Dengan murung, aku memandangi hasil ujian matematika-ku. Hasilnya sangat jelek. Aku jadi malu untuk memperlihatkannya pada Subaru. Aku menghela nafas, menyadari ini kesalahanku sendiri karena mengalihkan perhatian Yusaku yang menyamar jadi Subaru waktu itu dengan ide ceritaku.
"Hmm, Eva sepertinya kau gagal ya dalam ujian..."
Aku terperanjat kaget dan baru ingat bahwa saat ini aku sedang di Poirot untuk makan siang. Amuro baru saja mengantarkan menu pesananku dan dia melihat hasil ujianku. Aku jadi tambah malu dan buru-buru melipat kertas ujian dan memasukkannya ke dalam tas.
"Bukankah kau les dengan mahasiswa bernama Subaru Okiya itu? Apakah dia tidak pintar mengajarimu?" tanya Amuro.
Aku dapat mendeteksi kesinisan dalam perkataannya itu. Sepertinya dia masih sensi juga terhadap Subaru alias Shuichi.
Aku menghela nafas. "Itu bukan salahnya, aku yang bodoh tidak bisa memahami pelajaran ini. Matematika itu musuh besarku." tuturku dengan lesuh.
Amuro tersenyum kasihan padaku dan mengelus kepalaku dengan lembut. "Mana? Coba perlihatkan kertas ujianmu padaku. Aku akan mengajarimu sehabis kau makan."
"Eh, tapi..." Aku memandang sekeliling dan menyadari bahwa Poirot hari itu lagi sepi makanya dia bisa menawarkan diri untuk mengajariku.
Sehabis makan, sesuai janji, Amuro mengajariku dengan menunjukkan dimana aku melakukan kesalahan. Seperti biasa, dia harus sangat bersabar dalam mengajariku.
Saat itulah, Conan dan grup detektif cilik minus Ai datang mampir ke Poirot. Amuro segera melayani mereka.
Ayumi yang melihatku langsung menyapaku dengan riang. Aku pun terpaksa tersenyum dan menyapa dia dan yang lain.
Conan mengamatiku dan pada kertas coret-coretan matematika-ku tetapi untungnya tidak mengomentari.
Mereka mengajakku mengobrol, membuatku sulit berkonsentrasi. Tetapi, aku juga sedikit senang ada pengalihan perhatian dari pelajaran yang menyebalkan itu.
Anak-anak tersebut segera memesan makanan yang mereka inginkan. Mereka menunggu pesanan mereka sambil bercakap-cakap satu sama lain, kadang melibatkanku kadang tidak.
Aku tidak begitu konsentrasi baik terhadap mereka maupun pada pelajaran yang kukerjakan. Tahu-tahu, aku terhenyak mendengar perkataan Conan.
"Shogo Amesawa? Bukankah dia orang yang berpura-pura menjadi pemilik Taii?" tanya Conan.
"Benar. Aku mendengar kabar bahwa dia telah meninggal dalam kecelakaan. Sepertinya dia ada berhutang banyak dan sedang dikejar oleh penagih hutang. Dia berusaha menghindari mereka dan terlibat dalam kecelakaan." tutur Amuro.
Aku menoleh ke arah Amuro dan Conan dengan mulut terbuka. Shogo meninggal? Jauh dalam lubuk hatiku, aku lagi-lagi merasa bersalah kepada orang itu.
Mendadak Amuro memandang ke arahku dengan tatapan tajam. Kelihatannya dia sengaja menyebutkan soal Shogo didekatku, mungkin ingin melihat reaksiku. Walau menyadari hal itu, aku tetap tidak bisa mengontrol ekspresi wajahku.
Aku cepat-cepat menundukkan kepala tidak ingin bertukar pandangan dengannya. Aku berharap dia tidak mencurigai perkataanku waktu itu. Aku berharap dia tidak akan menginterogasiku soal itu. Semoga rasa ingin tahunya terhadap diriku dikalahkan oleh kesibukan akan hal lain yang lebih penting dariku.
Aku mendesah galau. Haruskah aku memohon bantuan saja pada para detektif ini? Akan tetapi, aku teringat perkataan Reina untuk tidak melibatkan diri dalam bahaya.
Ah, aku memang tidak pantas berada di dunia manga DC ini, berada bersama para detektif berkeadilan tinggi ini.
777
Hari ini Nanno ulang tahun dan pesta diadakan di Poirot. Pesta ini hanya mengundang 3 keluarga saja yaitu keluarga Nanno dan keluarga aku dan Yuka.
Amuro dan Azusa melayani kami dengan cermat. Mereka bahkan ikut menyanyikan lagu ulang tahun bersama kami.
Nanno, yang melihat kebersamaan keduanya, menanyakan kepadaku apa Azusa itu pacarnya Amuro. Aku bilang bukan. Aku jadi sedikit terganggu saat aku memandang Amuro dan Azusa yang sedang bercakap-cakap.
Kue ulang tahun dan lilin dinyalakan dihadapan Nanno yang sangat senang melihat bentuk kue-nya. Dia memandangku dan Yuka dengan senyum gemilang. Dia meminta kami meniup lilin bersama dia membuat kami semua saling bertukar senyum. Hari itu kami bahkan sama-sama memakai pita merah yang Yuka belikan untuk kami.
Salah satu orang dewasa merekam sepanjang acara ultah itu. Aku melihat ayah Nanno keluar dari Poirot untuk menerima panggilan telepon.
Ibu Nanno menyuruh kami berpose bersama saat dia memotret kami sebelum menyuruh Nanno meniup lilin. Tiga, dua, satu!
Nanno menggandeng tanganku dan Yuka seakan mengingatkan kami untuk meniup lilin bersamanya.
Kami meniup lilin pada kue membuat orangtua kami bersorak gembira.
Aku tersenyum memandangi asap yang mengepul dari lilin sebelum menoleh memandang Nanno dan wajahku berubah pucat.
Aku memandangi Nanno dengan rasa tidak percaya. Tanggal kematian dia telah berubah dan warnanya merah. Aku menoleh ke arah orangtua Nanno dan menyadari tanggal kematian mereka juga berubah, jadi satu tanggal dengan Nanno. Akan tetapi, ayah Nanno berwarna merah sedangkan ibu Nanno berwarna kuning.
Sepertinya perubahan terjadi sesaat setelah ayah Nanno bercakap di telepon. Aku yakin perubahan ini berhubungan dengan itu. Apa yang terjadi?
Sekujur tubuhku jadi meriang. Aku pun minta izin mau ke toilet dulu untuk menenangkan diri. Aku hampir menabrak Amuro karena aku begitu terburu-buru. Aku tidak mempedulikan pertanyaan dia yang memperlihatkan rasa khawatir terhadapku.
Aku masuk ke toilet dan langsung merasa ingin muntah di wastafel tetapi tentu aku tidak bisa. Aku membasuh wajahku berkali-kali saat aku merasakan rasa panas disekitar mataku. Aku menolak untuk menangis tetapi aku tidak bisa mengontrolnya.
Aku memandangi bayanganku pada cermin. Apa yang harus kulakukan sekarang? Tanggal kematian Nanno telah berubah dan dia berwarna merah yang berarti aku tidak bisa mengintervensi. Tapi, jika berwarna kuning pun, apakah aku bisa bertindak menolongnya?
Sepertinya mereka meninggal pada tanggal yang sama jadi kemungkinan kecelakaan? Dan hanya ibu Nanno yang berwarna kuning yang berarti dia ada kemungkinan selamat.
Ah, tapi itu mungkin buruk. Masa dia jadi kehilangan suami dan anak walau berhasil selamat? Jika aku jadi dia, aku lebih memilih mati bersama keluarga daripada ditinggal sendiri. Aku tak akan bisa menjalani hidup tanpa keluargaku. Aku tahu kematian memang tidak bisa dihindari. Ugh, aku benci memikirkan kematian.
Setelah berhasil menenangkan diri, aku keluar dari toilet. Amuro berdiri didepanku, memandangiku dengan rasa khawatir. Dia jongkok dihadapanku dan dengan cermat meneliti ekspresi wajahku.
Entah kenapa aku jadi ingin menangis tetapi aku berusaha menahan diri.
"Kau tak apa-apa, Eva? Wajahmu pucat. Apa kau sakit?" tanyanya.
"Aku tak apa-apa." jawabku dengan lesu. Aku menoleh memandang Nanno yang sedang bercakap-cakap dengan keluarganya dengan gembira.
777
Kematian Nanno dan keluarganya akan terjadi seminggu setelah pesta ultah Nanno.
Aku akhirnya mengetahui dari Nanno keesokan harinya. Dia kelihatan kesal. Ayahnya akan dipindahtugaskan ke luar kota dengan mendadak dan Nanno dipaksa pindah sekolah juga.
Nanno sangat kecewa dan tidak terima tetapi dia tidak bisa melawan keputusan orangtuanya. Dia mengatakan 3 hari lagi dia dan keluarganya akan pergi naik kereta untuk pindahan.
Aku dan Yuka tercekat mendengar perkataan Nanno. Yuka protes kenapa pindahnya begitu mendadak dan cepat.
Menurut Nanno, rupanya masalah pindah ini sudah dibicarakan oleh orangtua Nanno dari berminggu-minggu lalu tetapi waktu itu belum pasti dan mereka juga tidak memberitahu Nanno soal itu karena mereka tidak ingin membuat dia sedih duluan.
"Kau tinggal dirumahku saja!" seru Yuka. "Jangan pergi, Nanno." Mereka langsung berpelukan.
Keduanya menangis membuatku jadi bingung. Aku memeluk mereka dan menepuk-nepuk punggung keduanya. Pikiranku terbebani berusaha memikirkan beranikah aku melanggar peraturan dan berusaha menyelamatkan Nanno?
Perkataan Yuka agar membiarkan Nanno tinggal dirumahnya, jika beralasan demi nilai pelajaran dia, mungkin...
Ah, tidak! Mana mungkin orangtua Nanno akan mengizinkan Nanno tinggal dengan orang lain. Lagipula belum tentu orangtua Yuka setuju. Selain itu, menyelamatkan Nanno berarti membuat anak ini akan menjadi sebatang kara, tanpa orangtua. Bukankah itu kejam? Apalagi aku juga tidak bisa memastikan masa depan Nanno akan baik-baik saja tanpa orangtuanya.
Dan yang paling penting, konsekuensi menyelamatkan warna merah... Apakah aku berani menerima konsekuensinya?
Aku menggigit bibirku dengan gemas. Aku tidak tahu harus bagaimana.
Untuk 3 hari selanjutnya, aku selalu bersama Nanno dan Yuka seakan ingin menghabiskan sisa waktu bersama kami. Aku dan Yuka menginap dirumah Nanno dan membantu dia membereskan barang-barang dia.
Ah, tenggorokan serasa dihimpit batu. Aku harus bagaimana?
Akhirnya kami berjanji untuk terus saling berhubungan baik via surat, email, sms atau video call.
Hatiku berat. Yuka tidak tahu bahwa kami berdua tak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Nanno. Aku mana bisa memberitahu dia soal itu.
Ah, rasanya ingin memanggil Reina untuk meminta tolong tetapi aku tahu dia tidak akan menjawabnya. Terakhir, dia bilang dia tidak bisa menemuiku dulu sementara waktu. Jika bisa pun, apakah dia mau menolong Nanno dan keluarganya yang berwarna merah?
777
Akhirnya, tiba hari dimana Nanno akan pindah. Aku dan Yuka sepakat untuk bolos sekolah supaya bisa mengantar kepergian Nanno. Hatiku terasa berat saat aku memandang kedua gadis kecil dihadapanku itu.
Aku tidak percaya bahwa nyawa Nanno akan segera berakhir. Dia masih begitu muda. Rasanya sungguh tidak adil.
Kami saling berpelukan dan berjanji agar tidak kehilangan kontak dengan satu sama lain. Aku merasa mati rasa, rasanya aku seperti robot saja mengikuti arahan gerakan dari Yuka dan Nanno.
Akhirnya, Nanno dan orangtuanya pun pergi dengan mobil mereka diikuti mobil truk berisi barang-barang mereka. Aku dan Yuka hanya bisa menatap kepergiannya dengan sedih.
Aku langsung jongkok dan menundukkan kepalaku. Airmataku tidak bisa keluar tetapi aku merasa sedang menangis meraung-raung dalam batinku. Aku merasakan Yuka juga jongkok disebelahku, menepuk-nepuk punggungku seakan ingin menghibur.
Setelah beberapa saat, dia menarikku berdiri dan mengajakku apakah aku ingin singgah ke Poirot. Sepertinya dia ingin menghiburku dengan cara bertemu dengan Amuro. Tetapi, aku merasa enggan kemana-mana atau menemui siapapun.
"Ayolah, Eva, aku belum ingin pulang. Kita hari ini sudah diizinkan untuk tidak sekolah oleh orangtua kita. Marilah kita bermain-main bersama supaya tidak sedih sendiri-sendiri." tutur Yuka.
Aku memandangi Yuka yang terlihat sedih juga tetapi kesedihan dia berbeda dengan kesedihan yang kurasakan. Tenggorokanku terasa begitu tercekat, rasanya seperti mau keselek.
"Aku traktir makan es krim deh." Yuka tersenyum memohon padaku.
"Oke." Aku menyetujui. Bukan karena es krimnya, aku menyetujui bahwa lebih baik aku tidak membiarkan diriku terpuruk. Saat ini Nanno masih hidup, janganlah aku duluan merasakan duka cita. Lebih baik ditahan dulu.
Maka, kami pun pergi makan es krim bersama dan aku menemani dia maen game di tempat maen game arcade. Aku memandang Yuka dengan berat hati tetapi aku memaksakan senyum tipis diwajahku supaya dia juga tidak merasa sedih juga. Kedepannya, saat semua orang mengetahui soal kematian Nanno dan keluarganya, Yuka akan membutuhkanku untuk menjadi tegar. Aku harus menjaga anak ini, temanku.
Pikiranku jadi menerawang jauh memikirkan Nanno. Aku memandang ke arah langit dan menuturkan doa kecil agar Nanno dan keluarganya tidak menderita pada saatnya waktu mereka tiba. Aku menggelengkan kepala berusaha mengusir pikiran sedih jauh-jauh.
777
Untuk beberapa hari selanjutnya, Nanno masih suka chat dan video call denganku dan Yuka. Saat itu, Nanno belum bisa masuk sekolah baru karena masalah administrasinya belum selesai jadi dia dapat libur sendiri.
Aku memandang wajah Nanno pada grup video call. Tidak ada perubahan. Tanggal kematiannya dan warnanya masih sama dengan yang lalu. Aku merasa ingin menangis tetapi aku menahan diri dan memaksakan diri untuk mengikuti arah pembicaraan Yuka dan Nanno.
Berita kematian Nanno dan keluarganya diterima sehari setelah hari kematiannya. Sebenarnya aku ingin bolos saja tetapi aku bertekad untuk berada di sisi Yuka saat dia menerima berita duka tersebut. Saat guru memberitahukan pada murid-murid dikelas, banyak yang kaget dan menangis. Yuka terlihat shock, dia tidak menangis. Aku menggandeng tangan dia yang terasa dingin. Aku memutuskan membawa dia ke ruang kesehatan dengan izin dari guru kelas kami.
Yuka dijemput orangtuanya karena dianggap tidak enak badan. Aku bisa saja meminta Papa atau Mama juga menjemputku tetapi aku enggan melakukannya. Dirumah juga aku bisa apa? Hanya akan terpuruk dalam kesedihan saja. Jadi, aku memaksakan diri mengikuti pelajaran hari itu.
Semenjak Nanno pindah, aku tidak mampir ke Poirot. Biasanya aku main ke rumah Yuka atau mengurung diri dikamar. Nafsu makanku juga berkurang, membuat Papa dan Mama khawatir padaku.
Hari ini karena Yuka pulang duluan, aku jadi pulang sendiri. Saat ditengah jalan, aku berhenti jalan. Dadaku berasa sesak dan aku tak mampu membendung airmataku. Aku pun menangis. Ah, apakah ini airmataku atau airmata Eva yang asli?
"Kak Eva?" panggil Conan.
Aku tidak bergeming tetapi aku buru-buru menghapus airmataku.
"Kak Eva, kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya Ayumi khawatir.
"Apakah ada yang membully Kakak?" tanya Mitsuhiko.
"Mana orangnya? Biar kuhajar saja orangnya." tukas Genta.
Ai tidak mengatakan apa-apa tetapi dia memandangiku juga dengan perhatian.
"Kak Eva?" panggil Conan sekali lagi.
Mau tidak mau aku tersenyum kecil mendengar reaksi para grup detektif cilik. Tetapi saat itu juga airmata masih jatuh membasahi pipiku bahkan walau sudah kuhapus berkali-kali.
"Aku tidak apa-apa." ujarku akhirnya.
Anak-anak itu semua menatapku dengan tidak percaya.
Aku menghela nafas dan akhirnya kukatakan saja yang sebenarnya bahwa aku baru saja mendapat kabar duka soal teman dekat-ku.
Ayumi langsung meneteskan airmata untukku dan memelukku. Ah, anak ini sungguh imut sekali bukan?
Mereka mengucapkan belasungkawa untukku dan mengajakku pulang bersama tetapi aku menolak. Kukatakan aku lagi ingin menyendiri saja. Walau terlihat khawatir, Conan dan Ai mengajak anak-anak itu memenuhi keinginanku untuk menyendiri.
"Kak Eva, berhati-hatilah dijalan." ujar Conan sebelum pergi.
"Iya." Aku menyahut sambil tersenyum tipis. Saat mereka hilang dari pandanganku, senyumku langsung menghilang. Perasaan sedih kembali meliputiku. Aku tak langsung pulang, berjalan pelan dan menuju ke taman terdekat yang sedang sepi.
Aku duduk di sebuah ayunan dan bengong saja. Aku berusaha menata perasaanku tetapi sekarang aku merasa sakit kepala saja. Aku menerima SMS dari Mama yang menyuruhku segera pulang. Mungkin mereka ingin membicarakan kepadaku soal kematian dan bagaimana cara menanganinya.
Aku menghela nafas dan berjalan pulang. Saat itulah, aku merasakan keanehan. Sepertinya ada yang mengikutiku. Aku menoleh ke belakang dan dari jauh, aku melihat pria berhelm dan berjubah berjalan perlahan dibelakangku. Aku tidak bisa melihat wajahnya ataupun nama dan tanggalnya karena tertutup helm. Bukankah aneh melihat orang memakai helm dijalanan tanpa motornya?
Awalnya kukira aku paranoid saja, tetapi aku jadi makin tegang saat orang itu terus berada dibelakangku, berhenti saat aku berhenti, berbelok saat aku berbelok.
Aku pun perlahan jadi panik. Aku mempercepat langkahku lalu aku segera berlari secepat yang aku bisa. Aku tidak berani menoleh melihat orang yang mengikutiku itu.
Sialnya, jalanan pun sepi saat itu. Aku berusaha mencari keberadaan orang-orang tetapi entah kenapa aku tidak melihat siapapun.
Aku membelok mendadak pada belokan pertama yang kulihat dan aku bertubrukan dengan sesuatu. Aku menjerit kaget.
"Eva? Kau tak apa-apa?"
Aku membelalakan mata dengan kaget saat melihat Amuro. Aku perlahan merasakan kelegaan melihat wajah familiar orang itu. Tubuhku gemetaran dan wajahku pucat.
"Kakak...ada yang mengikutiku..." ucapku dengan lirih.
Ekspresi wajah Amuro mengeras mendengar itu dan dia menarikku ke belakang dia sementara dia melihat ke arah tadi aku muncul. Akan tetapi, dia tidak menemukan siapapun. Dia memandang tajam sekeliling seakan ingin memastikan.
Dia memandangku dan mengelus kepalaku. "Mari, ku antar kau pulang."
Aku mengangguk setuju dan menyelipkan tanganku pada genggaman tangan Amuro yang hangat.
Amuro memandangiku lagi saat merasakan dinginnya tanganku.
Kami pun berjalan dalam diam. Aku bisa merasakan bahwa dia masih saja menatapku. Aku tak berani menatap balik, hanya menatap jalanan dibawah kaki-ku.
Tiba-tiba dia berhenti dan jongkok dihadapanku. "Kau tak apa-apa, Eva?"
"Aku...selalu baik-baik saja." ujarku dengan suara pelan. Ekspresi wajahku saat itu pasti memperlihatkan bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku tidak tahu kenapa aku malah berbohong dengan mengatakan itu.
"Jika kau ada masalah, kau boleh memberitahukannya padaku. Aku ingin membantumu, Eva."
Aku mengangguk. "Terima kasih."
Dia menghela nafas dan mengacak-acak rambutku dengan penuh kasih sayang.
Aku menatap dia dengan bingung.
