terbiasa mengungkapkan isi hatinya, dia orang yang canggung, tapi wajahnya yang malu-malu itu sebenarnya adalah daya tariknya. Aku suka menggoda nya yang salah tingkah.

Kupikir aku harus lebih agresif untuk mendekatinya, karena itu aku menciumnya saat itu. Lagipula, pertahanannya sangat renggang, aku mana tahan jika dia menunjukkan reaksi begitu.

Aku tahu aku sudah ditolak dua kali olehnya, tapi aku tetap mengejarnya dan berulang kali berkata aku menyukainya, meskipun sampai sekarang dia belum menanggapinya. Aku memaksanya untuk menyukaiku, karena dari reaksinya aku yakin dia juga menyukaiku, lagipula mana ada orang yang mau ML dengan orang yang tidak disukainya, tapi..

Iya! Misal nih, saat aku bilang suka banget bunga mawar, eh tiap hari dia kirim mawar terus..

Aku kembali teringat perkataan Tenten ketika dia lagi ngomongin soal pacarnya, aku pikir mengungkapkan perasaanku terus-menerus dan mengirimkan hadiah untuknya akan membuatnya senang. Aku tidak tahu kalau itu justru membuatnya jadi beban yang berat. Apa mungkin Itsuki juga berpikir begitu? Dia terus-menerus menyinggung perbedaan usia untuk menolakku, sampai-sampai aku berpikir kalau dia memang serius.

Ah, tidak mungkin begitu. Aku tahu sih, aku cuma menebak-nebak. Tapi, kalau dia memang tidak menyukaiku, tidak mungkin dia mau satu atap denganku. Dia bisa langsung pergi kemana pun yang dia mau sejak awal, 'kan? Untuk saat ini, aku hanya berusaha agar dia mengakuiku tanpa memikirkan batasan usia atau moralitas yang dia pikirkan.

"Permisi, aku ingin yang ini satu.." ucapku pada kasir yang menjaga etalase toko kue ini.

Hari ini, aku pulang lebih malam dari biasanya. Sebelumnya, aku selalu menunggu Itsuki di halte bus dekat kampus. Tapi, kali ini nuansa di studio lebih sibuk dari biasanya, karena banyak pemotretan untuk beberapa brand. Karena itu, aku tidak bisa menghadiri kelas. Sebenarnya aku sudah meminta bantuan profesor Jiraiya untuk program studi cepat, karena aku memang tidak punya motivasi untuk mempelajari kimia, itu hanya keinginan egois dari Ibuku.

Entah sejak kapan Ibuku menjadi wanita egois, tapi kurasa itu sejak kematian pria yang dicintainya, bisa dibilang Ayahku. Dia tidak menikah dengan ayahku karena sebuah insiden, aku tahu itu karena tidak sengaja mendengar pembicaraan kerabat kami. Sejak awal, melahirkanku merupakan kesalahan, dia menanggung malu karena aku adalah aib baginya.

Dia berubah menjadi workaholic dan dia menikah lagi dengan pria yang dijodohkan padanya. Sejak saat itu, pria itu mengaturku untuk rajin belajar agar menjanjikan untuk melanjutkan karirnya, dan Ibuku menjadi pendukung dari pria itu. Pria itu menyayangi Ibuku dan Aku semestinya, tapi aku tidak suka dengan aturan yang dibuatnya.

Meski begitu Ibuku sebenarnya wanita yang lembut. Ibu adalah keturunan dari saudagar hebat sejak jaman Meiji, karena berlangsung lama turun temurun tentu saja itu menjadi perusahaan besar sampai sekarang dan dia bersedia menikah dengan pria itu untuk memperbesar hubungan bisnis.

Terlahir sebagai anak laki-laki sudah sewajarnya kalau semua itu akan diturunkan padaku. Aku tahu itu, dia dan pria itu sangat keras padaku karena aku seorang anak laki-laki, jadi mereka mempercayaiku. Pria itu pernah mempekerjakanku sekali di perusahaan cabang sebagai pegawai biasa yang dipilih untuk memimpin proyek kecil.

Aku menangani kolega yang sudah lama menjadi pelanggan setianya, aku berusaha keras mengenalkan besi baja yang dibuat dengan bahan aluminium khusus untuk proyeknya dalam pembuatan kereta, kolega yang dikenal cukup keras itu tanpa menanyakan apapun langsung menerima kerja sama tersebut.

Aku mendapat pujian karena hal itu. Tapi, ketika aku sadar, semua orang bilang itu karena relasiku yang merupakan ahli waris keluarga kolongmerat, aku berlaku curang karena aku tidak memiliki hubungan darah dengan pria itu. Lagipula, bagi mereka aku itu hanya anak haram karena Ibuku tidak menikah saat mengandungku.

Kemudian aku berhenti dan bekerja di studio dengan relasi yang aku miliki ketika masuk kelas seni dulu. Kurasa aku memang tidak cocok untuk menjadi ahli waris. Aku pergi meninggalkan rumah dan bertengkar dengan Ibuku.

Ini bukan kali pertama aku bertengkar dengannya, Ibuku selalu marah terutama ketika aku ketahuan berkencan dengan seorang wanita yang baginya memberi pengaruh buruk padaku. Aku tahu kalau dia khawatir, hanya saja aku tidak mau kalau dia berusaha menjodohkanku dengan anak dari rekan bisnisnya. Sikapnya yang kolot untuk menjodohkanku sering kali membuatku muak. Sekarang, lebih baik aku melupakan semua kejadian itu.

Tanpa sadar aku sudah sampai di kawasan apartement lalu aku melangkah menaiki tangga menuju lantai dua hingga sampai di lorongnya. Melewati 4 ruang apartement dan sampai di ruangan paling pojok, aku membuka pintu kamar bernomorkan 205 tersebut. Aku melihat ruangan yang terang, menandakan Itsuki ada di dalam sana.

Aku melangkah masuk ke dalam dan menutup pintu masuk seraya berucap salam, alasan aku menyukai Itsuki mungkin karena aku merasa aku tidak sendirian lagi. Sebelumnya, tempat ini lebih sepi ketika aku pertama kali pindah, tapi saat itu Itsuki muncul dengan cara tidak terduga, aku kepergok olehnya ketika sedang onani. Setiap melihat ruang tengah ini, aku selalu teringat dengan kejadian itu.

"Dimana dia?" Tanyaku sendiri mencari keberadaan wanita yang tinggal seatap denganku.

Aku meletakkan bungkus kue tart yang kubeli di meja kaki pendek, lalu berjalan ke arah dapur. Aku menyadari suara shower dari kamar mandi dan senandung dari wanita yang aku sukai, aku membuka pintu yang membuatku terdapat di area tempat mencuci baju, di dalamnya terdapat pintu kamar mandi dari kaca yang nampak buram.

Aku melihat siluet Itsuki yang sedang membasuh dirinya dengan air shower. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku jadi horny membayangkan tubuh telanjangnya. Aku tersenyum penuh arti ketika sebuah rencana kotor timbul di dalam kepalaku.

Aku membuka kaos yang aku kenakan, lalu melepaskan celanaku, aku melepaskan semuanya hingga telanjang bulat. Aku melangkah ke pintu kamar mandi lalu langsung membukanya, Itsuki yang sedang membilas rambutnya langsung menengok ke belakang, dia terlihat terkejut lalu menutupi tubuh bagian atas dan membelakangiku.

Kenapa dia harus menutupinya? Aku sudah pernah melihatnya di malam-malam panas yang kami lalui. Tapi, kurasa kepolosannya ini yang nampak manis. Saat-saat untuk menggodanya adalah hal yang paling kusukai.

"T-tunggu! Kenapa kau di sini?!"

"Tentu saja, untuk mandi.." aku perlahan mendekatinya.

"Mandi?!" Dia terkejut ketika mendengar alasanku, "Tunggu, jangan mendekat!" Dia mencoba melarangku, tapi aku tidak mendengarkannya lalu mengurungnya yang tepat terpojok di tembok, air shower ikut membasahi kepalaku hingga sekujur tubuhku.

Aku menunduk ke bawah dan mendekat di samping telingahnya, "Itsuki.." ketika aku mengucapkan namanya wajahnya merona dan dia nampak gugup, dia sangat manis di saat seperti ini.

"Aku boleh menyentuhmu, 'kan?" aku mulai menunduk untuk mencium pelipis lalu menjalar pada pipinya yang aromanya wangi karena sabun, dia terlihat tidak menolak malah menutup matanya seperti menikmati hal itu.

Tanganku langsung menyentuh dagunya lalu perlahan aku dekatkan bibirku pada bibirnya, dia tidak menolakku untuk bercumbu dengan bibirnya. Aku melumat bibir manisnya seraya tanganku menjalar menyentuh bongkahan bokongnya yang berisi. Aku memiringkan kepalaku ketika aku berinisiatif melesakkan lidahku pada rongga mulutnya yang terbuka, lidah kami saling beradu di dalam ciuman panas tersebut.

Sial. Ini nikmat, lidahnya sangat lembut dan manis setiap kali aku mengecap rasanya. Decapan terdengar setiap kali aku memperdalam ciumanku. Nafas kami mulai bergemuruh begitu terlena oleh nafsu.

Tanganku yang berada di bokongnya mulai menjalar pada bagian depan tubuhnya untuk menyentuh area yang paling sensitif, "T-tunggu.." ucapnya mencegahku dan mendorongku sedikit untuk menjauhinya.

"Ahn~!" Dia mendesah hingga dadanya membusung karena rangsanganku yang menekan tonjolan pada area sensitif yang berada di bawah, aku melihat kedua gundukan dengan puncaknya yang mengeras.

Aku menunduk untuk mencapainya yang mengundangku untuk melahap puncaknya. Desahannya semakin menjadi ketika aku menghisapnya dengan kuat, terkadang aku menjilatinya seperti permen yang manis, sengatan hangat itu membuatnya gelisah. Tanganku yang menyentuh area sensitif itu mulai mencari jalan masuk, aku merasakan jari telunjukku yang memasukinya yang kugerakkan keluar-masuk. Kedua rangsangan itu membuatnya tidak bisa berhenti mendesah dengan keras.

"Kau terlihat lebih sexy ketika basah, kenapa kita tidak mandi bersama saja?" Tawarku padanya yang merona, dia langsung berbalik untuk membelakangiku.

"Si-siapa juga mau melakukan itu, kau pasti hanya mengincar hal mesum saja, 'kan?" ucapnya yang malu-malu dan aku langsung kembali memeluknya dari belakang dengan kedua tanganku yang melesak menangkup dadanya yang besar, "Ah! Mnn~" dia menciptakan suara yang terdengar mesum, itu malah membuatku semakin terangsang.

"Tapi, bukankah Itsuki juga menginginkannya?" Bisikku yang kemudian menggigit telingahnya.

Kedua tangannya menyentuh tembok untuk menahan dirinya agar tetap berdiri, "Nh! Aah.. Mnn~ Bukan begitu, itu karena.. Ah!" dia mendesah ketika aku memainkan dadanya, aku memelintirkan puncaknya yang mencuat atau menyentilnya, aku kembali meremasnya dengan gerakan berputar.

"Dadamu besar dan lembut, memainkannya bisa menghilangkan stress.."

"T-tunggu, Mnh! Jika kau terus..Nm! Ah.." kedua tangannya menyentuh tanganku yang menangkup dadanya, "Ahn! Ah.. Aku nanti.. mnn~" wajahnya menengok ke samping yang dapat aku tatap, ekspresi memohonnya yang merona tidak kalah manis.

"Aku ingin kau menikmati ini, jadi jujur saja padaku, Itsuki.." ucapku mengatakan apa yang kuinginkan darinya, "..Aku juga akan menikmatinya, jadi.." aku membawa salah satu tangannya ke belakang untuk menyentuh kejantananku hingga membuatnya tersentak.

"..sentuhlah aku juga"

"I-ini.." Itsuki mulai menyentuh kejantananku yang tegang dengan malu-malu, "..sangat keras.." ucapnya sebelum akhirnya aku menariknya dan kami terduduk di pinggiran bathtub.

"Kyaa!" Dia berteriak ketika akhirnya duduk di pangkuanku, aku lanjut menggesek kemaluannya dan dia masih mengosok kejantananku dengan pelan, tapi itu luar biasa.

Aku berinisiatif mulai memasukan jari telunjuk dan tengahku ke dalam liangnya, "AH! Mnn~" dia menutup matanya dan tubuhnya mulai menegang, kakinya terbuka seakan memberiku ruang.

"Ahn! Ah! Ah.. ahmn! Aah!" Dia mendesah tanpa henti ketika jariku mulai bergerak keluar masuk, terkadang aku melakukan gerakan seperti menggunting untuk melebarkan liangnya, kakinya menekuk setiap kali aku merangsangnya.

"Tidak! Aku datang! AAH!" Dia keluar dan aku merasakan cairan basah yang meluber dari dalamnya, aku mengeluarkan jariku yang menjadi basah karenanya.

Dan sekarang aku memandunya untuk berdiri kembali dengan dirinya yang menyender di tembok membelakangiku, "Bagian bawah sini jadi kotor, Itsuki.." aku mengambil shower yang menyala lalu membasuh kemaluan Itsuki seraya tanganku yang lain melebarkan kemaluannya.

"Hyah! Tidak, Ah! Mnn.. ah! Aah!" Entah mengapa, mungkin derasnya air yang membasuh area sensitifnya membuat ia mendesah, aku jadi ingin menggodanya.

"Meski, aku membersihkannya.. Ini tetap kotor, sama seperti milikku.." ucapku yang membuatnya terkejut ketika aku mulai melesakkan kejantananku di antara paha dan kemaluannya, aku menggerakkan kejantananku maju-mundur sembari tanganku menggenggam pinggangnya untuk menahannya agar tetap berdiri di sana.

Aku bisa merasakan sensasi gesekan kejantananku dengan kemaluannya, itu basah tapi hangat, itu belum masuk ke dalam tapi benar-benar merangsangku. Nafas kami mulai tersenggal-senggal karena pergerakkanku. Aku memeluk Itsuki dari belakang dan menangkup dadanya. Aku menghirup aroma di lehernya.

"Agh.. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, Itsuki.. Sst.. Aku ingin memasukannya.."

"Ahn! A-aku juga.. Ahn! Aah! sudah mencapai batasku, mmn~" aku berhenti bergerak untuk mendengar kelanjutan ucapannya, "..Aku ingin menyatu denganmu, Naruto.." pintanya perlahan menengok ke belakang, dengan mata sayunya yang melirikku.

Sialan, itu manis sekali.

"Itsuki, kau sangat mesum.." dari belakang aku langsung menempatkan kejantananku tepat pada liang senggamanya lalu mendorongnya perlahan.

"Tidak, bu-bukan begi- AHN!"

Itsuki ikut terdorong bersamaan dengan desahan indahnya ketika aku berhasil memasukan batangku padanya. Aku bergerak maju-mundur bersamaan dengan tubuh Itsuki yang menungging dengan menyandarkan dirinya ditembok. Aku menahan pinggangnya sementara menikmati pemandangan dari punggungnya yang putih bersih.

Liangnya mencengkram erat milikku, terasa basah dan licin. Milikku mulai berdenyut karena rangsangannya, dia juga mendesah seakan menikmatinya. Dia benar-benar menggoda, setiap detik aku ingin menyentuhnya, aku ingin melakukan hal yang lebih menggairahkan. Aku mulai agak menunduk lalu tanganku mulai menyelinap pada liangnya yang basah, aku menyentuh tonjolan yang menjadi titik sensitifnya.

"Kau jadi semakin basah.." ucapku saat mendengarnya mendesah lebih kencang.

"Ahn! Ah! Tunggu, mnn~" kepalaku menunduk ke samping menggapai bibir basahnya, aku bercumbu sambil menutup mataku menikmati sensasi lembut bibir mungilnya, aku menjilatnya meminta akses untuk memasuki rongga mulutnya.

Begitu terbuka aku langsung melahapnya dan melesakkan lidahku ke dalam, suara decapan dari cumbuan ini dapat kudengar dengan jelas, begitupula dengan suara hentakan selangkanganku yang menabrak bokongnya. Tanganku yang satunya juga mulai meremas dadanya yang bergoyang, Itsuki melepaskan cumbuan itu untuk bernafas hingga benang saliva terputus dari lidah kami.

Meski begitu, aku masih belum puas dan kembali mencumbu bibirnya dan mengemut bibir bawahnya yang terasa lembut, sampai akhirnya aku melepaskan bibir manis itu. Nafas kami terengah karena hal itu, aku pandang wajahnya yang merona karena bergairah.

"Itsuki, apa kau gugup?" Aku berhenti bergerak lalu tersenyum dan mendapatinya mengalihkan pandangannya dariku.

"Aku tidak gugup, hanya saja melakukannya saat sedang mandi, rasanya kita seperti pasangan yang sudah menikah.." dia menyembunyikan wajahnya ke bawah, "..ini memalukan karena aku sangat terangsang ketika memikirkannya.." aku cukup terkejut mendengarnya mengatakan hal itu, tapi aku dapat merasakan ribuan kupu-kupu yang berterbangan diperutku.

Tidak ada kata yang begitu menyenagkan, selain mendengar wanita yang kusuka mengatakan bahwa dia memikirkanku, dan berangan menjadi istriku. Aku menarik kejantananku hingga lepas dari liangnya, aku memandu Itsuki untuk berputar menghadapku, dan aku bisa melihat wajah cantiknya memerah, ketika mata kami bertemu dia terlihat gugup. Aku ingin melihat ekspresi nakalnya ketika kami melakukannya.

"Aku senang, aku juga sangat terangsang.." ucapku kemudian aku menariknya mendekat lalu tanganku memandu salah satu kakinya untuk bertengger pada pinggangku hingga dia hanya berdiri dengan salah satu kakinya, "Aku ingin menikmati setiap detiknya sambil memandang wajahmu.." lanjutku ketika aku menempatkan kembali kejantananku untuk memasukinya.

"Ahh.. Tidak.." aku melihat ekspresinya berubah saat aku mendorong kejantananku, liangnya yang sempit semakin melebar hingga aku mencapai ujungnya.

"Itu sudah di dalam, Itsuki.." aku langsung bergerak menghujamnya bersamaan dengannya yang menggenggam erat lenganku agar dia tetap berdiri, dadanya yang besar juga bergoyang dan itu menarik perhatianku.

"Ah! Ah! Ahn! Ahmn!" Desahannya malah membuatku semakin bersemangat untuk mempercepat gerakanku dan memperdalam hujamanku padanya, "Ah.. Ah~ hn! Disana, itu terasa sangat enak, aah! Aku tidak bisa menahannya lagi, Ahn! Ah!" Sambil menghujamnya aku dapat merasakan liangnya berdenyut seperti mencengkram erat kejantananku.

Genggamannya mengerat pada lenganku, aku hanya terus menatap ekspresinya dan menantikan wajah seperti apa yang akan dia tunjukkan ketika mencapai hasratnya. Ini belum lama sejak aku mulai menghujamnya, dan dia akan segera keluar. Kalau begitu, aku hanya perlu melakukannya sebaik mungkin, aku bergerak lebih cepat bahkan Itsuki sampai berjinjit karena hal itu.

"Aaahh~!" Desahnya panjang bersamaan dengan cairan klimaksnya hingga tubuhnya bergetar, aku melihat matanya terpejam dengan rona merah pada kedua pipinya.

Aku merasakan cairan klimaksnya dari kejantananku yang masih menancap di dalamnya, itu terasa hangat, sensasi yang luar biasa. Setelahnya dia nampak terengah untuk klimaks yang kedua kalinya.

"Aku langsung keluar begitu kau memasukannya.." dia membuang muka dariku dan menutupinya dengan tangan, "..ini memalukan, berhenti melihatku.." ucapnya yang sudah tidak bisa menahan rasa malunya.

Dia ini..

"Itsuki, kau ini paling tahu bagaimana untuk menggodaku!" Jelasku yang kemudian membawanya untuk terbaring di lantai.

"Hyah!" Teriaknya ketika tergeletak di bawahku, pikiranku sudah kosong karena diliputi nafsu, aku langsung melebarkan kakinya dan kembali memasukan kejantananku di dalamnya.

"Ah!" Dia kembali mendesah ketika kejantananku memasukinya dalam satu hentakan, "Ah! Tunggu! Kau sangat cepat, ah! Ah! Ahn!" Aku menghujamnya dengan cepat, di dalamnya terasa berdenyut menyelimuti kejantananku.

Ini sangat enak, aku tidak bisa pelan-pelan. Aku terus menghentaknya lebih dalam dan lebih keras.

"Itsuki, ini enak! Ahh.. Hahn.."

"Ah! Ahn! Aku bilang kau terlalu cepat, Ahmn! Aku akan keluar lagi, Naruto!" Itsuki melebarkan kakinya dan menatap kejantananku yang memompanya.

"Ah! Itsuki! Luar biasa, itu sangat ketat! Hahh.." aku merendakan tubuhku dan mengulum dada besarnya yang bergoyang.

"Ah! Ah! Tidak, itu terasa nikmat! Naruto, itu semakin dalam dan keras, ahn! Ah!" Aku mengguncangnya lebih cepat, aku mendekap tubuhnya dalam pelukanku ketika aku merasakan akan mencapai hasratku.

"Aku juga, ah! Itsuki! Ah! Aku akan datang, aku ingin memenuhimu, agh.."

Sialan, ini sangat nikmat. Aku benar-benar ingin keluar di dalam. Untuk sesaat, aku berpikir hal gila untuk membuahinya.

"Jangan! Ah! Ahn! Itu akan jadi masalah, bodoh! Ah! Ah!"

Aku berhenti bergerak, dan memandangnya secara intens.

"Kalau begitu, pertimbangkan perasaanku. Aku ingin menjadi pasangan yang terus bermesraan denganmu.."

Dia nampak terkejut sesaat dengan kata-kata yang egois itu, tapi..

"Itu bukan seperti aku tidak memandangmu atau apapun, tapi aku masih belum yakin untuk itu.."

Aku mengambil tangannya dan membawanya pada dadaku yang berdetak lebih cepat, "Aku sudah mengatakan bahwa aku mencintaimu sampai seperti ini dan kau masih belum puas?" Aku memandangnya yang nampak gelisah.

Bukankah cinta itu aneh? Itu membuatmu menyedihkan, membuatmu depresi, dan membuatmu khawatir.

"Aku pikir aku juga menyukaimu, tapi.."

Itu akan membuatmu terpuruk seperti orang bodoh ketika semuanya tidak berjalan sesuai harapanmu.

"Jika kau masih belum puas, aku akan melakukan apapun. Seberapa banyak cinta yang kau butuhkan sampai kau menerimaku?" Aku kembali bertanya padanya.

"Naruto.." lirihnya yang nampak terharu dengan ucapanku, "..aku orang yang tidak pandai mengobrol, itu akan sangat membosankan.."

Apa yang dia bicarakan? Kenapa dia khawatir tentang itu?

"Aku tak masalah.."

"Kita punya banyak perbedaan, aku wanita yang egois, mungkin kita akan sering bertengkar.."

Saat kau lagi ngambek, itu malah nampak manis untukku.

"Aku sudah terbiasa dengan itu, jadi tidak masalah.."

"Selain itu, aku mudah cemburu, aku akan menimbulkan masalah untukmu.."

Aku juga ingin kau hanya menatapku.

"Aku tahu perasaan itu.."

Matanya mengerjap dengan wajah meronanya yang nampak apik, aku mungkin juga merona saat menatapnya saat ini. Aku merendahkan diriku padanya yang berada di bawahku, aku mencium lehernya dan dia refleks mendongak, aku menghirup aromanya dan menjalar ke atas pada dagunya. Mata kami kembali bertemu dengan pandangan intens karena kasih sayang.

"Itsuki, aku mencintaimu.."

"Ya, aku juga.." dia mengalungkan kedua tangannya pada leherku, "..cium aku lagi, Naruto.." lanjutnya dengan senyuman.

Setelah mendengar pernyataannya, aku melesat menciumnya dan aku kembali bergerak untuk memuaskan hasrat kami yang tertunda. Kami pun melakukannya di kamar mandi sampai puas.

.

.

.

.

.

Normal pov*

"Ah, ini..!" Mata Itsuki berbinar ketika membuka kotak yang membungkus kue tart lalu dia memakannya sesuap, "..ini enak~ Makan sesuatu yang manis setelah mandi memang paling menyenangkan.." dia nampak senang memakan kue tart yang dibelikan Naruto di meja kaki pendek tersebut.

Naruto masih mengeringkan rambutnya dengan handuk lalu berjalan ke arahnya, "Dari dulu kalau kupikir-pikir, makanmu banyak juga ya? Kemarin saja kau beli 2 pack daifuku, untuk kau makan sendiri.." Itsuki langsung tertohok begitu Naruto bahas pola makannya.

"Mau bagaimana lagi, itu terasa enak. Walaupun aku merasa aku harus diet karena sepertinya berat badanku naik~" Naruto duduk di belakangnya hingga Itsuki merasa terganggu, "Ke-kenapa kau di sana?!"

Naruto dengan posesif melingkari tangannya pada perut Itsuki dan menariknya hingga wanita itu bersender dalam pelukannya, "Tunggu, apa yang kau-" ucapnya yang menjadi gugup.

"Apakah salah jika memeluk pacarku sendiri?" Ucap Naruto yang menghirup wangi rambutnya, "Dan lagi, aku tidak peduli dengan berat badanmu. Ini jadi lebih enak untuk dipegang, 'kau tahu?" Goda Naruto dengan kedua tangannya yang meremas dada Itsuki.

"Itu bukan berarti, kau terus menempel padaku.."

"Habisnya aku sudah menunggu saat-saat ini, kau sangat dekat tapi aku harus selalu menahan diriku. Aku terus meratap seperti orang bodoh ketika memikirkannya." Itsuki merona mendengar ucapan Naruto, dia merasa tersentuh dengan ucapan pemuda yang tengah memeluknya dari belakang.

"Yah, sebenarnya aku tidak begitu membencinya.." Itsuki memutar tubuhnya menatap pemuda di depannya, lalu kedua tangannya mengalung pada leher Naruto.

Untuk sesaat Naruto melebarkan matanya ketika Itsuki menempel padanya, itu benar-benar membuatnya khawatir karena wanita itu menjadi lebih lunak dari sebelumnya. Memeluknya dalam keadaan itu, dengan penuh cinta, dengan mengatakan dia tidak membencinya.

"Ini pertama kalinya ada seorang pria yang mengejarku sejauh itu, aku senang.." Itsuki mengeratkan pelukannya pada Naruto yang cukup tertegun dengan reaksi Itsuki, pemuda itu terdiam saking syoknya.

"Apakah ini mimpi?! Itsuki baru saja mengatakan hal yang luar biasa membuat berdebar, jika ini mimpi aku tidak akan mau bangun!" Tanggap Naruto panik sendiri.

"Ini bukan mimpi!" Itsuki menjadi kesal dan melonggarkan pelukannya lalu memarahi pemuda di depannya.

"Benarkah?! Bukankah kau sendiri yang bilang sangat mustahil berkencan denganku? Ini terlalu indah untuk jadi kenyataan.."

Itsuki menjadi jengkel ketika pemuda di depannya sudah mulai lebay, dia langsung mendelik kesal.

"Bodoh! Itu karena kau terlalu keren dan mencolok, selain itu kau juga masih muda dan dikelilingi banyak wanita yang lebih muda, lalu tiba-tiba wanita tua ingin berkencan denganmu. Tidak ada hal yang bisa menggiringku untuk mempercayai hal itu!" Itsuki membuang muka karena tidak ingin ditatap Naruto setelah mengutarakan hal yang dirasakannya, "Semua ini salahmu sendiri.." lanjutnya dengan suara kecil tapi masih bisa didengar.

Mendengar hal itu Naruto ikut tersentuh, dia tidak tahu kalau Itsuki memikirkan hal seperti itu. Naruto langsung memeluk erat Itsuki yang tersentak. Setelah mengetahui perasaan yang sesungguhnya dari Itsuki, membuatnya sangat senang.

"Ah, sial! Itsuki manis sekali~ Kupikir untuk malam ini, aku tidak akan bisa menahan diriku lagi.."

"Eh? Apa yang-" Itsuki merasakan tangan Naruto yang menyelip ke dalam bajunya dan memegang dadanya yang berbalut bra, "Tu-tunggu dulu! Kita kan sudah melakukannya.." Naruto tidak mendengarkan dan langsung menarik kepala Itsuki untuk menciumnya, pemuda itu langsung melumat bibir wanita di depannya untuk beberapa detik lalu melepaskannya karena dorongan Itsuki.

"Kau ini tidak akan berhenti bahkan jika aku katakan itu, 'bukan?" Itsuki menatap jengkel Naruto yang malah tersenyum tanpa dosa.

"Memang tidak.." Naruto kembali memajukan wajahnya untuk mencium Itsuki, tapi wanita di depanny menahan wajah pemuda itu untuk menjauh darinya, "Aw, ayolah.. sedikit saja~"

"Tidak, kau mesum! Menjauhlah dariku!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC akhirnya muehehe

Erocc sudah mulai skripsi dan ngehandle banyak comission gambar, jadi gw kaga bisa update chapter cepat-cepat. Yah, doa-in aja.. gw cepat selesai kerjain itu semua.. (-_-)