Aku menghela nafas saat memandangi rumah kediaman keluarga Kudo. Aku kesana untuk menghadiri pelajaran les pertamaku dengan Subaru.
Aku tidak mengira bahwa orang itu benar-benar akan memberiku les. Bukankah dia sedang bertugas dalam penyamaran? Apa tidak apa-apa dia tidak fokus pada Ai?
Entah bagaimana Subaru meyakinkan Mama, yang pasti Mama sepertinya percaya padanya. Mama sangat senang mengetahui bahwa Subaru adalah 'kenalan' keluarga Kudo yang terkenal. Jadi, Mama menganggap Subaru pasti orang baik-baik hanya karena mengenal keluarga tersebut.
Aku enggan masuk. Aku takut dengan pelajaran math dari orang itu dan aku khawatir dia juga akan menginterogasi aku soal kejadian di kereta.
"Kak Eva? Sedang apa disini?" tanya Ayumi.
Aku menoleh dan melihat Conan, Ai dan grup detektif cilik, sepertinya mereka hendak bermain bersama di rumah Prof. Agasa.
"Aku akan les dengan Kak Subaru yang tinggal disini." jelasku.
"Hah? Les? Les apa?" tanya Genta.
Aku menggaruk-garukkan kepalaku sambil tertawa kecil. "Matematika. Aku paling lemah dalam pelajaran itu."
Genta langsung mengatakan dia juga sama sepertiku dan tertawa.
Ai menyindirnya, mengatakan hal itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan.
Genta menggerutu sementara Ayumi dan Mitsuhiko hanya tertawa sambil menepuk-nepuk badannya.
Aku tersenyum kecil melihat interaksi mereka.
"Terus, kenapa tidak masuk?" tanya Conan.
Aku berpikir-pikir. "Sepertinya aku pernah dengar rumor bahwa rumah ini berhantu." tuturku.
Grup detektif cilik saling bertukar pandang dengan wajah tidak enak hati. Aku tersenyum geli dalam hati karena aku ingat pada awal-awal manga DC memang mereka ada menyeret Conan untuk menyelidiki gosip hantu pada rumah ini.
"Itu hanya gosip." kata Conan. "Rumah ini ada penghuninya koq. Jadi mana mungkin rumah ini berhantu."
Grup detektif cilik ikut menganggukkan kepala seakan mengonfirmasi penjelasan Conan. Ai hanya berdiri disana, menguap mengantuk seakan percakapan ini membuatnya bosan.
Saat itu, Subaru keluar dari rumah, membuka gerbang pintu. "Kau sudah datang, Eva? Kenapa tidak bel pintu? Apa sudah menunggu lama?"
"Aku baru sampai." kataku.
Subaru menyapa Conan dan anak-anak lainnya lalu dia menyuruhku masuk ke dalam sementara Ai juga masuk ke dalam rumah Prof. Agasa diikuti oleh Conan dll. Ayumi melambaikan tangan kepadaku dengan ramah sebelum mengikuti teman-temannya.
Aku mengikuti Subaru masuk ke dalam rumah dan aku terpesona melihat kemewahan dalam rumah mansion itu.
Subaru mengajakku ke perpustakaan di dalam rumah untuk belajar disana. Dia menggunakan sebuah earpiece disalah satu lubang telinganya. Aku rasa itu alat untuk mendengarkan percakapan di rumah Prof. Agasa. Di manga DC dikatakan bahwa dia menyadap rumah Prof. Agasa.
Dengan enggan, aku mengeluarkan PR math hari itu. Aku masih bertanya-tanya motif Subaru melakukan hal ini. Memang jika dilihat orang, kelihatan normal saja seorang mahasiswa menerima les untuk murid kelas bawah. Apakah hal ini untuk semakin meyakinkan orang sekitar, terutama Amuro, bahwa dia itu hanya mahasiswa biasa?
Ugh, aku benci pelajaran Math. Dibanding dengan Amuro, Subaru lebih pendiam dan jujur saja, dia membuatku sangat gugup. Cara mereka mengajar pun jelas berbeda.
Akan tetapi, Subaru dengan sabar mengajariku berulang-ulang sampai aku mengerti. Aku capek, otak-ku memang pas-pasan saja dalam matematika.
Lebih tepatnya, dia harus mengulangi penjelasannya sebanyak 7 kali baru aku bisa memahaminya. Dia tidak kelihatan kesal dan kalau pun iya, dengan poker face-nya itu, aku tak akan mengetahuinya. Jangan-jangan dalam hatinya, dia memaki-ku karena dongkol. Aku memandanginya berusaha untuk mendeteksi apakah dia kesal padaku. Ekspresi wajahnya tidak memperlihatkan apapun.
"Kenapa? Ada pertanyaan?"
"Eh?"
"Soal PR hari ini...?" lanjutnya.
Aku menjatuhkan kepalaku ke atas meja. "Aku benci matematika."
Dia menepuk kepalaku. "Ayo, istirahat dulu sebentar. Tunggu disini ya, aku akan mengambilkan snack ringan untuk kita."
"Ah, terima kasih ya." ujarku senang langsung mengangkat kepala.
Dia tersenyum melihat betapa cepatnya aku senang kembali.
Subaru menyuguhkan biskuit dan teh manis untukku pada jam istirahat yang dia tentukan. Aku mengucapkan terima kasih padanya sekali lagi. Sambil meminum teh-ku, aku mengelilingi perpustakaan tersebut.
Perpustakaan itu sungguh besar dan banyak sekali buku-bukunya. Bermacam-macam buku dari fiksi dan non fiksi. Aku memandangi koleksi karya milik Yusaku Kudo dengan mata berbinar-binar.
Subaru memandangiku dengan tatapan penuh selidik membuatku sedikit gugup.
"Kakak, apakah sudah membaca semua buku disini?" tanyaku berusaha mengurangi kesunyian diantara kami.
"Aku baru hanya membaca beberapa buku disini. Jika kau mau, kau boleh pinjam buku novel yang ada disini."
"Bolehkah?"
"Iya, pemilik rumah ini sudah mengizinkan."
"Kakak kenal dengan Yusaku Kudo? Kata Mama, ini alamat rumah dia." tanyaku.
"Ya begitulah..." Dia enggan menjawab.
"Mama adalah penggemar Yukiko Kudo. Mama suka semua film yang dia bintangi. Papa tidak begitu suka misteri, dia lebih suka komedi." cerocosku tanpa ditanya.
Dia mengulum senyum mendengar penjelasanku.
Akhirnya, jam les itu berakhir. Aku pun mengucapkan terima kasih kepadanya. Syukurlah, tidak semenakutkan yang kukira dan dia juga tidak ada menginterogasiku soal kejadian di kereta kemarin.
777
Sepulang dari sekolah hari itu, aku mengajak Yuka dan Nanno untuk makan kue buatan Amuro di Poirot. Amuro dan Azusa menyambutku seperti biasanya. Dengan riang gembira, aku memesan kue untukku dan teman-temanku. Sehabis makan, kami mengerjakan PR bersama sambil tertawa-tawa.
Saat itu, aku melihat kucing calico yang ku nanti-nantikan kedatangannya. Aku memang ingat bahwa sebentar lagi akan ada kasus yang berkaitan dengan kucing tersebut. Iya, kasus dimana Conan dan lainnya terjebak dalam mobil pendingin pengantar paket. Jadi, aku mulai membiasakan bawa sebotol makanan kucing untuk membagi pada kucing liar, tak hanya kucing calico itu.
Aku mengeluarkan botol makanan kucing dari dalam ransel dan keluar ke depan Poirot. Aku tersenyum dan mengocok botol berisi makanan kucing itu, menarik perhatian si kucing. Aku jongkok dan mengelus kepala kucing itu. Wah, aku suka kucing yang friendly seperti ini. Yuka dan Nanno bergabung bersamaku, memberi perhatian pada kucing itu. Aku memberitahu mereka bahwa kucing itu diberi nama Taii.
Saat itulah, aku melihat bukti pembayaran yang Conan selipkan pada kalung kucing tersebut. Aku langsung menarik kertas itu dengan perasaan tidak percaya. Aku tidak mengira kasus yang itu sedang terjadi di detik ini.
Amuro dan Azusa juga keluar, melihat kami bermain dengan kucing. Azusa memberikan semangkuk piring berisi susu untuk si kucing.
"Eva, kamu tahu darimana soal kucing itu bernama Taii?" tanya Amuro heran. Kucing itu baru muncul beberapa minggu yang lalu dan yang mengetahui soal kucing itu hanya dia, Azusa, owner Poirot dan Conan.
Dalam hati, aku ingin menjitak kepalaku karena kelepasan berbicara dan tidak hati-hati didepan Amuro dan Subaru. Aku segera memasang tawa dan berkata, "Aku sudah bilang bahwa aku ini cenayang."
Yuka dan Nanno malah merusak penjelasan asal-ku itu dengan mengatakan jika aku benar cenayang, kenapa aku tidak bisa menebak jawaban soal ujian tadi. Aku menggerutu kesal kepada kedua temanku. Azusa menahan tawa mendengar perkataan mereka.
Amuro memandangiku sambil tersenyum tipis. Apakah dia mencurigaiku? Dipikir-pikir ini kali kedua, aku kelepasan didepan dia yaitu mengetahui sebuah info yang seharusnya aku tidak tahu. Ah, Eva, kau ini bodoh sekali!
Aku hampir melupakan kertas bukti pembayaran itu. Aku lalu memberikannya pada Amuro sambil menjelaskan bahwa aku menemukannya terselip pada kalung Taii, tak lupa kukatakan juga bahwa kalung Taii agak dingin saat kusentuh.
Amuro memeriksa kertas itu dengan seksama lalu sesuai manga, dia izin pulang pada Azusa karena ada urusan. Aku memandangi dia pergi dan menghela nafas lega. Aku tidak percaya bahwa aku jadi terlibat jalan cerita tentang kasus itu.
Fangirl dalam diriku jejeritan gembira.
777
Saat di sekolah, Yuka tiba-tiba menarikku dan mengatakan bahwa sebentar lagi Nanno akan ulang tahun. Dia mengajakku untuk mencari kado ultah untuk Nanno hari Sabtu nanti. Aku menyetujuinya.
Benar-benar, anak-anak di Jepang mandiri sekali, setidaknya anak-anak yang digambarkan pada manga-manga. Aku hanya mengikuti Yuka saja yang dengan berpengalaman tahu harus naik bus atau kereta yang mana untuk sampai tujuan dengan selamat.
Dalam perjalanan kali ini pun, aku memakai kacamata hitam untuk menutupi warna orang-orang. Yuka sampai bingung melihatku memakai kacamata hitam itu. Aku mengeluarkan satu lagi kacamata hitam dan menyuruhnya pakai juga.
"Biar keren." ujarku asal. Jika kami berdua pakai, aku jadi tidak kelihatan aneh sendiri dan orang akan menganggap kami cuma mau sok keren saja. Walau merasa permintaanku itu aneh, untunglah Yuka bersedia memakainya. Aku langsung mengajaknya selfie berdua.
Kami banyak menghabiskan waktu mencari kado yang sesuai untuk Nanno. Aku mendengarkan Yuka berdeduksi kado macam apa yang sedang Nanno inginkan sambil tersenyum-senyum. Setelah beberapa jam, akhirnya kami menemukan juga. Yuka juga membeli 3 macam tali pita berwarna merah dan dia memberiku satu.
"Besok kita kembaran yuk, kuncir rambut memakai pita ini." pinta Yuka. "Aku juga akan memberikan ini untuk Nanno juga besok pagi."
"Ok." Wah, aku agak aneh ya, kenapa begitu saja senang? Dapat hadiah pita dan janjian kembaran dengan teman. Di dunia nyata, saat aku kecil, aku tidak pernah merasakan persahabatan yang hangat seperti ini bahkan saat aku dewasa.
Yuka membeli tiket kereta untuk pulang. Aku tidak sengaja bertabrakan dengan orang yang lalu lalang dan kacamata-ku lepas.
"Kau tak apa-apa, Eva?" tanya Yuka khawatir sementara orang yang menabrakku malah main langsung pergi.
Aku terhenyak saat sadar dan melihat banyak orang yang berkerumun warna diatas kepala mereka kebanyakan merah dan tertanggal hari ini di dalam stasiun itu. Aku menoleh menatap Yuka dan kaget melihat warna dia kuning dan tertanggal hari ini juga. Aku menelan ludah dengan tegang. Aku memandangi orang-orang yang masuk ke dalam kereta tersebut dan memandang Yuka lalu pada karcis kereta kami. Aku menyadari bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk pada kereta tersebut.
Yuka mengajaku masuk namun aku menarik dia menjauh dari kereta itu.
"Aku sakit perut, mau ke toilet dulu." Aku memasang wajah memelas.
Yuka kelihatan kesal. "Tapi keretanya sudah datang."
"Nanti aku belikan tiket baru, kita ikut kereta berikutnya saja ya." Aku pun segera ke toilet melanjutkan kebohonganku.
Yuka duduk di sebuah bangku untuk menungguiku dan mengeluarkan HP-nya.
Aku pura-pura ke toilet untuk beberapa menit. Aku keluar dengan perasaan lega karena berhasil menyelamatkan Yuka. Jika saja kacamataku tidak lepas, jangan-jangan aku tidak menyadari dan main masuk saja ke dalam kereta itu. Akankah aku selamat atau mati didalam sana? Aku menghela nafas. Aku tidak bisa melihat tanggal kematian dan warna milikku sendiri jadi aku tak akan bisa menghindari kematianku sendiri kelak.
Aku agak kesal pada diriku sendiri karena tidak memperhatikan sekitarku. Aku bahkan tidak sadar kapan tanggal kematian Yuka berubah jadi hari ini. Aku sungguh payah! Apa lebih baik jika aku tidak memakai kacamata hitam ini? Biar aku tidak ceroboh seperti hari ini.
Aku melihat ke arah Yuka dan merasa lega warna dia sudah balik hijau dan tanggalnya berubah ke semula lagi.
"Hei, kau..."
Tiba-tiba seorang pemuda blasteran muncul dihadapanku. Aku terperangah saat memandang dia. Wajahku berubah pucat saat aku menyadari bahwa aku tidak bisa melihat nama dan tanggal kematian dia.
"Kenapa kau tadi tidak masuk ke dalam kereta?" tanyanya.
Aku tak mampu berkata-kata, hanya bisa memandangi dia dengan mulut melongo dan tubuh sedikit gemetaran.
Pemuda itu melangkah mendekatiku dan aku secara refleks mundur selangkah. Melihat itu, pemuda itu tersenyum dingin.
"Kau...jangan-jangan kau..." Dia sudah berada didekatku dan jongkok didepanku. Perawakan shinigami muda itu sungguh menakutkanku. Dia menggerakkan kedua tangannya ke arahku.
Aku melihat dari belakang pemuda itu, Yuka sedang berjalan menghampiri kami.
Aku langsung menjerit keras, mengagetkan orang-orang disekitarku termasuk shinigami itu.
"TIDAK MAU! AKU TIDAK MAU MEMPERLIHATKAN CELANA DALAMKU!" seruku dengan suara senyaring mungkin.
Orang-orang langsung berkerumun mendekatiku yang menunjuk ke arah pemuda itu sambil pura-pura menangis. Beberapa orang disekitar langsung maju menarik pemuda itu menjauhiku dengan geram.
Seorang wanita menanyakan apa aku baik-baik saja sambil melototi pemuda itu yang sedang berusaha menjelaskan kesalahpahaman mereka. Aku meminta kepada wanita itu untuk menjauhkan orang itu dariku dan bahwa aku akan meminta Mama menjemputku. Wanita itu setuju dan dengan geram mendekati pemuda itu. Aku hampir merasa kasihan pada shinigami itu tetapi aku harus menyelamatkan diriku sendiri.
Aku langsung berlari dan menarik tangan Yuka keluar dari stasiun.
"Kau tak apa-apa, Eva? Siapa orang itu?" tanya Yuka.
"Aku tidak tahu. Hari ini, jangan pulang naik kereta ya. Aku takut. Kita naik taksi saja. Aku yang bayar."
Yuka yang melihat wajah pucatku untungnya langsung menyetujuinya.
777
Sesampainya dirumah, aku langsung mengurung diri dikamar dengan ketakutan. Aku takut shinigami itu akan menyusulku. Aku memanggil-manggil Reina tetapi tidak ada jawaban. Aku berusaha menenangkan diriku. Perutku bahkan jadi sakit saking tegangnya. Aku ingin menangis benaran kali ini.
Saat itulah, aku menemukan sesuatu dari kantong jaketku. Sebuah kartu nama.
Caleb Harvest
xxxxxxxxxxxxx
Hah? Kartu nama siapa ini? Masa ini kartu milik shinigami itu? Mungkinkah? Kapan pula dia menyelipkannya ke dalam jaketku? Hiih! Aku menjatuhkan kartu tersebut ke lantai dan melototinya seakan kartu itu telah menggigitku. Kemana pula Reina? Lagi kondisi gawat begini juga!
Aku memikirkan soal shinigami tadi, jelasnya, orang-orang disekitar bisa melihatnya. Jadi, shinigami di dunia ini tidak menghilangkan wujudnya, tidak invisible, di dekat orang-orang? Kenapa dia bisa punya kartu nama? Kenapa dia menyelipkannya kepadaku? Dia ingin aku menghubungi dia? Hiiih!
Aku memungut kartu itu dan menyimpannya jauh-jauh dalam laci meja riasku.
Beberapa jam kemudian, aku bisa menarik nafas sedikit lega karena shinigami itu tidak memperlihatkan batang hidungnya. Tapi, malam itu aku ngotot mau tidur dengan Papa dan Mama.
777
Yuka dan Nanno mengajakku menghadiri festival disebuah kuil. Aku enggan menghadirinya, takut ketemu dengan shinigami manapun tetapi keduanya memohon-mohon terus padaku. Mereka ingin piknik disana dan Ibu Nanno akan ikut bersama kami nantinya sebagai pengawas. Akhirnya, aku terpaksa setuju tetapi aku memakai baju berhoodie dan memakai topi tambahan, tidak lupa memakai kacamata hitam-ku lagi.
Yuka dan Nanno heran melihatku. Aku menyuruh mereka juga memakai kacamata hitam juga jika mau aku ikut dan mereka menyetujuinya. Keduanya sangat bersemangat menghadiri acara di kuil. Aku malah agak malas. Jika bukan karena dipaksa, aku juga tak akan mau keluar rumah. Mereka mengajakku mengambil kertas ramalan tetapi aku menolak. Aku sudah tahu, keberuntunganku mungkin akan segera berakhir dan jiwaku akan diseret oleh para shinigami.
Disana, aku melihat ada Conan, Ai, grup detektif cilik dan Prof. Agasa. Aku baru teringat bahwa akan ada kasus pencopetan dan pembunuhan terjadi disini. Karena Conan melihatku, aku pun menyapa dia dan teman-temannya. Aku memperkenalkan mereka pada kedua temanku. Untuk beberapa saat mereka semua sibuk membicarakan ramalan yang mereka semua terima.
"Bagaimana hasil ramalanmu, Kak Eva?" tanya Ayumi
"Eva payah! Dia bilang dia tidak percaya ramalan." gerutu Nanno.
"Padahal dia sempat ngaku-ngaku cenanyang." sambung Yuka.
Aku melototi keduanya.
Ayumi, Genta dan Mitsuhiko terlihat tidak percaya bahwa aku tidak percaya ramalan. Ah, aku malas meladeni mereka.
"Kamu kenapa memakai kacamata hitam?" tanya Ai membuatku kaget diajak bicara, biasanya dia diam saja. "Dan, kenapa berpakaian serba tertutup begitu?"
"Aku lagi tidak enak badan." jawabku asal.
Grup detektif cilik masih menanya-nanyaiku saat aku melihat Jodie muncul. Lalu, aku jadi teringat lagi bukankah dalam bagian ini, ada Amuro dan Vermouth menyamar jadi orang lain untuk menyelidiki Jodie dan Conan? Aku memandangi Conan, Ai dan Jodie yang bercakap-cakap agak jauh dari kami.
Dan benarlah, ada seorang pria tidak sengaja menabrak Jodie dan dia mengenali wanita itu sebagai sesama sandera pada kasus perampokan sebelumnya. Aku tahu orang itu adalah Amuro.
Aku melihat Conan menerima telepon dari Prof. Agasa menginformasikan ada kasus pembunuhan didekat sana dan Conan beserta teman-temannya segera mencari lokasi Prof. Agasa. Yuka dan Nanno yang penasaran mengikuti mereka.
Jika bukan karena kejadian dengan shinigami yang kemarin-kemarin, mungkin aku pun akan bersemangat mengikuti Conan dan melihat langsung acara deduksi dia. Tapi, aku merasa enggan melakukan apapun.
Jodie membantu polisi mengamankan TKP. Saat itu, barulah dia melihatku dan ternyata dia masih mengingatku setelah aku melepas kacamata, topi dan hoodie-ku. "Kau Eva, bukan?"
Aku tersenyum padanya. "Halo, Bu Jodie."
"Wah, syukurlah, kelihatannya kau sudah sehat ya."
Conan memandangi kami berdua dengan heran. "Kalian pernah bertemu?"
Jodie pun segera menjelaskan awal pertemuan kami. Conan memandangiku dengan penuh selidik. Sepertinya dia akhirnya ingat juga bahwa dia pun pernah melihatku di rumah sakit itu walau hanya sekilas.
Conan dan Jodie langsung fokus lagi pada kasus saat Inspektur Megure dan bawahannya muncul.
Aku meninggalkan mereka dan berjalan-jalan ke arah lain, menjauhi kericuhan kasus itu. Aku memandang helai bunga yang berjatuhan dari pohon-pohon dan menghela nafas. Saat itulah, aku melihat Yuka dan Nanno, aku pun langsung memanggil mereka. Mereka menghampiriku sambil tertawa-tawa.
"Hei, kau..."
Tiba-tiba ada seorang pria gemuk berpenampilan kumal memanggil-manggilku. Aku sempat kaget karena ku kira dia shinigami tetapi aku bisa melihat nama dan tanggal kematiannya.
"Kau siapa?!" tanyanya.
Aku bingung, apakah dia berbicara padaku. Yuka dan Nanno menarikku menjauhi pria itu tetapi pria itu terus melangkah mendekati kami.
"Bagaimana kau bisa ada ditubuh itu?"
Tubuhku serasa membeku mendengar perkataan dia. "A-apa?"
"Tubuh itu bukan milikmu! Kau tidak boleh menempati tubuh orang lain!" seru pria itu. "Keluar! Keluar dari sana! Parasit!" Suaranya makin keras menarik perhatian orang-orang. Dia terlihat seperti orang yang tidak waras. "Hei, kau dengar tidak? Cepat keluar dari tubuh itu!"
Tiba-tiba pria itu menghambur ke arahku dan aku tak sempat menghindar. Aku jatuh ke tanah dan pria itu segera mencekik leherku kuat-kuat. Aku mendengar Yuka dan Nanno menjerit dan menangis, meminta tolong untukku.
Sakit. Sakit sekali. Sesak. Aku tak bisa bernafas. Pria ini benar-benar berniat menghabisiku. Apakah aku akan mati disini?
Seseorang melesat menarik pria itu dariku. Aku terbatuk-batuk sambil memegangi leherku yang memar dan nyeri. Conan dan Jodie menghambur menghampiriku dan memeriksa keadaanku. Ibu Nanno juga datang dan segera menghubungi orangtuaku. Yuka dan Nanno masih menangis didekatku.
Pria yang mencekikku masih meracau memperingatkan bahwa aku adalah parasit, bahwa banyak parasit memasuki dunia ini. Polisi yang kebetulan masih ditempat segera menangkapnya.
Kepalaku pusing dan aku tidak bisa fokus pada semua orang disekitarku. Aku pun kehilangan kesadaranku.
777
Aku terbangun di rumah sakit dan langsung dikerubungi Papa dan Mama. Mereka langsung menangis saat melihatku bangun.
Aku menyentuh leherku yang diperban. Aku menelan ludah, tenggorokanku sakit.
Jodie masuk bersama Conan dan menanyakan keadaanku. Mereka bilang ada polisi yang ingin berbicara denganku.
Papa tidak setuju. Dia kelihatan marah dan meminta polisi agar segera menghukum orang yang menyerangku. Papa sangat marah, dia ingin menuntut orang yang menyerangku tetapi pihak polisi mengatakan bahwa orang itu sudah diperiksa dan didiagnosa tidak waras. Pria itu sudah dimasukkan ke RSJ.
Aku tidak berkata apa-apa.
Conan memandangiku dengan rasa kasihan. "Bagaimana keadaanmu, Kak Eva?"
Aku tidak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba saja, airmata membasahi pipiku. Mama segera memelukku.
Saat itulah aku melihat sosok Reina. Aku ingin marah kepadanya. Kemana saja dia selama ini?!
Tetapi aku tidak bisa menggunakan suaraku. Dan aku menyadari yang lain memang tidak bisa melihat Reina. Jadi, mana bisa aku marah-marah ke dia?
Reina memandangiku sama seperti Conan dengan rasa kasihan. Ditengah kericuhan berikutnya antara orangtua, dokter dan polisi, Reina menghilang lagi. Aku sampai mulai meragukan apa tadi dia benar-benar ada datang apa tidak.
Dokter bilang luka pada leherku cukup parah dan aku tidak boleh banyak menggunakan suaraku dulu.
Yuka dan Nanno ada menjengukku. Mereka sudah ditanyai oleh polisi tentang kejadian hari itu. Polisi menanyakan apa aku sebelumnya ada memprovokasi pria tersebut dan tentu saja mereka membelaku.
Aku masih harus dirawat dulu di rumah sakit walaupun aku sebenarnya ingin pulang saja.
