Aku merasa sangat lega setelah mendengar berita bahwa pembunuh Midori sudah ditangkap. Ironisnya, pembunuh anak itu adalah tetangga dekat keluarganya. Berita tentang Midori terus menjadi pembicaraan orang-orang.

Walau pembunuh sudah tertangkap, Papa dan Mama tetap masih menyuruhku membawa pepper spray kemana pun aku pergi.

Mengikuti nasehat Reina, aku memutuskan menjalani kehidupan normal untuk sementara waktu. Tapi sungguh sulit melakukannya karena, tidak bisa tidak, warna-warna itu terus terlihat diatas kepala semua orang yang kutemui.

Aku menghela nafas. Mungkin ada baiknya jika aku belajar jadi detektif dari sekarang, jadi jika ada saatnya aku harus menguntit warna kuning, aku bisa bilang aku adalah detektif. Aku juga mungkin harus meminta Papa dan Mama agar diizinkan berlatih bela diri agar aku bisa melindungi diri sendiri dan orang lain. Tetapi, jujur saja aku takut sakit. Tentunya berlatih bela diri awalnya akan rentan dengan rasa sakit.

Lagipula, kemampuan analisa-ku tidak bagus. Aku mungkin tidak cocok menjadi detektif. Ah, aku jadi meragukan apa aku bisa melakukan hal yang baik dari kemampuanku ini.

777

Suatu hari, saat aku ke supermarket bersama Mama, aku melihat Subaru Okiya alias Shuichi Akai. Dia juga sedang berbelanja untuk memasak kari lagi sepertinya.

Aku memandangi orang itu sambil mengulum senyum. Aku tahu aku harus segera mengalihkan perhatianku dari dia sebelum dia menyadari bahwa aku mengawasinya.

Aduh, tapi mata ini tak bisa berhenti memandanginya. Aku mendengar Mama memanggilku. Dia memberikan setengah dari catatan barang yang perlu dibeli. Aku pun segera mengambil keranjang dorong kecil dan dengan gembira segera fokus untuk melengkapi barang pada catatan ke dalam troli. Tentu saja, aku menambahkan snack yang menarik perhatianku ke dalam troli tanpa menginformasikan ke Mama. Kadang aku secara otomatis bertingkah layaknya anak kecil biasa.

Saat itulah aku mendengar suara orang sedang berdebat. Aku mencari arah keributan itu dan melihat seorang pria sedang meneriaki seorang wanita. Wanita itu tidak terlihat takut dan dia menanggapi pria itu dengan tenang. Pria itu kelihatan sekali tidak senang.

Saat itulah aku menyadari warna hijau wanita itu tiba-tiba berubah warna merah. Aku membelalakan mata dengan penasaran. Aku memandang perubahan tanggal wanita itu. Seharusnya wanita itu masih ada waktu sekitar 20 tahun, tetapi tanggalnya sekarang berubah tinggal sehari lagi.

Wajahku memucat. Apa gara-gara perdebatannya dengan pria itu? Pria itu warnanya tetap hijau dan jangka waktunya juga masih lama.

Tanpa sadar, aku menuturkan nama kedua orang itu. Aku lalu meletakkan troli-ku dipinggiran dan melesat keluar supermarket, mencari tempat yang agak sepi agar aku bisa memanggil Reina.

Reina memang belakangan ini sering muncul dihadapanku saat dipanggil atau karena keinginan dia sendiri. Dan, dia tidak lagi memakai jubah hitam, dia berpakaian kasual layaknya gadis remaja.

Aku menanyakan perihal kejadian tadi padanya.

"Ya, tentu saja, warna hijau bukanlah suatu kepastian. Berdasar pada bagaimana kalian menjalani hidup, apakah hidup sehat atau tidak, apakah bersikap baik dan berhati-hati atau tidak, semua keputusan ada ditangan kalian nantinya akan mempengaruhi warna yang akan diterima."

"Aku tidak mengerti. Wanita tadi berdebat dengan pria itu dan itu mengubah warnanya?"

Reina mengangkat bahu dengan gaya acuh tak acuh. "Manusia suka menggunakan berbagai macam alasan untuk membenarkan tindakan mencabut nyawa orang lain bahkan dengan menggunakan alasan yang konyol."

Aku mengerutkan dahi. "Apa wanita itu dalam bahaya? Pria itu akan membunuhnya?"

"Mana aku tahu? Bisa saja wanita itu meninggal karena kecelakaan karena lagi banyak pikiran. Mungkin juga seperti katamu, pria itu mungkin akan melakukan sesuatu padanya karena kesal. Tapi, apa pedulimu? Sudah kubilang jangan mempedulikan warna biru dan merah. Itu berarti nasibnya sudah diubah."

Aku geram mendengarnya. "Apa gunanya hijau kalau begitu? Jika warna hijau itu hanya akan diubah menjadi warna lain, buat apa ada hijau?"

"Hei, jangan marah denganku. Bukan aku yang membuat peraturan warna itu."

Ugh, aku merasa hampir histeris. Jadi, ada kemungkinan warna hijau Papa dan Mama bisa berubah kapan saja? Aku harus bagaimana? Bagaimana aku bisa menjalani hidup normal jika aku bisa melihat kapan orang-orang yang kusayangi akan mati? Bagaimana aku bisa berdekatan dengan mereka? Reina benar, mata shinigami ini benar-benar kutukan.

"Eva, jangan berbuat konyol. Ingat, kita tidak boleh menarik perhatian mereka."

Aku mengangguk lesu dan kembali ke supermarket. Wanita yang tadi sudah tidak ada.

Aku berjalan ke arah troli yang kutinggalkan dan dengan lesu, kembali mencari barang pada catatanku.

Aku menjinjit untuk mengambil sebuah botol di rak yang agak tinggi dengan susah payah. Tiba-tiba ada yang mengambilkan botol itu untukku.

"Inikah yang kau inginkan, adik kecil?"

Aku melongo, terkejut melihat Subaru berdiri disampingku dengan tenangnya sambil menjulurkan botol itu kepadaku.

"I-iya, terima kasih."

Subaru tersenyum kecil tapi lalu wajahnya terlihat khawatir. "Kau tak apa, adik kecil?"

"Eh?"

Subaru jongkok didepanku. "Kau terlihat ingin menangis."

Aku tidak tahu harus berkata apa. Secara internal, aku mulai panik sendiri. Kenapa Subaru jadi bisa menyapaku? Apakah dia sedang memerankan orang samaritan dengan memperlihatkan keprihatinan terhadap kesusahan orang random sepertiku? Apa aku terlihat begitu menyedihkan dimata dia sampai dia jadi kasihan dan menyapaku?

Aku cuma pernah ketemu dia 2 kali dan hanya pada pertemuan kedua, kami berbicara sedikit. Setelah itu, kami tidak pernah bertemu lagi. Dan sekarang dia sedang menyamar jadi Subaru. Tadinya aku kira dia tidak ingat padaku. Apakah dia ingat bahwa kita pernah bertemu? Tapi, sebagai Subaru, dia tak punya alasan untuk menyapaku.

Ah, tapi penyamaran dia ini memang dimaksudkan agar dia bisa mengawasi Ai dan mengharuskan dia berinteraksi dengan anak-anak jadi mungkin dia menganggap normal saja membantu anak random sepertiku?

Aku juga harus berakting tidak kenal dia. Ini memang pertemuan pertamaku dengan dia yang sedang menjadi Subaru.

Tunggu, apa tadi dia menyadari saat aku memperhatikannya? Apa dia mencurigaiku? Tidak mungkin. Aku terlalu paranoid kali ya...

Aku tersadar dia menunggu jawabanku. Gawat, koq aku malah bengong! Aku memasang tampang sepolos mungkin dan tersenyum padanya. "Aku tidak apa-apa."

Aku tidak tahu apa yang Subaru pikirkan terhadapku saat ini. Dia tersenyum dan bangkit berdiri, mengelus kepalaku dengan lembut.

Aku kira dia akan pergi tetapi tiba-tiba dia bertanya, "Apa kau mengenal pria dan wanita yang tadi berdebat?"

Aku tidak punya poker face jadi aku rasa dia menyadari kepanikanku.

"Tadi aku mendengar kau menyebutkan nama lengkap mereka. Yuri Fujimoto dan Asahi Masayuki."

Aku merasa kepalaku berdenyut-denyut bersamaan dengan debaran keras jantungku. Koq, dia bisa tahu? Saat itu dia tidak berada didekatku. Apa dia membaca gerak bibirku?

Bagaimana ini? Tapi, bolehkah kukatakan saja pada dia? Subaru, bukan, Shuichi mungkin bisa membantu wanita itu. Ah, tapi Reina bilang aku tidak boleh mengubah nasib warna lain selain kuning.

Aku langsung jongkok sendiri sambil memegangi pelipisku. Ah, kepalaku sakit! Aku benci semua ini!

"Kau kenapa? Apa kau sakit, nak?" Tanya Subaru dengan penuh kekhawatiran.

"Namaku Eva." Sergahku dengan sebal.

Dia malah jadi tersenyum seakan aku mengatakan sesuatu yang lucu.

Aku bangkit berdiri dan dengan sengaja menatap orang itu. "Bukankah kau seharusnya mengenalkan diri? Aku sudah memberitahumu namaku."

Dia tertawa kecil. "Benar, dimana sopan santunku? Namaku Subaru Okiya." Tuturnya. Lalu dia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan denganku.

Aku memandang dia dengan curiga tapi aku tetap menjabat tangannya.

Dia tersenyum.

Saat itu, Mama memanggilku. Syukurlah, aku jadi alasan untuk meninggalkan percakapan yang tidak nyaman ini. Aku sengaja menyahut Mama dengan nyaring. "Iya, Ma!" Seruku. Aku menoleh pada orang itu dan tersenyum. "Bye bye, Kak Okiya." Aku langsung melesat pergi tanpa menunggu jawaban.

Aku tidak berani menoleh untuk melihat reaksi orang itu. Aku langsung menghampiri Mama dan mengatakan bahwa aku masih belum selesai mengambil barang pada catatan bagianku.

Mama tersenyum dan membelai kepalaku.

777

Besoknya saat siang, aku dan Papa mampir makan di Poirot. Saat itulah aku mulai bertanya-tanya sebenarnya apa pekerjaan Papa dan Mama. Sepertinya keluarga kami termasuk keluarga mampu. Makannya saja di restoran atau kafe terus. Aku juga dikasih uang jajan lumayan banyak tiap hari. Ternyata Eva yang asli suka menabung. Dia merasa seperti orang dewasa saat menyetor sisa uang jajannya di akhir bulan.

Memang rumah tempat kami tinggal biasa-biasa saja dan perabotan elektronik dirumah juga tidak canggih-canggih model orang kaya tetapi kami termasuk keluarga yang mapan dalam hal-hal yang penting.

Aku terkejut mengetahui bahwa Papa bekerja pada keluarga Suzuki, keluarganya Sonoko, teman Ran. Lebih tepatnya, Papa adalah sekretaris pribadi ibu Sonoko.

Mama tidak mau memberitahukan pekerjaannya, malah menyuruhku mencoba menebaknya, Aku bingung juga. Mama selalu sibuk bekerja dengan laptopnya, tetapi aku tidak tahu apa yang dikerjakan. Papa juga hanya tertawa saat aku menanyakan apa pekerjaan Mama. Huh, dasar!

Papa membaca koran selesai makan siang. Aku masih belum selesai makan. Dengan iseng, aku membaca artikel dari koran yang Papa pegang yang menghadap ke arahku.

"Ayo, Eva, selesai makan, kerjakan PR-mu." tegur Papa tanpa memandangku langsung.

"Iyaaa." jawabku setengah menggerutu. Setelah meminta Azusa menyingkirkan semua piring-piring kotor dan dia membersihkan meja, aku mengeluarkan setumpuk buku PR untuk hari itu. Untungnya, hari ini tidak PR math, bisa eneg aku.

Oh ya, hari ini aku tidak melihat Amuro. Sepertinya hari ini dia absen. Aku mendengar Azusa bilang bahwa dia menemani Kogoro, Ran dan Conan untuk sebuah kasus.

777

Aku bertamu ke rumah Yuka bersama Nanno saat kami pulang sekolah suatu hari. Aku kadang bisa menyambung kadang tidak dalam berbincang-bincang dengan mereka.

Aku sedikit banyak mengerti perasaan Conan dan Ai yang menghabiskan kebanyakan waktu mereka dengan anak-anak kecil sungguhan. Kadang menyenangkan, kadang melelahkan.

Saat sedang mengerjakan PR bersama, aku mendengar berita di TV tentang seorang wanita yang meninggal didalam apartemennya. Apartemennya ditemukan berantakan. Polisi sedang menyelidiki kasus tersebut.

Yang membuatku jadi tegang adalah mendengar nama korban. Yuri Fujimoto. Ya, wanita yang ku saksikan berubah warna jadi merah setelah berdebat dengan Asahi Masayuki.

Apakah pelakunya benar Asahi? Tapi, menurut Reina, hal itu belum tentu. Memang Asahi turut berperan dalam keputusan yang diambil Yuri sehingga mengubah hijau jadi merah tetapi bukan berarti dia yang bertanggung jawab secara langsung atas kematian Yuri. Ah, aku pusing berusaha untuk memahami cara kerja kematian seseorang.

Haruskah aku membuat panggilan kepada polisi diam-diam dan memberi dorongan agar mereka menginvestigasi Asahi? Ah, tetapi para polisi pasti tahu juga soal Asahi. Bukankah polisi selalu menyelidiki orang-orang disekitar korban?

Ugh, aku kebanyakan berpikir daripada bertindak. Aku sungguh tidak berguna. Seandainya saja aku memiliki alat pengubah suaranya Conan, mungkin saja aku berani menghubungi polisi. Mana mungkin polisi mempercayai info dari seorang anak kecil?

Tetapi, beberapa polisi sepertinya mempercayai Conan dan teman-temannya. Aku menggelengkan kepala dengan keras.

Ah, tidak, mana bisa membandingkan diriku dengan mereka? Mereka yang selalu terlibat kasus dan banyak berkontribusi untuk membantu memecahkan kasus.

Tiba-tiba, aku jadi teringat akan Shuichi. Dia mendengarku menyebutkan nama korban saat kami bertemu disupermarket kemarin. Mungkin saat ini juga dia menonton berita yang sama denganku. Akankah dia mencurigaiku? Dan, sepertinya ini bagus juga dalam hal keingintahuan orang itu kemungkinan akan membuat dia menyelidiki kasus Yuri. Mungkin saja dia bisa minta tolong Jodie untuk menyelidikinya.

Tapi, Jodie mungkin belum tahu bahwa Subaru adalah shuichi? Jadi, mungkin dia tidak bisa meminta bantuan padanya? Kalau begitu, mungkin dia bisa minta tolong pada Conan yang punya banyak kenalan dengan polisi?

Ah, tau deh! Mungkin saja Shuichi tidak akan begitu tertarik dengan hal ini berhubung dia akan lebih fokus melindungi Ai dan menyelidiki organisasi hitam? Malah mungkin saja dia tidak menonton berita ini bukan?

Yuka dan Nanno mengajakku bicara. Aku jadi tidak enak hati karena tidak begitu fokus pada mereka. Wah, rupanya mereka sedang membicarakan tentang anak cowok dikelas yang Yuka 'agak' suka. Waduh, kecil-kecil koq pakai acara suka? Tapi...ya aku tidak pantas berbicara begitu, mengingat aku sendiri suka dengan kedua orang itu bahkan dengan wujudku sekarang sebagai anak kecil. Setidaknya, Yuka suka anak yang seumuran dengan dia.

Kalau aku, kondisiku ini sedikit mirip Conan bisa dibilang. Dari luar, Conan mungkin terlihat suka dengan Ran, setidaknya Ayumi pasti berpikir begitu. Seorang anak kecil menyukai seseorang yang usianya berbeda jauh, pasti kelihatan manis.

Bedanya, Conan enak karena Ran memang menyukai dirinya yang asli. Sedangkan aku, kedua orang itu bahkan tidak tahu situasi-ku. Ya, Ran juga tidak tahu situasi Conan-Shinichi sih. Ah, sudahlah, jangan dibanding-bandingkan. Situasi aku dan Conan sama sekali tidak mirip deh!

"Apakah kamu masih suka dengan Kenji, Eva?" tanya Nanno.

"Eh?" Aku terperanjat kaget. Siapa pula Kenji?

"Hah, kamu tidak ingat dengan Kenji? Dia anak cowok dari kelas sebelah." tutur Yuka.

Aku menggelengkan kepala. "Aku tidak ingat. Kau bilang aku yang dulu suka dia?"

Yuka dan Nanno dengan semangat menceritakan tentang Eva yang asli dan perasaannya terhadap seorang Kenji. Mereka mengatakan bahwa Eva yang asli sudah mencoba beberapa kali untuk berbicara dengan Kenji sebagai pendekatan awal. Serius?

Aku menghela nafas mendengarnya. Aku lega mengetahui bahwa belum ada apa-apa antara Eva dan Kenji. Hal terakhir yang kuperlukan saat ini adalah Kenji merasakan suka juga pada Eva dan melakukan pendekatan. Aku merinding memikirkannya. Bagaimanapun, jiwa didalam tubuh ini adalah seorang dewasa walau tubuh ini adalah tubuh anak kecil.

Tetapi, jika mempermasalahkan soal usia, apa yang harus kulakukan kedepannya soal romansa? Ugh, sudahlah, sudah! Sementara ini, jangan memikirkan hal semacam itu.

777

Dalam salah satu kunjungan rutin ke Poirot, aku melihat Kogoro Mouri dan aku dengan sengaja berteriak memberitahu Papa bahwa ada Detektif Tidur yang namanya sering muncul di TV dan koran, seorang selebriti.

Papa menjadi tidak enak hati karena orang-orang jadi melihat ke arah kami. Tapi, Papa juga terlihat agak senang juga dapat bertemu dengan Kogoro. Mereka berbicara sebentar dan Papa memuji pria berkumis itu.

Ran tersenyum kepadaku. Conan hanya bisa memutar bola matanya saat Kogoro terbahak-bahak, senang bertemu penggemar.

Ran memperkenalkan dirinya dan Conan, mereka mengajakku bicara juga. Aku bilang aku satu sekolah dengan Conan. Aku bilang aku pernah dengar juga soal grup detektif cilik di sekolah. Tentu saja, Conan tidak mengenaliku karena aku tak pernah berinteraksi langsung dengannya.

Dirumah sakit pun saat Shuichi menyelamatkanku yang disandera, aku bertemu Conan yang mengendarai mobil Shuichi untuk mengejar penjahat dan sepertinya dia tidak ingat akan kejadian itu juga. Baguslah, aku tak ingin dicurigai oleh Conan.

777

Sudah lama aku tidak melihat Reina lagi. Saat kupanggil pun jika aku sedang sendiri, dia tidak muncul. Aku tidak tahu apa yang dilakukan dia. Apakah dia kembali ke dunia nyata? Atau sedang merantau di dunia yang ini? Aku penasaran juga jadinya.

Aku mengucapkan selamat tinggal kepada Yuka dan Nanno sepulang sekolah hari itu. Aku berjalan pulang sendiri. Papa dan Mama tidak lagi menjemputku, sepertinya pekerjaan mereka sedang bertumpuk karena sebelumnya mereka banyak mengambil cuti saat Eva masih koma di rumah sakit.

Mereka memberiku uang makan siang, kata mereka, aku boleh mampir ke Poirot untuk makan jika mau atau pesan-antar makanan lain yang kuinginkan. Aku pun berjalan pulang sambil berpikir apakah aku mau makan di Poirot atau tidak.

Tiba-tiba, sesuatu menimpa kepalaku.

"Aduh!" seruku kaget. Aku melongo saat melihat buku catatan serba hitam tergeletak ditanah setelah jatuh menimpa kepalaku. Aku mengerjap-ngerjapkan mata dengan tidak percaya saat aku melihat buku bertuliskan 'Death Note' pada cover depannya. Masa sih?

Aku celingak-celinguk melihat sekelilingku. Lagi tidak ada siapa-siapa disekitarku. Aku menoleh keatas langit, berpikir jangan-jangan ada shinigami Ryuk disana tapi tentu saja tidak ada siapa-siapa. Aku teringat aku harus menyentuh buku itu dulu baru bisa lihat shinigami bukan?

Aku menelan ludah dengan was-was. Aku tidak berani memungut buku itu. Reina bilang aku tidak boleh menarik perhatian shinigami lain jadi lebih baik aku tidak menyentuhnya bukan? Tapi, aku tidak boleh meninggalkan buku itu dijalanan begitu saja. Bagaimana jika ada orang lain yang memungut lalu menyalah gunakan buku itu?

Aku mengambil saputangan dari kantong rok-ku. Dengan hati-hati, aku memungut buku itu menggunakan saputangan. Asalkan kulitku tidak menyentuh buku itu, aku aman bukan? Aku dengan susah payah berhasil membuka buku tersebut dan aku terperangah melihat catatan cara memakai buku itu pada halaman di buku. Kalimat pertama yang paling familiar dari peraturan pemakaian buku tersebut membuatku merinding.

The human whose name is written in this note shall die.

Aku langsung menjatuhkan buku tersebut ke tanah. Wajahku memucat. Apa ini benaran buku milik shinigami? Tapi, bukankah ini dunia manga DC, bukan Death Note?

Tiba-tiba, aku mendengar suara tawa keras seorang gadis. Aku melihat Reina sedang tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk diriku. Aku terperangah melihat dia, sampai aku menyadari bahwa dia sedang menertawaiku. Aku geram saat menyadari bahwa buku itu palsu dan Reina sedang mengerjaiku.

"Ah, wajahmu itu lho!" Reina tertawa sampai mulas perutnya sementara aku melototi dia dengan kesal.

Aku memungut buku itu dan melemparkannya ke arah Reina tetapi gadis itu berhasil menangkap buku itu. Dia masih saja tertawa keras membuatku tambah kesal.

"Tidak lucu! Kau membuatku sangat ketakutan!" seruku.

Reina berusaha mengontrol ketawa-nya sampai keluar airmata tetapi dia tidak berhasil.

Aku berjalan meninggalkan Reina dengan langkah lebar, mencueki dia saat dia memanggilku.

"Aku cuma bercanda. Hei, Eva! Jangan marah donk!" seru Reina. "Jika buku ini benar-benar Death Note, saat buku ini menimpa kepalamu, kau sudah menjadi pemilik buku ini lho. Kau lucu sekali bawa-bawa saputangan supaya tidak menyentuh buku ini tadi."

Aku tidak meladeni dia dan tetap melangkah menjauhi dia. Tetapi, perkataan Reina benar juga soal aku yang menjadi owner buku tersebut jika buku itu asli. Akhirnya aku berputar menghadap dia. "Kau kurang kerjaan? Kenapa mengerjaiku seperti itu?"

Reina kelihatan tidak merasa bersalah sama sekali. Dia memanyunkan bibirnya dan merengek mengatakan bahwa dia sedang bosan dan ingin aku menghibur dia.

Ugh, aku ingin memukul dia! Aku menatap buku hitam ditangannya. Dapat dari mana dia buku itu? Setahuku Death Note tidak ada di dunia yang ini.

"Dari mana kau dapat buku itu?" Tanyaku.

"Merchandise dari dunia kita." Jawabnya.

"Hah? Kau ada kembali ke dunia nyata?"

"Tentu saja. Aku masih harus menjalani tugasku disana."

"Kau ada baca manga Death Note?"

Reina tersenyum. "Aku suka membaca dan menonton cerita yang menggambarkan dewa kematian. Ceritanya lucu semua."

Lucu?

777

Aku tidak mengira hasil karya yang kubuat saat pelajaran creative writing di sekolah malah membuatku sedikit terlibat masalah.

Mama dipanggil menghadap wali kelas-ku soal karya yang kubuat.

Ceritanya begini, guru menyuruh kami membuat cerita apa saja sebagai PR dan nanti harus disetor untuk penilaian.

Aku iseng menulis cerita yang ada di dunia nyata tetapi tidak ada disini. Cerita Coraline karya Neil Gaiman merupakan salah satu novel favorit-ku. Tapi, bukannya menuliskan ulang kisah tentang Coraline, aku membuat fanfiction tentang kisah nasib anak yang terperangkap sebelum Coraline.

Ya, tapi, berhubung novel Coraline itu tidak ada di dunia ini, mana ada yang tahu bahwa itu fanfiction. Malah, bisa dibilang orang akan menganggap itu karya-ku sendiri.

Nah, kenapa cerita yang kubuat jadi masalah? Karena ceritanya terlalu horor. Menurutku sih tidak, tapi rupanya guru yang membaca cerita itu merasa sedikit terganggu. Karena kisah yang kubuat bukan tentang Coraline yang berhasil selamat, anak dalam kisah itu menemui nasib buruk dan meninggal.

Seperti Coraline, anak itu tergiur oleh godaan dari Ibu yang Lain dan memilih untuk tinggal didunia yang diciptakan untuk memerangkapnya, membiarkan Ibu yang Lain untuk menjahitkan mata kancing padanya. Akhirnya, penyesalan selalu datang terlambat dan anak itu hanya bisa menangis kesakitan dan ketakutan sampai meninggal.

Ya, kalau dipikir-pikir, memang aku agak creepy juga menuliskan cerita itu. Dan, saking keseruannya, aku sampai menuliskan cerita itu sampai hampir menghabiskan halaman pada satu buku tulis. Aku cukup puas dengan hasil karyaku itu.

Entah kenapa, guru-ku menganggap cerita itu pelampiasan ketidak-puasanku terhadap hidupku, terhadap orangtuaku. Karenanya, guru itu memanggil Mama untuk menanyakan hal tersebut. Rupanya, guru menanyakan ke Mama apa ada masalah dirumah yang membuatku mungkin merasa terlantar.

Aku tertawa saat Mama menceritakan hal itu padaku sepulang sekolah saat kami makan siang di Poirot. Iya, kami tidak bosan-bosan makan disana.

Mama mengkerutkan keningnya memandangiku dan buku berisi karya-ku yang bermasalah itu. Mama sedang membaca cerita itu dan sepertinya dia juga sepemikiran dengan guru bahwa cerita itu sungguh aneh untuk karya seorang anak SD.

Mama memandangku lalu bertanya, "Banyak kata-kata sulit yang kau pakai dalam cerita ini. Kamu tahu arti kata-kata itu?"

"Tahu donk, aku lihat artinya dari kamus koq!" jelasku. Bagaimana mungkin aku menjelaskan kalau aku sebenarnya bukan anak kecil dan aku mengerti lebih banyak daripada yang mereka kira? Jadi aku terpaksa berbohong.

"Ara, kamu Eva-chan yang waktu itu bukan?" sapa Ran.

Aku tersenyum lebar melihat gadis itu. "Kak Ran!" sapaku gembira. Aku menoleh kepada Mama. "Mama, ini Kak Ran, dia anaknya Pak Kogoro, detektif yang terkenal itu lho."

Mama mengulum senyum mendengar penjelasanku dan mempersilahkan Ran dan Conan untuk duduk bersama kami.

Ran memperkenalkan dirinya dan Conan kepada Mama.

Conan memandangku dengan penasaran. "Memangnya kamu menulis cerita apa, Kak Eva?" tanyanya. Rupa-rupanya dia mendengar pembicaraanku dengan Mama.

Ran menegur Conan, merasa malu ketahuan mendengar pembicaraan kami tetapi Mama tersenyum saja.

"Cerita horor." jawabku dengan tampang sepolos mungkin.

Wajah Ran memucat mendengarnya. "Horor?"

"Iya." jawabku dan dengan sombongnya, aku segera berceloteh tentang kisah anak kecil yang matanya dijahit dengan kancing.

Amuro ikut mendengarkan pembicaraan kami. Amuro yang sedang mengantar dessert pesanan Mama untuk kami berempat tersenyum padaku. "Cerita yang unik sekali, Eva ingin menjadi penulis cerita ya?"

Aku melanjutkan tingkah kekanak-kanakanku dan menjawab dengan senyum berseri-seri, "Benar!"

"Moral ceritanya? Hmm, mungkin jangan tertipu dengan penawaran yang kelihatan menarik?" Aku pura-pura bingung saat Amuro menanyakan moral dari cerita itu. Memang pelajaran creative writing itu mengharuskan kami membuat cerita yang ada pesan moralnya. "Atau, sayangi Papa dan Mama?"

Mama, Ran dan Amuro bertukar senyum mendengar jawabanku.

Conan minta izin untuk membaca cerita yang kubuat tetapi Mama ragu-ragu, masih merasa cerita itu tidak sesuai untuk anak-anak. Kudengar pengarang Coraline sendiri juga hampir tidak bisa mempublikasi cerita Coraline karena dianggap tidak sesuai untuk anak-anak. Aku bersyukur cerita itu dipublikasi soalnya aku suka sekali. Saking sukanya, aku dulu sampai memesan costum-made boneka Coraline, sampai request minta mata bonekanya memakai kancing hitam besar juga.

Aku bilang ke Mama bahwa Conan ini membentuk grup detektif cilik disekolah jadi dia tak akan takut dengan cerita yang kubuat.

Ran dan Conan tersenyum mendengar perkataanku. Akhirnya Mama mengizinkan Conan membaca cerita itu. Ran dan Amuro ikut nimbrung membaca beberapa halaman pertama pada cerita itu dan mereka berdua memujiku pintar merangkai kata-kata.

Aku tersenyum riang kepada mereka, merasa sedikit bangga.

"Apa kamu tidak berniat mempublikasi cerita ini?" tanya Conan. "Kurasa kau bisa melakukannya. Cerita ini cukup bagus."

Mama terperangah mendengar perkataan Conan. Amuro juga menyetujui perkataan Conan.

Aku tertawa. "Ceritanya biasa saja koq." Aku menggaruk-garuk kepala jadi tidak enak hati, merasa mencurangi pengarang asli Coraline walau Neil Gaiman sendiri orangnya tidak ada juga di dunia ini. Aku tahu karena aku cek semua buku yang seharusnya diterbitkan orang itu tidak ada di dunia ini. Lagipula, cerita yang kubuat itu kan cuma fanfiction belaka.

Ah, tapi mungkin kedepannya, boleh juga kupikirkan cara ini sebagai profesi penghasil uang. Apa gunanya memiliki cheat code jika aku tidak akan menggunakannya demi kepentinganku sendiri?

Siapa tahu aku bisa jadi penulis terkenal setara Yusaku Kudo? Tiba-tiba saja aku jadi ingin membaca novel-novel karya Yusaku Kudo dan ingin menonton film-film yang dibintangi Yukiko Kudo. Kumasukkan keinginan itu dalam wishlist-ku dalam hati.

Tapi, mungkin aku harus mempertanyakan hal ini pada Reina dulu. Pasalnya Reina sebagai dewa kematian, bisa menyebrang dari dunia nyata ke dunia ini. Apa ada kemungkinan shinigami yang disini bisa melakukan hal yang sama?

Hal terakhir yang kuperlukan adalah ketahuan mencurangi orang-orang didunia menggunakan karya-karya dari dunia nyata. Bagaimana jika, mungkin, ada shinigami didunia ini yang pernah baca soal Coraline saat di duniaku? Lalu, mereka pasti jadi mencurigaiku sebagai jiwa ilegal dan aku akan ditangkap hanya karena aku tak dapat menahan diri mencari untung dengan cheat code itu.

Aneh juga kalau memikirkan shinigami pun sempat membaca buku. Tapi, Reina saja bisa tahu soal Death Note. Nanti akan kutanyakan padanya dulu. Ah, tapi ini juga cuma bercanda saja, aku tidak yakin aku memang berniat menjadi penulis, terlalu berat.

Aku takut dikritik jika cerita yang kubuat tidak sesuai ekspetasi pembaca. Aku juga stres jika tidak ada yang memuji hasil karyaku, kedengarannya mungkin sombongi ingin dipuji-puji, tapi menulis fanfiction kan gratis bisa dibaca tanpa perlu bayar, apakah salah jika menginginkan apresiasi berupa komentar yang membangkitkan semangat menulis? Dulu waktu remaja, aku pun suka membuat fanfiction, susah sekali dapat komentar bagus dari pembaca. Pada maunya jadi silent reader. Tak heran banyak penulis fanfiction yang akhirnya kehilangan motivasi menulis fanfiction di fandom tertentu. Untunglah masih banyak penulis fanfiction yang mau bersabar dan masih mau berkarya. Jika tidak, aku cuma bisa mengeluarkan uang untuk membeli buku yang mungkin dapat memenuhi selera membaca. Ah, jika tidak ada fanfiction, aku bakal menangis tidak dapat membaca fanfiction berisi pasangan yang canon maupun tidak canon.

Aku tenggelam dalam lamunanku sehingga tidak menyadari semuanya sedang memperhatikanku, entah apa yang mereka pikirkan tentangku. Saat sadar, aku buru-buru menampilkan senyum cemerlang dan dengan riang, menelan bulat-bulat puding yang ada didepanku, membuat Mama menegur cara makan-ku.

Malam itu, Papa yang telah membaca buku cerita itu masuk ke kamarku dengan niat ingin mengerjaiku. Dia memakai kacamata yang telah ditempeli kancing hitam besar dan mengelitikiku diranjang sampai aku tertawa terbahak-bahak. Mama hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kekonyolan Papa.

777

Papa diundang ke pesta keluarga Suzuki dan dia mengajakku dan Mama untuk menghadiri acara tersebut. Mama mempersiapkan gaun pesta untukku. Aku tidak suka modelnya, terlalu princess banget, tetapi aku tahu aku harus memakainya dan bertingkah layaknya anak kecil. Aku selalu suka tingkah tokoh Amanda dalam film 'It Takes Two' saat dia menyamar jadi Alyssa dan menghadiri pesta. Aku pun meniru tokoh gadis kecil itu dan bertingkah seimut mungkin didepan para tamu yang datang dan dihadapan keluarga Suzuki. Aku berusaha untuk tidak terlalu memperhatikan warna-warna para tamu dalam pesta itu.

Aku terkejut mengetahui Sonoko mengenaliku. Rupanya Eva yang asli pernah bertemu Sonoko beberapa kali tiap kali diundang untuk menghadiri pesta atau ke vila keluarga Suzuki. Sonoko tersenyum padaku, kelihatan senang melihatku sudah sehat kembali. Aku terhenyak dan segera menampilkan senyum sepolos mungkin dihadapannya.

Papa mengelus-ngelus rambutku membuatnya sedikit berantakan, membuatku melototinya karena merusak penampilanku. Papa dan Mama lalu berbaur dengan orang dewasa lainnya.

Aku melihat Conan dan Ran lalu aku menghampiri mereka. Ran tersenyum melihatku dan memuji penampilanku. Conan memasang tampang seperti tidak ingin berada ditempat ini. Aku mengajaknya berbicara. Aku sengaja menanyakan apakah dia suka cerita misteri dan apakah dia sudah membaca karya Yusaku Kudo. Dia tentu saja mengiyakan. Aku pun mendesah dan mengatakan aku ingin juga membaca buku misteri karya orang itu tetapi Mama tidak mengizinkannya.

Sesuai dugaanku, dia dengan sopannya mengatakan dia bersedia meminjamkan satu buku karya sang Ayah jika aku memang berminat sekali. Aku tersenyum dan berterima kasih padanya. Aku mengajak dia untuk mengambil sedikit makanan dan minuman. Ran dan Sonoko menghampiri kami. Sonoko menyapaku dengan gembira tetapi terlihat sedikit kasar saat menyapa Conan. Conan sepertinya tidak begitu peduli.

Untunglah pesta berjalan lancar, tadinya aku kira dengan kehadiran Conan, yang merupakan magnet penarik kematian, akan ada kasus pembunuhan dalam pesta ini. Aku sendiri tidak ingat apakah pesta ini ada dalam manga DC. Aku tidak hafal setiap kasus dalam manga tersebut, mana mungkin , mengingat manga ini sudah hampir seribu lebih kasusnya.

Moodku dalam pesta akhirnya sedikit amburadul karena walau aku berusaha menghindari melihat warna, hal itu memang tidak mungkin. Semua warna ada didalam ruangan ini, termasuk warna kuning. Dan lagi-lagi aku pun terbelenggu oleh pemikiran apakah aku harus melakukan intervensi atau tidak.

Jantungku nyaris copot saat saat aku melihat salah satu tamu yang sedang berdiri sendiri tidak kelihatan nama dan tanggal kematiannya! Aku ketakutan setengah jiwa mengira shinigami itu menyadari kehadiranku. Untungnya, sepertinya tidak. Akan tetapi, pria itu sedang mengamati salah satu tamu yang berwarna kuning.

Aku menyembunyikan diri dibawah meja saking tegangnya. Conan yang menyadari pucatnya wajahku menanyakan apa aku baik-baik saja. Aku tersenyum lemah kepadanya sebelum berlari meninggalkan ruang pesta dan menuju ke toilet untuk menenangkan diri. Tak lama, Mama mendatangiku, rupanya dia dikasih tahu Conan bahwa aku kelihatan tidak enak badan. Berkat Conan, aku bisa pulang duluan dengan Mama. Aku hanya bisa berdoa semoga shinigami itu tidak menyadari kehadiranku.