Aku dan Miyuki dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.
Orangtua kami masing-masing akhirnya tiba di rumah sakit juga dan langsung menghambur memeluk kami.
Amuro juga datang ke rumah sakit dengan nafas terengah-engah. Dia memegang HP-ku disalah satu tangannya. Dia memandangiku dan menghela nafas lega melihatku selamat. Dia kelihatan geram melihat bekas tamparan dipipiku.
Polisi ingin menginterogasi kami tetapi orangtua kami menolak, mereka ingin mengistirahatkan anak mereka yang masih trauma atas kejadian yang terjadi malam itu.
Aku agak lelah tetapi aku bilang aku bersedia berbicara dengan polisi. Amuro juga mendengarkan penjelasanku pada Megure.
"Maaf, saat orang itu muncul dengan pakaian bersimbah darah, aku ketakutan dan aku menutup mata. Aku juga menyuruh Miyuki menutup mata." jelasku.
"Ah, tak apa, mungkin sebaiknya kalian tidak melihatnya agar orang itu tak menganggap kalian saksi mata yang harus disingkirkan." ujar Megure membuat orangtuaku memucat mendengarnya.
"Sepertinya dia bukan orang jahat. Dia menyuruhku menghitung sampai 200 baru keluar dari tempat itu. Jika mau, dia bisa saja membiarkan kami disana dan meledakkan tempat itu agar kami mati, bukan?" tuturku. "Bagaimanapun, jika bukan karena dia, aku dan Miyuki mungkin sudah akan dijual ke pedofil."
Semua orang diruangan sangat geram pada penjahat yang menculikku dan Miyuki tetapi tetap saja ini sebuah kasus pembunuhan dan mereka menanyaiku apa ada detail lain yang kuingat soal lelaki bertopeng kucing. Aku bilang tidak ada.
Diam-diam aku mempertanyakan apa lelaki bertopeng kucing itu sama dengan lelaki bertopeng polos yang di villa Suzuki kemarin. Perawakan dan tingginya kurang lebih mirip sih. Ah, tapi aku tak pandai mendeskripsikan seseorang.
Amuro memandangiku, kelihatannya dia merasa bersalah.
Aku tersenyum sepolos mungkin kepada dia. "Aku ada menggigit salah satu penjahat seperti yang Kakak suruh. Tetapi, aku tidak bisa lari cepat untuk menghindari mereka."
Dia mendesah memandangku dan lagi-lagi mengelus kepalaku. "Maaf, aku terlambat menemukanmu."
"Terima kasih karena sudah mencariku." ujarku lirih. Aku berusaha menampilkan senyum yang menunjukkan rasa syukurku kepadanya.
Amuro terpana memandangku. Dia malah kelihatan sedih.
777
Setelah kejadian itu, aku agak ketakutan keluar rumah. Papa dan Mama juga kayanya takut juga untukku jadi mereka mengizinkanku beristirahat dirumah.
Yuka ada datang menjengukku. Bahkan dia pun mengungkit bahwa sepertinya aku dirundung nasib buruk terus belakangan ini. Aku hanya bisa pasrah mendengar perkatannya.
Aku dikejutkan oleh kedatangan Ran dan Conan. Conan memberikanku sebuah benda yang mirip detective badge fungsinya. Dia menjelaskan cara pakainya. Katanya itu untuk sinyal SOS jika aku terlibat bahaya lagi. Ah, bahkan Conan secara tidak langsung mengatakan bahwa aku ini memang sedang diliputi kesialan yang berbahaya.
"Terima kasih, Conan." Aku menampilkan senyum kekanak-kanakan didepan dia.
Conan hanya diam, memandangku dengan prihatin.
Subaru juga datang hari berikutnya dan dia menghadiahiku sebuah boneka kelinci kecil seukuran genggaman tanganku. Boneka itu ada gantungannya.
Subaru mengatakan jika aku memencet keras badan kelincinya, akan terdengar bunyi alarm keras dari bonekanya. Katanya untuk merepel orang jahat yang mendekatiku.
Dia juga membisikiku, jika alarm itu digunakan, benda itu juga akan memberikan sinyal lokasiku kepada dia.
Aku terbelalak mendengarnya. Aku mengucap terima kasih kepada dia. Apakah benda ini juga buatan Agasa ya?
Subaru menepuk kepalaku. "Bertahanlah, Eva."
Aku menghela nafas menyadari semua orang sepertinya sepemikiran berpikiran bahwa aku sedang diliputi nasib sial.
Gaun pesta yang dipakai aku dan Miyuki disita polisi jadi jimat dari orang pintar yang tersemat pada kantong gaun-ku terbawa juga. Aku tak tahu apakah sebenarnya jimat itu bermanfaat atau tidak.
Bagaimanapun mentalitas dalam tubuh-ku ini setengahnya milik seorang anak kecil. Aku baru saja mengalami trauma yang mengancam jiwa. Tentu saja aku tak baik-baik saja, bahkan jika aku seorang dewasa.
Aku mimpi buruk beberapa kali, bermimpi masih berada diruangan bawah tanah itu bersama mayat-mayat bersimbah darah itu. Aku akan terbangun dengan keringat dingin dan untuk sesaat aku merasa melihat sosok tak dikenal di dalam kegelapan dalam kamarku. Tentu saja saat aku menyalakan lampu, jelas itu hanya ilusi sesaat dari pikiranku yang sedang diliputi ketakutan.
Aku keluar kamar ke dapur untuk menenangkan diri. Aku kaget melihat Papa sudah ada didapur. Dia tidak terlihat terkejut melihatku. Dia menyediakan sepiring biskuit dan segelas susu untukku setelah dia menyuruhku duduk.
Papa tidak berkata apa-apa tetapi dia memandangiku dengan emosi yang aku tidak ketahui jelas. Dia memegangi tanganku seakan dia takut aku akan menghilang darinya.
Aku terus-menerus membuat orangtua Eva begitu khawatir, sungguh membuatku merasa bersalah.
777
Akhirnya aku sudah kembali ke sekolah. Saat itulah aku menyadari bahwa Miyuki masih tidak masuk sekolah, sepertinya dia masih ketakutan juga untuk keluar.
Aku memutuskan untuk menjenguk anak itu sepulang sekolah nanti.
Yuka terlihat senang melihatku akhirnya masuk sekolah lagi.
Aku memakai bros kecil pemberian Conan yang kusematkan dibalik kerah bajuku. Boneka kelinci pemberian Subaru kusematkan pada tas selempang sekolahku. Aku juga masih membawa pepper spray di dalam tasku.
Aku bertekad untuk tidak menempatkan diriku dalam bahaya dan jikalau tak terhindari, aku memiliki benda-benda ini yang semoga cukup untuk perlindungan. Ah, tapi mengingat keberuntunganku, aku khawatir semua itu tidak cukup.
Sepulang sekolah sesuai rencana, aku pergi ke rumah Miyuki. Aku sebenarnya agak takut pergi sendiri saat ini tetapi aku berusaha menenangkan diriku bahwa aku akan baik-baik saja.
Aku sampai ke rumah Miyuki tanpa masalah. Kelihatannya kondisi Miyuki lebih buruk daripada perkiraanku. Ibu Miyuki mengatakan anak itu terus mengurung diri dikamar dan menolak pergi ke sekolah. Tetapi, Miyuki bersedia menemuiku.
Wajah anak itu sungguh pucat. Sekujur tubuhnya bergemetaran terus. Aku merasa gagal melindungi anak ini. Aku sudah memastikan agar dia tidak melihat mayat-mayat penjahat. Tetap saja seluruh kejadian itu memang suatu hal yang menyeramkan bagi seseorang apalagi anak kecil seperti dia. Tidak heran jika dia jadi menutup diri seperti ini.
Aku tidak tahu harus berkata apa kepada Miyuki, tidak bisa menghibur dia. Aku tak bisa berbohong pada anak itu bahwa semua akan baik-baik saja, semua sudah aman. Aku bahkan tidak terlalu mempercayai hal itu.
Akhirnya aku hanya bisa duduk diam disampingnya. Malah akhirnya dia yang mengajakku bicara. Miyuki kaget karena aku sudah balik masuk sekolah.
Setelah mengobrol sedikit, aku pamit untuk pulang. Aku berjanji akan bertukar chat dengan Miyuki untuk kedepannya.
777
Rupanya Ran khawatir dengan kondisi-ku dan dia meminta Conan untuk mengecek dan mengundangku untuk bermain bersama grup detektif cilik.
Ini pertama kalinya aku masuk ke rumah . Mereka mengajakku bermain game buatan Agasa. Aku sebenarnya tidak begitu suka bermain game tetapi untuk kali itu saja aku memaksakan bermain game.
Kegembiraan Ayumi, Mitsuhiko dan Genta sungguh menular. Ah, ketiga anak ini...mereka sering terlibat kasus, bahkan beberapa kali melihat orang terluka berdarah atau bahkan mati, bagaimana bisa mereka tetap menyimpan kepolosan mereka seperti ini?
Conan dan Ai tidak ikut bermain. Aku melirik sekilas ke arah mereka. Entah kenapa aku merasa mereka sedang membicarakanku. Ah, aku kegeeran kali ya. Tapi, bukankah aneh mereka mengundangku? Mungkin mereka merasa kasihan padaku. Lagipula, kata Conan, ini permintaan dari Ran.
Aku pamit pulang setelah beberapa saat. Grup detektif cilik sebagian terlihat kecewa.
Saat aku keluar dari sana, aku berpapasan dengan Subaru. Sebenarnya aku hendak langsung pulang, tetapi Subaru menyuruhku masuk dulu ke rumah Kudo. Katanya dia baru saja beli roti kare dan dia ingin aku mencoba makan dengan dia. Dia janji habis itu dia juga akan mengantarku pulang.
Aku menatap dia dengan curiga. Apa dia berniat menginterogasiku? Aku hampir keselek makan rotinya karena khawatir. Subaru hanya memandangiku tanpa berkata-kata. Dia tersenyum melihat boneka pemberian dia tersemat baik pada tas-ku.
Aku mengucapkan terima kasih padanya dan hendak pamit untuk pulang tetapi Subaru bersikeras ingin mengantarku pulang. Aku agak gugup tapi aku menerimanya karena dia tidak mungkin menyakitiku, bukan? Malah jika aku diantar dia pulang, perjalanan pulang akan aman-aman saja.
Sepanjang perjalanan, kami tidak saling berbicara dan ini membuatku merasa tidak nyaman. Kami juga tidak bergandengan tangan yang dalam situasi ini memang lebih baik begitu karena aku merasa telapak tanganku keringatan.
Mungkin Subaru menyadarinya dari tingkahku yang seperti seekor ulat disuruh mendadak menari balet. Akhirnya dia mulai mengajakku bicara basa-basi.
Aku menjawab sekenanya saja dan menampilkan senyum sopan kepadanya. Aku jadi tidak enak hati padanya. Aku memang menjanjikan bahwa aku akan memberitahu dia yang sebenarnya dan aku belum menepati janjiku itu.
Subaru memang ada bilang bahwa dia akan menunggu sampai aku mempercayai dia untuk mengatakan yang sebenarnya. Apakah dia berubah pikiran?
Memang lebih baik jika setidaknya ada satu orang detektif yang bisa ku andalkan, karena mana tahu suatu hari nanti kejadian seperti di taman bermain itu terjadi lagi. Tetapi, aku takut dia tak akan mempercayaiku. Dan siapa yang bisa menyalahkan dia jika dia tak bisa mempercayai kebenaranku? Jika aku jadi dia pun, aku tak akan percaya juga mungkin.
"Kenapa...aku merasa Eva takut padaku?" Tiba-tiba Subaru bertanya demikian padaku.
Aku menoleh, menatap dia. "Aku...tidak takut padamu...lebih tepatnya aku takut Kakak tak akan mempercayaiku."
"Darimana Eva tahu bahwa aku tak akan mempercayai apapun yang Eva katakan? Bukankah aku mempercayaimu saat kau bilang masih ada bom di taman bermain?"
Ah, dia benar-benar mengungkitnya.
"Ada yang mengganggu dipikiranku tentang kejadian yang menimpa Eva saat di taman bermain... Bagaimana Eva bisa terjatuh ke dalam air dan penemuan mayat pria itu. Kudengar rekaman cctv di taman bermain itu rusak semua sesaat sebelum bom meledak."
Aku malah baru tahu soal rekaman cctv yang rusak. Pantas saja tak ada yang tahu juga bagaimana orang itu membiusku dan menenggelamkanku. Apakah penyelamatku yang waktu itu yang merusak rekaman tersebut? Untuk melindungi identitas semuanya bahkan si penjahat yang hendak membunuhku? Tetapi membunuh orang itu dan meninggalkannya di dekat tempatku berada...itu tidak pintar, bukan? Malah menjatuhkan kecurigaan padaku. Atau memang itu keinginannya?
"Eva?" Subaru memanggilku yang melamun tenggelam dalam pikiranku sendiri.
Aku menengadah untuk menatap dia. "Kak Subaru, aku..."
"Lho, Eva?"
Aku dan Subaru dikejutkan oleh kemunculan seorang Amuro.
Amuro memandangi kami berdua. Dia sengaja mencueki Subaru dan menoleh kepadaku sambil tersenyum. "Baru pulang les?" tanyanya.
"Ah, tidak, hari ini tidak ada les tapi aku tadi bermain bersama Conan dan teman-temannya."
"Bermain dengan Conan?" tanya Amuro penuh rasa ingin tahu.
"Main game. Sepertinya Kak Ran khawatir padaku jadi dia meminta Conan dan yang lain untuk menemaniku." jawabku cepat, tak ingin dia berpikir yang bukan-bukan. Ah, aku jadi khawatir apakah ketiga orang ini, Amuro, Subaru dan Conan, ada pernah bertukar pikiran soal aku? Ugh, lagi-lagi aku kegeeran kali yah? Aku menoleh pada Subaru. "Kak Subaru menawarkan diri mengantarku pulang." jelasku.
Subaru dan Amuro saling bertukar pandangan. Sumpah, aku bisa merasakan betapa tajamnya pandangan mereka terhadap satu sama lain. Lalu mereka mulai berbicara dengan kalimat-kalimat yang seperti disamarkan agar anak kecil sepertiku tidak bisa menangkap maksud pertukaran tersebut.
Aku memandang keduanya dan tertawa renyah akan pemikiran bahwa mereka antara lupa akan kehadiranku atau sedang memperebutkanku. Ah, Eva, jangan konyol deh!
Tiba-tiba saja aku mendengar suara bunyi nyaring yang membuat kepalaku sakit sekali. Aku memegangi kedua sisi kepalaku dan jongkok sambil berusaha menahan rasa sakitnya.
Sontak kedua pria itu menjadi khawatir terhadap kondisiku.
"Suara apa itu?" tanyaku dengan nada pilu, masih sambil mencengkram kedua sisi kepalaku. "Sakit..."
"Suara?"
Baik Subaru maupun Amuro kelihatan bingung. Rupanya mereka tidak mendengar suara apapun.
Suara itu mendadak hilang dan bersamaan dengan itu rasa sakit di kepalaku memudar. Aku membuka mata dengan kebingungan.
"Eva? Kau Eva, bukan?" Ibu Nanno mendadak muncul sambil memanggil namaku.
Aku menoleh menatap pendatang baru. Benar, itu ibu Nanno. Aku melihat warna orang itu berwarna hijau tetapi tanggal kematiannya sebulan dari sekarang, sepertinya jadi lebih pendek dari yang terakhir ku lihat saat dipemakaman Nanno.
Ibu Nanno memandangiku, lalu kepada kedua pria di dekatku. "Kalian siapa?" tanyanya dengan nada tajam seakan dia mencurigai keduanya menyakitiku.
Aku langsung berdiri berusaha menjelaskan sebelum dia salah paham. "Mereka bukan orang jahat. Ini Kak Amuro, dia bekerja sambilan di Poirot dan seorang detektif. Dan ini Kak Subaru, guru les matematika aku."
Kedua pria itu mengucapkan salam juga kepada Ibu Nanno dengan sopan.
"Eva, tadi kau sakit?" tanya Amuro.
"Iya tadi kepalaku sakit tapi sudah tidak lagi..." jawabku. "Begitu suaranya hilang, sakitnya juga mereda."
Aku melihat Amuro bertukar pandang lagi dengan Subaru. Ah, masa mereka berdua mencurigaiku? Jangan-jangan aku dikira berbohong untuk menarik perhatian mereka lagi... Tapi, apa mereka benar tidak mendengar suara itu?
Aku mengucapkan salam kepada Ibu Nanno. Aku melihat wanita itu kelihatan agak pucat dan kurusan. Aku jadi merasa prihatin terhadap dia tetapi aku tak tahu bagaimana aku harus mengungkapkan rasa kekhawatiranku itu kepada wanita itu.
Ibu Nanno memintaku agar mengajak Yuka kapan-kapan ke rumahnya, katanya ada hadiah kecil untukku dan Yuka yang Nanno beli sebelum kecelakaan yang merenggut nyawanya. Aku tercekat mendengarnya.
Ibu Nanno tersenyum letih kepadaku, mengelus kepalaku lalu pamit untuk pergi.
Aku memandang kepergian wanita itu merasa terganggu entah untuk alasan apa. Aku memberitahu Subaru dan Amuro tentang Nanno. Mereka pun terlihat prihatin akan kondisi wanita itu dan untuk diriku juga.
Aku tersenyum sepolos mungkin kepada keduanya.
"Kak Subaru, aku sudah bisa pulang sendiri dari sini. Sebaiknya Kakak pulang saja." ujarku.
"Tidak apa, aku akan mengantarmu sampai rumah. Bagaimana kalau sakit kepalamu kumat lagi?" tanya Subaru.
"Ah, tapi..."
"Mungkin Eva sakit kepala karena lapar? Bagaimana kalau Eva mampir ke Poirot? Aku ada memasak menu baru yang mungkin kau bisa mencobanya?" tawar Amuro.
"Eva sudah makan roti kare." tukas Subaru. "Dua bungkus."
"Makan roti saja mana bisa kenyang." tukas Amuro sambil masih tersenyum. "Iya'kan, Eva?"
Keduanya saling bertukar kata-kata dengan satu sama lain tanpa memandangku tetapi keduanya selalu menggunakan namaku dalam kalimat mereka.
Aku mendesah, kenapa keduanya mendadak bertingkah seperti anak kecil yang sedang rebutan mainan yah? Dan...apakah aku mainannya? Dan kenapa mereka membicarakan soal aku dan makanan? Memangnya di mata mereka aku itu doyan makan ya? Aku mengeryitkan hidung dengan tidak senang.
Diperebutkan oleh dua pria tampan...tetapi tidak seperti ini juga donk... Ah, hatiku akan lebih berbunga-bunga jika saja ragaku ini bukan raga anak kecil tetapi raga wanita dewasa yang bisa menarik perhatian mereka. Aku yang sekarang hanya bisa menatap keduanya dengan perasaan hambar saat melihat keduanya masih menatap tajam satu sama lain dan menampilkan senyum palsu yang serasa melecehkan satu sama lain. Yang anak kecil dalam situasi ini siapa sih? Aku atau mereka?
