Siang itu, sepulang sekolah, Amuro sudah menungguku didepan pintu gerbang sekolah. Yuka yang melihat orang itu langsung menyenggol-ku dengan sikunya sambil menggerak-gerakkan alis matanya dengan senyum antara menggoda, mengejek dan mendukung.
Aku hanya bisa memutar bola mata-ku akan tingkahnya saat dia menarik Miyuki menjauhiku agar aku dan Amuro 'bisa bebas berduaan'.
Amuro tersenyum kepadaku. Dia lalu mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menatap dia sesaat sebelum menggandengkan tanganku kepadanya.
Amuro mengajakku ke sebuah cafe kecil. Dia bilang dia akan mentraktirku makan atau minum apa saja yang kumau.
Aku senang di traktir oleh dia dan kami hanya berduaan seperti sedang kencan saja tetapi aku ragu dia melakukannya tanpa maksud tertentu. Mungkin saja sama dengan Shuichi, dia pun hendak menanyakan permasalahanku. Aku yakin dia juga pasti sudah tahu soal kasus penculikan terhadap diriku yang berakhir dengan semua pelaku-nya mati ditempat.
Amuro memandangiku yang sedang melihat-lihat menu makanan disana. Tempatnya agak sepi pengunjung saat itu jadi bisa saja dia hendak 'menginterogasi'-ku disini sekaligus menyuap dengan makanan.
Setelah kami mengorder minuman kami kepada pelayan ditempat, Amuro lagi-lagi memandangiku membuatku jadi merasa jengah dan dag-dig-dug karena bingung sebenarnya apa niat orang ini kepadaku hari ini.
"Aku mendengar kejadian buruk menimpa Eva lagi. Apakah kau baik-baik saja sekarang?"
Aku mendesah dan menggerutu, "Kenapa semua orang bisa tahu soal itu sih?"
Amuro tersenyum kecil. "Yaa, aku ada kenalan polisi jadi aku tahu dan aku juga mendengar kejadian itu dari Conan. Aku khawatir padamu, Eva...dan ya, aku agak tertarik dengan kasus itu, terutama dengan orang yang menolongmu."
Aku menatap orang itu dengan tercekat. Masa sih dia tahu bahwa yang menolongku adalah Shuichi? Mungkinkah? Apakah dia menemukan jejak orang itu di TKP? Tidak mungkin. Shuichi pasti berhati-hati untuk tidak meninggalkan jejak, bukan? Dan, mentang-mentang Amuro itu sentimen dengan Shuichi, bukan berarti dia akan selalu mencurigai Shuichi untuk segalanya, bukan? Aku mendesah berpikir bahwa pikiranku itu sungguh dangkal.
"Aku sudah menceritakan segalanya kepada polisi waktu itu. Aku tak tahu alasan jelas orang itu menculikku atau siapa orang yang menolongku." tuturku.
"Apakah Eva pikir orang yang menolongmu kemarin sama dengan orang bertopeng kucing pada kasus penculikan yang sebelumnya?" tanya Amuro.
Aku menggigit bibirku, berpikir harus menjawab apa. "Aku tidak tahu. Mungkin?" Sebenarnya aku tahu jelas bahwa mereka dua orang berbeda, tingginya saja beda, tetapi aku tak mengatakan apa-apa. "Kenapa Kakak ingin tahu soal itu?"
Amuro mengangkat bahu. "Aku hanya penasaran." Dia tersenyum lagi padaku. "Aku sungguh lega dan bersyukur bahwa kau selamat dan baik-baik saja, Eva."
Aku menatap dia dengan agak curiga. Apakah dia berniat untuk menyelidiki hubungan kedua kasus yang menimpaku tersebut? Mengingat siapa dirinya sesungguhnya bahwa dia detektif yang handal, akankah dia berhasil menemukan jejak pada kedua kasus itu?
"Terima kasih, Kak." tuturku sopan atas perkataan dia yang mengekspresikan kekhawatirannya padaku. Aku tersenyum kecil kepadanya.
Senyum diwajahnya perlahan memudar saat wajahnya berubah serius.
"Eva, ada sesuatu hal yang ingin kukatakan...dan ini penting. Dan mengingat ini hal yang agak sensitif dan mungkin akan membuatmu merasa tidak nyaman atau takut, aku minta maaf dulu sebelumnya."
Aku mengangguk perlahan. Ada apa sih? Wajahnya kenapa seperti itu?
Orderan minuman kami tiba dan dia menyuruhku menikmati pesananku dulu. Aku menyeruput minumanku sembari diam-diam melirik ke arah pria itu.
Tak tahan lagi dengan aura suspense, aku menanyakan kepadanya sebenarnya dia ingin bicara apa denganku.
Amuro memandangiku sebelum mengeluarkan sesuatu dari tas yang dibawanya. Dia mengeluarkan kantong sealer yang berisi sebuah kalung.
Aku menatap kantong tersebut dan pada kalung didalamnya. Aku membelalakkan mata saat aku mengenali kalung itu sebagai kalung jimat pemberian Reina.
Aku nyaris memekik. "Kakak menemukan kalungku?!"
Amuro menatapku dengan serius dan menggelengkan kepalanya. Dia meletakkan kantong itu di meja dan merogoh tasnya lagi, mengeluarkan 2 buah kantong sealer yang sama persis.
Aku menatap 2 kantong baru itu dan terbelalak lagi melihat isinya sama, kalung yang kukenali sebagai kalung jimat dari Reina.
Aku memperhatikan ketiga kalung itu dengan seksama. Ketiganya sama persis. Aku jadi bingung dan menoleh kepada Amuro yang masih memandangiku dengan serius dan tak berkata-kata.
"Aku tak mengerti. Kak Amuro mendapat kalung-kalung ini darimana?" tanyaku dengan jantung berdebur keras.
"Ini adalah barang bukti dari 3 kasus berbeda. Ketiga kalung ini adalah milik korban-korban yang meninggal dengan jarak tahun yang berbeda-beda." tutur Amuro.
"Aku...tidak mengerti. Kasus? Kasus apa?"
"Pembunuhan." ujar Amuro dengan tenangnya. "Tepatnya sekitar 7 tahun yang lalu, 5 tahun yang lalu dan 2 tahun yang lalu." Dia menyentuh salah satu kantong. "Mereka tewas dibunuh dan ketiganya memakai kalung ini. Kalung yang sama dengan milikmu."
Aku tercekat mendengarnya. "Apa pelakunya sudah tertangkap?"
Amuro menggelengkan kepalanya. "Para polisi tidak mengira ada koneksi pada ketiga kasus ini. Aku sendiri tidak mengetahui soal ketiga kasus ini. Aku kebetulan menemukannya saat mencari tahu soal kalungmu."
"Kalungku? Kenapa?"
"Kau kelihatan sungguh tertekan saat kalung itu hilang, Eva. Jadi, aku berusaha mencari tahu produsen yang membuat dan menjual kalung itu..."
Aku terpana mendengarnya. Dia sampai mencari pengganti kalung itu...untuk aku? Untuk menghiburku? Aku jadi terharu...sebelum aku ingat Amuro ini digambarkan dalam manga khusus tentangnya sebagai orang yang selalu melakukan lebih untuk orang lain...entah apa karena itu sifat aslinya atau...bagian penyamarannya sebagai orang samaritan baik, Tooru Amuro. Aku menggigit bibir. Sudahlah, jangan berpikir macam-macam.
"Tetapi, aku tidak menemukan jejak produsen untuk kalung-mu itu..."
Ya, tentu saja tidak mungkin dia menemukannya...karena kalung itu adalah pemberian Shinigami. Tetapi...ketiga kalung ini...jelas-jelas sama dengan milikku. Apakah...? Jangan-jangan ketiga orang ini sama denganku? Tetapi...mereka sudah meninggal? Dibunuh?
"Teman polisi-ku kebetulan melihat foto kalung yang kau pakai dan menginformasikan kepadaku tentang kasus kematian 2 tahun lalu. Dari sana-lah, aku menemukan jejak 2 kasus lainnya."
Aku mengangguk. "Ok...terus kenapa Kakak memberitahuku soal ini?" Aneh, bukan? Dia memberitahu soal ini pada anak kecil sepertiku. Lain hal kalau dia membagi info ini pada Conan.
Amuro menatapku. "Aku tak ingin membuatmu takut...tapi...aku rasa mereka mendapat kalung itu dari pembunuh mereka."
Pikiranku menjadi kosong mendengarnya. Hah?
"Aku menemui keluarga korban dan tak satu pun dari mereka tahu soal kalung itu atau darimana korban mendapatkannya." tutur Amuro.
Apa yang dikatakan orang ini? Pikiranku mumet dan aku tak bisa memahami apa yang hendak dikatakan orang ini.
"Kau bilang seseorang memberikanmu kalung itu..."
"Iya, tapi orang itu bukan orang jahat. Dia..." Bisakah aku mengatakan Reina sebagai teman? Aku memang hanya beberapa kali bertemu dengannya dan aku tak tahu apa-apa soal dia sama sekali. Aku hanya tahu bahwa dia itu dewa kematian yang tidak sengaja mencabut nyawaku dan memutuskan menebus kesalahannya itu dengan membawaku untuk hidup di dunia ini.
Tunggu. Apa aku benar-benar jadi mencurigai Reina? Dia kan dewa kematian, mana mungkin dia membunuh orang, bukan? Ah, aku jadi pusing lagi. Aku benci berpikir yang berat-berat.
Satu-satunya yang bisa kupahami dari ini adalah jika ketiga korban ini memiliki kalung yang sama denganku, kemungkinan situasi mereka sama denganku. Kalung itu berfungsi sebagai pelindung dari dewa kematian di dunia ini. Mungkinkah ketiganya nyawanya dicabut oleh dewa kematian di dunia ini?
"Bagaimana cara mereka mati?"
Amuro terkejut mendengarku menanyakan itu. Habis aku harus bagaimana? Aku menyerah bertingkah layaknya anak kecil normal. Aku harus tahu soal kasus itu soalnya. Dia sepertinya enggan memberitahuku.
"Apa cara mereka dibunuh sama makanya Kakak bisa beranggapan ketiga kasus ini berhubungan?" tanyaku.
Amuro memilih diam.
"Kakak, kau mengatakan soal ini padaku...apakah kau pikir aku dalam bahaya? Bahwa pembunuh ketiga orang ini mengincarku makanya memberiku kalung yang sama?" tanyaku lagi.
Amuro menatapku lekat-lekat sebelum tersenyum. "Eva, kau sungguh luar biasa...kau memahami..."
Aku mengibaskan tanganku dengan acuh. "Soalnya mirip cerita dalam buku atau film misteri..." ujarku asal.
Dia kelihatan bingung sebelum dia tertawa kecil mendengar jawabanku. Setelah puas tertawa, dia kembali serius saat menatapku.
"Eva benar, aku khawatir bahwa Eva ditargetkan oleh seseorang...apalagi...aku menemukan kesamaan lain para korban denganmu..."
Aku kaget mendengarnya. "Kesamaan lain?"
"Mereka pernah terlibat kecelakaan yang membuat mereka koma selama 6 bulan." tutur Amuro sambil mengamati reaksiku dengan seksama.
Wajahku memucat mendengarnya. Koma selama 6 bulan? Ketiganya? Sama dengan yang menimpaku... Jadi, apakah mereka benar-benar sama denganku? Duh, bagaimana ya? Aku bingung dan saat ini Reina masih belum bisa memberiku jawaban dan satu-satunya harapanku saat ini adalah Caleb karena perkiraanku dia juga dalam situasi yang sama denganku.
"Keluarga korban mengatakan setelah bangun dari koma, sikap mereka agak berubah dan mereka sering terlibat kasus aneh dengan orang-orang sekitar. Mereka juga mengatakan sikap mereka beberapa bulan sebelum kematian mereka berubah drastis dan paranoid. Mereka percaya bahwa ada yang berniat 'mencabut nyawa' mereka. Aneh, bukan? Biasanya orang akan mengatakan ada orang yang hendak membunuh mereka tetapi mereka malah menggunakan kata itu. Mencabut nyawa."
Pemandanganku akan sekeliling mendadak serasa berputar-putar. Mencabut nyawa? Apakah mereka ditangkap dan 'dibunuh' oleh dewa kematian di dunia ini?
"Eva? Kau tak apa-apa?" tanya Amuro dengan khawatir. "Maaf, mungkin aku seharusnya tidak mengatakan semua ini padamu."
Aku tidak tahu harus berkata apa kepadanya. Jika aku memaksa ingin tahu lebih banyak, dia pasti akan curiga padaku. Ah, kenapa jadi begini situasinya?
"Eva, apakah kau mendengarku?" Dia menyuruhku meminum teh panas yang dia minta dari pelayan ditempat.
Aku meminum teh panas itu sedikit saja. "Kak Amuro, sebenarnya maksud Kakak memberitahuku semua ini apa?"
"Orang yang memberimu kalung ini...aku ingin bertemu dengannya. Bisakah kau mengatur pertemuan dengan orang itu? Atau apakah kau memiliki nomor kontak orang itu?"
Aku menatap Amuro dalam bingung. Bagaimana? Aku sudah lama tak menemui Reina dan aku juga tak tahu cara mengontak dia. Apakah dia akan percaya jika aku mengatakan hal itu? Mengingat bahwa aku mengatakan kepada dia bahwa yang memberiku kalung itu adalah orang yang penting bagiku, apa dia akan percaya bahwa aku sama sekali tidak tahu dimana dia sekarang atau bagaimana mengontaknya?
"Aku...tidak tahu dimana dia sekarang...atau bagaimana mengontak dia...tetapi Kak Amuro salah, Kak Reina tidak mungkin pembunuh ketiga orang ini. Kak Reina itu...hanya gadis SMA biasa. Menilik dari usianya, mana mungkin dia membunuh orang yang meninggal 7 tahun lalu, bukan?" tuturku.
Tenggorokanku tercekat saat menyadari jika Reina benar seorang pembunuh, dia bisa saja melakukan semua itu bahkan kepada korban 7 tahun lalu mengingat dia adalah makhluk supernatural yang kekal abadi. Tetapi aku menolak untuk mencurigai Reina. Berkat dia-lah, aku berada di dunia ini. Untuk apa dia berniat membunuhku? Apa alasannya? Apa untungnya?
"Walau begitu...aku perlu mengontak gadis bernama Reina ini. Bisakah Eva membantuku?" pinta Amuro.
"Maaf, Kak, aku tak bisa membantumu soal itu. Aku...benar-benar tidak tahu bagaimana mengontak Kak Reina. Aku sudah lama sekali tidak melihat dia."
"Begitu?" Amuro tidak memperlihatkan kekecewaannya tetapi dia terus saja menatapku lekat-lekat. "Reina adalah orang yang penting bagi Eva, bukan? Bolehkah aku tahu alasannya?"
Aku terdiam sesaat dan perlahan tersenyum pahit. "Dia menyelamatkan hidup-ku." Bukan kebohongan. Memang dia 'membunuh'-ku dulu dengan kulit pisang bodoh-nya itu tetapi dia menyelamatkanku dengan memasukkanku ke tubuh anak ini.
Amuro terpana mendengar perkataanku.
Setelah itu, Amuro mengantarku pulang. Dia menatapku dan mengelus kepalaku. Dia berterima kasih atas 'kerjasama'-ku.
777
Malam itu aku mendapat SMS dari Caleb yang mengatakan agar aku yang mengatur tempat dan jam pertemuan, supaya aku bisa lebih nyaman saat menemui dia. Wah, betapa peka-nya orang ini. Tetapi, aku jadi bingung harus memakai tempat dimana. Tidak mungkin aku mengajak mereka ke Poirot karena ada Amuro dan Conan. Aku membutuhkan privasi. Tetapi, sebenarnya menemui orang asing seperti Caleb, akan lebih aman jika berada di Poirot, bukan? Duh, bingung...
Akhirnya kuputuskan untuk memakai tempat cafe yang tadi aku dan Amuro datangi tadi saja. Tempatnya bagus dan strategis walau agak sepi. Jika Caleb berniat jahat, dia mungkin susah melakukannya disana. Mungkin. Ugh.
Aku pun mengirim pesan singkat kepada Caleb untuk menemuiku sabtu siang di tempat pilihanku.
Akan tetapi pada hari sabtu itu, rencanaku tidak berjalan lancar.
Aku berbohong pada Papa dan Mama bahwa aku akan keluar dengan Yuka. Hari itu Yuka sebenarnya pergi kencan dengan Kenji jadi dia tidak mungkin pergi mencariku.
Pada saat aku dijalan, HP-ku berdering dan ternyata yang meneleponku adalah Caleb.
"Kau diikuti seseorang." Tanpa basa-basi, dia langsung berkata. "Ikuti instruksiku."
Wajahku memucat mendengarnya. Dengan jantung berdebur keras, aku menoleh pelan-pelan memperhatikan sekitarku tetapi aku tak bisa menemukan orang mencurigakan.
"Kau tak akan bisa menemukan mereka. Mereka profesional."
"Darimana kau bisa tahu jika begitu?" tanyaku pelan.
Caleb tertawa renyah. "Aku sering mengalaminya jadi aku sudah lebih mudah menemukan kejanggalan." tuturnya. "Dengarkan instruksiku supaya orang itu tak bisa mengikutimu ke tempat pertemuan kita."
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" tanyaku. "Aku tak tahu siapa dirimu. Bagaimana aku bisa tahu jika ini bukan jebakan darimu untuk mengganti tempat pertemuan yang sudah kuatur?"
Sesaat tidak ada jawaban.
"Jika aku menginginkan nyawa-mu, aku sudah akan melakukannya saat dirumah sakit kemarin." jawabnya. "Kau menginginkan jawaban, bukan? Jika kau tak mau mengikuti instruksiku, tak apa, tapi aku terpaksa membatalkan pertemuan kita. Aku tak ingin ada orang lain menyadari bahwa aku disini."
Akhirnya aku menyetujui keinginan dia dan mengikuti instruksi dari dia untuk melenyapkan diri dari orang yang mengintaiku. Rasanya aku jadi seperti dalam film mata-mata saja, main petak umpet kucing-tikus.
Aku agak heran bagaimana Caleb bisa mengetahui soal pengintai-ku. Apakah itu berarti dia juga mengawasiku? Duh, apa aku melakukan kesalahan menemui Caleb?
Aku butuh jawaban darinya. Ayo, Eva, bertahanlah!
Sembari mengikuti instruksi Caleb menaiki dan turun kereta secara dadakan, aku akhirnya disuruh naik bus dan turun di halte bus random. Aku tiba disebuah taman dan duduk dibangku taman sambil menunggu instruksi lebih lanjut.
Sepertinya aku disuruh kemana-mana dulu sebelum akhirnya Caleb menyuruhku ke cafe tempat pertemuan awal.
Aduh, aku kecapekan. Kondisi fisik-ku benar-benar payah.
Aku masuk ke dalam cafe dan memilih tempat duduk. Aku memesan minuman dan menunggu kedatangan Caleb.
Aku memikirkan perkataan Caleb tentang orang yang mengintaiku. Siapa yah? Apakah seorang yang berniat jahat terhadapku lagi? Ataukah...?
Tiba-tiba sebuah pemikiran melintas dipikiranku. Bagaimana jika yang mengintaiku adalah Amuro atau Shuichi? Bagaimanapun tingkahku agak mencurigakan, bukan?
Aku ingat di manga DC bahkan Amuro pun pernah mengintai Conan. Kemarin dia telah mengatakan bahwa dia mencurigai ada yang mengincarku, mungkinkah dia akan melibatkan dirinya secara langsung dalam mengintaiku ataukah dia menyuruh anak buahnya di PSB? Jika itu benar, bukankah 'tingkah'-ku tadi mencurigakan saat aku berusaha menyingkirkan pengintai berdasarkan instruksi Caleb?
Mungkin aku terlalu berpikir paranoid, ya? Mana mungkin Amuro sampai bertindak sejauh itu untuk mengawasiku, kan?
Juga, Shuichi tak mungkin sibuk mengintaiku atau menyuruh salah satu rekan FBI-nya untuk mengikuti anak kecil random tanpa alasan jelas. Aku bukan Ai yang jelas-jelas dalam perlindungan FBI dan Shuichi sendiri.
Ah, aku lelah sekali dengan pemikiran soal pengintai. Aku tak mau memikirkannya lagi. Aku bisa apa?
Tapi, aku berniat menanyakan kepada Caleb bagaimana dia tahu soal pengintaiku dan bagaimana cara mengetahui jejak pengintai agar aku bisa berhati-hati kedepannya.
Seorang pemuda memasuki cafe. Aku mengenali pemuda blasteran itu sebagai pemuda yang memang waktu itu aku fitnah sebagai pedofil.
Aku menyadari beberapa gadis yang sedang bertamu di cafe memandangi pemuda yang memang tampan itu. Mereka terang-terangan berbicara dengan satu sama lain memuji ketampanan pemuda itu. Mereka mengira dia seorang idol.
Pemuda itu langsung mendekatiku dan duduk dibangku sebrangku. Dia lalu menoleh pada para gadis itu lalu mengerlingkan matanya ke arah mereka, membuat para gadis itu hampir bengek.
Aku menatap pemuda itu dengan tidak percaya. Aku menoleh ke arah para gadis yang menatapnya dengan berbinar-binar bentuk cinta. Saat seperti inilah aku menyadari bahwa dunia ini benar-benar dunia palsu yang mengikuti realitas dunia manga.
Setelah mengorder minuman, dia menoleh padaku. "Halo, Eva, maaf membuatmu menunggu lama. Aku Caleb. Akhirnya kita bisa bertemu muka dengan baik." ujarnya sambil mengulum senyum.
Aku terdiam. "Kau...benar-benar manusia biasa, bukan?" tanyaku sambil memperhatikan atas kepala dia. Aku benar-benar tidak bisa melihat data apapun diatas kepala orang ini. Bukankah Reina bilang orang yang tak bisa kulihat nama, tanggal dan warna adalah shinigami? "Kau...bukan dewa kematian?"
Dia menatapku lekat-lekat lalu tertawa kecil. "Kenapa kau bisa mengira aku dewa kematian?"
Aku masih menatap kekosongan diatas kepalanya.
"Ah, begitu... Ya, kau tak akan bisa melihat data kematianku. Seperti aku juga tak bisa melihat data kematianmu." tuturnya.
Aku terhenyak mendengarkan perkataan dia yang mengonfirmasi bahwa dia sama denganku memiliki mata shinigami.
"Jadi, kau benar-benar sama denganku?" bisikku pelan. "Kau...bukan dari..." Aku ragu-ragu mengucapkannya terang-terangan.
Pelayan cafe mengantarkan minuman pesanan Caleb. Pemuda itu melemparkan senyum manis pada pelayan tersebut dan meminum minumannya perlahan sebelum kembali memandangiku.
"Ya, aku sama denganmu, bukan dari dunia ini. Sekitar 5 tahun lalu, aku terbangun dalam tubuh ini. Jiwa asli pemilik tubuh ini sudah tak ada dan raganya berbaring dalam tidur koma selama..."
"6 bulan." sambungku dengan emosi yang kacau balau. Kenapa selalu koma 6 bulan? Kondisi yang sama denganku dan dengan 3 korban yang dikatakan Amuro.
Caleb terdiam, memandangiku. "Kau...juga menyadari adanya hubungan koma 6 bulan, bagaimana kau bisa tahu?"
"Ah..." Aku bingung apakah aku akan memberitahu dia soal Amuro dan ketiga kasus yang dia temukan. "Kak Caleb..."
"Tolong jangan panggil aku Kakak, aneh mendengarnya, apalagi aku tahu bahwa kau bukan anak kecil yang benar-benar berumur 12 tahun, bukan?" tukasnya.
Aku meringis mendengarnya. "Maaf, aku kebiasaan memanggil semua orang sebagai Kakak semenjak aku bangun ditubuh ini."
"Berapa usiamu yang sebenarnya?"
"Tidak sopan menanyakan usia seorang wanita." tukasku.
Caleb tersenyum mendengarnya. "Baiklah, simpanlah rahasia-mu soal itu..."
"Aku ingat kau mendatangiku tidak seorang diri. Ada seorang gadis bersamamu. Apakah dia juga sama dengan kita berdua?" tanyaku.
Caleb mengonfirmasikannya. "Namanya Elizabeth. Dia juga akan kemari sebentar lagi." tuturnya. "Sebelumnya aku akan minta maaf padamu atas nama dia."
"Eh? Kenapa?" tanyaku heran.
Seorang gadis memasuki cafe. Gadis berambut pirang yang sangat cantik dan modis. Gadis itu langsung melangkah ke arah kami dan dia langsung duduk disamping Caleb.
Para tamu di cafe mulai menggosipkan kecantikan gadis itu. Jika dilihat sekilas, Caleb dan gadis ini seperti saudara kembar saja karena mereka sama-sama blasteran.
Gila, keduanya memang sangat tampan dan cantik. Mereka memang terlihat seperti bisa jadi seorang idol.
Gadis itu memandangiku dengan tatapan tidak senang. Aku tidak mengerti kenapa dia bersikap judes kepadaku.
Caleb memandangiku dengan tatapan yang seakan memohon pengertianku.
"Apakah kalian berdua bersaudara?" tanyaku.
Caleb tertawa mendengarnya. "Lizzie tiba di dunia ini sekitar 3 tahun lalu. Kami kebetulan bertemu dan semenjak itu kami selalu bersama." Wajahnya berubah serius. "Kami menjadi dekat karena kami sama-sama harus mempertahankan nyawa kami dari para hunters dan lain-lain."
"Hunters?" tanyaku bingung.
Lizzie tersenyum sinis. "Kau sudah bertemu mereka berkali-kali, bukan? Di taman bermain dan saat kau diculik kemarin."
Aku terkesiap mendengarnya. Honda, Rumi dan pria bernama Adrian kalau tidak salah...mereka pemburu?
"Mereka memburu orang-orang seperti kita dan mereka akan membunuhmu tanpa ampun." tukas Lizzie.
Kepalaku langsung berdenyut-denyut mendengarkan informasi itu. Pemburu? Yang benar saja! Aku jadi teringat film seri Supernatural dimana tokoh utamanya dua bersaudara yang tugasnya adalah memburu makhluk supernatural. Apakah dalam dunia ini aku-lah makhluk supernatural-nya?
"Pemburu? Kalian serius?" tanyaku dengan geram.
Lizzie mendengus. "Apakah mereka tidak kelihatan serius saat mereka mencoba membunuhmu kemarin?" tanyanya dengan sinis.
"Kamu punya masalah apa sih denganku?" tanyaku kesal. "Semenjak kau tiba disini, kau sudah memasang tampang menyebalkan dihadapanku."
Gadis menyilangkan kedua tangannya didadanya dan menertawaiku. "Aku hanya tidak suka pada kebodohanmu."
"Lizzie..." tegur Caleb.
"Apa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." tukas Lizzie.
Aku mendesah berusaha menenangkan diri. Aku menatap keduanya lalu fokus ke Caleb. "Apa selain kalian masih ada lagi orang yang situasinya sama dengan kita?"
Caleb terlihat agak pahit. "Ya, ada banyak...sepertinya..."
"Oh. Benarkah?" tanyaku.
"Kenapa? Kau kira hanya kau yang istimewa terlahir di dunia lain?" sindir Lizzie.
Ini anak kenapa sih? Apa salahku kepadanya? Kenapa dia terus menyerangku? Aku menatap dia dengan sinis juga dan memalingkan wajahku darinya seakan aku malas melihat wajah cantiknya yang judes dan memilih untuk mengacuhkan orang itu.
"Kau benar-benar berpikir hanya kau yang istimewa yah?" tukas Lizzie dengan tampang seperti jijik.
"Aku tidak pernah berpikir bahwa aku itu istimewa ya!" tukasku dengan kesal sambil melototi gadis itu. "Malah sepertinya kau yang merasa dirimu istimewa? Kenapa? Kau merasa terancam olehku ya?"
Lizzie mendengus lagi sementara Caleb terlihat bingung dan letih melihat kami berdua bersikap bodoh di tempat publik.
"Awas upilmu mental jika kau terus mendengus seperti itu." tukasku asal.
Gadis itu kelihatan kesal tetapi Caleb menahannya dengan menggenggam salah satu tangannya dan menyuruhnya untuk mengontrol emosinya.
"Maafkan dia, Eva, beberapa tahun belakangan ini...kejadian buruk terus menimpa kami...dan kami kehilangan beberapa teman baik karena para pemburu itu dan...tentu saja adanya ancaman dari dewa kematian dari dunia ini." jelas Caleb.
Aku terdiam mendengarnya. "Jadi, kau juga sama? Kau dibawa kesini oleh seorang dewa kematian dari dunia nyata juga? Apa dia juga tidak sengaja mencabut nyawa-mu juga?" tanyaku.
Caleb dan Lizzie terlihat terkejut mendengar perkataanku.
"Kau...bertemu dengan dewa kematian dari dunia nyata?" tanya Caleb.
Aku bingung mendengar perkataan dia. "Apakah kau tidak?"
Keduanya menggelengkan kepala.
"Kau bilang dewa kematian itu mengatakan bahwa dia tidak sengaja mencabut nyawa-mu?" tanya Caleb. "Bisakah kau ceritakan soal itu?"
Aku memandangi Caleb yang terlihat penasaran dan aku menceritakan soal pertemuan pertamaku dengan Reina tetapi aku tidak menceritakan soal mimpiku akan Reina.
"Jika kalian tidak pernah bertemu dewa kematian yang meletakkan kalian di dunia ini, darimana kalian tahu cara kerja mata shinigami?" tanyaku.
Caleb mengangkat bahu. "Tidak terlalu sulit untuk memahami cara kerjanya."
"Begitu ya...?" Aku tertawa renyah.
"Apakah kau masih bertemu dengan...Reina itu?" tanya Caleb. "Bisakah kau mengatur agar kami bisa bertemu dengannya?"
"Kenapa kau ingin bertemu dengan dia?" tanyaku. "Aku sudah lama tidak bertemu dia. Terakhir dia bilang dia ada urusan penting di dunia nyata."
Caleb dan Lizzie bertukar pandang dengan satu sama lain.
"Apakah kalian tahu soal lelaki bertopeng putih? Apa dia juga salah satu dari kita?" tanyaku mendadak saat aku teringat soal lelaki misterius bertopeng yang beberapa kali muncul dihadapanku.
Wajah keduanya memucat mendengarnya.
"Kau...melihat seorang lelaki bertopeng putih?" tanya Lizzie. Nada suaranya terdengar gugup.
Aku bingung melihat reaksi mereka.
Caleb mencubit dahinya seakan sakit kepala. "Jadi orang itu juga sudah mengetahui keberadaanmu..." Dia mendesah berat. "Dengar, Eva, jika kau melihat orang itu lagi, kau jangan biarkan dia mendekatimu atau berbicara denganmu. Dia berbahaya, kau mengerti?"
"Apakah dia pemburu?" tanyaku dengan gugup.
"Lebih buruk." tukas Lizzie. "Dia salah satu dari kita. Tetapi, dia adalah seorang yang berniat membunuh orang yang 'sama' dengannya."
Aku tercekat mendengarnya. Ampun, kenapa situasiku makin banyak komplikasinya? Ada pemburu yang hendak membunuh orang sepertiku dan ada orang yang sepertiku yang juga mengincar sesama? Apakah aku masih di dunia manga Detective Conan?
"Aku tidak mengira banyak orang dari dunia nyata di dunia manga ini." tukasku.
"Manga?" tanya Caleb dan Lizzie bersamaan.
Aku memandang mereka dengan bingung. "Manga Detective Conan, bukan? Memangnya kalian tidak tahu?"
"Kita bukan di dalam dunia manga. Kita berada dalam film seri XXXXXXcc." ujar Caleb.
Aku menatap mereka dengan tatapan kosong. Film apaan tuh? "Hah?"
Ternyata bagi Caleb dan Lizzie, dunia ini bukanlah dunia manga DC tetapi dunia dari sebuah film seri yang tidak kukenal sama sekali. Sungguh aneh.
"Reina bilang ini dunia manga DC." ujarku dengan bingung.
Caleb memandangiku dengan seksama. "Sebaiknya kau tidak terlalu mempercayai dia. Karena dia itu shinigami. Dewa kematian juga merupakan musuh berbahaya bagi kita. Buktinya saja, dia tidak memperingatimu soal keberadaan kami di dunia ini atau keberadaan para pemburu. Dia menelantarkanmu tanpa informasi penting untuk bertahan hidup di dunia ini."
Aku merasa harus membela Reina. "Dia menyelamatkan nyawa-ku. Dia juga memberiku kalung jimat agar shinigami tidak dapat menemukanku dengan mudah." tukasku.
"Apa kau masih memakai kalung itu?" tanya Caleb.
"Aku...kehilangan kalung itu..." jawabku dengan lesu.
Caleb menoleh kepada Lizzie. "Bukankah kau bilang kau sudah mengembalikan kalung itu padanya?"
"Memang sudah." tukas Lizzie.
Aku memandang mereka dengan bingung. Aku menoleh pada Lizzie dan tiba-tiba teringat perkataan anak pencuri kalung-ku tentang gadis yang membeli kalung itu. "Orang itu kamu?!" seruku kaget.
"Aku sudah mengembalikannya kepadamu dirumah sakit kemarin." ujar Lizzie tanpa rasa bersalah.
"Aku tidak menerimanya!" seruku panik.
"Aku taro di meja sampingmu waktu itu." kata Lizzie.
"Mungkin orangtuamu menyimpannya untukmu?" kata Caleb berusaha menenangkanku.
Iya, nanti aku harus segera menanyakannya kepada Papa dan Mama.
"Kalian tahu soal fungsi kalung itu, bukan?" tanyaku. Aku menoleh kepada Lizzie. "Kau bilang kepada anak itu bahwa tanpa kalung itu, petak umpetnya akan lebih menarik. Jadi, kau tahu soal kalung itu. Kalian tahu darimana? Jika tidak ada dewa kematian seperti Reina yang memberikan kalung jimat itu, kenapa kalian tahu soal kalung itu?"
"Aku terbangun sudah memakai kalung itu." ujar Caleb. "Aku mendengar suara instruksi untuk tidak melepas kalung itu apapun yang terjadi. Kalau Lizzie, dia mendapat paket misterius tanpa nama berisi kalung itu dan instruksi yang sama pada kartu."
"Jangan dilepas jika kau ingin tetap aman..." ujar Lizzie dengan mata menerawang saat dia memberitahu isi peringatan pada kartu.
"Wow..." seruku tanpa sadar. "Jadi, kita semua koma 6 bulan dan memiliki kalung jimat yang sama?" Aku jadi teringat soal Amuro dan aku pun menceritakan soal 3 kalung pada 3 kasus pembunuhan kepada mereka.
Lizzie kelihatan kesal padaku lagi. "Tolong bilang padaku bahwa kau tidak mengatakan yang sebenarnya kepada dia soal mata shinigami." pintanya.
"Dia mengetahui hubungan koneksi kalung dan koma sendiri. Aku tidak memberitahunya. Dia itu detektif handal. Dia menyelidikinya sendiri." tukasku.
Aku bingung apakah aku harus memberitahu mereka bahwa aku sudah memberitahu Shuichi soal mata shinigami. Aku meringis.
"Kau memberitahu seseorang soal itu, bukan?" tukas Lizzie yang melihat ekspresi wajahku yang kelihatan bersalah.
"Habis aku terlibat bahaya terus! Dia yang menyelamatkanku kemarin! Aku tidak enak tidak memberitahu kebenaranya setelah dia bersusah payah menyelamatkanku. Lagipula, sikapku belakangan ini sudah membuat banyak orang curiga. Susah untuk bersikap normal apalagi aku dikelilingi banyak detektif!" tukasku berusaha membela diriku sendiri dari tatapan menghakimi Lizzie.
Lizzie menatapku tajam. "Kau memberitahu salah satu tokoh utama dari...manga-mu, bukan?" Dia mendengus lagi. "Seseorang yang kau agak naksir, aku yakin..."
Wajahku memerah mendengar tuduhan dia yang sungguh benar. "Tidak." Aku mengelak tuduhan dia.
Lizzie melototiku dengan tajam. "Kau suka pada orang itu siapapun dia... Kau tidak pandai berbohong. Wajah bodohmu itu mengonfirmasinya."
"Wajah bodoh?!" Aku melototi gadis itu dengan sebal.
Caleb menutup mulutnya sepertinya dia menahan tawa sementara Lizzie memutar bola matanya dengan kesal.
777
Malam itu aku menanyakan kepada Mama perihal kalung dan ternyata benar Lizzie memang meninggalkan kalung tersebut saat dirumah sakit. Mama menyimpannya untukku dan lupa mengembalikannya padaku.
Saat Mama meletakkan kalung tersebut ditanganku, aku merasa lega bukan main. Perisai-ku kembali.
Tetapi...apa tidak apa jika kupakai kembali kalung ini? Bagaimana jika nanti Amuro melihatnya? Setelah apa yang dikatakannya soal kalung dan hubungannya dengan 3 kasus, bukankah aneh jika nanti dia melihatku memakainya?
Ah, tapi aku harus memakai kalung itu. Satu-satunya cara untuk menghindari dewa kematian. Aku teringat akan peringatan Reina dalam mimpi. Akankah kalung ini berfungsi sama melindungiku dari dewa kematian yang akan datang dari dunia nyata?
Aku agak terganggu dengan perkataan Amuro. Dia berasumsi bahwa kalung yang dimiliki korban diberikan oleh pembunuhnya. Tetapi, aku rasa yang memberikan adalah shinigami yang bertanggung jawab meletakkan mereka di dunia ini. Dan ya memang bisa dibilang kesalahan shinigami-lah yang menyebabkan semua itu jadi secara tidak langsung mereka memang bisa dibilang sebagai pembunuhnya.
Jika berpikir demikian, Reina berarti juga sama, bukan? She will be the death of me. Ya, mengingat dia banyak 'menahan' atau 'tidak memberi' informasi mengenai keberadaan orang yang sama denganku atau keberadaan para pemburu, dia memang patut dicurigai, bukan?
Ataukah dia akan beralasan tidak tahu menahu soal semua itu?
Aku memandangi bandul kalung ditanganku dengan sedih. Aku benci memiliki pemikiran jelek akan Reina karena aku ingin mempercayai dia sekali.
