Sepulang sekolah hari itu, aku mampir ke Poirot seperti biasa. Aku melihat Amuro, Azusa, Conan dan grup detektif cilik minus Ai berada didepan kafe. Sepertinya mereka sedang mengobrol. Aku pun menyapa mereka. Rupanya mereka sedang membicarakan kucing calico yang waktu itu.

Amuro dan Azusa menyapaku saat melihatku dan aku pun melampirkan senyum gembira dihadapan mereka. Conan hanya mengangguk saat melihatku dan yang paling ceria melihatku adalah Ayumi padahal kami jarang berinteraksi. Aku tersenyum pada anak itu, dia benar-benar anak yang manis.

Amuro memberitahu Conan dan anak-anak lainnya bahwa aku-lah yang menemukan pesan yang ditinggalkan Conan pada kucing. Mereka berterima kasih kepadaku karena memberikan pesan itu kepada Amuro sehingga pria itu dapat menemukan dan menyelamatkan mereka.

Ayumi lalu menginfokan kepadaku soal keberadaan 3 orang yang mengaku sebagai pemilik kucing calico yang saat ini berada dirumah Azusa. Amuro dengan riang gembira hendak melibatkan Kogoro dalam penentuan siapa diantara ketiga orang itu merupakan pemilik si kucing.

Aku memandangi mereka semua yang naik ke lantai atas gedung dimana Poirot berada yaitu kantor detektif Kogoro Mouri. Azusa pulang lebih dahulu untuk mengambil Taii.

Ayumi menoleh padaku dan mengajakku untuk ikut bersama yang lain ke kantor Pak Kogoro. Aku menoleh kepada Conan dengan ragu-ragu. "Bolehkah aku ikut?" tanyaku.

Conan mengangkat bahu. "Jika kau ingin ikut, silahkan saja."

Aku tersenyum gembira. "Terima kasih."

Ayumi dengan gaya bersahabat langsung menarik tanganku untuk ikut ke atas.

Aku bertemu dengan Kogoro dan Ran dan menyapa mereka dengan sopan. Untunglah mereka tidak keberatan oleh kehadiranku.

Lalu, mulailah Conan dan Amuro berfokus pada cerita ketiga orang yang mengaku sebagai pemilik kucing.

Aku memandangi pria muda yang mengaku bernama Shogo Amesawa dengan prihatin saat mengetahui orang itu memiliki warna kuning. Tanggal kematiannya sekitar 5 hari dari sekarang. Aku jadi tidak fokus mendengar percakapan yang saat itu terjadi.

Aku sudah tahu siapa pemilik asli kucing calico itu yaitu seorang bapak bernama Teishi Masuko. Aku masih ingat untuk kasus yang satu ini bahwa dia-lah orangnya.

Azusa kembali dengan Taii dan kucing itu segera melesat ke pelukan Shogo. Aku ingat dia menggunakan cara curang menggunakan catnip agar bisa menipu kucing itu dan semua orang.

Conan dan Amuro perlahan-lahan berdeduksi untuk memberikan kejelasan siapa pemilik Taii yang sebenarnya.

Aku tak bisa menahan diri untuk tidak memandang Shogo. Saat semua orang sedang sibuk dengan satu sama lain, aku menghampiri orang itu. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya tetapi aku merasa lebih baik aku memberi dia peringatan agar dia lebih berhati-hati selama 5 hari ke depan.

Tentu saja Shogo heran mendengar peringatanku. Aku rasa dia pasti akan mengacuhkan peringatan dariku. Aku hanya bisa bilang dia akan memiliki nasib buruk dalam 5 hari kedepan. Ah, kedengarannya aku jadi seperti benaran cenayang.

Shogo kelihatan tidak senang kepadaku tetapi dia tidak membentakku. Tetapi, kelihatan sekali dia ingin melakukannya. Dia masih berpura-pura sebagai orang yang baik karena masih berharap bisa mendapatkan Taii.

Menurut penjelasan Amuro dan Conan, kucing calico jantan sangat langka dan harganya sangat mahal. Sudah jelas, Shogo menginginkan Taii agar bisa dijual dan kedua detektif itu membeberkan kebohongan dia.

Shogo langsung panik dan berusaha kabur dari kantor detektif. Aku mengejar dia keluar dan sekali lagi memperingatkan dia untuk hati-hati 5 hari ke depan. Dia tidak mempedulikanku, terlalu sibuk ingin lari. Aku menghela nafas. Apakah begini cukup?

Semoga saja dewa kematian yang ditugaskan untuk warna kuning 'bersedia' membantunya. Kadang aku khawatir dewa kematian mungkin kurang peduli dengan warna kuning setidaknya dalam kasus Midori kemarin. Menurut Reina, mungkin dewa kematian yang bertugas sedang agak malas?

Bagaimana nantinya jika ada orang yang ku kenal baik mendapatkan warna itu? Bisakah aku membiarkan nasib orang tersebut di tangan shinigami yang, tergantung mood-nya, mungkin akan menyelamatkan?

Aku memutar badan untuk kembali masuk ke kantor dan aku terperanjat melihat Amuro berdiri memandangiku dengan seksama.

"Ah, Kak Amuro, kau membuatku kaget saja..."

"Kenapa kau mengatakan itu kepada dia?" tanyanya dengan serius.

Aku panik. "Maksud Kakak apa?"

"Aku mendengar peringatan yang kau berikan pada orang tadi. Apa yang akan terjadi dalam 5 hari ke depan memangnya?"

Pikiranku jadi kosong. Aku tidak mengira dia mendengar peringatanku pada Shogo. Apa yang harus kulakukan sekarang? "A-aku tidak mengatakan itu. Kakak salah dengar. Aku hanya mengatakan..." Aku tidak bisa membuat kebohongan yang pintar ditempat. Aku memang payah. Aku menarik nafas dan tersenyum berusaha menyembunyikan kegugupanku. "Aku hanya ingin menakuti penipu itu sedikit." Aku mengatakan alasan yang payah dan tidak jelas.

Amuro kelihatan tidak percaya dan memandangiku dengan tatapan menyelidik yang membuatku tidak nyaman. Untunglah saat itu, Conan sudah mereunikan Taii dengan pemilik aslinya. Kehebohan yang terjadi karena itu membuat Amuro mengalihkan perhatiannya dariku dan kembali ke Conan. Dia sangat terkesan dengan kemampuan deduksi Conan.

Aku pun segera berpamitan untuk pulang. Azusa bingung karena aku belum sempat order makanan di Poirot. Aku berbohong menerima pesan SMS dari Mama bahwa Mama ada beli makanan jadi aku disuruh pulang. Aku melambaikan tangan pada Azusa dan pada Amuro juga supaya dia tidak mencurigaiku berusaha kabur darinya.

777

Mama mengajakku menemui dokter di rumah sakit untuk mengecek leher dan tenggorokanku yang dicekik kemarin. Sebenarnya aku tidak mau pergi karena merasa aku sudah sembuh total tetapi Mama memaksa untuk mematuhi instruksi dokter untuk pemeriksaan rutin terakhir.

Selain itu, aku agak enggan ke rumah sakit karena disini lebih banyak lagi warna biru, merah dan kuning bercampur aduk.

Disana, aku bertemu dengan Conan dan Kogoro. Mereka habis menjenguk Ibu Ran yang masuk rumah sakit untuk operasi ringan.

Aku bertemu dengan Amuro. Amuro menyapaku, Conan dan Kogoro. Amuro bilang dia sedang mencari temannya yang seharusnya ada di rumah sakit dan menyebutkan nama orang jahat yang pernah menyanderaku dulu.

Conan kelihatan tegang sekali didekat Amuro, apalagi setelah nama orang yang sudah mati itu disebut-sebut.

Aku ingat bahwa mayat orang itu digunakan untuk menipu Gin dan Vodka bahwa Kir memang telah membunuh Shuichi Akai.

Amuro menanyakan pada Conan apakah dia mengenal orang yang dia cari. Conan melakukan kesalahan dengan langsung menjawab tidak membuat Amuro semakin yakin akan keterlibatan anak itu dalam kasus yang dia selidiki.

Aku dan Conan mendengar saat Amuro mengatakan bahwa waktu dia kecil, dia disebut dengan julukan Zero. Nama itu hanya mengingatkanku dengan anime Code Geass dimana pejuang kemerdekaan bernama Zero muncul dengan kekuatan misterious.

Mama memanggilku dan aku pun berpamitan kepada mereka untuk pulang. Dengan iseng, aku tersenyum pada Amuro dan berkata, "Sampai jumpa lagi, Kak Zero."

Amuro memandangku sesaat dan tersenyum padaku sebelum mengalihkan perhatiannya kembali pada Conan.

Saat aku dan Mama berjalan pulang, kami melewati seorang remaja pria yang kelihatan linglung sedang dibimbing oleh orang yang mungkin keluarganya.

Yang membuatku tertarik padanya adalah saat dia melihatku, dia terlihat agak takut. Aku mendengar dia berbisik sendiri.

"Kosong...kosong...harusnya tidak ada...diisi dengan yang lain...tidak benar...hiiih, dia melihatku...dia melihatku...apa yang harus kulakukan?"

Konteks kalimatnya memang tidak jelas tetapi aku merasa dia sedang membicarakan diriku.

Masa sih aku bertemu dengan orang yang kata Reina bisa mempersepsi realita yang berbeda lagi? Kebetulan saja?

Aku memandangi remaja itu dengan tenggorokan tercekat. Aku mempererat genggaman tangan dengan Mama dan buru-buru menarik Mama agar bisa segera pergi dari pandangan orang tersebut.

Untungnya, orang itu tidak mengejarku atau menyerangku. Malah orang itu terlihat sama takutnya denganku. Dia juga cepat-cepat ingin menyingkir juga dariku.

777

Aku terkejut saat les dengan Subaru hari itu. Pasalnya saat aku melihat nama dan tanggalnya, nama yang ditampilkan adalah Yusaku Kudo.

Ah, sudah sampai bagian inikah? Aku suka bagian manga DC yang ini dimana Conan, Shuichi dan Yusaku bekerja sama untuk menipu Amuro.

Disini, akhirnya Jodie akan mengetahui bahwa Shuichi masih hidup. Bagus untuknya. Aku kasihan sekali pada Jodie saat dia menangisi kematian Shuichi.

Lalu, juga disini adalah bagian dimana Conan dan Shuichi membongkar identitas asli Amuro yaitu agen PSB, Rei Furuya. Sekarang tinggal menyelaraskan tujuan mereka bersama dalam menghadapi dan menghancurkan organisasi hitam.

Duh, sebenarnya apa yang akan terjadi kedepannya pada Conan dan yang lainnya? Aku mendarat di dunia manga DC ini sebelum manga itu kelar. Belakangan, pengarang manga ini makin susah update sampai aku khawatir manga ini tidak akan menemui resolusinya sama sekali.

Aku juga belakangan jadi kehilangan minat mengikuti kasus-kasus biasa Conan, lebih tertarik pada kasus yang berhubungan langsung dengan organisasi hitam. Kalau tidak salah ingat, terakhir aku membaca manga-nya membicarakan soal anggota penting dalam organisasi bernama Rum dan ada beberapa orang baru yang mencurigakan sebagai potensial penyamaran Rum.

Subaru memakai masker pada wajahnya.

"Kakak sakit?" tanyaku.

Dia mulai sengaja berbatuk-batuk sedikit. "Aku hanya sedikit tidak enak badan."

"Hmm, kalau begitu, apakah tidak lebih baik les hari ini dibatalkan saja supaya Kakak bisa istirahat?" usulku.

"Aku tidak apa-apa. Ayo, masuklah, Eva. Kata...Ah, maksudku bukankah besok kau ada ujian matematika?"

Muka-ku langsung kusam mendengarnya. Ugh, aku benci ujian matematika.

Dia menyuruhku masuk ke dalam rumah. Aku memandangi pria itu, Yusaku, apakah dia akan meneruskan penyamaran sebagai Subaru sampai tetap mengajarkanku les matematika juga?

Aku mengangkat bahu, menyerah dengan keadaan ini. Aku harus berpura-pura tak tahu bahwa dia adalah Yusaku, bukan?

Rasanya lucu juga diajarin oleh orang lain selain Subaru. Tetapi, Yusaku benar-benar mendalami karakternya dan menekanku untuk serius belajar.

Akan tetapi, aku ingin menggoda pria itu. Aku mengeluarkan novel yang aku pinjam dari perpustakaan rumah Kudo.

"Kak, terima kasih sudah meminjamkan buku-buku ini padaku."

"Bukan masalah. Pinjamlah buku lain yang kau suka dari sini. Asal kau tetap fokus dalam pelajaran disekolah." ujarnya.

"Iya. Kak Subaru, aku ingin tahu novel Yusaku Kudo yang Kakak paling sukai apa?"

Dia terlihat bingung harus menjawab apa. Aku sendiri saja tidak tahu apakah Shuichi itu sebenarnya membaca novel Yusaku Kudo atau tidak dan jika iya, apakah dia menyukai buku-buku tersebut?

Melihat betapa terkenalnya Yusaku dan kemampuan deduksinya yang hebat, pastinya dia bisa menghasilkan cerita fiksi yang menarik bagi orang seperti Shuichi. Jadi, aku beranggapan pasti Shuichi juga menggemari karya Yusaku Kudo juga.

Giliran dia yang menanyakan apa yang kusukai dari karya Yusaku Kudo. Aku hanya mengangkat bahu dan mengatakan aku suka saja. Aku tentu tidak begitu mengerti trik yang digunakan dalam cerita tersebut tetapi aku sangat menyukai plotline cerita itu.

Aku juga mengatakan aku lebih suka dengan bumbu hubungan romansa yang tidak jelas pada cerita itu yang sebenarnya hanya plot sampingan saja. Karya pria itu lebih mementingkan misterinya. Persis dengan manga DC ini sendiri yang mengombang-ngambingkan hubungan antara Shinichi dan Ran.

"Iya, sepertinya romansa slow burn itu sudah menjadi pilihan para pengarang ya..." ujarku. "Kadang butuh sekitar 5 tahun lebih baru tokoh utama prianya bisa akhirnya bersama dengan tokoh wanitanya."

Yusaku memandangiku dengan agak heran. Pasti dia merasa canggung mendengarkan anak SD seperti diriku membicarakan soal romansa dalam karyanya. Mungkin dia agak kecewa karena aku bukan kesengsem akan bagian misteri dalam ceritanya. Ya, bisa dibilang aku penggemar yang dangkal.

"Aku dengar katanya Yusaku Kudo ada rencana membuat novel baru, hmm, Scarlet Agent, bukan? Aku tak sabar ingin membacanya." Aku tersenyum pada pria itu. "Aku penasaran akan love interest-nya nanti."

"Tapi, karya itu sepertinya akan lebih fokus ke petualangan misteri..." tutur Yusaku.

"Seharusnya dia punya love interest yang merupakan partnernya di agen kepolisian dimana dia bekerja atau mungkin dia ketemu love interest saat dia sedang menyamar untuk menangkap orang jahat." cerocosku sengaja menyebutkan secara samar tentang Jodie dan Akemi. "Kalau tidak salah, tokoh utamanya agen FBI yah? Hmm, apakah dia akan memiliki background yang tragis juga?"

Yusaku tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya tertawa. "Eva, kelihatannya kau suka bercerita, apakah kau berniat jadi penulis?"

Aku pura-pura memikirkannya. "Inginnya sih begitu tetapi aku tidak pandai merangkai cerita yang menarik. Oh ya, Kak, bagaimana dengan ini? Pria ini seorang con man yang menyamar jadi cenayang untuk menipu orang kaya melalui acara-nya yang terkenal menghubungi arwah. Dia sebenarnya seorang Mentalist. Lalu, di suatu acara TV lain, dia menjelek-jelekkan serial killer yang sedang merajarela saat itu. Saat dia pulang, istri dan anaknya telah dibunuh oleh pembunuh berantai yang marah karena ego-nya diusik olehnya..."

Yusaku terlihat tertarik dengan kisah yang kututurkan.

Kisah yang kusebutkan tadi adalah acara serial TV Mentalist yang tidak ada di dunia ini. Aku iseng saja biar kelihatan keren dihadapan penulis misteri itu.

"Lalu, setelah jatuh terpuruk dalam dukanya, pria itu bergabung dengan kepolisian untuk menangkap pembunuh berantai itu. Tentu saja, dia nantinya akan memiliki love interest yaitu detektif wanita yang tangguh. Dan romansa slow burn akan membuat keduanya baru bisa bersatu setelah pria itu berhasil membalaskan dendam keluarganya." tuturku.

"Cerita yang menarik. Apakah itu adalah ide ceritamu, Eva?"

"Itu adalah cerita dari dunia lain!" seruku menyatakan kebenaranya sambil tertawa kecil. "Bagaimana? Apa menurut Kakak plot-nya bagus? Kak Subaru, Kakak kan kenal dengan pemilik rumah ini, si penulis misteri terkenal, Yusaku Kudo, bagaimana jika Kakak menganjurkan plot cerita ini padanya?"

"Ah, aku belum pernah bertemu langsung dengannya." kilah Subaru. "Tetapi, plot itu memang menarik. Tidakkah kau ingin menuliskannya?"

"Pasti akan lebih keren dan mendalam kisahnya jika Yusaku Kudo yang menuliskannya!" seruku.

Dia tersenyum. "Sepertinya kau sangat memandang tinggi Yusaku Kudo ini..."

"Iya, karya buatannya sangat menarik jadi sudah jelas dia pasti bisa membuat fiksi yang menarik untuk kisah Mentalist ini."

"Mentalist, yaah?" Dia memegang dagunya dengan pose berpikir dalam. "Bagaimana jika Eva menuliskan plotnya pada buku kosong dan mungkin aku bisa menyampaikannya pada Pak Kudo nantinya?"

Aku tersenyum gemilang. Siip, aku sepertinya berhasil membuat Yusaku Kudo membuat fanfiction untuk Mentalist. Aku dengan semangat menyetujuinya.

Kami berdua malah jadi membicarakan plot cerita itu daripada belajar matematika.

"Oh, dia suka menggambarkan emoji wajah tersenyum dengan darah korbannya..."

Yusaku menatapku dengan heran, mungkin dia bingung anak sekecil aku bisa menghasilkan ide yang creepy seperti itu.

Aku hanya asal sebut saja beberapa plot yang ku ingat dari serial TV tersebut dan meninggalkan beberapa plothole untuk Yusaku memenuhinya sendiri dengan imaginasinya.

Dengan gaya dramatis, aku menuturkan salah satu scenes yang dramatis dan paling ku suka dalam serial itu yaitu saat tokoh utamanya sedang berduka di kuburan keluarganya saat anniversary kematian mereka. Lalu, seorang anak kecil yang dikirim oleh pembunuh berantai datang menyapanya dan memberikan pesan kepadanya. Do you give up yet?

Yusaku membantuku dengan menambahkan dan menghapus plot cerita dengan imaginasinya sendiri.

Tidak terasa hari sudah sore, kami sungguh keasyikan bertukar pikiran menuliskan poin menarik untuk fanfiction Mentalist karya kami.

Kami bertukar senyum dengan puas saat memandangi coretan pada buku catatan yang kami pakai.

Aku memandang Yusaku yang berwajah Subaru lalu dengan nakal, aku berkata, "Kak Subaru, kau juga pandai bercerita, seharusnya kau juga jadi penulis saja seperti Yusaku Kudo."

Yusaku tertawa dengan tidak enak hati, menyadari dia terbawa suasana olehku.

Aku tersenyum licik. Aku memandangi dia dengan wajah memelas. "Pasti yah Kakak akan memberikan ini kepada Pak Kudo? Pasti menyenangkan jika aku bisa membaca karya dia berdasarkan plot ini..."

Dia mengulum senyum kepadaku. "Iya, jika aku bertemu dengan Pak Kudo, aku pasti akan memberikan ini kepadanya. Jangan khawatir, nama Eva pun pasti akan disebutkan sebagai co-author jika ceritanya ini dibukukan."

Aku terkekeh-kekeh mendengarnya dan tambah ingin mengisengi. "Bukannya nama kita berdua, Kak? Kak Subaru kan juga membantuku menambahkan plotnya biar tambah keren?"

"Eh, iya ya, tapi menurutku Eva yang lebih pantas disebut co-author."

"Tidak, ah, Eva sudah akan puas jika Pak Kudo benar membuat cerita Mentalist ini. Tak perlu menyertakan namaku." ujarku serius seakan dia akan benar mengerjakan karya baru berdasarkan plot Mentalist tadi. Padahal seharusnya kami berdua cuma basa-basi ya.

Kami baru menyadari bahwa kami menyia-nyiakan waktu les itu. Yusaku terlihat tidak enak hati padaku dan mengkhawatirkan hasil ujianku besok.

Aku berpamitan pulang berhubung waktu les sudah selesai. Saat aku keluar dari rumah Kudo, aku berpapasan dengan Amuro. Amuro pura-pura heran melihatku ada disana. Aku tahu mestinya dia tahu bahwa aku ada les dengan Subaru dirumah ini mengingat bawahan dia dari PSB ada yang mengawasi Subaru dan melaporkannya kepada dia.

Aku menjawab dengan polos bahwa aku les matematika dengan Subaru yang secara bukanlah kebohongan.

"Kak Amuro sendiri sedang apa disini?" tanyaku tetapi aku langsung menoleh pada Subaru. "Apa Kakak pesan delivery dari Poirot? Akhirnya Kak Subaru mau makan lain selain kari?"

Subaru alias Yusaku bingung menjawabku. Dia tertawa renyah. "Aku tidak makan kari terus koq."

"Bukan." jawab Amuro. "Maaf, Eva, sebenarnya saat ini aku ada perlu dengan Subaru Okiya ini." Dia menatap tajam ke arah Subaru.

Subaru memandang Amuro dengan rasa keingintahuan. Dia memandangku dan menepuk kepalaku. "Semoga berhasil dengan ujianmu besok."

Aku mengeryitkan hidung. "Ugh." gerutuku. "Baiklah, aku pulang dulu. Sampai jumpa lagi, Kak Subaru, Kak Amuro." Aku lalu melambaikan tangan kepada mereka berdua dan pergi meninggalkan rumah Kudo.

Ah, sayang aku tidak bisa melihat saat mereka saling beradu kepintaran. Apa boleh buat...aku kan bukan siapa-siapa.

Aku memandang rumah Kudo itu dan berpikir tentang Conan yang bersembungi didalam rumah mempersiapkan diri untuk kedatangan Amuro. Dia mungkin agak kesal denganku dan ayah-nya karena kami malah melenceng dari waktu dengan obrolan kami. Padahal mungkin seharusnya mereka mempersiapkan diri.

777

Siang pada hari keesokannya, aku kembali ke rumah Kudo untuk mengambil buku pelajaranku yang tertinggal disana. Saat itulah, aku bertemu Yukiko Kudo. Aku langsung menjerit senang melihat wanita itu.

Dengan gaya heboh, aku memberitahu dia bahwa aku sudah menonton semua film yang dia bintangi kecuali yang ada adegan 17 tahun keatas. Aku juga menginfokan bahwa Mama adalah penggemarnya.

Aku senang dapat bertemu Yukiko Kudo. Aku senang dapat bertemu makin banyak dengan karakter DC. Aku tidak mau kalau bertemu Gin dan Vodka. Seram.

Yukiko sangat ramah mengetahui aku dan Mama adalah penggemarnya. Dia bahkan memberiku kertas berisi tanda tangan dia untuk Mama. Aku berterima kasih padanya.

Aku memperkenalkan diriku kepadanya. Aku sibuk fokus pada Yukiko, tidak mempedulikan Subaru yang asli, bukan penyamaran dari Yusaku lagi.

"Iya, aku tahu tentangmu, Eva, suam...maksudku, Subaru sudah memberitahuku soal murid kecilnya yang manis." Yukiko tersenyum lebar.

"Benarkah?" Aku menoleh ke arah Subaru dan dengan senyum nakal, bertanya, "Apakah Kak Subaru sudah memberikan bukunya kepada Pak Kudo?"

Dia terlihat bingung sesaat. Apakah Yusaku belum menginfokan soal percakapan kami kemarin?

Dalam hati, aku tertawa jahat. Wah, beberapa hari ini, aku merasa seperti troll kecil saja. Tiba-tiba, aku jadi ingat lagu Many Hits Mashup Trolls 2 yang dinyanyikan Anna Kendrik. Sayangnya, lagu itu juga tidak ada di dunia ini karena filmnya juga tidak ada. Aku merasa bisa joget berdasarkan lagu itu saat ini.

Yukiko buru-buru menjawab, "Dia sudah memberikannya padaku. Jangan khawatir. Eva, suamiku suka sekali dengan ide-mu itu lho." bisiknya kepadaku. Dia mengerlingkan mata padaku.

Aku tersenyum gembira. "Benarkah?"

Yukiko memberikanku kartu nomor handphone Yusaku khusus untuk chat denganku. Katanya, Yusaku ingin mengobrol denganku via chat jika kami sama-sama senggang.

Mataku berbinar-binar memandangi kartu tersebut. Asyik, aku ada kenalan seorang selebriti. Tapi, beranikah aku mengontak dia? Ah, tetapi aku ingin sekali melihat hasil karya Yusaku yang berdasarkan plot Mentalist. Aku ingin tahu bagaimana dia akan menggelutinya.

Barulah aku menyadari kehadiran Conan didalam rumah. Aku menanyakan kenapa dia ada disini. Yukiko yang menjawab bahwa Conan masih sanak saudara jauh dengan keluarga Kudo.

Conan memandangiku dengan tatapan menyelidik. Waduh, kenapa dia memandangiku seperti itu? Apa dia mencurigaiku?

Aku buru-buru mengambil bukuku yang ketinggalan disana dan berpamitan pada mereka semua.