Warning: penggambaran tidak akurat tentang psikiater dan kondisi mental seseorang serta efek obat.

Bagaimana ini? Aghh, aku kesal kenapa aku tidak berhati-hati? Kalung itu sudah hilang! Aku tak bisa berbuat apa-apa.

Amuro sampai meminta maaf kepadaku waktu itu karena tak bisa membantu mengembalikan kalung itu padaku. Dia kelihatan khawatir padaku yang kelihatan antara ingin menangis dan menjerit. Aku pasti kelihatan seperti anak kecil yang sudah mau mengambek atau mengamuk. Akhirnya, aku hanya menjadi lemas dan mengucapkan terima kasih kepadanya lalu pamit pulang. Dia ingin mengantarku pulang tetapi aku menolaknya. Dia memaksaku dan aku akhirnya mengalah dan setuju naik mobilnya.

Sepanjang perjalanan aku tidak mood untuk berbicara apapun dan Amuro juga tidak mengajakku mengobrol tetapi aku merasakan bahwa orang itu sedang mengamatiku.

Semenjak kalung itu menghilang, aku merasa ketakutan, merasa seakan tanah dibawah kakiku akan menghilang kapan saja dan menenggelamkanku ke dasar neraka. Mungkin aku terlalu dramatis tetapi begitulah perasaanku saat ini. Aku sampai merasa sesak nafas karena takut.

Aku pura-pura tidak enak badan agar bisa bolos sekolah dan ternyata aku akhirnya kena demam benaran sehingga Mama mengizinkanku tinggal dirumah.

Yuka ada menjengukku dan membawakan PR dari sekolah. Dia khawatir melihat tampangku yang pucat dan lesu.

Ugh, aku malas mengerjakan PR juga. Saat ini aku sedang ketakutan untuk nyawaku sendiri, mengerjakan PR adalah hal paling terakhir yang ingin kulakukan. Akan tetapi, Mama sangat menakutkan dan mengontrol apakah aku mengerjakan tugas sekolah atau tidak, jadi mau tak mau aku terpaksa mengerjakannya.

Aku tak berani keluar rumah. Aku juga tidak ke Poirot atau les di rumah Kudo. Rasanya aku ingin mencari dan menggali lubang untuk bersembunyi saja selamanya.

Lagi-lagi aku membuat Papa dan Mama khawatir terhadapku. Habis mau bagaimana? Aku terlalu takut untuk keluar tanpa kalung itu. Rasanya seperti telanjang bulat atau tanpa perisai jika keluar tanpa memakai kalung pengaman itu.

Mama ada membawakan pulang makanan dari Poirot dan dia mengatakan bahwa Amuro ada menanyakan keadaanku karena aku lama tidak muncul lagi dihadapan dia. Mama mengatakannya dengan nada menggoda tetapi aku merasa...hambar. Perhatian seorang Amuro tidak cukup untuk menyegarkanku. Default setting-ku saat ini hanya mentok di rasa takut.

Mama kelihatan bingung dan khawatir melihatku seperti ini, memang biasanya jika Mama menggodaku perihal Amuro, aku selalu berkilah keras-keras yang tentu saja tambah membuat Mama ingin menggodaku terus.

Tak disangka aku mendapatkan kunjungan tak terduga dari Miyuki. Kukira anak itu masih mengurung diri dirumahnya, ternyata dia sudah berani keluar rumah. Dia sudah mulai masuk sekolah lagi. Kali ini, gantian dia yang datang menjengukku. Dia tidak datang sendiri, Ibunya juga datang dan mengobrol dengan Mama.

Aku memandangi Miyuki dengan sedikit bersalah karena seakan aku telah melupakan perkembangan kondisi dia. Aku juga lega melihat dia kelihatannya sudah membaik. Rupanya dia ada menemui psikiater anak. Duh, mendadak aku dapat firasat bahwa Ibu Miyuki bakal membujuk Mama untuk mengajakku menemui psikiater juga.

Sepertinya psikiater yang didatangi Miyuki berhasil membantu anak itu untuk keluar dari cangkangnya. Miyuki rupanya diberi obat medis untuk mengatasi rasa takut dan cemasnya.

Miyuki menjelaskan kepadaku bahwa setelah dia meminum obat yang diberikan dokter, dia bisa tidur nyenyak. Obat itu juga mengurangi rasa takut dan cemasnya. Rasa takut dan cemas masih ada tetapi Miyuki bilang dia jadi tidak terlalu mengkedepankan perasaan negatif itu. Dia kadang masih suka mimpi buruk tetapi berkat trik dan terapi dari dokter, Miyuki mengaku mimpi buruknya berkurang dan tidak muncul setiap hari seperti dulu.

Aku jadi teringat bahwa sepupuku di dunia nyata ada juga minum obat medis semacam itu tetapi dia awalnya tidak menemui pskiater, malah langsung mengdiagnosi kondisi psikologis dia dari google lalu membeli obat yang dia kira dia butuhkan yang entah bagaimana bisa dia dapatkan tanpa resep dokter.

Anehnya, obat itu benar membuat dia keluar dari cangkangnya. Akan tetapi, dia seperti kecanduan. Jika dia tidak minum obat itu, emosinya menjadi tidak stabil. Saat dia minum obat itu, dia berubah jadi lebih sosial. Kadang aku iri, ingin mencoba obat dia itu tetapi ngeri-ngeri juga. Akhirnya aku hanya meminta dia obat yang efeknya membuat mengantuk yang ku minum biasanya saat galau atau saat bertengkar dengan keluarga.

Ah, dalam situasiku sekarang ini, seandainya aku bisa mendapatkan obat medis itu demi mengatasi rasa takut dan cemasku alangkah baiknya... Tetapi, aku enggan menemui psikiater walau demi mendapat obat medis tersebut. Baik diriku yang asli maupun diriku yang sekarang...susah berusaha mencari pertolongan untuk diri sendiri. Apa aku harus menunggu diriku karam dulu baru mau berusaha mencari bantuan, saat semuanya mungkin sudah terlambat? Ataukah aku yang bodoh berharap ada seorang prince charming datang menyelamatkan? Tidak mungkin, itu tidak mungkin! Realistis donk, Eva!

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku keras-keras berusaha mengusir pikiran jelek jauh-jauh.

Ya, aku memang tidak mungkin sembunyi terus dalam rumah, bukan? Masa sisa kehidupan kedua-ku ini akan disia-siakan saja? Tetapi, aku terlalu takut mengambil resiko keluar sana dan bertemu dewa kematian.

Aku tahu aku harus melakukannya. Pokoknya karena aku sudah tak memiliki perisai, aku tidak boleh memperhatikan warna orang-orang. Ugh, tentu saja akan susah untuk melakukannya. Kenapa mata shinigami ini tidak ada tombol nyala mati sih? Seandainya mata shinigami-ku bisa ada on-off switch-nya alangkah baiknya.

Aku jadi memikirkan manga Death Note. Aku tidak ingat apakah mata shinigami dalam cerita tersebut ada on-off switch atau tidak. Di dalam film adaptasinya, tokoh yang memiliki mata dewa kematian diberikan efek mata berkilau saat diperlihatkan menggunakan kemampuan tersebut. Aku kira mungkin berarti dalam cerita tersebut ada tombol nyala mati-nya jadi...mungkin?

Malam itu aku bertengkar dengan Mama yang memaksaku untuk kembali sekolah besok atau pergi menemui pskiater anak. Aku agak kesal karena merasa diancam. Aku tahu Mama melakukan semua itu demi kebaikanku juga. Tapi, saat itu aku masih memerangi rasa takut-ku dan sepertinya aku gagal total karena yang menang adalah emosi negatif yang mencengkramku bagai tikus kecil dalam genggaman burung pemangsa yang besar.

Papa tidak senang melihat kami bertengkar dengan suara keras terhadap satu sama lain. Dia berusaha menengahi kami berdua. Aku benar-benar bertingkah bagai bocah cilik yang tidak tahu diri dan mengamuk dihadapan pemaksaan Mama.

Papa lebih memilih posisi Mama daripada aku. Papa tidak marah padaku tetapi dia percaya bahwa keputusan untuk membawaku ke psikiater adalah yang terbaik untukku saat ini.

"Ya sudah! Mari penuhi tubuhku dengan obat!" seruku marah sebelum berlari meninggalkan mereka, tak lupa membanting keras-keras pintu kamar.

Tentu saja, aku tahu tingkahku itu sungguh kekanakan. Belum tentu aku akan dikasih obat medis, bukan? Dan orangtua Eva, mereka sebenarnya sedang berusaha membantuku. Sebenarnya juga aku sepertinya memerlukan obat tersebut demi memerangi rasa cemas-ku.

Walau menyadari hal ini dan perlahan menerima kenyataan itu, aku entah kenapa tetap mengambek.

Baiklah, aku akan menuruti keinginan mereka. Ini juga demi diriku sendiri juga, supaya berani keluar lagi. Aku membutuhkan obat itu. Tetapi, akankah psikiater itu mendiagnosa-ku membutuhkan obat itu? Bagaimana jika tidak? Kalau sudah terpaksa menemui dia, aku harus bisa mendapatkan obat penghilang kecemasan. Ya, begitu saja!

Tetapi, apa yang harus kukatakan pada psikiater? Aku tak bisa membicarakan soal mata shinigami, bukan? Jika aku melakukannya, dia pasti mengiraku tidak waras atau mungkin juga dia meladeniku dengan anggapan bahwa itu hanyalah khayalan anak kecil. Aku bisa saja membuktikannya kurasa tapi aku tak yakin apakah aku mau membicarakan soal itu.

Seharusnya membicarakan soal penculikan dan pembunuhan yang ku saksikan dengan Miyuki juga sudah cukup sebagai topik untuk psikiater. Tetapi, inti kecemasanku yang sebenarnya adalah menghilangnya kalung pelindungku dari para dewa kematian dan ketakutanku akan kedepannya jika pertemuan dengan mereka tak terelakkan.

Aku menggigit bibir keras, merasa sungguh tak berdaya lagi dengan situasiku saat itu.

777

Papa yang mengantarku ke tempat psikiater. Aku heran dia bisa-bisanya sempat mengantarku kesana di hari kerja. Ketika kutanyakan, Papa bilang tidak perlu khawatir karena sekretaris pribadi Papa bisa mengatur kerjaan dikantor yang dia berikan sementara waktu. Padahal bukankah Papa sekretaris penting Ibu Sonoko? Tetapi rupanya Papa yang sekretaris juga memiliki seorang sekretaris? Papa hebat juga...

Psikiater yang kami datangi bukan psikiater yang sama dengan Miyuki. Rekan kerja Papa menganjurkan nama seorang psikiater anak yang handal untukku setelah mendengar kecemasan Papa terhadap diriku, anak semata-wayangnya. Psikiater itu membuka tempat konsultasi di daerah perumahan, bukan didalam rumah sakit. Nilai tambah itu karena aku tak suka ke rumah sakit dan melihat berbagai macam warna. Lokasi tempatnya juga tidak jauh-jauh sekali.

Papa menepuk kepalaku sambil mengulum senyum. "Keluarkan semua uneg-unegmu pada psikiater itu, Eva. Ungkapkan semua pemikiranmu betapapun anehnya atau tidak jelas apa yang ada di pikiranmu. Luruskan semuanya dengan mengatakannya kepada dokter. Ini semua demi kebaikanmu." ujarnya serius.

Aku menatap Papa untuk beberapa saat dan menghela nafas. "Baiklah, akan aku coba." tuturku.

Papa tersenyum kepadaku, kelihatan lega dengan jawabanku.

Eva yang asli sungguh beruntung memiliki orangtua yang pengertian seperti ini. Orangtua asliku mana mungkin mau membawaku ke psikiater karena pikiran mereka masih agak kolot. Ya, memang jika aku membutuhkan bantuan medis dari psikiater, seharusnya aku sendiri yang pergi mencarinya tetapi aku yang dulu malah tidak melakukannya.

Aku menghela nafas memikirkan orangtua asliku di dunia nyata. Aku harap mereka baik-baik saja dan tidak terlalu terluka akan kehilanganku. Semoga mereka sehat dan bahagia selalu.

Setelah Papa selesai mendaftarkanku, kami menunggu di ruang tunggu. Papa membuka HP-nya untuk mengecek email sementara aku mengeluarkan buku novel untuk membaca, sebenarnya lebih untuk agar mataku tidak keliling melihat warna orang lain.

Saat giliranku dipanggil, aku meninggalkan Papa dan masuk ke ruang dokter.

Aku cuma bisa melongo saat melihat psikiater itu. Sial sekali aku, kenapa malah dapat psikiater yang kebetulan berwarna kuning?

Namanya Rumi Tsukasa. Wanita itu masih muda dan cantik. Dia memiliki raut wajah yang ramah yang menenangkan.

Aku hanya bisa diam saja memandangi dia saat melihat tanggal kematiannya yang sekitar 6 hari lagi. Aku tak tahu harus bagaimana.

Wanita itu sepertinya menganggapku kesulitan berbicara akibat kejadian yang ku alami bersama Miyuki. Sebelumnya, Papa sepertinya sudah menginformasikan soal kejadian yang menimpaku kepada wanita ini dan Papa juga menceritakan soal kejadian kekerasan lainnya yang ku alami saat di kuil dan taman bermain.

Wanita itu berusaha membuatku berbicara tanpa terlalu memaksa. Dia ada menanyakan soal mimpi burukku. Aku berusaha fokus pada percakapan dengannya sambil berusaha menghindari memandangi data-data diatas kepalanya. Hal itu sungguh sulit dilakukan karena saat bercakap dengan seseorang, kita harus menatap mereka dan mau tak mau aku jadi melihat nama, tanggal kematian dan warnanya.

Sepertinya dia mengamatiku kelihatan bingung dan mencatat sesuatu pada buku catatannya yang mungkin akan dilampirkan pada file pasien milikku.

Fokus, Eva! Tak ada yang bisa kau lakukan untuk wanita ini. Lagipula dia berwarna kuning yang berarti ada kemungkinan bagi dia untuk diselamatkan oleh dewa kematian. Jadi, aku tak perlu ikut campur! Tapi...aku teringat akan nasib Midori. Dewa kematian tidak menyelamatkan anak malang itu.

Aku menghela nafas. Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan keras-keras. Jangan macam-macam, Eva tolol! Kau sudah kehilangan kalung pelindung. Jangan sok menggoda nasib hanya untuk menjadi penyelamat!

Tapi, tak apa bukan jika aku memberi dia peringatan? Lalu, apakah dia akan menanggapi peringatan dariku atau tidak, itu bukan urusanku. Bukankah aku melakukan hal yang sama pada penipu kucing calico yang waktu itu?

Ah, tapi wanita ini sedang berusaha membantuku, masa aku tak bisa membalas kebaikan dia dengan menolongnya bagaimanapun juga?

Aku menjambak rambutku lagi dengan kasar sebelum sadar bahwa tingkahku saat itu sungguh aneh di mata psikiater itu, bukan?

Benar saja, wanita itu sedang mengamatiku dengan datar. Entah apa yang dipikirkannya tentangku.

Aku mendesah galau. Jika aku tak bisa melakukan apapun untuk wanita ini, tak apa bukan jika ku coba katakan saja yang sebenarnya? Mungkin saja ini kali terakhir aku akan bertemu dengannya karena dia menjadwalkan sesi pertemuan kami untuk berikutnya adalah minggu depan. Jika dia tidak diselamatkan dewa kematian pada saatnya nanti, ini adalah pertemuan pertama dan terakhir kami.

Hatiku merasa berat seperti seakan aku memanfaatkan dia saja. Tetapi, bukankah Papa juga sudah bilang aku boleh mengeluarkan semua uneg-uneg dipikiranku betapapun aneh atau tidak jelasnya?

Setelah memutuskan hal itu, aku pun mulai membicarakan bahwa semua kejadian yang menimpaku selama ini awal mulanya adalah setelah aku bangun dari koma 6 bulan-ku.

Psikiater ini hebat juga poker face-nya karena dia tetap cermat mendengarkan penjelasanku dan ekspresinya sama sekali tidak mengejek atau menghakimi.

Aku tidak mengatakan bahwa diriku bukan Eva yang asli. Aku mengatakan bahwa semenjak bangun dari koma, aku melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang pada umumnya. Kukatakan juga bahwa mungkin penglihatan ini merupakan sumber kesialan yang kudapatkan sejak saat itu.

Aku ragu-ragu untuk mengatakan lebih jauh lagi soal fungsi penglihatanku. Aku blak-blakan meminta obat penghilang rasa cemas supaya aku berani lagi beraktifitas diluar.

Wanita itu memandangiku tanpa berkata-kata lalu menulis sesuatu lagi di buku catatannya. Aku penasaran juga apa yang dipikirkannya tentangku. Anak yang caper-kah?

Aku mendesah lagi, tidak tahan dengan pikiran negatif-ku yang tak ada habis-habisnya.

Akhirnya sesi hari itu berakhir juga. Aku memandangi wanita itu dengan tenggorokan tercekat. "Terima kasih. Sampai jumpa minggu depan, Dokter." ucapku lirih. Aduh, bagaimana ini? "Dokter, jagalah diri baik-baik untuk 5 hari kedepan." Ah, aku benar-benar deh! Aku akhirnya memberi peringatan juga kepadanya.

Wanita itu memandangku dengan tatapan selidik sesaat lalu tersenyum. "Kau juga hati-hati, Eva."

Aku menatap wanita itu. Sepertinya dia hanya menganggap peringatanku sebagai angin lalu. Aku menghela nafas. Setidaknya aku sudah memperingati, bukan? Tapi...peringatan tidak jelas seperti itu...tanpa konteks yang jelas...apa bisa disebut sebagai usaha penyelamatan? Ataukah ini hanya demi ego-ku agar tidak merasa terlalu bersalah?

777

Aku kira setelah menuruti keinginan orangtua untuk menemui psikiater, aku akan dibiarkan bolos sekolah. Ternyata tidak. Mama memaksaku untuk pergi sekolah sehari setelahnya.

Obat yang diberikan dokter itu memang lumayan bermanfaat juga. Aku jadi sering melamun dan mengantuk tetapi aku tidak begitu dilanda kecemasan yang tiada tara. Aku juga tidak terlalu melawan Mama soal pergi ke sekolah.

Yuka dan Miyuki menyambutku dikelas. Aku lega melihat keduanya bisa bersahabat dengan satu sama lain. Aku tersenyum kepada keduanya.

Yuka ingin mengajakku dan Miyuki jalan-jalan sepulang sekolah. Aku agak kaget karena Miyuki dengan cepat menyetujuinya. Dia jadi benar-benar bersosialisasi. Apa karena obatnya? Tetapi, aku malah merasa agak capek, ingin pulang tidur saja. Selain itu, aku merasa emosiku seperti berada dibawah kabut, aku tak begitu merasakan apa-apa. Ya, bagusnya, aku malah jadi tidak cemas terus. Bahkan aku jadi tak ambil pusing dengan data dan warna diatas kepala semua orang yang kulihat hari ini.

Kedua anak itu merengek-rengek kepadaku untuk ikut. Yuka bilang dia sudah lama tak menghabiskan waktu bersamaku dan dia sangat ingin melakukannya nanti. Akhirnya, aku mengalah dan menyetujuinya. Aku mengirimkan pesan kepada Papa dan Mama soal rencanaku bersama kedua temanku itu. Kelihatannya Papa dan Mama tidak keberatan, malah mereka sangat mendorongku untuk bersenang-senang dengan Yuka dan Miyuki.

Aku memandangi Miyuki yang memang kelihatan lebih ceria. Miyuki yang sekarang jauh berbeda dengan Miyuki yang kutemui saat malam penculikan itu. Mau tak mau aku tersenyum kecil saat memandangi keduanya.

Sehabis asyik bermain bersama, kami pun hendak pulang naik kereta. Kami sedang menunggu di peron. Karena kami kesorean, kami kena pulang jam kantor jadi agak rame.

Aku senang menemani Yuka dan Miyuki bermain tetapi aku juga lega bahwa permainan sudah berakhir.

Waah, obatnya benar-benar berfungsi baik. Lihatlah, aku sama sekali tidak memusingkan soal warna.

Tiba-tiba saja aku merasa diriku tersungkur jatuh kedepanku. Aku jatuh dengan keras diatas rel kereta. Tangan dan kakiku terbentur keras dan terluka. Kepalaku rasanya pusing. Aku mendengar keributan dari atas peron tetapi tak ada satupun orang menolongku dan aku dengan bodohnya hanya duduk tersungkur pada rel memandangi luka-luka pada diriku dengan linglung.

Dari kejauhan terdengar suara keras kereta api. Aah, berisik...

Penglihatan dan pendengaranku agak kabur. Sepertinya aku mendengar teriakan panik Yuka dan Miyuki serta orang-orang lainnya.

Lalu, ada yang menarikku dengan keras dan orang itu memanggil-manggil namaku. Siapa ya? Aku berusaha fokus pada orang itu. Ternyata orang itu adalah Mako.

Mako berhasil menarikku kembali ke atas peron kereta dengan terengah-engah.

777

Aku berada disebuah ruangan medis di kantor stasiun kereta. Tangan dan kakiku yang agak luka sudah diberi obat dan perban. Untungnya saat aku jatuh kepalaku tidak terbentur.

Akhirnya aku mulai agak sadar dan aku memohon pada petugas ditempat agar tidak memanggil orangtuaku. Aku tak ingin membuat mereka khawatir. Lagipula aku jatuh salahku sendiri sepertinya kesandung, bukan? Aku tak begitu ingat. Aku juga yang lalai jelas-jelas peron kepenuhan orang dan aku tidak berhati-hati padahal aku berada dibarisan depan.

Petugas kereta itu sebenarnya juga kelihatan agak takut untuk memanggil orangtuaku, takut dituntut kali karena peron kepenuhan merupakan kelalaian mereka yang seharusnya mengatur agar tidak terjadi kecelakaan seperti yang terjadi padaku. Aku benar-benar beruntung Mako kebetulan ada disana dan menolongku, mengingat banyak orang lain disana tapi tak satu pun bersedia menolongku.

Ah, pokoknya aku merasa semua orang berisik sekali saat itu. Aku tidak apa-apa juga, kenapa dibuat berbelit-belit sih?

Petugas ditempat tak mau melepaskanku tanpa wali. Ugh! Rasanya aku ingin menangis histeris. Aku hanya ingin pulang saja, kenapa dibuat susah sih?

Entah apa yang ada dipikiranku, aku memutuskan meminta tolong pada Amuro. Amuro untungnya menerima telepon dariku dan dia sangat kaget mendengar penjelasanku akan kejadian yang ku alami. Dia menyuruhku menunggu dia datang.

Akhirnya, Amuro datang dan berbicara dengan petugas kereta. Amuro memandangi Mako dan bersalaman dengan remaja pria itu. Dia berterima kasih padanya karena telah membantuku.

Yuka sedang membisiki Miyuki sesuatu sambil menunjuk ke arah Amuro dan aku. Ah, dasar tukang gosip.

Amuro menoleh padaku, Yuka dan Miyuki. Dia bilang dia akan mengantar kami pulang. Dia juga mengajak Mako tetapi dia menolak.

Mako tersenyum padaku. "Lain kali hati-hati ya, Eva."

Aku mengangguk. Aku mengucapkan terima kasih padanya sekali lagi. Dia pun pergi.

Aku menoleh pada Amuro. "Terima kasih sudah datang." Aku menjelaskan kenapa aku tak ingin memanggil orangtuaku datang. Aku tak ingin mereka tahu bahwa lagi-lagi aku terlibat masalah dan terluka. Aku tak ingin membuat mereka khawatir. Alasan resminya sih begitu...tapi kenapa aku malah memanggil Amuro? Mau tak mau aku mencurigai alasanku memanggil Amuro tidak murni karena aku perlu bantuannya. Apakah aku hendak mencari perhatian darinya? Ah, tidaklah! Berhenti berpikir negatif, please!

Amuro tersenyum kepadaku. "Tidak masalah. Aku memang lagi sempat. Aku juga sudah pernah bilang padamu bukan untuk tidak sungkan meminta bantuanku?" tuturnya. Dia lalu menatapku serius. "Untuk apapun..."

Aku menengadah menatap orang itu. Aku tidak bisa mengindentifikasi emosi yang kurasakan saat itu. Aku masih merasa seperti agak kebas. Apa ini efek obat yang aku minum yah? Atau aku yang rada-rada...?

"Kak Amuro, bukan?" panggil Miyuki mendadak dengan lirih.

Aku dan Amuro menoleh kepadanya. Miyuki kelihatan agak kagok dipandangi. Dia menelan ludah dan berkata, "Kak Amuro, kata Yuka, kau seorang detektif."

Amuro tersenyum ramah kepada anak itu dan mengonfirmasinya.

Miyuki kelihatan agak terganggu akan suatu hal. Dia memandangiku dengan tatapan memelas.

Aku jadi bingung. "Ada apa, Miyuki?"

Yuka juga menatap Miyuki penasaran.

"Aku...aku rasa tadi...bukan kecelakaan...aku sepertinya...melihat ada yang mendorongmu, Eva." tutur Miyuki dengan takut-takut.

Aku membelalakan mata dengan kaget. Soalnya hal itu sama sekali tidak melintas dikepalaku. Saat kejadian, peron itu memang sedang penuh dan agak berdesak-desakan. Mungkin saja ada yang tidak sengaja membuatku kedorong ke depan. Tetapi mendengar Miyuki mengatakan bahwa ada yang sengaja mendorongku...

Ya, mengingat kejadian yang menimpaku selama ini, sepertinya memang ada orang diluar sana yang menginginkan kematianku dan ada pihak yang menyelamatkanku, mungkin? Semuanya masih tidak jelas.

Bagaimana aku harus bereaksi dalam situasi ini ya? Aku ingat kejadian di taman bermain, pria yang menenggelamkanku ke dalam kolam. Sepertinya aku masih dalam penyangkalan akan realita yang kuhadapi di dunia ini.

Normalnya, aku seharusnya memberitahu polisi dan meminta perlindungan, bukan? Atau menyewa detektif untuk menyelidiki? Tetapi, penyelamatku yang waktu itu jelas-jelas mengatakan untuk tidak memberitahu kebenaran pada polisi. Banyak mata tertuju padaku. Aku jadi merinding. Kenapa aku mempercayai penyelamatku yang tak bisa tulus memperlihatkan dan memperkenalkan dirinya?

Aku jadi melamun sementara Amuro menanyai lebih jauh pernyataan Miyuki. Amuro bahkan meminta petugas stasiun untuk memperlihatkan cctv saat kejadian tadi. Miyuki tidak melihat jelas orang yang mendorongku, dia hanya melihat sepasang tangan berlengan balutan baju hitam.

Aku memandangi Amuro dengan kebingungan. Dia benar-benar menyelidiki hal ini? Jika ini adalah kesengajaan, mau tidak mau dia pasti akan menginfokan Papa dan Mama. Aduh...

Prioritasku bagaimana? Jika benar ini kesengajaan, bukankah lebih baik jika Amuro bisa menanganinya? Aku ingin selamat, bukan? Iya kan?

Ah, aku ini kenapa?

Aku memegangi kedua sisi pelipisku, merasa sakit kepala, merasa terbebani, merasa lelah.

Amuro berhasil meyakinkan petugas untuk memperlihatkan cctv kejadian tadi. Akan tetapi, sekitar 5 menit sebelum kejadian, mendadak rekaman cctv itu menggelap dan hanya nyala kembali saat Mako sudah berhasil membawaku naik keatas peron.

Kami semua melongo kebingungan. Apakah ada yang merekayasa rekaman ini? Bisa pas amat tidak terekam saat kejadian? Ini aneh, bukan?

Amuro menekan jeda pada rekaman sesaat sebelum kamera menggelap. Dia memandang tajam kerumunan saat itu. Apa dia menemukan sesuatu?

Mendadak dia menjauhi kami dan menelepon seseorang dengan HP-nya. Aku memperkirakan dia menelepon bawahannya, pria berkacamata yang kalau tidak salah bernama Kazami.

Amuro lalu bersikap seolah-olah dia menyerah karena rekaman rusak, dia tak bisa menyelidiki lebih jauh.

Miyuki juga diam saja memandangi rekaman yang dijeda.

Amuro berterima kasih pada petugas lalu mengajak kami pulang.

Aku memandangi Amuro dengan curiga tetapi aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa.

Setelah mengantar Miyuki dan Yuka, tinggal aku sendiri dengan Amuro. Aku merasa canggung. Pikiranku sudah mulai menjernih saat ini. Aku menahan diri untuk tidak meminum dosis obat selanjutnya karena aku tak ingin orang ini tahu bahwa aku ada minum obat medis sekarang. Aku tak ingin dia tahu saja pokoknya.

"Kak Amuro..." panggilku.

"Hmm? Ada apa, Eva?"

"Apa tadi kau menemukan sesuatu pada rekaman?" tanyaku. Aku tak bisa menahan rasa penasaranku akan hal itu.

Amuro mengelak dan mengatakan rekaman itu rusak jadi dia tak bisa berbuat banyak. "Apa Eva merasa nyawa Eva dalam bahaya?" Dia malah balik bertanya. "Apa Eva bisa memikirkan alasan untuk motif seseorang ingin mencelakaimu?"

Aku menjadi gugup. "Tentu saja tidak. Aku hanya anak kecil biasa. Mana mungkin ada yang mengincar nyawaku?" Aku tertawa renyah.

Amuro melirikku sekilas sebelum memfokuskan pandangan pada jalanan didepannya.

Aku baru teringat akan anak kecil pencuri kalung, tentang situasi kekerasan pada diri anak itu. Aku agak malu karena sebelumnya saat mengejar anak itu, aku tidak ada menginformasikan kecurigaanku bahwa ada yang menganiaya anak itu pada Amuro. Saat itu, aku terlalu fokus pada kalungku. Dan setelah mendengar tentang gadis yang mengambil kalungku, aku melupakan sama sekali soal anak itu.

"Kak Amuro, soal anak yang mencuri kalungku...aku rasa dia...apakah dia akan baik-baik saja?" tanyaku. "Aku rasa dia...ada yang melukai dia..."

Amuro tersenyum. "Jangan khawatir. Aku sudah menghubungi komisi perlindungan anak. Dia akan baik-baik saja."

Ah, tentu saja, orang ini menyadari situasi anak itu tanpa perlu kuberitahu. Rei Furuya memang hebat. Aku tersenyum agak terpesona pada dia. "Kak Amuro memang luar biasa..." pujiku.

Amuro mengulum senyum. "Anak itu mencuri kalungmu dan Eva masih saja bisa mengkhawatirkan dia. Eva yang benar-benar luar biasa."

Wajahku memanas mendengar pujian dari dia. Ya, itu pujian, bukan? Atau aku kegedean ego-nya?

Untunglah akhirnya kami sudah tiba depan rumah karena aku merasa wajahku sungguh panas dan merah. Aku merasa malu dan senang bersamaan.

Aku mengucapkan terima kasih kepadanya dan segera turun dari mobil.

"Eva, datanglah lagi ke Poirot ya. Sudah lama sekali rasanya semenjak terakhir kau bertamu disana." ujar Amuro dengan senyum mendebarkan.

Aku hanya bisa manggut sekali dan menatap kepergian mobil tersebut. Aku mendesah.

Aku tak bisa menyembunyikan luka-luka yang kudapat dari Papa dan Mama. Aku bilang saja aku jatuh dijalanan. Aku tak berani mengatakan aku jatuh ke atas rel kereta api. Mereka bisa panik nanti.

Mama mengomeli aku untuk lebih berhati-hati.

Aku segera mandi dan masuk kamar, membaringkan badan diatas ranjang dengan hati berbunga-bunga, melupakan dosis obat yang harus kuminum karena aku sibuk cekikikan sendiri saat memikirkan seorang Amuro.

777

Siang itu, aku sedang berada dirumah keluarga Kudo, les dengan Subaru.

Karena obat yang ku minum hari itu, aku menjalani jam les berusaha memerangi rasa kantukku.

Subaru memandangiku dengan cermat. "Kau tak apa-apa, Eva?"

"Hmm, aku hanya sedikit mengantuk. Semalam aku begadang nonton film." Aku berbohong akan alasanku mengantuk. Aku minum obat medis adalah masalah pribadiku sendiri. Subaru tak perlu tahu.

Saat jam istirahat, Subaru pergi ke dapur untuk mempersiapkan biskuit dan teh manis untuk snack hari itu.

Aku mendengar getaran keras dari HP-ku yang dalam mode silent. Ada telepon dari nomor yang tidak ku kenal. Aku menerima panggilan telepon. Aku tercengang saat mendengar suara aneh dari pembicara ditelepon. Sepertinya orang ini memakai alat pengubah suara karena suaranya sungguh aneh, hampir seperti suara chipmunk.

"Kau benar-benar bodoh. Kau tidak seharusnya memberitahu dokter itu apapun tentang 'mata' itu."

Tubuhku serasa membeku mendengar perkataan orang itu. Aku mengerjap-ngerjapkan mata dan menelan ludah dengan tenggorokan tercekat. "Ini siapa?"

Untuk sesaat, orang itu tidak menjawab. "Berterima kasihlah aku sudah mengurus dokter itu untukmu."

"A-apa maksudmu?" tanyaku. Aku menggelengkan kepala dengan keras berusaha fokus pada perkataan orang ditelepon. Apa maksud perkataan orang ini? Apakah dia melakukan sesuatu pada psikiaterku? Hanya psikiater aku rasa dokter yang dia maksudkan, bukan?

"Jangan memberitahu siapapun soal 'mata'-mu. Kau tidak tahu siapa kawan siapa lawan."

Telepon ditutup oleh orang itu.

Aku merasa agak tegang tetapi pikiranku serasa berkabut. Aku tak bisa fokus! Tapi entah kenapa nafasku juga serasa sesak. Apa maksud orang itu? Kenapa dia tak mau menjelaskan lebih rinci klaim dia soal kawan atau lawan? Kenapa dia bertekad sekali untuk bersikap tidak jelas seperti itu? Rasanya aku ingin memaki orang itu.

"Eva?" panggil Subaru yang sudah kembali. Dia memanggilku dengan suara yang menampilkan rasa khawatirnya. "Kau tak apa-apa? Kau kenapa?"

"Kakak, aku tak enak badan. Aku mau izin pulang lebih awal, bolehkah?" tanyaku.

"Aku akan mengantarmu pulang."

"Aku tak apa pulang sendiri!" cetusku.

Subaru memandangiku dengan tajam. "Aku tak bisa membiarkanmu pulang sendiri. Kau kelihatan seperti sudah mau pingsan, Eva."

Aku menatap dia, merasa letih mendadak. Aku tersungkur ke lantai.

Subaru buru-buru berusaha menahan tubuhku. "Kau kenapa? Apa kau merasa sesak nafas?"

Aku benar-benar tidak baik-baik saja. Aku sulit bernafas dan aku juga merasa mual.

Subaru menginstruksikanku untuk mengikuti tata cara bernafas dengan baik saat mendapat serangan panik.

Setelah beberapa saat, nafasku sudah mulai normal lagi. Subaru menyuruhku meminum teh hangat yang dibuatnya. Dia memandangiku dengan penuh kekhawatiran.

Aku menatap dia penuh rasa syukur dan juga rasa bersalah. Aku ingin mengatakan soal percakapan telepon tadi padanya, ingin mengatakan semuanya yang kusembunyikan kepadanya. Aku benar-benar perlu bantuan dari Subaru atau Amuro atau mungkin juga Conan. Tetapi, orang di telepon tadi jelas-jelas memperingatiku untuk tidak memberitahu siapapun soal mata shinigami-ku.

Aku tercekat menyadari bahwa orang ditelepon itu, siapapun dia, mengetahui soal mata-ku. Ah, pikiranku benar-benar sungguh mumet. Aku tak bisa berpikir jernih. Efek obat atau bukan, pikiranku terlalu bebal. Aku tak berdaya memikirkan resolusi masalahku sama sekali.

Subaru akhirnya mengantarku pulang ke rumah. Dia agak memaksa karena dia khawatir aku kenapa-kenapa dijalan dan nantinya harus bertanggung jawab kepada orangtuaku jika terjadi sesuatu padaku setelah dia memulangkanku dalam kondisi tidak sehat.

Aku terpaksa mengalah dan mengikuti keinginan dia. Kami berjalan dalam diam. Aku mengusap-ngusap mataku seakan ingin mengusir kabut yang menyelimuti pikiranku. Orang normal dan baik seharusnya akan pergi untuk mengecek keadaan dokter yang diancam orang tadi tetapi aku malah tidak melakukan apapun. Jauh dilubuk pikiranku yang terdalam, pikiran gelap menguasaiku. Biarkan saja, wanita itu memang berwarna kuning, bukan? Dia akan mati cepat atau lambat. Tapi, ancaman orang tadi...apakah mungkin dia bermaksud menghabisi psikiater itu? Tidak mungkin, bukan? Jadwal kematian wanita itu masih dua hari lagi...

Tanpa sadar, aku menggenggam lengan Subaru. Dia tak mengatakan apa-apa soal itu, juga tidak menepis tanganku.

Aku harus bagaimana? Ah, kenapa sulit sekali untuk fokus? Obat sialan! Aku menyalahkan obat itu atas tindakan-ku yang serba lambat. Tetapi, jika saat ini aku sedang tidak dalam pengaruh obat, apakah aku bisa mengambil sebuah keputusan atau tindakan soal wanita itu? Bagaimana jika diriku, pada dasarnya, memang orang egois yang tak akan menolong orang lain? Bagaimana jika aku ini bukan orang baik pada dasarnya? Bagaimana jika aku ini termasuk orang yang hanya bisa melongo saja saat melihat orang dalam kesulitan dan tidak akan bertindak menawarkan bantuan atau menolong?

Ugh, kepalaku sakit. Aku ini bukan siapa-siapa. Kenapa aku selalu berpikir aku harus bertindak layaknya tokoh utama yang heroik? Inilah akibat dari kebanyakan menonton film atau membaca manga dimana tokoh utama bersifat heroik. Tidak segampang itu berusaha mempertaruhkan hidup demi bersikap heroik. Aku harus menerima bahwa aku hanyalah seorang pengamat. Tidak semua orang memiliki keberanian yang secara aktif melakukan tindakan berpositif.

Sepertinya efek obatnya sudah berkurang karena kegelisahanku kembali mengeluarkan kejelekanku.

Sesampainya didepan rumahku, aku mengucapkan terima kasih pada Subaru.

Subaru mengelus kepalaku dengan lembut sebelum dia jongkok dihadapanku. "Eva, kau kelihatan sungguh tidak sehat, jagalah dirimu baik-baik dan...tawaran bantuan saya masih berlaku...kapanpun itu..."

Orang ini sungguh baik, masih saja menawari bantuan dan aku malah mencueki dia.

Tanpa pikir panjang, aku memeluk orang itu. Sepertinya, hari ini aku jadi lebih berani dalam melakukan kontak. Aku mengucapkan terima kasih padanya dan meminta maaf tetapi aku tak mengatakan alasanku meminta maaf. Tapi dia sepertinya mengerti...mungkin... Aku belum bisa bersikap jujur dan meminta bantuan dia saat ini, khawatir akan komplikasi dalam meminta bantuan kepadanya.

Aku melepaskan dia, mundur beberapa langkah dan membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat lalu aku berpamitan. Aku tak berani melihat raut wajah dia saat itu.

777

Malam itu, Papa memberitahuku bahwa sesi ke psikiater dibatalkan karena suatu masalah. Aku terbelalak dan segera menanyakan alasannya. Papa terlihat enggan memberitahu tetapi aku merengek meminta informasi lebih lanjut.

Katanya, klinik psikiater itu kebakaran dan sepertinya psikiater itu terjebak dalam kebakaran tersebut. Saat ini wanita itu, Rumi Tsukasa, selamat tetapi dalam keadaan koma. Aku mengerutkan kening memikirkan hal ini. Wanita itu hidupnya dalam bahaya 2 hari lebih cepat dari jadwal, dia hampir mati tetapi dia selamat. Apakah berarti 2 hari lagi adalah penentuan apakah dia benar selamat dari kritis atau tidak?

Bagaimana dengan orang yang meneleponku itu? Apakah dia tahu soal Rumi Tsukasa selamat? Apakah dia akan datang dan menghabisi dia dalam 2 hari ini? Apakah orang itu yang menyebabkan kebakaran?

Lalu, dia bilang aku tak bisa membedakan kawan atau lawan. Apa dia berpikir dia itu kawanku? Apa dia benar kawanku?

Terlalu banyak pertanyaan, tak ada jawaban. Sungguh menyebalkan. Dan aku juga tak tahu apakah aku menanyakan pertanyaan yang tepat atau tidak. Seandainya saja kemampuan analisaku setajam Conan... Hah, aku sama sekali tidak bisa beranalisa. Aku terlalu dangkal.

Catatan Penulis: Terima kasih yang sudah terus setia membaca petualangan Eva. Memang makin lama makin agak mengganggu tema ceritanya. Semoga saja situasi hidup akan segera membaik. Terima kasih yang sudah meninggalkan supporting comment/review.

Semoga saja cerita ini masih cukup menarik untuk diikuti. Saya tahu plot ceritanya agak lemah dan bolong-bolong, mohon dimaklumi. Cerita ini dibuat untuk kesenangan semata saja, juga untuk mengalihkan pikiran dari masalah-masalah yang tak mengenakkan hati semacam terapi gitu... Lebih baik fokus ke Amuro dan Subaru saja deh.?

Maaf sebelumnya saya tidak pandai menceritakan dengan baik jadi kedepannya mungkin tambah gaje.

Mohon maaf juga jika ada tulisan yang menyinggung hati.

Yang masih suka cerita ini jangan lupa meninggalkan banyak supporting commentnya ya biar saya jadi bisa baca ulang-ulang juga sebagai pendorong semangat.?