Lari. Aku berlari. Nafasku terengah-engah. Sekelilingku agak gelap dan aku tidak tahu hendak kemana aku lari.
Tiba-tiba aku melihat sosok seseorang. Shuichi Akai.
Aku menengadah menatap ke arah pria berbadan tinggi itu dan terhenyak melihat betapa dinginnya sorot mata orang itu saat memandangiku.
Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah pistol dan mengarahkannya kepadaku. "Maaf, nak. Sepertinya aku tak bisa lagi melindungimu."
Aku terperanjat karena dia tiba-tiba mengarahkan pistolnya ke arahku dan aku melangkah mundur, berbalik untuk lari.
Setelah beberapa saat berlari, aku melihat sosok Amuro yang mendadak muncul didepanku. Seperti Shuichi, pria itu juga menatapku dengan tatapan dingin.
Dia mengeluarkan pistolnya juga dan mengarahkannya kepadaku. "Demi Jepang yang kucinta, aku harus memastikan semua parasit yang ada di negara ini mati."
Parasit? Kenapa dia berkata begitu? Aku terhenyak dan melangkah mundur sebelum aku berlari ke arah lain lagi.
Kali ini aku melihat Conan dan dia mengarahkan jam tangan bius yang diarahkan kepadaku, seakan aku targetnya juga. "Maaf, Kak Eva, kau sudah tak bisa lari lagi ke manapun. Menyerahlah."
Aku tidak mengerti. Apa yang sedang terjadi saat ini? Kenapa mereka semua menyerangku?
Aku berlari lagi untuk menghindari Conan dan kali ini aku melihat Caleb dan Lizzie. Aku membuka mulutku untuk meminta tolong namun suaraku tak bisa keluar.
Keduanya memandangiku dengan tatapan dingin dan kosong seakan keberadaanku sama sekali tidak berarti bagi mereka.
Aku menelan ludah. Mendadak lututku serasa lemas dan aku pun bersimpuh di lantai diliputi rasa takut dan putus asa yang tidak jelas namun mencekik.
Tiba-tiba sebuah tangan hitam menggenggam pergelangan kakiku dan aku menjerit sampai terbangun.
Aku membuka mata lebar-lebar dan menyadari aku sedang menatap langit-langit didalam kamar tidurku. Untuk beberapa saat aku sulit mengatur kesadaranku akan realita disekitarku.
Aku mendesah lega menyadari bahwa aku hanya bermimpi buruk. Tetapi, kenapa aku bisa bermimpi seburuk itu dengan semua orang mendadak menjadi musuhku? Teringat emosi dalam mimpiku dimana aku seorang diri dan tak memiliki teman ataupun pelindung, aku merasa sedikit tertekan. Aku menarik nafas dan menghembuskannya beberapa kali, berusaha menenangkan diriku dan membohongi diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
777
Pada jam pelajaran di sekolah, aku sulit berkonsentrasi dan terus-menerus termenung sehingga beberapa kali kena teguran keras dari guru tetapi otakku seperti tidak bisa diajak bekerja sama.
Aku dengan lesu memandang ke arah langit diluar jendela.
Kepalaku dijitak oleh Pak guru.
"Aduh." Lamunanku terbuyar dan aku bersiap melototi siapapun yang menjitakku. Ketika melihat wajah Pak guru, nyaliku menciut.
Aku hanya bisa meminta maaf kepada dia. Untunglah Pak guru Shin adalah salah satu guru yang pengertian dan dia mengajar topik pelajaran yang kusuka yaitu menulis bebas.
Pak guru Shin mengetuk buku kosong dihadapanku dan menanyakan apakah aku sudah memiliki ide hendak menulis tentang apa.
Ya sejujurnya aku dari tadi tidak memikirkan hal itu. Sepertinya beberapa hari ini aku masih saja harus memerangi kegalauan dalam diriku. Sebal juga karena sabtu minggu nanti aku ada acara tetapi apakah aku bisa menikmatinya jika aku terus saja dibebani kerisauan yang mengombang-ambing seperti ini?
Setelah Pak guru Shin puas menegurku, dia pun beranjak pergi kembali mengelilingi seisi kelas untuk melihat perkembangan anak-anak lainnya.
Yuka dan Miyuki terlihat prihatin kepadaku. Aku melemparkan senyum kecil kepada mereka untuk menenangkan mereka.
Aku menjitak kepalaku sendiri berusaha membuyarkan pikiranku yang belepotan kemana-mana dan berusaha fokus pada mengarang cerita.
Aku tersenyum sendiri. Iya, daripada melamun dan menyiksa diri dengan hal-hal diluar kontrolku, lebih baik aku menulis sesuatu. Sudah lama sekali aku tidak menulis cerita. Terakhir menulis adalah fanfiction dari film Coraline itu. Sekarang dengan cheat code-ku, aku mau menulis fanfiction apa yah?
'Don't blink. Blink and you're dead. They are fast. Faster than you can believe.'
Tiba-tiba aku teringat quote dari episode salah satu film kesukaanku. Aku tersenyum lebar saat aku memutuskan untuk menulis fanfiction yang berhubungan dengan weeping angels.
Keinginan menulisku sangat kuat saat itu sehingga aku sangat kesal saat jam pelajaran menulis bebas sudah selesai dan harus fokus mengerjakan pelajaran lain dahulu sementara dikepalaku plot ceritanya sedang menari-menari mengganggu, minta diwujudkan dalam tulisan.
Aku menolak saat diajak bermain oleh Yuka dan Miyuki. Aku juga tidak ke Poirot. Sepulang sekolah pokoknya aku langsung lari pulang ke rumah supaya aku bisa fokus menulis lagi mumpung inspirasi menulisnya lagi mengental dalam diriku. Betapa senangnya saat bisa menulis dengan lancar, semua kalimat-kalimat bisa sambung menyambung menjadi satu bagai rajutan anyaman saja. Aku hanya istirahat dan memakan mie instan saat perutku sudah tak lagi dapat menahan lapar. Sambil memakan mie pun, aku memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Walau lagi semangatnya menulis, aku terganggu saat Papa dan Mama mendatangiku untuk mengecek. Berhubung aku ini dianggap anak kecil, aku sulit memiliki privasi, dalam arti kamar tidurku ini tidak memiliki kunci kamar. Karena mereka masih saja menggangguku, aku memutuskan untuk berhenti menulis supaya bisa meladeni mereka. Aku menutup buku dan meletakkannya di laci. Untungnya ada 1 laci yang bisa dikunci. Aku memutuskan untuk fokus kepada kedua orangtuaku ini yang seperti sedang melawak saja.
Kepada mereka, aku bohong bahwa aku menulis diary pribadi dan melarang mereka mendekati atau mengintip. Tentu saja Mama tidak bisa menahan diri untuk menggodaku bahwa aku menulis tentang anak cowok yang kusuka atau mungkin tentang Amuro. Papa pun jadi cemberut mendengarnya. Lucu juga kali ini aku mendapat model orangtua yang protektif akan anak perempuannya, bukan yang menegurku karena terlalu gemuk, harus diet biar tidak jelek dan menyuruhku secara tidak langsung untuk cepat cari pacar dan menikah agar cepat bisa memamerkan cucu. Ugh.
Jujur saja aku belum memikirkan bagaimana kedepannya diriku yang sekarang ini nantinya? Entah kenapa ada suatu bagian dalam diriku yang masih saja merasa bahwa ini hanyalah ilusi mimpi belaka dan jika realita ini benaran pun, kenapa aku merasa bahwa ada limit dalam waktu hidupku di dunia ini? Ya, dengan adanya ancaman dari dewa kematian, para pemburu dan juga sesama pemilik mata shinigami, tak heran bukan aku jadi tak bisa melihat jauh kedepannya akan masa depan macam apa yang aku bisa miliki? Ah, diriku yang selalu tak berambisi dan selalu kehilangan arah...setidaknya aku punya alasan legit dalam kehidupan yang kedua ini, bukan?
Benar-benar...pikiran kita itu bisa menjadi musuh paling besar yah? Aku tak bisa berhenti menyiksa diriku dengan sekelebat-sekelebat pikiran tajam menusuk yang membuat harga diri jadi lebih rendah. Benar-benar tidak apik...dan agak menyedihkan. Hal ini juga sungguh merusak mood-ku untuk menulis. Aku merasa sungguh konyol menulis cerita ditengah situasi dimana nyawaku ini bisa kapan saja terancam bahaya.
Dulu di dunia nyata, saat aku sedang galau atau sedih, aku berusaha mengubah energi negatif itu dengan menulis cerita sesuai yang kuinginkan. Aku bahkan menulis cerita yang Mary Sue-nya benar-benar bikin ngeri tetapi saat itu hal itu membawa kebahagiaan yang lumayan untuk mengalihkan perhatianku dari pikiran negatif yang bagaikan lubang hitam tanpa dasar. Tetapi hal itu tidak selalu berhasil terutama saat diserang komentar pedas pembaca atau tak adanya (atau kurang banyak) komentar mendukung.
Banyak penulis yang sampai membuat postingan yang memohon feedback dari pembacanya, kadang sampai mengancam tak akan update jika tidak ada 10 komentar baik. Ada pula yang menjelaskan manfaat komentar pendukung bagi penulis dan banyak yang menyukai postingan itu tetapi tetap saja kesadaran pembaca tidak terusik. Alhasil, banyak penulis jadi lemas dan malas melanjutkan cerita. Ya, bisa saja berarti cerita yang dibuat penulis tak sebagus yang dipikirkan penulis makanya tidak ada tambahan komentar mendukung lagi. Sungguh mimpi buruk bagi para penulis manapun.
Semenjak tiba didunia ini, aku belum menemukan fandom yang membuatku tergila-gila sampai ingin membuat fanfiction. Dan sungguh menyedihkan bahwa banyak sekali fandom dari novel, manga atau film yang aku suka yang tidak ada di dunia ini. Tetapi, pengetahuan akan fandom-fandom tersebut membuatku memiliki cheat code jika suatu hari nanti aku berminat menjadi penulis dan berharap dapat menghasilkan banyak uang dari itu.
Sebenarnya aku agak terkejut karena sepertinya para pemilik mata shinigami lainnya belum ada yang melakukan hal yang semacam itu atau mungkin aku yang tidak menyadarinya. Haha, mungkin kehidupan mereka jauh lebih baik dan bermakna sehingga mereka tidak perlu memanfaatkan cheat code yang mereka miliki. Jika aku memiliki suara merdu pun dan memiliki keberanian untuk berpanggung ria, aku mau saja menjadikan diriku penyanyi yang terkenal karena 'menulis' lirik sendiri, yang dalam arti mengambil lirik lagu dari dunia nyata yang tak ada di dunia ini...seperti lagu Taylor Swift. What kind of a person that make me if I'm fine and dandy using the cheat code?
Semenjak tiba didunia ini, duniaku sepertinya hanya berputar mengelilingi karakter manga DC ini. Aku hampir merasa aku sudah menjadi bagian dari manga ini mengingat aku telah menyematkan banyak karakter DC dalam keseharianku. Kadang aku berpikir apakah aku masih akan berada di dunia ini saat perlawanan terhadap organisasi mulai memanas. Apakah Conan akan mendapatkan tubuh aslinya kembali? Apakah semua karakter orang baik di dunia ini akan selamat dalam perlawanan terhadap orang jahat? Tapi seperti yang kukatakan tadi, aku merasa memiliki batasan waktu. Aku mungkin tak akan pernah tahu akhir kisah manga DC bahkan saat aku berada didalam dunia ini.
Aku mendesah dan memutuskan untuk mengistirahatkan mata.
777
Ran adalah seorang penulis romansa yang cukup terkenal. Akan tetapi saat ini dia sedang mengalami writer block yang cukup parah. Agen penulisnya, Sonoko, menyarankan agar dia beristirahat dan pergi berlibur ke luar kota atau luar negeri.
Mengikuti nasihat Sonoko, Ran pun memutuskan untuk pergi berlibur. Disanalah hidup Ran akan diombang-ambing akibat keputusannya untuk bertamasya melihat bangunan tua di daerah sana. Niat Ran kesana selain untuk menikmati keindahan dari bangunan tua, gadis itu juga berharap dapat inspirasi baru untuk novel barunya.
Hubungan cinta yang melampau waktu.
Kebanyakan orang pasti suka akan ide bahwa cinta itu abadi. Makanya gadis itu berpikir untuk membuat kisah baru berdasarkan aliran itu.
Sebuah patung berwujud malaikat wanita yang sedang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya seperti sedang menangis berduka menarik perhatian Ran.
Ran mengambil foto patung itu juga menggunakan HP-nya. Entah kenapa dipikiran gadis itu melintas kisah mitologi yang berhubungan dengan seseorang yang berubah menjadi batu entah akibat kutukan atau rasa duka yang mendalam.
Mengamati patung itu, Ran berpikir kisah macam apa yang dimiliki malaikat ini, duka macam apa yang dialaminya.
Ran mengerjapkan matanya dan terkejut saat patung malaikat itu berubah posisinya. Kedua tangan patung itu yang tadinya menutupi wajahnya sekarang diturunkan setengahnya dan Ran dapat melihat wajah malaikat itu.
Gadis itu masih terbengong-bengong mengira penglihatannya salah dan mungkin terbelenggu oleh rasa kaget sehingga tidak bisa bergerak.
Ketika Ran mengerjapkan matanya lagi, posisi patung malaikat itu berubah lagi semakin mendekati dirinya, satu tangan mengarah ke arah Ran seakan ingin menangkapnya.
Tersentak kaget, Ran pun berusaha kabur dan dia membalikkan badannya. Ran terkesiap melihat patung itu kini sudah ada di belakangnya. Ran menoleh ke arah lain mengira ada 2 patung malaikat tetapi memang hanya ada 1. Entah bagaimana patung itu bisa bergerak.
Detik berikutnya wajah patung itu seperti mengkerut menyeramkan dan mulutnya terbuka memperlihatkan taring.
Ran menjerit.
Gadis itu jatuh ke lantai dan mendapati dirinya di sebuah jalanan batu bata di tempat yang tidak dia kenal. Gadis itu celingukan melihat sekelilingnya dengan bingung. Untungnya patung malaikat itu tidak ada disana. Akan tetapi, Ran melihat keanehan karena beberapa orang yang lalu lalang di jalanan itu berpakaian gaya kuno dan beberapa memandangi gadis itu dengan keheranan.
Selembar kertas yang diterbangkan angin mendarat didekat kaki Ran dan gadis itu memungut selebaran itu.
Kedua mata gadis itu membelalak lebar melihat tulisan bertanggal pada selebaran itu. Sepertinya...gadis itu terdampar ke waktu 50 tahun sebelum dia lahir.
"Lalu?" tanya Sonoko. "Apa yang terjadi selanjutnya?"
Ran kelihatan agak ketakutan mendengarkan ceritaku tentang patung yang bergerak sendiri.
Aku mengangkat bahu dengan gaya cuek. "Selanjutnya gadis itu akan bertemu detektif bernama Shinichi disana. Latar belakang Ran yang misterius menarik perhatian Shinichi. Shinichi kebetulan sedang menyelidiki semakin maraknya orang-orang menghilang tanpa jejak di daerah sekitar sana. Karena kasihan dan rasa ingin tahu, Shinichi membawa Ran pulang ke rumahnya setelah gadis itu mengaku tidak punya tempat tinggal. Ran bekerja menjadi asisten Shinichi berharap berada disisi pria itu suatu hari bisa menemukan jejak untuk bisa kembali lagi ke jaman waktu dia berasal."
"Aah, lalu mereka akan saling jatuh cinta?" tebak Sera.
"Sudah pasti donk!" tukas Sonoko. "Jika ceritanya tentang Ran dan si maniak misteri itu. Iya'kan, Eva?"
Ran yang mendengar itu wajahnya berubah merah.
Aku hanya tersenyum kemudian melanjutkan ringkasan cerita yang kubuat.
Waktu berjalan cepat, tahu-tahu sudah hampir setengah tahun semenjak Ran terdampar di jaman waktu yang salah. Ran sangat mensyukuri keberadaan Shinichi disisinya. Keduanya semakin dekat dan nyaman dengan satu sama lain. Tetapi suatu hari, dalam sebuah kasus yang ditangani Shinichi, Ran bertemu dengan seseorang yang mengklaim bahwa dia diincar oleh patung malaikat yang bisa bergerak. Shinichi jadi tertarik untuk menyelidikinya, sebagai detektif, dia berniat membuktikan adanya trik logis dibalik patung yang bergerak tetapi Ran terihat pucat dan meminta detektif muda itu untuk berhati-hati.
Akhirnya gadis itu memberitahukan yang sebenarnya asal muasal dirinya dan tentu saja detektif itu sulit mempercayainya membuat gadis itu sangat kecewa. Detektif itu pergi untuk menyelidiki kasus klien tersebut. Gadis itu pun mengikutinya dan benar saja patung malaikat itu ada dan bentuknya pun sama persis dengan yang dia lihat sebelumnya tetapi bedanya sekarang ada dua patung malaikat, bukan satu saja. Klien mereka tertangkap oleh patung malaikat itu dan menghilang tanpa jejak tepat didepan Shinichi dan Ran.
Ran dan Shinichi berada dalam bahaya, namun pemuda itu, setelah menganalisa situasinya, mengerti bahwa selama mereka menatap patung itu tanpa berkedip, patung itu tak akan bisa bergerak. Tapi mana mungkin kita bisa tidak mengedipkan mata selamanya, bukan? Akhirnya setelah berpikir keras, detektif itu berhasil menipu kedua patung malaikat yang mengejar mereka itu untuk saling menatap satu sama lain saat mereka mengepung dirinya dan Ran. Secara teori semestinya membuat patung malaikat itu tak lagi bisa bergerak.
Setelah selamat, keduanya segera pergi dari tempat itu. Mereka mulai berbicara serius soal klaim Ran sebagai seseorang dari masa depan. Shinichi akhirnya mempercayainya dan bersedia membantunya agar bisa pulang kembali ke jaman waktu yang benar. Akan tetapi, keduanya sama-sama merasa berat hati untuk berpisah. Keduanya mulai menyelidiki dan menemukan bukan Ran seorang yang disalah tempatkan oleh patung malaikat itu. Dan dengan maraknya kasus orang menghilang, Shinichi berdeduksi kemungkinan bahwa orang-orang tersebut telah disentuh oleh patung malaikat itu dan mungkin dikirim ke jaman waktu yang salah. Shinichi mengutarakan kekhawatirannya akan Ran bahwa cara untuk kembali mungkin dengan membiarkan diri Ran disentuh lagi oleh patung malaikat namun tak ada jaminan bahwa patung malaikat itu akan mengirim Ran kembali ke masa depan, bagaimana jika Ran dikirim ke masa lalu yang jauh lebih lalu dari sekarang?
Ran agak putus asa bahwa dia tak akan bisa pulang dan bertemu kembali dengan keluarga dan teman-temannya tetapi setelah memikirkannya, dia juga tak tega dan tak ingin meninggalkan Shinichi karena dia menyukai detektif itu. Setelah berpikir lama, Ran memutuskan untuk tidak mencari jalan pulang yang tidak aman dan ingin tetap berada disisi Shinichi yang tentu saja membalas perasaan wanita itu.
"Wah, sepertinya akan happy ending yah?" sela Sonoko. "Cinta yang melampau waktu...jadi gadis dalam cerita itu menjalani plot cinta yang hendak dia tulis sebagai novel selanjutnya yah..." Dia menyikut Ran. "Senang tidak tuh?"
Ran mendengus. "Apa sih? Itu kan cuma cerita karangan saja!"
Sera mengamatiku. "Jadi, apa maksud cerita itu, malaikat itu secara tidak langsung menjodohkan keduanya?"
Aku mendesah. "Ini bukan cerita dongeng yang berakhir bahagia. Mana mungkin makhluk berwujud malaikat itu melakukannya demi sebuah kisah cinta, bukan? Tidak, makhluk itu sengaja mengirim seseorang ke jaman waktu yang salah yang pada dasarnya memisahkan orang tersebut dari keluarga dan temannya karena makhluk itu jahat, menganggap perpisahan yang dipaksakan itu menyenangkan, mereka menyerap energi kehidupan orang tersebut, kehidupan yang seharusnya dia jalani dan tak lagi akan terjadi karena campur tangan mereka, energi itu adalah sumber makanan mereka."
Ketiga gadis itu mengamatiku dengan wajah hampir kebingungan.
Aku tertawa jengah menyadari aku terlalu serius dalam menulis ceritanya, benar-benar bukan cerita yang akan ditulis oleh seorang anak kecil berusia 12 tahun, bukan? Ah, tapi biarlah, aku saat ini benar sedang senang menulis cerita ini. "Tetapi yah fokus cerita ini bukan pada latar belakang malaikat itu sih. Ini tentang..." Aku mengangkat bahu lagi dengan gaya cuek. "...cinta yang melampau waktu. Akhir bahagia atau tidak bukanlah intinya."
Shinichi dan Ran sudah menjalani hidup bersama dan berbahagia dengan satu sama lain. Tentu langkah selanjutnya adalah untuk melamar gadis itu. Shinichi pun berniat membeli cincin pertunangan untuk gadis itu. Akan tetapi, saat dalam perjalanan pulang, dia dihadang sebuah patung malaikat. Shinichi berusaha mengecoh patung malaikat itu namun kali ini dia sulit melakukannya. Semakin lama patung malaikat itu semakin bergerak cepat mendekati detektif itu dan kali ini wajah pada patung itu tidak mengkerut dan memperlihatkan taring. Wajah itu memperlihatkan senyum yang dingin yang membuat detektif itu merasa tidak tenang.
Detik selanjutnya, Shinichi mendapati dirinya berada di jaman yang berbeda. Walau agak terkejut, detektif itu segera menganalisa situasinya dan berusaha menyelidiki pada jaman waktu kapan dia terdampar. Betapa terkejutnya dia mendapati bahwa dia berada di masa depan, tepatnya pada tahun 2021, tahun dimana Ran seharusnya berada. Teringat akan Ran yang sendirian di jaman waktu 50 tahun yang lalu, detektif itu menjadi panik dan berusaha mencari jalan kembali kesana. Dia ingat ucapan Ran akan patung malaikat di bangunan tua yang dia temui dan detektif itu berniat ke tempat itu dengan harapan akan bertemu patung malaikat itu yang mungkin bisa mengirimnya kembali kepada Ran.
Shinichi berjuang untuk beradaptasi dengan jaman waktu yang sangat berbeda dengan yang dia kenal selama ini. Dia melihat berita yang memberitakan menghilangnya Ran yang seorang penulis novel yang lumayan popular. Detektif itu bertekad untuk kembali kepada Ran. Namun, saat dia menemukan bangunan tua yang dikatakan Ran, dia hanya bisa terhenyak mendapati puing-puing bangunan tersebut dan patung malaikat yang tak ada dimanapun sejauh mata memandang. Detektif itu menyadari bahwa dia terperangkap di jaman waktu ini tanpa bisa kembali kepada gadis yang dicintainya.
Untuk berbulan-bulan lamanya, Shinichi masih saja berusaha mencari patung malaikat manapun, berharap dapat kembali ke sisi Ran walau dia memahami seperti yang dia katakan pada Ran dahulu, tidak ada jaminan patung malaikat itu akan mengirimnya ke jaman waktu dimana Ran sekarang berada. Akhirnya, Shinichi mulai mencari tahu soal Ran, berharap menemukan catatan soal gadis itu dari masa lalu sekaligus juga mencari tahu soal kehidupan gadis itu dimasa dia berada sekarang, berharap bisa lebih dekat dengannya menggunakan cara ini.
Ran, Sonoko dan Sera terdiam mendengar tuturan ceritaku.
Aku jadi tidak enak saat melihat wajah Ran yang kelihatan sedih. Jangan-jangan dia memikirkan situasinya sendiri dengan Shinichi. Aku jahat juga menggunakan nama keduanya untuk sebuah cerita yang tidak berakhir bahagia.
Detektif itu akan menemukan sebuah buku berisi puisi dan cerita karya gadis yang ditinggalkannya di masa lalu. Gadis itu menerbitkan buku itu sebagai surat cinta kepada dia di masa lalu, bahkan menggunakan kode-kode tersembunyi kegemaran detektif itu. Tentu dia tidak tahu bahwa detektif itu terdampar di masa depan. Tetapi setelah menghilangnya detektif itu, gadis itu tahu bahwa ada kemungkinan dia meninggal saat menangani kasus atau dia bertemu lagi dengan patung malaikat itu. Gadis itu merasa kedua pilihan sangatlah buruk tetapi dia lebih memilih bahwa detektif itu masih hidup dimanapun dia berada. Detektif itu berhasil memecahkan kode-kode yang dibuat gadis itu dan menemukan kotak berisi surat-surat yang ditulis oleh gadis itu di masa lalu, semua ditujukan untuk dirinya. Dia membaca semua surat pada kotak semalaman dan airmatanya pun mengalir dipipinya saat membaca surat terakhir dari gadis itu. Hatinya seperti dicabik-cabik menyadari bahwa dalam alur waktu yang sekarang, gadis itu sudah lama tak ada lagi di dunia ini. Gadis itu menghabiskan waktu hidupnya di jaman yang salah tanpa dirinya. Sekarang giliran dia yang harus menjalani sisa hidupnya tanpa gadis itu di jaman yang salah juga. Keduanya benar-benar dipermainkan oleh nasib, akan tetapi, detektif itu menyadari bahwa dia tidak menyesali dapat bertemu dan mengenal gadis itu walau hanya untuk beberapa waktu saja.
Ketiga gadis itu seperti jadi melamun setelah mendengar tuturan ceritaku, seakan mereka jadi sedikit galau.
Awal mula kenapa aku jadi menceritakan kisah cerita yang kubuat untuk pelajaran menulis bebas kepada mereka adalah karena sehabis sepulang sekolah hari ini aku mampir ke Poirot dan bertemu mereka. Aku melanjutkan menulis cerita itu dengan penuh niat. Saat itu, Amuro dan Azusa sedang agak sibuk jadi pria itu sama sekali tidak memperhatikan keberadaanku. Ya, tak apa, karena aku kesini memang denga niat ingin tenang menulis sambil makan enak. Lalu, Ran, Sonoko dan Sera datang dan langsung bergabung ke mejaku. Mereka terlihat tertarik akan apa yang kukerjakan. Aku bilang saja aku mengerjakan PR mengarang. Lalu, ketiganya sibuk sendiri mengobrol lalu aku mendengar Sonoko dan Sera menggoda Ran soal Shinichi. Aku pun ingin mengisengi Ran juga dan sengaja menanyakan soal Shinichi.
Sonoko sangat membantu memberitahuku soal si maniak misteri itu. Lalu, kukatakan saja aku ingin meminjam nama kedua pasangan kekasih ini untuk ceritaku yang salah satu tokoh utamanya adalah seorang detektif. Sonoko menggoda Ran sebagai istri yang setia selalu menunggu Shinichi membuat Ran mencak-mencak merasa malu. Aku pun didesak oleh Sonoko dan Sera untuk menceritakan kisah yang kubuat.
Ketika ditanya soal darimana aku mendapat ide weeping angels, aku sengaja menjawab dengan tidak jelas bahwa karakter itu adalah cerita dari dunia lain dan aku tak berniat menjelaskan lebih jauh. Mana bisa kukatakan bahwa aku mencuri karakter itu dari film Doctor Who, bukan? Dalam hati, aku tertawa terkekeh-kekeh, dalam bayanganku aku seperti sedang tertawa bagai villain.
Sonoko kelihatannya lumayan tertarik dengan cerita itu dan menanyakan apa dia bisa menggunakan plotline cerita itu untuk naskah drama pertunjukan seni di SMA mereka bulan depan nanti. Aku pun menyetujuinya saja. Sonoko bilang cerita yang kubuat agak terlalu depresi dan dia ingin mengubah sedikit jalan ceritanya supaya berakhir bahagia. Aku mempersilahkannya untuk melakukan itu.
Sera mengamati buku tulisan berisi karanganku. "Eva, apa cita-citamu menjadi penulis? Darimana kau mendapatkan imajinasi untuk menulis cerita semacam ini?"
Aku mengeryitkan hidung. "Imajinasi apa? Bukankah plotline semacam ini sudah sering ada dalam buku novel fiksi?" sergahku. "Aku cuma iseng saja, ini untuk tugas sekolah saja."
"Apa kau tak berniat menjadi penulis dengan serius dan menghasilkan uang jajan? Lumayan tuh!" ujar Sera.
"Iya, Eva, kalau kau berniat, aku bisa memperkenalkanmu dengan suatu penerbit. Aku rasa perusahan Suzuki pasti ada yang bekerja sama dengan penerbit buku." kata Sonoko sambil mengerlingkan mata padaku.
Aku mengulum senyum kepada mereka. "Iya, Kak Sonoko, jika aku tertarik melakukannya suatu hari nanti, mohon bantuan koneksinya." tuturku sambil menundukkan kepala memberi hormat pada Sonoko sebelum tertawa lepas. Enaknya jadi orang kaya seperti Sonoko, tidak kekurangan koneksi apapun dalam keluarganya jadi masa depannya pun aman. Sebenarnya aku kurang tahu karakter Sonoko, apakah gadis itu digambarkan sebagai pelajar yang bernilai baik atau tidak disekolah? Tapi, dia digambarkan sebagai seorang yang setia pada temannya yaitu Ran dan sangat menggemari pria ganteng.
Aku menoleh pada Ran yang sepertinya tenggelam dalam lamunannya. Wah, ketularan galau-ku dia!
777
Yuka dan Miyuki mengajakku nonton film di bioskop dan entah kenapa mereka akhirnya memilih nonton film yang agak horror alhasil saat bagian-bagian seram, keduanya mencengkram kuat-kuat kedua lenganku karena aku duduk ditengah diantara mereka. Aku hanya bisa memejamkan mata pada bagian yang seram sementara keduanya kadang sampai melompat dari kursinya setiap adegan mengagetkan dan tentu saja lenganku menjadi korban cengkraman mereka.
Sehabis menonton, aku menegur keduanya dan menyimpulkan sebaiknya kami bertiga tidak menonton film horor lagi untuk selanjutnya. Yaa, memang sebenarnya orang itu suka film horor yang mengagetkan biar jantung terpacu juga, walau takut juga aku yang dulu juga suka nonton yang seram-seram, tetapi aku tidak suka yang ada adegan gore. Kalaupun ada nonton genre semacam itu, pasti aku menutup mata pada bagian-bagian yang gore. Seperti film Final Destination, aku tahu bahwa adegan kematian dalam film itu sungguh mengerikan tetapi aku penasaran dengan jalan ceritanya terutama karena adanya elemen supernatural dari keberadaan dewa kematian yang tak terlihat oleh siapapun.
Selanjutnya, kami pergi beli es krim sambil mengobrol. Lalu, kami pergi mencuci mata melihat toko-toko yang menjual aksesoris atau ke toko buku. Secara keseluruhan, aku merasa menghabiskan waktu dengan riang bersama mereka. Memiliki teman dekat dan pergi berjalan bersama-sama merupakan basis pertemanan yang baik untuk mendekatkan hubungan. Ini sesuatu yang jarang terjadi padaku saat di dunia nyata karena aku tidak pandai bersosialisasi. Entah kenapa aku jadi merasa seperti Mary Sue di dunia ini karena aku memiliki orangtua yang baik dan menarik, juga teman-teman yang dekat dan selalu tertarik untuk menghabiskan waktu denganku. Walau mungkin aku terlalu cepat menyimpulkan, mengingat kami ini baru teman jaman SD, akankah persahabatan kami bertahan sampai kami dewasa nanti? Apakah aku bisa bertahan hidup sampai dewasa dan menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh Papa dan Mama yang ini? Untuk kehidupan kedua-ku ini, aku hanya ingin hidup aman dan nyaman sampai mati, apakah tidak bisa?
Yuka mengajak kami ke toko roti karena dia ingin membawa pulang beberapa roti dan kue untuk camilan dengan keluarganya. Disana, aku berpapasan dengan Subaru yang juga sedang membeli roti tawar. Aku ingat ada episode yang berfokus pada Ai dan detektif cilik lainnya saat Conan dan Ran di London. Episode itu mengecoh penonton mengira adanya anggota organisasi hitam mendekati Ai tetapi ternyata semua hanyalah kesalahpahaman. Intinya, pada episode itu, Subaru sedang mengawasi Ai dan Ayumi dari toko roti.
Aku jadi agak mempertanyakan kenapa dia ada disini kali ini. Apakah benar hanya kebetulan semata? Apakah dia sedang mengawasi Ai lagi? Ataukah targetnya sekarang ada diriku? Ah, aku gede rasa juga saat ini. Pasti cuma kebetulan. Tapi mengingat aku telah mengatakan kepada Shuichi bahwa nyawaku ditargetkan, mungkinkah dia merasa sedikit bertanggung jawab untuk menjaga diriku? Tetapi apa mungkin demikian? Soalnya seharusnya prioritasnya saat ini adalah Ai dan organisasi hitam, bukan?
"Aku habis menonton film horor dengan Yuka dan Miyuki." jawabku saat Subaru menanyakan aku habis dari mana.
"Oh, saya tidak tahu bahwa Eva suka film horor..." tutur Subaru sambil tersenyum tipis padaku.
"Aku menonton film itu karena mereka ingin menontonnya. Oh ya, perkenalkan, mereka Yuka dan Miyuki, teman-temanku." Aku memperkenalkan orang itu kepada temanku. "Ini Kak Subaru, guru les matematika-ku."
Yuka dan Miyuki memberi salam hormat kepada Subaru. Kami bercakap-cakap sebentar sebelum Subaru pergi meninggalkan kami.
Aku menarik nafas dengan berat hati. Aku tak tahu sebenarnya bagaimana perasaanku saat ini terhadap orang itu. Apa aku ingin dilindungi oleh dia atau tidak? Apa dia mau melindungiku atau tidak? Kenapa lebih mudah berdekatan dengan Amuro daripada dengan Shuichi ya? Bahkan dalam penyamarannya sebagai Subaru, aku merasa sulit dekat dengannya. Apa karena dia guru les-ku? Tetapi jika dia tidak menjadi guru les-ku, akan lebih sulit lagi untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang satu ini.
777
Akhirnya hari Minggu tiba juga, hari yang diam-diam sangat kutunggu, hari 'kencan' dengan Amuro. Ya, sebenarnya bukan kencan sih tapi berhubung aku sangat menyukai orang itu, aku jadi berpikir yang tidak-tidak. Aku nyengir didepan cermin sambil membayangkan apa yang akan kami lakukan disana untuk menghabiskan waktu. Akan tetapi, dasar memang tak bisa bahagia lama-lama, aku mulai dilanda kekhawatiran jika Amuro memiliki maksud tertentu mengajakku kesana. Dibilangnya sebagai pengganti ucapan terima kasih karena waktu itu aku yang mengajaknya pergi ke taman bermain, tapi aku jadi khawatir bahwa dia akan menginterogasiku lagi.
Aku memegangi bandul kalung liontin yang kupakai. Aku membuka liontin itu dan dengan jempolku aku meraba ukiran pada jimat berbentuk koin pemberian Reina. Rupanya bukan hanya aku saja yang memiliki jimat ini karena sepertinya para pemilik mata dewa kematian lainnya juga memilik benda yang sama.
Apakah aku benar akan tetap menjalani hariku seperti biasa-biasa? Persiapan apa yang sebaiknya kulakukan demi menghadapi masa depan yang tak pasti ini? Aku teringat terus perkataan Reina akan shinigami dari dunia nyata yang datang ke dunia ini juga untuk memburuku. Jika aku dibawa oleh shinigami dari dunia nyata, apakah jiwaku akan dikembalikan ke dunia nyata ke dalam tubuhku sebelumnya? Ataukah mereka akan memasukkan jiwaku entah ke neraka atau surga? Akankah mereka melihatku sebagai korban Reina atau sebagai kaki tangan Reina?
Aku menggelengkan kepalaku keras-keras ingin mengusir semua pikiran yang akan merusak hari baikku dengan Amuro. Semua akan baik-baik saja, bukan? Let's just have some fun!
Aku tersenyum lebar saat melihat Amuro dengan tampang kasual namun masih saja memikat, menungguku ditempat perjanjian. "Kak Amuro!"
Amuro menoleh ke arahku dan tersenyum ramah kepadaku. Lalu kami berjalan kaki bersama menuju tempat tujuan kami. Aku membiarkan dia yang membimbingiku harus naik bus atau kereta mana untuk mencapai tujuan kami. Aku memakai hoodie untuk menutupi kepalaku seperti biasa, untungnya dia tidak mengomentariku. Aku berusaha hanya fokus pada Amuro seorang, setengah mati berusaha untuk tidak bereaksi pada warna diatas kepala orang-orang lain. Just ignore them, Eva, ignore them! Aku hanya bisa berharap kami berdua bahwa kali ini kami berdua tidak terlibat kasus apapun.
Sejauh ini, sepertinya keadaan baik-baik saja. Aku, dengan riang, memanjakan mataku dengan pemandangan laut dalam aquarium. Aku sebenarnya ingin mengajak Amuro selfie bersama tetapi agak malu juga meminta kepadanya.
Aku mengambil video ikan-ikan yang berlalu lalang dan diam-diam aku merekam Amuro yang sedang memandangi ikan-ikan yang melintas. Aku tersenyum pada sosok Amuro tapi aku buru-buru mengalihkan video ke arah lain saat Amuro menoleh kepadaku. Aduh, apakah tindakanku merekam dia diam-diam itu creepy?
Setelah puas merekam, Amuro mengajakku berjalan ke toko yang yang menjual souvenir. Aku lalu membeli 3 buah strap HP berbentuk lumba-lumba yang kelihatan lucu untukku, Yuka dan Miyuki. Aku tersenyum puas sebelum kembali melihat-lihat. Aku melihat sebuah kalung dengan bandul lumba-lumba biru yang dihiasi sebuah batu hiasan permata. Kelihatannya sungguh elegan.
Aku mentraktir Amuro minuman karena waktu ditaman main dia yang bayar makanannya. Amuro tadinya menolak tapi akhirnya mengalah karena aku menghentakkan kaki bersikeras untuk membayarnya. Dia tersenyum geli saat dia mengalah dan meladeni keinginanku. Sudah jelas dimata dia, aku ini hanya adik kecil yang lucu. Untuk saat ini, memang hanya ini saja hubungan yang ada diantara kami dan aku tak tahu masa depan apa yang bisa kumiliki tapi aku berharap semoga masa depanku nanti masih melibatkan orang ini juga. Aku berdoa untuk masa depan yang aman dan bahagia untuk diriku, keluargaku dan semua orang baik dalam manga DC ini. Hatiku pun terenyuh saat aku teringat keluarga asliku di dunia nyata. Aku pun berdoa semoga mereka juga menjalani sisa hidup mereka penuh ketenangan dan kebahagiaan juga.
Amuro terlihat khawatir saat dia melihatku terlihat agak terganggu. Aku memasang senyum selebar mungkin dan menarik tangan dia untuk nonton pertunjukan lumba-lumba.
Aku sangat suka sekali dengan hari ini bersama dengan dia. Aku menoleh menatap Amuro lagi diam-diam sambil tersenyum. Amuro kelihatannya juga menikmati pertunjukan.
Selesai pertunjukan, kami mengeliling aquarium sekali lagi. Saat tiba di terowongan aquarium, Amuro tiba-tiba menerima telepon dan aku mendengarnya menyebut nama bawahannya, Kazami. Dia lalu menoleh padaku dan meminta maaf bahwa dia harus menerima telepon penting itu. Dia menyuruhku menunggu di terowongan itu sementara dia menjauh untuk mendapatkan privasi.
Aku menatap kepergian orang itu dan mendesah. Aku menoleh menatap ikan-ikan pada aquarium. Aku pun menjadi melamun dan hanya tersadar karena aku melihat sesuatu pada pantulan dikaca aquarium.
Wajahku memucat saat aku melihat pantulan seseorang bertopeng putih pada kaca. Orang itu memiringkan kepalanya sambil membalas tatapanku pada pantulan kami dikaca.
Tenggorokanku tercekat. Aku menelan ludah dan membalikkan badanku hendak menyapa orang itu. Sebenarnya Caleb sudah bilang padaku agar menghindari orang bertopeng putih itu. Aku mengumpulkan keberanianku ingin bertanya-tanya tentang tujuan orang itu mengikutiku. Tetapi saat aku membalikkan badan ke arah orang itu, ternyata orang itu sudah tidak ada.
Aku celingukan melihat sekelilingku berusaha mencari orang bertopeng itu namun aku tak menemukan orang mencurigakan. Aku mencari-cari disekitar tetapi aku tak menemukan jejak orang itu. Aku memutuskan mengontak Caleb untuk memberitahu dia soal lelaki bertopeng itu tetapi Amuro keburu kembali.
Dia terlihat khawatir saat melihat wajahku kelihatan pucat. Aku berbohong bahwa aku sedikit mual, yaa, itu benar juga. Kemunculan dadakan lelaki bertopeng itu memang mengacak-ngacak pikiran sekaligus isi perutku.
Amuro membawaku ke sebuah kafe didalam aquarium. Dia mengamatiku saat aku minum teh panas yang diordernya untukku. Aku hampir tersedak karena khawatir apalagi yang telah kulakukan yang bisa membuat dia mengamatiku seperti itu. Lama-lama tidak tahan juga berada dekat dengan detektif, agen FBI ataupun polisi rahasia. Rasanya aku ingin menjerit saja. Tapi seperti kubilang sebelumnya, walau frustasi sekalipun , aku tak bisa menjerit.
"Eva, apakah kau...?" Amuro bertanya tapi lalu tidak melanjutkan pertanyaannya. Mungkin dia melihatku masih mengumpulkan kewarasanku. has stopped working. Dia memasang tampang prihatin. "Eva, jika ada yang mengganggumu, jika kau nyaman dan percaya padaku, jangan sengan meminta bantuanku. Walau mungkin menurutmu hal itu sepele atau mungkin kau takut menjadi beban bagiku, ketahuilah bahwa kau bisa mempercayaiku. Aku berada dipihak Eva."
Aku terkesima mendengar perkataan orang ini. Perasaan terharu meliputiku. Aku perlahan tersenyum kepadanya. "Terima kasih."
Dia memberi secarik kertas padaku. "Ini adalah nomor pribadiku. Kau boleh meneleponku pada nomor itu saat kau membutuhkan bantuanku." tuturnya.
Aku menerima kertas tersebut, memandangi nomor yang tercantum. "Terima kasih, Kak Amuro. Aku akan merahasiakan nomor ini." ujarku.
Amuro mengamatiku, membuatku bertanya-tanya apakah aku mengatakan sesuatu yang salah. Dia menepuk kepalaku dengan lembut.
Setelah itu, kami pun berjalan untuk pulang. Dia berniat mengantarku sampai rumah. Saat ditengah jalan, dia tiba-tiba menghentikanku.
Amuro tiba-tiba jongkok dihadapanku dan memperlihatkan kalung lumba-lumba yang tadi aku sempat lihat di toko souvenir. Aku kaget melihat kalung itu ada padanya. Dia tersenyum padaku dan menyuruhku membalikkan badan supaya dia bisa memakaikan kalung itu padaku. Aku menurutinya sembari melepas hoodie-ku dan dia mengalungkan kalung itu padaku. Aku langsung menyentuh bandul kalung itu dengan senyum agak malu-malu campur gembira. Setelah dia mengaitkan kalung itu dengan aman, aku membalikkan badan, memandangi Amuro masih sambil tersenyum-senyum dan mengucapkan terima kasih.
Kalung liontin berisi jimat Reina rantainya sedikit lebih panjang sementara kalung dari Amuro rantainya lebih pendek. Aku suka sekali dan berjanji bahwa aku akan terus memakai kalung itu.
Amuro tersenyum kecil. "Baguslah jika Eva suka kalungnya..."
Aku mengangguk dan memperlihatkan senyum seceria mungkin. "Aku suka sekali karena ini pemberian dari Kak Amuro."
Amuro terpana mendengar jawabanku.
777
Aku lega acaraku dengan Amuro berjalan lancar. Aku menghela nafas saat teringat akan warna-warna yang kulihat sepanjang hari tadi. Aku berusaha tak memikirkannya sepanjang acara tadi tapi sekarang saat aku sudah santai dikamar dalam rumahku, perasaan tidak enak meliputi hati dan pikiranku. Sudahlah, memangnya aku bisa apa? Aku bukanlah seorang penyelamat yang baik. Aku tak bisa menolong siapapun. Tidak bisa atau tidak mau? Tidak bisa atau malas?Ugh, aku benci pikiran dalam kepala-ku yang tak pernah bisa baik padaku.
Aku memegangi kalung lumba-lumba dari Amuro dan senyum kecil menghiasi wajahku. Aku tahu bagi Amuro, itu hanyalah hadiah kecil belaka tanpa maksud apapun, tapi bagiku, aku merasa bagai mendapat harta karun.
Senyum diwajahku memudar saat aku teringat akan lelaki bertopeng putih. Apakah dia benar menguntitku?
Lizzie dan Caleb mengatakan bahwa orang itu berbahaya, bahwa dia berniat membunuh orang lain yang memiliki mata shinigami juga. Kenapa? Apa alasan dia melakukan itu? Lizzie dan Caleb sepertinya tahu alasannya tetapi mereka seperti enggan untuk memberitahukanku.
Aku mendesah lagi. Bagaimana caranya agar bisa mendapatkan kepercayaan penuh dari Lizzie dan Caleb? Mereka sepertinya berniat menjadi temanku atau mungkin mereka mengawasiku. Yang pasti mereka sepertinya berniat melindungiku untuk saat ini. Tapi bagaimana kedepannya? Jika nantinya mereka menganggapku sebagai beban dan memutuskan untuk tidak lagi membantuku, aku harus bagaimana?
Ah, aku sungguh berharap ada orang yang memberitahuku apa yang sebaiknya kulakukan dan apa yang terbaik untukku saat ini. Karena aku sungguh plin plan tak bisa menentukan tujuan yang pasti.
