Aku memandang etalase berisi variasi kalung berbandul dalam berbagai bentuk dan ukuran. Aku mengambil sebuah kalung dengan bandul berbentuk locket yang bisa dibuka dan diisi foto. Tujuanku bukan untuk isi foto tetapi untuk menyembunyikan bandul berbentuk uang logam yang Reina berikan padaku. Dan sepertinya locket itu pas untuk tujuan yang ku maksudkan.
Karena Amuro mencurigai koneksi bandul kalung dengan kasus pembunuhan, aku menjadi risih untuk memakai begitu saja kalungku itu. Aku tak ingin dia menginterogasiku soal kalung itu lagi. Bagaimanapun, aku harus memakai kalung itu lagi demi keselamatan diriku sendiri.
"Lho, Eva, bukan?"
Aku menoleh ke belakangku dan melihat Mako. Aku tersenyum memandang pemuda itu. Terakhir aku bertemu dia adalah kejadian saat dia menyelamatkanku dari potensi kematian kelindas kereta api. Aku sungguh berhutang nyawa kepada orang ini.
Ah, aku jadi teringat bahwa Papa dan Mama ingin bertemu penyelamatku ini. Aku menanyakan apakah dia ada waktu kedepannya untukku.
Ketika Mako mengetahui soal Papa dan Mama ingin menemui dan berterima kasih padanya, dia seperti agak panik. Sepertinya dia canggung untuk bertemu orangtuaku.
"Aku hanya melakukan yang orang lain pasti akan lakukan." tutur Mako soal perihal keberaniannya melompat ke atas rel kereta untuk menyelamatkanku.
"Kak Mako memang sungguh istimewa." pujiku serius. "Tidak semua orang bisa bertindak menyelamatkan seseorang. Dan saat itu, hanya Kakak saja yang bersedia melompat menarikku dari jalur kereta. Yang lain hanya diam menonton...atau merekam." Aku teringat video yang sempat viral yang Yuka perlihatkan kepadaku.
Aku tersenyum dengan penuh apresiasi akan tindakan dia waktu itu. "Datanglah sekali ini saja, Kak. Papa dan Mama sangat ingin bertemu kau sekali saja. Kau tak perlu berlama-lama jika tidak nyaman." Aku khawatir mungkin Mako memang orang yang tidak begitu suka bersosialisasi jadi nanti aku ingin mewanti-wanti Papa dan Mama agar tidak heboh dihadapan dia.
Mako menatapku tanpa berkata-kata. Dia mendesah pasrah. "Baiklah jika itu memang keinginanmu."
Aku tersenyum cemerlang. Aku meminta no HP dia dan berjanji akan mengirimkan pesan kepadanya soal makan malam bersama dengan keluargaku. Aku harus menginfokan Papa dan Mama agar mereka bisa mengatur jadwal juga.
Kami lalu bercakap-cakap sebentar sebelum dia pergi meninggalkanku. Aku mengambil kalung yang hendak aku beli tadi dan membayarnya di kasir.
Aku langsung ke toilet dan duduk di closet duduk. Aku mengambil bandul koin jimat dari Reina di kantongku dan langsung menjematkannya ke dalam liontin kalung yang baru kubeli tadi. Aku puas karena koinnya muat didalam liontin itu.
Lalu aku memakai kalung itu dan keluar untuk melihat penampilanku. Setelah puas, aku beranjak pergi. Aku terus-menerus memegangi liontin kalungku dengan senyuman lebar. Dengan begini, sementara aku akan aman-aman saja, bukan?
Ah tapi jika teringat peringatan dari Reina, pikiran positif yang kumiliki saat itu, yang secara sangat susah dipertahankan dalam diriku, seperti jadi retak dan hancur berkeping-keping.
Senyum diwajahku langsung lenyap dan kegelisahan kembali meliputiku.
Walau perkataan tokoh fiksi Newt Scamander tentang 'worrying means you suffer twice' adalah benar dan seharusnya diterapkan demi kedamaian pikiran seseorang, tetap saja susah untuk tidak khawatir akan segala macam hal yang diluar kontrol kita.
Jika saja aku lebih matang dalam pemikiran kritis, mungkinkah aku bisa mempersiapkan dan mempertahankan diri lalu menjalani 'the unknown' dengan lapang dada?
Soal Caleb dan Lizzie, bisakah aku benar-benar mempercayai mereka? Apakah sebaiknya aku memberitahu mereka soal peringatan Reina? Atau sebaiknya aku meminta bantuan dari Shuichi Akai saja? Tapi, dia bisa apa dalam melawan shinigami? Pilihanku memang hanya Caleb dan Lizzie, bukan? Karena posisi mereka sama denganku. Tapi...
Aku menjambak rambutku dengan gemas. Aku benar-benar bodoh, sudah bodoh, plin plan pula. Aku menghela nafas keras-keras.
Aku menatap cermin depan wastafel dengan tenggorokan tercekat.
Aku mendengar bisikan dilubuk pikiranku yang terdalam. 'Ya sudah, jika memang tak bisa dihindari, buat apa susah payah? Jika memang harus mati, ya mati saja. Memang seharusnya kau sudah mati, bukan? Buat apa menyusahkan diri sendiri seperti ini? Kau tahu jelas hidup yang bawaan normal saja itu sudah tidak gampang, dan sekarang ditambah dengan ketidakjelasan dari sisi supernatural? Habislah kau, Eva! Kau payah dalam menjalani kehidupan pertamamu, apa kau pikir kehidupan keduamu akan jauh berbeda?'
Aku mencubit dahiku dengan keras sampai memar merah. Aku menopang kedua tanganku pada wastafel berusaha memerangi pikiran menyedihan dalam diriku. Aku benci ber-galau ria seperti ini.
777
Aku memandang rumah kediaman keluarga Kudo dengan jantung berdebar-debar. Ini adalah saat pertama kalinya aku akan les dengan Subaru setelah membocorkan bahwa aku mengetahui jati diri dia sebenarnya.
Duh, saking tegangnya perutku sampai terasa melilit. Sungguh tidak elegan...
Aku menelan ludah, berusaha menenangkan diri dan menjalani idiom face the music. Aku memencet bel pintu dan menunggu Subaru keluar untuk membuka pintu.
Shuichi Akai masih memerankan Subaru Okiya dengan sempurna tetapi aku sulit membohongi diriku untuk tidak melihat Shuichi Akai dalam dirinya yang sedang menjadi Subaru saat ini. Dan untungnya, dia tidak mengungkit soal percakapan kami tempo hari soal mata shinigami atau yang berhubungan dengan soal itu, malah dia dengan serius mengajariku PR matematika hari itu.
Ugh, aku benci matematika. Aku dengan gusar menopang kepalaku saat aku berusaha memahami kunci soal matematika hari itu. Gila, pelajaran di negara ini susah sekali...atau akunya yang tidak ketolongan bego-nya?
Aku mendesah, lalu melirik ke arah Subaru yang sedang membaca buku novel sambil mendengarkan percakapan dari earpiece-nya. Aku jadi penasaran apa yang sedang Ai lakukan saat ini. Aku bersyukur aku tidak disadap. Caleb sudah memastikan bahwa HP milikku bebas dari hack saat waktu itu kami pertama bertemu di kafe. Aku melototi orang itu untuk memastikan bahwa dia juga tidak melakukan hal-hal yang aneh pada HP-ku. Caleb terlihat geli saat melihatku memandangi dia dengan tajam.
Berbicara soal Caleb, apakah lebih baik aku memberitahu Shuichi soal dia dan Lizzie? Mungkin Shuichi bisa membantuku menginvestigasi latar belakang keduanya. Tetapi, aku khawatir Lizzie akan mencekikku sampai mati jika aku seenaknya mengumbar identitas dia dan Caleb pada orang lain. Waktu itu saja, gadis itu sangat murka saat tahu bahwa aku telah memberitahu ke satu orang soal mata shinigami.
Aku tidak memberitahu mereka kepada siapa aku memberitahu rahasia mata dewa kematian. Aku juga ingin melindungi identitas Shuichi.
Aku terkesiap saat menyadari Subaru sedang memandangiku.
Subaru mengulum senyum melihat reaksiku yang jelas-jelas canggung. "Perlu bantuan?"
"Hah?"
"Dengan PR hari ini?" lanjutnya.
"Eh, tidak..." jawabku dengan kagok.
Kedutan di sudut bibirnya membuatku menyadari bahwa dia tahu aku kesusahan soal PR hari itu dan bahwa aku agak tidak konsentrasi karena situasi kami yang baru. Tetapi, dia tidak mengatakan apa-apa dan balik membaca bukunya sambil menikmati secangkir kopi.
Entah kenapa aku merasa agak gusar.
777
Keesokan harinya, sepulang sekolah aku mampir ke Poirot. Amuro menyambutku dengan senyum khas ramahnya yang bisa melelehkan hati para pengunjung perempuan yang datang. Hari itu kafe agak sepi membuatku sempat khawatir bahwa Amuro akan menghampiriku dan menanyakan soal Reina, tapi ternyata tidak, dia tidak mendekatiku. Yang melayaniku malah Azusa. Setelah memesan makanan dan minuman pada Azusa, aku mengambil HP-ku untuk menjawab chat digrup dari Yuka dan Miyuki.
Aku menyeruput sedotan pada minumanku sambil dengan tersenyum-senyum menjawab chat dari kedua temanku itu. Yuka mengajak aku dan Miyuki untuk menonton film di bioskop sabtu nanti.
Bunyi bel pintu menandakan kedatangan kustomer Poirot dan aku menengadah untuk melihat sekilas. Aku tersedak minumanku saat aku melihat Ran, Sonoko dan Sera memasuki kafe...dengan Lizzie. Gadis itu memakai seragam yang sama dengan ketiga gadis lainnya. Apa-apaan ini?
Sera tersenyum saat melihatku. Dia melambaikan tangannya kepadaku dengan gaya khas tomboy-nya dan langsung main duduk didekatku. "Yo, Eva, apa kabar?"
Aku tersenyum tipis kepada Sera sebelum mengalihkan perhatianku pada Lizzie.
Ran dan Sonoko jadi ikut-ikutan menghampiriku dan langsung duduk di kursi di meja yang sama denganku. Ran menarik Lizzie mendekat lalu memperkenalkan gadis itu kepadaku.
Dengan senyum super ramah dan aura kinclong, Lizzie memperkenalkan dirinya padaku lagi.
Ran bilang dia murid baru disekolahnya. Ran dan yang lainnya memanggilnya Eliza, bukan Lizzie. Dipikiranku aku langsung memanggilnya Lizzie karena Caleb memanggilnya begitu. Tetapi nama gadis itu belum pernah keluar dari mulutku. Jadi aku memutuskan memanggilnya dengan sebutan yang sama dengan Ran dan lain-lain.
"Hai, Kak Eliza..." sapaku dengan nada seriang mungkin.
Aku pun berpura-pura tak mengenal gadis itu walau rasanya aku hampir mau mencak-mencak menanyakan kenapa gadis itu bisa bersama Ran dan teman-temannya. Sebenarnya apa alasan Lizzie tiba-tiba muncul dihadapan Ran dan yang lain? Kenapa dia bisa jadi satu sekolah dengan mereka? Apakah dia memiliki motif tertentu untuk mendekati Ran dan yang lain? Tidak mungkin, bukan? Seharusnya Lizzie dan Caleb tidak tahu menahu soal hubunganku dengan Ran dan kenyataannya juga aku tidak dekat dengan Ran atau pun kedua gadis lainnya. Jadi, apa ini kebetulan semata? Tetapi keberadaan Lizzie didekat karakter DC membuatku gugup.
Ran dan Sonoko mengajakku mengobrol sesaat sebelum mereka mulai sibuk mengobrol dengan Sera dan Lizzie. Aku memandangi Lizzie yang bersikap seelegan dan seramah mungkin, beda dengan saat dia bersama Caleb.
Aku melirik Amuro yang masih sibuk bekerja dan tidak memperhatikan keberadaan Lizzie. Tetapi, aku tahu dia pasti memperhatikan sekelilingnya dan hanya pura-pura tidak memperhatikan. Aku hanya bisa berharap bahwa tingkahku dan Lizzie tidak mencurigakan di mata dia.
Aku terkesiap memikirkan bahwa Amuro pun tahu ciri-ciri gadis yang 'membeli' kalungku dan Lizzie itu cocok dengan gambaran tersebut. Tapi, Amuro tak punya alasan untuk beranggapan bahwa gadis itu akan muncul dihadapanku, bukan? Tetapi mengingat bahwa detektif satu ini berhasil menemukan koneksi kalung dengan ketiga kasus pembunuhan, mungkin saja dia akan mencurigainya, bukan? Ah, tapi ciri-ciri gadis yang dimaksud itu tidak hanya menggambarkan Lizzie, aku rasa banyak gadis lain yang kira-kira juga mendekati gambaran itu. Lagipula, Amuro lebih tertarik pada Reina dan gambaran akan Reina berbeda dengan Lizzie. Iya, Amuro memang menanyakan bagaimana penampilan Reina padaku dan aku memberitahunya karena aku pikir dia tidak mungkin juga bertemu Reina. Selama ini, tidak ada yang bisa melihat Reina selain diriku.
Aku melirik Lizzie yang kelihatan begitu berminat mengobrol dengan ketiga gadis lainnya. Aku mengambil HP-ku dan mengirimkan pesan kepada Caleb, menanyakan apa dia mengetahui apa yang Lizzie lakukan saat ini. Aku mengetuk-ngetukkan jariku di meja saat menunggu balasan dari Caleb. Bunyi pesan masuk, aku membuka pesan balasan dari Caleb dan nyaris melempar HP-ku dengan kasar ke meja saat membaca jawaban asal Caleb yang berupa stiker emoji minta maaf.
Aku berusaha menahan kegusaranku dan baru menyadari bahwa Lizzie tengah memandangiku sambil tersenyum. Aku menarik nafas panjang berusaha menenangkan diriku. Sabar, Eva, sabar...
Tiba-tiba aku jadi teringat bahwa gadis itu memakai kalung jimat yang sama denganku, jika Amuro melihatnya memakai kalung itu bagaimana? Aku menatap Lizzie dan bisa sedikit lega karena kalung tersebut dia masukkan ke dalam seragamnya jadi orang pun tak bisa melihat bandul kalungnya.
Sera yang melihatku kelihatan tidak tenang menanyakan apa yang ada dipikiranku. Sial, aku lupa bahwa Sera itu juga detektif. Semoga saja dia tidak mencurigaiku dan Lizzie. Tetapi, mungkin tak apa, Sera tidak mengetahui apapun soalku dan dia tidak tertarik padaku.
Aku menampilkan senyum polos. "Aku cuma memikirkan soal ulangan besok."
"Oh ya? Besok memangnya ulangan apa?" tanya Sera.
Iih, ini anak beneran tertarik berbasa-basi amat? Aku kelabakan memikirkan alasan yang seharusnya sederhana saja.
Lizzie terlihat geli, menahan senyumannya saat melihatku bertingkah bodoh dihadapan dia dan yang lain.
Saat itu, tiba-tiba Conan datang memasuki kafe dan Ran langsung menyuruhnya bergabung dengan kami. Ran memperkenalkan Conan dengan Lizzie.
Aku mulai gelisah lagi saat melihat anak itu karena aku khawatir Lizzie akan menyadari bahwa Conan adalah tokoh utama dari manga yang kumaksud. Sialnya, memang aku sudah kelepasan memberitahu dia dan Caleb tentang nama manga dimana aku berada yaitu Detective Conan. Mereka memang hanya tahu sebatas judul tetapi jika mereka menyelidikinya, aku khawatir akan mengancam karakter DC. Soalnya, baik Caleb maupun Lizzie sangat merahasiakan soal plotline film dimana mereka berada. XXXXXXcc. Aku sama sekali tidak tahu apapun soal film yang dimaksud dan keduanya enggan memberitahuku. Melihat mereka demikian, aku juga jadi merasa protektif akan karakter DC. Tapi, bagaimana ya? Aku sudah kelepasan memberitahu judulnya yang sudah secara langsung memberi spoiler bahwa manga ini bertokoh utama seorang Conan.
Aku tercekat melihat ekspresi wajah Lizzie yang memandangi Conan dengan ketertarikan. Aku jadi teringat bahwa Lizzie itu sama denganku, memiliki mata shinigami, yang berarti dia bisa menyadari kejanggalan pada nama Conan yang pastinya bertuliskan Shinichi Kudo. Gawat! Gawat! Gawat!
Bagaimana sih aku ini? Apakah aku telah menempatkan Conan dalam bahaya? Tapi Lizzie dan Caleb bukan orang jahat, bukan? Aku menuturkan doa singkat dalam hati memohon agar aku tidak melakukan kesalahan dengan mempercayai Caleb dan Lizzie.
Aku terperanjat mendengar bunyi pesan masuk dari HP-ku. Aku menarik nafas sebelum membaca isi pesan yang ternyata dari Lizzie.
Apakah kau memberitahu Shinichi Kudo soal mata shinigami?
Tidak. Jangan menyebut soal Shinichi Kudo kepada siapapun. Ini penting. Please.
Aku membalas pesan Lizzie dan dengan gemas memencet tombol kirim lalu melirik ke arah Lizzie.
Oh, she's good. Tingkahnya sungguh normal saja saat dia membaca sekilas jawaban dariku sembari melanjutkan obrolan dengan yang lain. Malah aku yang kelihatan mencurigakan.
Aku melirik Conan yang sedang mengobrol dengan Ran sebelum memesan makanan kepada Azusa. Untunglah hari ini Amuro tidak melayani kami. Lizzie menyadari soal nama asli Amuro memang tidak bisa dihindari tetapi asalkan aku tidak berinteraksi dengan Amuro, dia tidak akan menyadari bahwa aku mengenal dekat dengan orang itu, bukan?
Aku pun bergegas berpamitan untuk pulang dengan alasan aku harus belajar buat ulangan besok. Aku melambaikan tangan dengan singkat kepada mereka dan mempercepat langkah keluar dari kafe. Aku berusaha bersikap biasa saja tapi rasanya aku gagal. Aku memang bodoh.
777
Aku menelpon Caleb dengan agak marah meminta penjelasan soal Lizzie.
"Maaf, Eva, aku tak bisa menghentikan dia. Jangan khawatir, dia tidak ada bermaksud buruk. Lizzie sepertinya penasaran kepada siapa kau memberitahu soal mata shinigami."
Rupanya mereka pernah melihatku bergaul dengan Ran dan Lizzie yang sekilas sepantaran dengan mereka memutuskan untuk daftar sekolah disana. Dia juga agak bosan jadi bermain-main kembali ke sekolah sepertinya menyenangkan. Apalagi Lizzie rupanya sangat disambut oleh remaja-remaja pria disana. Dia menyukai perhatian yang diberikan mereka. Jika aku jadi dia, aku ogah harus balik sekolah. Walau mungkin kehidupan kedua berarti ada kemungkinan segalanya bisa lebih baik dari kehidupan sebelumnya.
"Memangnya kalian tidak ada memberitahu siapapun soal mata itu pada tokoh di film kalian itu?" tanyaku dengan gusar. "Pasti ada donk tokoh dari film itu yang kalian percayai dan membantu kalian?"
Caleb terdiam tidak menjawab agak lama.
"Caleb?"
Dia menghela nafas. "Aku tak akan menghentikanmu jika kau ingin memberitahu soal mata itu pada salah satu tokoh pada mangamu, tapi pastikan bahwa orang itu benar-benar bisa dipercaya dan tak akan mengkhianatimu." tuturnya.
Aku jadi berpikir apakah orang yang dipercayai Caleb dan Lizzie berakhir mengkhianati mereka.
Tetapi Shuichi bukan orang jahat. Dia tidak mungkin akan mengkhianatiku, bukan?
Aku berharap Caleb dan Lizzie dapat memberitahuku akan hal-hal tersebut supaya aku bisa belajar juga dari pengalaman mereka. Tetapi, mereka sepertinya kurang mempercayaiku. Yaa, aku juga sama sih terhadap mereka.
777
Aku duduk di ayunan di taman seorang diri. Seharusnya aku berhati-hati untuk tidak menyendiri mengingat adanya para pemburu yang sungguh berniat sekali untuk menghabisiku. Tetapi Caleb mengatakan bahwa para pemburu itu tidak terlalu bodoh untuk terus-menerus menargetkanku, mengingat kegagalan terhadap tindakan pembunuhan padaku selama ini dan bahwa aku telah menarik perhatian para polisi dikarenakan kejadian misterius yang menimpaku, sungguh tindakan gegabah jika mereka masih saja menargetkanku. Apalagi sebagai target, aku agak berbeda karena wujudku yang anak kecil. Rupanya para pemburu itu bisa merasa tidak enak juga jika harus memburu anak kecil tapi sepertinya mereka memutuskan lebih baik aku dilenyapkan daripada menjadi masalah kedepannya, bukan? Caleb juga berdeduksi bahwa pria bernama Honda bertindak sendiri menargetkanku karena dendam pribadi, bukan perintah dari organisasi pemburu. Pemuda itu terlihat khawatir saat kuberitahu soal penelepon misterius yang menelponku dan mengakui telah menangani Rumi Tsukasa untukku.
Aku diam-diam sedikit lega karena penelepon misterious itu bukan Caleb atau Lizzie, itu berarti keduanya tidak melakukan sesuatu yang buruk pada Rumi Tsukasa, bukan? Jadi, apakah itu perbuatan lelaki bertopeng putih itu? Caleb sepertinya agak enggan memberitahu soal bagaimana dia mengenal lelaki bertopeng itu dan kejadian apapun diantara dia dan orang itu. Bagaimanapun Caleb dan Lizzie sudah bertahun-tahun hidup dengan selamat di dunia aneh ini yang ternyata gabungan antara film dan manga (sudah seperti gado-gado saja) dan pastinya lebih banyak pengalaman untuk bertahan diri dalam hidup. Sedangkan diriku, masih banyak hal yang tidak kuketahui.
Aku mendesah galau sambil menggerakkan ayunan.
"Eva?"
Lamunanku terbuyar mendengar seseorang memanggil namaku. Ternyata Amuro. Dia tengah memandangiku dengan pandangan seakan dia khawatir akan pilihan hidupku. Yaaa...aku mungkin lagi agak sensi lagi akibat tingkatan kegalauanku saat ini jadi aku menafsirkan yang tidak-tidak akan ekspresi wajah orang satu ini.
Aku mengerjap-ngerjapkan mata berusaha membuyarkan semua pikiran yang mengganggu yang membuatku sulit fokus pada Amuro. Aku menampilkan senyum yang kuharap terlihat polos kepada dia. "Kak Amuro!" sapaku seriang mungkin.
"Kau tak apa-apa, Eva?" tanya Amuro yang masih saja menampilkan ekspresi khawatir.
Aku melihat pria itu membawa sekantong belanjaan yang pastinya untuk keperluan di Poirot. Aku tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya. "Kakak habis belanja, apa ada hidangan baru nanti di Poirot?" tanyaku dengan nada bersemangat.
Amuro diam memandangiku sesaat sebelum menghela nafas. Dia lalu tersenyum kepadaku dan mulai memberi spoiler padaku tentang hidangan yang akan dia buat. Jika dia bukanlah polisi rahasia atau detektif, dia pasti bisa jadi koki. "Apa Eva sekarang akan ke Poirot?" tanyanya.
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengiyakan. Mana mungkin kulewatkan hidangan baru buatan orang ini, bukan?
"Ah, sebentar..." Amuro meletakkan belanjaannya di tanah dan menggeledah kantong bajunya sendiri. Dia mengeluarkan sebuah tiket dan menyodorkannya kepadaku.
Aku dengan bingung menerima tiket itu dan membaca deskripsi pada tiket, rupanya itu tiket masuk ke sebuah atraksi aquarium. Mataku membelalak lebar memandangi tiket itu, lalu menengadah menatap Amuro.
Amuro mengulum senyum, memandangiku. "Waktu itu, Eva yang memberikan tiket ke taman bermain, kini anggaplah giliran saya. Waktu itu pun, acaranya sedikit terganggu dengan berbagai macam kejadian tak terduga. Saya harap kali ini akan baik-baik saja."
Aku masih tak dapat berkata-kata.
"Bagaimana? Apakah Eva ada acara hari Minggu ini?" tanyanya. Melihat aku masih saja tak menjawab, dia berkata, "Jika Eva tidak mau..."
"Aku mau!" selaku sesegera mungkin sambil memeluk tiket tersebut pada tubuhku seakan ingin menghalangi Amuro dari mengambil kembali tiket tersebut.
Amuro tersenyum dan mengelus kepalaku lagi. Duh, apa kepalaku memang seenak mengelus kepala kucing atau anjing yah?
"Tapi...apa tak apa-apa memberikannya kepadaku?" tanyaku ingin mengisengi dia soal gosip antara dia dan Azusa. Aku ingat Azusa pernah mengatakan dia takut pada para penggemar Amuro yang datang ke kafe yang mencurigai interaksi dia dengan pria itu. "Aku kira Kakak akan mengajak Kak Azusa untuk kencan di aquarium."
Amuro tertawa risih sambil menggarukkan kepalanya. "Aku dan Azusa tidak ada hubungan apapun, kami hanya teman bekerja."
Aku menatap tajam orang itu seakan ingin melihat apakah aku bisa melihat lintasan kebohongan di ekspresinya. Tentu saja aku tidak bisa. Aku pun melampirkan senyum berseri-seri. "Terima kasih, Kak Amuro. Hari minggu ini yah?" Aku menatap tiket ditanganku dengan riang gembira, berusaha untuk tidak membiarkan pikiran negatif menyerobot ke depan pikiranku yang mempertanyakan motif Amuro kepadaku.
Apakah nantinya dia akan menanyakan lagi soal Reina? Aku harus jawab apa? Sampai detik ini pun, Reina memang tidak ada kabarnya sama sekali. Aku jadi merasa bersalah pada Reina karena mencurigainya jika teringat terakhir kami bertemu, gadis itu sedang terluka. Aku harap dia baik-baik saja saat ini.
Kami pun jalan berdua menuju Poirot. Amuro menanyakan soal hariku di sekolah hari ini. Aku pun melanjutkan aksi kekanak-kanakanku dan menceritakan hal yang lucu atau menarik.
Dibalik pikiranku, aku mulai meragukan apakah aku sungguh terlihat bertingkah bagai anak-anak? Jika demikian, kenapa para pemburu itu bisa mencurigaiku? Apakah mereka mencurigaiku semata-mata karena aku ada koma 6 bulan? Menurut Caleb, jangkauan para pemburu ini mendunia jadi pasti mereka memiliki koneksi besar, tentu mudah bagi mereka untuk menginvestigasi latar belakang para pemilik mata shinigami yang mereka temui selama ini. Mungkin saja, sama dengan Amuro, mereka menemukan hubungan bahwa kami semua pernah koma 6 bulan. Berdasarkan informasi itu, jika mereka memiliki list orang-orang yang koma dan mulai mengawasi semua yang baru sadar dari koma setelah 6 bulan, mungkinkah dari sini mereka menemukanku? Tetapi jika benar demikian, kenapa mereka tidak langsung membunuhku tak lama setelah aku bangun dari koma? Iya, apa mungkin mereka ingin memastikan dahulu bahwa aku benar target yang harus dilenyapkan? Dan bisa juga orang yang benar kebetulan bangun dari koma 6 bulan tanpa memiliki mata shinigami mungkin juga ada, bukan?
Aku mendesah lagi. Aku teringat bahwa saat ini aku sedang bersama Amuro yang cermat. Jangan sampai dia jadi mencurigaiku lagi. Aku menoleh ke arah orang itu dan tercekat melihat dia sedang mengamatiku tanpa berkata-kata.
Dia tersenyum padaku saat menyadari aku melihatnya.
Aku jadi meragukan apakah baik jika aku berada didekat dia terus. Mungkinkah aku harus mulai menjauhi dia? Tetapi aku rasa jika aku melakukannya, insting dia sebagai detektif akan terusik dan pastinya dia akan menyelidikiku semakin jauh. Aku khawatir aku akan menempatkan orang ini dalam bahaya walau dia itu sepertinya mahir dalam menari melawan bahaya.
Para pemburu itu...walau mereka mengaku hendak menyelamatkan dunia dari para parasit alias mereka yang memiliki mata shinigami, sepertinya mereka tidak begitu ambil pusing dengan melenyapkan nyawa lain sebagai collateral damage dalam 'memerangi' kami. Aku sudah mengonfirmasikannya dengan Caleb bahwa bom di taman bermain waktu itu adalah perbuatan para pemburu demi mengalihkan perhatian orang-orang sementara mereka menangkap dan berniat membunuhku. Faktanya, bom yang para pemburu itu pasang memakan banyak korban. Aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiran para pemburu itu. Demi membunuh seorang Eva, mereka tak segan menggunakan berbagai cara bahkan yang memakan korban. Aku jadi khawatir akan Shuichi yang sudah terlibat gara-gara aku dan Amuro yang tertarik dengan kejadian aneh disekitarku.
Caleb adalah orang yang menyelamatkanku saat itu. Fakta itu saja seharusnya sudah membuatku percaya sepenuhnya pada dia. Tetapi, pria bernama Adrian, anggota para pemburu, dia mati dibunuh...dan apakah yang membunuhnya adalah Caleb?
Aku teringat perkataan Caleb yang berdasarkan kalimat dalam Teen Wolf, bahwa dia hanya memburu mereka yang memburu dirinya. Bisa jadi itu semacam bela diri, bukan? Dia harus menyelamatkan dirinya sendiri dan...tentunya diriku saat itu, jadi seharusnya aku bisa menerima bahwa dia mencabut nyawa orang lain demi keselamatan kami berdua, bukan? Aku sungguh tak bisa membayangkan diriku yang dianggap juga sebagai ancaman di mata para pemburu ini sebagai seseorang yang bisa membunuh jika perlu, membunuh bahkan demi menyelamatkan diri sendiri. Rasa-rasanya hal ini hanya terjadi dalam film, manga dan fanfiction, bukan? Aku menelan ludah, menyadari saat ini aku berada dalam dunia manga dan film.
Aku teringat sebuah film fiksi tentang kriminalitas dimana seorang wanita diculik pembunuh serial tetapi pria itu hanya menargetkan wanita yang self-esteem-nya rendah karena kebanyakan para wanita yang sedemikian rupa itu tidak melawan atau menjerit meminta tolong. Saking merasa rendahnya opininya terhadap dirinya sendiri, wanita itu sampai tidak berusaha keras untuk menyelamatkan hidupnya bahkan tidak menjerit saat ditarik paksa ke dalam mobil si pelaku. Aku tidak ingat jelas jalan ceritanya. Intinya, aku takut bahwa aku pun akan seperti wanita itu, pada saatnya nanti, jika harus bergumul dengan maut, aku mungkin tidak akan melawan dan menerima nasib saja. Tapi saat itu, aku yang di dunia nyata merasa kemungkinan untuk terlibat dengan pembunuh serial sangat kecil jadi walau hal itu agak mengganggu, aku tak lagi memikirkan berlama-lama soal itu. Aku tertawa renyah saat teringat saat itu sempat terlintas dipikiranku untuk belajar menjerit. Harus bisa menjerit saat dijambret, dicabuli, dipukuli, bukan? Masalahnya aku merasa sungguh konyol jadi akhirnya aku tak pernah mencoba menjerit bahkan saat frustasi. Aku benci memikirkan bahwa diriku saat itu memang self-esteem-nya sangat merosot.
Dan aku yang saat ini pun, apakah aku berbeda dengan aku yang dulu? Didunia ini, jelas ada potensi bahwa aku akan diculik orang jahat dan dibunuh, apakah aku bisa melawan balik? Apakah aku bisa menjerit demi nyawaku?
Akhirnya kami tiba di Poirot, aku pun duduk ditempat yang kupilih dan kembali melamun, hanya berbicara sedikit jika diajak bicara oleh Amuro dan Azusa.
Aku mendesah saat memandangi jendela besar di Poirot. Dari bayangan pada jendela, aku melihat Azusa sedang menanyakan kepada Amuro tentangku. Mataku pun menerawang jauh saat pikiranku kembali tenggelam dalam pikiran negatif yang sulit diusir jauh-jauh.
777
Malam itu, sesuai perjanjian, Mako akan datang bertamu ke rumahku. Papa dan Mama sudah membeli banyak makanan enak untuk disantap bersama malam itu.
Mako berdandan lebih rapi dari biasanya. Dia kelihatan gugup saat menemui Papa dan Mama seakan-akan sedang bertemu orangtua pacar saja.
Aku sudah mewanti-wanti Papa dan Mama agar tidak terlalu mau tahu soal pemuda itu karena dia remaja jadi pasti sangat menjunjung tinggi privasi dia.
Papa menjabat tangan Mako keras-keras, mengucapkan terima kasih yang sungguh berlebihan menurutku. Mama tersenyum lembut pada pemuda itu dan memeluknya singkat sambil membisikkan ucapan terima kasihnya.
Mako memandangi kedua orangtuaku dengan ekspresi yang tidak jelas.
Saat mulai acara makan, Mako mulai kelihatan nyaman dengan kami semua. Mako mengatakan kedua orangtuanya meninggal saat dia masih kecil dan bahwa dia tinggal bersama kakeknya yang keras. Mendengar itu, kami semua merasa prihatin. Mungkinkah karena itu tadi sikapnya agak aneh terhadap Papa dan Mama?
Malam itu berjalan lancar dan Mako kelihatan senang mengobrol dengan Papa dan Mama. Aku lega melihatnya. Aku merasa Mako itu sungguh hebat bisa meladeni orangtua dengan baik. Jika dibanding dengan diriku yang asli, aku lebih suka bersembunyi dikamar dan pura-pura tidur saat ada tamu datang baik tamu tua maupun muda. Aku merasa diriku yang sekarang agak berbeda sedikit, mungkin karena adanya esensi Eva yang asli yang sifatnya agak berbeda dari diriku yang sebenarnya. Sungguh membantu karena jika aku sepenuhnya utuh diriku sendiri, aku tak akan bisa bersosialisasi menjalani hidup dengan baik.
Aku menggeleng-gelengkan kepala berusaha mengusir jauh pikiran jelek dan fokus kepada percakapan Mako dengan Papa dan Mama.
