Judul : Nijuuhassai desu ga, Mondai ga Arimasenka?

Chapter : 8

Crossover : Naruto x Gotoubun no Hanayome

Genre : Romance, AU, comedy, Slice of life, parody, ooc, dll.

Pairing : Naruto Uzumaki x Itsuki Nakano

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto dan Gotoubun milik Negi Haruba, Saya hanya pinjam chara untuk dinistakan :v

Rating : M

A/N :

Erocc tidak tahu apa yang harus dikatakan, baca sajalah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto pov*

Hari ini adalah hari pernikahan saudari pacarku, atau setidaknya aku mendapat pekerjaan untuk menjadi fotografer di acara pernikahannya. Aku mendapat tugas memotret sedangkan Kiba sedang sibuk berjalan sambil merekam. Aku memakai setelan jas yang baru kubeli kemarin. Aku melihat lalu lalang pengunjung yang hadir di pintu ruangan resepsionis, bahkan anak-anak turut riang gembira ke sana kemari.

Seorang public figure memang hebat, banyak sekali orang-orang penting yang datang, bahkan seorang pejabat penting. Aku menatap kepada seorang pria bersurai abu-abu yang disisir ke belakang dengan rapih, wajahnya terlihat sangar namun cukup tegas. Dia merupakan mempelai prianya, sekarang sedang sibuk menyalami tamu. Tak butuh waktu lama, aku memotretnya.

Mempelai Nakano Ichika adalah Hidan, seorang gitaris band terkenal Akatsuki, aku sedikit mengenal pria ini karena dia berteman dengan kakak sepupuku. Aku menatap kakak sepupuku yang tepat berada di sampingku berdiri sambil menatap temannya yang akan menikah.

"Aku terkesan kau menerima pekerjaan ini, Naruto.." ucap sepupu wanitaku ini dengan senyumannya.

"Yah, kan Kak Karin sendiri yang memintanya.." jelasku padanya yang memandangku, lagipula aku datang karena resepsi ini merupakan pernikahan saudari Itsuki.

Aku dimintai tolong oleh Ichika-sansehingga mendapatkan pekerjaan untuk memotret dan mendokumentasi acara pernikahannya, lagipula pemilik agensinya itu teman dari bossku. Aku terkejut ternyata hotel yang digunakan untuk resepsi merupakan hotel yang dikelola Kak Karin.

Aku sejujurnya tidak begitu menyukai Kak Karin karena dia sangat mematuhi tatanan keluarga Uzumaki, termasuk menjadi direktur dari bisnis perhotelan ini. Aku tidak bilang dia itu buruk, meskipun begitu dia sangat baik padaku, dan bersikap layaknya kakak perempuan.

"Kudengar kau keluar dari rumah utama, lalu menyewa apartement kecil. Paman dan bibi marah besar karena itu, kau tahu?" Aku mendelik padanya yang mulai membahas keadaan Ayah tiri dan Ibuku di rumah.

"Aku tahu.." aku terdiam berpikir sejenak sebelum mengutarakannya, "..aku berpikir untuk keluar dari silsilah keluarga Uzumaki, dan mencabut hakku sebagai ahli waris perusahaan kakek.." ucapku yang membuatnya terkejut.

"Kenapa?"

"Yah, sejak awal pun kau tahu, betapa sulitnya aku bisa diterima di sana. Kerabat Ibuku membenciku, 'kau tahu? Bahkan, aku tidak berencana untuk mengganti nama keluarga Ayahku.." jelasku mengingat masa kecilku yang dirawat adik Ayahku.

Ibuku melahirkanku tanpa pernikahan adalah aib besar dalam keluarga Uzumaki, itu adalah kesalahan terbesarnya. Kakek tidak mengizinkan Ibuku untuk merawatku, karena itu aku dirawat bibiku dari pihak Ayahku. Sejak awal, aku memang sudah dibuang lalu kenapa aku harus kembali? Kakekku memutuskan merawatku karena Ibuku tidak melahirkan anak laki-laki di pernikahan keduanya.

Aku mengingat wajah Itsuki seketika, "..dan juga, aku punya alasanku sendiri.." aku mencoba tetap tenang ketika pembicaraan ini mulai terkesan serius.

Tentu saja, Ibuku pasti akan marah besar jika dia tahu kalau aku berkencan dan tinggal dengan wanita yang tujuh tahun lebih tua dariku. Terutama dia ingin aku menikah dengan gadis pilihannya dan bilang itu masa depan terbaik untukku. Dia selalu memutuskan apapun yang kulakukan karena takut aku salah langkah sepertinya dulu.

"Kau tahu? Kurasa Ibumu tak akan membiarkannya.." ucap kak Karin yang sudah kutahu.

"Aku tahu, karena itu aku akan bicara padanya diwaktu yang tepat. Sekarang kami hanya akan bertengkar.." jelasku mengingat wanita yang disebut Ibuku itu.

"Setidaknya kau bisa menjenguk nenek, 'bukan? Belakangan ini kondisi kesehatannya menurun, keadaan di rumah pun jadi lebih buruk karena itu. Terutama bibi Fuso, dia sangat licik. Dia terus menyalahkanmu dengan keadaan Nagato, entah hal licik apa yang akan dilakukannya pada bibi Kushina.." lanjut Kak Karin mengingatkanku pada kakak Ibuku yang mengerikan, dan sepertinya dia mengincar warisan kakek yang jatuh padaku, bukan anaknya.

Aku terkekeh, "Ibuku bukan wanita yang lemah, dia lebih licik dari bibi Fuso. Tapi baiklah, kapan-kapan aku pulang. Kau puas?" Ucapku yang berjalan menjauhinya.

Aku menuju ke sebuah ruangan lain yang merupakan tempat bersolek untuk pengantin wanita, aku berniat memotret moment antar saudara yang terdengar tengah mengobrol di balik tirai putih ruangan ini. Aku melihat ke dalam dan aku terkejut. Bukan bagaimana begitu jelita pengantin wanita di hadapanku. Lebih tepatnya pengantinnya ada empat dan mereka semua berdandan dengan penampilan gaun pengantin dan gaya rambut yang sama, begitu serupa.

"Wah, Ichika-san ada empat!" Aku mengucapkan kata itu saking terkejutnya, "Tunggu, lalu yang mana Itsuki diantara kalian..?" Aku bertanya karena aku memang datang kemari untuk menemui Itsuki.

"Kami terlihat mirip, 'bukan?" Salah satu diantara mereka mendekat hingga wajahnya berada sangat dekat tepat di depanku.

"Menurutmu yang mana Itsuki?" Yang lainnya merangkul lengan kiriku.

"Kalau kau memang tulus padanya, kau seharusnya tahu.." yang lainnya lagi merangkul lengan kananku seperti bergabung untuk menggodaku.

"Coba tebak, Naruto.." seseorang yang duduk di bangku tersenyum padaku.

Sialan, surga macam apa ini? Rasanya seperti aku digoda haremnya Itsuki. Mereka semua benar-benar mirip saat menggunakan penampilan yang sama, terutama mereka bisa meniru logat Itsuki dengan sempurna. Aku hanya tersenyum menanggapi candaan dari mereka.

"Kalian semua terlihat sama, aku tidak tahu.." jelasku tertawa garing.

"Kau sudah menyerah?"

"Berusahalah sedikit lagi.."

Tak lama setelah itu muncul seseorang dari ruangan lain, "Aku sudah mengatakannya pada Ayah, kita akan melakukan permainan kembar Lima saat upacaranya nanti.." ucap seseorang yang serupa dengan mereka dari balik pintu lalu terkejut ketika melihat keberadaanku yang tengah dirangkul kedua saudaranya, "Na-naruto, kenapa kau ada d-di sini?" Dia sangat gugup lalu mengangkat bawahan dari gaun pernikahan ketika melangkah.

Yang ini, dari tingkahnya pasti Itsuki yang asli.

Tangannya menarikku untuk menjauh dari para wanita kembar yang mengerubungiku, "Berhenti menggodanya seperti itu, permainan ini kan ditujukan untuk mempelai pria..!" Ungkapnya yang memarahi semua saudaranya.

"Karena dia muncul jadi kami menggodanya sedikit~ kau tidak perlu cemburu.."

"A-aku tidak cemburu..!"

"Lagipula kita sudah tertangkap basah karena kemunculanmu.."

Aku memandangi mereka sebelum bertanya, "Kenapa kalian semua memakai gaun pengantin?"

"Permainan kembar lima, kami hanya ingin tahu apakah mempelai pria bisa mengenali pengantin wanitanya saat berbaur dengan kami. Kami melakukannya setiap kali saudara kami akan menikah.." ucap salah seorang yang kuyakin dari suara dan logatnya yang nampak dewasa adalah Ichika.

"Wah, itu akan mengurangi sedikit kepercayaan diri mempelai pria jika salah menebak.." aku hanya tersenyum canggung menanggapinya, "Itu berarti kalau aku menikahi Itsuki, kalian akan melakukan permainan yang sama?" Tanyaku menunjuk Itsuki yang ada di sebelahku, dan dia langsung terkejut dengan ucapanku.

"Tentu saja, tapi ini hanya permainan untuk menjahili mempelai pria, jadi kalau salah kami hanya menertawakannya saja kok. Tentu saja, dengan sedikit kejahilan."

"Rasanya mempelai pria akan mengalami mental break down.."

"Hahaha! Tidak akan jadi lebih buruk, selama ada cinta.." jelas salah satu dari mereka dengan santainya, dan kedua tangannya membentuk hati.

"Kalau begitu, aku akan memotret kalian untuk kenangan.." jelasku ketika mereka tersenyum senang dan mulai berpose.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan benar saja ketika mereka menjahili mempelai pria dengan permainan kembar lima, membuat gitaris band itu panik karena disuruh menebak sebelum memulai ijab kabulnya. Itu menjadi lelucon yang lucu di acara pernikahan ini.

Aku memotret kenangan itu sampai akhirnya keempat saudara kembar mengganti pakaiannya selain Ichika yang harus duduk disinggah sananya bersama mempelai pria. Aku berjalan beriringan disamping Itsuki di saat wanita itu tengah memandang takjub kue-kue yang berjejer di meja. Lebih tepatnya dia tidak sabar untuk memakannya.

"Itu memang terlihat lezat, makan secukupnya saja.." aku memperingatinya yang langsung menatapku tajam, aku memperingatkannya karena dia suka mengeluh tentang berat badannya.

Kemudian Itsuki terlihat menatapku untuk beberapa saat, "Kenapa?" Aku bertanya padanya.

"Tidak, hanya saja kau tampil beda saat ini. Kau menata rambutmu dan memakai setelan jas hitam, kau terlihat lebih dewasa dan keren.." wajahnya memerah ketika memujiku.

"Yah, soalnya Ichika-san mengundangku. Lagipula, ini pertama kalinya aku mendapat pekerjaan yang bersifat formal. Aku malah baru saja membeli setelan jas ini kemarin.."

"Dan lagi karena itu kau menarik perhatian banyak orang, aku lihat kau mendapat banyak foto gadis-gadis.." lanjutnya yang merajuk ketika aku mengingat perhatian orang-orang yang mengenal orangtuaku.

"Ah, mungkin itu karena keluargaku. Kau tahu, perusahaan keluargaku cukup terkenal, aku suka dapat perhatian karena itu. Lagipula, beberapa tamu di sini merupakan kolega perusahaan saat aku magang. Dan beberapa artis muda dan model juga adalah teman sekolahku dulu, waktu SMA aku sekolah di SMA yang cukup elit sih.." jelasku yang memang kuakui beberapa dari tamu yang berkunjung mengenal ibu dan ayahku, beberapa artis terkenal juga adalah temanku waktu sekolah dulu.

Aku bahkan diberikan foto anak perempuan cantik kenalan ibuku yang sepertinya ingin menjodohkanku.

"Begitu.." kelihatannya dia cemburu, sepertinya aku tidak perlu mengatakan soal perjodohan itu.

"Jangan khawatir, itu bukan berarti aku tertarik dengan semua itu. lagipula, aku pikir Itsuki yang mengenakan gaun putih juga manis, banyak pria kaya papan atas yang diam-diam memandangimu.." pujiku padanya yang mengalihkan pandangan kembali pada kue-kue dan minuman di meja, tapi ekspresinya berubah ketika dia bertemu pandang dengan seorang pria bersurai jingga yang sebelumnya adalah si mantan yang ribut dengannya, pria itu terlihat baru datang.

Itsuki mengalihkan pandangannya dari pria itu lalu mengambil segelas minuman yang tersedia, dari raut wajahnya Itsuki nampak tidak nyaman. Dan benar saja pria itu menghampiri kami sampai akhirnya aku bertemu tatap dengannya sebentar, sebelum aku merasakan Itsuki merangkul lenganku lalu tersenyum manis sebelum akhirnya bicara.

"Naruto, kau bilang ingin pergi denganku, 'kan?" Tanya Itsuki yang membuatku bingung ketika tiba-tiba dia nampak bergelayutan manja, tidak seperti biasanya.

"Pergi?"

"Dua hari lalu kau bilang ingin pergi ke taman hiburan denganku, 'bukan? Aku jadi penasaran kapan kau libur.." Dia semakin berdempetan denganku ketika mantannya itu berjalan tepat di belakang kami dalam diam, tapi aku bisa merasakan tatapan sinisnya.

Begitu, ya? Itsuki ingin terlihat mesra denganku sebagai sindiran sarkastis pada mantannya, aku tersenyum sebelum akhirnya aku mengikuti keinginannya.

"Benar juga, kurasa aku libur besok.." ucapku.

"Ah, kalau aku check in hotel malam ini di dekat taman hiburan tidak masalah, 'kan?" Jelasnya yang membuatku terkejut karena dia seperti ingin memperjelas keintiman hubungan kami di depan mantannya yang terperanjat tiba-tiba, kalau dia kembali menyukai Itsuki tentu omongan seperti ini pasti menyakiti hatinya.

"Tentu saja.." jawabku ketika akhirnya si mantan Itsuki ini melewati kami dalam diam seakan tak peduli, kalau tidak salah namanya Yahiko.

Lalu si mantan terlihat memanggil saudara kembar Itsuki yaitu, Miku dan Yotsuba yang tengah mengobrol di meja lain. Bersamaan kulihat Itsuki mengendurkan rangkulan tangannya pada lenganku lalu memperhatikan mantannya yang tengah mengajak kedua saudaranya mengobrol.

"Maaf, aku menggunakanmu untuk hal yang kekanakan.." Aku melihat ekspresi wajahnya mulai berubah seakan tak enak karena memperalatku.

Aku tertawa sejenak dan membuat Itsuki menatap aneh padaku, "Tidak apa, justru sebenarnya aku cukup menikmati hal-hal seperti ini. Yah, aku terkejut saat kau bilang sesuatu yang menggoda di tempat umum, aku jadi agak malu.." jelasku padanya lalu aku menunduk padanya ketika kutatap wajahnya yang lebih pendek dariku.

"Maaf, itu juga memalukan untukku.."

"Sebenarnya aku harap janji ke taman hiburan itu jadi kenyataan.." lanjutku yang membuatnya berubah menjadi gugup, "..begitu juga, dengan check in hotelnya nanti malam.." aku berbisik di dekat telingahnya yang seketika wajahnya memerah.

"Be-berhenti menggodaku begitu! Sikap ramahku memang aneh, tapi aku ingin kau untuk memahaminya.." Dia mulai malu-malu dan melahap kue-kue di depannya, cara makannya seperti seekor hamster.

Itu terlihat imut.

Aku kembali melihat si mantan yang tengah meminum sampanye dari gelasnya, sekilas saja aku tahu dia tengah curi-curi pandang ke arah Itsuki yang tengah menikmati kue mangkuk ditangannya. Aku sebenarnya bukan tipe yang mudah cemburu, hanya saja tingkahnya juga cukup menggangguku.

"Dia sepertinya penasaran dengan kita.."

"Kau hanya perlu bersikap secara alami.." lanjut Itsuki yang berbisik.

"Kalau begitu, tidak masalah selama aku bersikap alami..?"

"Ah, kurasa begitu.." jelasnya yang nampak bingung sendiri.

Wajahku melesat menunduk tepat beberapa centi dari wajah Itsuki yang melotot dan sedikit mundur, "Kenapa? Kau bilang untuk bersikap alami.." tanyaku yang membuatnya semakin gugup ketika dia menyadari bahwa aku akan menciumnya.

"Kau tidak perlu melakukannya sejauh itu, di sini banyak orang.." Jelasnya yang kemudian aku merangkul pundaknya dan menariknya mendekat di sampingku.

"Bagaimana dengan ini?"

"Kalau hanya ini tak begitu bur-" aku langsung menunduk dan melesat mencium bibirnya, Itsuki langsung terdiam.

Si mantan langsung melotot, semua saudara Itsuki dan kenalannya yang tanpa sengaja melihat juga terkejut. Beberapa tamu undangan yang menawarkan perjodohan denganku juga terkejut, sebelum akhirnya aku melepas tautan bibir kami. Itsuki nampak terkejut sampai seluruh wajahnya memerah seperti tomat. Sementara aku hanya tersenyum puas memandangnya.

Itsuki terlihat menarikku belakangnya ketika aku sadar si mantan menghampiri kami dengan raut wajah masamnya, ketika jarak mereka hanya tinggal beberapa jengkal. Pandangannya mengarah pada Itsuki yang memandang sebal padanya. Sebelum akhirnya si mantan ini tersenyum padaku yang kuyakin itu adalah senyuman palsu.

"Sebelumnya kita bertemu dengan cara yang buruk, namamu Naruto, 'bukan?" Tanyanya padaku ketika kulihat dia menarik Itsuki untuk menyingkir karena menengahi kami berdua, "Halo, aku Fuuma Yahiko, temannya Itsuki.." ucapnya menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan denganku, aku menatapnya yang terlihat mencoba untuk mendominasi ku.

"Kalau begitu, senang berkenalan denganmu.." ucapku berjabat tangan dengannya sebelum akhirnya Itsuki yang jengkel mulai bicara.

"Hey, sebenarnya ada apa denganmu, Yahiko-kun? Jika kau buat masalah dengan Naruto, aku akan sangat marah.." Itsuki menatap Yahiko yang masih tersenyum, lalu pria itu nampak membuka setelan jas yang dia kenakan lalu membuka kancing kemeja di pergelangan tangannya dan menggulung lengan bajunya.

"Kudengar kau berasal dari keluarga Uzumaki, 'bukan? Kantorku punya kerja sama dengan Uzumaki Steel beberapa kali, tidak kusangka aku bertemu anak dari pemilik perusahaan besar itu.." si mantan ini nampaknya sudah tahu banyak tentangku.

"Yahiko diamlah dan menjauh saja sana.." Itsuki mencoba mendorong si mantan ini yang masih tidak bergeming dari tempatnya, tentu saja sekarang kami mendapat perhatian beberapa orang yang peduli akan situasi kami.

"Aku dengar dari media, kau menyukai seni. Aku cukup tertarik dengan bidang seni rupa.." jelasnya yang berpura-pura bersikap ramah padaku.

"Saya mengenal beberapa pelukis hebat, saya akan menghubungi anda untuk minum kopi bersama mereka.." jelasku.

"Benarkah? Aku cukup tersanjung.."

"Yahiko, hentikan itu dan cepat pergi saja..!" Bisik-bisik Itsuki yang kembali mencoba mendorong si mantan untuk pergi.

"Ah, Itsuki. Kalau di pikir-pikir wajahmu masih saja cantik seperti waktu kuliah dulu.. ah, tapi ada sedikit kerutan karena usia.." ucap si mantan ketika Itsuki malah tersenyum kaku menghadapinya.

"Apa kau gila?" Itsuki menatap si mantan dengan pandangan jijik.

"Ah, kau tahu? Waktu kuliah dulu, Itsuki ini pacarku. Kami banyak menghabiskan waktu bersama jadi aku tahu dia ini cukup bodoh dalam menilai seseorang, sekarang dia sudah cukup tua, aku khawatir dia akan dipermainkan pria muda kaya karena takut kesepian.." jelasnya yang seperti menyindirku.

"Saya rasa anda salah, Itsuki bukan wanita yang mudah dibodohi seperti perkataan anda. Bahkan, saya juga ditolak dua kali olehnya. Itsuki adalah wanita berpendidikan tinggi yang saya temui, anda sendiri tahu bahwa dia seorang pengajar, 'bukan?" Aku menatap tajam si mantan yang terdiam beberapa saat.

"Kau ini pintar bicara juga ya?" Tanya si mantan sebelum akhirnya aku bertanya.

"Justru bagi saya pria yang mencampaknya adalah orang yang paling bodoh. Dunia ini membutuhkan wanita yang kuat. Wanita yang akan mengangkat dan membangun orang lain, yang akan mencintai dan dicintai. Wanita yang hidup dengan berani, lembut, dan galak. Wanita dengan keinginan kuat." Lanjutku memuji Itsuki yang ikut terdiam ditempatnya, sepertinya dia tak menyangka aku akan mengatakan hal seperti itu.

"Berhenti mempermainkannya dengan kata-kata manis seperti itu, kau ini tidak serius, 'bukan? Usianya bahkan jauh di atasmu.."

"Saya serius. Saya menyukainya. Itsuki yang kuat tidak akan bermain sebagai korban. Jangan membuatnya terlihat menyedihkan karena tudingan anda." Aku kemudian memegang tangan Itsuki lalu menariknya untuk pergi dari tempat tersebut, "Ayo.." aku langsung mengajaknya keluar dari acara resepsi pernikahan tersebut tanpa mempedulikan pekerjaanku saat itu.

"Eh tunggu, Naruto.."

Aku mengabaikan elakan Itsuki dan terus menariknya menjauh dari tempat itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan sekarang aku dan Itsuki duduk di bangku bagian belakang mobil Itsuki sambil terdiam, nampak parkiran mobil yang sepi. Itsuki terlihat menghela nafas memandangku dengan guratan kekesalan.

"Yang kau lakukan terlalu jauh, sekarang semua orang tahu kalau kita berkencan.."

"Maaf, aku hanya ingin menunjukkan pada orang lain kalau aku sudah punya wanita yang kusukai. Dan aku kesal saat dia berkata buruk tentangmu, terutama saat dia bilang aku hanya main-main denganmu. Memangnya kenapa kalau aku lebih muda darimu?" ucapku tanpa menatap Itsuki, aku menatap keluar jendela dimana terdapat banyak mobil terparkir.

"Hah, kau ini.." ucapnya.

Kemudian aku terkejut ketika Itsuki membaringkan kepalanya pada pahaku, aku langsung menunduk memperhatikannya yang menutup mata dengan rona di kedua pipinya. Aku melihatnya dengan penuh tanya sebelum akhirnya dia mengatakan alasannya.

"Memikirkannya membuatku lelah, aku pinjam pahamu sebentar. Ti-tidak apa, 'kan?" Suaranya agak gugup ketika bertanya, aku tersenyum ketika kurasa dia ingin menghiburku.

"Tentu, jika kau tidak keberatan berbaring di pahaku.." ucapku yang mengusap rambutnya yang terasa lembut, Itsuki memelintir setengah rambutnya dengan jepitan bintang di belakang kepala, mengusapnya seperti ini entah mengapa terasa menenangkan juga.

Sepertinya aku menemukan fetish baru.

"Maaf.."

Aku menunduk untuk memperhatikannya yang mulai berucap kata 'maaf' padaku.

"Kenapa?"

"Karena aku melibatkanmu pada masalah yang tidak menyenangkan. Saat ada masalah aku selalu merepotkan orang lain, ah, ini memalukan. Sungguh ironis, 'kan? Padahal aku sudah dewasa.." dia menggerutu sendiri tentang dirinya.

Itsuki selalu tidak percaya diri membicarakan tentang kedewasaannya, apa karena dia anak terakhir? Adikku juga mempermasalahkan hal-hal tidak perlu seperti ini.

"Itu tidak benar. Kau sangat baik, bahkan semua murid mengagumimu. Termasuk aku juga, aku menyukaimu." Aku memandang wajahnya yang menatap ke atas tepat ke arahku, dari pancaran matanya dia terharu dengan ucapanku.

"Naruto.." dia menyebut namaku ketika aku memandangnya.

"Itu tidak merepotkan, aku suka saat kau bergantung padaku. Jadi jangan anggap itu hal yang memalukan." Jelasku memandang wajahnya yang merona.

Itsuki bangkit dari posisinya untuk kembali duduk, "Aku terus memikirkannya, yang dikatakan Yahiko itu ada benarnya. Aku tidak bisa mengelaknya, saat ini kau serius, tapi ada banyak hal yang harus dipikirkan nantinya. Mungkin hal-hal yang akan terjadi juga akan mengubah pandanganmu saat ini, bahkan meskipun aku sudah berpikir akan merelakanmu.." ucapnya yang memalingkan wajahnya dariku dan memandang ke arah lain.

Sejak hari dimana pertama kali aku bertemu Itsuki, kesan pertama kami sangat buruk. Aku tidak berpikir akan menyukainya sampai membuat hatiku bergetar karena rasa takut ketika dia mengatakan hal seperti itu. Dia mengutarakan semua keraguannya, itulah bagaimana dirinya mengekspresikan perasaannya padaku.

"Kau tak perlu resah, aku tidak begitu memikirkannya.." Aku bergeser mendekatinya dan menyentuh pundaknya, sampai aku menariknya dan mendekapnya dari belakang.

Sial, saking manisnya dia. Aku jadi ingin memeluknya. Sekali lagi, aku ditarik olehnya, aku tidak ingin lari dan ingin menangkapnya. Kenyamanan yang tidak ingin kulepaskan saat bersamanya.

Kenapa bisa ya? aku selalu ingin bersamanya.

"Tung-, A-aapa? Kenapa tiba-tiba memelukku?" dia terlihat gugup dan mulai salah tingkah.

Tentu saja, aku tidak melepaskannya agar dia tidak kabur.

"Maaf.."

"Eh?"

"Ini salahku, aku benar-benar minta maaf. Seandainya aku terlahir lebih cepat dan bertemu denganmu, situasi seperti ini tak akan terjadi. Ini salahku yang membuatmu merasa tidak nyaman." Aku tersenyum menatap matanya yang memancarkan kekhawatiran.

"Apa yang kau katakan? kau tidak seharusnya mengatakan hal seperti itu!"

"Kau benar, tapi aku masih merasa bersalah karena memaksamu untuk menjadi pacarku.."

Pok!

Aku malah dikejutkannya ketika dia melepaskan dirinya dan menangkup wajahku dengan kedua tangannya, aku bisa merasakan situasinya menjadi serius begitu melihat raut wajahnya.

"Kenapa malah kau yang minta maaf? Aku menyadarinya meski tidak kukatakan, bahwa aku ingin bersamamu..! Aku mengerti apa yang kau rasakan, kau ingin bersamaku, 'kan?"

Ini untuk pertama kalinya Itsuki memperlihat kejujurannya dengan mengatakan hal yang romantis seperti itu, aku cukup dibuat tertegun karenanya. Aku tertawa kecil hingga membuatnya kebingungan. Aku menyadari kenapa aku ingin selalu bersamanya, aku ingin tahu banyak lagi tentangnya.

Aku menggenggam kedua tangannya yang mendekap wajahku, "Itsuki, kau ini romantis, 'ya?"

"Roman..!" dia tersentak dengan tanggapanku, kurasa dia tak menyadari betapa besar efek perkataan manisnya pada jantungku saat ini.

Aku kembali memeluknya dalam dekapanku lalu mencium aroma strawberry dari puncak kepalanya dengan lebih posesif, "Ah, aku ingin seperti ini selamanya~"

"Bukankah barusan kau merasa bersalah?"

"Bagiku itu sudah berlalu.." aku mengelus punggungnya yang nampak terbuka karena model gaun putih yang dia pakai memperlihatkan bagian pundaknya, "Lagipula, aku merasa kesepian jika tidak melihatmu sedetik saja.." lanjutku.

Ketika aku mengelus punggungnya membuatku agak gugup, karena aku jadi memikirkan hal kotor saat ini. Aku menatap wajah meronanya yang tepat berada di hadapanku. Aku mendekat perlahan ketika dia mulai menutup matanya seakan mengerti apa yang akan kulakukan. Sedetik kemudian aku merasakan bibir kami sudah saling bertautan.

Aku menikmati beberapa detik moment itu, ketika kurasakan Itsuki mulai pindah dan duduk di pangkuanku, dia mengalungkan tangannya pada leherku dan memperdalam ciuman kami begitu kepalanya miring ke samping. Kedua tanganku meremas pinggangnya, aku mendongak karena posisi ini membuatnya jadi lebih tinggi dariku. Beberapa saat kemudian dia melepaskan tautan kami.

Dia tersenyum memandangku, "Ah, noda lipsticknya menempel.." ujarnya mengelap bibirku dengan jempolnya.

"Lagi."

"Apanya?"

"Cium aku." pintaku yang mendapati reaksinya yang malu-malu.

"Kau tidak akan macam-macam, 'kan?!"

"Tergantung situasinya nanti.."

"Ha-hanya ciuman saja ya!"

Itsuki terdiam memandangku, tapi aku tahu dia juga menginginkannya. Dengan malu-malu dia kembali menunduk lalu menciumku, kedua tangannya dia kalungkan pada leherku. Aku membuka bibirku meminta akses pada bibirnya yang terbuka, bisa kurasakan benda lunak nan basah miliknya mulai berani beradu dengan milikku.

Lenguhan tertahannya mulai terdengar jelas olehku, aku menyelipkan tanganku ke balik gaun putih yang dikenakannya untuk menyentuh bokongnya, dia langsung melepaskan tautan bibir kami dan berteriak.

"Kyah!" Aku meremas bokongnya dan dia langsung protes, "Kau bilang tidak akan macam-macam..!"

"Sebenarnya aku jadi kepengen begitu kau duduk di pangkuanku.." lagipula dia yang duluan di pangkuanku, ditambah dia berdandan lebih cantik hari ini.

"Tunggu, kurasa melakukannya di mobil akan kurang nyaman.." wajahnya menunduk menatapku dan membuatku tersadar bahwa kami ada di dalam mobil tepat diparkiran hotel.

"Benar juga, terlebih lagi kita di tempat parkir. Apa sebaiknya kita hentikan saja?" Tanyaku padanya yang terdiam seakan kecewa dengan tanggapanku, "Maaf, aku bercanda.." kupikir dia tidak suka melakukannya di mobil.

"Ini bukan berarti aku ingin melakukannya sekarang..!"

Sekarang dia tidak mengakuinya dan itu tampak manis untuknya.

"Ah sial, bagaimana bisa di situasi seperti ini kau sangat manis?" Aku memeluknya sehingga wajahku bersandar pada dadanya.

"A- a.. apa yang kau katakan?!"

Wajahnya memerah ketika mengelak, tapi aku suka menggodanya yang gugup seperti itu.

"Kau benar-benar sangat manis.." dia terdiam menunduk menyembunyikan wajahnya dariku.

"Kau pikir aku manis..?" Lalu dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "Pasti kau bercanda!"

"Tidak, aku serius. Kau sangat manis, Itsuki..!"

"Su-sudah cukup, sampai di sini saja. Lepaskan tanganku..!" Dia mencoba mengelak untuk kabur dariku.

"Eh? Kenapa? Kita sudah sejauh ini, tidak bisa berhenti begitu saja.." aku langsung memeluknya dan menarik untuk terbaring di bangku mobil sedangkan aku sudah berada di atasnya, "Tidak akan, selama kau semanis ini.." wajahnya merona begitu melihatku menarik bagian atas gaunnya ke bawah sehingga terlihat jelas bra tanpa tali yang digunakannya, aku langsung menarik bra itu ke bawah juga dan melihat dada polosnya.

Kedua tanganku memijat gundukan menggoda itu sambil memelintir ujungnya yang mengeras. Tangan mungilnya meremas pundakku, beberapa kali dia mencoba mengelak dan mendorongku menjauh. Wajahnya memerah bahkan hingga ke telinganya.

"Ahn..! Tunggu.. Hmn~!" Dia menggeliat ketika aku mulai menjilat puncak dadanya, "Ah! Kau serius melakukannya di sini? Bagaimana kalau kita ketahuan..?" Aku tersenyum padanya.

"Mobilmu jendela satu arah, kita tidak akan ketahuan.." jelasku meyakinkannya sementara aku membuka jas hitam yang kukenakan dan melonggarkan dasi yang melingkar di kerah kemejaku.

.

.

"Ahh! Aaah! Ahh.." desah Itsuki tanpa henti setelah aku menggagahinya sejak beberapa menit yang lalu, terasa lebih basah dan ketat setiap kali aku melesakkan kejantananku pada liang kewanitaannya.

Itsuki menahan tangannya pada jendela mobil sementara dia menungging ketika aku bergerak maju-mundur memompa tubuhnya yang sudah polos tanpa mengenakan sehelai benang pun, bahkan aku yakin mobilnya terlihat bergetar karena aku bergerak lebih cepat dan keras di dalamnya. Aku menahan pinggangnya dengan tanganku ketika kulihat dia ambruk ke bawah, tentunya dia tidak berhenti mendesah.

Matanya tertutup menikmati gerakan yang kulakukan, "Mhmn..! Ah, aah..! Itu keras, Aah! Naruto~! Pelan-pelan..Aahn!" Aku tidak bisa memalingkan pandanganku dari bokongnya yang tengah kuremas, ini sangat merangsang, aku tidak ingin membenamkannya lebih dalam.

Ini sulit untuk dikatakan. Semakin banyak aku mengajarinya, dia terlihat makin lihai dalam hal ini. Wajahnya yang menikmati ini juga sangat manis, bagaimana bisa aku menahan diri untuk mengabaikan hal sekecil ini. Aku berhenti bergerak lalu menunduk untuk meremas dadanya dan mencium pipinya.

"Itsuki, kau sangat manis.." ucapku yang membuatnya merona dan kebingungan.

"Hentikan, itu memalukan..!"

Bahkan dirinya yang kebingungan juga manis, "Jika aku bilang kau manis, berarti kau memang manis~" godaku padanya yang tersenyum malu-malu.

"Aku tidak percaya kau sangat mudah mengatakan hal memalukan, kau sangat bodoh.."

"Kau sangat basah di bawah sana.." tanganku menyelinap untuk menyentuh liangnya yang masih menyatu dengan kejantananku.

"Ahn! Ah..! Tunggu, jangan.. Eut..! Hnn.. ah.. AHN..!" Tubuhnya langsung bergetar ketika aku merasakan liangnya semakin basah, dia klimaks.

Sementara dia tengah terengah, aku melepaskan kejantananku dari liang senggamanya, "Itsuki, aku ingin melakukannya dari depan.." dia tersentak begitu aku memandunya untuk terlentang di bawahku, aku membuka kakinya agar melebar untuk kembali memasukinya.

Aku memandang matanya yang bergerak gelisah, "apa kau malu?"

"Ya, aku sedikit malu.." aku mengalihkan pandangannya dariku, "Aku sangat kesal karena aku juga jadi kepengen sekarang." Ujarnya yang membuatku cukup terkejut karena dia jujur tentang keinginannya.

Ini bukan pertama kali kami melakukannya, tapi sikapnya yang malu-malu seperti gadis perawan adalah bagian yang kusukai darinya. Situasi seperti ini jadi membuatku ikutan gugup padanya. Aku kembali menempatkan kejantananku pada liang kewanitaannya, aku bisa melihat ekspresinya berubah saat aku perlahan memasukan kejantananku.

Aku mendapati Itsuki menangkup wajahku dengan kedua tangannya, "Jika ini bisa membuatmu lebih baik, sekarang kau bisa lakukan apapun yang kau inginkann.." ucapnya memandangku langsung.

Sial..

Aku langsung menghentakkan pinggangku hingga kejantananku langsung masuk keseluruhannya, "Aaahn! Itu di dalam lagi..! Hmn~" Itsuki mendongak seakan menikmat perasaan saat aku menerobos liang kewanitaannya.

..aku makin menyukaimu.

Kejantananku yang terasa diperas di dalamnya membuatku tidak bisa menahan instingku untuk bergerak menghujamnya, aku benar-benar terbuai pada kehangatannya. Aku jadi ingin selalu menjahatinya di saat seperti ini, dia sangat manis. Tangannya memelukku sehingga wajah kami berdekatan, aku langsung melesat melumat bibirnya yang terbuka seakan mengizinkanku untuk merasakan bagian dalamnya.

Itsuki memelukku dengan meremas kemeja yang masih kukenakan ketika aku mempercepat gerakan pianggangku, "Nhhm..! Mmnh~!" Desahannya tertahan karena kami melakukannya sambil bercumbu, aku tidak bisa menahannya lagi ketika kurasa akan mencapai puncak.

Aku melepaskan tautan bibir kami, "AAH..!" Itsuki langsung mendesah kencang begitu aku menghentakkan sekali pada liang kewanitaannya dengan keras.

Aku langsung berhenti lalu melepaskan kejantananku dan langsung menyemburkan cairan putih tepat pada perut Itsuki sambil memijit kejantananku sendiri, telat sedetik saja aku pasti akan keluar di dalam. Hal ini terjadi tanpa kuduga, jadi aku tidak bawa pengaman. Itsuki nampak terengah ketika memperhatikanku yang sedang klimaks. Ini luar biasa, aku menyadari melakukannya di tempat sempit seperti mobil ternyata begitu merangsang. Aku benar-benar pria terburuk.

Aku kembali menunduk lalu mengecup puncak kepalanya, aku mengelus rambutnya yang nampak berantakan karena hubungan intim yang kami lakukan. Jepitan rambutnya agak terlepas sehingga aku melepaskan itu dari rambutnya yang akhirnya tergerai dengan sempurna.

Aku tersenyum memandanginya yang malu-malu, "Hari ini kau sangat cantik, Itsuki.." ucapku yang membuatnya mengambil jasku yang tersampir di bangku penumpang, dia langsung menutupi wajahnya dengan itu.

"Ah, kau malu lagi?"

"Jangan lihat!"

Reaksinya lucu sekali, aku makin ketagihan untuk menggodanya. Aku tertawa kecil sebelum akhirnya aku menggelitik perutnya sehingga dia langsung berteriak.

"Kyah! Itu geli~" Aku kemudian menarik jasku yang digunakannya untuk menutupi wajahnya.

"Jangan menutupi wajahmu begitu, perlihatkan padaku wajah manismu~" aku menariknya lebih kencang lalu mendapati wajahnya merona malu, "Ayo, lakukan itu sekali lagi?" Tanyaku yang membuatnya terkejut.

"Lagi?! Ah..!" aku kembali memasukan kejantananku ke liang kewanitaannya, aku mengangkatnya sehingga sekarang dia berada di atas pangkuanku.

"Ah! Ahn! Nmh..! Ah! Ah! Aah~!" Dia kembali mendesah saat aku menggerakannya naik-turun, Itsuki langsung memelukku dengan erat, desahannya berada tepat di samping telingaku.

"Ngh.. Ah, Itsuki..!" Aku menutup mataku merasakan ketatnya liang kewanitaannya, aku meremas bokongnya sementara kami berdua bergerak naik-turun dengan sinkron.

"Aku merasakannya, Naruto..! Ah..! Ah! Mnh!" Itsuki bergerak naik turun sementara aku membaringkan posisiku yang kali ini terlentang di bangku penumpang, aku melihat Itsuki yang bergerak naik-turun di atasku, dadanya bergoyang seakan menggodaku untuk menyentuhnya.

Aku meremas dadanya sampai aku tergiur dengan bibirnya yang terus mengeluarkan desahan erotis, "Agh.. Itsuki, cium aku.." pintaku yang membuatnya terkejut.

"..lagi?!"

Kalau diingat lagi Itsuki tidak pernah menciumku duluan.

Dia memandangku ragu sampai akhirnya dia membungkuk mendekatiku, "..ba-baiklah.." ucapnya sampai aku merasakan bibirnya menempel dengan milikku.

Di luar dugaan, dia benar-benar memanjakanku. Aku memegang pinggangnya dan ikut bergerak bersamanya sampai keringat kami sudah menyatu. Aku sudah tak bisa menahan hasratku lagi.

"Itsuki, aku tidak bisa menahannya lagi.. agh.."

"Ahn! Ah! Mnh..! Ah~ ah~ Baiklah, kau bisa keluarkan sekarang.. Ahn! Narutooo..!"

"Ngh..!" Aku mengerang begitu aku melepaskankan hasratku begitu aku menghentakkan kejantananku ke dalam.

"AAAHN!" Itsuki mendesah cukup keras ketika aku berhasil mengeluarkan benihku di dalamnya, dia memeluk dan meremas rambutku cukup kencang saat itu.

Tunggu..

..apa barusan aku keluar di dalam? Sial, saking nikmatnya aku jadi lupa diri. Itsuki bangkit dari posisinya, dia terlihat panik juga menyadari kami terlalu jauh melakukannya.

Aku langsung bangkit lalu menggenggam kedua tangannya, "Ayo menikah.." tawarku padanya yang tersentak.

"Apa?!"

"Aku sudah memikirkannya begitu keras. Kalau nantinya insiden terjadi, aku akan bertanggung jawab menjalani rumah tangga yang mapan."

"Melakukannya sekali bukan berarti itu akan menjadi insiden..! Lagipula, bagaimana dengan kuliahmu?"

"Aku sedang membuat jurnalku tahun ini, seharusnya tahun depan aku sudah lulus~"

"Kau menggampangkannya lagi.."

Sebenarnya aku juga memikirkan usia Itsuki yang jauh lebih tua dariku, matanya terlihat sedih setiap kali membicarakan pernikahan. Setelah aku mendengar latar belakang keluarganya dari Ichika-san, aku menyadari Itsuki mempertimbangkan matang-matang tentang pernikahan, dia terlihat tidak ingin salah memilih pasangan. Mungkin itu hal yang membuat perasaannya padaku mengambang.

Aku memandangi tangannya yang terlihat sebuah cincin, mengelus cincin yang dia kenakan.

"Kau bahkan memakai cincin yang kuberikan padamu, bukankah itu berarti kau tidak menolaknya?" Tanyaku padanya yang terdiam lalu aku membawa tangannya yang kini aku kecup, "Aku tahu kau berpikir kalau aku belum layak untuk meminangmu, tapi kumohon cincinnya jangan dilepas. Mulai sekarang, baik siang ataupun malam kau itu permaisuriku.." aku menatapnya yang memalingkan wajahnya dariku, aku bisa melihat rona malu di kedua pipinya.

"Apa-apaan itu? Kau sendiri jauh lebih romantis dariku.."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Udaah lama ga pantau, ga disangka yg follow dan fav udah bertambah..

Balasan Review

1) For Rivaldi : Iya, tepatnya adaptasi doujinshi, mungkin..

2) Mhank Kesbor : Sebenarnya Otonari-san mau gw jadiin karya original saja (karakternya original dari author), tapi gw masih malas revisi dan gambar illustrasi karakternya hehe.. Bisa diupload ulang sih, coba kalian izin dlu ke pecinta waifu loplep, boleh ga? Otonari-san adalah karya Erocc paling kontroversi, atau mau pindah lapak? Atau adegan lemonnya dipotong saja? Kubuat jdi chapter extra?

3) Megumin07 : Semoga jodoh anda cepat datang, kapan ya Erocc punya pacar?

4) HarrySetiawan : Selamat berbuka puasa (dah lewat njir)

5) xenovia uzumaki : Gimana mau mengurangi, orang Erocc saja open comiss gambar ecchi. Nyari inspirasinya dari kode nuklir.

6) FF. Agus-kun : Nonton animenya biar ga salah urutan, mau rilis movienya nih. Untungnya waifu Erocc cuma jadi sahabat Futarou.

Selamat hari lebaran, mohon maaf lahir batin. Terutama untuk haters Erocc, damai ajalah kita. Masa mau musuhan terus :3