Sepulang dari pesta, aku langsung mengurung diri di kamar. Mama khawatir padaku tetapi aku bilang aku ingin segera tidur saja. Setelah memeriksa suhu tubuhku, Mama baru puas dan meninggalkanku.

Aku ketakutan, khawatir shinigami di pesta itu akan mengikutiku pulang atau mengawasiku. Untunglah hal itu tidak terjadi.

"Reina? Reina, apa kau mendengarku? Kita perlu bicara. Tolong segera kemari." Bisikku sambil memandang langit-langit.

Tidak ada jawaban.

Aku menghela nafas dan membaringkan badan diranjang, berusaha untuk tidur. Aku tidak bisa karena aku terus memikirkan kejadian tadi.

Entah berapa lama, aku hanya bisa membolak-balikan badan dengan tidak tenangnya. Akhirnya, aku bisa merasakan kelelahan meliputiku dan aku pun jatuh tertidur.

Reina membangunkanku dari tidurku. "Kau memanggilku?"

Aku mengusap-ngusap mata masih mengantuk. "Reina?"

"Maaf aku baru bisa datang sekarang. Ada apa?"

Aku langsung berusaha menyegarkan diri agar bisa fokus pada Reina. Aku menceritakan kejadian di pesta tadi.

Reina terlihat sedang memikirkan apa yang kukatakan. Dia mengangkat bahu dengan cuek. "Kalau menurut ceritamu, sepertinya orang itu tidak menyadari kehadiranmu. Jika iya, orang itu pasti sudah akan mengikutimu. Atau mungkin dia harus menyelesaikan tugasnya dulu?"

Wajahku memucat mendengarnya.

Reina tersenyum. "Tenanglah, kau tidak bertindak mencurigakan, bukan? Pokoknya lain kali kalau melihat salah satu mereka, kau jangan kelihatan tegang atau takut, nanti malah jadi menarik perhatian mereka."

Ugh, yang benar saja, mana bisa aku bersikap tenang? Malah saking gugupnya, aku sampai sempat sakit perut.

Reina tertawa mendengar perkataanku. "Jimat dariku kau masih pakai terus kan? Tenanglah."

Tanganku otomatis memegang bandul koin dari kalung yang ku pakai.

"Hey, Reina. Kau bilang kau masih harus melanjutkan tugasmu di dunia nyata. Apakah...apakah kamu bisa mengecek keadaan keluargaku?"

"Bisa saja, tapi buat apa? Kau ingin tahu bagaimana reaksi mereka akan kematianmu?"

Aku menyentak akan perkataan 'kematianku'. Iya ya, aku benar-benar sudah mati di dunia nyata. Aku tidak yakin aku mau tahu reaksi keluargaku. Aku takut merasa bersalah jika mereka tidak bisa menerima kematianku dengan baik. Dan jikalau mereka bisa menerimanya, aku takut merasa kecewa dan pastinya jadi insecure berpikir bahwa mereka merasa lega beban keluarga sudah berkurang.

"Aku hanya ingin tahu bahwa mereka baik-baik saja." Tuturku. Tak apalah jika mereka bisa menerima baik kematianku daripada mereka menderita kehilanganku. Dan lagi alangkah benarnya bahwa kematianku memang bisa mengurangi beban hidup. Benar, tidak apa-apa. Aku sudah bukan lagi bagian dari hidup mereka, sekarang pun aku punya kehidupan sendiri. Jadi, aku berharap mereka bisa menjalani sisa hidup mereka dengan baik dan bahagia.

Tanpa kusadari airmata mengalir membasahi wajahku. kaget, aku buru-buru mengusap airmataku dengan tangan.

Reina tidak berkata apa-apa untuk sesaat. "Mereka baik-baik saja. Tentu saja mereka merasa kehilanganmu, tapi mereka bisa menghadapinya. Mereka bahkan dapat ganti rugi akibat kecelakaan yang menimpamu. Kamu tahu kan bahwa kamu memiliki asuransi jiwa? Selain itu, perusahaan pemilik truk yang menabrakmu juga cukup berdermawan dan memberi dana untuk keluargamu."

Ah, ya, benar. Jika kematianku bisa memberi keluargaku uang, itu baik juga.

Aku membaringkan kepala ke atas bantal, merasa sedikit lega setelah berbicara dengan Reina.

Reina juga ikut berbaring diranjang disampingku.

"Reina, bolehkah aku bertanya?"

"Apa?"

"Bagaimana rasanya menjadi dewa kematian?"

"Ya, begitu saja, tiap hari tiap menit mengurus jiwa-jiwa kalian manusia."

"Apakah tugas dewa kematian juga membimbing jiwa untuk ke surga atau neraka?"

"Membimbing jiwa, iya. Tapi, bukan kami yang memutuskan apakah pintu yang akan mereka lihat dan buka menuju surga atau neraka."

Aku jadi memikirkan apakah aku akan masuk surga atau neraka. Jika aku tidak pernah berbuat jahat tetapi juga jarang berbuat kebaikan, apakah aku akan menemukan kedamaian? Rasanya ada film seri soal itu dulu sekali, cuma aku tidak tonton karena takut terbawa stres.

Aku menatap Reina yang masih berpenampilan layaknya remaja pada umumnya. "Kemana jubah hitam-mu? Aku tidak pernah melihatmu memakainya lagi."

Reina tertawa. "Aku cuma pakai jubah hitam itu supaya kau menyadari siapa aku."

Aku merasa sedikit dongkol. "Kau membuatku kaget setengah mati waktu itu."

"Kurasa tidak, malah aku melihat sepertinya kau tidak sekaget yang kau bilang. Aku rasa kau menyadari dan menantikan kedatanganku karena kau tahu aku, dewa kematian, cepat atau lambat akan mendatangimu, berhubung karena kau memiliki mata shinigami kan?"

Aku mengakui pemikiran itu sempat terlintas dikepalaku, tapi jauh dalam pikiranku. Aku membuang jauh pikiran itu karena menganggap terlalu fanfiction banget. Tapi, tak lama setelah itu, Reina pun muncul.

"Beginilah sikap orang yang kepalanya kebanyakan diisi fantasi supernatural..." ujarku. "Keluargaku suka meledeki aku bahwa aku terlalu banyak berkhayal yang tidak penting."

"Ya, dalam kasusmu, hal itu berguna kan?"

Aku tertawa mendengarnya. "Hei, Rena, biasanya dewa kematian digambarkan memiliki tongkat sabit, death scythe, apakah kau punya? Atau itu hanya mitos?"

Reina tertawa. "Oh, the famous death scythe... Ya, semua dewa kematian pasti punya. Benda itu membuat kami sesuai dengan nama Grim Reaper, bukan?"

"Jadi kalian benar-benar memiliki benda itu? Dan kau menggunakannya untuk menarik jiwa manusia?" tanyaku penasaran.

"Ah, benda itu sekarang hanya formalitas saja, jarang dipakai. Benda itu terlalu kuno dan traditional, kebanyakan hanya para dewa kematian dengan rekor tertinggi yang masih memakai itu. Setelah Death Note keluar, aku sempat menganjurkan agar atasan mengubah death scythe itu biar sama dengan Death Note tapi ideku itu ditolak."

Aku tertawa membayangkan Reina membujuk atasannya dengan ide dari sebuah manga. Äh, ya, apakah shinigami di dunia ini bisa ke dunia lain seperti kau yang bisa menyebrang antara dunia nyata dengan dunia manga ini?"

Reina berpikir-pikir. "Seharusnya sih tidak, sepengetahuanku, mereka bahkan tidak sadar bahwa dunia ini bukan dunia yang asli seperti dunia nyata. Tetapi, mereka tidak bisa dianggap remeh, mereka berbahaya dan kekuatan dewa kematian mereka senyata milikku."

"Kau pernah bertemu dewa kematian di dunia ini?"

"Aku pernah melihat mereka sekilas tetapi aku lebih aktif menghindari mereka." jelas Reina. "Bagaimanapun, mereka tidak akan senang jika tahu ada shinigami dan jiwa yang ilegal di dunia milik mereka. Skenario terburuk, mereka bisa saja menghapus esensi jiwamu dengan tuntas. Jika begitu, kau tak akan bisa lagi reinkarnasi, kau hanya akan menghilang dan terlupakan. Sedangkan aku...kurang lebih samalah dengan nasibmu mungkin, dilenyapkan begitu saja."

Aku bergidik mendengarnya.

"Makanya, Eva, kuminta kau berhati-hati. Aku tahu hal ini tidak mudah mengingat kau memiliki mata shinigami. Aku akan berusaha mencari jalan agar aku setidaknya bisa mengunci kemampuan itu supaya kau bisa menjalani hidup normal."

Aku tersenyum padanya. "Terima kasih."

Dahulu, aku sering membayangkan bagaimana rasanya memiliki kekuatan supernatural dan menolong orang dengan kekuatan itu, aku sadar sekarang aku bukan tipe pahlawan. Aku tidak memiliki keberanian untuk menolong orang. Memang mungkin lebih baik aku menjalani hidup normal saja menjadi karakter samping yang tidak penting dalam permainan bernama kehidupan. Aku tak akan pernah bisa menjadi tokoh utama dalam kisah apapun bahkan dalam kisah hidupku sendiri.

777

Setelah berbicara dengan Reina, aku merasa sedikit tenang. Betapa leganya diriku mengetahui aku masih aman dari shinigami lain. Tadinya aku sempat tidak mau ke sekolah dulu saking takut berpapasan lagi dengan shinigami manapun. Tapi, Mama memaksaku untuk sekolah setelah mengecek bahwa suhu badanku normal dan aku tidak sakit apapun.

Saat pulang sekolah hari itu, aku berpapasan dengan Amuro yang sedang membawa banyak kantong belanjaan berisi barang untuk keperluan Poirot.

Dia tersenyum padaku. "Halo, Eva, apakah hari ini kau juga akan mampir ke Poirot?"

"Kak Amuro!" Aku senang melihat orang itu lagi. "Aku belum tahu. Jujur saja, aku sudah agak bosan makan makanan yang itu-itu saja." celotehku sambil menghitung jari hidangan makanan di Poirot yang aku suka. Ternyata cuma ada 6 menu yang aku suka disana. Sisanya aku ogah mencobanya.

"Kebetulan hari ini aku membuat hidangan baru, maukah kau mencobanya?"

Mataku berbinar-binar gembira. Menurut manga DC, Amuro itu jago masak. "Iya, mau!"

Amuro tersenyum. "Kalau begitu, mari berjalan bersama kesana."

"Iya. Kak Amuro, apakah perlu ku bantu bawaan belanjaannya sedikit?"

"Terima kasih, Eva, itu tidak perlu. Oh ya, apakah hari ini kamu ada PR Math? Jika ada yang tidak mengerti nantinya, jangan sungkan menanyakannya padaku."

"Ok, terima kasih."

"Bagaimana dengan cerita yang kau buat waktu itu? Apakah kau mendapat nilai yang memuaskan?"

Aku tersenyum dengan agak angkuh. "Tentu saja, hasil karyaku mendapat nilai tinggi!" Ya, aku memang curang sih dalam soal itu, kosakataku lebih banyak dari anak SD umumnya sampai guru pun sempat meragukan apa itu benar hasil karyaku. Sayangnya aku tidak bisa angkuh kalau soal pelajaran Math dan olahraga. Aku paling lemah dalam soal itu.

Amuro tertawa mendengarnya.

"Pak guru bahkan menawarkan untuk mempublikasi cerita itu."

"Lalu, apakah kau menerimanya?"

"Tentu saja tidak."

"Kenapa tidak? Aku hanya membaca sedikit tapi cerita itu kelihatannya bisa menarik perhatian orang."

Aku tidak bisa bilang aku menolaknya karena waktu itu aku masih berasumsi bahwa shinigami di dunia ini bisa ke dunia nyata dan mungkin saja mengetahui soal buku Coraline. Bukankah konyol jika aku tertangkap karena fanfiction Coraline buatanku?

Ya, Reina memang sudah mengkonfirmasi bahwa shinigami di dunia ini tak menyadari bahwa dunia ini bukan dunia nyata. Lagipula, aku rasa Amuro dan Conan cuma basa-basi saja memuji soal hasil karyaku itu. Karya itu mana setara dengan kehebatan asli karya Coraline.

Aku mengangkat bahu dengan gaya cuek. "Aku belum mau saja."

Amuro menyadari aku tidak lagi ingin membicarakan soal itu, akhirnya mengalihkan pembicaraan ke topik lain.

Saat tiba di Poirot, Azusa kaget melihat diriku bersama Amuro. Aku tersenyum menyapa gadis itu. "Kak Azusa!"

Amuro menyuruhku duduk menunggu di salah satu meja sementara dia akan menyiapkan makanan untukku. Aku tidak sabar ingin mencicipi masakan Amuro. Pertama-tama, aku menunggu sambil mengerjakan PR-ku tetapi aku bosan. Aku jadi teringat beberapa waktu lalu, ada pelanggan wanita datang ke Poirot demi memanjakan mata dengan seorang Amuro, mereka sangat memuji gaya memasak Amuro yang sangat cool. Aku meninggalkan meja dan mendekati Amuro. Aku duduk didepan meja bartender dan dengan mata berbinar-binar memandangi gerakan cekatan Amuro dalam menyiapkan makanan.

Azusa tersenyum geli dan membisiki Amuro bahwa dia memiliki seorang penggemar kecil. Amuro hanya tertawa kecil mendengarnya. Aku tidak mempedulikan 'ejekan' Azusa. Aku bisa tidak meladeni hal itu karena aku ini anak kecil jadi Amuro tak akan merasa terganggu dengan fokus laser-ku padanya dibandingkan jika aku seorang dewasa.

"Wah, kelihatannya enak." seruku.

"Mau coba mengaduk adonan ini?" tawar Amuro.

Aku langsung mengangguk setuju dan Amuro menyuruhku bergabung dengannya. Dia bahkan mempersiapkan kursi kecil untukku berjinjit. Dengan bersemangat, aku mendengarkan kata-kata Amuro yang menjelaskan soal adonan tersebut. Azusa pun ikut bergabung dengan kami dan kami bersenang-senang bersama. Untunglah saat itu Poirot lagi sepi, jika tidak, mana bisa aku melakukan hal ini dengan Amuro dan Azusa. Melihat interaksi Amuro dan Azusa, mau tidak mau, aku mengakui bahwa kemungkinan aku bisa nge-ship mereka juga.

Saat aku sedang asyik dengan Amuro, Conan datang memasuki Poirot. Amuro menyapanya. Aku juga ikut menyapanya. Conan terlihat terkejut melihatku. Conan pun hari ini akan makan di Poirot berhubung Ran sedang latihan karate sampai malam dan Kogoro rupanya pergi berjudi dengan teman-temannya. Aku mengundang Conan duduk denganku, membuat diriku kaget sendiri kenapa aku mengundang dia seperti itu. Bagaimana jika nanti suasananya jadi canggung jika aku tidak bisa memulai pembicaraan yang nyaman bagi kami berdua?

Aku agak terkejut saat Conan menanyakan jika aku tak apa-apa waktu pesta kemarin. Katanya aku kelihatan pucat seperti hampir melihat hantu saja. Aku bilang aku tak apa-apa. Untungnya dia tak menanyakan lebih jauh lagi.

Conan mengejutkanku lagi dengan mengajakku bicara soal apakah aku masih berminat membaca buku serial night baron Yusaku Kudo. Aku dengan mata berbinar-binar segera mengangguk-angguk.

"Apa kau membawanya?" tanyaku penuh harapan.

Conan terlihat tidak enak hati. "Lain kali aku akan membawakannya untukmu."

"Ok, maaf merepotkan." jawabku dengan riang seakan sebenarnya aku tidak peduli bahwa itu mungkin merepotkan dia.

Amuro mendatangi kami dengan hidangan makanan yang berbau harum. Aku dan Conan sampai ngiler, sangat tertarik untuk memakannya. Amuro memandangi kami makan dengan raut ekspresi bangga akan masakannya. Aku dan Conan memuji-muji Amuro.

Sehabis makan, aku kembali mengerjakan PR-ku dan kesal karena PR math hari itu susah sekali. Aku menyadari Conan sedang mengamatiku. Aku rasa dia merasa kasihan padaku. Dia tidak mungkin membantuku karena dia anak dari kelas bawahku mana mungkin dia memperlihatkan kemampuannya untuk menyelesaikan PR math kelas atasnya, bukan? Untunglah Amuro akhirnya ada kesempatan untuk mengajariku sebentar.

Aku berterima kasih pada Amuro. "Kak Amuro seharusnya menjadi guru les juga. Kakak lebih enak mengajarkannya daripada guruku." tuturku. "Aku dikatai bodoh terus oleh guru math."

Amuro tersenyum padaku.

Saat itu, Papa memasuki Poirot dan aku yang melihatnya langsung menyapa Papa dengan gembira bagaikan anak kecil benaran saja. Papa memelukku juga dan bertanya apa aku menjaga sikap disini, membuatku sedikit cembetut dicurigai bertindak sebagai anak nakal.

Papa memutuskan untuk membungkus makan pesanan dia dan Mama dibawa pulang saja. Amuro dengan sigap segera menyiapkannya. Conan berpamitan untuk pulang. Aku melambaikan tangan berteriak sampai jumpa besok padanya. Dia tersenyum kecil kepadaku.

Papa menanyakan siapa Conan. Aku mengatakan Conan adalah anak yang tinggal dengan Kogoro dan anggota detektif cilik di sekolah. Papa mengira Conan mempelajari cara menjadi detektif dengan berguru pada Kogoro. Aku dengan gembira juga menginformasikan bahwa Amuro juga berguru pada Kogoro.

"Eh, Eva, kamu tahu darimana aku adalah detektif?" tanya Amuro. "Darimana kau tahu bahwa aku sedang belajar dengan Pak Kogoro?"

Aku kaget mendengarnya. Aku buru-buru tertawa dan berkata, "Aku seorang cenayang!" seruku sambil dengan gaya melebih-lebihkan mengikuti gaya Shawn Spencer dari seri Psych, meletakkan jari di sisi kiri dan kanan pelipisku. Aku tersenyum pada Amuro. "Aku pernah mendengar Pak Kogoro bilang bahwa kau muridnya, makanya dia suka dikasih makan gratis olehmu."

Papa tertawa mendengarnya. Amuro tersenyum tipis padaku.

777

Papa mendapat undangan untuk menaiki bell tree express murder mystery train dari pihak keluarga Suzuki. Papa tidak dapat menghadirinya jadi hanya aku dan Mama yang pergi. Sebenarnya aku agak ragu mau pergi mengingat perjalanan yang dimaksud adalah bagian penting dalam manga DC dimana pembaca akhirnya mengetahui identitas Amuro sebagai Bourbon dan kasus tegang dimana nyawa Ai ditargetkan.

Ah, tapi aku penasaran juga ingin merasakan kereta mewah itu. Mungkin tak akan ada masalah karena sepengetahuanku, penghuni kereta tidak dalam bahaya. Kalau tidak salah, bom yang meledak adalah bom di tempat yang tak berpenumpang. Iya, jadi tak apa bukan?

Aku tidak enak hati dengan Yuka dan Nanno saat mereka mengetahui rencana perjalananku dengan Mama menaiki kereta mewah itu. Aku ingin juga mengajak mereka tetapi aku tidak bisa meminta Papa meminta tiket lebih lagi. Akhirnya, aku berjanji akan video call mereka untuk memperlihatkan isi kereta.

Sebelum berangkat menaiki kereta, aku bertemu dengan Conan, Ran, Kogoro, Ai dan detektif cilik serta Prof. Agasa. Aku melambaikan tangan ke arah Conan dan Ran. Ran tersenyum kepadaku dan mengajakku bicara. Grup detektif cilik memandangiku dengan tertarik kecuali Ai dan Ran memperkenalkanku kepada mereka semua. Ayumi yang supel langsung bersikap ramah kepadaku. Ai masih cuek saja sementar Genta dan Mitsuhiko lumayan ramah juga.

Grup detektif cilik kaget mengetahui bahwa aku satu sekolah dengan mereka. Ya, keberadaanku tipis sih jadi mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya kami ada beberapa kali berpapasan di sekolah.

Saat Sonoko datang, Mama dan aku langsung menyapa Sonoko. Mama mengucapkan terima kasih atas tiketnya. Sonoko mengibaskan tangan seakan hal itu tidak penting dan tersenyum kepadaku, menanyakan apa aku sudah tidak sabar naik kereta. Aku langsung menjawab dengan nada kekanak-kanakan bahwa aku sudah sangat, sangat tidak sabar. Mama tersenyum sambil membelai kepalaku.

Ran menanyakan bagaimana Sonoko mengenalku dan gadis itu menjelaskan bahwa Papa-ku bekerja pada Ibu Sonoko karena itu dia mengenal keluargaku, berhubung kami sering diundang ke acara yang dirayakan perusahaan keluarga Suzuki.

Pengumuman terdengar, meminta para penumpang untuk segera menaiki kereta. Aku menggandeng tangan Mama dan kami pun naik kereta bersama, menuju ruangan yang sudah dipesankan untuk kami. Aku senang melihat interior dalam kereta dan segera mengeluarkan smartphone untuk memfoto tempat tersebut, kadang selfie bersama Mama juga.

Aku menyukai ruangan yang sudah dibooking untukku dan Mama. Aku video call Papa dahulu tetapi karena dia sedang sibuk jadi cuma bicara sebentar saja lalu baru aku video call Yuka dan Nanno. Aku dengan bangga memperlihatkan isi ruangan dan pemandangan dari jendela kaca didalam kereta. Mereka kelihatan senang jadi aku meminta izin pada Mama untuk keluar menjelajahi dalam kereta. Mama sedang mengeluarkan laptop-nya hendak mengerjakan pekerjaannya dan mengucapkan selamat berpetualang padaku. Aku pun memperlihatkan isi kereta diluar ruangan kepada Yuka dan Nanno, mereka cukup heboh sendiri.

Seusai video call, aku kembali ke ruangan tempat Mama berada tapi Mama sedang sibuk bercakap-cakap di HP dengan seseorang. Tak ingin mengganggu, aku mengambil ransel kecilku yang isinya HP, dompet isi uang jajan, buku pinjaman dari Conan dan sepasang earphone. Aku berniat ke gerbong dimana kantin makan berada, ingin baca buku disana saja. Memang rencananya aku ingin membaca buku novel Yusaku Kudo itu disana biar tidak ketahuan Mama.

Aku memakai kacamata hitam supaya warna para penumpang jadi tidak begitu kelihatan jelas sehingga tidak membuatku aku tegang. Aku berniat untuk santai di dalam kereta ini walau aku tahu nantinya akan ada kejadian tidak mengenakkan perihal organisasi hitam. Aku duduk disalah satu tempat kosong lalu mengeluarkan buku-ku untuk membaca. Karena ingin membaca, terpaksa kulepas kacamata hitamku, disemat diatas kepala.

Saat itu, aku melihat Subaru Okiya lagi. Subaru mengenali-ku dan tersenyum padaku. Aku berusaha untuk fokus ke wajah pria itu saja dan berusaha setengah mati untuk pura-pura tidak terganggu melihat warna-warna yang menghiasi kepala tiap orang.

"Kita bertemu lagi, Eva, bukan?"

Huh, pura-pura tidak tahu segala. Aku pun memasang tampang sepolos mungkin. "Hai, Kak Subaru." sapaku. "Apakah Kakak akan mengikuti permainan misteri dalam kereta?"

Dia menjawab dengan tidak jelas, sesuatu tentang mengikuti permainan dia sendiri. Tentu aku tahu maksudnya tapi aku harus pura-pura tidak tahu, bukan? Aku suka bagian manga DC yang ini, dalam satu kereta ini, banyak terdapat karakter favoritku, ada Subaru, Amuro, Yukiko Kudo, Kaito Kid dan Ai. Walau Ai tidak terlalu tertarik padaku dan kemungkinan untuk bertemu Kaito Kid kecil disini.

Saat itulah aku baru menyadari bahwa selain kasus dengan organisasi hitam, bukankah ada seseorang yang akan terbunuh?

Subaru menatap buku novel yang kupegang.

Aku memperlihatkan buku novel pinjaman Conan itu. "Apakah Kakak sudah membaca buku ini? Pengarangnya sangat terkenal lho."

Subaru tersenyum. "Apa kau suka misteri, Eva?"

"Suka, tetapi bukan tipe suka sekali yang sampai ingin mengerti dan memecahkan misterinya. Aku suka saja." tuturku.

Memang benar, saat membaca manga DC pun, aku tidak begitu memahami analisa trik pembunuhan yang Conan berhasil pecahkan. Aku hanya ingin cepat mengetahui pelakunya dan alasannya melakukan pembunuhan.

Saat itu, mataku teralihkan pada seorang wanita anggun yang duduk tak jauh dari kami. Penampilannya sungguh elegan dan aku tahu sekali bahwa wanita itu adalah Yukiko Kudo. Aku rasanya ingin menghampiri dia meminta tanda tangan sebagai fans dari film-nya. Kebetulan Mama memang suka film-film yang dibintangi Yukiko Kudo. Tapi, aku tidak sejahat itu merusak rencana Conan untuk peranan ibunya dalam kasus kali ini.

Aku lupa memakai kacamata hitam-ku jadilah warna semua penumpang jadi terlihat dan tentunya ada saja yang berwarna merah dan kuning. Melihat sekilas, aku tahu bahwa tanggal kematian mereka ada yang sekitar 3 hari sampai seminggu lagi. Aku lega setidaknya bukan tanggal dihari yang sama dengan hari ini. Aku hanya akan berada didalam kereta ini untuk sehari ini saja jadi aku tidak ada obligasi untuk berusaha menyelamatkan yang berwarna kuning. Ah, aku memang bodoh, lihatlah aku jadi merasa tidak enak hati lagi.

Ada seseorang memasuki gerbong kantin dan wajahku memucat saat menyadari orang yang baru masuk itu adalah shinigami!

Tanpa pikir panjang, aku langsung merosot ke bawah meja, membuat Subaru bingung tetapi dia baik juga karena dia duduk pas disebelahku sehingga menutupi sosokku dari shinigami tersebut.

"Ada apa dengan orang itu?" tanyanya terang-terangan kepadaku.

Aku sontak kaget mendengar pertanyaan Subaru. Dia bisa melihat shinigami itu? Selama ini, aku mengira shinigami itu hanya terlihat olehku saja. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. "Bukan, aku sakit perut saja. Aku akan kembali ke Mama." sergahku. Aku memakai kacamata hitam-ku, tidak mempedulikan rasa keingintahuan Subaru perihal sikapku yang janggal.

Shinigami itu berjalan melewatiku membuatku terhenyak ketakutan. Tanpa sadar aku mencengkram lengan Subaru dan menyembunyikan wajahku dari pandangan orang tersebut. Shinigami itu beda orang dengan yang waktu itu aku lihat di pesta.

Aku baru sadar Subaru sedang mengamatiku dengan penuh perhitungan. Aku menelan ludah dan segera beranjak pamit hendak menemui Mama. Subaru tidak menghentikanku tetapi aku melihat bahwa aku telah membangkitkan rasa ingin tahu dalam diri pria itu. Berhubung saat ini benaknya pasti dipenuhi soal Ai dan Amuro, dia tidak begitu mempermasalahkan kejanggalan dalam sikapku.

Aku lega berhasil keluar dari gerbong kantin dengan selamat. Aku kira nyawaku bakal melayang saat melihat shinigami itu. Memang melihat shinigami itu tidak bisa dihindari berhubung pekerjaan mereka mengharuskan mereka berada ditengah manusia. Aku harus belajar poker face, tingkahku didepan Subaru tadi sungguh mencurigakan, bukan? Untung saja, shinigami itu tidak memperhatikanku. Tetapi karena dia ada disini, dia pasti datang untuk mengurusi penumpang berwarna kuning, bukan?

Karena sibuk berpikir, aku tidak melihat jalanan dan bertubrukan dengan penumpang lain sampai kacamataku jatuh. Sialnya, penumpang yang kutabrak berwarna kuning, beda orang dengan yang di gerbong kantin tadi. Aku meminta maaf padanya. Orang itu mengacuhkanku sedang sibuk berbicara di HP-nya sepertinya sedang berdebat.

Aku mengeluarkan catatan kecil milikku dan menuliskan nama dan tanggal orang itu, juga penumpang warna kuning yang kulihat dikantin tadi. Aku berpikir apa perlu aku meninggalkan catatan untuk orang-orang ini memperingatan agar berhati-hati sampai lewat tanggal kematian mereka. Tapi, mana mungkin mereka akan mempercayai catatan yang mereka terima secara random? Dan lagi aku ngeri juga kalau sampai catatan itu jatuh ke tangan shinigami.

Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan keras berusaha mengusir pikiran bodoh-ku. Stay under the radar, Eva! Please! Don't be an idiot for once in your life! Aku langsung meremas kertas berisi nama dan tanggal para penumpang kuning sampai berupa bola dan melemparkannya kebelakangku dengan gemas. Aku langsung mencak-mencak menjambak rambutku sendiri. Bodoh, Eva, kau bodoh!

"Lho, Eva?"

Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku menoleh dan melihat Amuro. Aku jadi malu lagi-lagi dia melihatku sedang menjambak rambut sendiri dengan gaya yang sangat tidak elegan.

Aku tersenyum. "Kak Amuro!" seruku riang sambil berlari menghampiri orang itu.

Amuro tersenyum padaku dan meletakkan tangannya diatas kepalaku, merapikan sedikit rambutku yang acak-acakan.

"Asyik, Kakak juga ada disini! Conan dan Kak Ran juga ada disini lho!" cerocosku.

"Oh, ya? Dimana mereka sekarang?" tanyanya.

"Sepertinya mereka sedang mengikuti permainan yang murder mystery itu lho."

Saat itu, Ran, Sonoko, Ai dan grup detektif cilik muncul. Ran agak kaget melihat Amuro juga ada didalam kereta. Ran memperkenalkan Amuro kepada Sonoko. Dari mereka-lah, Amuro mengetahui bahwa ada kasus pembunuhan dan bahwa Conan dan Kogoro sedang berada di TKP.

Aku melihat Vermouth yang sedang menyamar jadi Shuichi Akai dengan muka yang cacat terbakar dan dia mendelik tajam ke arah Ai membuat tubuh gadis kecil itu bergetar hebat. Aku merasa kasihan padanya tapi aku bisa apa? Aku diam-diam memandangi Vermouth dan melongo mendapati nama diatas kepalanya ternyata bukan Sharon Vineyard. Jadi nama Sharon Vineyard juga hanya nama alias dia?

Amuro langsung pamit untuk menyusul ke TKP, hendak membantu para detektif itu.

Ran menanyakan apakah aku ingin bergabung dengannya bersama Ai dan grup detektif cilik. Aku menolak mengatakan bahwa Mama sudah menyuruhku kembali ke ruangan kami.

Aku kembali ke gerbong dimana Mama berada. Mama terlihat khawatir, rupanya dia mendengar tentang kasus pembunuhan didalam kereta. Selanjutnya, aku tetap berada disisi Mama sampai saatnya kami diungsikan karena ada asap dalam kereta. Mama kelihatan panik dan walau aku tahu hasil akhir dari kasus ini, berhubung saat ini aku berada ditengah-tengah TKP, aku jadi dag-dig-dug juga.

Akhirnya, kereta dihentikan di halte terdekat dan semua penumpang turun. Saat itulah, Subaru menghampiriku dan menyodorkan buku novel Yusaku Kudo yang rupanya ketinggalan oleh-ku saat aku panik melihat shinigami. Aku berterima kasih kepada Subaru. Aku jadi tidak enak pada Conan karena hampir saja menghilangkan buku pinjaman darinya.

Mama menatap Subaru dengan curiga. Mama tidak pernah bertemu Subaru sebelumnya dan melihatku bertingkah agak akrab dengannya tentunya sebagai orangtua , Mama akan mencurigainya.

Subaru memperkenalkan dirinya kepada Mama sebagai mahasiswa di suatu universitas. Ketika Mama menanyakan bagaimana kami bisa kenalan, tanpa pikir panjang aku mengatakan Subaru itu guru les teman sekolahan. Lebih maksud akal bukan dibanding jika mengatakan kami bertemu secara kebetulan di supermarket? Hal itu lebih terdengar mencurigakan.

Subaru pastinya terkejut mendengar jawabanku tetapi poker face dia memang kuat dan dia pun dengan tenang mengonfirmasi perkataanku.

Gantian aku yang kaget saat Subaru mengatakan kepada Mama bahwa aku memintanya untuk mengajariku pelajaran matematika. Mama langsung berubah sikap menjadi ramah saat mereka membicarakan biaya les-ku. Mereka bertukar nomor HP. Koq jadi begini?

Aku tidak mau les dengan Subaru, mukanya memang kelihatan ramah, tapi aslinya sebagai Shuichi, dia kelihatan sedikit tidak sabaran. Apakah dia bisa menjadi guru les? Aku trauma dikatai bodoh oleh guru-guruku dahulu di dunia nyata dan di dunia ini. Jika sampai aku dikatain bodoh oleh Subaru alias Shuichi, harga diriku bisa tambah retak.

Aku menatap Subaru dengan curiga. Memangnya dia ada waktu untuk memberiku les? Wah, jangan-jangan dia ingin menginterogasiku soal kejadian tadi di kereta? Masa sih?