Saat jam istirahat di sekolah, aku memandang Yuka yang sedang asyik berbicara dengan Kenji. Aku tersenyum melihat keduanya. Akan tetapi, aku juga merasa hatiku sedikit terenyuh untuk alasan yang tidak jelas. Cemburu?

Apakah esensi Eva yang asli tidak rela melihat anak cowok yang disukainya bersama sahabat karibnya?

Aku menggelengkan kepala keras-keras berusaha mengusir jauh pemikiran itu.

Aku memandang wajah ceria Yuka dan agak bersyukur dia tidak lagi murung. Tapi, aku agak sedih juga karena sekarang dia jadi lebih fokus pada Kenji. Ah, tapi sebagai teman baiknya, aku harus lebih pengertian, bukan? Ini kan tahap awal pendekatan mereka berdua yang biasanya semanis madu.

Aku memandang Kenji yang sedang mendengarkan perkataan Yuka, bola matanya membinarkan rasa sayang kepadanya. Aku terpana menyadari hal itu. Ah, kalau sudah begini aku harus mendukung keduanya, bukan?

Aku tersenyum memandang keduanya. Tetapi, entah kenapa rasa sedih berbalut rasa sepi tiba-tiba meliputiku.

777

Siang itu aku makan siang di Poirot dan bertemu Conan, Sonoko, Ran dan Sera disana. Mereka mengundangku untuk makan bersama mereka.

Sambil mengorder makanan, aku mendengarkan Sonoko yang sedang heboh ingin membentuk grup band perempuan.

Ah, aku ingat bagian ini dalam manga. Aku melirik orang-orang yang duduk disamping meja kami. Mereka sepertinya pemain band juga dan wajah mereka terlihat sedang senang mendengar kehebohan Sonoko.

Aku ingat orang-orang ini akan mengejek Sonoko hanya karena dia ingin membentuk band padahal tak bisa bermain musik. Saat membaca itu, aku merasa kasihan pada Sonoko, bahkan aku merasakan secondhand embarrasment karena dia, dia terlalu ceria dan kadang berkata-kata tanpa memikirkan dampaknya pada orang sekitar. Akan tetapi, aku tahu bahwa Sonoko tidak memiliki maksud jahat sama sekali.

Aku melirik pria-pria yang duduk di meja sebelahku itu dengan tidak senang karena mereka mulai bergelagat ingin mencari masalah. Lagipula, buat apa juga mereka ikut-ikutan menimbrung percakapan orang. Yang paling menyebalkan menurutku mereka sengaja hendak mempermalukan Sonoko. Apa mereka kurang kerjaan apa? Buat apa usik orang lain?

Dan kejadian yang kubaca pada manga mulai terjadi depanku. Padahal mood kami semua lagi bagus saat iseng membicarakan grup band. Sonoko bahkan melibatkan Azusa agar masuk dalam band dia.

Lalu, dua orang itu dengan nada mencemooh langsung menyuruh Sonoko untuk mencoba bermain gitar. Dan, sudah jelas bahwa gadis itu tidak bisa. Mereka lalu mengejeknya.

Aku melabrak meja dengan kesal. "Paman-paman ini apa-apaan sih? Sudah dengan tidak sopan ikut-ikutan pembicaraan orang, malah sengaja mempermalukan orang! Apa paman kurang kerjaaan ya sampai membully anak gadis orang?!" Aku meracau dan melototi keduanya membuat Conan dan yang lain kaget.

Kedua orang itu terlihat tidak senang karena dilabrak anak kecil sepertiku. Sejujurnya aku juga bingung kenapa aku malah sok melabrak orang yang lebih tua dan kasar seperti mereka.

"Hey, dasar anak kurang ajar!" Salah satu pria itu mengayungkan kepalan tangannya mungkin hendak memukulku.

Aku memejamkan mata secara refleks menunggu rasa sakit yang akan datang menimpaku. Aku perlahan membuka mataku saat rasa sakit tak kunjung datang dan ternyata Amuro, bagaikan ksatria baja hitam, menyelamatkanku.

Dia menghalang pukulan yang ditujukan padaku dan dengan senyum sopan yang palsu, menegur pria itu agar tidak main tangan terhadap sesama tamu di Poirot.

Ran dan Sonoko terlihat terkesan dengan penampilan Amuro yang memang terlihat keren.

Amuro lalu meraih gitar ditangan Sonoko dan memainkan dengan sukses alat musik itu seakan ingin memamerkan kemampuannya lalu dengan sopan mengembalikan benda itu pada pemiliknya.

Pria-pria itu terlihat kaget dengan kemahiran bermain gitar Amuro dan tak lagi berkata-kata.

Amuro menoleh pada Sonoko dan menegur Sonoko dengan lembut agar berhati-hati dalam berbicara. Dia lalu menoleh padaku dan menegurku juga agar jangan sembarangan berbicara pada orang yang lebih tua dariku. Dalam hati, aku menggerutu secara teknis aku lebih tua.

Aku mengangguk setuju. "Iya, maaf, aku tidak tahu bahwa mereka akan bersikap kasar dan menyerang orang yang lebih lemah dari mereka." tukasku dengan nada menyindir.

Kedua orang itu terlihat mau marah lagi terhadapku tetapi Amuro menenangkan mereka.

Sera menoleh padaku dan menanyakan apa aku baik-baik saja. Aku kaget ditanya olehnya dan aku mengangguk pelan, tubuhku tapi masih agak gemetaran. Dia tersenyum padaku dan mengelus kepalaku. "Kau anak yang berani sekali, Eva."

Aku terpana mendengar pujian dari Sera dan tersenyum kecil.

Sonoko menghambur ke arahku dan memelukku dengan gemas.

Conan memandangiku dengan heran. Apa sebenarnya yang ada dipikiran Conan tentangku ya?

Sonoko lalu beralih kepada Amuro dan memohon agar diajari bermain gitar. Dan sesuai manga, mereka hendak pergi untuk menyewa tempat untuk latihan band. Amuro bahkan menyetujui untuk melatih mereka sedikit.

Sera memandangi Amuro dengan rasa ingin tahu. Aku ingat dia mencurigai Amuro sebagai salah satu teman Shuichi yang dia temui waktu kecil dulu.

Sonoko mengajakku untuk pergi bersama mereka. Dia bilang aku juga berhak menjadi anggota band dia. Aku tertawa renyah, aku tidak tertarik menjadi anggota band tetapi aku tidak menolak karena aku ingin iseng bergabung dengan mereka daripada pulang ke rumah dan bersendiri lagi.

Aku tahu bahwa nantinya akan ada kasus di studio musik yang kami datangi. Ya sudahlah, ini kesempatan untuk melihot trio Conan, Sera dan Amuro berdeduksi memecahkan kasus.

Aku tak ingat siapa pelaku kasusnya tapi aku ingat korbannya kalau tidak salah wanita yang main drum. Kalau tidak salah juga, motifnya juga akibat kesalahpahaman semata.

Aku tidak mendengar percakapan Sonoko dan lain-lain. Tahu-tahu Sonoko mengatakan bahwa aku yang akan jadi vokalisnya setelah Sera menolak.

Menjadi pusat perhatian membuatku gugup. Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Aku tidak bisa menyanyi! Suaraku jelek!" seruku.

Sebenarnya aku selama disini belum pernah bernyanyi keras-keras. Menyenandungkan lagu secara asal mungkin pernah. Aku tidak tahu sebagus apa suara Eva yang asli. Tapi, aku tak berniat untuk bernyanyi.

Diriku yang asli suaranya jelek tidak bisa untuk bernyanyi maka walau banyak lagu favorit, aku tak akan bisa menyanyikannya. Aku agak iri pada para youtubers yang pintar menyanyikan lagu cover dari artis penyanyi kesukaan mereka.

Untunglah, saat itu ada yang menjerit. Sepertinya kasus sudah terjadi. Mereka juga nantinya jadi lupa akan pembentukan band setelah kasus selesai. Aku selamat dari harus mempermalukan diri untuk bernyanyi.

Tak lama, para polisi pun datang. Aku melihat Megure lagi dan dia juga mengenaliku. Dia bertanya kenapa aku bisa di TKP dan aku menunjuk bahwa aku disana bersama Conan dan lain-lain. Megure kelihatan agak sebal melihat 3 detektif muda ini muncul dimana pun ada kasus.

Dia menanyakan apa aku baik-baik saja dan apakah aku ingat detail lain kejadian di taman bermain. Aku meminta maaf karena tak bisa banyak membantu dalam soal itu.

Dengan mata berbinar-binar, aku memandangi trio detektif ditempat yang mulai berdeduksi untuk memojokkan si pelaku.

Setelah polisi meringkus pelaku, aku menghampiri trio detektif tersebut lalu dengan senyum cemerlang, aku memuji ketiganya.

Amuro mengulum senyum, Conan tersipu-sipu dan Sera tertawa terbahak-bahak.

Lalu, Sera sengaja mengungkit lagi soal kecurigaannya bahwa dia dulu pernah bertemu Amuro. Dia bahkan mengatakan nama lengkap kakaknya.

Conan dan Amuro memandang Sera dengan pikiran mereka masing-masing.

Sonoko bilang dia masih belum ingin pulang dan mengajak kami keluar untuk makan es krim. Katanya dia lapar setelah terkena kasus. Padahal bukan dia yang berdeduksi. Aku bisa membaca tatapan sinis Conan terhadap Sonoko.

Amuro menolak karena dia ada urusan. Dia menanyakan apakah aku akan kembali ke Poirot setelah ini. Memang hari ini rencananya Papa akan menjemputku di Poirot nanti sore. Karena masih ada waktu, aku pikir aku masih ingin jalan-jalan. Agak bosan juga nongkrong di Poirot.

Setelah Amuro pergi, Ran menggandeng tanganku karena tempat es krim yang dituju terletak ditempat yang agak ramai, dia tak ingin aku tersesat. Aku tersenyum pada gadis itu.

Ran, Sera dan Sonoko mengantri beli es krim dan menyuruhku dan Conan menunggu dibawah pohon yang ada bangkunya.

Aku celingukan sedikit lalu memakai hoodieku untuk menutupi pandangan akan warna semua orang. Memang sekarang aku selalu memakai jaket hoodie kemanapun aku pergi terutama saat berangkat dan pulang sekolah tujuannya untuk semacam ini.

Conan memandangiku dengan heran tetapi dia tak berkomentar apapun.

Aku tersenyum pada anak itu dengan agak canggung. Ah, Conan ada didekatku tetapi aku tak tahu harus bagaimana supaya bisa lebih dekat dengan anak ini. Bagaimanapun entah kenapa berada didekat Conan lebih membuatku gugup dibanding dengan bersama Amuro atau Subaru. Kenapa yah?

Tiba-tiba hujan gerimis kecil turun tiba-tiba. Aku tak membawa payung tapi aku membawa topi jadi kuberikan pada Conan supaya kepalanya tidak sakit kena hujan. Tapi untunglah hanya hujan titik-titik kecil saja.

Sekelebat merah menarik perhatianku. Seorang pemuda berseragam hitam melewatiku dan Conan, orang itu memakai payung merah.

Wajahku memucat saat menyadari aku tak bisa melihat nama dan tanggal kematian orang tersebut. Shinigami!

Tenggorokanku terasa tercekat. Conan menanyakan apakah aku baik-baik saja tetapi aku tidak menjawab dia.

Mataku tak bisa berhenti menatap dewa kematian dihadapanku itu. Aku memaki diriku untuk mengalihkan mataku dari orang itu. Aku berusaha menggerakkan kakiku agar pergi dari sana tetapi aku merasa bagai dibelenggu suatu tekanan tak terlihat. Aku tak bisa bergerak sama sekali.

Conan memegangi tanganku dan dia tersentak merasakan betapa dinginnya tanganku.

Shinigami itu tidak memperhatikan diriku, untungnya. Dia kelihatan bosan, dia menjulurkan satu tangan ke daerah yang gerimis didekatnya. Lalu dia menoleh ke arah lain. Aku mengikuti arah pandangan dia dan melihat seorang wanita sedang berjalan sambil memegang payung dan bermain HP ditangannya.

Aku menyadari wanita itu berwarna merah dan bertanggal hari ini. Apakah shinigami itu disini untuk mengambil nyawa wanita itu?

Aku memandang wanita itu dan melihat sekeliling yang bisa jadi kemungkinan pencabut nyawa baginya. Aku melihat ada yang sedang memindahkan benda berat ke lantai 3 sebuah gedung tepat didepan jalan wanita itu. Masa sih? Aku banyak nonton film berbau horor atau supernatural jadi aku tahu jenis kematian dalam film dimana seseorang ketiban benda berat. Tapi, masa sih? Aku memandang tali yang digunakan untuk mengangkat benda berat itu dan sepertinya talinya agak rapuh. Beneran nih?

Aku masih tertegun memandang wanita itu. Tiba-tiba, Conan melesat ke arah wanita itu membuatku kaget setengah jiwa. "Conan!" pekikku.

Conan sepertinya menyadari bahwa wanita itu dalam bahaya. Dia berteriak hendak memperingati wanita itu tetapi di detik terakhir, Conan kepeleset. Iya, dia kepeleset dan jatuh terpelanting dengan keras dijalanan becek dan licin.

Lalu, suara jeritan bergema ketika orang-orang mulai panik melihat mayat. Conan terlihat pucat dan nafasnya terengah-engah, dia memandang ke arah wanita yang dia gagal selamatkan.

Aku tak berani berlari menghampiri Conan karena harus melewati shinigami itu. Ran dan Sera segera berlari ke arah Conan untuk mengecek keadaannya sementara Sonoko berdiri disampingku dengan wajah khawatir.

Conan menoleh menatapku dengan tatapan tidak percaya. Apakah dia menyalahkanku, menganggap aku mengetahui wanita itu dalam bahaya tetapi tidak memperingatinya?

Ran menarik Conan dalam pelukannya. Kelihatannya kaki Conan agak cedera.

Aku menelan ludah berusaha menahan kepanikan dan kengerian yang kurasakan untuk Conan. Anak itu bisa saja ikut ketiban bersama wanita itu jika salah sedikit saja. Untung juga dia kepeleset.

Aku menoleh menatap shinigami berpayung merah itu dan aku merasa membeku saat melihat dia sedang mengamati Conan. Dia memiringkan kepalanya sedikit dan mulutnya membentuk suatu senyuman yang seakan menyatakan dia menemukan sesuatu yang menarik tetapi senyumannya itu berkesan tidak baik. Aku menggigil melihatnya walau senyumannya itu tidak ditujukan bagiku.

Shinigami itu lalu berbalik untuk pergi menjauhi kericuhan disana.

Aku merasa sesak, hampir tak bisa bernafas saking tegangnya, sedikit lagi bisa-bisa aku ngompol dicelana. Aku menjatuhkan diriku ke tanah dengan lemas. Sonoko jongkok didekatku mengkhawatirkan keadaanku. Dipikirnya aku shock melihat orang mati dihadapanku secara langsung. Ya, itu memang benar juga, tetapi sebenarnya aku lebih takut melihat shinigami.

777

Aku kaget saat jam istirahat di sekolah beberapa hari setelahnya, aku melihat Conan menungguku di depan pintu kelasku. Mati aku! Apa dia akan menginterogasiku?

Dengan gugup, aku menghampiri anak itu. Conan menatapku tanpa berkata-kata, membuatku tambah sakit perut.

Dia menyodorkan topi yang waktu itu ku pinjamkan ke dia. "Terima kasih. Topinya sudah ku cuci bersih."

Ah, ternyata dia cuma mau mengembalikan topiku. Kenapa tampangnya serius sekali? Mengagetkanku saja.

Conan sepertinya mau berbicara lagi tetapi dia menggelengkan kepala dan pamit untuk pergi. Aku hanya bisa memandang kepergian dia. Aduh, bagaimana jika dia berpikir buruk tentangku? Aku mendesah galau. Tidaklah, mana mungkin dia mencurigaiku memiliki keterlibatan terhadap kematian wanita itu. Tidak mungkinlah... Iya, kan?

777

Aku pulang sekolah dengan lesu setelah melambai sampai jumpa pada Yuka. Ditengah jalan, disebuah gang kecil, aku mendengar sedikit kerusuhan.

Aku berhenti didepan gang itu dan melihat 4 anak SMA. Yang tiga orang sepertinya sedang membully seorang pemuda berkacamata yang kelihatan lemah.

Aku melihat ketiga orang yang sedang membully itu memiliki warna merah dan tertanggal sekitar 4 hari dari sekarang. Aku menatap mereka dengan hampa. Tukang bully...baguslah jika mereka segera menghilang dari muka bumi ini...

Aku mengerjap-ngerjapkan mata, kaget sendiri dengan pikiran jahat dalam diriku.

Pemuda yang sedang dibully warnanya hijau, normal. Dia kelihatan begitu kebingungan dan pasrah saja dipermainkan oleh mereka. Aku melihat nama dia adalah Makoto Fueta.

Aku bingung apa aku harus membantu dia atau tidak. Jika aku dibully orang, aku pasti ingin ada yang menyelamatkanku juga. Berpikir demikian, aku melangkah ke dalam gang.

"Kak Mako! Jangan ganggu kakak-ku!" seruku. Aku berdiri menghadapi tiga raksasa jahat dihadapanku dan berusaha menegarkan pandangan mataku.

Pemuda yang baru saja kupanggil seenaknya sebagai Kak Mako kaget melihatku karena tentu saja dia tidak tahu siapa aku.

"Siapa tuyul satu ini?" Salah satu dari si pembully memakiku.

"Tukang bully akan masuk neraka!" tukasku asal.

"Hei, tuyul, pergi dari sini sebelum ku gampar yah?" ancam salah satu dari mereka dengan tampang bengis. Dia menarik baju depanku dan sengaja berteriak didepan mukaku.

Aku harus menakuti mereka sedikit maka aku menyebut nama mereka satu per satu, mengagetkan mereka karena 'tuyul' yang mereka tidak kenal ini bisa tahu nama lengkap mereka.

"Kalian hanya punya waktu 4 hari untuk bertobat dan berbuat kebajikan!" tukasku lagi.

"Apa-apaan anak sialan ini?!"

Aku langsung menyemprot orang itu dengan pepper spray sebelum dia sempat mendaratkan tamparan telak kepadaku. Aku jatuh ke tanah dan langsung menarik Mako pergi dari sana. Kedua teman si bully untungnya tidak mengejar kami karena mereka sibuk memperhatikan teman mereka yang sedang kesakitan akibat serangan mutlak pepper spray-ku. Aku berterima kasih dalam hati pada Papa karena masih terus memaksaku untuk membawa benda itu.

Kelegaanku tidak bertahan lama karena aku mendengar orang itu memperintahkan kedua temannya untuk mengejarku dan Mako.

Tiba-tiba aku mendengar teriakan Conan. Dia lagi bersama Ai dan grup detektif cilik. Aku tidak dengar jelas apa yang diteriakkan Conan tetapi itu membuat para pembully batal mengejarku dan Mako. Aku terus menarik Mako untuk lari dari sana. Aku yakin Conan bisa menghadapi para pembully itu lebih baik daripadaku.

Setelah berlari jauh dan situasi aman, kami berdua duduk disebuah bangku taman. Dia memandangiku dengan penuh rasa ingin tahu.

"Adik kecil, terima kasih telah membantuku...tapi darimana kau tahu namaku?" tanyanya.

Setelah berhasil mengatur nafasku, aku tersenyum pada dia dan berkata dengan nada kekanak-kanakan, "Aku cenayang!"

"eh?"

Aku tersenyum dan memperkenalkan diriku tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Aku berlari ke stan es krim yang ada di taman lalu aku membelikan 2 buah es krim untukku dan Mako. Aku merasa kasihan pada Mako, tampangnya itu lho...rasanya seperti anak anjing yang habis ditendang orang bebal.

Mako dengan bingung menerima es krim dariku.

Setelah beberapa saat, aku barulah menyadari konsekuensi intervensiku. "Maaf, Kak Mako, orang-orang itu...mereka satu sekolah denganmu, bukan?" Aku meringis. "Kemungkinan besok mereka akan mencarimu untuk balas dendam, bukan? Maaf, sepertinya aku memperparah keadaanmu."

Mako memandangku sesaat dan tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku senang karena Eva berbaik hati membantuku."

"Kakak harus melawan balik mereka. Jangan biarkan mereka mengusik Kakak sepanjang sekolah." ujarku. "Mungkin Kakak harus ikut latihan bela diri sedikit saja setidaknya supaya bisa menakuti mereka balik jadi mereka tak berani mengganggumu lagi."

Di dunia nyata saat aku masih sekolah, aku bersyukur tidak pernah kena dirundung. Malah kadang aku merasa kejadian perundungan hanya ada di manga atau film saja karena aku tak pernah melihat orang sekitarku sedang dirundung juga. Dipikir-pikir, mungkin itu karena aku tidak terlalu mencari tahu adakah korban perundungan disekitarku.

Mako tersenyum tipis padaku dengan pasrah juga mendengarkan omonganku dan manggut-manggut dikit.

Aku menghela nafas saat menyadari dia tidak menanggapiku dengan serius. Aku memperhatikan Mako, dilihat-lihat sebenarnya pemuda itu ganteng juga, asalkan dia berdandan lebih rapi dan menonjolkan wibawanya.

Setelah makan es krim, aku pun berpamitan meninggalkan dia. Dia seperti ingin berbicara lebih lama denganku tetapi aku mulai merasa tidak nyaman dengan dia dan memutuskan untuk pulang.

Lima hari kemudian, ada berita yang memberitakan tentang menghilangnya 3 orang siswa SMA. Mulutku menganga lebar saat aku mengenali nama-nama yang disebutkan sebagai para perundung yang melukai Mako kemarin. Aku tahu bahwa mereka sudah mati. Yang ku bingungkan adalah kenapa mereka malah diberitakan menghilang?