Judul : Nijuuhassai desu ga, Mondai ga Arimasenka?

Chapter : 7

Crossover : Naruto x Gotoubun no Hanayome

Genre : Romance, AU, comedy, Slice of life, parody, ooc, dll.

Pairing : Naruto Uzumaki x Itsuki Nakano

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto dan Gotoubun milik Negi Haruba, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan :v

Rating : M

A/N :

Ingat, lho! Baca setelah buka puasa! Dan sudah kubilang jangan lupa matikan lampu dan siapkan sarung sebelum membaca..

.

.

.

.

.

Itsuki pov*

Aku terbangun lalu melihat ponselku bergetar, ketika dibuka aku melihat notifikasi digrup chating saudariku, disitu tertulis untuk merayakan pesta ulang tahun kami bersama. Ah, benar juga hari ini tanggal 5 Mei, semuanya sedang berulang tahun, begitupun denganku meskipun aku lahir sedetik lebih lambat jadi ulang tahunku tanggal 6 Mei. Mereka berkata aku harus berkumpul di rumah Ichika pukul 8 malam untuk merayakannya bersama sebelum 3 bulan ke depan Ichika akan menikah. Padahal sudah setua ini mereka masih penuh semangat untuk pesta ulang tahun. Aku membalas mereka akan datang pukul 7.30.

Kemudian aku mencium aroma menggiurkan dari arah dapur, bau ayam yang digoreng jelas membuatku menjadi lapar. Aku bangun dan melihat jam kecil di meja menunjukkan pukul tujuh pagi, aku berinisiatif untuk bangun dan cuci muka untuk siap-siap bekerja.

Ketika memasuki dapur untuk ke kamar mandi aku melihat Naruto tengah menyiapkan sarapan pagi. Dia benar-benar memanjakanku seperti apa yang dia janjikan. Aku baru tahu dia tipe morning person, kalau dipikir-pikir selama ini dia selalu bangun lebih dulu dariku. Padahal kami selalu tidur larut karena dia minta jatah, bagaimana bisa dia melakukannya?

Seperti menyadari keberadaanku dia menengok dan tersenyum, "Kebetulan sekali, sarapan paginya sudah siap.." ucapnya mengangkat makanan yang dia buat.

"Hn, terima kasih.." saat menetapkan sesuatu, dia lebih rajin dari yang kupikirkan.

"Kalau sudah cuci muka dan sikat gigi, langsung ke ruang tengah.." pintanya yang masuk ke ruang tengah membawa makanannya dan menyalakan TV.

Entah kenapa dia jadi bersikap lebih dewasa dibandingkan aku, padahal aku jauh lebih tua. Setelah cuci muka aku masuk ke ruang tengah ketika melihatnya makan dengan nikmat, dan aku duduk di arah berlawanan dengannya. Tiap pagi aku biasanya langsung berangkat kerja dan tidak sarapan. Aku melihat menu sarapan yang ada di meja kaki pendek ini.

"Bahkan kau bisa masak.."

"Huh..? Aku bisa sih, tapi tidak terlalu ahli.."

Aku tidak tahu mengapa, selain terlalu keren dia memiliki talenta di luar dugaanku. Aku menyuap karage yang dibuatnya. Seperti biasa, ini enak! Aku menyuap lagi agedashi tofu yang dia buat. Ini juga enak! Masakannya setara dengan buatan Nino. Menyebalkan, kenapa tangannya sangat terampil? Apanya yang tidak bisa?!

"Kalau kau bisa masak, kenapa kau hanya makan ramen?" Tanyaku padanya.

"Masak terlalu merepotkan, jadi aku malas.."

Masak, dong!

"Oh, tapi temanku saat di les seni dulu yang mengajariku cara memasak agedashi tofu ini, jadi aku jamin pasti rasanya enak.." lanjutnya ketika aku memiliki firasat aneh dengan kata teman yang dia ucapkan.

"Teman itu perempuan? Dia pasti mantanmu,'kan?"

Dia terdiam beberapa saat, "Um..Iya sih, tapi itu saat aku masih SMA! Jadi sudah lama sekali, aku bahkan sudah tidak menemuinya! Memangnya kenapa?" Jelasnya dengan tidak santai.

Kenapa kau sangat panik?

"Oh, tidak ada.." aku mengalihkan pandangan darinya, "Omong-omong, terima kasih untuk sarapan paginya.." aku berpikir untuk tidak cemburu lagi, tentu saja baginya punya beberapa mantan itu normal, apa aku waktu remaja terlalu lurus menjalani hidup?

"Oh, benar juga. Besok kau ulang tahun, 'bukan? Bagaimana kalau nanti malam kita berkencan untuk merayakannya?" Ajaknya yang aku tahu arah pembicaraan ini, dia pasti ingin menghabiskan waktu saat aku ulang tahun.

Tapi, semuanya bilang kita akan berkumpul. Kita terbiasa merayakan ulang tahun kami bersama, aku sudah bilang akan datang juga. Rasanya tidak mungkin aku menolak ajakan semuanya karena setelah dewasa dan sibuk dengan pekerjaan, kami jadi jarang berkumpul, meskipun sebenarnya aku juga ingin merayakannya dengan Naruto.

"Hari ini, ya? Maaf, aku sudah janji akan merayakannya dengan saudariku, aku sulit menolaknya karena kami sekarang jarang berkumpul, rasanya buruk sekali kalau aku tidak datang.."

Sebenarnya sudah lama sejak aku dan Naruto jalan keluar bersama. Terakhir kali kami hanya makan malam di luar. Yah, ini bukan berarti kami jarang menghabiskan waktu bersama, tentu saja kami sesekali jalan keluar. Seperti ke perpustakaan saat aku mencari bahan penelitian, toko loak saat aku mencari buku bekas yang masih bagus, mengajaknya ke toko kue dan super market saat kami berbelanja keperluan-

Lho, kalau dipikirkan kok rasanya membosankan ya? Itu tidak seperti kami bersenang-senang bersama, lebih seperti tempat-tempat yang ingin kukunjungi untuk kepentinganku sendiri. Kalau kuingat lagi, aku tidak pernah mendengar Naruto untuk pergi ke tempat yang diinginkannya.

"Begitu, 'ya? Padahal ini kesempatan yang langka.." ucapnya yang membuatku merasa tidak enak.

"Maaf. Kali ini kau tidak perlu repot-repot merayakan ulang tahunku. Lagipula aku tidak begitu memikirkannya.." ucapku yang entah mengapa tidak sesuai dengan keinginanku.

"Aku mengerti. Mau bagaimana lagi kalau untuk keluarga, 'bukan? Kita bisa melakukannya lain waktu.." ucapnya dengan senyuman ramah seperti biasanya.

Dia berkata begitu lagi. Aku menggigit sumpit sambil menatapnya yang beralih menonton TV, dia sama sekali tidak terganggu meskipun aku menolak ajakan kencannya berkali-kali. Kenapa dia begitu mudah menyerah? Aku tahu kami tinggal bersama agar bisa menghabiskan waktu setelah aku bekerja, tapi di malam hari tidak banyak hal yang bisa kami lakukan karena sudah lelah dengan kegiatan di siang hari.

Sekarang kita pacaran, setidaknya pertanyaan huh, kenapa? Itu seharusnya normal saja kalau dia mengeluh. Tapi, Naruto tidak pernah mengatakan sesuatu seperti itu. Aku tahu dia tidak ingin menggangguku karena dia orang yang pengertian. Kita jarang pergi berkencan, bahkan tidak memiliki hobi yang sama, ataupun perbedaan umur kami juga cukup jauh. Aku dan Naruto memiliki banyak perbedaan.

Dan lagi, mungkin saja di lingkungannya ada orang lain yang menyukainya. Dia memang terlihat seperti pria genit, tapi dibalik itu sebenarnya dia orang yang baik dan rajin. Naruto itu populer, tidak hanya tampan tapi dia juga sopan pada siapapun, dia punya kepribadian yang baik. Tidak akan ada wanita yang mengabaikan pria berkilau sepertinya sendirian.

Aku penasaran kenapa pemuda sepertinya memilih wanita tua sepertiku? Aku tidak bisa menghilangkan pikiran bahwa kami tidak cocok. Perbedaan umur kami juga jauh, dan lagi dia adalah mahasiswaku. Apa aku terlalu memikirkannya? Karena tidak ingin mengulang hubunganku di masa lalu? Rasanya seperti aku yang mempermainkannya.

"Oh lihat itu, Itsuki.." aku teralihkan padanya yang menunjuk TV dan aku melihat berita gosip tentang pernikahan Ichika.

"..itu saudarimu, 'kan? Jadi sebentar lagi dia akan menikah ya. Omong-omong, wajahnya mirip sekali denganmu. Pasti sulit membedakan kalau kau bersama saudarimu. Tapi-" jelasnya berkomentar tentang Ichika di acara TV yang dia lihat, "-menurutku Itsuki jauh lebih manis~" gombalnya dengan senyuman, aku mengalihkan mataku darinya.

"Berhenti menyebutku manis..!" Ucapku yang mendapat tawa kecilnya, aku yang selesai dengan sarapanku membawa piring kotor bekas makanku ke dapur. Aku mengikat rambutku ke belakang sebelum mencuci piring. Pikiranku seperti berbicara sendiri, ketika mencuci aku teringat senyumannya tadi.

Payah sekali, berapa kali aku lihat wajahnya yang tersenyum padaku, aku jadi makin menyukainya. Kenapa wajahnya harus setampan itu?! Tidak bukan hanya wajahnya, itu karena aku menyukainya juga. Apa ini? Sebelumnya aku tidak pernah berpikir akan jadi seperti ini. Aku tidak boleh terlena dengan hal-hal romansa seperti ini, aku tidak ingin mengingat pendapat Nino mengenai cinta itu indah sampai lupa daratan.

Awalnya, aku juga senang ketika akhirnya kami memanggil dengan nama depan. Aku memiliki banyak waktu bicara dengannya sampai tanpa sadar aku jadi menyukainya dan aku ingin menyentuhnya. Lalu sekarang setiap kali dia menyentuhku dan menciumku, rasanya seperti aku sedang bermimpi. Semakin lama aku menghabiskan waktu dengannya, aku jatuh cinta semakin dalam padanya. Dan sekarang, aku merasa ingin memiliki dirinya hanya untukku.

"Gochisousama.." aku terkejut begitu melihatnya di belakangku setelah memikirkan hal yang memalukan tadi, tentang sosok pria idealku tepat berada di depanku.

Dia meletakkan piring dan mangkuk bekas makannya di sampingku, "Biar aku yang mencucinya.." ucapku lanjut mencuci piring.

"Kalau begitu, aku akan membantu.." aku meliriknya yang mengambil busa dan membantuku mencuci piring.

Pacar ideal yang tidak mengeluh apapun yang aku lakukan, tapi sebenarnya itu juga menggangguku. Bisa saja aku bertanya langsung padanya, tapi pasti menyebalkan kalau aku masih menanyakan hal seperti itu terus-menerus. Bagaimana kalau pertanyaan itu malah mengarah untuk putus seperti saat itu. Aku lebih tua, aku berharap aku bisa menangani situasinya dengan baik.

Setelah selesai mencuci piring dan meletakkannya di rak piring, aku bisa merasakan tangannya yang basah memeluk pinggangku dari belakang. Wajahnya mendekat dari sampingku membuatku menengok padanya, agak sedikit mendongak karena dia lebih tinggi dariku. Dia membungkuk hingga jarak wajah kami sangat dekat dan sedetik kemudian aku menutup mataku ketika merasakan bibir lembutnya bersentuhan dengan bibirku.

Ini begitu lembut, kira-kira aku harus bagaimana menghadapinya?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Bersulang~" ucapku dengan empat saudariku.

Aku meminum segelas wine yang dibelikan Ichika, kami sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama dan aku senang. Berbeda denganku, keempat saudariku cukup kuat untuk minum-minum, dan terlihat bersenang-senang dengan itu. Meskipun begitu aku baru minum segelas tapi rasanya aku sudah mabuk karena aku jarang minum alkohol.

"Ini rumah yang bagus, Ichika.." ucap Nino sambil tertawa bahagia, dibalik sifat kerasnya ternyata dia sangat enerjik untuk acara seperti ini.

"Aku benar-benar lega kau menyukainya.."

"Ada apa? Wajahmu merah sekali, ahaha!" Nino menggodaku yang mulai mabuk.

"Kau tahu aku lemah dengan alkohol dan sejak tadi kau terus menuangkan winenya.."

"Kau terlihat seperti remaja baru berumur 20 tahun.." meskipun sudah kukatakan begitu, Nino tetap menuangkannya di gelasku, "Tidak apa-apa, khusus malam ini kau juga harus bersenang-senang!" Lanjutnya.

Oh tidak, aku benar-benar akan dibuat mabuk. Kami mengobrol mengenai pernikahan Ichika, tentang bagaimana gaunnya, pestanya, dan hubungan dengan mempelai pria. Ichika juga bilang upacara pernikahannya akan diadakan di Jepang agar kami tidak perlu repot keluar negeri. Aku hanya tersenyum senang melihatnya yang nampak bahagia. Dia akan menjadi pengantin dan jujur saja aku sedikit iri.

"Itsuki.." aku menengok ke arah Ichika saat dia memanggilku.

Aku pindah posisi membelakangi Nino, ketika Ichika terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu padaku, "Bagaimana hubunganmu dengan pemuda itu?"

"Eh?" Aku terkejut sampai tanganku bergetar, "..Ke-kenapa tiba-tiba membahas itu..?" menceritakan hubunganku dengan Naruto itu rasanya memalukan.

Tentu saja, dia mahasiswaku. Hubungan kami tidak biasa dan mungkin bukan hal yang serius seperti Ichika dan pasangannya.

"Ceritakanlah, aku penasaran orangnya seperti apa?" Tambah Ichika membuat semuanya semakin memojokkanku.

"Aku juga penasaran.." ucap Miku ikutan nyeletuk.

"Apakah dia memang tampan? Perlihatkan fotonya padaku, Itsuki.." Nino terlihat antusias.

"Apa? Apa? Itsuki sudah punya pacar?" Yotsuba kelihatan bersemangat saat Ichika memulai topik pembicaraan ini.

"Tenanglah, ini memalukan tahu.."

"Itsuki, memang beginilah dunia wanita dewasa. Waktu untuk mabuk itu berarti waktu untuk ngerumpi. Dan kau itu target kami, jadi ceritakan saja!" Jelas Ichika yang membuatku semakin tidak semangat, itu hal yang sangat memalukan untuk menceritakan privasiku.

Aku mengingat tentang Naruto. Bagaimana pertama kali kami bertemu, itu tidak mungkin untuk diceritakan. Dan lagi, tepat pukul jam 12 malam nanti adalah ulang tahunku tapi dia tidak ada kabar sama sekali. I-ini bukan berarti aku ingin kami merayakannya, lagipula aku yang menolak ajakan kencan darinya untuk berkumpul bersama semuanya. Hanya saja dia tidak mengatakan apapun sejak sarapan pagi tadi.

Kemudian Nino mendelik genit padaku, "Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi aku mulai merasa Yahiko serius padamu. Kau masih muda dan menarik, kau bisa saja balikan dengannya dan manfaatkan uangnya.." candanya yang membuatku kesal.

"I-itu..! Sangat rendahan..!"

"Ahaha! Aku hanya bercanda..! Coba tunjukkan padaku foto orang itu.." Aku mengalihkan pandanganku darinya, ini sangat tidak nyaman.

Dengan terpaksa aku memperlihatkan fotoku bersama Naruto pada mereka, kelihatannya Nino yang paling tertarik karena-

"Apa ini?! Dia sangat tampan dan terlihat agak nakal ya, tipeku banget!" Ucapnya yang sepertinya melupakan tentang suaminya saat ini.

"Guah!" Yotsuba hanya berteriak kagum.

"Jadi dia pemuda yang memberimu bunga saat masa pendekatan?" Miku membicarakan waktu aku ke restaurantnya sambil membawa bunga tulip.

"S-sudah puas, 'kan? Ini sangat memalukan..!" Aku mengeluh untuk tidak membahas hal ini, aku tipe yang kurang suka menunjukkan privasi yang berbau romansa seperti ini, terlalu memalukan dan aku tidak ahli tentang percintaan.

"Kau hebat juga, bisa menggaet berondong sepertinya. Sudah seberapa jauh kalian? Siapa menyatakan lebih dulu?" Nino memberi pertanyaan bertubi-tubi yang membuatku bingung, "Dan seberapa hebat dia saat di ranjang?" Wajahku langsung memerah mendengar pertanyaan terakhir dari Nino.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita telpon saja dia~? Dan tanyakan langsung pendapatnya.. " Ichika membuat wajah menantang, lalu aku lihat dia mulai mengutak-atik ponselku dengan gerakan tangan yang sangat cepat.

"Ah, aku menemukan nomor telponnya. Apa ini? Kau menamainya dengan emot yang manis.." Ucapnya dengan lantang tentang pemberian namaku pada nomor Naruto dan dia menekan icon hijau sehingga nomorku langsung terhubung dengannya.

"Tunggu, hentikan itu..!" Ucapku yang dicegat oleh Yotsuba yang entah kenapa tenaganya cukup besar, "Tunggu, apa yang kau lakukan?!" Aku bertanya dan hanya mendapatinya tertawa garing.

"Hehe, maaf. Aku refleks."

"Kau pasti sengaja..!"

Maaf, nomor yang anda telpon sedang tidak aktif.

Aku mendengar suara notifikasi bahwa ponselnya sedang tidak aktif merasa lega.

"Eh, sayang sekali.." Miku nampak kecewa.

"Hm, padahal aku ingin menipunya.." ucap Ichika yang sudah kutebak.

Yotsuba melepaskanku dan Ichika menyerahkan ponselku lagi, lalu kami melanjutkan minum-minum sambil makan Yakiniku. Tentunya, aku memperlihatkan wajah garang dengan kejahilan mereka dan mereka hanya meminta maaf sembari menyuapiku yakiniku.

"Baiklah..! Semuanya kita lupakan, dan minum sepuasnya!" Aku terjengit begitu melihat gelasku di isi lagi.

Berkat semua saudariku, malam ini aku benar-benar sampai tidak sadarkan diri, aku muntah-muntah di rumah Ichika. Sepertinya aku terpaksa meninggalkan mobilku di rumahnya. Ini sangat melelahkan, aku berakhir buruk di acara seperti ini setiap saat. Ichika terlihat kewalahan sampai aku benar-benar kehilangan kesadaran saat itu. Hanya saja samar-samar aku mendengar Ichika berbicara dengan seseorang ditelpon dan memintanya untuk membawaku pulang. Kupikir dia menelpon supir sewaan untuk mengantar dan membawa mobilku. Aku tidak begitu ingat dan terlelap saat itu, tapi aku bisa mencium aroma yang familiar dalam tidurku. Aroma maskulin dari parfum yang biasa digunakan Naruto, dan aku mendengarnya mengatakan tentang beberapa pertanyaan bagaimana pesta ulang tahunku dengan semuanya, dan aku mengeluh karena dia terlihat tidak begitu peduli dengan ulang tahunku.

Begitu membuka mata, aku melihat ruangan apartementku. Aku sudah duga tadi hanyalah mimpi tentang Naruto. Aku sadar aku sudah dibawa pulang, tubuhku terasa berat seperti ada yang menindihku. Dan aku menengok ke samping dan terkejut bahwa Naruto tengah tertidur sambil memelukku.

Tunggu, sejak kapan aku pulang?! Bukankah Ichika yang menyewa supir untuk mengantarku?! Aku sudah pulang tanpa menyadarinya. Aku menatap wajah tidur Naruto yang nampak damai bahkan suara napasnya terdengar. Tidak tahan menatap wajah tertidurnya yang tampan, aku membalikkan badan lalu ketika aku menjatuhkan tanganku di samping ranjang, aku merasakan paper bag yang diletakkan di dalam tasku yang terbuka. Aku terduduk di pinggir ranjang dan memandang paper bag di tanganku.

Eh, aku tidak ingat membeli sesuatu.

"Itu hadiah.." aku terjengit begitu merasakan dari belakang tangan Naruto melingkar di perutku, dan dia menggeliat sambil tengkurap.

"Tunggu, kalau kau bangun, katakan sesuatu!" Aku mencoba melepaskan diri darinya yang entah kenapa mengencangkan pelukannya pada perutku, "Omong-omong, bagaimana caraku pulang?" Tanyaku.

"Aku menyalakan ponsel dan melihat notif kau menelpon, lalu Ichika-san menelponku untuk menjemputmu, dan aku membawa mobil dan menggendongmu pulang.."

Tunggu, kalau begitu Naruto sudah mengenal Ichika?

"Kau kenal Ichika?"

"Eh? Tentu saja. Aku beberapa kali bertemu dengannya di studio karena dia brand ambassador dari proyek yang dikerjakan atasanku, kami jadi akrab karena membicarakannya.." Jelasnya yang baru kutahu.

Dasar Ichika, berarti saat pesta tadi dia hanya ingin menggodaku.

"Begitu, ya? Kalau begitu, maaf merepotkanmu.."

Entah mengapa, aku mulai gugup.

"Omong-omong, saat mabuk kau bermimpi tentangku ya?" Tanyanya.

"Ti-tidak! Aku tidak ingat bermimpi tentangmu..!"

Tunggu, kenapa dia tahu?

"Tapi kau menyebut namaku dan mengeluh karena aku terlihat mengabaikan ulang tahunmu.."

Aku terkejut dan itu memalukan mengetahui aku melantur saat tertidur. Maksudku aku menolak kencan darinya untuk menghabiskan waktu dengan semuanya, dan sekarang aku mengeluh tentang itu. Sedetik kemudian dia menarikku sehingga aku kembali terbaring di ranjang, dia memaksa memelukku yang mencoba berontak.

"Uwah! A-apa?" Aku bisa mencium bau tubuhnya karena dia begitu posesif untuk memelukku dalam posisi saling berhadapan, aku menunduk ke bawah karena tidak berani menatap matanya.

"Kau tau? Sekarang tepat jam 2 pagi, aku terlambat 2 jam untuk mengatakannya.."

"Eh..?"

Aku bisa merasakan puncak kepalaku dicium dan dielus olehnya, "Selamat ulang tahun.." ucapnya pelan yang tersenyum lembut, itu membuatku terkejut dan aku bisa merasakan dadaku berdetak sangat kencang hanya karena sebuah kalimat ucapan selamat ulang tahun.

Ini memalukan tapi aku juga senang, "Te-terima kasih.." ucapku yang meremas kaosnya saat ini.

"Aku sebenarnya sangat ingin merayakan ulang tahunmu, tapi kau tidak mau, 'kan?"

"Aku tidak pernah berpikir begitu..!"

"Tapi kau bilang kau tidak perlu perayaan apapun dan lagi malam ini kau mabuk.."

"I-ini situasi yang sulit, selain itu aku sudah terlalu tua untuk memikirkan pesta ulang tahun.." kemudian aku mendongak menatap wajahnya yang hanya beberapa centi meter dariku, "..kenapa kau sangat ingin merayakan ulang tahunku?" Tanyaku yang mendapati senyumannya.

Dia merapatkan pelukannya lalu mendekat hingga dahi kami bersentuhan, "Tentu saja karena aku mencintaimu.." ucapnya tanpa rasa malu sedikit pun.

DEG!

Justru malah dadaku berdetak lebih kencang hingga aku hanya terdiam, kami hanya saling berpandangan tanpa mengatakan sepatah kata pun, suasananya menjadi canggung untuk sesaat.

"Kau menunjukkan wajah seperti itu lagi, boleh aku menciummu.." Ucapnya yang membuatku sadar dan jadi salah tingkah karena ucapannya.

"K.. Ke-kenapa setiap kali situasinya canggung, kau mengatakan sesuatu seperti itu?!"

Aku tahu kami menghabiskan setiap harinya dengan ciuman, tapi tetap saja aku belum terbiasa jika dia blak-blakan seperti itu. Dan lagi setiap kami berciuman kami berakhir melakukan hal yang lebih dari itu.

"Karena wajah malu-malumu sangat manis, tanpa sadar aku mengatakannya.."

"T-ta-tapi, bukan berarti kau bisa mengatakannya tanpa beban begitu! Itu memalukan!"

"Benarkah?" Dia malah tertawa kecil sebelum aku merasakan tangannya menyelip di rambutku, "Baiklah, aku mengerti.." lanjutnya yang mencodongkan kepalanya dan mencium keningku lalu mendekapku lebih erat.

Naruto sangat tidak adil. Dia selalu langsung menangkap ku, lalu menjebakku yang tidak bisa kabur. Ciumannya menjalar ke pipi lalu perlahan turun pada bibirku. Dan entah bagaimana aku juga terlena dengan ciumannya yang semakin dalam ketika dia mengubah posisinya sehingga berada di atasku. Ketika pasokan oksigen mulai habis, dia melepaskannya.

"Omong-omong, kenapa kau dan saudarimu merayakannya tanggal 5 Mei? Kau kan lahir tanggal 6.."

"Itu karena aku lahir paling terakhir, saat itu tepat jam 12 malam.."

"Begitu ya? Jadi kau anak bungsu, pantas kau mudah digoda~"

"Mana mungkin begitu.." kemudian aku merasakan tangannya meremas dadaku, "A-a..apa yang kau sentuh?!" Pemuda pirang di hadapanku ini malah tersenyum.

"Kenapa terkejut? Ini kan sudah biasa~" aku mengalihkan pandanganku darinya.

Aku hanya menutup mataku ketika Naruto membuka 3 kancing kemejaku dari atas dan tangan dinginnya mulai menyelip ke belakang punggungku untuk melepas pengait braku lalu menariknya sehingga lepas. Kedua dadaku terpampang di depannya, hanya saja aku masih mengenakan kemejaku yang setengah terbuka dari atas.

"Kenapa kau melepaskannya seperti ini? Aku malu.." aku langsung menutupi dadaku dengan tangan, aku masih mengenakan bajuku saat bekerja kemarin, dia hanya membuka 3 kancing di bagian atas sehingga hanya memperlihatkan dadaku saja.

"Jangan ditutupi, aku sebenarnya sudah lama ingin melakukannya seperti ini.." wajahnya tiba-tiba merona, "..jadi ini hanya fantasiku saja, tapi kau nampak dewasa dan berbeda saat di kelas, jadi aku beberapa kali membayangkan hal-hal kotor saat itu.." mendengarkan pemuda itu bicara soal fantasi kotornya saat aku sedang bekerja benar-benar membuatku merasa dipermalukan.

"Kau mesum!" Aku menghujatnya dan kembali menutupi dadaku.

"Sudah kubilang, jangan menutupinya. Aku ingin melihatnya, soalnya ini membuatmu makin sexy.." dia menggenggam tanganku dan menariknya agar aku tidak menutupi dadaku, dia tersenyum dan menatap intens pada dadaku, semakin lama dia menatapnya aku semakin malu.

Naruto menunduk ke bawah dan menjilat puncak dadaku, "Ahh! Tunggu.." aku merasakan puncak dadaku yang dilahap dan dihisap kuat oleh mulutnya, sedangkan tangannya yang lain menggenggam tanganku dan membawanya untuk tepat menyentuh kejantanannya yang sudah keras di balik celana hitam panjangnya.

"Di sini, kau juga sentuh aku.." ucapnya ketika berhenti memainkan dadaku.

Aku menatapnya dengan ragu, sampai akhirnya dia kembali mengajakku untuk bercumbuan dengan bibirnya. Ini sangat memalukan, tapi tanganku masuk ke dalam celananya dan membawa batang keras itu keluar dari sangkarnya. Aku meremas dan menggesek batangnya dengan tanganku saat kami tengah bercumbu mesra. Dia perlahan-lahan semakin keras dan tanganku menjadi basah karena cairan penetrasinya.

Dia melepaskan cumbuannya dan bangkit sedikit ke atas, kami saling menatap dengan deru napas yang memburu. Aku merasakan tangannya mengangkat rok span hitamku ke atas menunjukkan stocking abu-abu transparan dan celana dalamku juga mungkin terlihat jelas. Aku merasakan jarinya menyentuh area sensitifku yang masih dilapisi stocking dan celana dalam. Aku menutup mataku seketika karena menegang ketika dia menggesek jarinya dengan pelan.

"Bagus, ini mulai basah.." ucapnya karena aku makin terangsang dengan jarinya yang menggesek dan menekan area sensitifku.

"Mnh! Ka-kau juga.. mnh~ ini sudah mulai membesar.." aku merasakan batangnya makin membesar dari tanganku.

Kemudian dia berhenti lalu aku melihatnya merobek stocking yang aku kenakan tepat di area sensitifku, "Tu-tunggu! Kenapa kau merobeknya?" Aku bertanya sementara dia memperlihatkan tampang polosnya.

"Ah, aku melakukannya tanpa pikir panjang.."

"Apa kau bodoh?"

"Lagipula ini juga bagian dari fantasiku. Dari pada itu.." dia menyampingkan celana dalam yang kukenakan sehingga memperlihatkan area sensitifku dengan lebih jelas, "..aku sudah tidak bisa menahannya lagi.." jelasnya.

"Eh? Apanya?" Tanyaku ketika mendapati tangannya menapak di kedua sisi kepalaku, aku juga berhenti menyentuh batangnya karena dia menatap intens padaku.

"Itsuki, mau pegangan tangan?" Tanyanya ketika aku merasakan kedua tanganku digenggamnya dan menahannya di kedua sisi kepalaku, jari-jarinya menyelip diantara jariku seakan mempererat genggamannya dan wajahnya sangat dekat hingga kening kami bersentuhan, "..aku akan memasukannya sekarang.." ucapnya ketika aku merasakan batang besarnya mulai menyatu dengan lubang di area sensitifku, perlahan demi perlahan dan aku hanya bisa menutup mataku sambil merasakan batang itu semakin tenggelam lebih dalam hingga ujungnya.

Dan entah bagaimana waktu sudah terlewati setengah jam, tangan Naruto masih menggenggamku dan menghujamku dalam posisi yang sama. Aku menyampingkan wajahku dengan mata tertutup karena tidak ingin menatapnya, tapi aku bisa mendengar gemuruh nafasnya saat bergerak. Batangnya bergerak dengan tempo yang berubah, kadang cepat dan kadang melambat, melakukan seperti apa yang dia inginkan. Sejujurnya itu juga membuatku semakin bergairah.

"Ah! Ah.. ahn! Na-naruto.. Aaah..!" Aku hanya bisa mendesah tanpa berkomentar tentang apapun.

"Itsuki.." aku mendengarnya menyebut namaku dan aku merasakan tangannya membawa tanganku pada bibirnya, "..aku cinta kamu.." ucapnya mengecup punggung tanganku, aku langsung merasa malu mendengarnya mengatakan hal itu dengan sangat romantis.

"Berhentilah mengatakan itu..! Ah.."

"Kenapa?" Dia berhenti bergerak seketika.

"Karena setiap kali kau melakukannya, itu memalukan..!" Aku mengalihkan pandanganku darinya.

Naruto malah tersenyum nakal dan kembali bergerak, "Kenapa responnya begitu? Kita melakukan hal-hal yang memalukan sejak tadi dan kau malah malu sekarang.."

Dia memang pandai bermain kata-kata.

"Ah! Ahn.. Tidak, ini karena.. ah.. ahn! Naru-..ngh~" aku belum selesai mengatakan pendapatku dan dia malah menciumku dan mengajakku bercumbu mesra, tapi aku malah terlena dengan itu dan mengikuti keinginannya.

Dia berhenti menciumku dan memelukku dengan erat, mencium keningku dengan penuh kasih sayang lalu memandangku dengan senyuman lembutnya. Entah bagaimana hari ini dia bertingkah sangat manis dan membuatku berdebar.

"Aku senang, aku ingin hidup bersamamu dan membuatmu bahagia.." ucapnya yang membuatku terperangah dan kembali memelukku.

Ini pertama kalinya ada sesosok pria yang mengatakan itu padaku. Sebuah kata yang sudah kutunggu dari seseorang yang akan mencintaiku.

Dan kata-kata itu muncul dari Naruto. Seorang pria yang lebih muda dariku, seseorang yang tidak bisa kupercaya dan selalu membuatku gelisah. Dan sekarang, ketika aku melihatnya mengatakan hal itu dengan wajah bahagia, aku tidak bisa menahan perasaan senang pada diriku.

Aku mencintainya juga.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku memandang langit sore sambil berjalan kaki ke rumah, aku sangat lelah karena pesta ulang tahun kemarin dan Naruto terus memelukku tanpa henti semalaman. Meskipun, aku senang saat dia mengatakannya. Aku memandang cincin yang terpasang di tanganku, wajahku memanas mengingat apa yang Naruto ceritakan ketika memberiku hadiah ulang tahun.

Ini cincin yang diberikan bibiku sebelum meninggal, dia bilang cincin itu milik Ayahku yang ingin melamar Ibuku. Ayahku kehilangan nyawanya sebelum itu terjadi, dan bibiku bilang aku harus melamar seorang wanita yang kusuka dengan cincin itu. Aku sudah memutuskannya, aku ingin hidup bersamamu.

Melamar ya? Apa dia seserius itu? Aku tidak ingin terlalu mengharapkannya. Dan lagi kita baru berkencan tidak lama ini, lalu dia berkata akan melamarku tepat di hari ulang tahunku yang ke-28. Apa dia bodoh?

Kenapa dia harus repot-repot melakukan sesuatu yang begitu manis untukku? Apa yang harus aku lakukan? Semakin dalam perasaanku, aku semakin khawatir. Apakah hubunganku dengan Naruto akan baik-baik saja.

Sejujurnya aku merasa bahagia, tapi perasaan itu juga bercampur dengan kekhawatiranku. Apakah dia juga merasakan hal yang sama? Atau memikirkan kekhawatiran yang serupa denganku? Pertanyaan yang sama setiap waktunya. Aku tahu itu, kilauan dari sebuah cincin di tanganku belum tentu berhasil. Itu yang selalu terjadi setiap kali aku bersama Naruto.

Aku sampai di rumah dan membuka pintu, sesaat aku mencium bau manis yang enak. Ini bau kue yang sangat enak.

"Naruto, bau apa ini?" Aku bertanya dan masuk ke dapur lalu melihatnya sedang menghias kue dengan krim.

"Wah! Kenapa pulangnya cepat sekali?!" Ucapnya saat kulihat dia malah panik sendiri.

"Apa yang kau lakukan?" Aku mendekatinya yang melihat kue dengan namaku terukir di atasnya.

"Ah, itu.." Naruto memandangku dan terlihat gugup, "..hari ini kau masih ulang tahun, jadi aku berpikir untuk membuat kejutan agar kau senang.. Kita tidak melakukannya kemarin dan kau terlihat ingin kita merayakannya bersama.." aku memandangnya karena terpukau dengan hal itu, hatiku rasanya berdegup lebih kencang saking bahagianya.

Lagi.

Perlakuan yang membuatku berharap lebih.

Aku menunduk tak berani menatapnya langsung, "Terima kasih. Aku tahu aku sudah mengatakannya semalam, tapi sekali lagi terima kasih untuk hadiahnya.." aku menggenggam tanganku yang tersemat cincin pemberiannya, "Dan juga- lamaran ini sangat tiba-tiba, aku tidak benar-benar tahu harus bagaimana tentang itu. Aku ingin kau tumbuh menjadi pria dewasa yang siap menanggung komitmen dulu. Tapi, ini pertama kalinya seorang pria melamarku, aku tidak berpikir itu hal buruk. Bukan berarti aku juga tidak memikirkannya, jadi..!" Aku berhenti dan kebingungan untuk mengutarakan permasalahanku padanya, pandanganku jadi berputar-putar dalam kecemasan.

"Jadi apa yang berusaha kau katakan padaku, Itsuki?" Tanyanya membuatku semakin menunduk untuk menyembunyikan kegugupanku.

"A-aku.. aku bersyukur bisa bertemu denganmu di sini.."

Oh tidak, aku mengatakannya. Ini sangat memalukan. Naruto hanya menatapku dalam diam, kenapa kau hanya berdiam diri seperti itu? Aku langsung berbalik darinya dan ingin melarikan diri dari situasi aneh ini.

"Aku baru ingat, aku ingin membeli jajanan di minimarket.." ucapku yang mulai berjalan, tapi tanganku di tahan olehnya.

"Bodoh! Kenapa kau selalu melarikan diri seperti itu?" Tanyanya yang bisa kudengar, aku merasakan tangannya menarikku ke belakang dan memelukku erat.

Tanganku mencoba menarik tangannya yang melingkar tepat di pundakku, "Tu-tunggu?! Naru-" aku bisa merasakannya menunduk untuk mencium puncak kepalaku.

"Aku sangat bersyukur bertemu denganmu juga. Dan aku ingin lebih banyak mengetahui tentangmu. Tetaplah seperti ini, atau kita akan mengacaukannya lagi. Kau sangat manis, aku ingin menikahimu sekarang.." ucapnya pelan hingga membuatku terdiam, aku bisa merasakan jantungku berdebar lebih cepat sekarang.

"Kau harus melakukannya sesuai urutan, bodoh..!"

"Aku tidak bisa, aku sangat mencintaimu. Karena itu, aku ingin menikah denganmu.." ucapnya yang terdengar sangat tulus hingga hatiku tergerak.

Aku merasa menjadi semakin serakah, aku ingin memilikinya dan mengejar kebahagiaan yang sama. Dari setiap detil darinya yang baru kupelajari, aku semakin ingin mengetahui banyak hal tentangnya.

Meskipun aku belum menemukan petunjuk pertama bagaimana berbicara dengannya dengan benar. Sesuatu darinya yang signifikan, sesuatu yang sepele dan tidak penting, tidak peduli seberapa kecilnya itu. Aku ingin mencaritahu tentang dirinya yang belum aku tahu. Tapi, itu sedikit menakutkan karena aku merasa cintaku padanya jadi semakin besar. Aku tidak memberontak lagi, dan menerima pelukannya yang hangat.

"Itsuki, aku mencintaimu.."

"Kau memang pemuda yang bodoh.."

Aku tidak ingin mengakuinya bahwa aku masih ingin mengetahui dan mendengar lebih banyak tentangnya. Pada akhirnya, aku tidak bisa bertanya padanya. Dan menimbulkan lebih banyak pertanyaan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC dengan uwu, bagaimana dengan keuwuan chapter kali ini, mina-san?

Silahkan apresiasi di kolom review, boleh bertanya apapun yang kalian suka, Erocc akan menjawab.

Chapter depan pake prespektif Naruto, tunggu yaa.