Aku membuka mata dan mendapati kabut disekitarku. Aku tidak tahu dimana aku berada. Aku kebingungan memandang sekelilingku.

Dari kejauhan terdengar suara jejak kaki orang yang sedang berlari. Semakin lama suaranya makin mendekat. Aku hanya bisa berdiri terpaku memandang arah dimana dentuman suara jejak kaki itu bergema.

Tiba-tiba aku melihat seseorang berjubah hitam tersungkur jatuh. Orang itu menarik lepas tudung kepalanya dan ternyata orang itu Reina.

"Reina?" Aku memanggilnya. Aku langsung menjatuhkan diri didekat gadis itu.

Reina menoleh padaku. Aku agak kaget melihat ada darah pada pelipis dia. Dia kelihatan lelah dengan nafas terengah-engah seakan habis lari marathon. Kelihatannya dia juga kesakitan.

"Reina, kau kenapa?" tanyaku panik. "Kau terluka!" Aku kaget ternyata dewa kematian pun bisa terluka.

Reina memandangi dengan senyum tipis. "Syukurlah, aku berhasil menembus dindingnya..." Dia terlihat serius sekarang. "Dengar, Eva, sekarang kau sedang bermimpi. Aku memasuki mimpimu karena hanya ini yang sanggup kulakukan sekarang."

Perkataan Reina membuatku khawatir. "Reina, kau membuatku takut. Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kau lama sekali tidak muncul dihadapanku. Banyak hal terjadi padaku selama kau tidak ada. Aku..."

Reina memegang kedua lenganku dengan erat-erat. "Dengar, Eva, aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku telah dijebak. Reaper Council sedang mengejarku saat ini!"

"Dijebak? Apa maksudmu?"

"Mereka mengira aku pengkhianat dan mereka sekarang mengejarku untuk dieksekusi. Dengar baik-baik, Eva, mereka tahu tentangmu!"

"Apa?!"

"Mereka tahu ada jiwa yang ku bawa ke dunia lain tetapi mereka tidak tahu tepatnya identitasmu. Tetapi, mereka telah mengirim dewa kematian dari dunia nyata kesini untuk mencarimu. Ini penting, kau jangan sampai tertangkap."

Aku terperangah mendengarnya. Jantungku berdebar keras dan tenggorokanku tercekat parah. "Bagaimana aku bisa menghindari shinigami? Seseorang telah mencuri kalung jimat yang kau berikan padaku! Reina, di dunia ini apakah ada..."

Aku belum sempat berbicara ketika kami berdua mendengar suara jejak kaki dan kuda meringkik. Aku dan Reina saling berpandangan dengan wajah pucat.

"Mereka sudah dekat. Aku harus pergi dari sini."

"Reina..."

Reina menoleh kepadaku dengan senyum pahit. "Maafkan aku, Eva." Tiba-tiba dia mendorongku dengan kencang. "Kau harus bangun sekarang! Mereka tak boleh melihatmu sama sekali!"

Aku terpekik kaget saat aku mendadak jatuh seakan tanah yang ku injak menghilang dan aku jatuh terjun bebas. Aku hendak menjerit tetapi suaraku tidak keluar.

777

Aku membuka mataku saat aku merasakan diriku seperti mendarat kembali ke dalam tubuhku. Aku berada diranjang.

Ah, aku baru ingat aku masih dirumah sakit, bukan? Aku terkena demam parah dan harus dirawat inap disana.

Aku ingin bangun tetapi tidak bisa. Aku tidak bisa bergerak. Tenggorokanku kering dan pandanganku berkunang-kunang. Aku heran kenapa diruangan ini tak ada Papa atau Mama.

Tiba-tiba, aku mendengar suara jejak kaki mendekatiku. Aku memejamkan mata, merasa pelupuk mataku terasa berat sekali tetapi aku bisa mengintip sedikit walau penglihatanku agak kabur.

Seorang gadis berambut pirang berdiri memandangiku dengan tertarik. "Apakah kau sudah bangun?"

Aku tak berani menjawab. Aku pura-pura masih tidur.

"Kena demam setelah kejadian traumatik... Kau benar-benar anak kecil ya..." tuturnya mengutak-atik clipboard berisi file pasien tentangku yang dijepitkan di ujung ranjang.

Dia tersenyum dan berkata dengan nada mengejek, "Tapi, kita tahu bahwa kau bukan anak kecil benaran, bukan?"

Jantungku berdebur keras dan aku tak berani bergerak. Aku hampir saja tahan nafas saking takutnya tetapi aku tahu aku harus bertingkah seperti sedang tidur. Siapakah gadis ini? Dewa kematian-kah? Aku tak berani membuka mata lebar untuk mengecek apakah aku bisa melihat data diatas kepalanya atau tidak.

"Sulit, bukan, hidup seperti ini? Takut sekali bukan dikejar terus oleh mereka? Bukankah lebih merupakan kemurahan hati jika kau tidur saja selamanya? Tak perlu bangun lagi?"

Saat itu aku yakin bahwa gadis itu mungkin menyadari aku sebenarnya sadar. Aku ingin membuka mata tetapi aku tak bisa. Aku ingin bergerak tapi aku juga tidak bisa. Aku tercekat. Apakah ini mimpi? Mimpi buruk? Makanya aku tak bisa bergerak seperti lumpuh dalam tidur?

"Apa yang kau lakukan?" Tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki. "Jangan macam-macam dengannya."

"Aku cuma main-main saja. Lihatlah, anak ini tertidur begitu pulas."

"Sedang apa kau disini, Lizzie?"

"Aku hanya menjenguk saja. Dia salah satu dari kita, bukan? Kau sendiri sedang apa disini? Jangan-jangan kau berniat..."

"Jangan bicara sembarangan." sela lelaki itu. "Aku bukan orang bar-bar yang akan membunuh orang yang tak berdaya. Kita hanya akan memburu mereka yang memburu kita."

Aku tak bisa melihat jelas mereka sama sekali.

"Kau dan kalimat peganganmu itu... Kau tahu kau mencurinya dari film Teen Wolf, bukan?"

Aku tercekat mendengarnya. Teen Wolf adalah salah satu film seri yang hanya ada didunia nyata. Dengan ini, sudah terkonfirmasi bahwa mereka mungkin juga sama sepertiku, berasal dari dunia nyata.

Aku tidak tahu harus membuka mataku dan bercakap dengan mereka atau terus pura-pura tidur. Tetapi, sepertinya aku tak memiliki pilihan karena aku sama sekali tak bisa membuka mataku lebar-lebar, berbicara atau bergerak.

Aku sempat khawatir bahwa aku ini lumpuh. Atau, ya, ini hanyalah mimpi buruk makanya aku tidak bisa bergerak.

"Oh ya, kembalikan benda itu padanya."

"Kenapa? Bukankah akan lebih menarik sebagai percobaan apakah mereka benar akan menangkap jiwa anak ini?"

"Lizzie, anak ini tidak melakukan kesalahan apapun. Kita tak bisa membiarkannya ditangkap hanya karena kau penasaran."

"Ugh, terserahlah! Aku bosan, aku mau pulang saja." Gadis itu terdengar merajuk.

Aku mendengar langkah perginya gadis itu saat dia keluar kamar.

Lelaki itu menoleh padaku. Dia mendekatiku dan berbisik, "Kau seharusnya mengontakku dari sejak lama. Aku memberimu kartu itu untuk suatu alasan. Kau butuh jawaban, bukan? Kontaklah aku setelah kau sehat."

Dia melangkah pergi keluar kamar.

Mengontaknya? Kartu? Dia bicara apa? Aku berusaha membuka mata, ingin memanggil dia tetapi aku tak bisa. Akhirnya, aku menyerah dan membiarkan kegelapan menyelimutiku sepenuhnya saat aku pun kehilangan kesadaranku.

777

Seusai pemeriksaan fisik oleh Dokter siang itu, aku akhirnya akan diizinkan untuk pulang besok siang. Papa dan Mama sangat lega mendengarnya. Papa pergi untuk mengurus administrasi rumah sakit.

Seseorang berkostum tebal seperti karakter kartun random masuk ke kamar rumah sakit tempatku berada dan melambaikan tangan kepadaku lalu melakukan gerakan yang konyol.

Aku menatap orang itu dengan tatapan yang menghakimi. Apa-apaan ini orang?

Ada orang yang tidak kukenal sedang merekam orang berkostum yang menari didepanku. Rupanya mereka sukarelawan yang datang untuk menghibur anak-anak yang sedang sakit. Orang ini sudah sedari tadi mendatangi tiap kamar anak sakit satu per satu dan kebanyakan mendapatkan sambutan hangat.

Mama tersenyum melihat tingkah orang berkostum tersebut. Dia menoleh padaku dan mengelus lembut rambutku. Aku hanya bisa menghela nafas, ingin cepat-cepat orang berkostum itu untuk pergi saja ke kamar berikutnya.

Aku tidak mengenal karakter kartun dari kostum yang dipakai orang tersebut. Kalau Doraemon, aku masih tahu tapi karakter yang ini...aku tidak pernah melihatnya. Mungkin karakter baru.

Aku menatap orang berkostum itu dan menyadari bahwa aku tidak bisa melihat data-data diatas kepalanya. Apakah karena wajah dan matanya tidak kelihatan?

777

Sepulangnya dari rumah sakit, aku baru membalas pesan SMS yang kuterima dari Yuka, Miyuki, Ran, Sonoko dan Ayumi yang menanyakan keadaanku dan mendoakan kesembuhanku.

Tidak ada kabar dari Amuro. Ya, aku harus maklum aku bukan orang penting bagi dia, hanya seorang anak kecil random yang kebetulan 'memiliki' misteri yang sedikit menarik.

Ah, lagi-lagi aku berpikir merendahkan diri sendiri... Amuro itu orang sibuk, aku tak boleh mengharapkan dia terus mencariku.

Begini juga tak apa, bukan? Daripada dicurigai atau diinterogasi.

Membicarakan soal interogasi, tentu saja aku jadi gugup memikirkan seorang Subaru Okiya. Jelas-jelas saat kejadian, aku menelepon kontak dia tetapi malah yang muncul adalah Shuichi Akai.

Reaksi orang normal, bukankah aku mesti menanyakan kenapa jadi orang lain yang muncul menolongku? Bukankah aku seharusnya mempertanyakan hubungan Subaru dengan agen FBI itu? Atau lebih baik aku pura-pura bodoh saja? Tapi, apakah tidak tambah mencurigakan jika aku malah tidak mempertanyakan? Ugh, pusing!

Lalu, tiba-tiba aku jadi merasa malu sendiri saat teringat dulu aku pernah dengan blak-blakan 'menyatakan' rasa suka kepada 'Kak Shuu' didepan Subaru. Aku benar-benar tidak mengira bahwa Shuichi Akai akan menunjukkan wajahnya dihadapanku. Duh, tidak siap mental...

Padahal Subaru dan Shuichi adalah orang yang sama, bukan? Aku tahu benar itu. Busyet, sebenarnya apa yang ada dipikiranku saat itu pakai bilang-bilang suka orang itu? Ah, sudahlah, dia juga tak akan menanggapi ucapanku saat itu dengan serius. Menilik sikapnya, mana mungkin dia akan mengungkit soal itu, bukan? Jika dia akan menanyakan sesuatu, pasti dia akan menanyakan darimana aku tahu soal bom atau alasan kenapa aku diincar orang jahat.

Ah, tapi aku rasa kemungkinan untuk bertemu muka dengan Shuichi Akai tidak mungkin terjadi lagi. Bagaimanapun, dia saat ini masih harus menyembunyikan identitas dia, bukan? Dan sebagai Eva, aku hanya harus berpura-pura terus tidak mengetahui bahwa Subaru adalah Shuichi.

Tetapi aku penasaran bagaimana Subaru akan menjelaskan kenapa yang muncul malah Shuichi Akai? Dan apakah aku harus mengakui bahwa aku mengenal Shuichi sebagai Kak Shuu?

Aku merasa histeris saat teringat bahwa pada saat bertemu muka dengan Shuichi kemarin, aku malah menyebutkan nama lengkapnya. Seharusnya Eva tidak tahu soal nama Shuichi Akai. Eva hanya mengenalnya sebagai Kak Shuu. Kenapa aku sungguh 'pandai' menambahkan kecurigaan orang-orang padaku?

Aduuuuuh, Eva, kamu bego-nya selangiiittt! Aku memaki diriku sendiri sembari menjambak rambutku dengan gemas.

Aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Tenang, Eva, tenang. Mungkin saja Subaru juga tidak akan mengungkitnya. Mungkinkah? Orang yang juga seperti detektif itu, suka dengan teka-teki, tak akan berusaha memecahkan misteri di balik seorang Eva? Apalagi secara jelas, aku menyimpan rahasia yang membuatku ditargetkan.

Jika Eva hanyalah anak normal biasa, dia tak akan menjadi target beberapa orang gila. Tetapi kenyataannya aku tidak normal, bukan?

Aku menggeleng-gelengkan kepala keras-keras seakan melakukan itu bisa mengusir jauh-jauh semua pikiran yang mengganggu.

Aku menghela nafas keras-keras sebelum berbaring diranjang.

Saat itulah aku teringat mimpiku soal Reina. Reina bilang dia masuk dalam mimpiku dan memberiku peringatan bahwa shinigami dari dunia nyata akan datang ke dunia ini untuk mencariku.

Aku merasa bulu kudukku merinding saat rasa takut yang dingin menggerogotiku. Kenapa malah makin banyak masalah yang menghampiriku?

Reina sepertinya sedang dalam pelarian dari para dewa kematian di dunia nyata dan sudah jelas dia tak akan bisa mendatangiku dulu.

Aku merasa gugup memikirkan nasib Reina. Aku harap dia selamat dan bisa menemukan suatu cara untuk kembali padaku.

Aku menuturkan sebuah doa kepada Tuhan atau Dewa, kepada siapapun yang berkuasa di atas sana dan dapat mendengarku, agar melindungi Reina dan aku.

Dipikir-pikir, aku dan Reina itu...semacam penjahat juga ya.

Reina yang menyelamatkan jiwaku dan meletakkanku di dunia ini untuk menghindari tanggung jawab dari melakukan kesalahan karena mencabut nyawaku dan aku sendiri yang mencurangi kematian dan memakai tubuh gadis kecil ini.

Di dunia nyata, mungkin aku korban tetapi di dunia ini, aku jiwa ilegal yang mencurangi kematian via tubuh ini dan bisa dibilang penjahat juga kah?

Ugh, kenapa aku selalu memikirkan hal-hal yang diluar kontrolku sih? Masih mending jika memikirkannya aku dapat solusi, yang ada aku dibuat stres sendiri!

Aku mendesah lagi keras-keras. Aku menatap langit-langit kamar dan terpikir soal pengunjung rahasiaku dirumah sakit kemarin, yang mungkin benar terjadi atau sekedar halusinasi/mimpi...tentang dua orang yang kemungkinan bernasib sama denganku. Ya, masih belum jelas sekali sih.

Aku memikirkan percakapan kedua orang itu dan aku mendadak bangkit duduk saat aku teringat perkataan terakhir lelaki itu.

Kartu?

Untuk sesaat aku terbengong-bengong memikirkannya sebelum mataku membelalak lebar dan aku menghambur berdiri dari ranjang. Aku langsung mengobrak-ngabrik laci meja riasku.

Dengan gemetaran, aku mengambil kartu nama di dasar laci. Nama yang tercantum adalah Caleb Harvest dan ada nomor HP juga tertulis disana.

Aku teringat perkataan lelaki itu. "Kau seharusnya mengontakku dari sejak lama. Aku memberimu kartu itu untuk suatu alasan. Kau butuh jawaban, bukan? Kontaklah aku setelah kau sehat."

Aku berusaha mengatur nafasku yang tiba-tiba terasa sesak.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan tidak percaya akan kebodohanku selama ini. Aku menjambak rambutku sembari membatinkan makian kepada diriku sendiri.

Jika saja aku menghubungi nomor pada kartu ini sejak dulu, aku mungkin sudah akan mendapat jawaban yang kucari selama ini. Aduh, Tuhan, aku tidak kuat... Eva, kamu bukan bego-nya selangit lagi, tapi sealam semesta!

777

Akhirnya aku kembali masuk sekolah. Saat jam istirahat, aku memandangi layar smartphoneku. Aku sudah memasukkan nomor kontak Caleb Harvest di HP-ku tetapi aku masih mengumpulkan keberanian untuk menelepon atau kirim chat padanya.

Aku keburu diselumuti pikiran negatif. Bagaimana jika ini jebakan untukku? Bagaimana jika Caleb benaran orang jahat?

Tapi...aku ingin jawaban, bukan? Orang itu sudah bilang dia bisa memberiku jawaban. Kenapa aku malah jadi ragu-ragu?

Jika Caleb benar adalah orang yang kutemui di stasiun kereta waktu itu... Aku dengan ngeri teringat caraku menghindari dia. Aku menuduh orang itu pedofil dengan mengatakan bahwa dia memaksaku memperlihatkan celana dalamku.

Aku meringis saat mengingatnya. Bagaimana ya? Bagaimana jika dia ada dendam karena ulahku itu? Apakah dia terlibat masalah perihal itu? Aduh, jika dia benar bukan seseorang yang mengincar nyawaku berarti aku... Waduh, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, bukan?

Aku mendesah dan menjatuhkan kepalaku ke atas meja.

Aku benar-benar bodoh. Aku jadi mengkhawatirkan nasibku kedepannya. Bisa survive selama ini saja sudah merupakan keajaiban. Tapi, akankah aku bisa terus mengandalkan keberuntungan jika sepertinya banyak yang tidak senang dengan keberadaanku di dunia ini?

Pertama-tama, aku memang harus berbicara dan bertemu dengan Caleb. Dia mungkin punya informasi dan jawaban yang kuperlukan untuk tetap selamat berada di dunia ini.

Tapi...aku jadi teringat perkataan Caleb yang berdasarkan kalimat dari film seri Teen Wolf.

Bukankah kalimat itu membuktikan bahwa ada pihak-pihak tertentu yang memburu orang-orang yang seperti diriku?

Ya, aku harus berani dan menemui Caleb juga untuk mengonfirmasikan sendiri, mendengarkan perkataannya bahwa dia juga sama denganku, bukan berasal dari dunia ini. Lalu, juga mengonfirmasi apakah dia juga memiliki mata shinigami. Aku harus mengonfirmasi dulu semua itu baru aku bisa menentukan langkah selanjutnya.

Saat pulang sekolah, aku berjalan sambil memikirkan apa yang ingin kukatakan saat nanti aku menelepon Caleb.

Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti didekatku dan Jodie membuka jendela mobil sambil menyapaku dengan riang gembira.

"Hai, Eva." sapa Jodie dengan senyum lebar.

Aku kaget melihatnya disana. "Bu Jodie?"

Dia mengulum senyum. "Apakah kau punya waktu sedikit? Teman bersama kita berharap bisa berbicara denganmu."

Aku terbengong-bengong mendengarnya. Teman bersama? Maksud dia itu apakah Shuichi? Tetapi, aku tidak sedekat itu dengan Shuichi. Dengan penyamarannya sebagai Subaru, iya. Masa sih Shuichi berniat menemuiku lagi? Dan apakah dia akan mengekspos dirinya sebagai Subaru? Mungkinkah?

Dipikir-pikir mungkin saja dia melakukannya, apalagi jika niatannya adalah supaya aku membuka rahasiaku sendiri.

Bagaimana ya? Aku jadi bingung harus bagaimana.

"Maksud Bu Jodie teman bersama...apakah Conan?" tanyaku pura-pura tidak mengerti.

"Eh? Cool kid? Ah, dia memang bisa dibilang teman bersama juga...tetapi maksudku adalah..." Jodie menoleh ke sekeliling kami lalu berbisik kepadaku. "...orang yang menyelamatkanmu dua kali..."

Ah, jadi benar Shuichi yang dia maksud. Tetapi, kenapa Jodie yang menyamperiku?

Aku menatap Jodie dengan kebingungan.

"Ayo, masuklah ke mobil. I don't bite." kata Jodie lagi sambil tersenyum-senyum. Ekspresi dia sebenarnya agak mencurigakan, membuatku teringat awal manga DC sesaat sebelum identitas asli Jodie sebagai FBI diungkap. Aku kira waktu itu dia adalah Vermouth, orang jahat.

Aku ragu-ragu untuk naik mobilnya tetapi aku memang berhutang pada Shuichi jadi jika dia memang ingin jawaban, aku punya obligasi untuk memberikannya, bukan? Seperti kata Jodie, aku berhutang nyawa dua kali kepada orang itu. Dan aku tahu benar bahwa Jodie adalah orang baik jadi...tak apa-apa, bukan?

Aku menelan ludah dan membulatkan tekad. Aku naik ke mobil wanita itu. Aku tidak tahu kemana dia hendak membawaku. Apakah ke Rumah Kudo menemui Subaru? Tetapi, jika demikian buat apa Jodie sampai repot menjemputku? Karena pada akhirnya juga aku pasti harus menemui Subaru untuk les.

Bahwa Shuichi mengirim Jodie untuk menjemputku, kemungkinan aku akan dibawa ke tempat lain, menemui Shuichi kah? Apakah itu berarti dia tak akan mengungkap bahwa dirinya adalah Subaru?

Ugh, pusing aku jadinya... Nanti apa yang harus kukatakan kepada Shuichi? Jawaban macam apa yang harus kuberikan padanya?

"Bu Jodie?"

"Ya, Eva?"

"Kita mau kemana?"

"Ke tempat rahasia yang menyenangkan..." jawabnya dengan tidak jelas.

Apakah Jodie tidak menyadari perkataannya itu sungguh mencurigakan? Walau aku tahu wanita ini tak mungkin menyakitiku, perkataan dia itu membuatku agak dag-dig-dug juga.

"Kita akan menemui Kak Shuu, bukan?" tanyaku.

Jodie mengangguk.

Hening.

Tiba-tiba, dia bertanya padaku, "Eva, kenapa kau memanggilku Bu Jodie tetapi memanggil Shuu dengan sebutan Kakak?"

"Eh?" Aku bingung ditanya begitu.

"Apa aku terlihat lebih tua dibanding dengan Shuu?" tanyanya serius. Dia kelihatan agak terganggu soal itu.

Aku meringis mendengarnya. Aku memanggilnya Bu Jodie karena Conan dan lain-lain memanggilnya demikian. Aku memanggil Shuichi dengan sebutan Kak Shuu karena aku tak ingin memanggilnya Pak Shuu atau Paman. Dipikir-pikir, tanpa kusadari, aku tak ingin memperjelas perbedaan usia diantara kami. Lebih dekat sebutan Kakak daripada Bapak atau Paman, bukan?

"Aku mendengar Conan dan Kak Ran memanggilmu Bu Jodie jadi aku juga melakukan hal yang sama dengan mereka. Apakah boleh jika aku memanggilmu Kak Jodie?" tanyaku dengan nada sepolos mungkin. Bahkan sangat aku memanggilnya sebagai Kakak, aku merasa hal itu agak aneh karena saat membaca manga dan menonton anime DC, dia selalu Bu Jodie bagiku.

Sebelum dia sempat menjawab, HP Jodie berdering dan dia menjawab panggilan telepon. Dia mengatakan bahwa kami hampir sampai.

Jodie membawaku ke sebuah kamar hotel. Selama perjalanan ke sana, aku mati-matian berusaha untuk menatap ke lantai supaya aku tidak memandangi nama, tanggal dan warna semua orang di hotel. Aku harus bisa membiasakan diriku dengan semua itu. Kenapa susah sekali?

Aku bisa merasakan tatapan Jodie yang sedang mengawasi gerak-gerikku dan aku jadi bertanya-tanya apakah aku melakukan kesalahan dengan menyetujui untuk pergi bersama dia.

Saat sampai dikamar hotel, aku terpana saat melihat Shuichi Akai benar-benar ada disana. Dia berpakaian serba hitam dengan topi rajut khasnya dan dia sedang merokok.

Jantungku jadi berdebar-debar keras melihat orang itu. Ah, aku jadi teringat semua gambar keren bertema Shuichi Akai baik yang original buatan Aoyama Gosho atau yang buatan para fans. Semua gambar bertemakan karakter orang ini selalu terlihat keren. Dan saat ini, mataku benar-benar sedang dimanjakan oleh penampilan seorang Shuichi Akai.

Shuichi yang melihatku dan Jodie langsung mematikan puntung rokok-nya. Dia melangkah mendekatiku.

Tanpa sadar, aku melangkah mundur dan memegang baju Jodie, merasa terintimidasi oleh pria itu.

"Apakah kau takut padaku?" tanya Shuichi.

"Wajahmu memang kadang agak sangar sih, Shuu." cetus Jodie. "Tak apa, Eva, dia itu sebenarnya teddy bear koq."

Shuichi menatap Jodie dengan rasa sayang? Bahkan sudut mulutnya berkedut sedikit seakan menahan senyum.

Aku menengadah menatap keduanya dengan terpana. Jelas sekali hubungan keduanya kentara ada keistimewaan. Aku mengakui aku sedikit cemburu. Ya, aku cemburu sekali. Tetapi, sebagai seorang fans yang nge-ship hubungan keduanya, aku merasakan luapan rasa gembira menyaksikan sendiri benang hubungan keduanya.

Aku maju selangkah dan membungkukkan badan memberi hormat. "Terima kasih karena sudah menyelamatkanku."

Shuichi tak berkata-kata untuk sesaat. Dia memandangiku dengan tatapan menyelidik.

"Orang-orang yang menculikmu...apakah kau tahu siapa mereka atau alasan mereka menargetkanmu?"

Pikiranku jadi kacau, aku tak tahu harus menjawab sejujur apa.

"Aku tak tahu siapa mereka...tetapi aku ada sedikit gambaran kenapa mereka menargetkanku." jawabku setelah agak lama. Apakah aku benar akan melakukan ini, memberitahukannya?

Shuichi dan Jodie bertukar pandang sebelum dengan cermat menatapku dengan rasa ingin tahu.

Aku terdiam. "Aku...akan memberitahu Kak Shuu tetapi..." Aku menoleh menatap Jodie dengan permintaan maaf.

Jodie kelihatannya mengerti. Dia mengangguk dan pergi meninggalkan kami.

Shuichi menatapku dengan serius. "Kukira kau akan lebih nyaman denganku dengan adanya Jodie."

"Aku...tak ingin banyak orang tahu soal yang ingin kukatakan padamu. Mereka tak akan percaya. Bahkan kau sendiri mungkin tak akan percaya." tuturku.

Shuichi terlihat semakin tertarik pada apa yang ingin kukatakan.

"Sebenarnya aku tak yakin apakah lebih baik memberitahumu apa tidak. Aku tak tahu dampaknya nanti padamu." ucapku teringat akan penelepon yang 'menangani' Rumi Tsukasa untukku. Apakah orang itu adalah Caleb? Akankah aku menempatkan Shuichi dalam bahaya jika aku memberitahunya?

Ah, tapi Rumi Tsukasa berniat mencelakaiku sedangkan Shuichi Akai menyelamatkanku dan berniat membantuku.

Mungkin seharusnya aku berbicara dulu dengan Caleb sebelum mengatakan apapun kepada Shuichi. Tetapi, Shuichi sudah menghubungiku duluan. Aku tak enak menolaknya mengingat dia telah menyelamatkan nyawaku. Aku berhutang penjelasan kepadanya.

"Kau ikut dengan Jodie untuk menemuiku tanpa pikir panjang. Tidakkah kau takut bahwa kami adalah orang jahat?" tanyanya heran.

Aku tersenyum sepolos mungkin. "Kalian berdua adalah agen FBI, bukan? Berarti kalian orang baik, bukan orang jahat..." tuturku. "Dan lagi, kau menyelamatkanku dari orang jahat sudah dua kali."

"Dan kau mempercayaiku hanya karena itu?"

Aku hanya tahu bahwa dia bukan orang jahat...tetapi apakah itu berarti aku bisa mempercayai dia? Bagaimana jika aku menceritakan yang sebenarnya dan dia tak percaya? Bagaimana jika nanti dia menganggapku sinting? Bukankah orang ini adalah seorang berasional tinggi? Apakah kebenaranku bisa diterima oleh nalar dan logika dia?

Ah, kenapa dia mengatakan hal itu? Semakin membuatku semakin meragukan keputusanku ini. Pusing!

Jika dia tidak percaya, aku bisa saja membuktikannya tetapi... Ah, jangan ragu-ragu lagi, Eva! Kau sudah didepan dia saat ini. Be brave!

"Apakah Kak Shuu berniat membuatku tak jadi memberimu penjelasan dengan membuatku mencurigai tujuanmu?"

"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau mempercayai orang yang benar."

Aku menatap Shuichi lekat-lekat. "Aku percaya padamu..."

Shuichi terpana mendengar jawabanku.

"...untuk saat ini."

Dia mengangkat alisnya mendengar lanjutan ucapanku. Sudut mulutnya berkedut lagi dalam senyuman yang seakan menyatakan kegeliannya akan pernyataanku.

"Kakak jangan sampai mematahkan rasa percayaku padamu ya. Tetapi, aku bisa memahami jika kau tak mempercayai apa yang kukatakan karena..." Aku menatap dia dan menarik nafas. "Kebenaran sesungguhnya diluar logika."

Shuichi tidak mengatakan apa-apa.

"Aku rasa...semua dimulai saat aku terbangun dari koma selama 6 bulan. Aku terbangun dan menyadari bahwa aku bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain." tuturku.

Aku pun menceritakan soal mata shinigami-ku tetapi aku tidak menceritakan semua yang berkaitan dengan Reina.

"Warna hijau, biru, merah dan kuning... Aura kehidupan... Bukankah itu plotline cerita yang kau beritahukan padaku saat kita bertemu pertama kali?" tanya Shuichi.

Aku tak bisa menahan senyum saat menyadari dia mengingat apa yang kukatakan kepadanya saat pertemuan pertama. "Mana bisa kukatakan kepadamu waktu itu bahwa aku bisa melihat data kematian semua orang, bukan? Kau akan menganggapku anak sinting." Aku menatap orang itu dengan seksama, ingin tahu apakah dia mempercayaiku atau tidak. Tentu saja aku tak bisa membaca ekspresi wajah orang itu. Poker face-nya benar-benar mantap. "Ya, aku tak bisa menganggapmu akan mempercayaiku begitu saja tanpa bukti."

"Kau bilang kau bisa melihat nama dan tanggal kematian seseorang."

"Itu benar."

"Berarti kau tahu siapa aku sejak semula. Nama-ku."

"Ya."

"Bahkan saat aku sedang...menjadi...bukan diriku...?"

Dia memancingku ingin memastikan apakah aku tahu apa yang dia maksudkan dengan perkataan yang dibuat setidak jelas mungkin.

Aku menarik nafas berusaha menenangkan diri. "Aku tahu Subaru Okiya...tidak ada... Aku tahu dia adalah penyamaranmu. Seperti juga aku tahu Yusaku Kudo pernah menggantikan penyamaranmu."

Kali ini Shuichi terlihat terkejut tetapi secepat itu juga tanda-tanda itu menghilang. Dia tetap terlihat tenang.

"Penyamaran Kakak sungguh hebat...seperti Tom Cruise dari Mission Impossible..."

Shuichi mengeryitkan alisnya namun tak berkomentar.

"Karena itukah kau juga tahu soal bom?"

"Aku tidak tahu jelasnya bahwa ada bom tetapi aku melihat tanggal dan warna semua orang saat itu merah dan kuning. Kematian dalam jumlah besar itu hanya ada 3 kemungkinan: kecelakaan, bencana alam atau tindakan teroris." tuturku.

Sebenarnya aku hanya mencurigai adanya bom karena adanya kasus yang terkait dengan Conan dan taman bermain tetapi aku tidak mengatakan itu padanya. Aku memutuskan untuk menyimpan rahasia bahwa aku berasal dari dunia lain dan bahwa dunia ini adalah dunia palsu sekedar cerita dalam manga.

"Lalu pria yang ditemukan didekatmu waktu itu? Dia mencoba membunuhmu, bukan?"

Aku mengangguk. "Tetapi seseorang menyelamatkanku. Aku tak tahu siapa."

Shuichi menatapku dengan penuh selidik. "Dan orang itu ada menghubungimu, bukan?"

"Aku tak tahu apakah mereka orang yang sama tetapi aku memang menerima telepon dari seseorang yang memakai alat pengubah suara." ujarku.

"Apakah orang itu berhubungan dengan kematian psikiater bernama Rumi Tsukasa?" tanya Shuichi.

Aku menelan ludah, merasa sedikit tertekan dengan pertanyaan soal itu. "Aku rasa iya. Orang itu...sepertinya tahu bahwa aku memiliki mata shinigami."

"Mata shinigami...ya? Kenapa kau menyebutnya begitu?"

Aku mengangkat bahu. "Bukankah cocok?" Aku mana mungkin mengatakan aku mengambil sebutan tersebut dari manga Death Note.

"Pria bernama Honda itu...apakah dia mengincarmu karena kemampuan-mu itu?" tanya Shuichi. "Dan Honda...sepertinya dia ada hubungan dengan psikiater itu...mereka bekerja sama mengincarmu...?"

Ah, Shuichi Akai memang hebat, dia bisa mengetahuinya dengan jelas.

"Aku rasa begitu... Dia bilang mata ini berbahaya. Pria yang ditaman bermain juga mengatakan hal yang sama."

"Begitu? Kenapa kau tidak melibatkan polisi?"

"Apakah kau pikir mereka akan mempercayaiku?" tanyaku. "Apakah kau mempercayaiku?"

Shuichi menatapku dengan serius. "Aku mempercayaimu saat kau mengatakan masih ada bom ditaman bermain."

"Karena itu soal nyawa, bukan? Karena itu kau bersedia menyelidikinya..." tuduhku.

"Aku percaya kau tidak berbohong kepadaku saat ini...tetapi aku tahu kau tidak memberitahuku sepenuhnya kebenaran itu, bukan?"

Aku tak menjawab.

"Ya, aku tak akan memaksamu untuk mengatakan semuanya. Terima kasih karena sudah memberiku penjelasan. Semoga suatu hari nanti aku bisa mendapatkan kepercayaanmu sepenuhnya dan saat itu...aku harap kau bisa mengatakan semua kebenarannya padaku." tutur Shuichi dengan tenang.

Aku menatap dia dengan tidak percaya. "Begitu saja? Kau tak punya pertanyaan lain?"

Shuichi mengangkat bahu. "Apakah ada lagi yang ingin kau informasikan padaku?"

Aku tidak menjawab.

"Jodie akan mengantarmu pulang."

Dia menyuruhku pergi secara tidak langsung. Aku mendesah. Pria ini sungguh dingin, berbeda dengan personanya sebagai Subaru Okiya.

"Jadi, aku rasa aku tak perlu datang lagi untuk les matematika, bukan?"

"Tentu saja les itu tetap ada."

"Hah?" Aku terbengong-bengong. "Tapi..."

"Hanya karena kau tahu siapa aku sebenarnya, tidak mengubah apapun. Aku meminta kau tetap datang les dengan Subaru seperti biasa. Tak ada yang berubah."

Aku ingin protes. Rasanya aneh jadinya setelah semua terbongkar...les dengan agen andalan FBI? Lalu, bagaimana aku harus bersikap sekarang didepan dia?

"Tapi...apakah kau tidak sibuk dengan hal lain? Yang berhubungan dengan FBI? Memangnya tak apa kau menyisihkan waktu untuk mengajar matematika pada anak random?" tanyaku.

"Kau ada ujian matematika minggu depan. Kau harus bisa mendapat nilai bagus." kata Shuichi dengan wajah serius.

Rasanya tidak percaya Shuichi Akai sedang membicarakan nilai ujian matematika denganku. Ini benar-benar aneh dan seperti tidak nyata.

Aku meringis, memikirkan soal ujian itu.

"Satu lagi..." Shuichi tiba-tiba bertanya, "Apakah ada orang lain yang nama yang mereka perkenalkan tidak sesuai dengan nama yang 'bisa' kau lihat?"

Ah, pasti maksud dia tentang Conan, Ai dan Amuro.

"Ya, ada..." jawabku.

"Begitu ya..." Shuichi terdiam setelah mendengar jawabanku. Dia tidak memaksaku untuk memberitahu identitas orang yang berbeda.

Aku tak bisa membaca reaksi dia sama sekali. Dia bilang dia percaya perkataanku tetapi dia tidak menanyakan lebih jelas soal mata shinigami. Benarkah dia percaya?

777

Malam itu, aku akhirnya mengirim pesan suara singkat ke nomor Caleb.

"Malam, aku Eva. Kau mendatangiku dirumah sakit kemarin. Kau bilang kau bisa memberiku jawaban. Mari bertemu secepatnya. Kontak aku."

Jantungku berdebur keras setelah mengirim pesan tersebut dan saat menunggu balasan. Tak disangka, aku malah menerima SMS dari Amuro yang mengatakan apakah besok siang aku ada waktu karena dia ingin berbicara padaku.

Aku tercekat memikirkan tujuan Amuro ingin berbicara denganku. Ada apa yah? Malam itu aku jadi susah tidur, merasa agak tegang memikirkan soal Reina, Caleb, Shuichi dan Amuro. Busyet.

Aku menggeram dengan kesal dan membenamkan wajahku pada bantal.