Camel yang membawaku keluar gedung lalu bertemu dengan Papa. Aku yang seakan lupa daratan langsung menghambur dalam pelukan Papa, mencengkram erat dirinya seperti anak monyet kepada induknya saat dia menggendongku dalam pelukannya. Aku tidak menjawab pertanyaan Papa yang semakin membuat dia khawatir. Aku merasa pandanganku kabur dan aku hanya bisa mengatakan aku ingin pulang. Sejujurnya aku tak begitu ingat apa yang terjadi selanjutnya karena aku jatuh pingsan.

Saat aku bangun masih dalam keadaan setengah sadar, aku menyadari bahwa Papa membawaku ke rumah sakit lagi. Aku jatuh sakit demam tinggi yang membuatku harus dirawat inap untuk beberapa hari. Kepalaku terasa berat dan pening. Dalam keadaan setengah sadar, aku melihat Papa dan Mama didalam kamar rumah sakit. Mereka sepertinya sedang berargumentasi tetapi aku tak bisa mencerna percakapan mereka. Aku menutup mata dan tidur lagi.

Saat aku sudah agak sembuh, aku mendengar cuplikan berita pada TV dikamar dimana aku berada soal kejadian ledakan dalam gedung. Diberitakan bahwa kejadian itu adalah perbuatan salah satu keluarga pemilik gedung sebelumnya yang tidak rela gedung itu dijual kepada perusahaan Suzuki. Aku tidak terlalu ambil pusing soal itu karena yang ada dipikiranku hanyalah rasa takut akan dewa kematian berpayung merah.

Aku sungguh ketakutan menunggu kedatangan shinigami itu kepadaku karena sekarang dia tahu bahwa aku ada. Dia bilang aku-lah kejanggalan yang dia rasakan. Oh, dia benar-benar tahu. Apa yang harus kulakukan sekarang? Level kecemasanku jadi semakin melonjak naik.

Aku ingin mengontak Caleb tetapi aku berhasil menahan diri. Bagaimanapun aku tak ingin menjatuhkan orang itu denganku. Aku berusaha mengacuhkan teriakan dalam hatiku yang memakiku sok suci.

Mama meletakkan telapak tangannya ke dahiku untuk mengecek suhu tubuhku. Tangan Mama terasa adem pada kulitku. Mama menyuruhku banyak minum air. Dia mengelus lembut kepalaku sambil menampilkan senyum yang kelihatan agak sedih. Aku merasa bersalah karena lagi-lagi aku membuat orangtua Eva bersedih lagi karenaku.

Mama mengatakan Miyuki kemarin, saat aku belum sadar benar, ada datang menjengukku bersama orangtuanya dan memberikan sekeranjang buah-buahan. Mama menyuruhku untuk mengirimkan pesan terima kasih kepadanya. Mama mengupas apel untuk kami makan bersama.

Aku dan Miyuki bertukar pesan untuk beberapa saat. Aku tersenyum membaca pesan dari anak itu. Dahiku agak mengerut saat melihat aku tidak menerima pesan dari Yuka. Aku merasa Yuka seperti menjaga jarak denganku setelah pemakaman Kenji. Mungkin aku yang terlalu sensitif.

Papa tidak ada bersamaku karena masih mengurusi kejadian di gedung itu dan harus bekerja sama dengan polisi.

Tadinya polisi pun ingin berbicara denganku tetapi Papa menolak mereka. Sepertinya mereka tahu dari rekaman CCTV dalam gedung bahwa aku berada di lift itu sesaat sebelum ledakan. Masa mereka mencurigaiku? Tidak mungkinlah! Di mata mereka, aku hanyalah anak kecil semata, bukan? Walau memang kejadian yang terjadi disekitarku selama ini yang terus-menerus melibatkan polisi mungkin akan membuatku dicurigai. Tetapi, lebih banyak kasus terjadi disekitar Conan dan teman-temannya daripada denganku, sepertinya hanya beberapa polisi cermat saja yang mencurigai Conan. Dibandingkan dengan Conan, aku masih lumayan normal sebagai anak kecil, bukan?

Bicara soal Conan, aku jadi teringat akan Amuro. Aku menghela nafas panjang sambil mencubit dahiku sampai merah. Gila deh, tambah lagi kecurigaan mereka berdua juga padaku kalau begini. Tapi belakangan ini aku tidak bertemu Amuro lagi semenjak kejadian dengan Kenji. Apakah orang itu masih kepikiran soalku ataukah dia sedang disibukkan oleh organisasi hitam? Dipikir-pikir aku sama sekali tidak tahu timeline-nya manga DC ini sudah sampai mana.

Sebuah pesan dari Miyuki membuatku terbelalak. Miyuki menyatakan bahwa 2 hari yang lalu di sekolah ada kehebohan seorang anak SD jatuh pingsan mendadak dan akhirnya dibawa ke rumah sakit. Dia mengatakan bahwa anak itu adalah anak SD berkacamata yang pintar main sepakbola dan merupakan bagian dari klub detektif cilik. Conan!

Aku segera menelepon Miyuki untuk mempertanyakan lebih jelas. Sepertinya Conan mendadak pingsan dengan tidak jelas dan akhirnya dibawa ke rumah sakit tetapi Miyuki tidak tahu dibawa ke rumah sakit yang mana.

Setelah selesai menelepon Miyuki, aku langsung menelepon Ran dengan jantung berdebur keras. Aku tidak ingat ada kejadian di manga dimana Conan pingsan. Apakah ini kejadian pada manga yang satu lagi ataukah dari anime episode filler? Tubuhku menegang merasa ketakutan memikirkan bahwa kemungkinan aku mengubah nasib anak itu.

Ran agak kaget menerima telepon dariku dan dia malah menanyakan kabarku dahulu, mengetahui bahwa terakhir kami bertemu kondisiku tidak bagus.

"Aku baik-baik saja. Kak Ran, kudengar Conan masuk rumah sakit, apakah dia baik-baik saja?" tanyaku.

Nada suara Ran bergetar dan dia terdengar sedih membuatku semakin khawatir akan nasib Conan. Aku terkejut saat Ran mengatakan bahwa Conan berada dirumah sakit yang sama denganku. Aku pun segera menanyakan lantai dan nomor kamar dimana Conan berada. Sepertinya gadis itu agak enggan memberitahuku tetapi akhirnya dia memberitahu juga.

Mama sedang mengurusi administrasi rumah sakit atau berbicara dengan Dokter, aku tidak tahu, dan aku menggunakan kesempatan itu untuk meloloskan diri dari kamar tersebut. Kepalaku masih agak berat dan pening tetapi demamku sudah berkurang.

Aku melihat seorang pria dan wanita gemuk berdiri didepan kamar dimana Conan seharusnya berada. Aku melihat dari data kematian diatas kepala mereka bahwa mereka adalah samaran dari Yusaku dan Yukiko Kudo.

Tentu mereka khawatir akan putra mereka yang katanya mendadak koma tanpa sebab. Yusaku sedang memeluk dan membisiki lembut istrinya yang berlinang airmata. Aku semakin yakin bahwa kondisi Conan saat ini tidaklah natural, bukan bagian dari canon, yang berarti ini pasti akibat diriku juga. Jika shinigami itu mengira Conan berkaitan denganku, mungkinkah dia menggunakan cara ini untuk menarikku keluar? Dan aku benar-benar melangkah masuk dalam jebakan yang dia buat, bukan?

Tetapi aku harus melihat Conan secara langsung dahulu, aku harus mengecek data kematian anak itu. Masa gara-gara aku tokoh utama penting dunia manga DC nasibnya jadi begini?

Yusaku yang melihatku segera menyapaku dan menanyakan apakah aku adalah teman Conan. Dia memperkenalkan diri mereka sebagai orangtua kandung Conan dan memberikan nama palsu mereka kepadaku. Aku bertanya kepada mereka apakah aku boleh melihat Conan. Dia dan istrinya saling bertukar pandang sebelum kembali melihatku yang berwajah agak pucat dan berpakaian pasien rumah sakit. Aku buru-buru memasang tampang memohon kepada mereka.

"Conan masih belum sadar." tutur Yusaku.

"Tak apa, aku hanya ingin melihatnya sebentar saja." pintaku dengan memelas.

Syukurlah, mereka mengizinkanku. Dengan jantung berdebur keras, aku memejamkan mata sebentar dan menuturkan doa kecil agar Conan akan baik-baik saja. Aku menelan ludah dengan susah payah saat aku membuka mataku untuk melihat sosok kecil Conan yang berbaring tak berdaya diatas ranjang. Aku menahan nafas sebentar dan merasa lega menyadari bahwa warna Conan masih hijau dan tidak ada perubahan pada data kematiannya. Lha, lalu sekarang bagaimana? Sebenarnya apa yang terjadi pada anak ini?

Saat itulah aku baru menyadari ada sosok lain didalam kamar dimana Conan berada. Aku tercekat saat melihat pemuda berseragam hitam itu berdiri bersandar pada jendela dan kedua tangannya bertumpu pada gagang payung merahnya. Dia tersenyum melihatku.

"Ternyata aku benar, anak ini benar-benar berkaitan dengan dirimu, bukan?"

Aku tak mampu berkata-kata hanya bisa memandangi shinigami itu dengan ketakutan. Aku tak bisa bergerak dan sulit bernafas.

Pemuda itu melangkah mendekatiku dengan senyum dingin diwajah tampannya.

Aku menjerit dalam hati kepada diriku untuk lari namun tentu saja tubuhku menolak menuruti perintahku. Dan lagi, aku rasa aku sudah tidak bisa kabur lagi. Aku menoleh kebelakangku untuk melihat apakah Yusaku dan Yukiko menyadari kehadiran shinigami itu dan jika tidak, aku berpikir bahwa kami harus berbicara ditempat lain karena akan aneh bukan, jika aku terkesan berbicara sendiri?

Mataku membelalak lebar saat menyadari kejanggalan pada Yusaku dan Yukiko, waktu disekitar kami seperti membeku, layaknya film sci-fi saja. Aku terhenyak dan menoleh ke arah Conan yang juga keadaannya sama dengan orangtuanya.

Aku menyadari bahwa shinigami dihadapanku inilah pelakunya yang menghentikan waktu dan kemungkinan juga pelaku yang menyebabkan kondisi Conan.

Pemuda itu membuka telapak tangannya dan sebuah buku hitam muncul diatas tangannya. Dia membuka buku tersebut lalu menyebutkan nama lengkap Eva yang asli dan melanjutkan menuturkan seluruh data kematiannya. Dia memandangiku dengan datar.

"Aku tahu bahwa kau bukan Eva."

Habislah aku!

"Aku yakin aku sudah melepas jiwa anak bernama Eva itu ke alam selanjutnya. Akan tetapi, entah kenapa raganya masih berkeliaran dimuka bumi ini. Dan, kau...adalah jiwa yang tidak tercatat dalam buku-ku. Kau...seorang jiwa ilegal, bukan?" tanyanya. "Bagaimana kau bisa masuk ke raga itu?" Dia memandangiku dengan tajam. "Shinigami mana yang membantumu mencuri raga itu?"

Aku hanya bisa memandangi orang itu tanpa daya.

"Cat got your tongue?"

Jujur, pikiranku kosong. Aku tidak tahu aku harus berkata apa. Apakah aku harus lari ataukah memohon untuk nyawaku?

"Aku penasaran bagaimana kau bisa menyembunyikan kehadiranmu dari kami selama ini..." tuturnya sambil mengelus dagunya.

Tanpa sadar, aku memegangi liontin berisi jimat dari Reina dan sialnya satu gerakan itu menarik perhatian shinigami itu. Tahu-tahu aku tak lagi merasakan liontin itu pada jari-jemariku. Aku membelalakan mata saat melihat bahwa liontinku itu kini berada dalam genggaman dewa kematian itu.

Pemuda itu membuka liontin itu dan mengeluarkan bandul berbentuk koin didalamnya. Dia menyerigai. "Jadi karena benda ini..." Dia menoleh kepadaku dengan sinis lalu merapatkan genggaman tangannya pada koin tersebut hingga koin itu hancur berkeping-keping sebelum menjadi abu.

Aku tercekat menyadari bahwa aku sudah terpojok. Dengan tubuh gemetaran, aku menatap shinigami itu dengan agak pasrah. "Apakah kau...sekarang akan mencabut nyawaku?"

Dia memiringkan kepalanya, mengamatiku dengan geli.

Aku menoleh ke arah Conan. "Apa yang telah kau lakukan pada anak itu?"

"Oh, dia akan baik-baik saja...sekarang setelah kau disini..."

Mendengar itu, aku merasa lega untuk Conan. Tetapi tiba-tiba aku merasa lemas dan lututku langsung jatuh ke lantai. Ternyata dewa kematian satu ini benar-benar memasang perangkap untukku via Conan.

Aku menengadah menatap pemuda itu. "Jadi, sekarang apa? Kau sudah berhasil menemukan dan memojokkanku, sekarang apakah...kau akan membawaku untuk diadili?"

"Sepertinya kau tahu konsekuensi mencuri raga itu...tapi kenapa kau masih nekad melakukannya?"

Aku hanya bisa tertawa renyah. Aku merasa terlalu lelah untuk menjelaskan bahwa semua ini bukan pilihanku. Aku rasa dia tak akan mempercayainya.

Akhirnya terjadi juga. Inilah akhir...seorang Eva.

"Shinigami yang membantumu mencuri raga itu, dimana dia?"

Aku tercekat lagi. Aku tak tahu dimana Reina dan jika aku tahu pun, apakah aku akan mengkhianati gadis itu?

"Kau tak mau memberitahuku."

Aku tidak menjawab.

"Membosankan."

Aku terhenyak mendengar nada dingin pada perkataan pemuda itu. Dia menatapku dengan datar, seakan aku serangga yang hendak dia injak.

Dia melangkah pergi untuk melewatiku dan keluar dari kamar.

Aku terbelalak melihat kepergiannya dan dengan bodohnya, aku malah menanyakan apa yang akan dia lakukan kepadaku.

"Kau tak bisa lagi sembunyi dariku. Aku tahu segalanya tentang raga itu dan aku tahu dimana kau akan berada selanjutnya. Aku tak merasa perlu terburu-buru untuk membawamu kepada atasanku."

"Kenapa? Kenapa memperpanjang ini?"

"Aku ingin kau merana menantikan kematianmu yang mutlak." jawabnya dengan senyum jahat.

Aku merasa darah dalam tubuhku mendingin.

Dia menatapku lalu tertawa pelan, lalu semakin keras, memegangi perutnya. "Cuma bercanda."

"Apa?" tukasku dengan bingung dan agak kesal.

"Sejujurnya dalam tingkatanmu sekarang, aku tak perlu melakukan apa-apa." tuturnya dengan nada datar saat semua tanda senyuman dan tawanya menghilang.

"A-apa maksudmu?"

"Apa kau pikir kau bisa berada dalam raga yang seharusnya sudah mati tanpa konsekuensi apapun?" tanyanya sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya. "Aku tak perlu melakukan apapun karena raga itulah yang akan membunuhmu...cepat atau lambat."

Aku terhenyak mendengar perkataannya tetapi sebelum aku sempat bertanya lagi, orang itu mendadak sudah lenyap dari hadapanku dan waktu yang berhenti kembali bergerak jadi aku harus berhadapan dengan Yusaku dan Yukiko.

Mereka kelihatan khawatir melihatku tersungkur ditanah dengan wajah pucat dan tubuh gemetaran. Yukiko menghampiriku dan menanyakan ada apa denganku. Nada suaranya lembut dan penuh perhatian kepadaku.

Aku berusaha meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja tetapi aku tidak perlu berusaha terlalu keras karena detik selanjutnya kedua perhatian mereka teralihkan ke Conan yang mendadak bangun. Dia menguap lebar dan kelihatan kebingungan saat kedua orangtuanya yang dalam penyamaran menghambur untuk memeluknya.

Aku mau tak mau tersenyum kecil melihat ketiganya. Aku merasa lega karena Conan kelihatannya baik-baik saja. Aku lalu diam-diam pergi dari sana.

Aku melangkah tak tentu arah memikirkan perkataan dewa kematian tadi. Apa maksud perkataan dia? Raga ini akan membunuhku? Apakah...maksudnya aku...sekarat? Tapi, aku merasa baik-baik saja, tidak merasa sakit atau apapun. Paling hanya keseringan mendapat serangan panik karena ketakutan terus.

"Eva?"

Aku menoleh dan terkesiap saat melihat Amuro. Dia terlihat khawatir kepadaku.

"Kenapa kau ada disini? Apakah Dokter sudah mengizinkanmu untuk berkeliaran sendiri?" tanyanya sembari menghampiriku.

Untuk sesaat aku tak bisa menjawab. Akhirnya aku hanya berkata, "Conan sudah bangun."

Amuro terhenyak sebelum tersenyum lega. "Benarkah? Syukurlah."

Aku jadi penasaran Amuro di rumah sakit ini untuk menjengukku atau Conan. Ih, Eva, jangan iri hati! Jelek sekali pemikiranmu! Ugh, lagi-lagi prioritasku kepeleset... Seharusnya aku mengkhawatirkan nasibku sendiri, kenapa aku malah masih menginginkan perhatian orang ini?

Amuro mengantarku kembali ke lantai dimana kamarku berada. Mama sudah kembali dan dia kelihatan sangat gusar karena aku kabur dari kamar.

Aku menjelaskan perihal Conan kepada Mama tetapi aku tetap kena marah. Ugh, Mama, jangan memarahiku didepan Amuro donk! Aku melirik ke orang itu yang sepertinya sedang menahan geli melihatku kelabakan dihadapan amarah sang Mama.

Setelah puas memarahiku, Mama akhirnya sudah tenang dan dia mulai melayani Amuro, berterima kasih pada orang itu karena sudah membawaku kembali. Mama pergi untuk mengupas buah untukku dan Amuro. Sebelum Mama pergi, dia mengerlingkan matanya kepadaku sembari tersenyum-senyum penuh arti. Aku hanya menatap Mama dengan datar.

Aku menoleh ke arah Amuro yang kelihatannya masih merasa geli terhadap kejadian tadi, ada kedutan pada sudut mulutnya.

Dia menepuk kepalaku dengan lembut. "Aku lega Eva baik-baik saja. Kudengar kau terlibat kasus pengeboman kemarin."

Aku menatap orang itu dengan seksama. Mungkin saja Amuro tahu bahwa aku sempat berada dalam lift dari rekaman CCTV dalam lift dan didalam seluruh gedung. Apakah dia mencurigaiku karena hanya aku yang berhasil keluar dari dalam lift bermasalah itu?

Mengingat reaksiku yang pasti terlihat panik dan ketakutan saat aku keluar dari dalam lift, tentunya tingkahku terlihat mencurigakan. Aku yakin dia akan mencurigaiku. Untungnya dia tidak pernah terang-terangan menginterogasiku.

"Kau sungguh beruntung karena kau keluar dari sana sebelum lift itu jatuh." tuturnya.

Aku tertawa hampa. "Iya, beruntung..."

Amuro mencermati ekspresiku yang bermasalah namun tidak mengatakan apa-apa.

Aku memang tidak pandai berakting baik agar tidak dicurigai. Aku berusaha menampilkan senyum sepolos mungkin tetapi aku rasa aku gagal. "Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku. Apakah habis ini Kakak juga akan pergi menemui Conan?"

"Anak itu baru bangun, bukan? Aku tak ingin mengganggu reuninya dengan orangtuanya. Lagipula, aku kesini untuk menjengukmu, Eva. Sudah agak lama aku tidak melihatmu."

Iya, aku memang menghindari Poirot dan yang berarti aku jarang bertemu Amuro semenjak kejadian Kenji. Sebenarnya, aku hanya ingin menghindari Conan waktu itu. Tapi, sekarang sudah berakhir, waktuku semakin pendek sekarang setelah dewa kematian itu menemukanku.

Walau aku senang mengetahui bahwa Amuro disini untukku, kepedihan malah menjalar dalam hati dan pikiranku. Tadinya aku sungguh berharap masa depanku kedepannya, aku bisa lebih dekat dengan orang ini tetapi aku menyadari bahwa hal itu tidak akan terjadi.

"Eva, kau tak apa-apa?" tanya Amuro dengan penuh perhatian.

Aku mengamati wajah orang itu dengan agak sedih. Aku menghela nafas dan tersenyum seceria mungkin. "Aku bosan di rumah sakit, aku sudah tak sabar ingin pulang."

Amuro mengamatiku dengan serius, pastinya menyadari lagi-lagi aku mengalihkan pembicaraan. Dia mengulum senyum kepadaku.

777

Sesaat sebelum aku keluar dari rumah sakit, aku mengajak Mama untuk menjenguk Conan sekali lagi. Dia kelihatan sudah sehat. Orangtuanya masih disisinya. Ran dan Kogoro juga ada.

Mama lalu berkenalan lagi dengan semuanya dan mereka bertukar pembicaraan untuk beberapa saat.

Aku dan Conan saling berpandangan untuk beberapa lama.

Aku tersenyum kepadanya. "Aku lega kau baik-baik saja, Conan. Semua mengkhawatirkanmu."

"Terima kasih. Bagaimana kau sendiri? Kudengar kau juga dirawat disini akibat kejadian yang waktu itu."

Aku mengangkat bahu dengan asal. "Aku baik-baik saja sekarang. Aku dan Mama akan pulang sekarang."

Conan terdiam mengamatiku lagi, entah apa yang dipikirkannya tentangku.

Mama memanggilku untuk pulang. Aku mengucapkan sampai jumpa kepada anak itu sebelum berbalik untuk pergi.

Jalanku terhenti mendadak saat aku mendengar Conan tiba-tiba bertanya, "Apakah shinigami itu sudah datang kepadamu?"

Aku membeku. Aku menoleh perlahan ke arahnya. "K-kau ini bicara apa?"

Conan memandangiku dengan serius. "Wanita dalam lift itu...dia menunjukmu dan mengatakan soal itu, bukan?"

Aku kebingungan mau jawab apa. Aku tidak mengira pertanyaan semacam itu bisa keluar dari anak yang berlogika tinggi itu.

Dia mengambil dan memakai kacamatanya lalu tertawa polos yang terkesan palsu saat itu bagiku. "Maaf, aku sepertinya masih mengigau..."

Aku mengeryitkan dahi memandangi Conan dengan tidak senang. Aku merasa dipermainkan, seakan dia sengaja mengatakan itu untuk mengetes reaksiku dan tentu saja aku gagal menjaga reaksiku. Aku yakin aku terlihat seperti sembelit tadi. Tanpa pikir panjang, aku melangkah mendekatinya dengan wajah datar dan berbisik kepadanya dengan nada agak sinis, "Conan, apakah kau tahu? Shinigami suka sekali dengan apel."

Gantian Conan yang kebingungan. Aku tidak mengatakan apa-apa dan langsung beranjak pergi dari sana sebelum dia bisa menanyakan lebih lanjut. Perkataanku yang tidak jelas itu...bisa saja dia anggap sebagai konfirmasi kecurigaan dia kepadaku bahwa ada yang tidak beres dengan diriku atau kondisi mentalku. Atau mungkin juga dia beranggapan bahwa aku sedang mengejeknya.

Aku mengucapkan kalimat mengejek secara tidak jelas dalam manga Death Note saat Light menantang L yang masih belum tahu apa-apa soal dewa kematian.

Padahal sebenarnya aku mana tahu apakah dewa kematian suka apel atau tidak. Aku memang tidak jelas dan hal ini malah akan membuat Conan tambah curiga, bukan?

Aku hanya agak lelah saat ini. Aku merasa sudah kalah. Tapi, apa aku bisa dibilang kalah, jika aku tak pernah berusaha untuk menang? Aku tertawa renyah, menertawakan diriku yang dari dahulu tidak pernah melawan arus untuk berusaha meraih kemenangan. Aku ini benar-benar menyedihkan.

Aku mendesah, berusaha mengusir pikiran buruk. Bagaimanapun...perkataan terakhir dewa kematian itu sungguh menggangguku.

Terbersit keinginan untuk mengontak Caleb tetapi aku menahan diri. Bagaimana jika shinigami itu mengawasiku? Jangan sampai Caleb jadi kena getahnya juga gegara diriku. Aku ingin setidaknya bisa bersikap terhormat dan tidak mengkhianati yang lain di akhir hidupku.

777

Aku benar-benar merana sesuai keinginan dewa kematian sialan itu. Aku kepikiran terus perkataan dia dan mengkhawatirkan kapan dia akan datang untuk mencabut nyawaku.

Aku dan Conan sudah masuk sekolah lagi seperti biasa. Untunglah dia tidak mencariku menanyakan soal perkataan terakhirku kepadanya. Tetapi, dia memang mencurigaiku dan sepertinya dia membicarakanku dengan Ai. Aku pernah menyadari bahwa mereka mengamatiku saat jam istirahat disekolah.

Saat ini aku sedang bersama Mama di rumah sehabis pulang sekolah.

Aku mendesah, memandangi buah apel merah yang kebetulan berada ditanganku saat itu. Aku merasa agak konyol juga karena mempermainkan Conan.

Mama menarik buah apel itu dari tanganku, mencucinya dan mulai mengupas kulitnya dengan pisau. Mama sungguh keren karena dia berhasil mengupas kulit apel itu tanpa putus.

Dengan senyum sayang, Mama memasukkan potongan apel kecil ke mulutku. Aku menguyah apel tersebut sembari menampilkan senyum sepolos mungkin.

Sebersit rasa sedih melumuri hatiku saat aku memikirkan Papa dan Mama yang sebentar lagi akan 'kehilangan' anak mereka lagi. Aku tak ingin mereka bersedih tetapi hal ini memang tak terelakkan, bukan? Apalagi memang anak mereka yang sebenarnya sudah tidak ada di dunia ini.

Aku merasa sedikit berat hati untuk meninggalkan mereka. Dan apa begini saja nasibku? Aku belum melakukan suatu pun yang bermakna dalam hidup keduaku ini.

Aku merasa ingin menginjak-injak diriku sendiri saat bayangan Shuichi Akai dan Rei Furuya melintas dalam benak pikiranku. Get a grip, Eva, nyawamu dalam bahaya, dan kau malah memikirkan tokoh pria fiktif itu?!

Tapi, aku sudah cukup lama berinteraksi dengan tokoh-tokoh manga DC sampai rasanya aku tak bisa menganggap mereka sekedar tokoh fiktif semata. Bagiku mereka sudah menjadi bagian dalam hidupku walau...iya, kebenarannya hidup ini juga...sebenarnya bukan milikku. Aku memang telah mencurangi nasib, bukan? Tapi...hanya bisa sampai disinikah?

Aku mendesah.

"Ada apa, Eva? Memikirkan Kak Amuro-mu?" goda Mama sambil tersenyum sedikit mengejek.

Aku melototi Mama dengan agak sebal, malah membuat Mama kelihatan tambah ingin menggangguku. Dia pun mulai sengaja menyebut-nyebut soal Amuro dan bahwa sepertinya aku memiliki saingan pada Azusa.

Aku langsung menge-rem pemikiran yang mengarah kepada keduanya. Aku tak mau berpikir buruk soal mereka jikalau mereka benar saling berhubungan. Walau sebagian dari diriku mendukung mereka, tetapi aku agak tidak rela juga. Ya, mengingat aku sudah tak memiliki banyak waktu lagi, mungkin saja aku harus mendukung mereka? Akan tetapi aku tidak yakin Amuro akan menyatakan perasaannya pada gadis itu selama dia masih bekerja pada organisasi hitam.

Ugh, sudah, sudah! Jangan memikirkan mereka! Eva, kau ini bodoh! Aku memaki diriku dalam hati dengan gemas. Aku otomatis berusaha meraih liontin kalung-ku sebelum aku menyadari bahwa aku sudah tidak lagi memilikinya. Shinigami itu telah menghancurkan jimat dari Reina. Sekarang aku hanya memakai kalung pemberian Amuro yang berupa bandul berbentuk lumba-lumba. Aku menghela nafas karena lagi-lagi jadi teringat akan Amuro dan aku jadi memikirkan hubungan dia dengan Azusa yang cantik, periang dan kira-kira sepantaran dengannya.

Omong-omong tanpa jimat itu, sepertinya mempermudah bagi para dewa kematian untuk menemukanku. Apakah nantinya aku akan bertemu dewa kematian selain si payung merah? Ataukah...aku sudah menjadi tanggung jawab orang itu? Sepertinya orang itu penasaran sekali akan Reina. Sebersit pikiran jahat untuk mengorbankan Reina terlintas dalam pikiranku sebelum kuusir jauh-jauh pikiran buruk tersebut karena lagipula aku tak tahu dimana gadis itu berada. Dan lagi rasanya tidak adil bagi Reina yang saat ini juga sedang diburu oleh shinigami asli dari dunia kami.

Jika memang kematianku sudah tidak bisa dihindarkan, aku ingin bisa menerimanya dengan lapang dada. Mungkin karena memang ada bagian dalam diriku yang agak suicidal, aku merasa diriku tidak setakut yang seharusnya terkadang. Sebenarnya asalkan aku tidak disiksa di neraka, aku merasa aku lebih bisa menerimanya. Bukankah itu mengerikan? Aku teringat peringatan Reina soal kemungkinan jiwaku dihapus dari muka dunia ini jika tertangkap oleh shinigami asli dunia ini dan...entah kenapa aku lebih memilih dihapus seutuhnya dibanding disiksa di neraka secara fisik dan mental.

Aku tertawa dengan hampa. Lihatlah, aku benar-benar memiliki self-worth yang bobrok, bukan? Orang-orang seperti Conan Edogawa, Shuichi Akai dan Rei Furuya, kebanyakan semua tokoh dalam manga DC ini mereka benar-benar 'bertarung'' demi masa depan yang lebih baik tetapi bagaimana dengan diriku?

Apakah aku hanya akan menjalani saja apa adanya tanpa perlawanan? Apakah aku hanya akan menyerah saja? Apakah aku benar-benar merasa diriku tak pantas untuk hidup, untuk diselamatkan, untuk menjalani kehidupan kedua yang lebih baik?

Aku sungguh berharap bahwa aku bisa menjawab semua itu dengan lantang dan berbalut kepositifan, dengan penuh percaya diri. Tapi, aku hanyalah aku, aku bukan seorang yang kuat ataupun spesial, betapa pun aku berharap, aku bukan termasuk jenis material orang yang superior.

Aku sungguh bukan.