Aku menemukan video amatir soal kebakaran klinik milik Rumi Tsukasa. Berkat video itu, aku bisa memperkirakan di rumah sakit mana wanita itu berada. Aku pergi ke rumah sakit itu keesokannya sepulang sekolah tetapi aku kaget saat hendak mendekati ruangan dimana wanita itu berada, didepan ruangan itu ada 2 orang dewasa berpakaian serba hitam bertampang serius bagaikan pengawal.
Apakah mereka polisi yang ditempatkan untuk menjaganya? Tetapi mereka tidak terlihat seperti polisi. Aku tidak jadi mendekati ruangan itu, merasa terintimidasi.
Aku mengusap mataku lagi saat merasa pandanganku agak buram. Aku mulai merasa mengantuk lagi. Aku pergi ke toilet untuk mencuci muka.
Tak disangka, aku bertemu Conan disana. Aku heran kenapa dia bisa ada disana. Sepengetahuanku tidak ada kasus yang berkaitan dengan rumah sakit lagi dalam manga Conan yang setelah kejadian dimana Amuro berusaha membuktikan bahwa Subaru adalah Shuichi Akai.
Ya, aku memang tidak hafal sih jadi mungkin saja benar ada. Conan menanyakan juga alasanku berada disana. Aku menjawab jujur bahwa aku mencari kenalanku yang masuk ke rumah sakit ini.
Conan yang pada dasarnya ingin tahu segala sesuatu menanyakan soal kenalanku itu. Aku agak enggan memberitahu dia soal psikiater-ku itu tetapi aku tidak bisa memikirkan kebohongan cermat ditempat. Akhirnya, malah kukatakan yang sebenarnya soal psikiater.
Ah, kenapa aku malah merasa seperti terdorong untuk memberitahunya? Aneh, padahal aku tak berniat mengatakan apa-apa. Aku memijat-mijat kedua pelipis-ku. Fokus, Eva, fokus! Aku memberitahu Conan bahwa psikiaterku mengalami kecelakaan. Aku tidak mengatakan soal kebakaran. Aku tak ingin dia menyelidiki soal itu.
Saat itulah, seorang pria keluar dari kamar dimana Rumi Tsukasa berada. Pria itu memerintahkan kedua orang yang menjaga didepan agar tidak membiarkan siapapun masuk.
Pria itu menoleh mendadak ke arahku dan Conan. Pandangannya sangar dan tajam membuatku tercekat. Tetapi pria itu pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Entah kenapa aku merasa pria itu seperti tidak senang akan keberadaanku. Apakah aku yang sensi ya?
"Kak Eva, apa kau mengenal orang yang tadi?" tanya Conan.
Aku lupa bahwa ada dia disampingku. "Aku tak tahu siapa orang itu." Ya, aku tidak tahu siapa orang itu tetapi aku sudah melihat data diatas kepalanya jadi aku tahu nama orang itu.
Ya, sepertinya aku tak akan bisa menemui Rumi Tsukasa tapi sepertinya dia akan aman saja, mungkin, mengingat pria itu menempatkan penjaga di depan kamar. Tetapi, apa hubungan pria itu dengan wanita itu?
Ah, sudahlah. Aku mendesah.
"Kak Eva, tidak jadi menemui psikiater Kakak?" tanya Conan.
Aku bingung harus menjawab apa. "Sepertinya tidak jadi... Aku akan pulang saja. Kau sendiri apa akan segera pulang, Conan?"
"Urusanku disini sudah selesai. Apakah Kak Eva akan mampir ke Poirot?"
Urusannya sudah selesai? Memangnya Conan disini karena apa ya? Aku tetap tak bisa mengingat kasus apa yang mungkin dia temui di rumah sakit ini.
Aku tahu bahwa ada 1 set manga detective conan special yang style gaya gambarnya agak berbeda dengan manga yang utama. Jika manga-manga tersebut terhitung canon, mungkin saja ada banyak kasus-kasus yang tidak kuketahui karena aku tidak membaca manga tersebut.
Aku tersenyum. "Ya, boleh juga, kalau begitu bagaimana kalau kita kesana bersama-sama?"
Conan tersenyum dan mengangguk. Wah, dia sungguh kelihatan imut saat itu. Aku jadi merasa seperti punya adik lelaki kecil. Kami pun berjalan bersama menyusuri lorong rumah sakit untuk keluar.
Saat itulah, aku melihat seorang wanita berambut pirang berombak, berpakaian serba hitam, berkacamata hitam dan memakai topi lebar hitam. Dia kelihatan anggun. Untuk sesaat, dia kelihatan mirip Vermouth tetapi aku tahu itu bukan dia karena aku tak bisa melihat data apapun diatas kepalanya...yang berarti dia...
Aku terpaku sesaat memandang wanita itu sebelum aku menundukkan kepala. Aku berusaha menenangkan diriku. Jangan bersikap dramatis. Jalan biasa saja dan jangan bertatapan mata dengannya.
Aku mengalihkan perhatianku ke arah Conan dan anak itu seperti menyadari bahwa aku kelihatan tidak tenang.
"Kak Eva, kau tak apa-apa?" tanyanya dengan nada kekanak-kanakan.
Aku merasa kepala-ku pusing. Aku berusaha fokus pada Conan saja walau seluruh tubuh menegang mengakui rasa takutku saat wanita itu melangkah semakin dekat ke arah kami. Sesaat sebelum wanita itu melewatiku, aku bersumpah aku seperti melihat wanita itu tersenyum sendiri tetapi entah kenapa aku merasa senyumnya itu ditujukan kepadaku.
Bahkan setelah dia melewatiku, aku masih tercekat. Aku berusaha mengatur nafasku. Aku merasa agak lemas. Aku tak berani menoleh untuk melihat apakah wanita itu masih didekat sana atau sudah menjauh tak terlihat.
Conan memegangi tanganku yang terasa dingin saat dipegangnya. "Kak Eva, apakah kau sakit?"
Aku menggelengkan kepala. "Aku tak apa-apa." Aku memejamkan mata berusaha untuk fokus. "Ayo, kita ke Poirot. Aku akan mentraktirmu makan kue disana, bagaimana?"
Conan memandangiku dengan ekspresi yang tidak kuketahui jelas. Dia perlahan tersenyum dan mulai bertingkah kekanak-kanakan. "Ditraktir? Asyik!"
Aku tersenyum lega dan menggandeng tangan anak itu tanpa pikir panjang. Dia tidak menolaknya, mungkin dia melihatku yang kelihatan tidak sehat dan merasa kasihan.
Aku memenuhi janjiku dan mentraktir Conan makan kue buatan Amuro.
Amuro terlihat heran melihatku bisa datang berduaan dengan Conan tetapi dia tetap menyambut kami dengan ramah.
Aku tidak terlalu fokus pada keduanya karena pikiranku mau tak mau melayang pada wanita tadi. Wanita itu shinigami, bukan? Dia jelas-jelas melihatku tetapi apakah dia menyadari kejanggalan pada diriku? Lalu, senyum dia tadi...apa maksudnya? Apa aku salah lihat kali ya?
777
Aku tidak mengira ada yang mem-viralkan kejadian saat aku jatuh di stasiun kereta. Untungnya, video itu tidak begitu jelas. Wajahku juga tidak begitu terlihat karena tertutup rambutku yang sedang tidak diikat. Sosok Mako juga lumayan terlihat saat dia melompat ke atas rel untuk menolongku.
Aku mengetahui soal video itu dari Yuka. Walau hanya beberapa detik, Yuka dan Miyuki terlihat jelas mengerumuni aku saat Mako berhasil menarikku naik ke atas peron.
Beberapa anak memandangiku dengan penasaran. Mereka sepertinya menyadari anak dalam video itu adalah aku.
Yuka kelihatan kesal karena judul videonya menghinaku.
Anak bandel jatuh ke atas rel kereta api, diselamatkan remaja pria.
"Anak bandel? Ini orang pasang judulnya tidak pakai otak ya?" maki Yuka dengan kesal. "Jika dia punya waktu untuk merekam, mestinya dia turun menolong Eva! Dasar!"
Aku sama sekali tidak terganggu soal judul video itu. Tapi, aku jadi khawatir bahwa Papa dan Mama mungkin akan jadi mengetahui soal aku jatuh. Aku agak geli juga dengan judulnya. Anak bandel? Menulis asal tanpa fakta yang jelas...beberapa orang memang konyol mencari sensasi seperti itu.
Tapi, yang Yuka katakan memang benar. Banyak orang dewasa di peron kereta saat itu tapi tak satupun bersedia turun untuk membantuku. Malah mereka ribut sendiri disana dan hanya memandangiku yang tak berdaya dibawah sana. Iya, aku mengerti sih turun kesana agak berbahaya pasti mereka takut juga dilindas kereta, bukan?
Tentu saja, kebiasaan buruk orang-orang saat ini adalah merekam suatu kejadian yang mereka lihat tanpa melihat dulu situasinya. Mereka lebih memilih merekam untuk mengabadikan momen tersebut ketimbang beraksi untuk menyelamatkanku.
Jika tak ada Mako saat itu... Hiih!
Yuka tambah geram saat membaca komentar dalam laman video tersebut. Aku ikut membaca dari belakang dia karena penasaran juga apa yang membuat dia kesal. Aku terperangah saat membaca komentar asal yang mengatakan akan lebih baik jika videonya menangkap momen saat aku ditabrak kereta, lebih seru. Heran, mentang-mentang bisa bersembunyi dibalik nama palsu, orang-orang mau asal komentar saja, tidak peduli menyakitkan atau tidak.
Hal ini agak menggangguku. Orang itu benar-benar mengharapkan video itu tentang kematianku daripada aksi heroik penyelamatan?
Ada beberapa yang memuji Mako. Ada yang mengatakan peron itu kepenuhan seharusnya petugas melakukan sesuatu supaya tidak terjadi kecelakaan seperti itu. Semua orang tentu punya opini masing-masing.
Aku menyuruh Yuka untuk berhenti membaca komentarnya.
Miyuki tidak berkata-kata. Dia kelihatan muram. Apa dia masih memikirkan kejadian saat itu? Dia benar-benar melihatku didorong secara sengaja? Aku melempar senyum ramah kepadanya. Aku tak ingin dia berpikir bahwa aku tidak mempercayai perkataan dia.
Terakhir aku bertemu Amuro, dia tak ada mengatakan apapun soal penyelidikannya tentang kejadian yang menimpaku di stasiun kereta. Apa dia diam-diam masih menyelidikinya tapi tak mau memberitahuku hasil penyelidikan ataukah memang dia menganggap kejadian itu benar kecelakaan semata?
Aku ingin menanyakan hal itu tapi aku tak ingin membuat dia tambah curiga denganku jadi aku memutuskan untuk diam saja. Dan lagi, aku sendiri merasa kejadian itu murni kecelakaan saja, tapi...melihat Miyuki, aku tidak merasa dia berbohong soal itu?
Ah, sudahlah, aku tak bisa melakukan apapun soal itu.
Siang itu, seusai sekolah, Ayumi mendatangi dan menanyakan soal video itu. Rupanya dia memperlihatkan video itu pada Conan dan anak itu menganalisanya, mengetahui bahwa anak kecil dalam video adalah aku. Tidak sulit kurasa karena Yuka dan Miyuki terlihat jelas di akhir video sedang mengerumuniku dan orang yang mengenalku tahu bahwa mereka adalah teman dekatku saat ini.
Aku harap keramaian video itu segera pudar secepatnya.
Papa dan Marah sangat marah padaku karena merahasiakan insiden kereta api. Aku tidak tahu apakah semeriah itu videonya sampai akhirnya mereka tahu juga. Papa menegurku tidak boleh menyimpan rahasia pada orangtua. Ha-ha, jika saja mereka tahu rahasia terbesar yang kusimpan adalah bahwa aku bukanlah Eva yang anak asli mereka.
Mereka tertarik pada Mako saat mengetahui bahwa aku mengenal remaja pria yang menolongku. Mereka ingin berterima kasih secara langsung pada Mako. Tetapi, aku tidak memiliki nomor telepon Mako. Kami selalu bertemu secara kebetulan saja tiap kali. Ya...kebetulan saja, bukan?
Aku menggeleng-gelengkan kepala keras-keras seakan ingin mengusir pikiran negatif akan Mako dari dalam kepalaku. Aku tak ingin mencurigai orang yang sudah menyelamatkanku. Lagipula, kami bertemu secara kebetulan pasti wajarlah, kami tinggal di kota yang sama, bukan?
Mama bilang agar mengundang Mako lain kali saat bertemu lagi. Aku mengiyakan.
777
Obat medis yang diberikan Rumi Tsukasa hanya untuk dosis 2 minggu. Aku menatap obat tersebut yang sudah tidak tersisa banyak. Obat itu cukup membantu kecemasanku.
Aku tahu nantinya jika obat itu habis, jika aku ingin lagi, aku harus mendatangi psikiater lain yang bisa memberikan resep izin menebus obat. Obat itu tidak bisa sembarang dibeli tanpa resep dokter karena obat keras. Ah, tapi aku agak sebal karena orang yang benar-benar membutuhkan obat itu seperti dipersulit saja. Ya, memang banyak juga yang bisa menyalahgunakan obat itu makanya mesti ada surat dokternya.
Tapi, apa aku akan benar-benar mau menumpukan diriku pada obat penghilang cemas ini? Aku khawatir akan kecanduan, nantinya jangan-jangan aku sama sekali tidak bisa mengontrol kecemasanku jika tidak minum obat.
Aku belum minum obat dosis hari ini. Aku berusaha mengingat keadaan pikiran saat aku minum obatnya. Aku agak sulit fokus dan cepat mengantuk tetapi aku seperti tidak begitu ambil pusing akan sekelilingku. Aku berusaha mengingat perasaanku saat itu dan berusaha menerapkannya tanpa minum obat. Ya, tentu saja hal itu agak sulit.
Aku mengantongi obat itu dikantong bajuku. Jika nanti aku tak kuat, aku akan minum obat itu. Aku mengatur jeda nafasku sambil menatap cermin dihadapanku.
"Kau bisa menjalaninya, Eva, semangat!" seruku pada bayanganku dicermin. Aku merasa saat itu aku merasa aku pasti bisa tapi secepat pemikiran itu muncul, langsung hangus juga. Aku tersenyum pahit. "Bisa, pasti bisa..." bisikku lirih.
Aku menjematkan badge pemberian Conan dibalik kerah bajuku. Aku mengambil tas selempangku dan tersenyum melihat gantungan kunci pemberian Subaru. Kedua benda ini selalu kubawa kemana-mana untuk jaga-jaga.
Untungnya aku bisa menjalani hari itu dengan baik. Dan kecemasanku tidak terpicu terlalu buruk. Tetapi, entah kenapa aku merasa tidak lengkap jika tidak minum obatnya. Soalnya obat itu membuat kesadaranku akan sekitar seperti lebih tumpul.
Bertahanlah, Eva, kau bisa tanpa bergantung pada obat...mungkin...
777
Aku melepas hoodie jaketku yang menutupi perawakanku setibanya di Poirot siang itu. Azusa yang menyambutku. Hari ini Amuro tidak ada, kata Azusa, dia izin ada urusan. Aku sedikit kecewa.
Aku melihat ada Conan, Ran dan Sonoko. Ran memanggilku untuk bergabung dengan mereka. Aku pun menuruti mereka.
Sonoko sedang heboh membicarakan Kaito Kid yang lagi-lagi ditantang oleh Paman Sonoko, aku lupa nama pamannya yang eksentrik itu.
Aku tertarik mendengar soal Kaito Kid. Semenjak tiba di dunia ini, aku belum pernah sekalipun bertemu langsung dengannya. Ya, agak tidak mungkin, bukan? Kaito Kid itu sudah seperti selebriti saja, pasti sulit ditemui.
Sonoko yang melihatku terlihat tertarik menawarkan agar aku ikut dia menghadiri acara dimana nanti Kaito Kid akan muncul. Tanpa pikir panjang, aku setuju.
Menilik pembicaran Sonoko tentang Kaito Kid tadi ini sepertinya kasus kotak musik yang katanya dibuat oleh seorang jenius. Aku ingat bagian ini karena ada cerita romansa dari seorang wanita tua dengan suaminya yang sudah meninggal. Ada buku diari yang ditulis oleh mereka berdua. Seingatku kasus itu cuma kasus biasa, tidak ada melibatkan pembunuhan apapun. Jadi mungkin tak apa-apa jika aku menghadirinya.
Aku penasaran juga dengan Kaito Kid. Dia juga awalnya tokoh favoritku sebelum Aoyama Gosho menciptakan karakter Shuichi Akai dan Rei Furuya. Aku suka Kaito Kid dan kemisteriusannya, keanggunannya dalam pakaian tuxedo berbalut putih.
Pada hari yang dimaksud, aku ditemani Papa pergi kesana. Kalau tidak salah, tempatnya seperti semacam perpustakaan yang besar. Papa agak heran melihatku memakai hoodie-ku sepanjang perjalanan tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Aku sengaja memakai hoodie yang lucu yang ada telinga kelincinya biar kelihatan alasanku memakai untuk keimutan padahal sebenarnya untuk menyembunyikan perawakanku.
Aku tidak mengira Subaru ada disana. Aku agak lupa bahwa dia juga akan hadir disana. Mungkin untuk mengawasi Ai? Atau ada alasan lain? Apa akan ada kejadian yang melibatkan organisasi hitam? Aku jadi meragukan ingatanku akan kasus Kaito Kid ini.
Subaru dan Papa bertukar percakapan. Dipikir-pikir, ini kali pertama Papa bertemu dengan Subaru yang merupakan guru lesku.
Didalam perpustakaan, tidak banyak orang jadi aku melepas hoodie-ku.
Ada Kogoro, Ran, Conan, Ai dan Prof Agasa juga disana. Aku memandangi data diatas kepala Prof Agasa. Nama diatas kepalanya adalah Kaito Kuroba. Ah, jadi dia menyamar jadi Prof Agasa.
Aku jadi tidak bisa berhenti memandang orang itu sambil tersenyum-senyum.
Prof Agasa menyadari tatapanku dan kelihatan agak canggung. Ya, Kaito Kid mana tahu siapa aku dan apakah Prof Agasa mengenalku atau tidak, bukan? Mungkin dia bingung bagaimana harus bereaksi padaku. Akhirnya, dia membalas senyumku dengan ragu-ragu. Aku mungkin terlihat creepy sekali di mata orang itu.
Berkat Sonoko, aku dan Papa diizinkan untuk ikut saat Paman Sonoko, Jirokichi, memperlihatkan jebakan yang dia buat untuk Kaito Kid, juga barang yang hendak dicuri oleh pencuri keren itu.
Paman Sonoko membawa kami ke sebuah ruangan tertutup yang berisi buku-buku. Katanya salah satu buku tersebut memiliki selembar kertas cara membuka kotak yang katanya ingin dicuri. Dia menyuruh semua orang membantu mencari kertas itu.
Aku berusaha mengingat-ingat akhir kasus ini bagaimana.
Semua orang mengambil buku untuk membantu mengecek. Aku tidak membantu mereka karena aku tahu Conan nantinya akan berdeduksi keberadaan kertas tersebut. Aku lebih memilih mengecek buku novel misteri yang ada disana.
Aku melihat Subaru sedang membaca sebuah buku novel. Aku menghampiri dia dan menanyakan cerita novel itu tentang apa.
Rupanya dia tertarik pada novel misteri itu karena dia belum pernah melihatnya. Dia memperlihatkan ringkasan cerita pada novel itu kepadaku. Dia dengan ramah menanyakan apa ada buku yang menarik perhatianku disana. Aku bilang bahwa aku masih mencari dan aku pergi meninggalkannya.
Aku menoleh ke arah Ai yang juga sedang membalik-balikkan halaman sebuah buku random yang diambilnya. Aku ingin juga bisa dekat dengan Ai tapi sikapnya yang kelewat dewasa membuatku terintimidasi. Dia hampir selalu kelihatan bosan dan mengantuk didekat orang-orang. Aku takut dia menganggapku membosankan.
Subaru menjadi pusat perhatian sesaat karena diketahui dia bisa memasak. Ai ada bilang dia lagi-lagi membagi hasil kari buatannya kepada dia dan Prof Agasa. Jadi, dia masih masaknya kari melulu?
Sonoko membicarakan soal Kaito Kid lagi, dia sangat ingin bertemu dengan si pencuri itu, dia bahkan memakai make-up biar kelihatan tambah cantik.
Aku melihat Conan celingukan melihat sekelilingnya seperti sedang mencurigai semua orang sebagai samaran Kaito Kid.
Aku senang saat melihat Conan mulai berdeduksi. Lalu, ada kehebohan karena dikatakan Kaito Kid berhasil mencuri dan bebas dari jebakan yang dibuat Paman Sonoko.
Aku tidak bisa menemukan penyamaran dari Kaito Kid tetapi aku melihat Conan dan Subaru keluar dari toilet berduaan. Aku baru ingat bahwa Subaru akan mendesak Kaito Kid untuk meninggalkan foto perawakan Subaru yang dia ambil untuk penyamarannya.
Buntutnya, aku kecewa juga karena tak bisa melihat Kaito Kid dalam balutan tuxedo putihnya. Aku mengatakan hal itu pada Papa yang tersenyum lalu mengajakku pulang. Dia mengajakku pergi beli makanan enak untuk menghiburku.
Aku berpamitan pada orang-orang yang masih disana. Aku melihat Subaru sedang mengamatiku dan Papa. Aku pun melambaikan tangan, mengatakan sampai jumpa padanya.
Aku menoleh pada Papa dan segera berceloteh tentang makanan apa yang ingin kami santap selanjutnya. Aku kembali mengenakan hoodie-ku.
Saat makan bersama Papa, dia memandangiku dengan cermat sambil tersenyum-senyum.
"Papa lega Eva kelihatan sudah agak segar lagi..." ucapnya.
Aku terhenyak mendengarnya, merasa tidak enak hati telah membuat orang ini khawatir terus. Ya, memang sebagai orangtua, dia pasti khawatir padaku yang merupakan anaknya walau aku ini palsu.
