Aku memberitahu Yuka soal pertemuanku dengan Ibu Nanno dan soal hadiah terakhir dari Nanno. Sama sepertiku, Yuka tercekat mendengarnya.

Akhirnya kami sepakat untuk menemui Ibu Nanno sepulang sekolah nanti.

Ibu Nanno rupanya kembali ke rumah yang dulu sebelum pindahan. Dia bilang dia tidak mau tinggal di lokasi dimana dia kehilangan seluruh dunianya. Rumah lama ini banyak menyimpan memori indah akan keluarganya.

Aku dan Yuka bertukar pandang dengan perasaan tidak enak melihat kondisi mental Ibu Nanno. Wanita itu telah mendekorasi ulang rumah tersebut seakan dia tidak pernah pindah. Bahkan kamar Nanno juga sudah penuh lagi dengan barang-barang milik anak itu.

Ibu Nanno menyodorkan dua buah kotak kecil berisi gelang yang katanya dipilih oleh Nanno sendiri untuk teman-teman terbaiknya.

Kami mengucapkan terima kasih padanya. Dia meminta kami segera memakai gelang tersebut jadi kami pun menurutinya.

Wanita itu tersenyum pada kami. Dia mengagetkan kami ketika dia mengatakan bahwa Nanno sangat merindukan kami seakan-akan dia ada berbicara dengan almarhum anaknya yang sudah meninggal.

Aku dan Yuka tak bisa berkata apapun pada Ibu Nanno tetapi kami sepakat bahwa tingkahnya sungguh aneh, seakan dia sedikit tidak waras.

Kami berdua merasa lega saat wanita itu sepertinya menerima telepon penting dan kami menggunakan alasan itu agar kami bisa pamit pulang. Ibu Nanno meminta kami agar kapan-kapan datang lagi. Ya...kami tak akan mau melakukannya lagi...dia terlalu creepy.

Aku tercengang saat tak sengaja mendengar perkataan Ibu Nanno bahwa dia pasti akan membawa sisa uangnya asalkan dia bisa mendengar kembali suara putrinya.

Aku jadi penasaran dia bicara dengan siapa. Masa sih dia lagi berbicara dengan cenayang?

Wanita itu kelihatan serius di telepon, hampir seperti putus asa yang sangat menyedihkan.

Yuka menarikku pergi dan aku menurutinya.

777

Sehabis berpisah dengan Yuka, aku jalan ke Poirot sambil memandangi gelang di tanganku. Hadiah terakhir dari Nanno... Hatiku merasa sangat sedih dan diliputi rasa bersalah.

Aku memandangi langit. Nanno, saat ini kau pasti sudah reuni dengan Eva yang asli, bukan?

Saat tiba di Poirot, Azusa menyapaku dengan ramah dan segera mencatat orderanku. Aku memesan sandwich khas Amuro dan segelas teh manis.

Aku langsung memandangi gelang di tanganku lagi. Aku teringat kecurigaanku atas Ibu Nanno. Benarkah dia menemui cenayang dan mendengar suara Nanno? Ih, jadi seperti film horor. Yang ku khawatirkan sih sebenarnya kemungkinan Ibu Nanno itu ditipu orang. Kudengar bahkan dia harus membayar uang demi mendengar suara Nanno.

Semakin dipikirkan aku semakin terganggu. Pasti Ibu Nanno ditipu, bukan? Betapa jahatnya orang yang menipu orang lain yang sedang berduka. Ah, tapi aku bisa apa? Mana mungkin Ibu Nanno mau mendengarkanku? Mungkin aku harus memberitahu Mama soal ini, siapa tahu Mama bisa berbicara baik-baik dengannya.

Amuro mengantar pesananku dan menanyakan apa yang mengganggu pemikiranku saat itu.

Aku memandang Amuro sesaat. Aku memutuskan menceritakan kekhawatiranku untuk Ibu Nanno kepada dia.

Amuro terlihat sedang memikirkan soal itu. "Jika menemui cenayang itu bisa memberikan kedamaian untuk Ibu Nanno, bukankah lebih baik dibiarkan saja?"

"Tapi, Ibu Nanno tidak kelihatan mendapatkan kedamaian. Malah dia jadi kelihatan tidak waras." tuturku. Aku menceritakan soal kamar Nanno yang diisi kembali dengan barang-barangnya seperti seakan belum pindah.

Amuro bilang tiap orang menghadapi rasa duka dengan cara yang berbeda-beda. Melihat kekhawatiranku, Amuro berjanji akan mencari tahu soal cenayang yang ditemui Ibu Nanno.

Aku penasaran bagaimana dia akan mencari tahu soal itu. Apa dia akan menyadap nomor telepon yang Ibu Nanno pake?

Amuro tiba-tiba menepuk kepalaku. Aku menengadah memandang dia. "Jika cenayang itu benar asli, apakah Eva juga ingin mendengar suara temanmu itu?"

Aku tercekat mendengarnya. "Apa Kak Amuro percaya ada cenayang yang asli?" tanyaku.

Amuro memandangiku antara tatapan menyelidik dan mempertimbangkan. Aku jadi agak gugup melihatnya.

Melihat tampangku yang terlihat terganggu, dia tersenyum tetapi dia tidak menjawab pertanyaanku karena saat itu tiba-tiba grup detektif cilik muncul (minus Ai) dan langsung nimbrung ke dalam percakapan kami.

Aku sampai jadi bengong karena mereka langsung memaksa ingin ikutan menyelidiki kasusku. Mereka bahkan komplain bahwa mestinya aku mendatangi mereka dulu sebagai grup detektif cilik.

"Cenayang ya...?" Conan pun seakan mempertimbangkan untuk menyelidiki juga. Dia menoleh memandangku, membuat lututku bergetar untung saja aku dalam posisi duduk. "Menarik juga..."

"Tunggu dulu, topik ini agak sensitif bagi Ibu Nanno, jika kalian semua mendadak muncul didekat dia..." Aku menoleh ke arah Amuro memohon agar dia melakukan sesuatu soal anak-anak ini.

Amuro malah tidak kelihatan terganggu bahwa grup detektif cilik ini seenaknya ikutan. Dia tersenyum kepada mereka.

Aku hanya bisa mendesah pasrah.

777

Aku tidak menyangka Amuro benar-benar membiarkan Conan dan grup detektif cilik untuk menyelidiki bersama.

Aku menoleh menatap Conan. Apa tak apa-apa dia bertingkah seperti ini? Bukankah dia tak ingin Amuro mencurigai dia?

Sepulang sekolah dua hari kemudian, Ayumi mengajakku untuk menemui cenayang. Aku ragu-ragu apakah aku ingin ikutan menemui cenayang ini. Jika benar palsu, bagaimana harus mengatakannya kepada Ibu Nanno? Dan jika asli, apakah dia akan menyadari sesuatu yang salah pada diriku?

Ayumi tidak menyadari kegelisahanku dan tetap menarikku untuk bergabung dengan Conan dan lain-lain.

Ai pulang duluan, bilangnya tidak ingin terlibat kasus yang berhubungan dengan hantu tetapi aku tahu bahwa dia ingin menghindari Amuro.

Aku mengikuti Conan dan grup detektif cilik dan kami sampai di suatu tempat. Amuro sudah menunggu kami disana.

Ibu Nanno baru saja keluar dari sebuah rumah yang kata Amuro merupakan rumah si cenayang.

Kami semua bersembunyi agar tidak kelihatan oleh Ibu Nanno. Pertama, detektif-detektif ini harus menyelidiki dulu apakah cenayang ini benar penipu barulah nanti dipikirkan bagaimana memberitahu Ibu Nanno.

Cenayang itu rupanya cukup terkenal karena dia masih memiliki beberapa klien setelah menemui Ibu Nanno. Amuro sudah mendaftarkan namaku. Nanti aku disuruh meminta untuk bisa berbicara dengan Nanno juga.

Tak disangka kasus terjadi. Salah satu klien yang datang tiba-tiba tersungkur mati.

Aku terbelalak kaget karena tidak mengira bakal terjadi kasus. Aku melirik ke arah Conan dan mendesah. Dasar magnet kasus!

Amuro dan Conan langsung menyelidiki kasus setelah memanggil polisi. Megure heran melihat mereka ada disana.

Si cenayang juga menjadi salah satu pelaku yang dicurigai. Aku memandangi cenayang itu. Dia kelihatan agak gugup melihat banyak polisi. Dia seorang wanita berpakaian serba putih dan memakai karangan bunga dikepalanya yang memberi dia kesan elegan.

Genta dengan blak-blakan meminta si cenayang agar menanyakan pada hantu orang yang mati siapa pelaku yang membunuhnya.

Megure kelihatan tidak percaya bahwa orang itu benar-benar mengaku sebagai cenayang, akan tetapi, para klien yang berada disana menjamin bahwa orang itu benar cenayang.

Namanya adalah Elena Koshei tetapi nama yang kulihat di atas kepalanya berbeda dengan nama yang dia akui sebagai identitas dia.

Amuro dan Conan mulai berdeduksi lagi untuk menyudutkan pelaku yang ternyata salah satu klien. Aku tidak begitu mendengarkan analisa mereka karena aku merasa terganggu oleh Elena yang tiba-tiba saja memandangiku terus.

Dia memanggilku mendekat dengan senyum palsu diwajahnya. Dia berbisik kepadaku bahwa aura hitam sepertinya mengelilingiku. Aku merasa tidak senang akan perkataan orang ini. Tapi, aku kaget karena dia tahu namaku, sebelum menyadari tentu saja dia tahu namaku, karena namaku ada di daftar klien hari ini.

Dia bilang dia tahu bahwa aku teman Nanno. Rupanya Ibu Nanno pernah memperlihatkan foto saat Nanno, aku dan Yuka berpose bersama.

"Kau disini untuk memastikan bahwa aku bukan orang jahat yang hendak menipu Ibu Nanno. Betapa baiknya dirimu." ujar Elena sambil tersenyum manis. Tapi, aku merasa perkataan dia itu lebih menyindirku daripada memuji.

Merasa gerah mendadak, aku memutuskan pergi meninggalkan wanita itu. Tiba-tiba, Elena mencengkram tanganku.

Dia menatapku dengan tajam dan membuka mulutnya. Yang keluar dari mulutnya adalah suara anak kecil.

"Aku tahu bahwa kau tahu, Eva. Kenapa kau tidak menolongku? Kenapa kau membiarkanku mati?"

Wajahku memucat mendengar perkataan dia. Masa sih? Suara itu benar suara anak kecil tapi aku tidak begitu yakin 100% bahwa itu suara Nanno. Tetapi, perkataan dia itu sungguh menusuk nurani-ku.

Elena melepaskan cengkramannya kepadaku dan mengerjap-ngerjapkan mata seakan tidak menyadari apa yang terjadi barusan.

Aku melangkah mundur, menjauhi wanita itu. Dia benar-benar cenayang, dia baru dirasuki Nanno. Batinku menjerit bahwa hal itu tidak mungkin.

Elena memandangiku lagi dan tersenyum. Aku tersentak melihat senyumannya yang entah kenapa aku merasa sungguh sinis. Apa aku yang terlalu sensitif?

Mendadak aku merasa marah. "Hikari Wataru." Aku sengaja menyebutkan nama asli wanita itu. Wanita itu memucat, mengetahui bahwa aku mengetahui nama asli dia. Hah, dia pasti punya rahasia juga jika mengucapkan nama asli dia saja sudah membuat dia pucat pasi.

"Kau ini siapa?" tanyanya. "Kenapa kau bisa tahu...nama itu?"

"Apa kau benar-benar berbicara dengan Nanno?" tanyaku.

Dia tidak menjawab.

Aku mengangkat bahu dan ikut memasang senyum sinis. "Baiklah, mungkin Pak Polisi disana akan senang mengetahui nama aslimu."

Dia menahanku dan menarikku menjauh dari yang lain.

Aku terperangah saat Elena mengakui bahwa dia dibayar oleh seseorang untuk menakutiku. Orang itu tahu bahwa Ibu Nanno menemuinya dan orang itu juga memprediksi bahwa aku akan datang menemui Elena.

Elena bilang orang itu menyuruhnya mengatakan kalimat tadi saat aku datang menemuinya nanti.

Tubuhku bergetar. Elena mengira aku marah tetapi aku sebenarnya ketakutan. Aku menanyakan deskripsi penampilan orang yang membayar dia untuk menakutiku.

Katanya orang itu memakai topeng...

"Apakah topeng kucing?" tanyaku.

Elena menggelengkan kepala. "Topeng muka putih polos."

Pikiranku langsung melayang pada lelaki bertopeng yang kulihat di villa Suzuki. Siapa sebenarnya lelaki itu? Dari settingan perkataannya yang dirancang khusus untukku itu, apakah dia benar mungkin tahu perihal mata shinigami-ku? Bagaimana dia tahu soal aku tak menyelamatkan Nanno? Apakah dia juga tahu soal rancangan warna pada kematian seseorang?

Dan yang membingungkan, apakah lelaki itu dewa kematian yang mengincarku atau manusia biasa yang juga seorang stalker bagiku dan tidak tahu darimana bisa tahu rahasiaku?

Tenggorokanku terasa tercekat. Aku melirik ke arah Amuro dan Conan yang sepertinya sedang memojokkan pelakunya. Grup detektif cilik juga dilibatkan untuk demonstrasi trik yang digunakan pelaku. Semua perhatian sedang tidak terarah padaku.

Aku menegarkan mental-ku dan mengancam wanita itu yang sekarang sudah diketahui memang penipu. Suara anak kecil yang ku dengar tadi memang tipuan suara dia. Dia bisa meniru suara orang lain tanpa menggunakan alat. Agak mengingatkanku sedikit kepada Kaito Kid. Tetapi, aku membuang jauh-jauh pikiran itu.

Karena Elena ini adalah cenayang palsu, menanyakan kepadanya apakah lelaki bertopeng itu manusia atau bukan juga percuma, bukan?

Aku meminta wanita itu untuk 'membebaskan' Ibu Nanno dari rasa dukanya. "Berbohonglah dengan baik sebagai Nanno dan mintalah dia untuk melepas anaknya dan menjalani kehidupan yang baik. Buatlah sedramatis mungkin untuk meyakinkan. Jangan terima uang dari dia." ancamku.

"Jika ku lakukan itu, kau janji tak akan memberitahu nama itu pada polisi?"

"Itu tergantung dari hasil bagaimana kau bisa menolong Ibu Nanno, bukan? Lakukanlah dengan baik." ujarku dengan dingin. "Jika kau memang akan menipu orang-orang ini dengan menyamar jadi suara hantu orang yang mereka kasihi, sebaiknya kau meyakinkan sekali bahwa mereka mendapatkan kedamaian dari hasil penipuanmu itu, mengingat kau mendapat uang dari mereka. Sejauh yang kulihat saat ini, kau hanya menambah obsesi tidak sehat Ibu Nanno."

Elena memandangiku dan menelan ludah. Dia menyetujui keinginanku.

Aku menanyakan apa dia punya nomor kontak lelaki bertopeng itu dan tentu saja dia jawab tidak. Tetapi, Elena bilang lelaki itu mengatakan bahwa dia akan segera menemuiku...hanya menunggu saat yang tepat saja. Lelaki itu seakan tahu reaksiku dan bahwa aku akan mempertanyakan soal dia kepada Elena.

Perkataan semacam itu seperti beralamat buruk bagiku. Aku tidak tahu siapa lelaki bertopeng itu dan apa yang hendak dia lakukan padaku. Aku merasa sungguh tak berdaya.

Aku melangkah pergi dari TKP tanpa pikir panjang.

Amuro mengejarku dan memanggil-manggil namaku tetapi aku mengacuhkannya karena pikiranku sangat terbebani oleh rasa khawatir dan takut akan lelaki bertopeng.

Aku juga agak marah karena lelaki sialan itu mempermainkan mental-ku dengan kalimat palsu Nanno. Aku dirundung oleh rasa bersalah karena membiarkan Nanno mati dan orang itu mengetahuinya dan menggunakannya untuk mengaduk-aduk emosi-ku? Brengsek!

Amuro menarikku keras ketika aku hampir saja ketabrak motor yang melintas kencang di jalan.

Aku membelalakan mata dengan kaget. Aku menengadah menatap Amuro, seakan baru menyadari kehadiran dia di sisi-ku.

Amuro jongkok dihadapanku, memegang kedua lenganku untuk menghadap dia. Dia terlihat khawatir. "Eva, kau kenapa? Apa yang dikatakan cenayang itu padamu? Wajahmu pucat, apakah kau sakit?"

Rupanya walau sedang berdeduksi, perhatiannya juga masih tertuju kepadaku sebagian. Aku tak mengira dia menyadari bahwa aku ada berbicara dengan Elena. Jangan-jangan Conan juga menyadarinya juga?

Aku tak tahu harus berkata apa. "A-aku...aku hanya kaget saja bahwa Kak Elena itu benar-benar cenayang."

"Dia mengatakan apa padamu sampai kau pucat pasi begini?" tanyanya.

"Aku tidak apa-apa."

"Bukan itu yang ku tanyakan..."

"Aku tak ingin mengatakannya. Anggap saja itu rahasia antara aku dan Kak Elena." tukasku dengan keras kepala.

Amuro terdiam sesaat, memandangiku dengan tatapan menyelidik. "Eva, apakah kau tidak mempercayaiku?"

Entah kenapa aku jadi kesal. Mood-ku lagi jelek sepertinya. "Memangnya Kak Amuro mempercayaiku? Kepercayaan berlaku dua arah, bukan? Bagaimana Kakak bisa memintaku mempercayaimu jika Kakak sendiri menyimpan rahasia? Aku tahu Kakak tak ada alasan untuk mempercayaiku atau memberitahu rahasiamu kepadaku, jadi kenapa aku harus memberitahu rahasiaku padamu?"

Batinku menjerit memarahi diriku sendiri. 'Jangan meneriaki Amuro! Kau sudah gila ya, Eva?! Kau ini ngomong apa? Kau sudah tidak waras!' pekikku dalam hati.

Amuro untuk sesaat tidak bereaksi atas kemarahanku. Lalu, wajahnya berubah agak sedih. "Aku hanya ingin membantumu, Eva. Aku tidak bermaksud mendesakmu."

"Bagi Kakak, aku hanya sekedar teka-teki yang harus dipecahkan saja begitu bukan?" tuduhku.

Amuro tidak berkata-kata atau memungkiri tudingan dariku.

Aku melangkah mundur darinya lalu beranjak pergi dari sana tanpa menunggu jawaban atau reaksinya.

777

Malam itu, saat kejadian tadi terulang dalam pikiranku, aku hanya bisa mencak-mencak sendiri didalam kamarku. Aku benar-benar malu dan marah pada diriku sendiri. Kenapa aku malah marah-marah kepada Amuro yang sudah berbaik hati meladeniku?

Ya, berbaik hati... Aku jadi teringat manga khusus untuk seorang Rei Furuya/Toru Amuro/Bourbon. Manga itu menceritakan keseharian dari agen triple face itu. Tokoh dia diceritakan sebagai orang yang sungguh 'memaksakan' kebaikannya kepada semua orang yang dia temui. Mungkin karena saat ini aku sedang sensitif, pandanganku terhadap kepribadian orang itu juga jadi sinis. Mana ada orang sebaik dan sempurna seperti dia di dunia nyata. Makanya, dia hanyalah karakter dalam manga, bukan? Dan saat ini aku berada di dunia manga yang sama dengan orang itu.

Ah, aku mikir apa sih? Pikiranku mumet, aku tak bisa menata pikiranku sama sekali

Kalau sudah begini, bagaimana donk? Aku sepertinya merusak hubungan baik yang ku jalin dengan Amuro. Aku harus meminta maaf pada dia, bukan? Mungkin?

Agh, kenapa aku malah memikirkan soal dia terus? Bukannya seharusnya aku memikirkan soal ancaman dari lelaki bertopeng itu? Prioritasku memang ngaco, bukan? Tetap saja memang kepalaku bebal, tak bisa dipakai untuk memikirkan yang berat-berat.

Aku menggigit bibirku dengan gemas dan menjambat rambutku sendiri dengan kasar seakan rasa sakit pada batok kepalaku bisa membuatku fokus. Ya, tentu saja tidak.

777

Seharusnya aku memang meminta maaf pada Amuro karena marah-marah tidak jelas, tetapi aku terlalu malu untuk melakukannya. Jadi, aku menghindari pergi ke Poirot sementara waktu.

Aku mendesah dengan lesu.

Subaru memandangiku dengan heran. "Kau kenapa, Eva?"

Aku mendesah lagi dan menjatuhkan kepalaku ke atas meja. Sepertinya terlalu keras sampai aku jadi harus mengelus-elus keningku sendiri.

Subaru masih memandangiku.

Aku menoleh padanya dan akhirnya menceritakan bahwa aku bertengkar sepihak dengan Amuro.

"Trouble in paradise ya?" tutur Subaru dengan datar.

Aku mendesah lagi untuk sekian kalinya.

"Coba ceritakan permasalahannya padaku. Berhentilah mendesah seperti itu."

Aku pun menuturkan kejadian itu tapi aku tetap tak memberitahu soal isi percakapanku dengan Elena.

Subaru mendengarkan dengan cermat lalu seperti mempertimbangkan sesuatu yang kukatakan. Dia mendadak menoleh padaku. "Bukankah tak ada salahnya jika dia memang menganggapmu sebagai teka-teki yang ingin dia pecahkan? Menurutku itu memberi nilai tambah bagi diri seorang Eva." tuturnya.

Aku menatap Subaru dengan bingung tetapi aku pun mempertimbangkan perkataannya. Entah kenapa saat itu aku jadi teringat perkataan terkenal Vermouth, 'A secret is what makes a woman...a woman.' Mungkin misteri yang mengerubungiku itu membuat Amuro lebih tertarik kepadaku...melebihi anak-anak lainnya. Ya, kecuali Conan dan Ai, pastinya.

Aku memang ingat manga Zero's tea time itu kadang memfokuskan interaksi Amuro dengan anak-anak kecil lainnya. Jika teringat hal itu, aku merasa sama sekali tidak spesial dalam hidup seorang Amuro. Hal ini membuatku agak sedih. Walau romansa tidak mungkin terjadi mengingat kondisiku sekarang, aku berharap memiliki tempat spesial dalam hidup orang itu. Yang penting, aku tak ingin dia terus-terusan memandangiku sebagai anak kecil random yang dia temui dalam keseharian. Aku ingin...lebih...

Aku menoleh, menatap Subaru. Aku pun merasakan hal yang sama untuk orang ini. Semoga suatu hari nanti, aku bisa bertemu muka lagi dengan wajah asli orang ini, sebagai Shuichi Akai. Ah, tapi, aku sama sekali tidak yakin aku bisa mengambil tempat spesial dalam hidup kedua pria ini. Aku tersenyum pahit tanpa sadar. Memang aku harusnya sadar diri juga ya? Aku ini siapa? Aku bukan orang yang penting maupun spesial.

Ah, aku jadi sedikit depresi.

Subaru memandangiku tanpa berkata-kata. Entah apa yang dipikirkannya tentangku saat ini? Anak yang caper? Aku berusaha untuk tidak menjadi murung didepan dia. Aku berusaha mengusir jauh-jauh pikiran 'ingin lebih'. Aku harus berterima kasih saja karena bisa berkenalan dan memiliki sedikit hubungan dengan orang-orang hebat ini. Jangan ingin lebih. Tidak pantas.

777

Sepulang sekolah hari itu, aku ke bank untuk tarik tunai uang cash untuk membayar biaya les dengan Subaru selama ini. Mama tidak sempat ke bank jadi aku yang ditugaskan untuk mengambilnya. Aku menghitung uangnya sebelum memasukkannya ke dalam amplop kecil.

Tiba-tiba saja aku bertubrukan dengan seorang anak lelaki. Kami sama-sama jatuh ke tanah dengan keras. Aku hanya bisa memekik kesakitan. Anak itu juga mengaduh kesakitan tetapi dia memandangiku dan melihat amplop uang ditanganku. Dia langsung menyambar amplop itu dan langsung melesat lari.

Aku terperangah melihatnya. "Uang les-ku..." seruku pilu.

Tiba-tiba Conan melesat melewatiku untuk mengejar anak itu bersama teman-temannya. Ai menungguiku dan membantuku berdiri sambil menanyakan apa aku terluka. Rupanya Mitsuhiko juga ada keperluan di bank dan dia datang ditemani Conan dan yang lain. Saat itulah, mereka melihat kejadian yang menimpaku.

Conan sepertinya berhasil menangkap si pencuri. Anak itu meronta-ronta di tanah dimana Conan, Genta dan Mitsuhiko sedang menindihnya.

Conan menyambar amplop uang di tangan si pencuri dan memberikannya padaku. Aku berterima kasih padanya dan grup detektif cilik.

Aku menoleh memandang si pencuri yang juga masih anak kecil yang kurang lebih mungkin seumuran denganku. Conan menyuruh Genta dan Mitsuhiko melepaskan cengkraman mereka pada anak itu dan segera menegurnya karena kecil-kecil melakukan tindakan kriminal.

Anak itu tidak kelihatan menyesal dan malah melototi kami semua, terutama kepadaku, seakan kesalahanku dia tertangkap. Conan, Ai dan aku menyadari luka pada tubuh anak itu seakan ada yang memukuli anak itu. Kami jadi prihatin, mengira latar belakang anak ini begitu buruk sampai dia nekad mencuri di siang bolong.

Aku mendekati anak itu tetapi tidak tahu harus berkata apa agar dia membuka diri pada kami. "Kau tak apa-apa?" tanyaku. "kau terluka..."

Anak itu segera menyembunyikan lukanya dan membentak kami untuk tidak mencampuri urusan dia. Genta dan Mitsuhiko kelihatan tidak senang terhadap anak itu.

Tiba-tiba saja, anak itu menyambar kalung pemberian Reina yang keluar dari kerah baju-ku dan lagi-lagi melesat lari mengagetkan kami semua.

Leherku sakit karena kalung itu ditarik dengan kasar oleh anak itu. Aku sangat kaget sebelum menyadari bahwa kalung penting itu telah dicuri dariku. "Ah, jangan kalung itu!" jeritku.

Conan dan yang lain juga langsung berusaha mengejar anak itu lagi tetapi kali ini kami semua kehilangan jejaknya.

Aku tersungkur jatuh ke tanah dengan dramatis. "Kalungku...Kalung persepsi filter-ku... Matilah aku..." Aku benar-benar ingin menangis saat itu. Bagaimana ini? Kata Reina, kalung itu bisa sedikit melindungiku dari pandangan para dewa kematian. Jika tidak ada itu, apakah aku akan lebih mudah ditemukan oleh mereka? Aku tak mau jiwaku diseret mereka! Mata-ku berkaca-kaca saat memikirkannya.

Conan dan yang lain merasa prihatin dan kebingungan melihat tingkahku.

"Kak Eva, kalung itu apa kalung yang penting untukmu?" tanya Ayumi dengan prihatin.

Aku menoleh memandang anak itu. "Iya, kalung itu sangat penting bagiku. Kalung itu sama sekali tidak berharga untuk orang lain. Tetapi bagiku, kalung itu sangat berharga. Kalung pemberian orang yang paling penting dalam hidupku saat ini." tukasku dengan pilu. Ya, bisa dibilang Reina itu seorang yang penting untukku, bukan? "Kalung itu cuma ada satu saja di dunia ini. Aku tak akan bisa mendapatkannya lagi..." Aku merasa jiwaku sudah mau melayang. Perasaanku saat ini mungkin sama saat dengan Ai kehilangan gantungan kunci Higo yang berharganya.

Conan dan yang lain memandangiku antara kaget dan bingung mendengar perkataan 'orang paling penting dalam hidupku'. Mungkin mereka mengira kalung itu dari pacar?

Ayumi menoleh pada Conan dan menanyakan apakah mereka bisa melakukan sesuatu untuk menemukan kalung itu untukku. Conan terlihat bingung harus bagaimana.

Aku memandang amplop uang ditanganku dengan sebal. Seharusnya aku tidak ikutan mengejar anak sialan itu. Uang dapat diganti tetapi kalung itu... Duh, aku harus bagaimana? Aku merasa ingin menangis kencang-kencang saja saat itu.

Saat itulah, Amuro tiba-tiba muncul. Heran tidak sih bagaimana karakter manga DC ini sudah menjadi bagian seharianku sampai bisa muncul dimanapun aku berada?

Ayumi menjelaskan kepada Amuro soal kalung-ku yang dicuri. Ai langsung memakai hoodie-nya untuk menutupi perawakannya dari penglihatan pria itu.

Aku masih terpuruk putus asa di tanah. Aku tidak tahu harus bagaimana dihadapan Amuro karena aku belum meminta maaf kepadanya untuk soal yang kemarin.

Amuro menoleh kepadaku dan membantuku berdiri. Dia memegangi lenganku dan memandangiku dengan serius. "Eva, apa kamu memiliki foto kalung itu?"

Aku mengerjap-ngerjapkan mata dengan bingung. Aku mengeluarkan HP-ku dan membuka gallery foto-ku. Aku mencari-cari sekilas sebelum memperlihatkan foto yang Papa ambil akan diriku yang memakai gaun pesta di kejadian yang lalu. Kalung itu terlihat jelas saat itu. Menilik kalung pada foto, aku jadi agak malu juga karena memang kalung itu biasa-biasa saja dan sama sekali tidak kelihatan berharga. Tetapi, bagaimana ya? Kalung itu memang sangat, sangat penting demi menyambung nyawa-ku.

Amuro mengangguk dan memintaku mengirim foto tersebut kepadanya dan aku menurutinya. Dia lalu membuat panggilan telepon ke seseorang. Dia menyuruh Conan dan yang lainnya untuk pulang saja karena info yang dia tunggu mungkin akan memakan waktu berjam-jam. Mendengar itu, aku merasa lemas dan pasrah bahwa aku memang akan kehilangan kalung itu.

Duh, Reina, segeralah kembali ya? Aku sangat memerlukanmu saat ini.

Conan memandangiku dan Amuro dengan tatapan selidik tetapi dia memutuskan untuk mengajak teman-temannya pulang demi Ai yang kelihatan sudah mau pingsan karena kehadiran Amuro. Conan menoleh padaku dan berkata, "Kak Eva, semoga Kakak dapat menemukan kembali kalung dari orang penting-mu itu."

Aku tidak mampu menjawabnya karena aku masih terlalu lesu.

"Kalung dari orang yang paling penting untuk Eva, ya?" gumam Amuro.

Aku menengadah menatap dia dan terhenyak melihat dia sedang memandangiku. Aku menggigit bibirku merasa bersalah kepada dia. Amuro begitu baik padaku, masih mau menolongku menemukan kalungku padahal aku kemarin bersikap kurang ajar pada dia. Aku menundukkan kepala dan berkata, "Maafkan aku, Kakak, soal yang kemarin... Aku..."

Amuro menepuk kepalaku. Aku menengadah menatap dia. Dia tersenyum kepadaku, membuatku dag-dig-dug tidak jelas.

Aku tak tahu bagaimana dia melakukannya tetapi dia benar-benar berhasil mendapatkan info keberadaan anak pencuri itu. Aku rasa dia benar-benar menggunakan otoritas-nya sebagai agen PSB untuk melihat CCTV disekitar dan berhasil mendapatkan lokasi akhir anak itu.

Jantungku berdebar-debar saat Amuro mengantarku ke lokasi si pencuri. Aku berdoa dengan keras agar kalung itu segera kembali ke tanganku agar aku bisa bernafas lega lagi.

Akan tetapi, aku sungguh sial karena menurut anak itu, dia sudah menjual kalungnya kepada orang lain.

Aku langsung geram mendengarnya. Aku menarik kerah anak itu tanpa pikir panjang. "Jangan bohong! Kalung itu sangat tidak berharga untuk siapapun kecuali aku! Dimana kalung itu? Kembalikan padaku!" seruku dengan marah.

Amuro menarikku menjauhi anak itu. Dia agak kelihatan kaget melihat reaksi keras-ku akan kalung itu.

Anak itu malah balik melototiku. "Aku juga tadinya mengira itu kalung emas atau semacamnya, ternyata tidak berharga sama sekali, tetapi ada orang random ini yang tertarik pada kalung itu dan bersedia membelinya."

Aku meronta-ronta dalam pelukan Amuro. Saat itu, aku sungguh berniat untuk menghajar anak kurang ajar ini tetapi Amuro sepertinya menyadari bahwa aku sedetik lagi berniat melakukan tindakan kekerasan sehingga dia menghalangiku.

Amuro meminta anak itu menjelaskan deskripsi orang yang membeli kalung itu.

Seorang gadis remaja berambut pirang dan bermata biru.

Anak itu mengatakan bahwa gadis itu sungguh aneh. Gadis itu mendadak muncul entah darimana dan dia sangat menginginkan kalung itu sampai bersedia memberinya uang yang lumayan. Selain itu, gadis itu juga mengatakan hal aneh bahwa tanpa kalung ini, permainan petak-umpetnya nanti akan lebih menarik.

Wajahku memucat mendengarnya. Gadis itu...seakan dia tahu fungsi kalung itu, bukan? Permainan petak umpet...dengan shinigami, bukan? Sebenarnya siapa gadis itu? Dan juga siapa pula lelaki bertopeng yang dikatakan Elena? Kenapa jadi muncul orang-orang tak jelas yang sepertinya mengancam kehidupan tenangku?

Amuro memandangiku lalu berkata, "Tenanglah, Eva, mungkin kita masih bisa menemukan gadis itu."

Aku memandang dia dengan lemas. Entah kenapa, aku merasa kami tak akan menemukan gadis itu. Pastinya gadis itu sudah menghilang tanpa jejak dengan membawa kalungku.

Aku tak bisa menahan rasa takut-ku dan tubuhku menggigil seperti kedinginan.