Aku baru tahu bahwa ibu Nanno selamat dari kecelakaan yang merenggut nyawa Nanno dan ayahnya. Rupanya, dia diselamatkan oleh dewa kematian berarti karena dia berwarna kuning?
Saat pemakaman, ibu Nanno menangis meraung-raung sambil bersipuh dilantai. Pemandangan yang sungguh tragis.
Yuka juga menangis dalam pelukan orangtuanya. Aku hanya berdiri dalam diam didekat Papa dan Mama.
Aku benci bagian kehidupan ini, memang kematian adalah bagian dari kehidupan dan tidak bisa dihindari. Berduka untuk orang yang dikasihi sungguh sangat menyiksa. Mau tak mau pikiranku jadi mengarah pada keluarga asli-ku. Bagaimanakah keadaan mereka sekarang? Reina bilang mereka tak apa-apa. Aku harap dia tidak bohong padaku.
777
Saat di sekolah, mendadak Kenji menghampiriku. Dia menyodorkan 2 buah tiket ke sebuah taman bermain yang baru buka.
Aku langsung panik. Masa anak ini mau mengajakku berdua kesana? Tetapi ternyata dia ingin memberikan kedua tiket itu untukku dan Yuka. Rupanya Kenji merasa prihatin pada keadaanku dan Yuka yang telah kehilangan seorang teman dekat.
Aku kaget mendengarnya. Kecil-kecil sudah perhatian sekali? Aku memandangi wajah Kenji, dia sedang melihat ke arah Yuka. Barulah aku menyadari bahwa Kenji suka pada Yuka. Tapi, kenapa dia malah mendekati Eva dulu? Apakah dia berniat menggunakan Eva untuk bisa lebih dekat dengan Yuka? Ah, ini jadi seperti drama saja...
Aku menghela nafas saat aku memandang Yuka yang terlihat murung. Aku menoleh pada Kenji. "Kenji, kau suka dengan Yuka ya?" tanyaku terang-terangan.
Wajah Kenji memerah. Wah, beneran nih?
Aku tersenyum. "Bagaimana jika kau berikan saja langsung pada Yuka? Lebih baik jika kau yang mengajak dia pergi saja." Aku menghela nafas. "Sejujurnya, aku tidak bisa begitu menghibur Yuka saat ini. Kami terus teringat dengan Nanno saat bersama. Mungkin yang dia butuhkan saat ini adalah teman baru...dan bagus juga jika kau-lah orangnya. Kulihat kau sangat perhatian pada Yuka."
"Eh, benarkah tak apa-apa?"
"Iya, lagipula tiket ini milikmu, seharusnya kau yang pergi." ujarku dengan nada membujuk. "Ayo, temui Yuka."
Kenji menelan ludah dan mengangguk sebelum perlahan-lahan menghampiri Yuka yang sedang termenung.
Aku pun pergi dari sana supaya tidak mengganggu privasi mereka.
777
Malam itu, Papa memberiku 2 buah tiket yang sama dengan yang dimiliki Kenji. Rupanya taman bermain itu ada bekerja sama dengan perusahaan Suzuki dimana Papa bekerja. Papa dapat tiket gratis dan menyuruhku untuk pergi dengan Yuka.
Jujur saja, aku malas ke taman bermain, malas ngantri permainan dan lagi aku tak begitu suka naik roller coaster. Gara-gara film final destination yang ketiga juga. Merinding aku jika sampai jatuh dari sana.
Lagipula, Yuka sudah memberitahuku bahwa dia akan pergi dengan Kenji. Yuka sempat merasa tidak enak hati padaku dan Nanno tetapi aku berhasil membujuknya untuk tidak mempermasalahkan soal itu.
Aku memandang 2 tiket dari Papa dan menghela nafas. Lalu, ini harus ku apakan?
Tiba-tiba saja aku teringat Amuro dan Subaru. Aku bisa mengajak salah satu dari mereka, mungkin? Subaru, aku tidak yakin bakal mau karena dia harus mengawasi dan menjaga Ai. Ah, tapi keduanya apa mau pergi bersamaku ke tempat yang kekanak-kanakan seperti itu? Walau saat ini aku memang anak kecil jadi mestinya wajar bukan?
Ah, sudahlah, aku akan mengajak salah satu dari mereka tetapi yang pertama kutemui besok. Jika keduanya menolak, ya sudah aku tidak akan pergi.
777
Saat pulang sekolah, aku kaget melihat Amuro menunggu didepan gerbang sekolah. Wah, ada apa ini? Apakah dia hendak mencari Conan? Gawat, bagaimana kalau nanti dia melihat Ai?
Ah, tapi ini juga kesempatan yang diberikan langit padaku.
"Kak Amuro, kau sedang apa disini?" tanyaku.
"Aku menunggumu, Eva." jawabnya dengan senyum cemerlang yang membuat wajahku memanas. Woii, ini maksudnya apa? Jangan tebar pesona donk!
Aku tak mampu berkata-kata sesaat, terpana memandangi orang itu. Aku menggelengkan kepala berusaha mengusir pikiranku yang aneh dan tak jelas. "Memangnya ada apa, Kak? Hari ini Kak Amuro tidak bekerja di Poirot?"
"Aku libur hari ini."
"Oh, terus kenapa mencariku?"
"Aku ingin menanyakan soal orang mencurigakan yang kau lihat waktu itu."
Eh? Ternyata dia datang untuk menanyakan soal itu. Aku sedikit kecewa. Ah, aku konyol!
"Orang yang waktu itu? Memangnya kenapa?"
"Ada laporan mencurigakan yang kudengar sepertinya orang itu penculik anak kecil."
Aku membelalakkan mata dengan kaget. "Benarkah?" Penculik anak kecil? Aku merinding mendengarnya. Aku hampir jadi korban penculikan?
Amuro mengangguk. "Kau bilang orang itu memakai helm dan jaket panjang bukan? Ada laporan dari anak sekolah lain yang melaporkan bahwa dia diikuti orang aneh."
"Lalu, bagaimana? Apakah orang itu sudah ditangkap?" tanyaku.
"Kak Amuro?" Conan memanggilnya. "Kenapa kau kesini?"
Aku dan Amuro menoleh memandang Conan yang datang menghampiri kami bersama grup detektif cilik minus Ai. Mungkin anak itu mengumpet saat melihat Amuro ada disini.
Amuro memberitahukan Conan soal orang yang mencurigakan yang kulihat waktu itu dan mewanti-wanti kepada Conan dan anak-anak lain agar hati-hati.
Conan terlihat berpikir setelah mendengar perkataan Amuro. Dia memandangiku dan Amuro tetapi dia tidak mengatakan apa-apa.
Amuro menanyakan lagi kepadaku apa ada hal lain yang kuingat soal orang itu. Sayangnya orang itu memakai helm jadi aku tidak bisa melihat nama orang itu. Tetapi, jika lihat pun, mana bisa aku mengatakan namanya kepada Amuro? Berarti aku harus menjelaskan lebih dahulu darimana aku tahu nama orang itu.
"Ah, Kak Amuro, ada yang ingin kubicarakan denganmu, bolehkah aku pulang bersamamu?" tanyaku.
Amuro menepuk kepalaku dan menyetujuinya.
Aku menepis tangannya sambil menggerutu agar jangan mengacak rambutku.
Conan memandangi kepergian kami dengan tatapan penuh selidik. Apa sih? Dia mencurigaiku atau Amuro?
Setelah jalan agak jauh dari sekolah dan setelah memastikan disekitar tidak begitu banyak orang, aku langsung tanpa basa basi lagi menanyakan apakah hari sabtu nanti Amuro ada acara lain atau tidak.
Amuro terlihat agak kaget aku menanyakan hal itu dan aku senang saat dia menjawab dia tidak ada acara hari itu.
Aku tersenyum cemerlang ke arah dia. "Maukah Kakak pergi denganku hari sabtu nanti?" tanyaku. Aku mengeluarkan tiket taman bermain dari tas-ku dan menjulurkan satu untuknya.
Amuro memperhatikan tiket itu dengan seksama dan menoleh kepadaku yang memasang tampang seperti anak anjing yang terlalu berharap.
"Kenapa mengajakku? Kenapa tidak mengajak temanmu saja?" tanyanya.
Aku berpikir sebentar dan berkata, "Yuka juga kesana tetapi dia dengan potensial pacar. Aku juga ingin mengawasi supaya kencannya dia lancar-lancar saja."
Amuro terlihat heran mendengar kata potensial pacar. Mungkin baginya aku dan Yuka terlalu kecil untuk mulai berpacaran. Dia tersenyum kecil dan akhirnya menyetujui ajakanku.
Aku tersenyum gembira dan mengeluarkan jari kelingkingku dihadapan dia. "Janji ya? Tidak boleh batal."
Amuro tertawa kecil seakan kelakuanku itu sangat menghibur dia. Dia pun melingkarkan jari kelingkingnya kepadaku sepertinya untuk menyenangkan hatiku.
Aku tersenyum lalu dengan langkah ringan segera berpamitan meninggalkan dia. Aku berhenti dan menoleh kepadanya mendadak. "It's a date!" seruku nakal.
Amuro melongo sesaat sebelum tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.
777
Saat Mama mengetahui bahwa aku akan pergi 'kencan' dengan Amuro, dia tertawa dan mengatakan bahwa dia akan mendandani aku. Aku menolak. Ini bukan kencan benaran juga.
Yang paling heboh adalah Papa. Dengan gaya dramatis, dia menangis dan mengatakan aku terlalu muda untuk berkencan dan bahwa dia tidak setuju.
Aku tertawa sarkastis melihat tingkah Papa.
"Jika Papa tahu bahwa kau akan mengajak lelaki untuk pergi bersamamu, Papa tak akan kasih tiketnya kepadamu!" seru Papa.
"Papa jangan konyol! Aku sudah bilang ini bukan kencan! Mana mungkin sih orang dewasa kencan dengan anak kecil!" seruku kesal.
Mama membuka lemari bajuku sambil bersiul riang. "Anak gadisku kencan~harus dandan cantik~~" Dia mengerlingkan mata kepadaku. Mama sengaja berkata begitu lebih untuk menggoda Papa daripada aku.
"Mama!" seruku dengan gemas.
Papa menghambur ke arahku dan memelukku erat-erat. "Tidak boleh! Eva tidak boleh pergi! Pergi dengan Papa saja!"
"Mana bisa? Papa kan ada rapat penting." ujar Mama dengan senyum jahat.
Aku menghela nafas melihat tingkah mereka. Aku mau tak mau tersenyum melihat mereka. Dibandingkan kedua orangtuaku yang asli, mereka benar-benar berbeda. Orangtuaku jarang tertawa lepas dan terlalu serius.
777
Saat sedang les dengan Subaru hari Jumat siang itu, aku sedang berada dalam mood yang bagus. Aku pun menyenandungkan lagu dari film Coraline, Exploration.
Subaru mengamatiku. "Sepertinya Eva lagi senang. Memangnya ada kejadian menyenangkan apa?"
Aku tersenyum. "Aku sudah tak sabar supaya hari Sabtu segera datang."
"Oh? Ada rencana apa Eva pada hari sabtu besok?" tanyanya sambil mengangkat gelasnya untuk minum.
Aku tersenyum nakal ingin mengerjai Subaru. "Besok aku akan pergi kencan dengan Kak Amuro!" seruku.
Subaru nyaris tersedak. "Benarkah?"
"Benar donk. Dia sudah janji. Pinky promise!" seruku dengan nada sepolos mungkin.
Subaru mengangkat alisnya seakan tidak percaya dengan ucapanku.
777
Akhirnya hari yang ditunggu tiba juga. Aku tahu bahwa kami bukan kencan sungguhan tetapi aku sedikit berdandan biar kelihatan imut dihadapan dia. Aku memakai baju dress bermotif bunga matahari. Rambutku dikuncir dengan pita merah pemberian Yuka. Aku memakai jaket hoodie juga untuk menutupi wajahku jikalau aku bertemu shinigami. Aku juga membawa kacamata hitam untuk jaga-jaga jika aku merasa tertekan dengan tanggal dan warna semua orang.
Aku menghela nafas saat teringat akan janji Reina untuk mencari cara untuk mengunci kemampuan mata shinigami-ku ini. Reina masih belum juga kembali. Aku tak tahu apa yang terjadi pada dia. Akankah dia kembali untukku? Jangan-jangan dia benar-benar cuci tangan terhadapku?
Aku menggeleng-gelengkan kepala berusaha mengusir pikiran yang membuat depresi. Aku memandang cermin dan memaksakan senyum pada wajahku. Aku akan banyak bergembira hari ini. Aku bertekad untuk menikmati hari itu.
Aku dan Amuro sudah bertukar SMS untuk tempat pertemuan kami. Dia tersenyum saat melihatku dan memuji tidak jelas bahwa ada yang berbeda dariku hari itu. Kuterima saja pujian dia dengan lapang dada.
Aku diam-diam mengamati penampilan Amuro yang kasual. Dia terlihat santai. Saat kami masuk ke dalam taman bermain, kami berjalan-jalan dulu mengitari taman bermain. Aku merosot jongkok saat melihat Yuka dan Kenji. Kelihatannya mereka berdua masih malu-malu dengan satu sama lain tetapi mereka juga terlihat senang. Aku tersenyum memandang mereka. Syukurlah. Semoga Kenji bisa membuat Yuka sedikit melupakan kesedihannya dan bisa berteman baik dengan Kenji. Ah, aku benar-benar mak comblang yang keren, bukan?
Amuro mengamati Yuka dan Kenji dan tersenyum kepadaku. Wah, senyumannya membuatku dag-dig-dug mendadak. Dia mengulurkan tangannya kepadaku dan aku menerimanya.
Aku tahu dia hanya menganggapku sebagai adik kecil yang lucu tetapi aku senang dapat bersama dia hari ini.
Aku sedang mengobrol dengan Amuro sambil menikmati es buah kami saat aku mendengar suara familiar Ayumi, Genta dan Mitsuhiko. Aku menatap sekelilingku dan mengerang saat melihat Conan.
Ugh, jika dia ada disini, tidak lama lagi pasti akan ada kasus. Aku melihat Ai juga ada disana. Dia menatap Ayumi dan lain-lain dengan senyum kecil.
"Ada apa, Eva?" tanya Amuro.
"Oh, tidak ada apa-apa. Tadi aku pikir aku mendengar suara teman sekolah lain." jawabku.
Amuro mengajakku jalan-jalan lagi sambil sesekali memantau perkembangan Yuka-Kenji. Amuro memberiku boneka kelinci imut yang dia menangkan dari salah satu tempat game disana. Aku tersenyum gembira kepadanya.
Tak lama, terdengar jeritan keras. Aku mendesah mendengarnya. Ternyata benar...Conan itu magnet pembawa kematian.
Amuro langsung dengan sigap mencari sumber suara jeritan. Dia memintaku menunggu ditempat sementara dia pergi untuk mengecek kasus tersebut. Aku sudah pasrah dan hanya melambaikan tangan ke dia saja, membiarkan dia pergi tanpa banyak protes.
Aku menatap boneka kelinciku. "Setidaknya aku masih memilikimu..." Aku pun melanjutkan memakan snack yang ada dihadapanku. Aku mengeluarkan buku novel yang kubeli disana dan segera membacanya sambil menunggu Amuro kembali.
"Oh, Eva, dimana teman kencanmu?"
Aku terperanjat dan menoleh ke sampingku dan aku melihat Subaru berdiri sambil mengulum senyum. "Lho? Kak Subaru juga kesini?"
Subaru duduk ditempat Amuro duduk tadi. "Iya, ada teman yang memberikan tiket untuk tempat ini di detik terakhir."
Tentu saja aku tahu alasan dia berada disini adalah demi menjaga Ai.
"Lalu, dimana Kak Amuro-mu itu?"
"Ada kasus, Kak Amuro pergi untuk menyelesaikan kasus itu..." ujarku.
"Menyelesaikannya ya...? Dan, dia meninggalkan dirimu seorang diri disini?" tanyanya dengan nada suara yang entah kenapa aku merasa seperti menyindir.
"Bunny-san menemaniku..." Aku menunjuk boneka kelinci yang ku dudukkan di kursi disebelahku.
Subaru mengulum senyum akan tingkah kekanak-kanakanku itu. "Jika tidak keberatan, aku bisa menemanimu disini."
Aku tersenyum gembira. "Tentu saja."
"Kamu membaca buku apa itu?" tanyanya.
Aku menyodorkan buku yang kubaca padanya sambil menjelaskan jalan cerita buku tersebut. Saat dia sedang mengamati buku itu, aku melihat sekelilingku ingin tahu dimanakah Ai berada. Apakah dia ada didekat sini?
Wajahku memucat saat melihat sekelilingku. Orang-orang disekitarku kebanyakan semua berwarna merah atau kuning dan bertanggal hari ini. Aku berdiri mendadak, pastinya mengagetkan Subaru.
Aku menelan ludah, berusaha untuk tidak panik. Taman bermain dan Conan...kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Bukankah ada movie Conan dimana taman bermain ada dipasangi bom? Ah, aku tidak ingat apakah taman bermain ini merupakan bagian dari manga DC. Rasanya tidak, aku tidak ingat bagian movie dimana Subaru dan Amuro berada di taman bermain...? Kecuali keberadaanku mengubahnya...? Mungkinkah?
"Eva, kau tak apa-apa?" Tahu-tahu Subaru sudah berada didepanku. Dia kelihatan khawatir.
Jika benar ditaman bermain ini ada bom, kemungkinan ada shinigami juga disini. Aku terhenyak dengan gugup. Tanganku otomatis memegang bandul kalung pemberian Reina. Aku berusaha menenangkan diriku. Reina bilang asal aku tidak bersikap drastis, aku tak akan menarik perhatian mereka. Just calm down, woman!
Iya, kan ada Conan juga Amuro disini. Aku memandang Subaru. Juga ada dia. Semua akan baik-baik saja. Bukankah dalam movie DC juga Conan selalu berhasil menyelamatkan semuanya? Benarkan?
Sebenarnya, dalam movie DC, aku tidak begitu memperhatikan apakah ada korban dari kasus pengeboman. Aku lebih sibuk memperhatikan jalan cerita Conan dan lain-lain. Detail lain tidak begitu kupedulikan. Dan, sekarang, berada dalam dunia manga DC ini, aku merupakan detail lain bukan? Bisa saja hari ini aku mati dalam kasus pengeboman ditempat ini.
Ah, tapi aku telah melibatkan diriku dengan sebagian karakter DC, seharusnya plot armor mereka juga terbagi padaku kan? Atau, tidak? Bagaimanapun, bukan Aoyama Gosho yang menciptakan diriku jadi mana mungkin aku punya plot armor bukan?
Itu berarti nasibku tidak jelas saat ini. Jika demikian, bukankah Yuka dan Kenji juga sama? Aku harus mengeluarkan mereka dari tempat ini. Aku menatap sekelilingku lagi. Begitu banyak orang dari anak-anak sampai orangtua, apakah aku akan membiarkan mereka saja hanya karena mereka tidak penting bagiku?
"Eva." panggil Subaru memegang kedua lenganku. "Tenanglah. Tarik nafas, buang nafas."
Dia mengira aku terkena serangan panik dan ternyata aku memang kena tetapi tidak menyadarinya.
"Bicaralah padaku, apa yang membuatmu ketakutan?" tanya Subaru.
"Aku, aku..." Aku tidak tahu harus bicara apa. Apakah aku akan mengatakan yang sebenarnya? "Se-sebaiknya Kakak membantu Conan dan Kak Amuro." Iya, jika mereka bertiga bekerja sama, maka mungkin semua akan berakhir baik.
Subaru mengedipkan mata seakan kaget dengan pernyataanku. Tentunya pernyataan itu mencurigakan karena seharusnya aku tidak tahu bahwa Subaru pun semacam detektif juga. Malah sebenarnya dia tidak pernah mengaku sebagai detektif. Dia mengamatiku dengan serius.
"Cepatlah, Kak!" pintaku.
Subaru akhirnya pergi meninggalkanku tetapi aku tidak tahu apakah dia benar bergabung dengan Conan atau kembali untuk mengawasi Ai.
Aku berdiri dengan tegang memandangi kerumunan disekitarku. Aku memakai hoodie pada jaket-ku dan memeluk boneka kelinciku. Aku pasti terlihat seperti anak hilang atau semacamnya.
Apakah aku akan diam saja disini atau...? Aku merasa ingin menjambak rambutku. Aku bisa apa? Aku gemas terhadap ketidakberdayaan diriku.
Aku melihat beberapa orang yang kukenali sebagai polisi seperti Megure, Miwako, Takagi dan lain-lain berada disekitar taman, berusaha bersikap layaknya orang biasa tetapi aku melihat mereka berkomunikasi satu sama lain. Sepertinya mereka merahasiakan keberadaan bom didalam taman untuk mencegah kepanikan.
Aku benar-benar tidak ingat apa kejadian ini adalah bagian dalam manga DC atau bukan. Jadi, aku tidak tahu apakah semua akan berakhir baik. Melihat warna merah dan kuning disekitarku makin membuatku gugup. Tanggal dan warna tersebut masih belum berubah juga. Jika ada warna merah, apakah berarti sudah fix mereka bakal mati hari ini dengan bom? Jadi dimanakah bom itu berada? Sudahkah para detektif ini melacak keberadaan bom tersebut?
Rasanya aku menunggu dalam ketakutan selama berjam-jam sebelum Subaru tiba-tiba menghampiriku sambil mengatakan semua sudah selesai dan bahwa aku bisa kembali berkencan dengan Amuro. Aku melihat dari kejauhan ada Conan bersama anak-anak lainnya dan Prof Agasa beserta Ran dan Sonoko juga ada bersama mereka.
Aku memandangi Subaru dengan tegang dan tidak percaya. Kenapa dia bilang sudah selesai? Jika memang sudah aman, kenapa masih banyak yang berwarna merah dan kuning bertanggal hari ini?
Aku membuka mulutku tetapi suaraku seperti tidak mau keluar. Aku tahu harus memperingati dia jika ingin semua orang atau sebagian selamat. Aku harus memberitahu dia. "Kakak, kita belum aman! Masih ada bom ditempat ini!" seruku dengan tenggorokan tercekat saat aku meraih pergelangan tangan Subaru dengan penuh permohonan.
Subaru terhenyak mendengar perkataanku.
"Jangan tanyakan darimana aku tahu! Tolong segera temukan bom-nya! Atau...kita harus mengungsikan semua orang!" pintaku.
Subaru jongkok dihadapanku dan menatapku dengan tajam. "Eva, kau..."
"Kakak harus percaya padaku, kumohon." pintaku lagi.
Subaru mengamatiku sebelum mengangguk. "Kita akan bicara lebih lanjut nanti..." Dia menelepon seseorang, mungkin Conan, menginfokan soal kemungkinan ada bom yang terlewatkan. "Eva, lebih baik kau pergi dari tempat ini."
Aku mengangguk. "Aku akan pergi setelah menemukan Yuka dan Kenji. Kakak, berhati-hatilah."
Dia mengangguk singkat dan pergi meninggalkanku.
Aku pun segera mencari Yuka dan Kenji. Aku menelepon Yuka untuk mencari lokasinya tetapi tidak diangkat. Aku pun berlari berkeliling untuk mencari anak itu.
Saat itulah terdengar suara ledakan. Langsung semua orang panik dan berlarian kesana kemari. Aku nyaris jatuh berkali-kali kena tubrukan orang-orang.
Aku mendengar Amuro berteriak memanggilku ditengah keramaian tetapi aku tidak bisa melihat lokasi dia. Saat itulah, aku melihat Yuka dan Kenji. Aku membuka mulut hendak berteriak memanggil mereka.
Tiba-tiba seseorang menyergapku dari belakang dan langsung membekap mulutku dengan saputangan. Aku kehilangan kesadaranku dengan mendadak. Obat bius?
Boneka kelinciku jatuh ke tanah, terinjak orang dan terlupakan...
777
Aku kebangunan dalam keadaan setengah sadar. Aku tidak bisa bergerak dan mataku terasa berat. Pandanganku juga tidak jelas. Tetapi aku melihat seseorang disampingku sedang berbicara di hp dengan seseorang.
"...terkonfirmasi. Anak ini...memilikinya...selanjutnya...mengerti..."
Aku tidak bisa mendengar jelas perkataannya. Orang itu menyimpan hp-nya dan melihat ke arahku. Wajahnya tidak jelas bahkan nama dan tanggal kematiannya juga terlihat buram. Dia tahu aku dalam keadaan setengah sadar.
"Maaf, Nak. Orang sepertimu...lebih baik...tidak ada..." Dia berkata padaku pelan hampir dengan nada kasihan.
Lalu, dia mendorongku jatuh ke sampingku.
Aku jatuh. Aku tidak bisa menjerit atau bergerak. Aku jatuh kedalam air. Aku memandang ke arah permukaan air. Aku melihat sosok orang itu sesaat sebelum dia pergi meninggalkan lokasi.
Sesak. Dingin. Apakah aku akan mati disini?
Aku perlahan-lahan menutup mataku.
