Aku teringat akan episode ramen dalam manga Detective Conan setelah menonton acara lomba ramen di TV dan aku jadi ingin makan di tempat dalam manga itu yang katanya ramennya enak sekali. Kalau tidak salah, namanya Ramen So Good, It's To Die For. Aku menanyakan kepada Papa dan Mama apakah mereka tahu soal tempat itu. Kebetulan kami semua jadi agak ngiler ramen jadi Mama pun segera meng-google lokasi tempatnya dan kami pun berjalan kaki bersama menuju kesana.
Aku dengan gaya kekanak-kanakan memegangi masing-masing tangan Papa dan Mama layaknya sebuah gambar keluarga bahagia. Akankah tahun-tahun yang akan datang kami tetap bisa utuh sebagai keluarga yang bahagia dan nyaman? Aku melihat hubungan Papa dan Mama baik-baik saja dan tidak pernah melihat mereka bertengkar jadi mungkin pernikahan mereka sementara ini langgeng saja. Semoga tidak ada konflik macam-macam seperti yang terjadi pada kedua orangtuaku dulu di dunia nyata.
Setibanya di kedai ramen itu, kami segera masuk dengan semangat karena kami jadi tambah lapar selama perjalanan menuju ke tempat ini.
Aku terperangah saat aku mengenali dua orang yang juga sedang bertamu di kedai tersebut yaitu Sera dan kakaknya, Shukichi. Wah, akhirnya aku bisa melihat langsung saudara kandung Shuichi Akai yang terakhir. Sera yang mengenaliku, melambaikan tangan kepadaku.
"Itu Kak Sera, dia seorang detektif. Dia juga seorang gadis, bukan lelaki." Aku menjelaskan kepada Papa dan Mama yang tidak pernah bertemu Sera sebelumnya.
Papa menggaruk-garuk dagu-nya. "Detektif lagi? Eva, kenapa banyak sekali detektif disekelilingmu?"
"Biar saja, detektif itu keren!" seruku sengaja dengan suara keras.
Sera mengacungkan jempol padaku dan mengerlingkan matanya. Dia lalu kembali berbicara pada kakaknya tetapi aku tak bisa mendengar percakapan mereka.
Mama sudah memesankan ramen untuk kami bertiga dan kami sangat tidak sabar ingin segera makan. Saat pelayan mengantarkan pesanan kami, kami langsung melahap ramen tersebut. Ternyata rasanya benar-benar enak sesuai yang dikatakan pada manga. Aku sungguh senang bisa menyantap makanan enak disini. Papa dan Mama juga suka dengan ramen disini.
"Darimana kamu tahu soal tempat ini, Eva?" tanya Papa sehabis makan.
"Aku pernah mendengar guru di sekolah membicarakan soal tempat ini." jawabku asal.
Aku tak bisa menahan senyumku saat melihat Mama menyuapi Papa agar mencoba ramen yang Mama pesan. Hubungan mereka benar-benar masih langgeng.
Aku menatap ke arah Sera dan Shukichi. Aku ingin bisa bicara dengan Shukichi juga tapi aku tak tahu bagaimana harus berinteraksi dengannya. Aku membelalak kaget saat Sera tiba-tiba membuat gerakan tangan yang menyuruhku bergabung ke mejanya. Beneran nih? Aku pun bangkit berdiri dan mendekati Sera sambil tersenyum-senyum.
"Halo, Kak Sera."
Sera tersenyum padaku dan menyuruhku duduk disampingnya. Dia lalu memperkenalkan Shukichi kepadaku. "Ini Kak Kichi, kakak-ku."
"Namaku Shukichi. Senang berkenalan denganmu. Kau Eva, bukan? Penulis kecil yang diceritakan adikku." Shukichi menoleh padaku sambil tersenyum ramah.
Wajahku memanas karena agak malu. "Aku bukan penulis." Aku melirik kedua orangtuaku yang untungnya tidak memperhatikan interaksi kami. Aku malas jika sampai mereka tahu, bisa-bisa aku diejek terus. Untungnya cerita yang kubuat itu tidak membuat Pak guru Shin memanggil Mama ke sekolah lagi seperti waktu dulu. "Aku cuma menulis cerita asal saja koq, Kak Shukichi."
"Cerita asal? Menurutku kau sangat memikirkannya dengan masak-masak." tutur Sera. "Panggil dia Kak Kichi saja sepertiku. Namanya kepanjangan, bukan?"
Aku menoleh kepada Shukichi. "Apakah boleh...?"
Shukichi mendesah pasrah. "Jika Masumi sudah berkata demikian, ikuti saja."
Aku menahan tawa mendengar perkataan dia yang seakan-akan dia sering dirundung adiknya itu. Aku pun jadi ingin mengisengi orang itu. "Kak Kichi, rasanya aku pernah melihat wajah Kakak di suatu tempat..." Orang itu kelihatan gugup saat aku pura-pura berpikir sebelum membelalakan mataku lebar-lebar saat aku 'mengingat' dimana aku mengenalinya. "Taiko Meijin!"
Tampang panik Shukichi membuatku ingin tertawa geli. Dia menggerak-gerakkan kedua tangannya seperti jerapah panik dan meletakkan satu jari dibibirnya, menyuruhku untuk tidak bersuara keras. Untungnya tak ada yang mendengarkan kami saat itu.
Shukichi mendesah. "Aku tidak mengira kau bisa mengenaliku. Padahal aku pakai kacamata."
Aku tertawa. "Memangnya Kakak benar-benar bisa mengibuli semua orang dengan trik-nya Superman?" godaku.
"Taiko Meijin?" Malah Sera yang kebingungan. Memang di manga tidak pernah dikatakan apakah Sera mengetahui profesi kakaknya itu sebagai pemain shogi profesional. Dia pun mulai meng-google soal itu di HP-nya dan matanya langsung membelalak lebar saat dia memandangi kakaknya. "Kenapa Kakak tidak pernah memberitahuku?"
Shukichi berusaha membuat Sera tenang dan untuk memelankan suaranya.
Sera menoleh padaku. "Eva, darimana kau tahu soal dia? Kau tertarik dengan shogi?"
"Tidak. Aku banyak mendengar orang-orang yang tua-tua membicarakan soal Shukichi Haneda, Taiko Meijin." jawabku asal. Mana mungkin kukatakan bahwa aku tahu soal Shukichi dan profesi shoginya karena dia karakter dalam manga yang kubaca, bukan?
"Orang-orang yang tua-tua?" Shukichi tertawa renyah.
"Begitu?" Sera kelihatan muram, mungkin merasa kecewa pada dirinya yang tidak menyadari fakta soal kakaknya itu.
Aku jadi merasa sedikit tidak enak hati, sedikit saja sih.
Sera tersenyum kepada sang Kakak. "Semestinya aku sadar, aku tidak seharusnya terkejut Kak Kichi selalu memenangkan pertandingan shogi. Kau memang dari dulu suka permainan itu. Aku tidak mengira kau memainkannya secara profesional."
Shukichi tersenyum balik kepada adiknya itu.
Kami mengobrol sebentar lagi sebelum aku kembali ke meja asalku. Sera dan kakaknya lalu pergi duluan setelah itu.
Aku menoleh kepada Papa dan bertanya apakah dia tertarik dengan permainan shogi.
"Shogi?" Papa mengelus dagunya. "Dulu Papa pernah lihat teman Papa ada yang suka bermain shogi, tetapi Papa kurang tertarik dengan permainannya. Memangnya kenapa?"
Aku pun mengelus daguku. "Iya, permainan itu sepertinya perlu berpikir keras, sepertinya hanya orang yang otaknya encer baru bisa yaah..."
Papa tiba-tiba memasang tampang antara sedih dan tersinggung. "Apakah kau mengatai Papa-mu ini berotak bebal secara tidak langsung?"
Aku menoleh kepada Papa sambil berpikir apakah perkataanku itu tadi memang mengisyaratkan sesuatu seperti itu. Rasanya sih tidak. Aku menatap Papa dan menyengir saja membuat Papa dengan gemas mencubit kedua pipi-ku. Aku pun membalas mencubit lengan Papa sekeras mungkin dan kami sama-sama mengaduh-ngaduh kesakitan.
Mama memutar bola matanya melihat kekonyolan kami berdua sebelum akhirnya tersenyum juga saat mengamati kami.
777
Saat les dengan Subaru, aku berusaha bertingkah seperti biasa sebelum aku membocorkan bahwa aku tahu dirinya adalah penyamaran Shuichi, habisnya orang itu juga bertingkah seakan hal itu tidak terjadi. Ah, aku jadi agak segan berada didekatnya. Tapi, seperti sebelumnya yang kubilang, acara les ini satu-satunya koneksi-ku dengan seorang Shuichi Akai. Aku tidak tahu juga sampai kapan dia akan meladeniku seperti ini. Apakah misteri dibalik diriku ini cukup untuk membuat dia mempertahankan kebersamaan kami?
Ketika dia mulai berbasa-basi menanyakan hari-ku, karena aku kekurangan bahan pembicaraan dengan orang ini, kuputuskan untuk merekomendasikan kedai ramen dimana aku bertemu Sera dan Shukichi.
"Kakak harus coba ramen-nya enak sekali. Rasanya jika mati habis makan ramen itu pun, aku akan bahagia." tuturku, membuat orang itu jadi tersenyum kecil akan pernyataanku yang dramatis itu.
Aku mengeryitkan dahi saat teringat bahwa memang ada kasus dalam manga ini bukan dimana orang yang bertamu di kedai ramen itu mati diracuni? Tapi aku tak ingat apa ramen-nya yang diracuni atau bukan. Apa mati setelah makan ramen terdengar menyedihkan? Dulu di dunia nyata, mie adalah makanan favoritku, hampir tiap hari aku makan dan beberapa kali jatuh sakit karenanya. Dokter ada mengatakan untuk mengurangi makan mie tetapi aku sulit melakukannya. Aku ada mendengar berita tentang orang yang tergila-gila mie meninggal karena sakit tetapi aku masih saja sulit mengontrol nafsu makan mie-ku.
Belakangan memang aku lumayan berhasil mengurangi makan mie, tetapi mie tetap saja makanan favorit-ku yang tak akan bisa kulepas. Kira-kira rasanya sama dengan orang-orang yang kecanduan dengan rokok atau kopi. Omong-omong, Shuichi Akai ini digambarkan sepertinya seorang perokok dan penyuka kopi tetapi Aoyama Gosho tidak menggambarkan lebih jelas apa dia seorang kecanduan dengan rokok dan kopi. Jangan-jangan nantinya Silver Bullet FBI ini matinya karena kanker. Berpikir demikian, aku sungguh tak rela tetapi aku bukan siapa-siapanya orang ini, mana mungkin dia akan mendengarkanku jika kuminta untuk mengurangi konsumsi kopi dan berhenti merokok.
"Aku bertemu Kak Sera disana. Dia bersama kakaknya. Kak Sera adalah teman Kak Ran dan dia juga seorang detektif." tuturku. Padahal aku tahu bahwa dia tahu siapa itu Sera. "Kakaknya Kak Sera itu ternyata orang terkenal lho. Taiko Meijin. Pemain shogi profesional." Aku mengeryitkan hidung. "Aku tak mengerti apapun soal shogi sih. Aku hanya tahu soal Taiko Meijin karena orang-orang yang tua-tua disekolah pernah membicarakan soal dia." Aku menoleh menatap Subaru dan tertegun melihat dia memandangiku dengan serius. Aku pun menelan ludah. Seharusnya aku tidak menggodanya dengan menyebutkan kedua saudaranya itu, bukan? Habis aku bingung mau bicara apa lagi dengannya. Masa omongin matematika melulu? Bisa eneg aku lama-lama.
Subaru menatapku dengan tajam beberapa saat sebelum dia mendesah. "Jika kau ingin menanyakan sesuatu padaku, tanyakan saja. Tidak perlu berbelit-belit."
Aku menatap Subaru dan mengangkat bahu berusaha bersikap cuek. "Kak Sera...dan kakaknya...mereka memiliki nama keluarga yang sama denganmu..." tuturku. Iya, Subaru alias Shuichi sudah tahu bahwa aku memiliki mata dewa kematian yang membuatku mampu melihat nama asli semua orang, jadi tentu saja, sebagai Eva, kira-kira ini sudah saatnya aku mempertanyakan hal itu bukan? Jika aku pura-pura tak tahu dan peduli, bukankah malah agak mencurigakan? Apa aku salah?
Subaru tidak mengonfirmasi atau menyangkalnya.
Aku tersenyum kepadanya. "Jangan khawatir, Kak, rahasiamu aman bersamaku."
Untunglah dia tersenyum mendengar pernyataanku itu, kukira dia akan tidak senang kepadaku. Aku merasa lega. Saking inginnya berinteraksi dengan orang ini, aku ini sungguh menyedihkan, bukan? Bukankah wajar menginginkan interaksi dengan karakter favorit-mu? Jadi, tak apa, bukan?
"Apakah Kakak ada memberitahu kepada Bu Jodie soal mata-ku?" tanyaku, memang agak penasaran juga soalnya Shuichi menggunakan Jodie untuk mengantarkanku kepadanya. Pastinya Jodie ada rasa ingin tahu kenapa Shuichi Akai tertarik pada seorang anak kecil random, bukan? Apalagi aku hanya anak kecil biasa, bukan seorang Conan maupun Ai.
"Tidak. Perihal dirimu tidak ada hubungan dengan kasus yang kami tangani jadi aku tidak melihat alasan untuk memberitahunya soal itu." ujar Subaru.
"Oh? Kasus apa yang sedang kakak dan FBI tangani saat ini?" tanyaku iseng. "Pasti kasus penting sekali ya jika kakak sampai harus menggunakan samaran seperti Tom Cruise."
"Maaf, aku tak bisa membicarakan soal kasus yang sedang berjalan." ujarnya dengan tenang.
Aku tersenyum, memang dari awal aku tidak mengharapkan dia akan menjawabnya, lagipula aku tahu kasus yang dia tangani adalah yang berkaitan dengan organisasi hitam.
"Oh, Eva, next time, tolong jangan mengungkit soal nama rekan kerja-ku sembarangan. Kau tak tahu siapa yang bisa mendengarkan." tegurnya.
"Oh, iya, maaf." Aku menundukkan kepala memohon maaf. "Tapi, rumah ini aman, bukan?"
Dia tidak menjawabku.
Aku menyadari rumah ini mungkin memang tidak aman. Bukankah Amuro berhasil meletakkan penyadap disini sesaat sebelum konfrontasinya dengan Subaru yang diperankan oleh Yusaku? Kalau tidak salah, Conan dan Yusaku ada menyusuri seluruh rumah demi mencabut penyadap yang mungkin dipasang disini setelah itu.
"Oh iya, aku ingin menanyakan dari terakhir kita bertemu dulu, Tom Cruise itu siapa?" tanyanya.
Aku melongo heran mendengarnya. "Tom Cruise? Mission Impossible? Ethan Hunt?"
Subaru terlihat bingung mendengar cerocosan-ku.
Aku mengambil smartphone-ku dan segera menggoogle soal Tom Cruise. Aku terperangah saat hasil pencarian berakhir nihil. Tom Cruise tidak ada di dunia ini? Dunia ini tidak pernah menikmati film Mission Impossible? Sungguh...menyedihkan...
Aku menoleh menatap Subaru yang tengah mengamatiku. Aku menelan ludah menyadari aku melakukan kesalahan karena tidak menyadari bahwa Tom Cruise dan semua karakter yang dimainkannya sebagai agen pengintai rahasia yang super tidak pernah ada di dunia ini. Aku malah main menyebut-nyebutkan soal dia.
Aku mendesah. "Rupanya dia bukan siapa-siapa..."
Aku jadi berpikir soal Yusaku Kudo mendadak, soal percakapan kami dulu soal cerita Mentalist. Aku belum menghubunginya sama sekali. Aku bingung harus bicara apa dengannya soalnya. Tetapi hal ini memberiku ide agar orang itu membuat versi Ethan Hunt-nya sendiri dalam kisah seri Scarlet Agent yang sedang diproses.
Dipikir-pikir, memang tokoh Scarlet Agent yang dibuatnya benar-benar versi Ethan Hunt milik Yusaku Kudo, bukan? Kerennya lagi, tokoh itu dibuat berdasarkan Shuichi Akai. Aku sungguh berharap nantinya Yusaku juga akan membuat tokoh lain yang berdasarkan Rei Furuya juga. Tetapi sepertinya Yusaku belum pernah bertemu secara formal dengan Rei Furuya jadi mungkin agak sulit.
Aku menutup mata dan menggeleng-gelengkan kepala-ku keras-keras berusaha mengusir jauh-jauh pikiran tidak jelas. Saking seringnya aku geleng-geleng kepala, aku heran sekrup putaran kepalaku tidak lepas saja.
Seusai pelajaran les hari itu, saat aku hendak pamit pulang, Subaru menghentikanku. Dia jongkok di depanku agar posisi kami setara dan dia bisa memandangi mataku dengan tajam.
Aku menelan ludah dengan gugup dalam pandangan orang itu.
"Eva, mengenai situasi-mu, jika ada perkembangan lebih lanjut, beritahu saya. Seperti kukatakan sebelumnya, saya ingin membantu-mu. Jika Eva bersedia memberikan kepercayaan kepada saya, saya akan lebih bisa membantu-mu."
Aku terpana mendengar perkataannya. Dia masih saja bersikap dan bercakap-cakap dengan personanya sebagai Subaru Okiya yang bertutur kata sangat sopan dan lembut. Sementara Shuichi yang asli suaranya agak serak dan lebih blak-blakan. Rasanya jadi sulit menerima bahwa Subaru adalah Shuichi kalau begini. Padahal aku memang tahu jelas bahwa mereka adalah orang yang sama.
Perilaku Shuichi sebagai Subaru padaku membuatku sedikit merasa spesial. Ah, tapi aku tahu bagi dia, prioritasnya adalah Ai dan organisasi. Jadi, dia berkata seperti ini, apakah dia serius ingin membantuku? Setidaknya aku rasa dia bisa melindungiku dari para pemburu. Dia mana bisa melindungiku dari para dewa kematian, bukan?
Dan jika dia berada di pihak-ku, apakah boleh menggunakan dia untuk menolong warna kuning? Aku menahan geraman yang hampir keluar dari diriku, merasa sebal dengan moralitas yang membuatku merasa harus menolong warna kuning.
Ya, nanti aku harus bicara soal warna kuning dengan Caleb. Aku enggan berbicara dengan Lizzie dan tampang cantiknya yang judes.
"Aku...sebenarnya beberapa hal baru telah terjadi padaku. Aku...hanya tidak tahu apakah sebaiknya melibatkan Kakak atau tidak." ujarku dengan gelisah. "Aku tak ingin membebani Kakak, apalagi bukannya Kakak sedang menangani kasus sulit dari FBI?"
Dia menatapku lekat-lekat. "Jika kau bersedia, kau boleh mendiskusikannya dengan saya. Jika saya tidak tahu permasalahannya, saya tidak tahu harus bagaimana membantu-mu. Kau mengerti, Eva? Saya berada di pihak-mu."
Aku tercengang mendengar perkataan dia yang mirip juga dengan yang dikatakan Amuro, soal bahwa mereka di pihak-ku. Aku menggigit bibir dengan gugup. Aku menarik nafas panjang. "Aku bertemu dengan seseorang...lebih tepatnya dia menemukan-ku. Katanya, dia sama denganku memiliki mata shinigami."
Jika Subaru terkejut atau tertarik, dia tidak memperlihatkannya. "Darimana Eva tahu bahwa dia memiliki mata...shinigami sepertimu? Apa dia yang mengonfirmasikannya?"
"Dia mengonfirmasikannya...dan aku rasa dia tidak berbohong sebab aku tidak bisa melihat nama, tanggal ataupun warna miliknya." tuturku.
"Begitu? Eva tidak bisa melihat data apapun pada dirinya yah?"
"Benar, dan memang sebelumnya juga aku beberapa kali melihat orang yang data kematiannya tidak terlihat olehku..."
"Orang yang di kereta api Bell Tree Express waktu itu...kau ketakutan melihat seseorang...apakah orang itu yang kau maksud?"
"Iya, tetapi bukan dia yang menghubungiku."
"Kenapa Eva takut dengan orang-orang yang data kematiannya tidak bisa kau lihat? Apa ada alasan tertentu yang membuat Eva takut dengan mereka?" tanya Subaru, tidak tanggung-tanggung menemukan celah pada penjelasanku yang memang tidak lengkap.
Entah kenapa aku enggan memberitahu dia soal keberadaan shinigami seperti Reina dan secara teknis, aku memang belum pernah menjumpai shinigami asli dunia ini. Bisa jadi orang-orang yang selama ini aku kira adalah shinigami karena datanya tak terlihat, sebenarnya adalah pemilik mata shinigami sama denganku.
Aku tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. "Aku...tidak tahu kenapa, tapi aku takut saja melihat mereka...mungkin itu semacam insting? Karena Caleb bilang..." Aku terkesiap saat aku kelepasan dan menyebutkan nama Caleb. "Aku seharusnya tidak menyebutkan soal dia. Maaf, Kak, aku tak bisa membicarakan soal dia sebelum minta izin dengannya dulu. Yang bisa kukatakan hanyalah dia posisinya sama denganku dan nyawanya bisa terancam jika ada yang menyalahgunakan informasi keberadaan dia disini. Dan aku tak ingin menempatkan dia dalam bahaya. Dia berada disini demi membantu-ku jadi aku tak bisa mematahkan kepercayaan dia yang tidak seberapa kepadaku dengan memberitahumu soal dia. Tolong lupakan bahwa aku menyebut nama itu."
Dalam hati, aku ingin menjitak kepala-ku berkali-kali karena walau aku berkata ingin merahasiakan soal Caleb, sepertinya mulutku rombeng malah mengeluarkan kalimat-kalimat yang pastinya bagi seorang Shuichi Akai tidak sulit untuk membentuk suatu kesimpulan dari sana. Aku...memang bodoh. Tak heran Lizzie tidak suka padaku. Jika gadis itu tahu akan percakapanku dengan Subaru detik ini, dia pasti ingin mencekikku saking gemasnya.
Subaru mengamatiku dengan serius dan mengangguk.
"Aku juga tidak mengatakan apapun kepada dia soal dirimu, bahwa kau tahu soal mata shinigami dan siapa dirimu sesungguhnya. Tetapi jika suatu hari kalian bertemu, dia akan tahu identitas asli-mu. Jadi, sebaiknya Kakak tidak mencoba mencari tahu atau mendekati dia."
"Apa Eva mempercayai orang bernama...Caleb ini?"
Aku mendesah galau. "Aku...sebenarnya aku tidak yakin...tapi untuk saat ini, dia tidak memberikan alasan yang membuatku tidak mempercayainya. Dan dia lebih berpengalaman jadi...dia memberitahuku beberapa informasi penting seperti adanya ancaman dari keberadaan komplotan yang memanggil diri mereka sebagai pemburu...dan bahwa bukan hanya aku seorang yang memiliki mata shinigami."
Subaru mengeryitkan dahinya seakan terganggu oleh informasi yang kukatakan. "Nyawa-mu masih berada dalam bahaya. Komplotan itu mengincar kalian yang memiliki mata shinigami?"
Sudah kuduga dia berhasil mengambil kesimpulan yang benar. Dia memang hebat.
"Jika Eva berkenan, bisakah kau merancangkan pertemuan dengan orang bernama Caleb itu?"
Mendengar permintaan Subaru, aku jadi gelisah. "Aku tak bisa melakukannya. Dia tidak mengenalmu dan tidak mempercayaimu. Aku tidak yakin dia akan mau menemui Kakak."
"Bicarakanlah dengan dia dulu soal saya. Saya bersedia bertemu dengannya walau saya mungkin akan dirugikan secara dia dengan mata-nya itu akan mengetahui jati diri saya."
"Aku tidak mengerti. Kenapa Kakak ingin bertemu dengan dia?"
"Bukankah saya sudah bilang bahwa saya berada di pihakmu, Eva? Saya akan membantumu menentukan apakah orang bernama Caleb ini bisa dipercaya atau tidak. Dan saya ingin tahu lebih jauh lagi soal komplotan yang tadi kau bilang."
"Apakah Kak Subaru yakin? Bagaimana dengan kasus yang Kakak sedang tangani saat ini?" tanyaku dengan cemas. "Situasi-ku agak rumit. Aku tak ingin menjadi beban bagimu nantinya."
Benar-benar...diriku sok suci sekali yah? Padahal sudah jelas aku sengaja menceritakan semua ini kepadanya supaya dia jadi merasa ada obligasi untuk membantuku, melindungiku, apalagi dengan wujudku yang seperti anak kecil tanpa dosa. Padahal diriku penuh kebohongan.
Yang benar saja deh! Sampai detik ini pun, aku masih saja harus memerangi pikiran buruk akan diriku sendiri. Sungguh melelahkan. Kadang aku ingin bisa berhenti berpikir saja karena percuma terus-menerus berpikir jika tidak menemukan jalan keluarnya.
Subaru memegangi tanganku mendadak membuatku jadi salah tingkah. Dia memandangiku lekat-lekat. "Jangan pernah menganggap dirimu sebagai beban. Hiduplah dengan berani."
Aku terpana mendengar perkataan dia yang begitu serius. Aku menahan diri untuk tidak komplain macam-macam kepadanya, perlawanan terhadap kalimat dia itu.
Aku mendesah sebelum tersenyum perlahan. "Aku tak bisa menjanjikan kepastian."
"Begitu pun tak apa." ujar Subaru sambil membalas senyumku. "Yang penting kita sudah mengambil langkah pertama."
Langkah pertama ya? Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Semoga saja semua ini tidak seberat yang kupikirkan.
