Judul : Nijuuhassai desu ga, Mondai ga Arimasenka?

Chapter : 6

Crossover : Naruto x Gotoubun no Hanayome

Genre : Romance, AU, comedy, Slice of life, parody, ooc, dll.

Pairing : Naruto Uzumaki x Itsuki Nakano

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto dan Gotoubun milik Negi Haruba, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan :v

Rating : M

A/N :

Jangan lupa matikan lampu dan siapkan sarung sebelum membaca..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Normal pov*

Itsuki memasukan barang-barangnya ke dalam kardus, dia mulai membenah semua barangnya setelah ruangan di bawah kosong dan siap ditempati. Naruto hanya cemberut sambil membantu kekasihnya berbenah, dia kesal karena Itsuki bersikeras untuk tetap pindah meskipun mereka sudah berpacaran. Naruto melirik Itsuki yang tengah membawa kardus yang berisi barang-barangnya.

"Kupikir kau akan membatalkanya dan menetap di sini.." ucap Naruto yang tidak dipedulikan Itsuki karena sibuk berbenah.

"Tentu saja tidak, aku tidak bilang akan menetap di sini cuma karena kau pacarku.." Jelas Itsuki yang sama sekali tidak dimengerti oleh Naruto.

"Apa maksudnya?"

"Mau dibilang apa nanti kalau orang-orang tahu aku berkencan dengan mahasiswaku?" Jelas Itsuki yang membuat Naruto tersinggung.

"Aku tidak peduli dengan itu.."

Itsuki menatap malas pemuda di hadapannya lalu menghela nafas.

"Hah~ Ini bukan berarti aku akan pindah jauh, aku hanya tinggal di lantai bawah.." jelas Itsuki yang membuat Naruto mengalihkan pandangannya karena masih marah, "..maksudku akan jauh lebih baik kalau kita sedikit memiliki jarak.." Naruto menatap Itsuki yang terbangun dan berjalan menuju dapur, langkah Itsuki terhenti begitu Naruto menggenggam tangannya.

"Kau tahu aku serius menyukaimu.." Itsuki menatap pemuda yang bersimpuh di bawahnya dan tengah menggenggam tangannya, "Hari ini, besok, bahkan lusa. Aku ingin setiap hari menjadi hari yang spesial. Jadi tetaplah seperti ini, jika tidak aku akan terus memohon padamu.." jelas Naruto yang membuat Itsuki pusing dengan betapa kekanakannya pemuda di depannya.

"Apa-apaan dengan seenaknya memutuskan begitu?" Itsuki mulai jengkel dengan tingkah Naruto yang selalu menempel padanya sejak mereka pacaran, sejujurnya Itsuki sering dibuat heran dengan betapa manja pemuda di depannya, belum lagi pekerjaannya sibuk belakangan ini.

Itsuki dengan cepat melepaskan tangannya dari genggaman Naruto karena kesal dengan keegoisan Naruto, "Dengar! Minggu depan aku akan sibuk dengan seminar yang akan diadakan, aku tahu kau ingin bersamaku, tapi kau harus mengerti aku juga punya kesibukan. Jangan terus-terusan merengek begitu, aku tidak suka!" Itsuki memalingkan wajahnya lalu kembali berbenah tanpa mempedulikan Naruto yang tengah merajuk.

Naruto menarik ringan rok selutut yang Itsuki kenakan hingga dengan malas Itsuki harus menatap Naruto lagi, "Aku hanya takut, Itsuki melakukannya untuk menghindariku. Kau selalu membahas perbedaan usia kita seakan itu masalah yang besar, aku jadi khawatir.." Wajah Naruto memerah begitu mengatakan alasannya.

Mendengar itu Itsuki jadi merasa bersalah telah memarahi Naruto. Sejujurnya Itsuki tidak membenci sifat egois Naruto yang terus bergantung padanya, dia sama sekali tidak keberatan. Dia hanya berpikir untuk sedikit memberi kebebasan pada Naruto yang masih muda. Bisa saja Naruto menjadi muak dan merasa bosan padanya, karena itu Itsuki tidak ingin menganggap hubungan itu terlalu serius.

"Jadi tetaplah tinggal di sini, ya?" Bujuk Naruto dengan senyuman, pada akhirnya itu membuat Itsuki kesal karena ucapannya hanya rayuan belaka.

"Mulai lagi! Kenapa kau selalu memaksa pendapatmu padaku?! Kau tidak pernah mendengarkanku! Itu mengapa kita selalu bertengkar untuk masalah kecil, dan membuatku gila!" Itsuki yang sempat terharu malah kembali mengomel dan dia berjalan membawa kardus berisi barang-barangnya keluar dari ruang tengah, "Minggu depan aku akan sibuk, jangan menghubungiku sampai pekerjaanku selesai!" Ucapnya garang pada Naruto yang wajahnya membiru karena merasa memperkeruh masalah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seminggu kemudian, setelah Itsuki pindah dan berpisah dengan Naruto. Mereka benar-benar menjalankan hari-hari tanpa pernah bertatapan sama sekali, meskipun mereka masih mengabari melalui chating. Terkadang mereka juga bertemu di kampus, tapi belum ada celah untuk mengobrol sebentar, terutama mereka juga menjadikan hubungan mereka rahasia.

Itsuki sangat sibuk dengan pekerjaan sampai dia sendiri merasa stress. Dan Naruto kelihatan sibuk dengan pekerjaan paruh waktunya di studio, dia juga harus belajar karena mengikuti program studi cepatnya. Pergi bekerja sampai lembur lalu pulang dan seterusnya begitu.

Sekarang Itsuki sedang berjalan di koridor kampus setelah selesai mengajar lalu melihat keluar jendela, di halaman kampus dia langsung teralihkan pada Naruto yang duduk di bench dengan teman wanita yang adalah juniornya bernama Yukata. Walau samar-samar Itsuki masih bisa mendengar perbincangannya.

"Naruto-senpai, kau ada acara hari ini?" Tanya wanita itu yang tiba-tiba merangkul lengan Naruto, melihat wanita lain bergelayutan di lengan Naruto langsung membuat Itsuki kesal, karena Naruto terlihat tidak masalah dengan itu.

"Memang kenapa?"

"Kenapa kita tidak pergi karaoke saja? Hanya kita berdua seperti dulu~" ucap si wanita seperti merayu Naruto yang seketika membuat Itsuki panas sendiri, dia tahu kalau Naruto itu playboy, karena itu ada saat dia mencurigai dan tidak bisa mempercayainya.

Aku menyukaimu, Nakano-san..

Aku sudah mengatakan bahwa aku mencintaimu sampai seperti ini dan kau masih belum puas?

Kau tahu aku serius menyukaimu..

Meskipun begitu, Itsuki teringat dengan beberapa moment dimana Naruto terus mengatakan bahwa dia serius menyukainya. Ada beberapa hal yang membuat Itsuki ingin berharap pada Naruto. Saat ini, secara tidak langsung dia berharap Naruto menolak ajakan Yukata.

"Sepertinya ide yang bagus, menghabiskan waktu bersama wanita cantik sepertimu.." jawab Naruto yang langsung membuat Itsuki kecewa, genggaman pada dokumen yang dibawanya mengerat, wanita bersurai kemerahan itu langsung pergi dengan lemas tanpa mendengar kelanjutannya, pikirannya diliputi prasangka negatif tentang pemuda pirang tersebut.

Sementara Naruto dengan risih melepas rangkulan Yukata pada lengannya, "Sekarang aku sibuk dengan kerja paruh waktuku.." ujar Naruto mengingat pekerjaannya sore ini, "..selain itu, aku sudah punya pacar yang aku sayang dan kau juga sama, jadi bisa berhenti untuk tidak menggodaku.." sarkas Naruto yang membuat wanita di hadapannya cemberut.

"Ha! Senpai sudah punya pacar?! Pantas saja belakangan ini kau jadi aneh, biasanya kau tidak pernah menolak ajakan dariku.." jelas si wanita jadi sebal karena merasa sikap Naruto berubah, biasanya dia bisa memanfaatkan Naruto untuk menemaninya kemana pun sementara dia bertengkar dengan pacarnya.

Naruto menemani Yukata karena kasihan dengan mantannya yang terlibat hubungan toxic dengan pacarnya yang sekarang, jadi sebelum bertemu Itsuki, pemuda kuning ini hanya mencoba menghibur Yukata saja. Kalau masalah Yukata kembali suka padanya, itu hanya masalah mantannya karena Naruto tidak berniat untuk rujuk lagi.

Naruto tertawa lalu berdiri dari bench, "Kita ini sudah lama putus, aku tidak mau jadi pelarian cuma karena kau lagi ribut sama pacarmu. Aku sudah punya pacar yang manis juga. Karena itu, aku tidak bisa menemanimu lagi. Jadi kau ajak orang lain saja. Lagipula, aku bertemu denganmu hanya untuk mengambil bukuku yang kau pinjam, jadi urusan kita sudah selesai, 'kan?" ucap Naruto berlalu pergi meninggalkan Yukata yang cemberut di sana.

.

.

.

.

.

Itsuki pov*

Setelah berada di ruang dosen, aku menyenderkan kepalaku di meja kerja dengan aura suram yang menguar dariku, bahkan aku merasa rekan-rekanku tidak enak untuk hanya sekedar menyapaku. Aku menegakkan tubuhku sambil berpikir, padahal saat ini aku punya pekerjaan yang aku senangi. Aku bisa meluangkan waktuku sendirian untuk itu. Sejak aku sibuk dengan pekerjaanku, aku keasyikan lembur dan tidak bisa bertemu dengannya.

Aku melihat ponsel dan tidak ada tanda-tanda Naruto menghubungiku, biasanya dia selalu cerewet menanyakan kapan aku pulang dan menungguku di halte bis. Apa dia mulai jenuh denganku? Aku tahu aku melarang Naruto untuk menghubungiku agar aku bisa fokus dengan pekerjaanku, ingatan ketika wanita lain manja-manja padanya terus terlintas dan membuatku khawatir. Padahal aku berusaha agar tidak terbawa suasana karena dia masih terlalu muda.

Jika aku berada di posisinya aku juga akan memilih wanita yang lebih muda dan manis seperti itu. Apa mereka sedang bersenang-senang sekarang? Tidak, pikiranku hanya terlintas hal-hal buruk saja. Aku jadi cemburu ketika melihatnya bersama oranglain. Padahal sebelumnya aku berpikir akan merelakannya jika dia suka wanita lain, tapi tetap saja itu menyakitkan.

.

.

Keesokan harinya aku mendapat masalah.

"Jadwal seminarnya diundur?" Tanya Itsuki begitu mendengar kabar dari Yugito mengenai seminar yang harusnya diadakan sebentar lagi.

"Ya, sebenarnya tidak tentu kapannya, jadi besok akan diadakan rapat lagi. Karena aku dengar peserta didik yang kita bimbing belum mempersiapkannya dengan maksimal, selain itu kepala kejuruan orang yang perfeksionis untuk masalah ini, dia ingin hasil terbaik. Dia meminta kita untuk merisetnya lagi, jadi tidak ada alasan untuk menolaknya.." jelas Yugito yang kudengar akan sangat merepotkan.

"Aku akan membantumu sebisaku.." ucapku yang kemudian duduk di samping Yugito dan membuka laptop.

Sejauh ini kupikir hasilnya sudah baik, tapi aku tidak berekspetasi kalau kepala kejuruan menganggap itu belum sempurna. Wajar saja sih, kepala kejuruan dan dosen senior sudah bekerja di dunia pendidikan begitu lama, selain itu mereka sangat tegas dan disiplin. Yah, jika acara seminar ini berhasil itu akan menjadi hasil yang bagus untukku sebagai dosen juga.

Oh, ya ampun. Pekerjaanku pastinya bertambah lagi, baiklah aku harus menjadikannya motivasi. Aku menjadi pengajar karena aku menyukainya, aku memulainya dengan menjadi guru les privat dulu. Kalau ingat itu, butuh perjuangan untuk sampai di titik ini. Tapi, menyukai pekerjaan saja tidaklah cukup dan membuatku jadi tidak sabaran.

Itu mengapa ini adalah kesempatanku setelah mendapatkan pekerjaan ini. Bagaimanapun aku manusia biasa, aku mungkin tidak terlalu ahli melakukannya. Hanya saja ini tetaplah kesempatanku jika upayaku bisa bermanfaat. Aku mungkin akan menyita banyak waktu dan tidak bisa menemuinya, sekarang yang diperlukan adalah bekerja keras dua kali lipat.

Drrrrt! Drrrrt!

Tapi setelah aku menetapkan pekerjaanku sebagai prioritas, itu tidak semudah yang aku pikirkan, ketika ponselku bergetar dan aku melihat pesannya yang bertanya untuk menemuiku. Entah bagaimana pikiran burukku kembali tentangnya, aku tahu menerka hanya dengan sekali lihat tidak baik. Hanya saja pikiranku sebagai wanita tetap tidak berdaya menghadapi hal seperti ini, karena aku tidak bisa apa-apa kalau Naruto mulai lelah denganku.

Pekerjaanku bertambah jadi aku belum punya waktu untuk bertemu, besok aku ada meeting jadi kita masih belum bisa bertemu. Saat ini aku sedang membantu Yugito-san. Maaf, aku tidak membalasmu dengan cepat.

-Itsuki

Aku membalasnya, aku lebih mementingkan pekerjaanku dibanding urusan seperti ini. Hampir seminggu lebih aku bekerja dan tidak memperhatikannya, aku merasa bersalah padanya.

Drrrrt! Drrrrt!

Balasannya cepat. Kalau dipikir-pikir aku sering lupa untuk membalas pesannya, tapi dia sangat cepat menanggapi pesanku. Satu hal yang membuat pikiran burukku tentangnya kembali.

Kau pasti lelah bekerja keras sampai saat ini. Tidak perlu khawatirkan aku, kita bisa bertemu lain waktu. Maaf mengirim pesan saat kau bekerja.

-Naruto

Sejak aku pindah ke lantai bawah, dia tidak pernah marah lagi. Normalnya kalau sudah seperti ini, dia akan kesal. Apalagi jarak rumah kita sangat dekat. Atau sebenarnya dia kesal padaku sejak saat itu? Aku jadi berpikir kalau dia tidak benar-benar menyukaiku karena seolah-olah dia tidak peduli apapun yang aku lakukan. Dan lagi, aku kira akan sangat mengganggu jika aku mengunjunginya jam 2 pagi.

Dan hari berikutnya dan berikutnya lagi aku bekerja. Bahkan aku mulai stress ketika sekelompok mahasiswa yang kubimbing belum menyelesaikan setengahnya, akhirnya aku marah-marah pada mereka. Terkadang aku berpikir bagaimana ada orang yang bisa mempertahankan pekerjaan dan cinta di saat bersamaan?

.

.

Dan kemudian hari berlalu sangat cepat sampai aku memiliki janji makan siang bersama Ichika siang ini. Aku yang sedang menyesap minuman dingin di cafe dikejutkan dengan tepukan seseorang, ketika aku menengok terlihat Ichika yang mengenakan masker dan topi untuk menutupi identitasnya, bahkan kupikir kehidupannya sebagai artis lebih merepotkan. Terutama ketika aku dengar rumor dia baru saja bertunangan dengan pacarnya yang seorang penyanyi band, gosip-gosip sudah membicarakan pernikahan mereka.

"Jadi itu mengapa kita memutuskan melakukan pesta pernikahan di luar negeri.." ucap Ichika membicarakan pernikahannya.

"Kalau kau menikah di luar negeri aku tidak mau datang, kenapa aku harus jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk pernikahanmu.." komentarku yang mendapat tawa kecil Ichika.

"Kenapa begitu? Padahal aku berharap mendapat hadiah pernikahan darimu~" entah mengapa aku menjadi sensitif jika membicarakan pernikahan, bahkan Ichika sudah menentukan pilihannya.

"Tapi bukannya kau baru putus dengan mantanmu? dan sekarang langsung ingin menikah dengan orang lain. Padahal kau pacaran dengannya selama lima tahun, kenapa kau putus dengannya?" Tanyaku menyangkut mantan Ichika yang hubungannya lumayan awet.

"Oh.." Ichika terdiam lalu menyesap kopinya sebelum bicara, "Itu karena kita menjalani hubungan itu tanpa bertemu.."

Aku terdiam lalu mendengarnya dengan seksama.

"Dia pria yang ambisius dan keren jadi aku langsung suka padanya. Tentu saja kami ingin menikah, tapi pekerjaannya membuat kami jarang memiliki waktu untuk bersama.." jelas Ichika menceritakan mantannya.

"Oh, begitu?" Aku terkejut mendengar cerita sebenarnya karena selama ini Ichika mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal yang sesungguhnya.

"Kita tidak pernah berdebat atau apapun, itu karena kita terlalu sibuk dengan pekerjaan dan kesenangan lainnya sampai kita tidak pernah punya waktu bersama. Kemudian kita menyadarinya, kita tahu bahwa kita tidak bisa melanjutkan hubungan seperti itu.." Ichika selesai bercerita sampai aku menyadari sesuatu ketika membicarakannya.

"Tapi kalian saling mengerti, ada baik dan buruknya tentang pekerjaan itu. Bahkan meskipun kalian tidak bertemu satu sama lain.."

"Ya, aku berpikir begitu awalnya, tapi perasaan itu mudah pudar jika kau melaluinya tanpa bertemu. Itu semua akan berakhir karena membosankan.." Aku terdiam lalu Ichika kembali meminum kopinya.

"Jadi begitu ya?" Pikiranku melayang karena aku akhir-akhir ini jarang bertemu Naruto, belum lagi bisa saja dia sudah bosan padaku.

"Kau juga harus hati-hati, terutama sejak dulu kau sangat mementingkan pekerjaanmu. Tidak ada salahnya bekerja keras tapi itu bisa merusak kehidupan pribadimu, bukan hanya mengirim pesan atau telpon, kau harus bertemu dan bicara langsung dengannya.." Aku menunduk mengingat kejadian ketika aku putus dari Yahiko, dia juga bilang itu karena aku mementingkan karirku dibandingkan dia.

Mungkin Shisui juga selingkuh karena aku kurang perhatian padanya.

"Mungkin kau benar.."

Aku tidak bermaksud untuk merusak hubunganku hanya karena aku memimpikan karirku. Aku langsung mengingat Naruto bersama wanita yang merangkulnya saat itu, bisa saja dia begitu karena sikap egoisku.

"Bukankah kau juga baru putus dari Shisui? Bagaimana? Sudah move on? Aku dengar dari Miku kalau Yahiko kembali mengejarmu.." Tanya Ichika yang menginterupsi Itsuki.

"Ah itu.."

Apa aku harus bilang kalau aku berkencan dengan mahasiswaku? Tapi, kalau itu Ichika kurasa tidak masalah.

"Ini agak sedikit rumit.." aku meremas rok ketika ingin mengutarakannya, "Sekarang aku berkencan dengan mahasiswa di kampus tempat aku bekerja, dan dia lebih muda tujuh tahun dariku.." ujarku yang tidak disangka Ichika dapat dilihat dari ekspresinya.

"Benarkah? Wah, ini diluar dugaan.."

"Begitu, ya?"

"Selama ini, biasanya kau bersikap rasional dan memilih pria yang memiliki kriteria masa depan cerah seperti Yahiko atau Shisui. Ketika kau bilang kau berkencan dengan mahasiswamu, aku tidak menyangka. Tapi, kalau kau sampai menyukainya pasti dia anak yang manis, 'bukan?" Tebak Ichika yang langsung membuatku malu, aku tidak ingin mengakuinya tapi mengingatnya yang bergantung padaku memang terkesan manis.

"Iya, dia pemuda yang manis.." tanpa sadar aku tersenyum, "..d-dia juga tampan.." Ichika tertawa dengan sikap malu-maluku.

"Hahaha, baguslah.."

Ketika aku mendengar kata-kata Ichika, itu benar-benar membuatku sadar. Pekerjaan memang penting jadi aku tidak ingin melakukannya setengah hati. Naruto juga penting, aku tidak ingin putus dengannya.

Di saat seperti ini, apa yang harus aku lakukan?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto pov*

Aku memainkan konsol game untuk menghilangkan kebosanan di malam hari, aku berakhir kalah lalu membaringkan tubuhku di lantai dan menutup mataku dengan lengan. Tempat ini jadi lebih sepi sejak Itsuki pindah ke lantai bawah, belum lagi dia sedang sibuk.

Aku tidak boleh mengganggu sampai dia selesai dengan pekerjaannya. Aku tahu dia bekerja semalaman untuk mempersiapkan seminar yang akan segera diadakan, tapi tidak menemuinya selama hampir dua minggu, itu membuatku semakin tidak sabaran. Aku mengambil ponselku di meja lalu duduk menatap nomor telponnya, dia bilang aku tidak boleh menghubunginya, meskipun begitu aku rindu mendengar suaranya. Masalahnya aku juga tidak tahu apa yang harus aku bicarakan dengannya.

Aku merasa aku tidak seharusnya mengganggu di saat seperti ini. Aku senang karena akhirnya dia mau menerimaku, dan kami tinggal bersama sampai rasanya jadi aneh, biasanya saat ini aku melihatnya tengah memasak makan malam, setelah itu aku menyentuhnya. Dia juga sedang bekerja keras, jadi aku harus sabar.

Aku berjalan lalu tengkurap di atas futon dan memeluk bantal sambil memikirkan betapa halus kulit Itsuki saat kusentuh, aku jadi horny sendiri. Sialan, jangan memikirkan hal kotor di saat seperti ini.

Ting Tong!

Aku mendengar suara bel ruanganku berbunyi, "Siapa? Malam-malam begini.." ucapku dengan malas berjalan keluar ruangan untuk membuka pintu masuk apartement.

Ketika aku membuka pintu sambil berkata siapa yang datang, mataku melihat Itsuki berdiri di depanku sambil membawa panci kecil yang berbau seperti kari baru matang. Tentu saja aku terkejut melihat dia berdiri di sana, wajahnya merona dan matanya bergerak gelisah. Dia mengalihkan pandangannya dariku.

"Ah, a-aku.. terlalu banyak membuat kari, ja-jadi.. itu, aku pikir kau belum makan.." dia menunduk seperti menutupi kegugupannya untuk mengatakan alasan yang tidak jelas, "..sebenarnya aku masih banyak pekerjaan, jadi aku hanya akan datang untuk makan sebentar.." lanjutnya.

Dia malu-malu untuk jujur padaku, lalu menjadikan kari sebagai alasannya menemuiku. Oh tidak, dia sangat manis. Aku senang melihatnya ada di depanku, dan aku langsung menjadi bersemangat melihat sosoknya setelah sekian lama. Aku juga langsung menerima usahanya.

Aku tersenyum, "Begitu ya? Kalau begitu, masuklah.." dia masuk ke dalam lalu aku menutup pintu dan mengikutinya yang berjalan ke ruang tengah.

Aku malah mendapatinya terdiam di depan ruangan tersebut. Aku masuk ke dalam ruang tengah yang memang nampak berantakan dan penuh dengan barang-barangku. Aku menggeser tumpukan buku, diantara pakaian kotor dan sampah ramen cup. Aku kemudian mempersilahkan dirinya untuk duduk.

"Kau bisa duduk dimana pun.." ucapku padanya yang memandangku dengan tatapan dingin.

"Sebelum itu, sebaiknya kita bereskan dulu tempat ini.." ujarnya yang membuatku bingung apanya yang salah.

Setelah membereskan semuanya kami makan bersama untuk beberapa saat sambil membicarakan kegiatan yang kami lakukan sejak tinggal terpisah, aku tahu Itsuki sibuk jadi aku tidak menghubunginya sampai dia menyelesaikan semuanya. Dan sekarang aku melihatnya di depanku dan mendengarnya berbicara walau hanya sedikit. Dia terlihat bingung untuk membicarakan apa, tapi jujur saja hanya melihatnya sudah membuatku senang.

"Omong-omong, bagaimana dengan studi cepatnya?" Dia memulai topik tentang kuliahku, huh.

"Semuanya berjalan seperti biasanya, tapi liburannya jadi sangat cepat dan padat, karena aku harus selesaikan tiga semester dalam setahun ini, sekarang aku semester 5 kemungkinan tahun depan aku sudah lulus, akan bagus kalau lebih cepat untuk berkarir.." jelasku.

Aku dengar bahwa Itsuki kuliah di luar negeri, begitu aku mengetahui seberapa keras dia menggapai mimpinya, itu membuatku sedikit kurang percaya diri. Maksudku tentu saja dia orang dewasa yang hebat, aku bilang aku tidak peduli dengan perbedaan kita, tapi tetap saja aku ingin sejajar dengannya. Dia lebih tua dariku jadi pengalamannya pasti sudah lebih banyak.

Kemudian suasana kembali senyap sampai Itsuki kembali bicara, "Oh iya, apa besok sore kau luang? Ba-bagaimana kalau kita makan di luar? Aku akan mengerjakan pekerjaanku dengan cepat.." Aku terdiam sebentar mencerna apa yang kudengar, aku sangat senang ini pertama kalinya dia mengajakku keluar, sayangnya besok aku ada pekerjaan dari sore hingga larut malam.

"Kalau besok, aku ada shift di jam tiga sore, jadi aku tidak bisa."

"Kalau begitu, bagaimana kalau setelah itu?"

"Aku akan pulang larut malam, kau tidak perlu memaksa dirimu menungguku. Kita bisa melakukannya lain waktu, pekerjaanmu belum selesai juga, 'bukan?"

Aku juga ingin menghabiskan waktu bersamanya, daripada itu aku mencoba untuk lebih mengerti dirinya yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.

"Tidak, ini bukan tentang terpaksa atau tidak.." ucapnya yang tampak gusar, dia tidak seperti biasanya memaksaku melakukan sesuatu seperti ini, aku tidak mengerti apa yang dia pikirkan padahal aku tidak masalah jika kita belum bisa sering bersama.

"Itsuki, tenanglah. Aku tidak memikirkannya, kalau kau sibuk mau bagaimana lagi?" Aku meyakinkannya tapi raut wajahnya seperti kecewa.

"Kau harusnya memikirkan itu! Bodoh!" teriaknya yang terlihat marah dan aku terkejut karena dia tiba-tiba berubah menjadi emosional.

"Eh, Itsuki?"

Dia memalingkan wajahnya dariku lalu berdiri, "Aku tahu ini menyebalkan, lupakan itu. Aku akan pulang sekarang.." dia langsung berjalan tanpa menatapku.

"O-oy, tunggu dulu. Sebenarnya ada apa denganmu?" Aku tentu berdiri dari posisi duduk lalu mengejarnya yang sudah berada di depan pintu masuk apartement, "Kenapa kau tiba-tiba marah?" Tanyaku yang diabaikan olehnya yang sedang memakai sendal.

"Aku tahu aku membosankan, jadi kau bisa bersama pacarmu yang lain.."

"Kenapa kau mengatakan hal seperti itu?" Aku tidak tahu mengapa, tapi Itsuki selalu mengatakan sesuatu yang mengungkit hubungan kita tidak akan bertahan lama.

"Dia wanita yang manis dan kau terlihat senang bersamanya.." dia hendak membuka pintu untuk keluar, salah satu tanganku langsung menahan pintu itu untuk kembali tertutup ketika dia mulai membukanya.

"Tunggu! Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti.." dia membelakangiku dan sama sekali tidak bergeming.

"Aku melihatnya sendiri saat di kampus. Jadi sementara aku bekerja kau diam-diam pergi berkencan dengan wanita lain! Inilah kenapa aku tidak percaya dengan pria sepertimu! Memiliki beberapa pacar sudah biasa untukmu, 'kan?!"

"Hah? Pacar apanya?!" Aku terkejut dengan pernyataannya yang mengatakan bahwa aku bermain di belakangnya, "Kau melihatku di kampus? Maaf, kalau aku tidak menyadarimu. Tapi kenapa kau tidak memanggilku?" Tanyaku lagi.

"Mana mungkin aku memanggilmu di lingkungan kampus!"

"Kalau begitu apa yang aku lakukan sampai kau berkesimpulan begitu?! Memangnya aku bersama siapa?"

Begitu kutanya, dia berbalik lalu menatap tajam ke arahku.

"Aku melihatmu bersama Yukata-san, dia merangkul lenganmu dan kau terlihat nyaman dengan itu. Lalu kau setuju untuk bersenang-senang dengannya, pasti kalian sudah melakukan banyak hal, 'bukan?!"

Ah, dia salah paham. Meskipun, sebenarnya memang Yukata itu salah satu mantanku. Sekarang bagaimana aku harus menjelaskannya? Itsuki seharusnya sudah tahu karena aku sudah bercerita saat aku makan malam dengannya kalau mantanku mendekatiku lagi karena sedang ribut dengan pacarnya, tapi aku tidak menyebutkan nama mantanku yang satu itu, sih.

"Kau salah paham. Aku hanya mengambil buku yang dia pinjam, selebihnya kami tidak melakukan apapun. Kau ingat sebelumnya ketika makan malam aku bercerita kalau mantanku curhat karena ribut dengan pacarnya? Dia itu orangnya." Aku mengatakan hal yang sejujurnya pada Itsuki, "Sebelum bertemu denganmu, aku hanya menemaninya karena dia terlihat depresi bahkan dia hampir bunuh diri. Beberapa hari yang lalu dia memintaku untuk mengajarinya mata kuliah yang tidak dia mengerti, dan pada akhirnya dia meminjam bukuku.."

"Dia meminjam buku?"

"Memang kami masih dekat sampai sekarang, tapi aku hanya menganggapnya sebagai temanku. Dan sejak aku menyukaimu, aku mulai menjauhinya.."

"Kalau kau memang menjauhinya, untuk apa kau mengajari dan meminjamkan bukumu padanya? Mana ada orang yang sebaik itu pada bekas pacarnya.." Itsuki kembali membuang muka dariku dan berbalik, sepertinya dia belum bisa menerima alasanku.

"Kita berada di kelas yang sama dan setiap hari kita tidak sengaja bertemu, lagipula apa gunanya kita membahas tentang masa laluku dengannya-"

"Kalau begitu seharusnya kau lebih banyak menghabiskan waktu denganku!" Dia berteriak dengan keras mengatakan hal yang cukup egois untuk pertama kalinya, bahkan aku terkejut dengan itu hingga aku terdiam, aku melihatnya menunduk sambil memegang kenop pintu.

"Setiap kali aku bilang aku terlalu sibuk untuk bertemu denganmu, kau hanya membalas oh begitu terus-menerus, dari reaksimu itu seolah kau tidak peduli padaku..!" Ucapnya keras bahkan dia nampak terkejut setelah mengatakannya.

Ah, sial. Aku tidak sangka sikap pengertianku akan menjadi masalah seperti ini. Aku hanya bertemu dengannya saat dia sedang luang atau libur, kami juga menunda rencana kencan kami karena dia sibuk. Aku tidak bisa menyangkalnya karena itu pekerjaan yang dia sukai, selain itu aku hanya mahasiswa biasa yang belum merasakan bagaimana memasuki lingkup masyarakat sepertinya.

"Aku tidak terlalu sering bertanya padamu, karena kupikir itu akan jadi beban untukmu.." dia menengok ke belakang sementara aku langsung menatap lurus padanya, "biasanya, kapanpun kita bertemu kau sedang libur bekerja, dan aku bisa merasakan kau sangat kelelahan. Kalau di hari yang lain, kau kelihatan sangat sibuk. Aku yakin aku akan membuatmu tertekan jika kita bertemu, kau mengerti kan kenapa aku tidak ingin kau pindah? Karena mungkin kita akan jarang menghabiskan waktu bersama.." aku mengungkapkan semua yang aku rasakan padanya.

Aku menyilangkan tangan di depan dada dan menatap langsung pada matanya sebelum lanjut berbicara, "aku masih seorang mahasiswa biasa, jadi aku terus memikirkannya, seberapa keras kehidupan orang dewasa untuk bekerja. Aku ingin menghindari masalah yang menyebalkan untukmu tentang bagaimana kesembronoanku. Kau tahu, jika bisa aku ingin melihatmu setiap hari.. " dia terdiam dan tidak berkutik sampai aku kembali bertanya.

"Itsuki, apa kau membenciku? Apa kau berpikir kalau hubungan kita hanya main-main? Jawab aku.."

Dia masih belum ingin menjawabku, dan aku menunggunya bicara seperti orang bodoh. Aku tahu Itsuki adalah wanita yang canggung, Aku menyukai bagian yang seperti itu darinya. Tapi, Aku ingin bisa mengetahui bagian dirinya yang belum aku mengerti.

"Kalau begitu.." dia menggantungkan kalimatnya, ".. ayo putus dan kita akhiri ini.."

Kalimat yang tidak terduga dan langsung membuatku merasa marah, ".. kenapa kau menjawab seperti itu?! Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku?!" Dia malah berbalik dan tidak menatapku.

"Sudah cukup! Aku akan pulang!" Dia kembali berusaha untuk membuka pintu, aku pun langsung menahan pintu itu kembali dengan kedua tanganku, aku mengurungnya dalam kungkunganku.

"Aku tidak setuju dengan keputusanmu itu, jika kau menyukaiku kenapa kau minta putus dengan cara yang buruk? Apa kau benar-benar tidak mempercayaiku cuma karena seseorang mengganggu atau bahkan sesuatu yang lain?" Aku memegang pundaknya dan menariknya untuk berbalik menatapku dan yang kulihat adalah wajahnya yang menampakan ekspresi menyedihkan, "Jika kau memang membenciku, jika kau sudah lelah dengan semua ini, tatap mataku dan katakan itu!" Aku mengeratkan tanganku yang menggenggam pundaknya.

Wajahnya nampak gusar dan aku melihat matanya mulai berkaca-kaca seperti akan menangis, tangannya menepis tanganku yang tengah menggenggam pundaknya. Dia kembali memalingkan wajahnya dariku seakan tidak ingin memperlihatkan kesedihannya padaku.

"Kau sangat menyilaukan.."

Itu yang dia ucapkan hingga aku penasaran apa maksud ucapannya.

"Dan wanita yang lebih baik mungkin akan segera muncul.." lanjutnya.

"Lebih baik darimu? Memangnya siapa?"

"Aku tidak tahu, ada beribu-ribu wanita yang masih muda dan cantik di luar sana, kau bisa memilihnya.."

"Di mana aku bisa menemukannya? Kau menjadikan hal itu sebagai alasan kita putus? Aku tidak mau!"

Secara logika yang dia katakan itu benar, di luar sana banyak wanita yang cantik dan masih muda. Itu jauh lebih realistis jika aku berkencan dengan wanita yang seumuran denganku. Aku tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu seperti ini, dan menjalaninya dengan biasa. Kenapa dia sangat takut hal itu akan terjadi? Dan aku akan meninggalkannya hanya untuk hal realistis seperti itu? Tapi aku tidak bisa, karena aku menyukai Itsuki.

"Maaf, setiap hari aku terus memikirkanmu dan itu membuatku takut. Karena aku tidak tahu apapun tentangmu.."

Alasan yang sama yang sering kali dia ucapkan, dan untuk pertama kalinya hal itu menyudutkanku saat ini.

"Kau tidak tahu tentangku? Kalau begitu aku akan mengatakan semuanya sekarang.." aku memegang pundaknya dan menatap lurus padanya, "Namaku Namikaze Naruto.."

"Eh?"

"Umurku 21 tahun, sejak kecil aku tinggal di Nagoya. Aku mahasiswa semester 5 jurusan kimia di Universitas Konoha."

"Eh?!"

"Aku punya Ayah tiri, Ibu, dan Adik perempuan. Ayah kandungku sudah meninggal dari sebelum aku lahir. Tinggiku 180 cm, beratku 50.9 kg. Ukuran sepatuku adalah 27."

"Tu-tunggu.."

"Tipe darahku adalah B. Tanggal lahirku 10 Oktober 2007, zodiakku libra. Makanan favoritku adalah ramen, aku tidak terlalu suka makanan manis tapi aku masih memakannya."

"Umm, tung-" Itsuki terlihat kewalahan, tapi aku tidak berhenti.

"Aku orang yang proaktif dan optimis, tapi aku cukup keras kepala. Hobiku memotret, menggambar, membaca, dan mengunjungi pameran. Artist favoritku adalah Picasso, Vincent, Raphael, dan Masacchio. Dan-"

"Tu-tunggu dulu!"

"orang yang kucintai sekarang adalah Nakano Itsuki.." dia nampak terkejut tapi aku bisa melihat rona merah pada wajahnya, "Kau memang bukan pacar pertamaku, tapi sekarang aku mencintaimu. Jadi aku tidak peduli tentang itu semua. Jangan pikirkan tentang diriku di masa lalu, pikirkan saja tentang aku yang sekarang. Tentang aku yang menyukaimu." Dia nampak terperangah dengan ucapanku, dia terdiam dengan rona dikedua pipinya lalu dia kembali menunduk seperti menutupi kegugupannya.

"Tapi.."

"Apa lagi?"

"..aku merasa tidak percaya diri.." aku masih menatapnya yang nampak gugup, "..aku sendiri tidak yakin kau akan tetap mencintaiku.."

"Kalau begitu-" aku menatap wajahnya lebih dekat, "Apa tidak bisa kau jadikan rasa sukaku padamu sekarang sebagai kepercayaan dirimu?" Dia menatapku sehingga kami kembali saling menatap.

Aku menutup mataku dan melepas genggamanku pada pundaknya, "Kalau kau masih ingin putus denganku, kau bisa keluar dari sini dan besok kita anggap tidak pernah ada yang terjadi. Kau bebas memutuskannya sekarang. " Aku berbalik darinya.

Apa yang aku lakukan? Aku tidak menginginkan ini. Aku sangat menyukai Itsuki sejak aku mengenalnya. Pertemuan kami terasa absurd dan tidak seindah kisah novel, pada akhirnya aku harus melaluinya dengan perpisahan karena dia memiliki jalan tersendiri untuk meneruskan kehidupannya, meskipun hanya aku yang merasakan berat dan kehilangan nantinya.

BUK..

Tapi, yang kurasakan saat ini kedua tangannya melingkari perutku dan Itsuki menyenderkan kepalanya pada punggungku. Dia tiba-tiba memelukku dari belakang. Aku tidak dapat menatapnya, hanya saja pikiranku menjadi kacau dengan tindakannya.

"Ini tidak adil, kenapa kau begitu percaya diri? Tentu saja aku tidak ingin hal itu terjadi, aku juga menyukaimu.." Ucapnya yang membuatku semakin tidak bisa menahan diriku, pikiranku kosong dan hanya dipenuhi keegoisanku yang tidak ingin melepasnya.

Aku berbalik dan menunduk menatap wajahnya yang nampak kacau, kekhawatiran yang tergambarkan pada wajahnya membuatku merasa bersalah. Aku langsung menariknya dan mendekapnya dalam pelukanku, aku terkesima ketika kurasakan tangan kecilnya juga mendekapku. Itu sesungguhnya seperti sengatan listrik dan membuatku gugup, tapi sebagai laki-laki aku tidak ingin menunjukkan kelemahan ku padanya.

"Itu mudah karena aku tahu kau kebingungan, kau takut aku menyukai orang lain. Aku juga punya kekhawatiran yang sama sepertimu. Aku masih muda dan tidak mapan, aku juga ingin cepat dewasa agar sejajar denganmu. Karena aku mencintaimu, Itsuki.." aku mencium puncak kepalanya dan mengeratkan pelukanku padanya.

Itsuki yang tidak pernah mengerti.

Salah satu tanganku menyentuh pipinya, "Itsuki.." aku menyebut namanya ketika mengelus wajahnya dengan lembut, membimbingnya agar menatapku langsung.

Detik berikutnya, aku beranikan diriku untuk menyentuh bibirnya yang menempel dengan bibirku. Hanya sebatas menempel, tapi menimbulkan efek luar biasa untukku. Tangannya mencengkram erat kaos tepat dipunggungku, aku menutup mataku dan memperdalam ciuman yang kami lakukan.

Dia tidak pernah mengerti, seberapa dalam aku mencintainya.

.

.

.

.

.

"Mmmn~ nmnh.. Ah~" aku melepaskan tautan bibir kami dikala kami tengah bercumbu mesra, bibirnya terlihat sedikit bengkak karena itu.

Dia berbaring pasrah di bawahku dengan malu-malu, kami hanya berciuman sejak tadi untuk melepas rindu. Suasana ruangan agak remang karena aku hanya menyalakan lampu tidur, wajahnya yang merona masih terlihat jelas untukku. Malam ini, aku memintanya untuk menginap agar kami bisa menghabiskan waktu bersama.

"Aku belum mandi.." ucapku yang hendak bangkit darinya untuk mandi dulu, untuk urusan ranjang bersama orang yang kau sukai, sopan santun itu juga penting.

"Tidak apa.." tangannya membawa tanganku untuk menyentuh dadanya yang masih berbalut pakaiannya, "..kau sudah tidak bisa menunggu, 'bukan?" Dari wajahnya dia seperti mengatakan padaku untuk melakukannya lebih jauh karena dia sudah tidak tahan.

"Aku bau, apakah tidak masalah?"

"Baumu tidak begitu buruk, selain itu, a-aku bisa merasakan.. yang dibawah itu sudah keras.. se-sejak kita masih di depan pintu.." dia mengatakannya dengan mengalihkan pandangannya.

Mendengarnya mengatakan itu membuatku malu, aku tidak bisa mengelak batangku sudah tegang sejak aku menciumnya di depan pintu tadi. Tanpa bertanya lagi, aku menyingkap kaos yang digunakannya ke atas, begitupun dengan bra putih yang dia kenakan. Aku melihat dada polosnya dengan puncaknya yang sudah mengeras, aku meremas keduanya sembari kembali bercumbu dengannya.

Matanya terpejam seakan menikmati kegiatan yang kami lakukan, kadang ia melirik pada dada besarnya yang aku pijit-pijit. Dia melenguh begitu aku menekan puncaknya yang mengeras dan melahap salah satunya. Suaranya terdengar sangat erotis, aku jadi ketagihan untuk terus merangsangnya. Aku mengjilat salah satu puncak dadanya ketika dia mulai meremas rambutku, begitu juga tanganku yang memelintir puncak dadanya yang lain.

"Ahn! Na.. Naruto.. sudah cukup, ah! Ngh.. Ah! Mn..! Ayolah.." Aku semakin gencar untuk mengigit kecil dan mencubit tonjolan pink menggoda dari dadanya, "Ah! Na.. Naruto, kau terlalu kuat! Berhenti, ahn!" Desahannya enak sekali didengar, aku tidak ingin berhenti.

Aku merasakan kedua tangannya yang menyentuh telingaku sementara aku terus menghisap kuat tonjolan pink yang entah kenapa terasa nikmat, "Aku bilang berhenti, kau anak nakal!" Dia berteriak lalu menjewer kedua telingaku untuk menjauhi dadanya.

"Akh! Aw, aw! Itu sakit~!" Aku memegang telingaku yang menjadi ngilu karena jewerannya yang menyakitkan, "Memangnya kenapa?" Aku bertanya dan dia menutupi dadanya dengan kedua tangan.

"Aku kan sudah bilang untuk berhenti dengan dadaku!" ucapnya yang marah-marah.

"Habisnya dadamu menggemaskan, aku jadi makin horny saat kau memintaku untuk menyentuhnya.."

"Hah?!"

"Katakan padaku kenapa kau tidak suka?" Aku kembali memeluknya dan membenamkan wajahku diantara buah dadanya, aku kembali melahap salah satu tonjolan pink tersebut hingga Itsuki kembali mendesah.

"Ahn! Tunggu.." tubuhnya kembali menegang, "..ka-kau bahkan tidak mendengarkanku.. ah!" Aku membuatnya kembali terbaring di futon sementara bibirku menjalar ke atas lehernya yang mendongak pasrah, dia tidak menolak dan melingkari tangannya pada punggungku.

Aku berbisik di samping telinganya, "Beritahu aku alasannya. Padahal kau sendiri yang memintaku untuk melakukannya, tapi kau minta berhenti saat situasinya mulai bagus.." lanjutku yang membuat wajahnya merona.

"I-itu.. karena kau yang keras kepala.." jelasnya yang mulai salah tingkah.

Aku menatap wajahnya lebih dekat, "Lalu bagaimana bisa kau sangat membencinya? Apa kau tidak suka aku melakukannya?" Ketika kugoda dengan pertanyaan itu, dia mulai panik.

"Bukan begitu!" Ucapnya ketika wajahnya kembali merona dengan malu-malu dan memalingkan wajahnya ke samping, "Karena saat kau melakukannya, itu terasa nikmat dan disaat bersamaan dadaku jadi sakit, ditambah lagi yang terburuk itu membuatku makin basah.." mendengarnya membuat semangatku jadi naik.

"Aku menyedihkan karena terasa aneh, ah bukan, maksudku bukan berarti aku tidak suka.." dia masih berbicara dengan kegugupannya, tapi jujur saja saat ini Itsuki sangat manis.

Aku terjatuh menyembunyikan wajahku di pundaknya, "Eh? Ada apa? Naruto?" Dia kebingungan dengan tingkahku yang tiba-tiba jadi gugup dan menutupinya, aku yakin saat ini wajahku ikut merona karena ulahnya.

Sial, batangku makin keras. Aku tahu, saat ini dia tidak bermaksud menggodaku. Hanya saja efek sudah lama tidak bertemu dan hampir putus sampai aku pasrah menghadapinya, lalu tiba-tiba setelah itu tingkahnya makin manis. Aku terbangun sedikit dan menatapnya, sedangkan tanganku menjalar pada bagian bawahnya dan menyingkap roknya.

"Ini salahmu karena bertingkah sangat manis.." aku kembali menghisap puncak dadanya yang mengeras.

"Kyah~! Kau sama sekali tidak mendengarkan!" Ucapnya ketika aku mulai menyentuh kemaluannya yang masih dilapisi celana dalamnya yang basah.

"Luar biasa, kau tidak pernah sebasah ini sebelumnya.." godaku padanya yang merona.

"Itu, karena.."

"Haruskah aku melepaskan pakaian kita sekarang?" Tanyaku yang mendapatinya mengangguk dengan canggung, aku langsung menarik kaosnya ke atas dan menurunkan rok yang dikenakannya lalu aku melempar pakaiannya ke sembarangan tempat.

Sekarang hanya tersisa celana dalamnya yang berwarna putih, dan terlihat noda basah yang jelas.

Aku tidak bisa memikirkan apapun, aku benar-benar terangsang. Aku juga menarik kaosku ke atas dan menurunkan celanaku hingga memperlihatkan kejantananku yang sudah menegang. Itsuki nampak malu untuk melihatnya. Setelah itu, aku turun ke bawah dan melebarkan kakinya, wajahku mendekat pada kemaluannya.

"Tunggu, itu..Ahn!" Dia ingin protes lalu mendesah ketika aku membenamkan wajahku pada kemaluannya, aromanya menimbulkan sensasi tersendiri yang membuatku makin tergoda.

"Ah! Ah! Tidak, jangan disana.. Ah~" aku mulai berinisiatif merasakan area tersebut dengan menyampingkan celana dalamnya, "Kya! Ah! Ah! Itu bagian yang kotor, Ahn!" Cairan yang Itsuki hasilkan mulai keluar, tidak peduli bagaimana aku merangsang bagian itu, cairan cintanya terus-menerus datang.

Tangannya meremas kepalaku seraya pinggulnya beberapa kali melengking karena aku memanjakan tonjolan pada kemaluannya yang mengeras, "Ah! A-aku akan.. Na-naruto~" dia meremas rambutku dengan kencang dan aku menggenggam pahanya dalam cengkeramanku.

"AAAH! Aku datang! Aku datang, Naruto~! Kyah!" Dia menegang begitu aku melepaskan bibirku dari kemaluannya, cairan ejakulasinya langsung meluber, aku bangkit dan dia nampak terengah.

Kemudian aku mengambil sebuah kotak kecil dari kantong celanaku, ini adalah kontrasepsi yang kubeli karena aku hampir selalu bertindak di luar batas ketika menyentuh Itsuki. Aku akan menggunakannya kali ini.

"Apa itu?" Itsuki bertanya.

"Kondom.." Dia merona begitu tahu kalau aku sedang memasang kontrasepsi pada kejantananku.

Setelah itu, aku langsung menurunkan celana dalamnya ke bawah sehingga tubuh polosnya terlihat di mataku, "Kau ingin memasukannya?" Tanya Itsuki ketika melihatku mulai memposisikan kejantananku tepat pada kemaluannya.

"Maaf, tapi sejak kau pindah kita belum pernah melakukannya, aku tidak bisa menahannya lagi.." jelasku ketika Itsuki malah bangkit dari posisinya.

"Tunggu.." dia menyentuh pundakku lalu mendorongku untuk terbaring sementara dia menindihku di atas, "..kali ini aku akan di atas.." ucapnya memalingkan wajahnya dariku ketika tangannya mulai menyentuh kejantananku dan memposisikan itu pada liang senggamanya, bersiap untuk untuk memasukannya.

Dia memejamkan matanya ketika kejantananku mulai memasuki liang senggamanya, "Haa.. ah.. mnn..!" Dia menahan desahannya ketika seluruh kejantananku berhasil masuk ke dalam.

"Kau tahu? Kau bersikap agresif hari ini.." godaku padanya yang mulai salah tingkah.

"Itu! I-i.. itu karena.." dia mengalihkan pandangannya dariku, "..Saudariku bilang kalau perasaan bisa hilang karena kita jarang bertemu, karena itu.. aku.." sekarang aku mengerti kenapa dia begitu khawatir tentang itu.

Dia kembali menatapku, "..A-apa itu menyebalkan?" Tanyanya yang membuatku merasa tidak enak, tapi disaat bersamaan juga senang.

"Tidak, saat kau cemburu itu merepotkan tapi aku juga senang.." ucapku yang menggenggam pinggulnya, "..Malam ini kau sangat cantik, Itsuki..!" Aku langsung menghentakkan pinggangku ke atas.

"AH!" Dia langsung mendesah dengan suara yang keras dan aku berusaha keras menahan rangsangan luar biasa yang kurasakan.

Aku sengaja menggerakkannya sekali, tapi miliknya mencengkram milikku dengan erat dan sangat ketat. Ini sangat enak. Dia menahan tangannya pada perutku ketika aku merasakannya bergerak naik-turun, dia nampak seperti sedang menunggangi kuda. Aku langsung tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa, milikku serasa diremas-remas dengan sentuhan yang lentur dan licin. Pergerakannya membuat dadanya bergoyang naik-turun dengan erotis, pemandangan yang menarik untuk perhatikan.

"Ahn! Ah..! Hyah~ Ah! Ah..!" Desahannya yang nyaring juga memberi nuansa makin erotis, aku tidak pernah bosan mendengar suaranya yang mengekspresikan rasa nikmatnya.

Ditambah lagi, ekspresi wajahnya yang pasrah ketika menikmati pergerakannya, itu sangat cantik. Aku ingin merasakan semuanya. Aku memeluk pinggangnya sehingga dia membungkuk, aku langsung bangkit untuk melahap salah satu puncak dadanya yang bergoyang. Aku menghisapnya kuat hingga kurasa dia melemah karena itu dan berhenti bergerak. Tubuhnya yang lemas langsung berdempetan denganku, dia terlihat tidak sanggup bergerak lagi, itu sangat manis.

Aku memandang wajahnya yang tengah menatapku, "Bukankah hari ini kau yang bergerak?" Tanyaku yang membuat wajahnya merona malu.

Aku langsung berinisiatif menggerakkan pinggangku naik-turun sehingga kejantananku melonjak di dalamnnya, aku kembali melahap salah satu puncak dadanya dan yang lainnya aku pelintir dengan jariku. Dia mendesah makin keras ketika aku yang melakukannya.

"Ahn! Ah..! Tung- kali ini aku yang akan bergerak~! Ah! Ah!"

"Kalau begitu kita lakukan bersama saja.. agh!"

Aku memegang bokong sehingga gerakan kami menjadi sinkron karenanya. Hebat sekali, ini lebih erotis dari yang kupikirkan. Aku tidak ingin berhenti. Di dalamnya makin ketat, licin, dan sangat basah. Dia kembali bangkit dalam posisi duduk, kali ini tanganku memandunya untuk bergerak maju mundur sehingga kejantananku merasakan guncangan yang luar biasa.

"Tunggu, kali ini... Ahn! Ah! Ah! Aah..! Tidak, jangan~! Naruto..!"

Aku tidak bisa menahannya lagi, aku langsung bangkit lalu mendorong Itsuki sehingga sekarang dia yang terbaring di bawahku, aku menyanggah kedua tanganku di samping tubuhnya dan langsung menggerakkan pinggangku keluar-masuk pada liang senggamanya. Kedua tangan Itsuki meremas sprei pada futon, kakinya terbuka lebar seperti mengizinkanku untuk terus menghujamnya.

"Hya! Ahn! Tunggu, itu makin keras..! Ah! Aah!" Seperti desahannya bilang, aku makin ereksi dan mempercepat gerakanku menghujamnya. Di dalam Itsuki, aku selalu ingin mengeluarkannya di dalam.

"Aku.. keluar! Ngh..!"

"Aaahn!"

Aku langsung menghentak kejantananku ke dalam dan aku dapat merasakannya berdenyut-denyut sebelum mengeluarkan benihku di dalamnya. Tubuh Itsuki nampak bergetar ketika benihku mulai memenuhi kontrasepsi yang aku pakai. Aku kemudian menarik kejantananku keluar sehingga memperlihatkan kontrasepsi itu yang sudah terisi benihku. Aku memandang wajah Itsuk yangi terengah, tubuh kami sudah dipenuhi peluh setelah kegiatan panas yang kami lakukan.

Itsuki mengalihkan pandangannya dariku, "Jangan melihatku seperti itu.." ucapnya dengan wajah merona.

Melihat betapa manis dirinya membuat batangku kembali tegang, "Satu kali lagi.." aku melepaskan kontrasepsi itu dan memasang yang baru.

Aku melihatnya yang membelakangiku dan menungging menunjukkan kemaluannya yang terbuka, "Jika kau melihatku itu memalukan, jadi lakukan itu dari belakang.." ucapnya yang malu-malu tapi begitu menggiurkan untukku.

Tanpa menunggu lama, aku mendekat padanya. Aku menggenggam kejantananku lalu menempatkannya pada liang senggama Itsuki yang terbuka. Aku menekannya hingga Itsuki menutup mata dan menggigit bibir bawahnya menahan erangan. Aku menahan bokongnya ketika aku langsung melesakkan kejantananku dalam sekali hentakan.

"Aaahn!" Dia langsung mendesah begitu aku berhasil kembali menyatu dengannya.

Pinggangku langsung bergerak maju-mundur dengan tempo sedang di awal, dia menutup matanya dan menahan dirinya dengan tangan yang bertumpu di futon sampai berantakan. Aku menggenggam erat pinggangnya seraya mempercepat gerakanku menghujamnya. Aku menunduk untuk mencium punggungnya dan meremas dadanya yang bergoyang, rambut panjangnya berantakan dan lepek karena peluh.

Dia mulai lemas dan menjatuhkan dirinya di futon dengan bokongnya yang masih menungging, wajahnya bersandar ke bawah dengan tangan yang menutupinya. Aku bergerak lebih cepat ketika kurasakan liang senggamanya mencengkeram kejantananku dengan sangat erat, aku tahu dia akan mencapai klimaksnya.

"Ah..! Ahn.. hnn..! N-naruto.. uh..ah! Ahn! Naruto..!" Aku bisa mendengarnya menyebut namaku dalam desahannya.

Aku memeluknya hingga tubuhnya kembali terangkat ke atas sementara tanganku mulai meremas kembali dadanya, "Aarg.. Itsuki..! Itsuki..! Aku mencintaimu..! Ah!" Aku meluapkan perasaanku padanya sementara kami menggerakkan pinggang maju-mundur bersama.

Aku bersandar pada pundaknya ketika wajahnya menyamping untuk saling berpandangan denganku, "Ahn..! Aku juga..! Aku mencintaimu..! Ah..! Ah..!" Aku menunduk dan kami tenggelam dalam pagutan lembut bibir lawan main kami.

Kami menjulurkan lidah dan melilitnya untuk mengecap saliva yang entah kenapa terasa seperti nektar yang nikmat sampai akhirnya kami melepaskannya, "Hari ini kau banyak memberi pelayanan, sudah kuduga Itsuki mesum~ Ssst.." godaku padanya yang kembali jadi malu-malu.

"Ah! Ah! Tidak..! Hng.. bukan begitu.. ahn! Ah! Menyebalkan, kenapa itu terasa enak..? Ahn! Ah! Ah!" Tanyanya ketika aku membuat gerakan berputar pada pinggangku yang menghujamnya.

"Maksudmu di sini.." aku melesak kejantananku lebih keras.

"Ngh! Jangan..! Itu sangat berasa..! Ah! Ah..!" Aku menatap wajahnya yang sudah terlihat tak berdaya, "Kau makin dalam dan itu membesar.. Ahn!" dia nampaknya sangat menikmati hujaman kejantananku pada liang senggamanya, itu makin ketat di dalam sana.

"Lihatlah, sekarang kau mengatakan sesuatu yang menggodaku.. Arg!" Aku menjatuhkannya untuk berbaring tengkurap lalu kami jatuh dalam kenikmatan sampai aku merasa akan mencapai klimaks, "Itsuki, aku keluar..! Aaah!" Aku menghentakkannya ke dalam.

"Ya, aku juga..! Aaaahh!" Desahnya ketika kami mencapai klimaks bersama.

Setelah beberapa detik kejantananku di dalam liang senggamanya, aku langsung melepaskan Itsuki yang terbaring lemas di bawahku. Kejantananku yang sudah lepas langsung memperlihatkan kontrasepsi yang basah dan sudah terisi benihku. Aku melepaskannya dan membuangnya ke tong sampah. Aku kembali tertidur di futon lalu memeluk Itsuki dari belakang.

"Hari ini Itsuki penuh semangat, apa kau merindukanku?" Tanyaku pada Itsuki yang merona.

"Berisik, jangan bicarakan itu..!" Itsuki berbalik menghadapku, "Omong-omong, maaf untuk yang tadi. Aku bilang untuk putus tanpa pikir panjang karena kesal, tapi sebenarnya aku tidak menginginkannya. Aku hanya cemburu dan takut kau mencampakkanku." dia memandang ke bawah ketika mengatakannya.

Aku mencium puncak kepalanya dan menutup mataku sejenak, "Tidak apa, aku mengerti perasaanmu. Aku juga minta maaf, karena tidak mengatakan apapun padamu. Selain itu-" aku kembali memeluknya lebih erat lalu tanganku meremas dadanya, "Kau sangat liar hari ini, kau melakukannya karena khawatir padaku, 'kan? Aku senang~" ucapku yang membayangkan hal mesum dan membuat batangku kembali tegang.

"Naruto, kau memang orang mesum yang terburuk.."

"Huh?!"

.

.

.

.

.

Itsuki pov*

Akhirnya seminar yang dinantikan dilaksanakan, karena mengundang mahasiswa dan orang ternama dari Stanford University, kami mengalami banyak kepanikan. Terutama kepala kejuruan mengamati kami dengan wajah seramnya. Kami juga mengalami beberapa kesulitan membalas argumen mereka. Tapi, akhirnya itu berakhir dengan lancar. Kami mengadakan jamuan dengan upacara minum teh lalu mendapatkan relasi baru berkat kerjasama ini.

"Nakano-san.." aku mendengar panggilan dari Tsunade Senju yang merupakan kepala juruan.

Aku langsung berbalik dan membungkuk hormat, "Ah, selamat malam.."

"Kau membuat seminarnya berjalan cukup sukses, itu pasti sulit untuk membimbing mahasiswa kita, 'bukan? Mereka terlihat tertekan dengan bimbinganmu, tapi berkat dirimu mereka melakukan perkembangan yang luar biasa. Terima kasih."

"Jika anda merasa begitu, saya sangat bersyukur. Tapi, perjalanan saya masih panjang, jadi mohon bimbingan anda.."

"Setelah ini, kita akan membuat penelitian yang lebih menarik. Persiapkan dirimu."

"Baik!"

Aku dipuji, aku sangat senang. Pekerjaanku berhasil, aku harus memberitahu Naruto. Aku langsung membuka aplikasi chatting dan kami janjian untuk makan malam di luar. Sebenarnya setelah kesalahpahaman itu aku kembali pindah ke ruangannya, nenek Chiyo sangat terkejut begitu Naruto mengatakan bahwa kami berkencan dan ingin tinggal bersama.

Biasanya inisiatif dalam pekerjaan itu penting, karena aku ingin meningkatkan kemampuanku. Dan kupikir perasaan yang ingin menemuinya membuatku semakin terdorong, aku tidak punya kemampuan yang sehebat Ibuku dulu sebagai pengajar, karena itu aku tidak punya pilihan selain bekerja keras. Aku yakin aku bisa semakin berkembang tahap demi tahap.

Aku keluar dari wilayah kampus tepat pukul 7 malam, dan ketika berjalan melewati halte bus aku mendapati Naruto yang menungguku di sana sambil membaca buku dan mendengar musik dari earphone, para wanita terlihat melirik-lirik padanya. Aku tidak ingin mengakui, tapi dia benar-benar tampan dan berkilau. Seakan menyadari keberadaanku dia menengok lalu berdiri, dan melepas earphone yang dikenakannya.

"Ah, itu Itsuki!" Ucapnya yang menyambutku dengan senyuman bahagia dan berjalan mendekat padaku, "kau pasti lelah bekerja~" ucapnya lalu menunjukkanku sebuah paper bag.

"Tunggu sebentar, aku punya hadiah untukmu.." ucapnya memberikanku paper bag itu, aku melihat ke dalamnya dan mengambil benda di dalamnya yang ternyata adalah gelas.

"Apa ini?"

"Teman kelas les seniku dulu sekarang membuka toko keramik, karena kita tinggal bersama lagi, jadi aku beli gelas yang motifnya sama untuk kita berdua.." dia terlihat berbunga-bunga belakangan ini, tapi itu sangat manis.

"Begitu ya?"

"Selain itu, aku akan membantumu mengerjakan pekerjaan rumah dan membuat sarapan pagi untukmu mulai sekarang supaya kau lebih santai.." jelasnya yang membuatku merasa tidak enak.

"Eh, kau yakin?" Sebenarnya aku tidak begitu yakin dia bisa melakukannya.

"Aku berpikir tidak baik kalau hanya aku yang diuntungkan, selain itu kau suka berpikir sesuatu yang aneh kalau aku cuek padamu, 'kan? Jadi aku akan bersikap lebih perhatian mulai sekarang.." jelasnya yang agak membuatku terganggu.

Entah mengapa perhatiannya malah terkesan seperti ibu pada anaknya.

"Tunggu, itu terlalu menguntungkanku. Aku bukan anak kecil!" Jelas Itsuki yang tersinggung.

Naruto malah memandangku dengan lembut, "Tidak apa, lagipula aku melakukannya karena menyayangimu~" jelas Naruto yang menggombaliku, meskipun wajahnya tampan aku merasa ilfeel.

"Aku mulai merasa sebaiknya kita tinggal terpisah.." jelasku yang membuat Naruto terkejut.

"Huh?! Kenapa?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC Chapter enaknya apa ya? :)

Karena membosankan jika TBC begitu saja, kali ini erocc akan reply review kemaren :v

1. Mhank Kesbor : Sebenarnya Erocc ga hapus Otonari-san tpi itu hilang begitu saja, sepertinya ada yg report, tidak tahu juga. Erocc gamau suudzon. Yah, Erocc pake fandom waifu sejuta umat, lalu dikarenakan tema yang erocc buat agak sensitif ditambah juga pembaca yang gampang sensi, yah mau gimana lagi? Haters dan flamers bertebaran. Harus mikir dua kali buat uploadnya, daripada ntar akun Erocc yg di delete wkwk. sebenarnya mau Erocc jdiin karya official saja, tapi gatau kapan, Erocc masih mager revisi.

2. Limitscompany23 : Doain skripsi gw cepet selesai..

3. OXed13ND : akhirnya setelah tarik ulur jadian

4. FF. Agus-kun : anda selalu review, saya terharu~

5. AhegaoDoublePeace : yah, semoga cepat kelar dah semua kerjaan dan kesibukan ini..

6. Xenovia Uzumaki : Jangan panggil saya om, anak kecil..

7. WelPlay : Semoga study anda lancar..