Aku merasa agak terganggu dengan kabar menghilangnya para pembully walau bisikan hatiku mempertanyakan kenapa aku harus peduli pada orang kasar dan jahat seperti mereka.

Awalnya kukira ketiga orang itu mungkin bakal mati karena kecelakaan. Menilik tingkah mereka yang seperti preman, ditambah rokok dan bau bir yang ku cium saat itu, mungkin saja mereka bakal mati karena mengendarai mobil atau motor ugal-ugalan. Padahal aku juga tak tahu apakah mereka bahkan bisa naik motor atau mobil. Kayanya aku mendasarkan ini pada stereotype anak sok jadi preman?

Faktanya, jika mereka dinyatakan menghilang, kemungkinan mereka dibunuh? Ah, aku kebanyakan baca komik atau nonton film misteri deh.

Tetapi, jika mereka benar mati dibunuh, siapa yang melakukannya? Jika polisi menyelidiki hal ini, mungkin saja mereka akan mencurigai korban perundungan dari ketiga orang itu.

Mau tak mau aku jadi memikirkan Mako, pemuda berkacamata yang kelihatan lemah itu. Rasanya tidak mungkin dia pelakunya mengingat betapa lemah fisiknya. Saat ku ajak lari saja, kami berdua sama-sama hampir kehabisan nafas.

Ah, tapi bagaimana jika dia hanya pura-pura lemah saja biar tidak dicurigai? Aku memegangi kepalaku yang berdenyut-denyut, otakku tak bisa dipakai untuk yang serius-serius.

Lalu, aku jadi teringat Conan yang telah melihat saat aku 'menyelamatkan' Mako. Dia pasti melihat berita juga, akankah dia melibatkan diri dalam kasus itu? Aku mencengkram rambutku dengan gemas. Ah, salahku juga selalu bertindak mencurigakan.

Astaga, aku telah membuat tiga orang investigator yang cermat mencurigaiku secara tidak langsung terlibat dengan beberapa kematian yang terjadi jauh dariku. Bagaimana ini?

Tenang, Eva, tenang. Walau mereka mencurigaiku, aku kan hanya anak kecil dimata mereka, anak kecil sepertiku bisa apa? Aku bukan Conan atau Ai.

Lagipula, tidak satu pun dari mereka mengungkapkan kecurigaan mereka padaku. Jadi, berpikir positif saja bahwa mereka tidak berpikir buruk terhadapku, ya kan?

Aku tertawa sarkastis. Yang pasti Subaru sudah pasti mencurigaiku soalnya aku terang-terangan mengatakan kepada dia soal bom. Jangan-jangan demi memuaskan kecurigaan dia padaku, dia menyadap rumahku?

Aku menjatuhkan kepala ke meja didepanku. Aku sungguh lelah sedikit-sedikit khawatir.

"Eva, kau kenapa?" tanya Yuka yang duduk bersebelahan denganku di kelas. Dia keheranan melihat tingkahku.

"Aku tak apa-apa..." jawabku lesu.

Yuka mungkin merasa kasihan melihatku lesu. Dia mengajakku pergi ke toko buku seusai sekolah hari ini.

Sebenarnya aku jadi agak enggan keluar-keluar lagi tetapi aku tak boleh terus ketakutan akan shinigami. Seperti kata Reina, ini adalah kehidupan keduaku, masa aku hanya akan menghabiskan sisa hidupku bersembunyi saja? Apalagi sepertinya hidup dengan mata shinigami ini sepanjang hidupku tak akan bisa dihindari.

Ah, aku hanya bisa berdoa Reina segera kembali dengan kabar baik soal penguncian kemampuan-ku ini. Aku takut memikirkan bagaimana harus membiasakan diri dengan tanggal kematian dan warna indikator semua orang.

Akhirnya aku menyetujui untuk pergi dengannya. Aku mau beli buku novel atau komik yang banyak biar tidak stres memikirkan situasiku. Lebih baik aku baca cerita saja lah!

Dalam perjalanan, aku iseng menanyakan perkembangan Yuka dengan Kenji. Saat itu, aku baru teringat bukankah Yuka ada menyukai murid lain? Yuka kelihatan murung mendengarnya. Rupanya sebelumnya dia memang pernah menyatakan rasa sukanya tetapi ditolak. Aku heran karena aku tidak mengetahuinya. Yuka bilang dia memang sengaja tidak memberitahukanku atau Nanno.

Aku pun merangkul dia dan berusaha menghibur dia.

Di toko buku, aku dan Yuka berpisah untuk browsing buku genre kesukaan masing-masing. Saat itulah ada seseorang yang menyapaku. Orang itu adalah Mako. Dia memanggilku dengan nada malu-malu. Tadinya aku tidak mengenali suaranya sampai aku melihat wajahnya baru sadar.

"Kak Mako?"

Dia tersenyum padaku. "Halo, Eva, aku senang bisa bertemu lagi denganmu."

"Kak Mako, apakah kau baik-baik saja? Aku sudah dengar di berita beberapa hari yang lalu..."

"Ah, ya, polisi ada datang ke sekolahku dan menginterview aku dan semua murid yang pernah dirundung. Jujur saja, aku tidak punya alibi jadi aku sempat dicurigai. Tetapi, sepertinya mereka menemukan suatu alasan lain dan aku dibebaskan." tutur Mako. "Aku sempat dag-dig-dug saat di interview. Bukan karena aku merasa ketakutan dicurigai, aku memang selalu tegang didepan pihak yang berkuasa seperti guru atau polisi." Dia tertawa renyah.

Begitu? Jika polisi membebaskan dia, mungkin dia sudah bersih dari kecurigaan.

Saat itu, Yuka datang menghampiri kami dengan ragu-ragu. Dia memandangi Mako dengan tatapan curiga. "Eva? Kau mengenal orang ini?"

Aku menoleh memandang Yuka. "Ah, ya, ini Kak Mako."

Yuka dan Mako saling bertukar sapa. Yuka lalu menarikku dan berbisik menanyakan siapa Mako dan mengingatkanku jangan sembarangan berbicara dengan orang tak dikenal.

"Bagaimana jika dia itu sama seperti orang yang kau temui di stasiun waktu itu? Yang memintamu memperlihatkan celana dalam?" tanya Yuka.

Aku jadi teringat pada shinigami yang waktu itu menyadari kehadiranku. Aku bersyukur tidak pernah bertemu orang itu lagi.

Mako memandangi kami dengan panik, rupanya dia mendengar perkataan Yuka dan segera mengatakan bahwa dia bukan pedofil.

Yuka malah jadi makin curiga.

"Hanya kebetulan saja kita bertemu hari ini. Aku disini untuk membeli lanjutan manga kesukaanku." jelas Mako sambil memperlihatkan buku yang dipegangnya.

Aku menarik Yuka dan menegurnya agar tidak menuduh Mako yang bukan-bukan.

Mako akhirnya pergi meninggalkan kami, mungkin dia takut dicurigai Yuka jika terlalu dekat.

Sehabis dari toko buku, Yuka mengajakku ke kios gaming. Karena dia telah menemaniku lama ditoko buku, gantian aku yang menemani dia maen game. Aku tersenyum melihat betapa semangatnya dia untuk bermain disana. Aku menanyakan apakah dia ada rencana kencan dengan Kenji lagi. Aduh, imutnya, wajahnya memerah. Dia memukul lenganku dengan gemas saat aku tak berhenti menggodanya.

Aku kaget melihat Mako lagi ditempat gaming juga. Dia sedang berdiri didepan mesin capit boneka dan aku terbengong-bengong melihat dia selalu berhasil mendapatkan boneka.

Dia tampaknya tidak menyadari kehadiranku. Yuka akhirnya juga melihat Mako dan ikut tercengang.

Akhirnya Mako menyadari kehadiran kami, dia terlihat malu. Dia menyapa kami lagi lalu dia menyodorkan secara random boneka yang dikumpulkannya dan memberi kami masing-masing satu.

Bonekanya sungguh lucu sekali jadi aku tak menolak pemberiannya itu. Yuka juga sama dan dia melayangkan senyum terima kasih pada Mako. Kelihatannya Yuka sudah berkurang rasa curiganya terhadap dia karena dia bahkan memuji kemampuan Mako tersebut.

Mako mengerlingkan mata dan berbisik bahwa dia tahu trik yang bisa digunakan untuk berhasil mencapit boneka tanpa lepas. Dia menanyakan kepada kami apa ada barang dari mesin capit lain yang kami mau.

Yuka langsung mengangguk dan menunjuk ke suatu mesin yang ada kotak-kotak berisi mainan lucu. Mako tersenyum kepada kami berdua dan berkata bahwa dia akan mendapatkan mainan itu untuk kami. Yuka memberikan dia semua koin game miliknya.

Aku dan Yuka lalu mengamati Mako saat dia menunjukkan kealihannya. Yuka sangat senang mendapatkan mainan yang dia inginkan. Aku juga mengucapkan terima kasih pada Mako.

Karena sudah agak sore, kami pun hendak pulang tetapi di jalan, kami bertemu Conan dan teman-temannya. Conan mengamati Mako lalu diriku dengan penuh rasa keingintahuan. Agh, benar saja, dia mengungkit soal kasus hilangnya si perundung.

Conan tiba-tiba menoleh padaku. "Kak Eva, dari mana kau tahu nama-nama para perundung itu? Waktu itu, aku mendengarmu mengatakan kepada mereka juga bahwa mereka hanya punya 4 hari saja untuk bertobat...lalu mereka menghilang..."

Aku malu karena tak bisa mengontrol ekspresi wajahku dan aku agak panik.

Tiba-tiba saja Mako berkata, "Eva tahu tentang mereka dariku." ujarnya. "Sedangkan soal yang 4 hari, Eva tahu bahwa aku berniat melaporkan mereka pada komite kekerasan dalam sekolah, makanya dia mengatakan begitu."

Aku menoleh ke arah Mako dengan agak bingung sebelum buru-buru mengangguk mengkonfirmasi perkataan dia.

Conan mengamati kami berdua dengan tatapan penuh selidik namun tidak mengatakan apa-apa. Akhirnya, dia dan teman-temannya pamit untuk pergi.

Yuka keheranan mendengarkan percakapan kami dengan Conan. Dia menoleh kepadaku dengan penuh tanda tanya dan akhirnya aku bilang saja aku membantu Mako yang kena bully. Yuka terlihat kaget dan menegurku agar jangan gegabah melawan orang yang lebih tua dan kasar.

Setelah menenangkan Yuka, aku menoleh kepada Mako yang sedang mengamati kami berdua dengan senyum diwajahnya.

Aku menarik dia menjauh dari Yuka dan bertanya mengapa dia berbohong untukku.

Mako tersenyum. "Eva adalah cenayang, itu rahasia, bukan?" bisiknya. "Jangan khawatir rahasia-mu aman denganku."

Aku kaget karena dia benar-benar percaya bahwa aku adalah cenayang dan sama sekali tidak mempertanyakan soal itu. Ya, untuk sementara, jika Conan memang mencurigaiku, saat ini aku agak aman, bukan?

Akhirnya Mako juga pergi dan tinggal aku dan Yuka. Kami melanjutkan jalan pulang.

Tiba-tiba Yuka berhenti jalan dan bertanya, "Eva, apakah kamu benar cenayang?"

Aku menoleh ke arah Yuka, kaget karena dia tiba-tiba mempertanyakan soal itu. Memang aku pernah mengaku sebagai cenayang setengah bercanda didepan Yuka dan Nanno dahulu.

"Yuka, kau kenapa bertanya begitu?" tanyaku agak bingung.

Yuka terdiam sesaat. "Masih ingat saat kita bertemu pedofil di stasiun kereta? Waktu itu kau memaksaku untuk naik kereta yang berikutnya saja, ingat? Kudengar kereta itu mengalami kecelakaan dan memakan banyak korban... Kupikir itu hanya kebetulan saja. Tapi... Eva, kau sepertinya tahu ya soal itu? Itukah sebabnya kau..."

"Itu cuma kebetulan...aku kan sedang sakit perut waktu itu..."

Yuka memandangku dan mendesah. "Iya, ya...aku ini mikir apa? Aku pikir kau tahu sesuatu juga soal Nanno karena setelah pesta ultah Nanno, kau kelihatan sedih dan lesu. Dan, saat kau mengajakku untuk pergi bertemu Nanno di pagi saat dia hendak pindah, rasanya seperti...kau tahu bahwa itu akan menjadi hari terakhir kita bertemu dia... Lalu, yang anak berkacamata itu katakan tentang peringatan 4 hari... Aku pikir... Aku tak tahu apa yang ku pikirkan saat ini..."

Aku menelan ludah mendengar perkataan Yuka. Aku tidak percaya bahwa anak ini bisa mendapatkan pemahaman tentangku. Aku tak tahu harus berkata apa.

"Tapi, jika itu benar, jika kau memang tahu...pasti kau akan menyelamatkan Nanno, bukan? Bukannya membiarkan dia mati..." Yuka memandangku dengan tatapan memelas.

Aku tak tahu harus bagaimana. Akhirnya aku berkata, "Aku bukan cenayang."

Yuka mengamatiku dengan cermat.

Aku menegaskan ekspresiku untuk meyakinkan dia. Aku...tak ingin memberitahu dia yang sebenarnya...bahwa aku memang tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan Nanno. Aku tak ingin dia membenciku.

Yuka mengangguk lemah. Dia tiba-tiba menangis dan mengatakan bahwa dia merindukan Nanno. Aku pun menghambur untuk memeluknya erat-erat. Rasa sedih dan bersalah kembali menggerogoti diriku.

777

Percakapan dengan Yuka tadi membuatku jadi galau.

Aku memeluk boneka kelinci pemberian Amuro dikamarku malam itu. Aku mendesah keras, berbaring diranjang, memandang langit-langit kamar.

"Reina? Bisakah kau mendengarku?"

Tentu saja tak ada jawaban.

Aku menoleh ke meja samping tempat tidurku dan menatap boneka ukuran kecil yang tadi Mako kasih. Aku mengambil boneka itu dan dengan gemas meremas-remas boneka itu. Lucu. Aku suka.

Aku mendesah lagi.

Ada yang mengetuk pintu kamarku. Ternyata Papa. Aku bangkit duduk saat Papa masuk ke kamar dan duduk ditepi ranjangku.

"Kau tak apa-apa, Eva? Kau kelihatan agak lesu saat makan malam tadi."

"Masa? Aku tidak apa-apa koq, Pa."

Papa melihatku dengan tatapan yang menyatakan bahwa dia tidak percaya. "Jika sulit untuk berbicara dengan Papa dan Mama, bagaimana jika kau menjumpai teman Papa, seorang spesialis dokter anak."

Aku mengeryitkan dahi dengan heran. "Maksud Papa, psikiater anak?"

Papa memandangiku dengan wajah prihatin. Dia lalu mengelus kepalaku dengan lembut. "Belakangan ini, banyak kejadian buruk menimpamu. Dan, Papa tahu bahwa Eva kadang suka mimpi buruk. Selain itu, kau juga belum lama ini kehilangan teman baikmu. Papa rasa sebaiknya Eva mengeluarkan uneg-uneg Eva kepada dokter. Siapa tahu nanti kau jadi sedikit lega."

Aku agak kaget karena Papa mengetahui bahwa aku ada beberapa kali bermimpi buruk yang membuatku bangun tengah malam dengan keringat dingin dan jantung berdebar tak karuan, selalu soal mimpi dicekik atau tenggelam. Aku selalu bangun dan pergi ke dapur untuk cari snack dan minum air sebelum bisa tidur lagi. Aku tidak mengira Papa menyadarinya.

Aku memandangi Papa sesaat sambil tersenyum kecil merasa terharu atas perhatiannya padaku. Ya, karena dia tidak tahu bahwa sebenarnya aku bukan anak aslinya, hanya sebuah jiwa random yang memakai raga anaknya. Aku jadi merasa bersalah membohongi mereka. Tetapi, inilah nasib yang diberikan padaku sekarang. Aku bertekad untuk menjadi anak mereka yang baik kedepannya. Semoga aku bisa membuat mereka bahagia saat aku dewasa lagi dan menunjukkan baktiku kepada mereka sebagai pengganti Eva yang asli.

Hatiku sedikit terenyuh mengingat kedua orangtuaku yang asli. Diriku yang sebenarnya belum bisa juga memperlihatkan baktiku pada mereka dan aku meninggal sebelum itu.

"Tidak perlu, Papa, biaya psikiater kan mahal. Lagipula, aku benar tak apa-apa." kilahku.

Papa menepuk kepalaku. "Soal biaya, kau tak perlu pusing. Papa masih mampu membiayaimu."

Aku bersikeras bahwa aku benar-benar tak perlu berkonsultasi dengan psikiater. Akhirnya kubilang saja jika nanti aku berubah pikiran, aku pasti akan meminta Papa dan dia kelihatan puas dengan janjiku itu.

Papa mengelus-elus kepalaku lagi. "Oh ya, minggu ini, keluarga Suzuki akan pergi ke villanya dan kita juga diajak."

"Wah, asyik..." Aku memasang tampang gembira.

Papa tersenyum lalu bangkit berdiri. Dia mencium keningku lalu pergi keluar dari kamar. "Sweet dream, Eva."

"Kau juga, Papa."

777

Mama tak bisa ikut dengan Papa dan aku ke villa keluarga Suzuki karena sibuk dengan pekerjaan dari kantornya.

"Bersenang-senanglah kalian. Mama juga disini bisa agak santai, rumah jadi milik sendiri..." kata Mama sambil tersenyum-senyum.

Aku menatap Mama lalu tersenyum usil. "Mama jangan diam-diam ketemuan dengan bapak-bapak yang mengantar surat/paket ya selama kami tidak ada."

Mama mengangkat alis seakan menantang. "Bapak-bapak? Mama masih bisa menggaet pemuda ganteng seperti Kak Amuro-mu kalau Mama berniat." Dia menatapku dengan sinis.

"Hei, hei, sudah." Papa menengahi. Dia lalu menoleh padaku dan berkata, "Eva, jangan membuat Mama berpikir yang tidak-tidak yah."

Mama mencubit lengan Papa. "Apa? Papa tidak percaya?"

Aku tertawa geli melihat Papa langsung berusaha menyenangi hati Mama dengan gaya dramatis.

Setelah selesai bersiap-siap, Mama melepas kepergian kami. Mobil dari keluarga Suzuki datang menjemput kami.

Setelah melalui perjalanan berjam-jam, akhirnya kami tiba di villa. Aku langsung mengulet badan sehabis turun dari mobil. Aku memandangi vila megah didepanku dengan terpesona.

Saat itulah, aku melihat Sonoko, Ran, Sera dan Conan. Bukannya tidak senang melihat Conan, aku hanya jadi khawatir apa nantinya akan terjadi kasus. Jujur saja, aku tak ingat apa ada kasus yang berkaitan dengan perjalanan vila Sonoko di manga DC.

Ran tersenyum kepadaku saat melihatku dan aku pun mengucapkan salam kepada mereka semua.

Aku melirik ke arah Conan dan merasa lega dia tidak memandangiku dengan tatapan selidik.

Papa menyalami Sonoko sebelum pergi untuk meladeni Ibu Sonoko. Yaaa...aku kira bakal santai ternyata Papa tetap disuruh bekerja juga.

Mungkin melihat kekecewaan di mataku, Ran mengajakku untuk bergabung dengan mereka untuk jalan-jalan mengitari vila. Aku pun menyetujuinya.

Sonoko ada bilang kepada Ran dan Sera bahwa Papa-ku ganteng juga. Ran menegur Sonoko bahwa dia sudah punya pacar jadi jangan lirik-lirik laki-laki lain.

Aku tidak lagi mendengarkan percakapan mereka dan memilih untuk melihat sekelilingku. Aku melihat seekor anjing yang kelihatan friendly jadi aku berlari mendekatinya.

Ran memperingatiku untuk berhati-hati. Untunglah, anjingnya benar ramah. Aku langsung jongkok dan mengelus-elus anjing itu.

Sonoko bilang mungkin anjing itu milik penjaga yang menjaga vilanya.

Anjing itu memakai kalung nama. Dia bernama Moochi. Aku pun dengan gembira bermain-main dengan anjing itu. Aduh, kalau sudah begini, rasanya jadi ingin memelihara anjing juga untuk teman bermain.

Aku melihat Papa sedang berjalan ke arah kami dengan beberapa orang. Aku memanggil Papa sambil menunjuk-nunjuk anjing yang didekatku.

Papa seperti tahu apa yang ada dipikiranku dan langsung berkata tegas, "Tidak bisa, Eva, memelihara anjing itu butuh tanggung jawab besar."

Aku memanyunkan mulutku untuk menampilkan kekecewaanku. "Bukankah Papa bilang belakangan ini aku selalu mengalami kejadian buruk? Jika aku punya anjing, apalagi anjing yang bisa menjaga, bukankah lebih baik?" bujukku. Aku menyadari argumen-ku lemah dan ya, aku tidak benar-benar mengharapkan untuk mendapatkan anjing juga.

Tiba-tiba Sera menimbrung, "Daripada anjing penjaga, bagaimana jika Eva belajar karate dari Ran?" Dia menoleh kepada Ran. "Tidak ada yang berani macam-macam pada Ran lho."

Iya sih. Memang lebih baik jika aku tahu sedikit ilmu bela diri, setidaknya agar bisa melarikan diri dari cengkraman penjahat. Ah, tapi aku tidak yakin dengan kemampuanku. Olahraga saja aku lemas. Karate butuh tenaga, bukan? Apakah aku bisa?

Ran bilang dia bersedia mengajariku jika aku berminat. Tetapi, dia melihat keraguanku dan menenangkanku bahwa dia bisa mengajariku pelan-pelan. Aku tersenyum padanya dan meminta no HP-nya jika nantinya aku berminat untuk belajar padanya. Sekalian saja aku meminta no HP Conan, Sera dan Sonoko.

Conan dengan acuh tak acuh memberikan nomor HP-nya padaku. Aku senang memiliki nomor telepon sebagian karakter DC. Mana tahu suatu hari aku memerlukan bantuan mereka.

Kami kembali ke vila untuk beristirahat. Keesokan harinya, mereka mengajakku untuk pergi jalan-jalan ke suatu tempat tetapi aku menolak karena aku ingin memuaskan diri bermain dengan Moochi.

Aku memandang kepergian mereka dan menatap Conan, berpikir jangan-jangan hari ini mereka akan terlibat kasus.

Aku mendapat izin dari pemilik Moochi untuk mengajak anjing itu jalan-jalan di jalanan sekitar villa.

Saat sedang asyik berjalan dan bermain, aku telat menyadari bahwa ada yang mengikutiku.

Ada seorang lelaki tetapi dia memakai topeng putih polos dan hoodie dan dia berdiri menatapku, membuatku ngeri karena vibe-nya seperti film horor. Aku tak bisa melihat nama dan tanggal kematian orang ini. Apakah karena dia memakai topeng? Tetapi, bukankah Shuichi memakai topeng kulit dan aku tetap bisa melihat nama dan tanggal kematiannya?

Lalu, orang yang berhelm yang pernah mengikutiku dulu, aku tak bisa melihat nama dan tanggalnya. Apa bedanya?

Aku menelan ludah dengan gugup saat aku memandangi lelaki bertopeng dihadapanku. Matanya tidak begitu kelihatan olehku. Topengnya juga membuatku tidak tahu perawakan dan usia lelaki itu.

Oh! Mata! Shuichi yang menyamar sebagai Subaru, aku bisa melihat jelas matanya. Orang yang berhelm aku tak bisa lihat karena helmnya menutup mata. Dan orang ini juga memakai topeng tebal dan sorot matanya tak begitu kelihatan makanya aku tak bisa melihatnya. Jadi, benar tidak yah?

Aku perlahan-lahan berjalan mundur. Lelaki itu memandangiku dan memiringkan kepalanya dengan gaya yang creepy.

Ada satu kemungkinan lagi...bahwa orang ini adalah shinigami? Tetapi jika benar, kenapa dia hanya mengamatiku saja? Kata Reina, jika ketahuan, jiwaku akan diseret. Apakah waktuku sudah berakhir?

Aku panik secara internal. Moochi mungkin menyadari kepanikanku dan dia berdiri didepanku menggonggongi orang itu. Tetapi, orang itu tidak kelihatan takut.

Ah, masa aku sesial ini? Jika dia bukan shinigami, dia orang yang mencurigakan dengan penampilannya yang seram itu, jangan-jangan seorang pembunuh atau orang yang tidak waras?

Tiba-tiba, aku mendengar suara-suara dari arah belakangku. Aku menoleh dan kaget melihat seorang pria random berlari menerjang ke arahku dan dia dikejar oleh Ran, Sera dan Conan.

Tahu-tahu, pria itu menyambarku dan menggunakanku sebagai tameng dari kejaran Ran dan Sera.

Aku menjadi linglung karena perubahan mendadak pada situasiku.

Ran, Sera dan Conan terlihat tegang dan khawatir untuk diriku. Apalagi pria itu menodongkan pisaunya ke arahku. Sepertinya aku shock. Jujur saja, aku lebih takut pada orang bertopeng tadi daripada dengan pria ini.

Moochi tiba-tiba menerjang, menggigit lengan pria itu. Pria itu menjerit kesakitan dan melepaskanku. Aku jatuh ke tanah dengan keras. Ran dan Sera tidak buang-buang waktu, langsung meringkus pria itu dengan kemampuan mereka masing-masing.

Aku terhenyak melihat pria itu jatuh terpelanting akibat pukulan dan tendangan dari kedua gadis itu. Aku merasakan sakit pada pergelangan tanganku dan melihat ada goresan luka menyakitkan pada kulitku.

Ran langsung mendatangiku dan menanyakan keadaanku. Dia membebatkan saputangannya pada bagian tanganku yang terluka.

Rupanya, seperti yang kuduga, mereka terlibat kasus dan pria itu pelaku pembunuhan yang hendak kabur.

Aku hampir lupa pada orang bertopeng tadi dan aku menoleh ke arah dimana terakhir aku melihatnya tetapi dia sudah tak ada. Aku mengecek sekelilingku tetapi orang itu sudah tak ada. Siapa orang itu sebenarnya? Ah, aku lama-lama bisa kena serangan jantung jika dikageti dan ditakuti terus seperti ini oleh potensial pertemuan dengan dewa kematian.

Ran ingin menggendongku kembali ke vila tetapi aku menolak. Sonoko baru sampai dengan nafas terengah-engah bersama beberapa polisi. Dia kaget melihatku disana. Dia mengekspresikan rasa khawatir untukku saat melihat luka pada tanganku.

Aku diajak kembali ke villa untuk mengobati luka. Aku membelai Moochi untuk peranannya dalam menyelamatkanku.

Papa menatapku dengan letih seakan nyawa dia yang hampir melayang. Aku jadi merasa bersalah membuat Papa khawatir. Apa aku ini diikuti nasib sial ya? Belakangan ini kejadian buruk terus menimpaku.

Papa jongkok dihadapanku dan memelukku dengan erat. Untungnya dia tidak bersikap dramatis.

Aku langcung menyerocos menceritakan bahwa Ran dan Sera dengan gaya keren telah menyelamatkanku dari orang jahat. Tidak lupa aku memberikan pujian juga untuk Moochi.

Papa tahu maksud tersembunyi dari pujianku terhadap Moochi yang seakan-akan mengatakan, 'Berikan aku seekor anjing penjaga, Pa, lihat betapa bergunanya seekor anjing untukku, bukan?' Dia hanya bisa menghela nafas dan membelai Moochi juga berterima kasih kepada kedua orang yang menyelamatkanku.

Esoknya saat kami hendak melakukan perjalanan pulang, aku melihat lelaki bertopeng itu lagi. Tetapi, saat itu aku sudah berada di dalam mobil jadi aku juga tak bisa melakukan apapun. Orang itu memandangiku lagi lalu dia melambai lambat tangannya ke arahku.

Entah kenapa aku jadi merinding, rasanya dia seperti mengatakan, 'see you soon.'