Aku dengan cemberut memandangi Amuro dan Azusa yang sedang tertawa bersama. Aku saat itu sedang di Poirot untuk makan siang. Sempat terbersit keinginan untuk menghalangi rasa kebersamaan keduanya. Tetapi aku tak tahu bagaimana melakukannya dan apakah aku benar ingin melakukannya dengan konsekuensi menunjukkan kejelekanku pada Amuro?

Yang agak menyebalkan ada seorang wanita tua yang sepertinya juga langganan kafe ini dan nenek itu sangat mendukung hubungan keduanya. Pernah nenek itu tiba-tiba menyapaku dan memuji betapa serasinya Amuro dengan Azusa. Aku hanya bisa tersenyum terpaksa meladeni opini nenek itu.

Aku tahu aku pernah mengatakan bahwa aku juga mendukung kemungkinan hubungan mereka tetapi melihat keduanya dengan mata kepala sendiri, aku sungguh merasa tidak senang. Seperti yang kukatakan sebelumnya, pasti karena ada bagian dalam diriku yang masih menaruh harapan bahwa saat tubuh ini dewasa nanti, aku jadi ada kesempatan untuk menjalin hubungan yang lebih bermakna dengannya.

Sadar diri donk, Eva. Kau tak punya harapan secuil apapun untuk bisa mendapatkan pria idaman mana pun, apalagi kedua orang itu. Seperti biasa diriku menjatuhkan setiap harapan atau pikiran positif dalam diriku sendiri.

Aku mendesah galau. Rasanya tidak percaya aku masih terganggu oleh emosi yang tidak jelas padahal nyawaku mungkin sudah tidak berapa lama lagi. Aku ingin bisa berlapang dada untuk beberapa hari kedepan sampai saatnya tiba...

Ya, aku harap dewa kematian itu tidak akan sengaja memperpanjang masa penantian untuk mencabut nyawaku hanya agar aku merana. Bukannya aku ingin mati atau dapat menerima kematian... Aku hanya tidak mau tersiksa secara fisik ataupun emosional lagi.

Ran dan Sonoko memasuki kafe Poirot dan ketika melihatku, mereka menyapaku dan langsung duduk di meja yang sama denganku tanpa permisi.

Sonoko merangkulku dan memperlihatkan selembar brosur soal pertunjukan drama di SMA mereka.

Mataku membelalak lebar saat Sonoko menjelaskan bahwa dramanya dibuat berdasarkan cerita weeping angels yang waktu itu aku iseng ceritakan kepada mereka. Hanya saja Sonoko mengubah akhirnya supaya happy ending bagi kedua sejoli dalam cerita.

Jujur saja aku jadi tertarik untuk mengetahui bagaimana cara dia menceritakan kisahnya. Sonoko ada mengubah setting jamannya supaya pemain utama pria dan wanitanya bisa memakai pakaian tradisional jaman kuno yang dia sukai.

Melihat ketertarikanku, Ran menanyakan apa aku ingin melihat mereka latihan besok sepulang sekolah. Aku pun dengan gembira menyetujuinya. Aku menyadari Ran tengah memandangiku dengan lembut berbalut rasa kasihan. Ah, jadi begitu... Dia merasakan sejumput rasa khawatir untukku.

Aku tersenyum kepada gadis itu, tidak merasa terganggu dikasihani olehnya, aku rasa hal itu tidak buruk dan memang Ran seorang yang baik seperti itu, bukan?

Aku berusaha menghalangi pemikiran (bahwa aku menyukai saat ada yang mengasihaniku, bahwa merasa diperhatikan seperti itu membuatku senang) ke permukaan. Seharusnya hal itu tidak apa-apa, jika bukan karena kebanyakan semua tokoh dalam manga dan film selalu digambarkan sebagai seorang yang tegar dan tidak mau dikasihani. Seakan dikasihani itu hal yang merendahkan. Jadinya, jika menerima rasa kasihan dari seseorang, itu berarti kita payah atau lemah.

Aku berharap bisa setegar itu menjalani hidup tetapi aku sama sekali tidak yakin aku memiliki ketegaran yang teladan.

777

Aku mendesah tanpa sadar. Aku sedang les dengan Subaru saat itu. Aku sungguh tidak bisa konsentrasi untuk mengerjakan PR.

Mengingat waktuku sudah tidak lama lagi, kenapa aku masih saja harus mengerjakan PR? Tentu saja aku menyadari bahwa ini adalah alasan agar aku bisa menghabiskan beberapa jam dengan Subaru.

Tapi, aku merasa hambar. Aku mendengus kecil, menertawakan diriku sendiri yang diam-diam mengharapkan menempati posisi spesial bagi kedua orang favorit-ku. Ampun...orang yang bisa paling kejam pada diriku sendiri adalah ternyata diriku sendiri juga.

Suara dalam hati dan pikiranku sungguh jahat dan menjatuhkan. Walau mengetahui semua itu, aku masih saja tidak bisa melepaskan diri dari 'pengaruh jahat' dalam diriku. Dan yang lebih buruk juga ditengah pikiran yang menjatuhkan, ada sejumput harapan bahwa semua akan baik-baik saja dengan sendirinya, seakan benang yang kusut bisa lurus kembali tanpa disentuh. Benar-benar bodoh, bukan?

Mendadak aku teringat akan pikiran yang pernah melintas dalam kepalaku saat aku masih di dunia nyata. Aku menyadari bahwa aku seorang yang penakut dan tak berani berinisiatif sendiri, selalu keburu diliputi rasa takut akan kegagalan dan khawatir akan penolakan serta dipermalukan. Saat itu, aku pernah berharap jika saja waktuku terbatas dan bahwa nyawaku seakan akan 'melayang' esokan harinya, aku berharap hal itu akan memotivasiku untuk melakukan hal apapun yang kuinginkan tanpa rasa takut, khawatir dan malu pada hari 'terakhir'-ku.

Aku tak bisa menghipnotis diriku untuk mempercayai dan menjalani hidup setiap hari seakan hari itu adalah hari terakhir hidupku. Aku sungguh berharap aku bisa. Aku mendesah. Itu pikiran yang sungguh konyol juga, bukan?

Lihat saja sekarang dalam situasi antara hidup dan mati, aku hanya menjalaninya seperti ini. Sebenarnya apa yang kuinginkan dalam hidup? Apakah aku ini memang ingin mati saja? Apa yang salah dengan diriku? Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku tak bisa memberi perlawanan dan berusaha hidup demi diriku sendiri?

Wajahku memanas seperti ingin menangis. Aku berusaha menahan diri untuk tidak meneteskan airmata yang mendadak membasahi pelupuk mataku tanpa izin. Aku buru-buru meminta izin kepada Subaru untuk ke toilet dulu.

Aku menghambur ke dalam toilet berusaha mengatur nafasku. Aku memandangi bayangan diriku pada cermin. Aku kelihatan sungguh jelek dan merah. Buru-buru aku membuka keran wastafel dan membasuh wajahku berkali-kali dengan air.

Aku menatap bayanganku pada cermin dan terkesiap melihat sosok Reina berdiri dibelakangku dalam cermin. Aku segera membalikkan badan untuk menyambutnya dan terbelalak saat aku tak bisa menemukan sosok gadis itu. Aku menoleh lagi ke arah cermin dan hanya melihat bayanganku seorang diri.

Jantungku berdebur keras. Aku berusaha mengatur nafasku yang terasa agak sesak. Aku lalu membasuh kembali wajahku beberapa kali.

Dengan gemetaran, aku menoleh ke arah cermin tetapi hanya pantulan diriku sendiri saja yang ada pada cermin. Aku mendesah panjang.

Get a grip, Eva. Jangan kehilangan kewarasanmu sekarang. Aku mewanti-wanti diriku sendiri dengan gemas.

Menatap bayanganku pada cermin, aku berusaha memastikan bahwa penampilanku sudah baik-baik saja.

Aku mengangguk puas lalu segera keluar dari toilet. Lagi-lagi aku dikejutkan saat hendak kembali ke perpustakaan dimana Subaru berada, aku bertemu dengan Yusaku Kudo dalam wajah aslinya, tidak dalam penyamaran apapun.

Aku pun menjadi salah tingkah dihadapan penulis novel terkenal itu. Aku dengan gugup memberi salam kepadanya.

Yusaku tersenyum ramah kepadaku. "Oh, bukankah kau anak manis murid Subaru?" Dia pura-pura tidak tahu siapa diriku. Ya, memang kami belum berkenalan secara resmi.

Aku pun menampilkan senyum termanisku, mumpung dibilang anak manis. "Selamat siang, Pak Kudo. Terima kasih karena mengizinkanku meminjam buku-buku di perpustakaanmu." tuturku.

Yusaku sepertinya terhibur oleh keberadaanku. "Aku sudah membaca ide ceritamu dari Subaru. Ide yang sungguh menarik. Apakah benar boleh saya pakai ide cerita itu dalam novel saya selanjutnya?" tanyanya dengan senyum yang benar-benar tebar pesona.

Aku membelalakan mata dan langsung manggut-manggut dengan antusias. "Tentu saja boleh, silahkan dipakai dan diubah sebagus mungkin." seruku dengan riang. "Aku tak sabar hasil ceritanya akan jadi seperti apa nanti, pasti bagus sekali, karena Pak Kudo yang buat!"

Yusaku tersenyum dan mengelus-elus kepalaku. "Terima kasih atas kepercayaan Eva untukku."

"Aku juga sudah tak sabar ingin membaca novel Scarlet Agent-nya Pak Kudo, pasti ceritanya keren!" seruku.

Yusaku tersenyum-senyum mendengar perkataanku.

"Eva, kau akan membuat suamiku satu ini akan tambah besar kepala jika kau puji terus..." sahut Yukiko mendadak muncul.

Aku membelalakan mata lagi saat melihat Yukiko Kudo. "Wah, keren, hari ini aku bertemu orang terkenal terus!" seruku dengan nada sekekanak-kanakan mungkin. Iya, wajar saja mereka ada disini sekarang, pasti mereka masih mengkhawatirkan Conan.

Yukiko tersenyum dan menghambur untuk memelukku erat-erat. "Eva, kau sungguh imut!" serunya gembira.

Subaru bergabung dengan kami dilorong memandangi kami semua dengan senyum tipis sebelum dengan tegas memintaku untuk kembali belajar dengannya.

Aku pun mengucapkan selamat tinggal kepada keduanya. Sebelum pergi, Yusaku mengatakan agar aku bertukar pesan dengan dia dengan nomor telepon yang diberikan waktu itu. Katanya dia ingin tahu apakah aku ada ide cerita lainnya yang menarik. Hal ini membuatku sangat senang. Aku banyak contekan cerita keren dari dunia nyata!

Subaru tersenyum melihatku begitu senang. "Sebenarnya ide cerita apa yang kauberikan pada Pak Kudo?" tanyanya.

"Rahasia. Jika aku memberitahumu, itu akan jadi spoiler. Pak Kudo bilang dia mungkin akan membuat cerita berdasarkan ide cerita kami bersama. Jika benar nanti akan dijadikan novel, Kak Subaru pasti akan membacanya, bukan?"

Setelah beberapa saat kerianganku mulai mereda saat realita situasiku mulai menjitakku lagi, waktu-ku sudah tidak berapa lama lagi. Aku mungkin tak akan pernah bisa membaca karya baru Yusaku Kudo baik yang seri Scarlet Agent maupun yang fiksi berdasarkan Mentalist yang dia janjikan padaku. Lagipula, mungkin saja dia hanya berbasa-basi padaku yang anak kecil dan tidak benar-benar tertarik untuk menuliskannya.

Jika memang waktuku sudah tak lama lagi, bukankah lebih baik aku mengisi hariku dengan melakukan apapun yang aku mau dibandingkan hidup dalam ketakutan? Jadi, apakah yang aku ingin lakukan? Stay positive, Eva, stay positive, keep it up! Aku berusaha mempertahankan pikiran positif dalam diriku.

Aku baru menyadari bahwa Subaru sedang mengamatiku. Aku menggeleng-gelengkan kepala berusaha agar pikiranku tidak kemana-mana dan fokus pada, ugh, PR.

Aku jadi teringat akan Camel, aku tidak sempat mengucapkan terima kasih pada agen FBI satu itu yang telah 'menyelamatkan'-ku dari dewa kematian. Aku ingin bertanya kepada Subaru apakah dia yang mengirim Camel tetapi tentu aku tak bisa melakukannya karena dimata orang ini, aku seharusnya tidak tahu bahwa Camel adalah agen FBI. Aku boleh saja tahu nama Camel tetapi aku tak boleh kelepasan memberitahunya bahwa aku tahu orang itu FBI. Mana bisa aku menjelaskannya bahwa aku tahu karena aku membaca manga DC, bukan? Pokoknya aku tak ingin menyiarkan bahwa dunia ini adalah dunia palsu berdasarkan manga.

"Eva, bagaimana? Apakah kau sudah membicarakan soal pertemuan dengan orang bernama Caleb itu?" tanya Subaru.

Aku baru sadar bahwa dia tengah mengajakku bicara. Aku mengerjap-ngerjapkan mata, merasa sedikit bersalah. Subaru memang memintaku agar mempertemukannya dengan Caleb. Aku memang belum membicarakannya dengan Caleb berhubung adanya kejadian dengan Kenji dan kini orang itu memintaku untuk tidak mengontaknya dulu untuk sementara waktu.

Aku berusaha mengusir pemikiran bahwa Caleb hendak cuci tangan terhadapku. Pasti dia memperkirakan aku sudah tak akan bisa selamat dari cengkraman dewa kematian...dan sepertinya dia benar. Aku memandang Subaru dengan agak prihatin. Aku tak enak karena Subaru sungguh berniat menolongku, lalu bagaimana harus kukatakan bahwa Caleb mungkin menyerah terhadap keselamatanku dan memang bahwa nyawaku saat ini memang agak seperti sudah di hujung tanduk?

"Sementara ini dia memintaku untuk tidak menghubunginya...sepertinya ada masalah dari pihak dia..." ujarku akhirnya. Aku berbohong kepada Subaru.

Subaru menatapku lekat-lekat, membuatku merasa sepertinya dia mengetahui kebohonganku.

"Tapi, aku rasa sekarang ini aku dalam posisi aman. Caleb bilang para pemburu itu tidak mau menarik perhatian polisi lebih jauh, mengingat aku seringkali terlibat kasus dengan polisi, jadi sementara ini aku rasa mereka akan melepasku."

Subaru memegangi dagunya dengan pose berpikir yang khas semua cool guys dalam manga DC ini.

Aku hanya bisa menelan ludah, berharap dia tidak terlalu terusik untuk ingin tahu lebih banyak. Tanpa sadar, aku tersenyum tipis kepadanya, sebersit rasa sayang kepada orang ini yang mengkhawatirkanku dan bersedia menolongku terbit dalam batinku. Dia benar-benar orang favorit-ku, bersama dengan Amuro, tentu saja. Subaru memintaku untuk menginfokan lebih lanjut situasiku kedepannya dan aku menyetujuinya.

777

Sepulang sekolah hari itu, sesuai janji, aku menemui Ran dan Sonoko untuk melihat latihan drama mereka. Jujur saja, aku sangat girang sekali ingin melihat weeping angels-nya versi Sonoko. Iya, Sonoko yang menjadi sutradara yang mengarahkan jalan cerita drama itu. Mereka sudah melakukan audisi untuk pemeran tokoh utama tetapi akhirnya menetapkan Ran sebagai tokoh utama wanita dan Sera sebagai tokoh utama pria. Sonoko mengatakan kepadaku Shinichi masih tidak masuk sekolah jika tidak orang itu pasti akan dia paksa menjadi pasangan Ran.

Aku tertawa kecil mendengarnya. Jadi teringat drama ksatria hitam dan tuan putri yang sempat diperankan kedua pasangan utama dalam manga DC ini. Sonoko sepertinya lumayan serius untuk mengarahkan drama ini dan dia meminta masukan dariku. Aku hanya bisa tersenyum-senyum saja dengan mata berbinar-binar saat mengawasi acara latihannya.

Aku menggambarkan tentang weeping angels kepada Sonoko sesuai dengan karakter aslinya dan aku senang bahwa gadis itu menghargai pendapatku, atau setidaknya dia meladeniku. Sera yang memang tomboy mampu memerankan perannya dengan baik. Ran agak malu-malu saat mengucapkan dialognya. Sonoko benar-benar menambahkan adegan-adegan romantis dalam drama tersebut. Aku juga jika jadi Ran juga akan malu untuk mengucapkan dialognya tetapi karena aku tidak memerankan apapun dan hanya menjadi penonton semata, aku sangat menikmatinya.

Melihat Sonoko yang dengan kiatnya mengarahkan para pemain drama sampai sedemikian rupa membuatku berpikir apa nantinya gadis ini bisa menjadi sutradara film. Dia sangat berani dan sangat ekspresif sekali. Aku sungguh berharap aku bisa menjadi seorang yang seperti dia, memiliki setidaknya setengah dari kepercayaan diri seorang Sonoko.

Saat sedang asyik menikmati latihan drama itu yang dipenuhi canda tawa dan omelan-omelan ringan dari para pemain dan sutradaranya, aku melihat Lizzie berdiri didepan pintu, sepertinya tengah mengamati...aku?

Aku pun pergi meninggalkan ruangan untuk berbicara secara pribadi dengan gadis itu. Aku tidak mengira gadis itu masih berada di sekolah ini. Tadinya aku kira dia juga akan bersembunyi menjauh dari segala yang berhubungan denganku. Kami mencari tempat sepi untuk berbicara.

Lizzie menatapku dengan datar sembari melipat kedua tangannya didepan dadanya. "Aku mengakui aku terkejut bahwa kau masih hidup..."

Aku merasa agak dongkol mendengar perkataan gadis itu yang mengonfirmasikan bahwa gadis itu dan mungkin juga Caleb memang telah menganggapku sebagai suatu perkara yang sudah pasti kalah dan tak patut diperjuangkan. "Wah, maaf telah membuatmu kecewa kalau begitu..." tukasku dengan nada sarkastis.

"Jadi, dewa kematian itu...tidak menemukanmu, kau sungguh beruntung, bukan?"

"Oh, dia menemukanku."

Lizzie terlihat terkejut. "Lalu, kenapa kau masih bisa berada disini?"

"Bisakah kau memperlihatkan sedikit rasa khawatir atau setidaknya kelegaan bahwa aku masih selamat saat ini?"

"Congratulation, kamu masih selamat." ujar gadis itu dengan nada sedatar mungkin. Lalu, dia tersenyum sinis. "Puas?"

Aku melototi gadis itu dengan agak sebal. "Seperti yang kau lihat, aku masih hidup untuk saat ini...sepertinya dewa kematian itu agak malas untuk mengurusiku secara langsung jadi dia berniat untuk membuatku merana dulu menantikan kematianku." jelasku akhirnya.

Lizzie terbelalak mendengarnya. Dia mulai kelihatan agak gugup. "Apakah kau sering melihat dewa kematian itu setelah dia menemukanmu? Apa dia ada disekitar sini saat ini?"

Aku memandangi gadis itu dengan agak bingung sebelum aku menyadari bahwa gadis itu mengira aku hendak mengorbankan dia kepada dewa kematian mengikuti istilah Misery loves company. "Wah, kau sungguh menganggapku rendah, bukan? Aku tidak sejahat itu untuk mengorbankan kalian hanya karena aku tersudut. Jadi, kau aman, kau tak perlu khawatir." tukasku dengan ketus.

Lizzie mengamatiku lekat-lekat. "Kenapa kau tidak melakukannya?"

Aku berpikir sejenak. "Jujur saja pikiran semacam itu sempat terbersit dikepalaku. Tetapi, baik kau dan Caleb pernah menyelamatkanku, jadi aku mana mungkin mengkhianati kalian seperti itu? Walau sepertinya kalian sudah cuci tangan terhadapku...", sindirku. "Lagipula, dewa kematian itu lebih tertarik akan keberadaan Reina, dia sama sekali tidak mencurigai adanya kehadiran kalian disekitarku."

Lizzie terlihat lega mendengarnya. "Apakah kau...ada kontak dengan Reina?"

Aku terdiam. Memang sudah lama aku tidak ada kontak dengan Reina. Apakah gadis itu ditangkap oleh shinigami asli dari dunia nyata? Aku jadi teringat kejadian di rumah Kudo saat aku melihat sekilas bayangan Reina, apakah itu termasuk kontak? Ataukah itu hanya ilusi semata dari pikiranku yang mulai berantakan? Aku menjadi gelisah. "Dia tidak ada mengontakku...mungkin lebih baik demikian...karena..." Karena aku takut bahwa aku serendah itu dan akan mengorbankan Reina kepada dewa kematian lainnya jika saja aku bisa menyelamatkan diriku, batinku. Aku tidak mengatakan semua itu tetapi Lizzie sepertinya mengerti.

Lizzie mendesah sebelum dia tersenyum kepadaku. "Aku berterima kasih karena kau tidak mengorbankanku dan Caleb."

Aku terbelalak melihat senyuman tulus gadis itu yang biasanya selalu menyerangku dengan kata-kata sarkastis dan senyuman sinis.

"Oh, iya, apakah kau baik-baik saja?" tanya gadis itu mendadak.

Aku terheran-heran karena sepertinya sekarang dia jadi mengkhawatirkanku. "Iya? Maksudku, aku rasa untuk saat ini aku baik-baik saja?"

Raut wajah Lizzie saat menatapku terlihat agak prihatin...prihatin kepadaku? Aku ingin menanyakan alasannya menanyakan soal itu tetapi kami diganggu oleh suara-suara murid-murid lainnya. Tahu-tahu Lizzie sudah menghilang. Aku celingukan melihat sekelilingku tetapi aku tak menemukan gadis itu. Apakah gadis itu punya kekuatan ajaib teleportasi? Cepat amat hilangnya...

Akhirnya aku kembali ke ruang latihan untuk kembali menikmati drama arahan Sonoko.

777

Aku agak khawatir dengan Yuka yang belakangan ini jadi pendiam saja. Mungkin sebenarnya wajar karena dia sedang dalam periode berduka untuk Kenji, bukan? Tapi, aku merasa dia agak dingin kepadaku dan aku tak tahu bagaimana agar memperbaiki situasi diantara kami berdua. Bahkan Miyuki saja mengira kami ada bertengkar dan sedang mengacuhkan satu sama lain.

Aku memijit dahi-ku, merasa kepalaku berdenyut-denyut lagi. Ah, sudahlah, aku tak mau memusingkan soal anak itu dulu. Masalahku saja belum beres. Tetapi...jika benar sebentar lagi nyawaku akan putus, bukankah aku harus memberes-bereskan semua masalah isu dalam kehidupanku ini? Karena jika tidak melakukannya sekarang, nanti sudah terlambat, bukan? Aku mengamati Yuka yang terlihat tenggelam dalam lamunannya. Aku mendesah, aku memutuskan ke toilet dulu untuk mencuci muka dan memikirkan apa yang harus kukatakan pada Yuka nantinya.

Setelah mencuci muka, aku memandangi bayanganku pada cermin. Aku jadi ragu-ragu hendak bicara dengan Yuka, mungkin saja saat ini memang anak itu yang sedang ingin menyendiri, tidak ingin diganggu. Aku mengerti jika demikian karena aku dulupun di dunia nyata lebih suka menyendiri daripada bergaul. Tetapi aku merasa khawatir akan Yuka apakah dia baik-baik saja dalam menerima kematian Kenji? Apakah keduanya sudah sangat dekat sekali hubungannya, cukup untuk membuat anak itu terpuruk? Aku harap tidak. Tapi bagaimanapun Yuka itu masih kecil dan dalam satu tahun ini dia sudah harus menerima kehilangan dua orang temannya. Aku tak bisa tidak khawatir.

Tiba-tiba aku merasa pandanganku berkunang-kunang dan menggelap sampai aku kehilangan keseimbangan dan aku merasa diriku jatuh ke lantai. Aku merasa gendang telingaku berdenging keras dan kepalaku sakit. Untuk beberapa saat, aku memejamkan mataku dan aku tidak menyadari ada yang memanggil-manggil namaku dengan khawatir. Aku membuka mataku tetapi sekelilingku gelap, aku tak bisa melihat apa-apa.

"Siapa?" Aku tidak mengenali suara yang memanggilku.

Hening sejenak.

"Kak Eva, kau...tidak bisa melihatku?" tanya suara itu yang sepertinya suara anak kecil. Aku akhirnya mengenali suara itu sebagai suara milik Ai Haibara.

Aku terhenyak mendengar pertanyaan anak itu. Aku meraba wajahku dan benar saja, mataku dalam keadaan terbuka tetapi aku tak bisa melihat apa-apa. Rasa takut langsung menghujamku. Buta? Aku? Buta mendadak? Ini tidak mungkin! Kepalaku kembali merasa sakit diikuti dengingan keras dalam telingaku.

Ai sepertinya menyentuh wajahku seakan dia hendak memeriksa mataku. Lalu, dia mengatakan sesuatu padaku tetapi aku tak bisa mendengarnya ditengah dengingan keras dalam telingaku. Sepertinya dia keluar berteriak kepada seseorang untuk memanggil dokter di UKS.

Aku menutup mata menyerah dengan kegelapan yang menyelubungiku dan aku pun kehilangan kesadaranku.

"Kau sedang apa? Cepat masuk kembali ke dalam tubuhmu! Sekarang, Eva, sebelum telat!"

Aku mendengar seseorang berteriak kepadaku. Aku membuka mataku dan terhenyak karena aku melihat Lizzie. Aku terhenyak lagi saat menyadari aku bisa melihat. Betapa leganya diriku karena aku bisa melihat sekelilingku.

"Eva, sadar! Cepat masuk kembali ke tubuhmu!"

Sepertinya aku masih tidak nyambung. Masuk ke tubuhku? Aku baru menyadari keramaian didekatku dan menyadari keberadaan guru dan murid mengerubungi seseorang...diriku? Aku membelalakkan mata dengan tidak percaya. Aku mengamati diriku saat ini yang berwujud transparan bagai hantu. Lho? Kenapa Lizzie ada disini? Dan...dia bisa melihatku?

Lizzie terlihat kehabisan sabar denganku. "Kamu benar-benar ingin mati saja? Jangan bengong seperti orang bego! Cepatlah!" Gadis itu dengan kasar mendorongku menuju kerumunan dimana tubuhku berada.

Aku dengan gemetaran melangkah mendekati keramaian saat salah satu guru tengah membopong tubuhku ke atas ranjang dorong. Tubuhku berbaring tak berdaya. Wajahku pada raga itu terlihat pucat pasi. Aku melihat Ai dan Conan ada disana, mereka kelihatan khawatir kepadaku. Aku juga melihat Miyuki yang kelihatan hampir ingin menangis. Aku juga melihat Yuka yang berdiri agak jauh dari kerumunan, dia memandangi tubuhku dengan tatapan kosong.

Aku mendadak membuka mataku lebar-lebar mengejutkan semua orang disekelilingku. Aku menoleh memandangi mereka, aku mengerjap-ngerjapkan mataku berusaha memastikan bahwa aku benar-benar bangun dan yang penting aku bisa melihat. Oh, terima kasih, Tuhan, aku tidak buta.

Detik selanjutnya, semua kembali heboh saat semua orang berbicara bersamaan menanyakan keadaanku. Dokter ditempat membubarkan kerumunan supaya dia bisa konsentrasi pada pasiennya. Conan, Ai, Miyuki dan guru wali kelasku tetap ditempat sementara yang lain dibubarkan.

Akhirnya aku berbohong bahwa aku pingsan karena belum sarapan tadi pagi dan aku belum sempat memakan makan siangku. Dokter yang sudah memeriksaku menyatakan memang tidak ada masalah padaku. Miyuki menghambur memelukku sembari memintaku untuk lebih menjaga kesehatan. Aku jadi tidak enak hati. Aku memohon kepada wali kelasku agar tidak menghubungi orangtuaku karena aku tak ingin mereka khawatir. Untunglah akhirnya wali kelas aku itu mengalah dan memenuhi keinginanku. Apalagi Dokter juga sudah bilang aku baik-baik saja.

Ai mendatangiku dan menatapku lekat-lekat, membuatku was-was. "Kak Eva, apakah kau benar sudah baik-baik saja sekarang?" tanyanya penuh perhatian.

"Eh? Iya, aku baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu kaget, A...Haibara." jawabku dengan kagok. Hampir saja aku memanggilnya dengan nama depannya tanpa izin darinya.

Ai memandangiku lagi, membuatku tegang. Dia mendesah seperti pasrah. "Sebaiknya Kak Eva memeriksakan diri juga ke rumah sakit untuk jaga-jaga." sarannya.

Aku menggaruk-garukkan kepala sambil tertawa renyah. "Iya ya..." Walau rasanya aku tak akan melakukannya. Gila, semenjak aku berada di dunia manga DC ini, sudah berapa kali aku berakhir di rumah sakit? Memang sepertinya keluargaku lumayan berduit karena mampu membiayai biaya rumah sakitku selama ini. Kalau bisa, aku tak mau lagi berakhir di rumah sakit, tak mau jadi beban bagi kedua orangtuaku yang ini. Apalagi sebentar lagi aku memang akan mati...jadi aku tak ingin saat-saat terakhirku didunia ini bagi Papa dan Mama adalah selalu berada dirumah sakit.

Dokter menyuruhku istirahat dulu di UKS sementara yang lain disuruh keluar semua supaya pasien bisa istirahat.

Aku berbaring diranjang memikirkan kejadian aneh yang kualami tadi. Dari buta sampai mengalami rasanya menjadi hantu...itu benar terjadi atau cuma mimpi saja yah? Tadi rasanya aku melihat Lizzie tapi setelah bangun tadi, aku tak melihat gadis itu. Mungkin hanya mimpi yah...

Dokter menyuruhku untuk beristirahat lalu dia keluar ruangan untuk keperluannya sendiri jadi aku ditinggal sendiri didalam ruangan. Sekelebat sosok muncul didepan jendela disamping ranjang tempatku berbaring, membuatku terpekik kaget. Lizzie berdiri diluar jendela menatapku dengan datar. Benar-benar...sempat kukira dia hantu juga karena dia tidak memberitahu kehadirannya. Aku memegangi dadaku, sumpah aku merasa hampir kena serangan jantung.

Aku melototi gadis itu dengan gusar. "Kau ingin membuatku kena serangan jantung yah?!" seruku dengan sengit.

Lizzie memutar bola matanya seakan aku bersikap dramatis. Dia mengetuk jendela tersebut seakan menyuruhku untuk membuka jendela tersebut. Walau sambil menggerutu, aku bangun dari ranjang untuk membuka jendela. Saat itulah aku menyadari bahwa dia benar-benar ada disini...yang berarti kejadian tadi itu, out of body experience, benar terjadi? Aku benar-benar jadi hantu tadi?

"Kau...benar-benar ada disini yah? Jadi tadi itu... Kau...bisa melihat hantu?" tanyaku dengan takut-takut.

Lizzie menatapku seakan aku itu bodoh. "Apa anehnya melihat hantu? Kita bisa melihat data kematian semua orang, ya tidak aneh jika kita bisa melihat hantu juga. Melihat hantu juga sudah pasti bagian dari kekuatan dewa kematian, bukan?"

"Ta...tapi, selama ini aku tak bisa melihat hantu..."

Lizzie mengangkat bahu dengan cuek, seakan melihat hantu itu bukan masalah besar. "Nanti kedepannya juga kau tak bisa menghindari melihat hantu..."

Wajahku memucat dengan pemikiran bahwa nantinya aku juga akan melihat hantu. "Kau benar-benar bisa melihat hantu? Hantu orang mati? Apakah Caleb juga?"

Lizzie memilih untuk tidak menjawab. Dia memandangiku dengan kekhawatiran. "Kau...apakah kau baik-baik saja?"

Aku terkejut dia menanyakan keadaanku. "Sepertinya aku baik-baik saja sekarang...hanya aku agak bingung tadi itu...aku sempat sakit kepala, telingaku berdengung dan aku sempat kehilangan penglihatanku...lalu tahu-tahu aku jadi hantu...?" tuturku dengan kebingungan. Tiba-tiba, aku jadi teringat perkataan shinigami berpayung merah tentang konsekuensi memakai raga orang yang seharusnya sudah mati. "Aku...aku sekarat, yah?" tanyaku dengan takut-takut.

Wajah Lizzie kelihatan suram yang mengonfirmasi ketakutanku.

"Dewa kematian itu bilang ada konsekuensi memakai raga orang mati dan bahwa dalam tingkatanku saat ini, dia tak perlu melakukan apapun..." tuturku. "Apa ini maksudnya?"

Lizzie tidak terlihat terkejut mendengar perkataanku seakan dia sudah tahu akan hal itu.

"Kau...dan Caleb, kalian tahu bahwa aku sekarat?" tanyaku agak gusar. Kenapa hal sepenting itu malah mereka tidak memberitahuku? Sebegitu tidak percayanya-kah mereka padaku sampai mereka merahasiakan bahwa aku sebentar lagi cepat atau lambat akan mati? "Kenapa kalian tidak memberitahuku?"

"Kami berniat akan memberitahumu secepatnya tetapi lalu kejadian dengan anak bernama Kenji itu terjadi dan kami harus bersembunyi untuk menghindari dewa kematian. Jika tidak, kami pasti sudah akan memberitahumu." tukas Lizzie.

"Jadi, aku benar-benar sekarat? Tunggu, kalian juga sama denganku berarti...kalian sekarat juga? Tapi, kalian sudah bertahun-tahun berada di dunia ini dan kalian tidak terlihat seperti orang sekarat...?"

"Itu karena kami menemukan cara untuk bertahan hidup...dan dengan keadaan dirimu sekarang, aku tak yakin kau akan menyukainya caranya." ujar Lizzie dengan serius.

"Jadi, aku bisa hidup jika melakukan cara yang sama dengan kalian? Memangnya caranya apa?"

"Nyawa ditebus dengan nyawa."

"Hah?" Aku kebingungan sebelum aku perlahan menyadari makna perkataan itu. Aku menatap Lizzie dengan ngeri.

Lizzie tersenyum dingin. "Untuk bertahan hidup, kau hanya perlu mencabut satu nyawa...dan bukan sembarangan nyawa, kau harus mencabut nyawa seseorang yang sama dengan kita semua, memiliki mata shinigami..."

Aku terperangah. "Cara bertahan hidup macam apa itu?!" seruku dengan frustasi.

Lizzie mengangkat bahu dengan cuek. "Bukan aku yang membuat peraturannya, jangan teriak-teriak kepadaku..." ujarnya. "Aku juga tidak jelas tapi sepertinya esensi shinigami yang dimiliki orang lain itu ditransfer kepada kita jika kita mengakhiri hidup mereka..."

"Esensi shinigami?" Aku memegangi kepalaku yang mulai berdenyut-denyut lagi.

"Ingat si topeng putih?" tanya Lizzie. "Orang itu memburu sesama pemilik mata shinigami dan membunuh mereka karena dia ingin mengoleksi esensi shinigami lainnya. Esensi tersebut, saat pertama kali, memperkuat raga kita dari...pembusukan dan esensi-esensi lainnya memberikan kekuatan shinigami lainnya kepada kita."

Aku ngeri mendengar kata pembusukan pada raga. "Aku membusuk?!" seruku hampir ingin menangis.

Dipikiranku terbayang film-film horor dimana tokoh utamanya tubuhnya membusuk entah karena kutukan atau hal lainnya dan harus mengonsumsi daging manusia. Hiiih! Aku tak mau jadi zombie!

Lizzie kelihatan agak sebal dengan reaksiku. "Tidak seperti yang dipikiranmu. Kau tak akan menjadi zombie. Tenang."

"Benarkah?" Aku mengusap pelupuk mataku yang memanas dan mulai meneteskan airmata saking ketakutannya akan kemungkinan menjadi zombie.

Lizzie mendesah keras seakan dia lelah berbicara denganku. Benar-benar tidak sopan!

Setelah agak tenang, aku baru menyadari arti penjelasan Lizzie tadi. "Jadi, kau dan Caleb, mencabut nyawa 2 orang yang sama dengan kita, memiliki mata shinigami...?" tanyaku dengan takut-takut.

"Oh, kami mencabut nyawa lebih dari itu..." Senyuman dingin Lizzie membuatku gemetaran karena takut. "Jangan khawatir, kami tak akan menyerangmu. Kami hanya memburu orang yang memburu kami..."

Kalimat dari series Teen Wolf itu...mengibaratkan bahwa kedua orang ini hanya membunuh orang yang duluan berusaha membunuh mereka. Tadinya kukira yang mereka maksudkan adalah para pemburu. Tetapi jika ada ancaman dari para pemilik mata shinigami lainnya...

Tenggorokanku terasa tercekat akan pengetahuan baru yang kudapatkan ini. Aku harus mencabut nyawa orang lain yang sama denganku...satu orang saja dan aku bisa selamat? Aku menjegat pikiranku saat itu. Dalam kasusku, akan sulit melakukannya, bukan? Karena shinigami berpayung merah itu bilang dia sekarang tahu keberadaanku dan bahwa aku tak lagi bisa sembunyi darinya, berarti dia mengawasiku. Mana bisa aku berkeliaran mencoba mencabut nyawa orang jika demikian? Selain itu, mana bisa aku benar-benar mempertimbangkan mencabut nyawa orang, bukan? Dan sekarang ini, hanya dua orang yang kutahu persis memiliki mata shinigami adalah Lizzie dan Caleb. Mana mungkin aku menyerang mereka, bukan? Rupa-rupanya ini memang sudah nasibku untuk mati...

Ingat, Eva, lapang dada, lapang dada, terimalah nasib. Jangan jadi sinting dan mencoba menjadi pembunuh. Lagipula jika kau mencoba pun, kau pasti payah dalam menjadi pembunuh. Ingat, lapang dada, berwibawa sedikit di akhir hidupmu dan jangan melawan nasib. Aku berusaha menenangkan batinku yang terombang-ambing akibat kenyataan pahit itu. Sial sekali, bahkan pemikiran buruk-ku menganggap diriku sendiri pasti akan gagal bahkan jika aku mencoba menjadi orang jahat. Aku menertawakan diriku sendiri yang sampai akhir pun susah menemukan kepositifan dalam hal apapun. Aku menggigit bibir keras-keras berusaha mengontrol pikiranku. Lapang dada, Eva, ingat, lapang dada...berwibawa...di akhir hidup...

Lizzie diam saja, mengamatiku berusaha menerima kenyataan.

Aku menghela nafas, memandang gadis itu dengan agak tertekan. "Terima kasih karena telah memberitahuku..."

Lizzie mengamatiku lekat-lekat dan dia juga menghela nafas. "Maaf ya, jika saja kami datang kepadamu lebih cepat..." Sepertinya dia merasa kasihan kepadaku dan itu membuat sikap judesnya berkurang kepadaku. Gadis itu sepertinya juga menyadari situasiku yang membuatku terjebak dalam keadaan yang mengharuskanku menerima nasib.

Aku tersenyum dengan agak pasrah. "Mungkin ini sudah nasibku..."

Suara orang membuka pintu mengalihkan perhatianku dari Lizzie. Dokter yang masuk menegurku kenapa tidak istirahat. Aku menoleh dan menyadari bahwa Lizzie sudah tidak ada. Apakah dia benar-benar bisa teleportasi? Aku mengeluarkan kepalaku keluar jendela untuk mencari sosok gadis itu namun aku tak menemukannya.

Aku mendesah. Masih banyak yang ingin kutanyakan kepada Lizzie, soal pembusukan raga itu...maksudnya apa itu? Aku sungguh berharap bahwa pembusukan yang dimaksud bukan berarti ragaku ini akan mulai bau busuk. Aku mengendus-ngendus bau tubuhku, khawatir benar-benar ada bau busuk. Aku lega karena aku tidak mencium bau yang tidak mengenakkan.