Aku mengusap pelupuk mataku sembari menuruni tangga dan menuju ke ruang makan. Aku terhenyak saat melihat di ruang tamu Papa dan Mama sedang duduk disana bercakap-cakap dengan Megure. Ada Takagi dan kedua polwan yang semalam. Mereka semua memandangiku yang sedang menatap mereka dengan kebingungan. Raut wajah semuanya terlihat suram.
Sebegitu penasarannya-kah Yumi dan Naeko sampai mereka datang ke rumahku pagi itu juga hanya untuk memastikan aku memberitahu kejadian yang semalam kepada Papa dan Mama? Tetapi kenapa Megure dan Takagi juga ada disini? Tatapan mereka membuatku merasa canggung seakan aku telah melakukan suatu kesalahan yang tidak sadar telah kulakukan.
Aku menoleh kepada Papa dan Mama dengan galau. Papa berdiri menghampiriku, berjongkok didepanku dan langsung memelukku dengan erat-erat. Aku kebingungan. "Papa kenapa?" Tetapi Papa tidak menjawabku. Aku menoleh ke arah Mama yang juga berdiri memandangiku dengan airmata berlinang. Sebersit rasa bersalah menggerogotiku. Kenapa aku selalu membuat kedua orangtuaku ini resah?
Papa lalu menatap ke arah kedua kakiku yang dibalut perban. Aku sengaja memakai sandal boneka fluffy supaya telapak kakiku yang agak lecet gara-gara kejadian semalam tidak berasa begitu sakit. Untungnya hari ini hari Sabtu jadi aku tidak ke sekolah dan bisa santai dirumah. Papa memandangiku dengan tatapan sedih dan kasihan.
Akhirnya aku menoleh ke para polisi yang saat ini berada dalam rumah. Megure berdehem sebelum berbicara kepadaku. Dia hendak menanyakan tentang kejadian semalam. Wah, dia benar-benar datang karena kejadian semalam? Tapi Megure dan Takagi kan polisi bagian divisi penyelidikan pembunuhan, kenapa mereka datang kesini? Aku menoleh menatap Yumi dan Naeko yang memandangiku dengan serius campur khawatir. Ada apa sih ini sebenarnya?
"Kak Polwan yang semalam..." panggilku.
Yumi Miyamoto dan Naeko Miike segera memperkenalkan diri mereka padaku sekali lagi. Aku memanggil mereka Kak Polwan tetapi mereka menyuruhku memanggil mereka dengan nama mereka saja. Keduanya masih saja memandangiku seakan ingin mengatakan sesuatu padaku tapi ragu-ragu untuk membuka mulut.
Megure berdehem sekali lagi untuk menarik perhatianku dan aku pun menoleh kepadanya dengan serius dan pria gemuk itu malah jadi salah tingkah saat aku mulai fokus padanya. Akhirnya Takagi yang angkat berbicara. Dia mengatakan bahwa semalam ditemukan mayat seorang pria ditaman tak jauh dari sini.
Aku pun bingung masih tidak bisa menyambungkan kaitannya denganku.
Megure dan Takagi bertukar pandang dengan gelisah. Mereka lalu menyuruhku duduk dan memperlihatkan sebuah tablet kepadaku. Mereka bilang mereka akan memutarkan sebuah video untukku. Aku pun semakin bingung dan agak panik dalam hati memikirkan sebenarnya apa yang mereka mau dariku saat ini.
Aku terperangah saat melihat video dari kamera CCTV yang mereka perlihatkan. Aku melihat diriku yang sedang berjalan dengan mata menerawang jauh melewati jalanan yang berlampu redup. Tiba-tiba diriku yang dalam video berhenti berjalan dan berganti posisi ke arah kanan tetapi tidak berjalan. Untuk beberapa saat, diriku itu diam saja memandang ke arah yang tidak terlihat kamera.
Lalu aku melihat ada sesosok orang mendekati diriku dan walau penerangan jalanan agak redup, semua dapat melihat sosok berpakaian badut itu. Dan yang mengerikan sosok badut itu berlumuran darah dan menggenggam sebilah pisau yang juga berlumuran darah.
Badut itu mengawasi diriku. Dia berlutut dihadapanku dan memiringkan kepalanya seakan sedang mengfokuskan seluruh perhatiannya pada diriku.
Diriku dalam video tidak bergeming atau menjerit dihadapan badut itu bahkan saat orang itu melambaikan tangan didepan wajahku. Dia juga mengayunkan pisaunya seakan ingin menikamku tetapi di detik terakhir dia menghentikan serangannya padaku. Sepertinya tadi dia sedang mengujiku apakah diriku saat itu benar sedang tidak sadar atau tidak.
Mama tidak bisa menahan pekikan kagetnya saat melihat sosok badut itu hendak menikamku. Mulutku menganga lebar memandangi badut pada video.
Badut itu lalu mendekati diriku dan membisikkan sesuatu. Lalu dia menyentuh diriku dan membalikkan diriku ke arah dari mana aku datang seakan menyuruhku pulang. Badut itu menepuk bahuku dan aku mulai berjalan kembali seakan menuruti keinginan badut itu.
Aku tercekat melihat hal itu. Aku tidak tahu apa yang dikatakan badut itu. Aku menoleh kepada Megure dan Takagi dan akhirnya keduanya memberi penjelasan padaku.
Rupanya semalam saat aku berjalan dalam tidur, aku melewati TKP pembunuhan dan sepertinya si pelaku yang berpakaian badut itu melihatku. Tetapi bukannya kabur, badut itu ingin memastikan apakah aku adalah saksi mata dari kejahatan yang sedang dia lakukan.
Mereka mengkhawatirkan diriku dan akan menempatkan seorang petugas polisi untuk melindungiku dan keluarga untuk beberapa hari kedepan karena mereka khawatir kemungkinan pembunuh itu akan kembali untukku.
Mereka masih saja menanyakan apakah aku ingat akan keberadaan badut itu walau mereka tahu bahwa saat itu aku sedang dalam kondisi menyimpang tidur berjalan. Mereka menginginkan pakaian yang kupakai dalam video sebagai barang bukti karena si pelaku menyentuh pakaianku saat itu, mungkin mereka berharap dapat menemukan sidik jarinya atau apa. Akan tetapi, si pelaku memakai sarung tangan jadi kemungkinannya kecil. Tetapi mungkin saja helaian baju badut yang dipakai pelaku menempel padaku dan mereka mungkin bisa menyelidikinya dari sana. Aku mendesah dengan jalan pikiranku yang mengingatkanku akan film seri CSI saja.
Megure menyarankan agar Papa dan Mama segera membawaku menemui dokter dan keduanya mengangguk setuju. Dia memberikan sebuah kartu nama kepada Papa, katanya kartu nama dokter yang direkomendasikan oleh konsultannya.
Aku masih tidak percaya bahwa aku benar-benar tidur berjalan. Walau sering melihat kejadian ini dideskripsikan dalam film atau cerita dan mengetahui bahwa gangguan mental semacam itu nyata, aku merasa hal itu seperti suatu hal yang tidak mungkin terjadi padaku.
Memang semenjak aku tiba di dunia DC ini sudah banyak hal yang aneh, tidak jelas, menakutkan dan buruk yang terjadi padaku. Percobaan pembunuhan? Di dunia nyata, pada diriku yang asli, mana mungkin hal semacam itu terjadi padaku dan aku bersyukur untuk itu. Kehidupanku yang lalu memang membosankan tetapi aman terbebas dari drama yang berlebihan. Disini, kehidupanku sudah hampir seperti drama thriller saja. Belum lagi dengan adanya sisi supernatural akibat mata shinigami-ku.
Ya, aku memang tidak cocok untuk berada didunia manga DC ini. Aku masih saja sulit beradaptasi. Padahal aku memiliki kesempatan kehidupan kedua yang seharusnya bisa kumanfaatkan dengan baik tetapi aku merasa nge-stuck saja dalam posisi yang sama. Entah apa karena sebagian besar dari diriku masih adalah persona Eva yang pengecut dan membosankan yang dari dunia nyata.
Kadang aku jadi berpikir jika saja aku bisa menghapus seluruh jati diriku yang lama seutuhnya seperti seorang yang kehilangan ingatan, bisakah aku membangun dan dibimbingi juga menjadi persona yang lebih baik? Walau kehilangan semua ingatan berarti aku mungkin juga tak akan ingat soal karakter-karakter dalam manga DC, bisakah aku menerimanya? Rasanya agak tak rela juga jika aku jadi melupakan mereka semua. Tetapi jika itu bisa memperbaiki persona seorang Eva menjadi lebih baik dan kuat, aku mungkin mau saja. Soalnya aku tidak suka dengan diriku yang sekarang yang serba plin plan. Jika aku saja tidak menyukai diriku apa adanya, mana ada orang yang bisa menyukaiku juga?
Jika aku ini sebuah tokoh dalam cerita, pastinya banyak yang menudingku sebagai tokoh yang dangkal dan bahwa tak ada perkembangan pada karakterku. Ya, mau bagaimana lagi? Aku memang tidak bisa diandalkan.
Aku yang paling pertama akan mengakui bahwa aku bukan orang yang bisa diandalkan baik diriku yang dulu maupun sekarang. Aku hanya bisa berdoa memohon bimbingan agar diriku yang sekarang bisa lebih baik daripada dulu. Tentu saja aku tahu harus ada kemauan juga pada diriku, tak bisa mengharapkan jawaban dari doa dan dengan sendirinya semua akan berjalan sendiri dengan baik. Hidup tidak semudah itu. Ah, pemikiran semacam ini sungguh membuatku depresi.
Aku mendesah akan pikiranku yang lagi-lagi mengarah negatif. Aku memejamkan mataku kuat-kuat dan berusaha mengubur jauh pikiran buruk untuk sementara waktu.
Sebenarnya bagaimana soal penjahat berpakaian badut itu? Kenapa aku bisa sial sekali terlihat oleh orang itu? Akankah dia menganggap aku sebagai saksi yang harus dimusnahkan? Padahal aku sama sekali tidak ingat apa yang terjadi padaku saat itu.
Sebenarnya aku agak enggan menemui dokter lagi walau itu demi membantu mentalitasku. Aku khawatir kejadian yang seperti Rumi Tsukasa terulang lagi. Bisakah aku mempercayai dokter itu untuk menolongku? Yang pasti aku harus tutup mulut soal mata shinigami, apapun yang terjadi, walau melihat warna kuning lagi. Jangan mulut ember, Eva!
Terbersit dipikiranku untuk mengontak Caleb tetapi setelah kejadian dengan Kenji, pemuda itu memintaku untuk tidak mengontak atau menemui dia dan Lizzie sampai keadaan aman. Aku merasa mereka tak ingin terlibat denganku selama masa penyelidikan Kenji oleh dewa kematian sedang berlangsung. Karena mengundang perhatian mereka adalah kesalahanku sendiri, aku tidak seegois itu untuk membuat mereka terjerat olehku jikalau nantinya dewa kematian itu akan menemukanku.
Aku memahami keputusan mereka dan menerimanya walau aku merasa agak sedih juga. Senasib sepenanggungan juga ada batasnya, bukan?
777
Aku tidak tahu apakah kemampuan hipnotis itu benaran atau bohongan. Aku terganggu atas saran dokter yang menyarankan hipnotis padaku.
Hari ini aku menemui dokter yang direkomendasikan Inspektur Megure yaitu dokter yang bernama Lee Komui. Untungnya warna orang itu normal sehingga tidak akan mengusik moralitasku walau sepertinya tingkatan moralitas pada diriku ini sepertinya berada di area abu-abu atau mungkin bisa dibilang netral? Entahlah. Aku tak mau terlalu memikirkannya.
Aku bingung harus bicara apa dengan dokter tetapi aku menutup rapat mulutku soal yang menyangkut mata shinigami. Aku hanya memberitahu kejadian 'berat' seperti kehilangan dua teman dan kejadian penculikan traumatis yang menimpaku juga soal mimpi buruk yang menggerogotiku. Kukatakan padanya bahwa aku memiliki gangguan kecemasan berlebihan dan soal obat yang ku konsumsi dari Rumi Tsukasa.
Aku tercengang saat dia menyarankan sugesti hipnotis supaya pikiranku bisa lebih tenang. Komui menjelaskan bahwa hipnotis itu tidak seperti yang mungkin kulihat selama ini di acara TV, tidak akan langsung terhipnotis. Jika seperti dalam acara TV, aku pasti menolaknya. Aku tak mau jika sampai terhipnotis dan disuruh melakukan hal yang memalukan...atau dalam kaitannya dengan diriku saat ini, membocorkan soal rahasia terdalam dalam diriku yaitu bahwa aku bukanlah Eva yang asli.
Komui menyuruhku berbaring santai di sofa panjang dan menutup mataku sementara dia mengucapkan beberapa kata-kata yang bersifat positif padaku. Dia bilang aku bisa melakukannya sendiri dirumah selama beberapa menit sambil mengatur nafas dan mengucapkan kata-kata yang positif untuk diriku. Dia mewanti-wanti untuk tidak menggunakan kata 'tidak' atau kata-kata yang bersifat negatif. Sebenarnya aku sulit mempercayai terapi ini tetapi aku menjalaninya dengan harapan aku bisa lebih positif kedepannya.
Tadinya aku kira dokter ini akan menghipnotisku seperti acara film thriller supaya aku bisa mengingat kejadian saat aku sedang berjalan dalam tidur, ternyata tidak. Dalam hati, aku merasa sedikit lega. Aku tak yakin aku ingin mengetahui kejadian yang terjadi malam itu saat aku bertemu pembunuh berpakaian badut itu.
777
Saat masuk sekolah, aku agak was-was karena adanya Yuka dan Conan. Walau aku sepertinya berhasil menepis kecurigaan Yuka padaku untuk saat ini, aku tak tahu harus bagaimana menghadapi Conan. Yuka dan Conan beda level. Jika Conan menekanku, aku takut tak akan bisa menyimpan rahasia. Jadi aku pun terus menghindari anak itu dan untungnya anak itu tidak aktif mencariku. Aku pun jadi tidak bisa singgah ke Poirot karena Conan kan tinggal diatas Poirot, jika aku kesana, pertemuan dengan anak itu tidak akan bisa kuhindari.
Aku juga lebih berhati-hati memperhatikan sekitarku untuk menemukan jejak shinigami yang mencabut nyawa Kenji. Menurut Caleb, shinigami itu kemungkinan akan menyelidiki lingkungan sekitar Kenji untuk mencari tahu anomali yang mengubah warna anak itu menjadi hitam. Aku dengan gugup menggenggam kalung liontin berisi jimat dari Reina. Selama kalung ini ada padaku, seharusnya aku akan aman, bukan?
Aku menjalani jam belajar terlama hari itu, entah kenapa setiap menitnya seperti bergerak begitu perlahan. Aku juga sulit konsentrasi akibat kecemasanku akan keberadaan dewa kematian. Saat jam beristirahat, aku mencueki Yuka dan Miyuki dan pergi bersembunyi di toilet lalu aku mempraktekkan terapi dari Dokter Komui agar aku bersikap positif dan membawa kedamaian pada pikiranku yang hanya berhasil untuk sekitar 15 menit sebelum aku kembali panik. Aku kembali mengulangi trik dari dokter itu.
Aku bisa bernafas lega saat akhirnya jam sekolah berakhir dan aku berhasil menghindari Conan. Aku sungguh merasa konyol karena sekarang aku harus kabur dari anak itu. Tetapi ini demi kebaikan bersama. Saat ini, jika shinigami itu ada, kemungkinan saat ini dia sedang mengawasi Conan karena dialah pelaku utama yang menyelamatkan Kenji. Semoga saja dewa kematian itu cepat menutup kasus Kenji setelah dia menyadari tidak ada hal aneh pada Conan. Yaa...selain bahwa anak itu sebenarnya Shinichi Kudo, akankah dewa kematian itu mempermasalahkan hal itu?
Hari ini aku harus les dengan Subaru. Sebenarnya aku agak malas karena aku hanya ingin cepat pulang dan bersembunyi dikamar saja sampai adanya kepastian bahwa penyelidikan atas kasus Kenji sudah berakhir tetapi bagaimana aku bisa menentukan hal itu? Aku memaksakan diriku untuk pergi kesana. Aku agak khawatir juga jika Subaru sampai tahu juga soal kasus terbaru yang menimpaku.
Aku mendesah, aku tidak mengerti kenapa aku begitu enggan untuk memberitahukan soal pembunuh berpakaian badut kepada orang itu. Mungkin karena itu artinya aku harus mengakui bahwa mentalitasku sangat rapuh mengingat aku sampai jadi mendadak berjalan dalam tidur? Atau mungkin aku masih tidak bisa menerima fakta bahwa hidupku akan terus terancam selama aku hidup di dunia ini dan aku hanya ingin membutakan diriku akan kenyataan mengerikan itu? Aku benar-benar membutuhkan bantuan tetapi...kepada siapa aku bisa memintakan bantuan? Memang Subaru dan Amuro sudah mengatakan bahwa mereka bersedia membantuku, lalu kenapa aku masih ragu-ragu? Apa sih yang salah dari diriku? Apakah aku memiliki keinginan untuk mati saja?
Aku memegangi kepalaku yang mulai berdenyut-denyut. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku berusah mengusir pemikiran buruk itu. Aku tak ingin mempelajari lebih lanjut bahwa ada kemungkinan bahwa aku itu suicidal. Let's just put a pin in that.
Aku mendesah memikirkan betapa ribetnya kehidupanku saat ini. Aku berharap bisa hidup tenang dan menikmati kebersamaan dengan tokoh-tokoh manga DC kesukaanku, tapi kehidupanku malah beralih jadi supernatural thriller saja. Aku sungguh berharap bisa menghapus fakta bahwa aku memiliki mata shinigami. Aku hanya ingin jadi orang biasa-biasa saja, aku tidak tahan dengan segala macam ketegangan yang kualami sekarang. Tetapi, jika aku hanyalah orang yang biasa-biasa saja, kemungkinan untuk masuk lingkup tokoh para manga DC ini lebih kecil. Seharusnya aku sudah puas saja menjadi pengamat di garis samping saja. Tetapi, apa benar aku akan puas hanya menjadi pengamat saja? Sepanjang hidupku di dunia nyata aku hanyalah seorang pengamat yang biasa-biasa saja, apakah aku akan puas tetap begitu-begitu saja? Yaa, mau bagaimana lagi? Ugh, aku ini benar-benar deh! Kenapa sikapku sungguh self-defeating terus?
Sama sekali tidak ada ambisi! Lemah!Terngiang-ngiang dikepalaku kata-kata keluargaku di dunia nyata tentangku yang bukannya menambah semangat malah semakin menjatuhkan. Dan sekarang tanpa sadar aku juga berpikiran seperti itu. Mungkin itu berarti mereka benar. Kenapa aku tak ada keinginan untuk membuktikan yang sebaliknya soal diriku supaya bisa mengubah pendapat mereka tentangku? Aku merasa ada belenggu pada diriku yang membuatku tak bisa leluasa bergerak. Tetapi yang kutakutkan adalah bahwa tanpa belenggu itu pun, aku memang orang yang seperti ini. Self-defeating to the max.
Aku sudah tak perlu membuktikan apapun pada keluargaku karena bagi mereka, aku sudah tidak ada. Aku sudah tak lagi menjadi beban hidup bagi mereka. Dan dikehidupan kedua-ku ini, aku berharap aku bisa mengubah diriku lebih baik dari diriku yang dulu. Tapi, selama aku masih memiliki jati diri-ku yang lama, apakah aku bisa berubah? Mengubah diri sendiri itu sungguh sulit. Semua orang bilang asalkan kau bertekad, kau pasti bisa. Jadi dimana tekadku? Aku mengerang dan menjambak rambutku dengan gusar. Stop thinking about it! Just stop thinking, Eva!
Rasa sakit akibat menjambak rambut membuatku melupakan sementara pemikiran negatif yang menggerogotiku. Aku harus fokus ke situasi yang saat ini kuhadapi yaitu soal si badut pembunuh. Aku mendesah sebal. Kenapa mesti badut? Jadi ingatnya film horor IT. Tapi badut satu ini benar manusia biasa, bukan? Ah, aku benar-benar jadi seperti Conan jadi magnet yang entah kenapa menarik perhatian kasus. Aku sungguh berharap badut pembunuh itu tidak akan menganggapku sebagai ancaman yang harus dia hapus karena aku memang tidak ingat apa-apa soal malam itu.
Oh iya, aku jadi bertanya-tanya apakah Amuro juga sudah tahu soal itu. Orang satu itu juga tertarik pada misteri dibalik diriku. Dia sepertinya selalu tahu kasus yang menimpaku. Waktu itu dia beralasan memiliki teman polisi tetapi aku tahu dia memiliki akses data kepolisian jadi mudah saja bagi dia untuk mengetahui apa yang terjadi padaku. Apalagi sekarang dia memiliki kekhawatiran padaku soal Reina yang dicurigai sebagai pembunuh serial dan kaitannya pada kalung identik yang dimiliki olehku dan korban pembunuhan lainnya.
Ah sudahlah, sekarang aku menyelesaikan les dulu dengan Subaru. Aku jadi teringat janjiku untuk mengontak Caleb soal memperkenalkan Subaru. Aku belum sempat menyampaikan hal itu pada Caleb karena kejadian Kenji. Bagaimana jika nanti Subaru menanyakan soal itu? Kepalaku kembali terasa berdenyut-denyut. Akan kukatakan saja bahwa aku tak bisa mengontak Caleb untuk saat ini. Itu memang benar karena Caleb memintaku untuk tidak mengontak dia untuk sementara waktu.
Sialnya, saat aku sampai di rumah keluarga Kudo, Conan malah berada disana membuatku tercengang. Dia, dengan nada kekanak-kanakannya yang palsu, mengatakan dia ada pelajaran yang sulit dia mengerti jadi dia hendak meminta bantuan pada Subaru. Instingku seperti menyuruhku untuk kabur saja tetapi kaki-ku tak mau menurutiku. Aku terdiam memandangi keduanya. Aku jadi khawatir apakah keduanya sedang membicarakan aku sebelumnya? Sudah, Eva, jangan ge-er. Lebih mungkin keduanya sedang membicarakan soal organisasi hitam, bukan?
Conan lalu berpamitan kepada Subaru dan kepadaku. Aku memandangi kepergian dia dengan agak linglung. Tadinya kupikir dia akan menginterogasiku soal Kenji. Walau kejadian Kenji itu agak sulit dijelaskan secara logika, bukan? Mungkin saja Conan masih kesulitan menerimanya. Anak kecil yang kemungkinan bisa memprediksi kematian memang hal yang tidak logis, bukan? Jadi mungkin saja dia hanya akan mengamatiku dulu sementara waktu, mengumpulkan beberapa bukti lagi, sebelum dia mendatangiku untuk mengonfirmasi hasil penyelidikannya. Semoga saja ketertarikannya kepadaku akan pudar karena kedepannya pasti dia akan disibukkan oleh organisasi hitam.
Aku menoleh memandang Subaru dan tercekat melihat orang itu sedang mengamatiku dengan serius.
Subaru memperbaiki letak kacamatanya. "Anak itu sepertinya mencurigaimu, Eva."
Aku tercekat mendengar konfirmasi dari orang itu bahwa Conan memang mencurigaiku. "Apa dia menanyakan soalku kepadamu?" tanyaku. "Terus Kak Subaru bilang apa?"
Subaru mengamatiku. "Jangan khawatir, aku tidak memberitahu soal mata shinigami-mu kepadanya. Lalu, apa yang membuat anak itu mencurigaimu?"
Aku menarik nafas panjang lalu menceritakan kejadian yang soal wanita berwarna merah yang gagal Conan selamatkan dan soal Kenji yang diselamatkan Conan sehingga warnanya berubah hitam. Aku sulit menuturkan kisah Kenji padanya karena aku takut akan reaksi dia jika mendengar aku dan Caleb tadinya bertekad untuk mencabut nyawa Kenji.
Subaru terlihat sedang berpikir setelah mendengarkan ceritaku. "Hitam, yah?"
"Sekarang aku tahu konsekuensi menyelamatkan merah. Rupanya itu bisa memicu kematian Final Destination." tukasku.
"Final Destination?"
Aku terkesiap, ingin menjitak diriku sendiri yang lagi-lagi kelepasan berbicara akan film yang tidak ada di dunia ini. "Itu istilah dari Cal...dari orang itu. Aku mengontaknya setelah melihat Kenji berubah warna hitam. Dia mengatakan aku melakukan kesalahan fatal..." tuturku. Aku ragu-ragu melanjutkan percakapan ini karena alasan vitalnya adalah aku dan Caleb takut menarik perhatian shinigami sedangkan aku belum memberitahu kepada dia bahwa dewa kematian itu nyata. "Dia lebih tahu soal warna hitam karena dia pernah mengalaminya. Dia bilang orang yang berwarna hitam itu semacam kartu liar karena dapat mengubah nasib orang lain hanya dengan berinteraksi dengannya. Keberadaan hitam...mengganggu keseimbangan...dan ada...semacam...kekuatan alam yang...tidak menyukai perubahan yang tidak dirancangkan..." ujarku dengan agak terbata-bata karena aku kebingungan apakah aku lebih baik jujur saja kepada Subaru atau menjelaskan sebisaku dengan se-samar mungkin. "Dan...pengoreksian...harus dilakukan untuk menjaga rancangan kematian?"
Subaru mengamatiku dengan cermat, entah kenapa raut mukanya membuatku merasa tidak tenang. Tatapannya tajam saat dia menganalisa setiap perkataanku dan makna dibalik perkataanku itu.
Aku menelan ludah dan membalas tatapan orang itu. Aku tahu dia pasti bisa menangkap makna tersembunyi pada perkataanku.
Dia tiba-tiba menepuk kepalaku. "Itu pasti berat bagimu, bukan, Eva?"
Aku menatap orang itu dengan agak bingung.
"Mengetahui tanggal kematian teman dekat-mu tetapi tak bisa melakukan apapun untuk mengubahnya. Beban yang dijematkan kepadamu akibat mata shinigami itu...maaf, aku tak bisa membantumu meringankannya." ujarnya.
Perkataan orang itu membuat airmata mengucur deras dikedua pipiku. Karena orang itu benar, mata shinigami ini benar-benar beban yang berat. Kedepannya pun, suatu hari nanti aku akan melihat warna merah pada orang-orang yang kusayangi. Apa yang bisa kulakukan jika saat itu tiba? Bisakah aku menerimanya?
Subaru meraihku dan memberikan pelukan hangat sembari menepuk punggungku layaknya seorang dewasa yang hendak menghibur anak kecil.
Tangisanku membuncah keras tanpa dapat ditahan lagi. Aku merasa agak malu juga karena aku sebenarnya juga bukan anak kecil sungguhan tetapi aku malah menangis layaknya anak kecil sungguhan. Tetapi detik itu aku sungguh kehilangan kontrol akan diriku dan aku hanya bisa menangis sesunggukan.
Subaru, dengan tenangnya, meladeni tangisanku. Dia masih menepuk-nepuk punggungku dan memberiku sekotak tissue untuk menghapus airmata dan ingusku.
Setelah puas menangis, Subaru menyuguhkan teh manis hangat untukku. Mataku agak sembab dan aku mencuci muka dulu.
Aku dengan malu-malu menghampiri Subaru dan meminta maaf kepadanya tetapi dia bilang aku tak ada alasan untuk meminta maaf karena aku tak melakukan kesalahan apapun padanya.
Kami pun memulai pelajaran les hari itu dan kami tak lagi membicarakan soal mata shinigami selama jam les hari itu. Saat aku pulang, aku baru menyadari bahwa aku tidak memberitahu dia soal badut pembunuh yang bisa menjadi potensial permasalahan kedepannya. Semoga saja badut pembunuh itu tidak akan muncul lagi dihadapanku.
777
Mama harus keluar kota karena pekerjaannya. Papa yang juga harus bekerja akhir pekan itu lalu mengajakku ikut ke kantornya. Papa mengajakku meninjau sebuah gedung tinggi yang baru saja dibeli oleh perusahaan keluarga Suzuki. Tak disangka, aku bertemu dengan Conan beserta set komplitnya yaitu Ran, Sonoko, Ai dan trio detektif cilik. Ugh, aku jadi khawatir bahwa nantinya akan terjadi kasus. Aku tidak tahu harus bagaimana bersikap dihadapan Conan tetapi untungnya dia bersikap biasa-biasa saja dihadapanku. Aku merasa beban dipundakku sebagian lepas jadinya tapi tahulah nantinya akan kembali lagi.
Semuanya, kecuali Conan dan Ai, menyambutku dengan ramah. Aku pun berusaha menampilkan senyum gembira dihadapan mereka. Sonoko mengatakan keluarganya baru saja membeli gedung itu dan perusahaan Suzuki merencanakan akan menyelenggarakan sebuah acara berbasis entertainment didalam gedung itu makanya dia mengundang Ran dan bocah-bocah disekitarnya. Aku tak ingat episode dalam manga yang mengisahkan tentang acara entertainment yang disebutkan Sonoko jadi mungkin kami akan aman-aman saja? Dan untunglah, sepertinya tidak terjadi suatu kasus apapun. Tidak ada yang menjerit juga soalnya.
Ayumi, Genta dan Mitsuhiko sangat bersemangat mengitari ballroom dimana berbagai macam permainan dipamerkan. Kegembiraan dan kepolosan anak-anak ini membuatku jadi tersenyum-senyum. Aku melihat Conan dan Ai juga memandang mereka dengan rasa sayang tetapi sama sepertiku keduanya tidak bergabung untuk mencobai permainan didalam ruangan. Sonoko lalu memanggil mereka untuk naik lift karena dia ingin memperlihatkan suatu tempat yang katanya lebih asyik lagi.
Papa menyuruhku untuk ikut dengan Sonoko karena dia harus pergi mengurusi sesuatu. Aku pun menuruti keinginan Papa dan pergi bergabung lagi dengan Sonoko dan Ran yang senang saja menerimaku.
Saat kami naik lift bersama itulah sesuatu terjadi. Ada seorang wanita berkerudung yang naik lift bersama kami. Dia kelihatan agak pucat dan nafasnya agak terengah-engah tetapi aku melihat warna wanita itu biru tetapi tanggalnya masih lama sekali, tapi kenapa sudah berwarna biru dari sekarang? Aku masih kurang informasi soal warna biru. Aku dulu pernah melihat warna biru dirumah sakit seorang kakek sakit yang akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Aku lebih sering melihat warna hijau, kuning dan merah sehingga hampir saja lupa bahwa warna biru juga ada. Aku harus mempertanyakan soal warna biru pada Caleb nanti.
Conan menyadari kondisi wanita itu, bahkan Ran dan Sonoko juga menyadarinya dan mereka menanyakan apakah dia baik-baik saja.
Wanita itu mendadak kehilangan keseimbangannya dan tas yang dipegangnya jatuh ke lantai dan isinya berhamburan ke lantai. Ayumi dan teman-temannya jongkok untuk memungut benda-benda wanita itu sementara Ran dan Sonoko menanyakan apakah wanita itu butuh dokter.
Wanita itu tak menjawab. Nafasnya masih terengah-engah.
Aku terpaku menatap sesuatu yang jatuh didekatku. Ada 1 set kartu tarot berhamburan didepanku dan sebuah kartu tarot bertuliskan 'Death' bergambar tengkorak berbalut jubah hitam dan membawa tongkat sabit membuatku serasa membeku.
Tiba-tiba wanita itu menunjuk ke arahku dengan tangan gemetaran. "Dewa kematian akan datang kepadamu."
Tenggorokanku tercekat mendengarnya. Aku merasa nafasku jadi sesak.
Wanita itu jatuh tersungkur tetapi Ran berhasil menopangnya sebelum dia jatuh ke lantai. Conan segera mengecek jalan nadi tangan wanita itu. Dia bilang wanita itu tidak bernafas membuat semua penumpang dalam lift menjadi panik.
Aku juga kebingungan karena tanggal wanita itu jelas-jelas bukan terdaftar hari ini. Terbersit dipikiranku apakah mata shinigami-ku ini rusak, koq bisa salah?
Conan menyadari wanita itu memakai gelang medis dan menyadari bahwa wanita itu memiliki kondisi langka yaitu kondisi mati suri. Gelang medis itu menuliskan agar tidak mengubur wanita itu. Conan memerintahkan Ran untuk segera memanggil ambulan dan memencet tombol emergency pada lift untuk memberitahukan kejadian yang terjadi.
Aku berusaha fokus pada perkataan Conan. Mataku terasa berkunang-kunang. Wanita itu ternyata masih hidup. Tapi...apa maksud perkataan dia tadi? Kartu tarot tadi...apakah wanita itu semacam peramal? Masa sih?
Aku jadi teringat sebuah manga misteri tentang seorang peramal yang mati didalam lift dan dia juga mengatakan sesuatu soal dewa kematian, lalu satu per satu penumpang lift mati dan akhirnya saling membunuh karena ketakutan akibat perkataan peramal itu. Dan ternyata memang benar ada dewa kematian didalam lift itu. Lalu, kondisi medis wanita itu rasanya seperti aku pernah baca juga dalam sebuah manga misteri. Hanya saja semua orang terlambat menyadarinya sehingga wanita itu dikuburkan dalam peti. Wanita itu yang bangun dari 'kematian'nya dikira dirasuki oleh setan sehingga dibunuh oleh pendeta ditempat. Situasi ini seperti campuran dari dua kisah itu.
Aku tercekat mengira kejadian dalam cerita itu akan terjadi pada kami juga lalu aku mengecek orang-orang disekitarku tetapi warna mereka semua normal, hijau dan yang penting, semua data kematian mereka terlihat semua jadi tidak ada dewa kematian disini.
Tetapi perkataan wanita itu...apakah itu sebuah peringatan?
Akhirnya pintu lift dibuka, beberapa teknisi sudah didepan lift dan membantu memindahkan wanita itu ke tempat aman.
Semua orang sedang sibuk mengurusi wanita itu. Aku melangkah menjauhi semuanya. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Tetapi jantungku terus berdebur keras. Aku berusaha menggunakan trik yang diajarkan Dokter Komui tetapi tidak berhasil.
Akhirnya ada yang menyadari kondisiku yaitu Ai. Dia menanyakan apakah aku baik-baik saja. Aku bilang aku tidak enak badan dan aku ingin mencari Papa supaya bisa pulang lalu aku berpamitan pada Ai dan memintanya memberitahu yang lain.
Aku pergi dulu ke toilet dan membasuh wajahku berusaha menenangkan diriku. Tenang, Eva, tenang, jangan galau sendiri. Mungkin saja perkataan wanita itu hanyalah racauan belaka.
Akhirnya aku bisa menenangkan diri. Aku sudah tidak mood untuk berada disini jadi aku menelepon Papa sambil keluar dari toilet dan menuju lift terdekat.
Ran menghampiriku dengan khawatir setelah mendengar perkataan Ai tetapi aku berhasil meyakinkan dia bahwa aku baik-baik saja. Aku bilang saja kejadian dengan wanita itu membuatku tidak tenang dan aku ingin pulang saja. Walau agak enggan, gadis itu akhirnya pergi meninggalkanku untuk bergabung dengan yang lainnya.
Aku melihat Conan sedang memandangiku dari jauh. Aku menelan ludah lalu berbalik badan untuk fokus menelepon Papa.
Aku masuk ke lift ingin ke lantai dimana Papa berada karena Papa tidak menjawab telepon dariku. Aku mengirimkan chat kepada Papa bahwa aku akan pulang duluan. Aku begitu fokus pada HP-ku, aku tidak menyadari sekelilingku. Banyak orang keluar masuk dalam lift. Lift itu lumayan penuh dan aku berada ditengah-tengah.
Saat aku mendongak untuk melihat layar nomor lantai lift, aku baru menyadari kejanggalan mengerikan. Semua orang dalam lift ini berwarna merah dan bertanggal hari ini.
Aku tercekat lagi dan tubuhku mendingin menyadari apa yang akan terjadi. Warna merah disatu tempat berarti...apakah lift ini akan membawa kematian pada mereka...dan diriku jikq aku tidak keluar dari sini?
Dalam hati, aku mengutuk diriku sendiri karena mencueki peringatan dari peramal itu. Aku berteriak meminta seseorang untuk memencet tombol nomor lantai yang kusebut secara random asalkan aku bisa segera keluar dari sini.
Aku mulai merasa sesak nafas lagi, menyadari aku tak akan bisa keluar dari sini. Apakah ini kematian yang dirancang untukku oleh shinigami yang menangani Kenji?
Pintu lift mendadak terbuka disalah satu lantai dan aku meronta melewati kerumunan untuk keluar tetapi pintu lift tertutup lagi.
Aku hampir ingin menangis berusaha untuk keluar. Tiba-tiba sebuah payung merah menahan pintu lift agar tidak tertutup. Tanpa pikir panjang, aku meraih payung tersebut supaya aku bisa ikut keluar lift.
Aku berhasil keluar lift dengan nafas terengah-engah. Lututku melemas dan aku jatuh terduduk dilantai.
Barulah aku melepas payung merah itu dan saat aku melihat pemilik payung merah itu, wajahku memucat.
Seorang pemuda tampan berpakaian hitam memandangiku dengan agak bosan. Masalahnya, aku tidak bisa melihat data kematian pemuda itu.
"Jadi, kaulah kejanggalan yang kurasakan di kota ini..." tuturnya dingin.
Aku hanya bisa memandangi orang itu dengan ketakutan. Bukankah aku memakai jimat dari Reina? Apakah jimat itu gagal melindungiku? Ataukah ini kesalahanku sendiri yang menonjolkan diriku?
Pemuda itu mengamatiku dengan senyum dingin diwajahnya. "Kau..."
Saat itu, terdengar suara ledakan dari dalam lift diikuti suara jeritan keras. Aku menyadari bahwa lift yang tadi aku masuki itu benar-benar dirancang untuk jatuh dan mematika semua penumpang. Suara alarm berbunyi keras, membuat telingaku kesakitan.
Pemuda itu tidak terganggu oleh keributan disekitar kami, dia masih saja memandangiku. Senyumnya benar-benar membuat darah disekujur tubuhku serasa membeku.
Seorang teknisi atau satpam ditempat meneriakkan agar semua orang jangan panik dan segera keluar dari gedung. Orang itu melihatku dan membantuku berdiri sambil menanyakan dimana orangtuaku. Orang itu sama sekali tidak menyapa pemuda itu. Saat itulah aku menyadari bahwa dia tidak bisa melihat pemuda itu...yang berarti pemuda itu benar-benar shinigami.
Rasa takut diwajahku pasti terlihat jelas karena pemuda itu masih saja tersenyum sinis dihadapanku. Katanya tiap orang memiliki insting untuk melawan atau kabur dan aku memilih untuk kabur. Aku langsung membalikkan badan berusaha untuk lari menjauhi shinigami itu.
Shinigami itu terlihat agak terkejut tetapi lalu dia tersenyum geli tetapi dia tidak menghentikanku.
Aku berlari dan hampir bertubrukan dengan orang panik lainnya. Saat itu, ada yang membantuku berdiri saat aku jatuh tersungkur dilantai. Mataku membelalak lebar saat mengenali orang itu sebagai Andre Camel, agen FBI yang bekerja bersama Shuichi dan Jodie. Aku heran melihatnya ada disini.
"Kau tak apa-apa, adik kecil?" tanyanya dengan penuh perhatian.
Apakah Shuichi mengirim orang ini untuk mengawasiku? Aku membiarkan orang itu memangkupku dalam pelukannya saat dia mengatakan bahwa dia akan mengeluarkanku dari sini. Aku melirik ke arah shinigami yang kutinggalkan. Dia masih ada disana, dia tersenyum padaku dan melambaikan tangannya dengan santai.
