Hari ini, aku mampir ke Poirot dan agak sedikit kecewa karena Amuro sedang tidak ada tapi aku tetap masuk dan memesan makanan disana. Tak masalah jika nanti bertemu Conan. Sudah kuputuskan untuk mengikuti alur saja. Yang penting aku ingin bisa menikmati sisa hidupku.

Aku ingin memanjakan mataku dengan mengamati semua karakter manga DC baik yang karakter major maupun yang minor. Sayang sekali aku tidak dapat bertemu Kaito Kid. Rasanya aku ingin agar KID memberiku sekuntum bunga mawar dan menyebutku 'lady'...walau aku bukan seorang lady. Aku mengetahui hal itu sungguh agak memalukan tetapi hidupku sudah tidak begitu lama lagi, buat apa malu-malu? Iya kan? Kalau perlu, aku akan blak-blakan dan menyatakan rasa suka-ku kepada kedua tokoh favoritku itu untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya. Jadi, aku bisa menutup mata dengan damai, mengetahui bahwa aku menjalani hidup bagai tokoh utama fanfiction dikelilingi tokoh-tokoh favoritku.

Tapi, sebenarnya walau aku berpura-pura berlapang dada dan bersikap seperti memiliki wibawa, aku tetap saja khawatir akan apa yang akan terjadi pada jiwa-ku nantinya. Apakah aku akan disidang dan masuk neraka, disiksa oleh setan-setan atau neraka-nya akan seperti versi Lucifer terperangkap dalam time loop di momen paling menyedihkan, menyakitkan, memalukan dan menyiksa selamanya? Ataukah akan terjadi seperti perkataan Reina, jiwaku akan dimusnahkan? Bukankah sungguh sinting bahwa aku berharap jiwaku dimusnahkan saja? Lebih baik menderita sekali daripada selamanya... Aku berasumsi rasanya pasti sakit jika jiwa dimusnahkan...tapi pasti lebih baik ketimbang sakit selamanya jika aku dijatuhkan ke neraka, bukan?

Aku mendesah. Aku merasa dengan keberuntunganku, aku pasti akan berakhir di neraka. Biasanya jika seseorang sangat menginginkan satu hal, yang terjadi selanjutnya malah hal lain yang dia dapatkan. Jadi, mungkin saja jiwaku tak akan dimusnahkan, malah di alamatkan secara permanen di neraka.

Ah, pemikiran semacam ini hanya membuatku tambah stres. Setidaknya soal raga, aku bisa lebih tenang. Caleb akhirnya mengontakku dan menenangkanku bahwa raga-ku tidak akan membusuk seperti yang kupikirkan. Kenapa Lizzie menggunakan kata pembusukan raga? Membuatku ketakutan sekali.

Aku mendesah, memikirkan bagaimana menjalani sisa hidupku ini untuk melakukan semua yang aku suka. Kukira setelah keinginanku bisa dibilang terkabul dengan adanya batas limit kehidupanku, aku akan lebih termotivasi melakukan yang terbaik dan yang kusuka untuk sisa hidupku. Tapi aku malah masih tanpa arah.

Azusa meletakkan sepotong kue brownies dan secangkir teh manis pesananku pada meja sambil tersenyum ramah. Aku berterima kasih kepadanya. Aku memandangi gadis itu yang dengan elegan melayani tamu-tamu lainnya. Hari ini Poirot terhitung lumayan sepi dan aku menyukai ketenangan yang kurasakan saat itu.

Aku memandangi lagi Azusa yang tengah mengelap meja sebelum kembali ke belakang meja bartender. Aku mendadak jadi penasaran apakah gadis itu memiliki perasaan khusus untuk Amuro. Di manga utama DC, hal itu tidak dikedepankan tetapi dalam manga khusus Amuro, sepertinya ada tanda-tandanya. Ya, jika dia memiliki perasaan suka kepada Amuro, aku tak akan terkejut. Amuro memang tipe pria yang ideal, bukan?

Akhirnya, aku memutuskan untuk mengobrol dengan Azusa. Sehabis menyelesaikan pesananku, aku melangkah ke arah meja kasir. Kebetulan Azusa sepertinya lagi agak senggang.

"Kak Azusa, bolehkah aku bertanya sesuatu yang agak bersifat pribadi kepadamu?"

Gadis itu agak terkejut karena aku mengajaknya mengobrol. Biasanya memang aku lebih ramah kepada Amuro ketimbang dirinya. Aku jadi sedikit tidak enak hati kepadanya.

Azusa tersenyum ramah padaku. "Memangnya Eva ingin bertanya soal apa?"

Aku menatap gadis itu dengan serius. "Apa hubungan Kak Azusa dengan Kak Amuro?"

"Eh?"

"Apa Kak Azusa ada perasaan suka lebih dari seorang teman kepada Kak Amuro?"

Azusa terlihat kebingungan harus jawab apa.

"Apa kalian berpacaran?"

Azusa memandangiku sesaat lalu tersenyum geli. "Apakah Eva cemburu?" godanya.

Aku memandangi dia lalu dengan blak-blakan menjawab bahwa dia benar, mengejutkan gadis itu yang tidak mengira bahwa aku menjawab jujur, bukannya berkilah.

"Aku tahu aku bukan siapa-siapanya Kak Amuro jadi aku sebenarnya tidak berhak untuk merasa cemburu jika kalian benar berpacaran." tuturku sambil mendesah galau. "Apalagi aku sekarang masih kecil, mana mungkin orang itu akan menanggapi perasaanku dengan serius..."

"Begitu ya..." Azusa kelihatan jengah, pasti aneh bukan melihat anak SD sepertiku serius membicarakan rasa suka. Kira-kira aku sama dengan Mitsuhiko yang menyukai dua orang yaitu Ayumi dan Ai, dan dia mengakui hal itu didepan Ran.

Azusa tersenyum lembut kepadaku. "Aku dan Amuro hanyalah teman biasa, jadi Eva tak perlu khawatir." ujarnya.

Aku memandangi dia antara tidak percaya tapi juga merasa lega.

"Amuro itu banyak fans-nya, kebanyakan gadis-gadis yang datang ke Poirot semua adalah penggemar dia. Aku tidak memiliki keinginan untuk mati dengan menjadi pacar Amuro, bisa-bisa nanti aku dibully. Lagipula setahuku Amuro saat ini tidak tertarik untuk pacaran dengan siapapun..." ujar Azusa sambil tertawa renyah. Entah kenapa aku merasa ekspresinya gadis itu terlihat agak pahit, membuatku semakin yakin gadis itu memang menyimpan rasa suka kepada Amuro.

Aku mengeryitkan dahi mendengarnya. "Jika Kak Azusa dan Kak Amuro saling suka, buat apa mempedulikan mereka? Biarkan saja mereka yang iri!" tukasku dengan tidak senang. Lha, koq aku jadi mendorong gadis ini untuk memacari Amuro? Aku ingin menjitak diriku sendiri saat itu.

Azusa tersenyum dan mengelus kepalaku. "Lagipula aku rasa gadis yang paling diperhatikan Amuro adalah Eva..." godanya. "Kudengar kalian sudah kencan 2 kali..."

Aku menatap gadis itu dengan datar. "Jika kami benar kencan, Kak Azusa sadar kan berarti menuduh Kak Amuro pedophile?"

Azusa tersenyum mendengarnya. "Aku yakin sikap Amuro pasti sangat gentleman kepadamu, Eva." Dia lalu mengelus-elus lagi kepalaku seakan aku anak anjing. Kemudian, dia kembali melanjutkan pekerjaannya sementara aku jatuh dalam lamunanku.

Memang Amuro itu seorang yang berbudi halus...setidaknya itulah kesan yang dia tampilkan sebagai seorang Amuro. Kecuali kepada FBI. Menurutku dia agak kasar pada Jodie...dan dia benar-benar benci pada Shuichi. Walau seingatku mestinya orang itu sudah menyadari kesalahpahaman akan kematian Scotch, dia sepertinya tetap tak suka dengan Shuichi.

Sayang sekali padahal aku ingin sekali mereka bekerja sama. Aku teringat pada movie manga DC memang ada adegan dimana keduanya nanti harus bekerja sama dengan Conan untuk mematikan bom dan melawan balik serangan dari organisasi hitam. Sebelumnya tapi keduanya akan berkelahi adu tangan dulu...ditempat tinggi.

Aku jadi bertanya-tanya apakah hal itu sudah terjadi atau belum. Aku ingat akan keberadaan anggota organisasi yang katanya mencuri data NOC dari PSB tetapi wanita itu akan kehilangan ingatan dan nantinya malah akan jadi orang baik demi trio detektif cilik. Sayangnya wanita itu akhirnya meninggal, mengorbankan dirinya untuk anak-anak tersebut.

Aku berusaha untuk tidak campur tangan soal kejadian pada manga DC tetapi...jika bisa menyelamatkan orang pada daftar nama NOC dan menyelamatkan wanita berkode nama Curacao...

Aku menggeleng-gelengkan kepala, merasa bodoh. Aku bisa apa? Menyelamatkan warna kuning saja aku tidak mampu. Aku tidak boleh campur tangan dan merusak jalan ceritanya. Jika aku memperburuk urutan kejadiannya, bagaimana?

Aku tak ingin membahayakan mereka jika aku campur tangan tanpa memikirkan dan mencegah setiap konsekuensi yang mungkin terjadi. Sayangnya, saat aku masuk ke dunia manga ini, aku tidak 'secara ajaib' memiliki kepintaran yang setara dengan para pejuang keadilan yang menjadi tokoh utama dalam manga ini. Jika bisa demikian, alangkah baiknya, walau dalam fanfiction, itu membuatku seperti Mary Sue. Aku mendesah. Jika bisa jadi Mary Sue, hidupku pasti akan lebih dimudahkan dan aku bisa mendapatkan tokoh pria yang diinginkan.

Ah, aku ini, sudah sampai begini saja, masih saja berharap yang tidak-tidak. Pathetic, sebuah makian menggema dalam pikiranku. Aku hanya bisa meringis, mendengarnya.

Aku mendesah dan memutuskan untuk pulang. Aku pun bangkit berdiri hendak ke meja kasir untuk membayar. Tiba-tiba pandanganku berubah menjadi gelap. Tahu-tahu aku jatuh tersungkur ke lantai dan saat aku dapat melihat lagi, aku melihat Azusa berada didekatku, menanyakan dengan nada panik apakah aku baik-baik saja. Gadis itu terdengar sangat khawatir membuatku jadi tidak enak hati. Aku mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha memfokuskan kembali pandangan mataku pada sekelilingku yang dari gelap jadi agak buram sebelum kembali normal. Azusa membantuku berdiri tetapi kedua lututku seperti agak susah menemukan keseimbangan untuk beberapa saat. Gadis itu memapahku untuk duduk dulu.

"Aku yang kurang hati-hati...kesandung kaki meja..." Aku berbohong dan memasang senyum polos supaya gadis itu tidak lagi mengkhawatirkanku, tetapi kelihatannya dia kurang mempercayaiku.

"Kau kelihatan agak pucat, Eva, apa kau benar baik-baik saja?" tanyanya lagi.

Untuk membuktikan bahwa diriku baik-baik saja, tanpa mempedulikan protes gadis itu, aku bangkit berdiri dan melompat-lompat kecil ditempat. "Lihat, aku tak apa-apa, bukan? Tadi aku kurang hati-hati saja." kilahku. Untunglah aku benar-benar tidak kenapa-kenapa lagi. Aku mengalihkan pembicaraan kembali ke tujuan awalku untuk melakukan pembayaran dan dengan agak enggan, gadis itu melayaniku. Aku tersenyum kepadanya dan berpamitan dengannya setelah menyelesaikan pembayaran.

"Hati-hati dijalan yah!" Azusa mengantar kepergianku masih dengan wajah yang kelihatan agak cemas.

Aku melambaikan tangan dan melangkah pergi. Senyum diwajahku pun perlahan pudar. Aku mendesah, memikirkan apa insiden tadi itu merupakan efek dari tubuhku yang sekarat. Walau pemeriksaan medis sebelumnya, dokter di rumah sakit sama sekali tidak menemukan kejanggalan pada diriku. Apakah berarti penyebabnya...supernatural? Dan aku mendapati bahwa efek itu bukan yang terakhir kali terjadi padaku karena selanjutnya kejadian yang sama menimpaku.

777

Aku sedang mengawasi latihan drama dengan Sonoko. Aku benar-benar merasa seperti orang penting saja karena Sonoko benar-benar meminta inputku untuk drama tersebut. Saat aku melihat orang-orang yang memerankan weeping angels, mereka memakai semacam cat berwarna silver diseluruh tubuh dan berpakaian layaknya malaikat lengkap dengan sayap palsu, tentunya tidak sebagus atau seelegan yang aslinya. Malah terasa sedikit agak aneh jadinya karena mereka tidak terlalu mirip patung tetapi mereka benar-benar berusaha sebisa mereka. Tentu saja ini hanyalah drama SMA biasa, bukan suatu pertunjukan drama yang benar-benar memiliki budget setara drama yang didalami secara profesional. Secara keseluruhan, aku sungguh puas karena Sonoko benar-benar mengarahkan drama itu dengan serius.

Sonoko memberiku uang untuk membeli jajanan di kantin sekolah untuk para pemain drama ditempat. Dia juga menyuruhku untuk membeli apapun yang aku mau di kantin juga. Aku pun menuruti keinginan dia. Sekembalinya dari kantin itulah, saat aku menaiki tangga, efek itu kembali menimpaku. Pandanganku mendadak kabur dan aku tak bisa mengontrol tubuhku.

Aku terhempas jatuh ke arah belakang. Aku beruntung ada yang melihat dan menangkap tubuhku yang melayang jatuh dari tangga. Orang itu adalah ternyata Sera. Aku perlahan membuka mataku dengan agak lemah dan melihat wajah gadis itu yang terlihat panik.

"Kak Sera...?"

Sera terlihat lega melihatku bangun. Gadis itu bergegas merangkulku dalam pelukannya dan membawaku ke UKS di sekolah. Aku berusaha mencegah dia membawaku ke UKS tetapi gadis itu tak mau mendengarkanku. Dengan gerakan cepat, tahu-tahu aku sudah dibaringkan diranjang dalam ruangan UKS dan Sera sedang sibuk menjelaskan kepada dokter UKS tentang apa yang terjadi padaku. Dokter pun segera mengecek kondisiku dan tentu saja dia tak menemukan kejanggalan pada diriku.

"Aku cuma agak pusing saja..." kilahku. "Mungkin karena aku kelaparan lagi..." Biar-lah semua orang beranggapan aku orang yang mudah kelaparan sampai mau pingsan.

Dokter menyuruhku untuk lebih menjaga kondisi tubuh, dia menyuruhku untuk beristirahat sejenak disana. Dia pun kembali melanjutkan kerjaan yang dilakukannya sebelum Sera menyerobot masuk ke ruang UKS demi diriku.

Sera mengamatiku dengan seksama.

Aku merasa jadi canggung dihadapan gadis tomboy itu. Aku memasang senyum sepolos mungkin. "Terima kasih, Kak Sera, karena telah menolongku tadi."

Sera tidak berkata apa-apa, malah dia menyodorkan kantong plastik berisi roti-roti yang aku beli tadi. Dia menyodorkan 2 bungkus roti kepadaku. "Makanlah, supaya kau tidak pusing dan pingsan lagi."

Aku tertawa renyah mendengarnya. Sebenarnya saat itu aku sama sekali tidak lapar. Dengan enggan, aku mengambil 1 bungkus roti dan membukanya untuk dimakan.

Sera masih saja mengamatiku, membuat tenggorokanku serasa tercekat. "Bukankah Kak Sera masih harus latihan? Aku tak apa-apa sendirian disini. Kak Sonoko dan yang lainnya juga pasti menantikanmu dan makanan mereka." Aku menunjuk kantong berisi roti-roti.

"Apa kau benar baik-baik saja?" tanya Sera dengan serius.

"Iya...?"

"Kau...tadi tubuhmu dingin sekali...dan aku sempat tak dapat menemukan denyut nadimu...seakan kau..." Sera terdiam.

Aku tersedak rotiku dan terbatuk-batuk membuat Sera khawatir. Gadis itu menepuk-nepuk punggungku dan memberiku segelas minuman. Setelah berhasil mencerna roti dalam tenggorokanku, aku merasa lega. Aku menoleh kepada Sera dan lagi-lagi menampilkan senyum polosku. "Aku baik-baik saja, Kak Sera, maaf aku telah membuatmu kaget dan khawatir. Dan setelah makan roti, energiku sudah kembali." tukasku.

Sera terlihat enggan meninggalkanku. "Nanti aku akan mengantarmu pulang. Aku khawatir kamu akan jatuh pingsan ditengah jalan."

Sebenarnya aku ingin menolak tetapi gadis itu bersikeras sehingga akhirnya aku mengalah. "Baiklah, jika hal itu bisa membawa ketentraman dalam pikiranmu..."

Sera hanya mengangguk, tersenyum tipis lalu menepuk kepalaku. "Kadang kau mengingatkanku pada Conan yang suka berbicara tidak seperti anak kecil pada umumnya..."

Aku terbelalak mendengarnya. Apakah tingkahku ada yang mencurigakan di mata gadis ini? Memangnya aku selama ini ada yang bertindak tidak selayak anak kecil biasanya kah? Paling cuma dengan 'kemampuan' mengarang cerita-ku, tapi masa sih hanya karena itu? Aku memegangi pelipis-ku mendadak sakit kepala. Duh, jangan sampai detektif satu ini jadi mencurigaiku juga. Tapi, untuk apa aku pusing? Bukankah hidupku sudah tak berapa lama lagi? Enjoy sajalah, Eva!

Sera tersenyum-senyum kepadaku. "Baiklah, aku kembali ke ruang latihan dulu. Nanti seusai latihan aku akan kembali kesini yah. Jangan kemana-mana sendiri, Eva."

Aku hanya bisa tertawa renyah dengan agak pasrah memandangi kepergian gadis itu. Aku mendesah dan kembali memijit-mijit pelipisku dengan agak sebal. Aku teringat akan perkataan Sera tadi soal bahwa tubuhku dingin dan tak memiliki denyut nadi... Aku memandangi kedua tanganku lalu mengatupkan keduanya dalam satu genggaman. Aku menelan ludah dengan agak tertekan. Jantungku berdebur keras. Sepertinya efek samping dari penggunaan tubuh ini semakin menjadi-jadi. Aku tidak tahu batas waktu yang kumiliki tinggal berapa lama. Jangan-jangan nantinya saat aku kehilangan kesadaranku lagi, aku tak akan bangun dalam tubuh ini lagi.

Sera benar-benar mengantarku pulang naik motornya. Aku memutuskan memperlihatkan kecerian seorang anak kecil yang baru pertama naik motor. Angin yang menerpa wajahku membuatku tersenyum-senyum. Sera menyetir motornya dengan berani dan sedikit mengebut. Dia menyuruhku memegangnya erat-erat agar tidak jatuh. Akhirnya saat tiba didepan rumah, aku melepas helm dan mengucapkan terima kasih kepada gadis itu.

Sera mengamati rumahku. Dia menanyakan soal orangtuaku. Aku mengatakan sejujurnya bahwa Papa dan Mama masih bekerja, belum pulang. Akhirnya gadis itu pergi meninggalkanku. Aku melambaikan tangan kepadanya sembari tersenyum. Aku mendesah lega lalu aku pun masuk kedalam rumah. Entah kenapa aku merasa sungguh lelah lahir dan batin. Aku membaringkan badanku di sofa di ruang tamu. Perlahan aku menutup mataku.

777

"Eva, bangun! Eva!"

Seseorang memanggil-manggilku dengan suara keras. Orang itu bahkan menepuk-nepuk pipiku. Aku mengerang ingin protes. Perlahan aku membuka mataku dan aku melihat Caleb yang tengah memandangiku dengan prihatin.

Aku mulai mengumpulkan kesadaranku. "Caleb...?" Aku menatap dia dengan bingung. Aku menoleh sekelilingku. Aku berada ditengah jalan dan berada dalam pelukan pemuda itu. "Apa...? Aku dimana?"

Caleb terlihat lega sesaat lalu sepertinya terlihat berat hati lagi.

Aku tidak tahu kenapa aku bisa berada ditengah jalan. Yang terakhir aku ingat aku tidur didalam rumah. Aku memandangi baju piyama yang aku pakai. Aku mengeryitkan dahi dengan agak bingung. Aku tidak ingat mengganti baju piyama. Apa aku benar berjalan dalam tidur lagi? Tadinya aku kira kejadian itu hanya akan terjadi sekali saja soalnya sudah berminggu-minggu sejak pertama kali aku mendapati diriku berjalan dalam tidur.

"Apa kau tidak mengenali tempat ini?" tanya Caleb.

Aku menoleh menatap pemuda dengan bingung.

"Disini tempat kau...maksudku Eva meninggal..."

Aku membelalakan mata dengan kaget. Disini tempat Eva yang asli tertabrak dan meninggal? Aku merinding menyadari bahwa aku berjalan dalam tidur menuju ke tempat dimana raga ini seharusnya tak lagi bernyawa. Tunggu, koq Caleb bisa tahu? Aku menatap dia hendak menanyakan tetapi dia langsung mengetahui apa yang ingin kutanyakan.

"Aku membaca berkas file tentangmu." ujar Caleb.

"Ada berkas file tentangku? Darimana?" tanyaku dengan kaget dan penasaran.

Caleb tersenyum tipis. "Akan kuceritakan lebih lanjut nanti. Sebaiknya kau segera pulang. Mungkin saja saat ini orangtuamu tengah panik mencarimu."

Aku membelalakan mata, menyadari bahwa Caleb benar. Papa dan Mama pasti panik jika mengetahui aku hilang dari tempat tidurku. Aku sedikit berharap bahwa mereka tidak menyadarinya, tetapi rasanya tidak mungkin. Semenjak kejadian pertama aku berjalan dalam tidur, mereka jadi paranoid, terus-terusan mengecek keberadaanku saat aku tidur. Demi keamanan, mereka bahkan tidak meninggalkan kunci rumah pada lubang kunci pintu supaya jika aku 'lolos' dari pengecekan, aku tak akan bisa keluar rumah. Lalu, aku bagaimana bisa keluar dari rumah?

"Ayo, aku antar kau sampai dekat rumahmu."

Aku mengangguk dengan gelisah, memikirkan apa yang harus kukatakan nanti pada Papa dan Mama. Aku kaget saat Caleb tiba-tiba membopongku.

"Kau keluar rumah tanpa memakai sandal, kaki-mu pasti sakit." ujar Caleb.

Aku baru menyadari bahwa kaki-ku memang berasa sakit. Aku pun menuturkan ucapan terima kasih pada pemuda itu dengan malu-malu.

Caleb tersenyum kepadaku.

"Oh iya, kenapa kau bisa ada disini?" tanyaku.

"Aku kebetulan berada disekitar sini." jawabnya.

Aku menatap pemuda itu dengan tidak percaya.

Caleb tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya tersenyum-senyum saja.

Aku mendesah sembari menggeleng-gelengkan kepala.

Caleb menurunkanku saat sudah mau dekat rumah. "Maaf aku tak bisa mengantarmu sampai depan rumah."

Aku mengerti keinginan pemuda itu untuk tetap menjaga kerahasiaan hubungan dirinya denganku. "Iya, tak apa-apa. Terima kasih, Caleb, karena telah mengkhawatirkanku." tukasku sembari tersenyum-senyum.

Pemuda itu tertawa sembari menggaruk-garukkan kepalanya.

Aku pun melangkah dengan tertatih-tatih menuju ke rumahku dan benar saja, Papa dan Mama sedang panik didepan rumah. Aku menghambur ke dalam pelukan mereka tanpa pikir panjang lagi. Aku tak ingin membuat keduanya khawatir tetapi sepertinya hal ini tidak dapat dihindari apalagi dengan kondisi tubuhku yang makin lama makin ngawur. Aku merasa seperti kehilangan kontrol akan tubuh ini.

Efek-efek yang terjadi selama ini membuatku khawatir suatu hari nanti aku akan mengalami kecelakaan akibat kehilangan kesadaran ditempat dan waktu yang salah. Seperti kejadian dengan Sera tadi, jika tidak ada gadis itu, aku pasti terluka jatuh dari tangga dan mungkin saja meninggal ditempat. Tetapi aku harus bagaimana? Masa aku jadi harus menghabiskan sisa waktuku mengurung diri dirumah demi menghindari kecelakaan yang tak diinginkan? Secara logika, mungkin hal itu tindakan yang benar. Tetapi, waktuku memang tidak berapa lama lagi. Aku ingin menjalaninya dengan melakukan apapun yang aku mau.

Dan apa yang aku mau lakukan sebenarnya? Apakah keinginanku untuk berinteraksi sebanyak mungkin dengan tokoh-tokoh manga DC adalah yang ingin kulakukan di akhir hidupku? Sebersit rasa takut menyela dalam pikiranku soal apa yang akan terjadi pada jiwa-ku setelah aku mati nanti. Aku sungguh tak ingin memikirkannya karena hal itu membuatku putus harapan untuk menjalani yang terbaik dari sisa hidupku.

777

"Kak Subaru, minggu depan akan ada festival SMA Teitan, maukah Kakak datang kesana bersamaku?" tanyaku akhirnya setelah berkali-kali galau hendak mengajak orang itu pergi atau tidak.

Subaru memandangiku dengan agak heran. "Kenapa mengajakku? Kukira kau akan mengajak Kak Amuro kesayanganmu itu..."

Aku menatap orang itu dengan dahi berkerut. "Kakak tidak mau?"

"Aku tidak mengatakan itu."

"Jadi Kakak mau?" tanyaku dengan mata berbinar-binar. "Kak Subaru memang sebenarnya harus datang donk. Hari itu Kak Sera akan pentas dalam pertunjukan drama. Kak Sera keren aktingnya!"

Subaru terlihat agak terkejut mendengar perihal Sera akan berpentas. "Hoh, saya tidak tahu bahwa anak itu akan berperan dalam suatu drama. Drama tentang apa?"

Aku tersenyum menatap dia. "Jika ingin tahu, Kakak harus pergi menontonnya langsung denganku." tukasku tanpa malu-malu lagi.

Tak ada-lah istilah malu-malu kucing, aku merasa kucing yang kutemui selama ini tidak ada yang malu-malu, karena walau kaya atau miskin, mereka tetap bertingkah layaknya bos. Lagipula mungkin ini bisa jadi kesempatan terakhirku untuk bersenang-senang dengan Subaru. Bagaimanapun, tak boleh dilupakan bahwa orang ini, Shuichi Akai, adalah orang favoritku juga. Aku ingin membuat kenangan juga dengan orang ini.

Hatiku terasa terenyuh saat lagi-lagi teringat bahwa batas hidupku, walau tidak jelas kapan akan berakhir tepatnya, jelas tak dapat dihindari pasti berakhir. I'm basically dead man walking.

Subaru akhirnya menyetujui keinginanku untuk pergi bersama. Dia menanyakan apakah aku akan mengajak teman-temanku.

Aku hampir lupa akan Yuka dan Miyuki. Ketika aku menanyakan soal itu pada mereka, Miyuki terlihat antusias untuk pergi tetapi Yuka masih saja memasang tampang datar seakan anak ini bosan dengan keadaan sekitarnya.

Aku dan Miyuki bertukar pandang dengan khawatir tetapi sudah jelas Yuka sama sekali tidak berminat untuk berbicara dengan kami.

Benarkah anak ini masih berduka akan Kenji? Tetapi kenapa tingkahnya begini dingin? Waktu Nanno meninggal saja, walau sedih, dia tidak mencueki aku.

Amuro pernah bilang tiap orang berduka dengan cara yang berbeda-beda dan aku mengerti tetapi, tak bisa tidak, aku jadi mengkhawatirkan Yuka. Tetapi bagaimana aku bisa menghiburnya jika anak ini tidak mau berbicara denganku?

Akhirnya setelah jelas bahwa Yuka tak ingin diganggu, aku membiarkannya seorang diri.

"Sebenarnya Yuka kenapa?" tanya Miyuki padaku.

Aku hanya bisa mengangkat bahu dengan bingung. Kami pun mulai membicarakan soal festival SMA Teitan. Aku memberitahu Miyuki bahwa aku akan pergi dengan Subaru.

"Kak Subaru? Guru les-mu? Bagaimana dengan Kak Amuro?" tanya Miyuki. "Kau tidak pergi bersama dia? Kukira dia kesukaanmu..."

"Kak Subaru juga salah satu orang favoritku..." tuturku. "Anggap saja aku ingin berterima kasih kepadanya karena selama ini telah membantuku dalam matematika..."

Miyuki tiba-tiba seperti mendapat pemikiran nakal dan dia tersenyum-senyum padaku. "Kau takut Kak Amuro dicolong oleh gadis-gadis SMA, bukan?" godanya.

Sebenarnya aku tidak berpikir sampai sana tetapi Miyuki benar juga. Jika aku pergi bersama Amuro, pasti orang itu bakal dikerubuti gadis-gadis tersebut.

Subaru memang termasuk tampan tetapi dia tidak sepopular Amuro jadi walau nantinya ada yang menggemari orang itu, aku yakin Subaru hanya akan bersikap sopan dan tidak terlalu ambil peduli.

Bagaimanapun aku memutuskan ingin membuat sebuah kenangan dengan Subaru. Sayang sekali aku tak bisa memandangi wajah aslinya itu tapi ya sudahlah...