Padahal sudah kubilang tidak perlu ke rumah sakit, tidak ada gunanya karena Dokter selalu tak bisa mendiagnosa apa yang salah dari diriku dan aku juga sudah bilang bahwa aku baik-baik saja, tetapi Papa dan Mama tidak mempercayaiku. Dokter melakukan berbagai macam tes kepadaku yang pastinya memakan biaya mahal dan tak akan menemukan sesuatu yang janggal. Aku agak sebal dengan Subaru karena dia yang melaporkanku kepada Mama alhasil aku jadi terjebak lagi dirumah sakit.
Aku menyadari bahwa tidak ada orang yang bisa melihat benang hijau pada pergelangan tanganku karena tak ada satu orang pun yang menyinggung soal benang tersebut, seakan kasat mata. Aku memegangi benang di pergelangan tanganku itu dengan was-was.
Kehebohan akibat seseorang yang meninggal didepan kamarku membuatku sedikit tegang. Aku tak tahu siapa orang itu sebenarnya, sepertinya orang itu hendak mencoba untuk membunuhku. Aku berpikir apa mungkin dia seorang pemburu yang berusaha memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk menghabisiku.
Saat itu aku baru saja bangun tidur, aku bahkan tak sempat melihat data kematian orang itu, terlalu terfokus akan erangan kesakitan orang itu lalu akan keberadaan dingin seorang Yohan. Bagaimanapun kematian orang itu mengingatkanku akan kematian dalam manga Death Note tetapi aku tak tahu bagaimana cara Yohan mencabut nyawa orang itu. Dalam Death Note, sudah jelas dengan menuliskannya pada buku hitam kematian tetapi aku sama sekali tidak tahu cara kerja shinigami dunia ini.
Yang terjadi selanjutnya tambah membuatku curiga saat Yuya Kazami, yang di manga dikenal sebagai bawahan Rei Furuya, tiba-tiba muncul untuk menginvestigasi. Dia bahkan sempat singgah dikamarku dan menanyakan apakah korban yang meninggal tersebut ada mengatakan sesuatu kepadaku. Apakah ini artinya Amuro tahu soal kejadian mencurigakan disekelilingku? Dan sekarang dia menyuruh bawahannya untuk menyelidikinya? Aku jadi teringat memang Amuro mencurigai bahwa diriku dalam bahaya karena aku memiliki kalung dari Reina yang sama persis dengan korban-korban dari kasus bertahun-tahun lalu.
Aku buru-buru menggeleng-gelengkan kepala. "Aku baru saja bangun tidur...lalu aku melihat orang itu keluar kamarku sambil memegangi dadanya seperti kena serangan jantung..." tuturku. Aku memutuskan berbicara jujur untuk soal itu karena memang itulah kebenarannya, bukan?
Kazami mengeluarkan notes dari sakunya dan mencatat perkataanku. Mama yang mendengar gosip bahwa korban yang mati bukanlah seorang perawat rumah sakit lalu menanyakan kepada Kazami apakah mereka sudah tahu identitas orang itu. Kazami mengatakan bahwa mereka masih belum bisa mengonfirmasi identitas korban tetapi sudah jelas bahwa orang itu memang tidak bekerja di rumah sakit ini.
Aku mendelik ke arah Mama, tak ingin menarik perhatian agen PSB itu lebih jauh tetapi, dasar emak-emak, dia tidak menghiraukanku. Aku menahan erangan kecil dari mulutku saat Mama menuturkan kejadian yang menimpaku dimana saat aku berjalan dalam tidur, aku berpapasan dengan seorang pembunuh berpakaian badut. Mama bertanya-tanya apakah korban mungkin ada hubungannya dengan kejadian itu. Secara logika, Mama memang mempertanyakan pertanyaan yang bagus dan aku merasa agak bodoh juga karena aku tidak mempertimbangkan bahwa mungkin saja Mama benar dan badut pembunuh itu datang untuk menghabisiku sebagai saksi mata kejahatannya, walau aku tak ingat apapun. Mungkin saja korban yang mati itu adalah si badut pembunuh? Ugh, pusing! Aku bukan detektif!
Aku rasanya ingin memarahi Mama karena membuat keingintahuan Kazami terpicu dan dia meminta keterangan lebih lanjut kepada Mama dan aku. Mama menyuruhnya untuk berbicara dengan Inspektur Megure jika ingin tahu lebih lanjut. Kazami akhirnya pamit dan pergi meninggalkan kami.
777
Aku sedang sendiri di kamar rumah sakit ketika tiba-tiba Caleb dan Lizzie menyerobot masuk ke dalam kamar dengan nafas terengah-engah dan wajah yang suram. Aku kaget melihat mereka ada disini. "Kalian kenapa kesini?" desisku. Aku tak ingin shinigami bernama Yohan yang sepertinya mengawasiku jadi mengetahui keberadaan mereka...ataukah orang itu sudah tahu? Belum lagi Amuro yang mungkin saja juga mengawasiku melalui bawahannya. Ugh, aku jadi paranoid.
Aku heran kenapa keduanya seperti terburu-buru menemuiku padahal biasanya mereka selalu terlalu berhati-hati. "Mama ada didekat sini!" Aku mewanti-wanti mereka.
"Jangan khawatir, saat ini Mama-mu sedang disibukkan akan hal lain." ujar Caleb menenangkanku. Dia mengamatiku dengan cermat. "Kau tak apa-apa?" tanyanya.
"Kami dengar ada pemburu yang mati didepan kamarmu!" tukas Lizzie.
"Kalian tahu darimana? Orang itu benaran pemburu?" tanyaku dengan kebingungan.
"Bagaimana kau bisa selamat?" tanya Lizzie, sepertinya terdengar gusar.
Aku memijit-mijit pelipisku, mulai sakit kepala lagi. Aku tidak tahu apakah aku harus memberitahu mereka soal kesepakatanku dengan Yohan atau tidak. "Aku tak tahu, tahu-tahu orang itu seperti kena serangan jantung..." Akhirnya aku memutuskan untuk merahasiakan soal itu untuk sementara waktu. Aku memandang Caleb dan Lizzie. "Kenapa kalian yakin sekali bahwa orang itu pemburu?"
"Mereka memiliki tato simbol pada tubuhnya dan saat melakukan pemburuan, mereka tak akan sebodoh itu membawa kartu identitas mereka." jelas Caleb.
"Tato simbol? Seperti apa? Memangnya kalian sudah melihat mayatnya? Koq bisa tahu?" tanyaku penasaran.
Lizzie mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Kami memiliki koneksi yang lumayan dalam hal semacam ini."
Aku menatap keduanya dengan curiga. "Dari 'koneksi' itu jugakah, kau mendapatkan berkas file tentang diriku?" tanyaku memandang tajam pada Caleb.
Caleb hanya tersenyum tipis kepadaku. Dia lalu membuka smartphone-nya dan memperlihatkan gambar sebuah tato ouroboros, gambar ular yang memakan buntutnya sendiri.
Aku mengeryitkan hidung saat melihat dan mengenali tato itu yang sering kali muncul dalam manga atau film misteri. Sekarang rupanya tato itu juga ada di dunia ini sebagai simbol lambang pemburu. Menurutku pribadi, simbol ouroboros itu keren tetapi aku tidak suka karena sekarang harus menyamakan simbol tersebut dengan orang-orang yang hendak membunuhku. Tidak orisinil sekali organisasi pemburu ini dalam memilih simbol mereka.
"Tunggu, apakah itu artinya Adrian, Rumi Tsukasa dan Honda Tsukumiya memiliki tato simbol tersebut pada tubuh mereka? Bukankah polisi akan mencurigaiku jika demikian akan kematian mereka yang selalu secara 'kebetulan' melibatkan diriku didalamnya?" tanyaku dengan ngeri. Tapi kenapa polisi tidak menyebutkan soal tato itu? Amuro juga tidak mengatakan apa-apa kepadaku tapi aku yakin dia pasti mengetahui juga soal tato simbol itu karena sepertinya orang itu mengawasiku. Ya, aku tak heran jika dia tak mengatakan apa-apa kepadaku soal itu, bagaimanapun baginya, aku hanya anak kecil belaka, bukan? Aku bukan Conan yang secara Amuro tak akan merasa segan untuk melibatkan anak itu dalam kasus berbahaya.
Lizzie mengibaskan tangannya dengan santai. "Para pemburu itu memiliki seksi Cleaner yang akan memastikan tidak ada kebocoran yang dapat membahayakan organisasi mereka."
Aku melongo mendengarnya sebelum mendengus kesal. "Cleaner? Lama-lama jadi seperti film Nikita saja!" tukasku.
"Oh, aku tahu film Nikita." Caleb tersenyum senang. "Maggie Q sangat memukau sebagai Nikita."
Untuk sesaat aku pun jadi ikut-ikutan fangirling juga soal film seri Nikita. "Iya, aku juga. Pemeran Alex cantik sekali. Lalu tokoh Birkhoff dalam seri itu membuat ceritanya lucu!" tukasku.
Lizzie memutar bola matanya dengan gemas melihat tingkah kami berdua. "Yang benar saja..."
Caleb menyadari bahwa kami jadi keluar dari jalur pembicaraan serius lalu berdehem sedikit berusaha untuk serius lagi. "Iya, Cleaner itu pasti akan menangani mayat-mayat agen pemburu mereka supaya tidak terlacak ke arah organisasi mereka." jelasnya.
Aku jadi penasaran apakah itu berarti Amuro tahu atau tidak soal tato simbol itu. "Kukira kau bilang sementara ini pemburu itu tak akan menargetkanku?" tanyaku pada Caleb dengan nada sedikit menyalahkan.
Caleb terlihat muram mendengarnya. "Seharusnya jika mereka pintar, mereka tak akan menanggung resiko yang membuat keberadaan organisasi mereka muncul ke permukaan, apalagi mereka sudah berkali-kali gagal melenyapkan kau sebagai targetnya..."
"Lalu, siapa yang menyelamatkanmu?" tanya Lizzie kepadaku. "Serangan jantung dadakan...padahal orang itu tak memiliki histori penyakit apapun... Ada yang menyelamatkanmu...dan aku rasa orang itu memiliki mata shinigami sama seperti kita..."
Aku tercekat mendengar deduksi Lizzie. Iya, dia benar, yang menolongku memang memiliki mata shinigami, malah dia shinigami tulen. Aku jadi teringat soal pemuda bertopeng putih. Aku lalu menceritakan kepada mereka soal kemunculan orang itu saat festival yang lalu dan soal Yuka. Ah, aku hampir melupakan soal anak satu itu. Bagaimana dia sekarang? Aku harus segera mengecek keadaan anak itu.
Caleb dan Lizzie terlihat pucat mendengar soal pemuda bertopeng putih itu, membuatku semakin jelas bahwa pemuda itu sungguh berbahaya.
"Apa mungkin...dia yang menyelamatkanmu?" Lizzie bertanya-tanya. "Jika iya, mengapa dia melakukannya? Apa tujuannya?"
Mengingat memang orang itu sering muncul secara misterius dihadapanku dan orang itu memang pernah 'memamerkan' kemampuannya memanipulasi nyawa para pemburu bawahan Honda Tsukumiya, aku memutuskan membiarkan Lizzie dan Caleb beranggapan bahwa orang itulah yang menyelamatkanku, bukan Yohan. Akan tetapi, aku memberitahu mereka soal shinigami bernama Cecily yang disebutkan pemuda bertopeng putih dan bahwa orang itu mencurigainya sebagai Reina sekarang.
"Cecily?" tanya Caleb.
"Itu katanya." Aku mengonfirmasi. "Yang aku tidak mengerti, kenapa orang itu melibatkan Yuka? Dia membahayakan nyawa anak itu! Warnanya kuning! Aku hampir tak bisa menyelamatkannya!" Aku kembali geram saat teringat kejadian itu. "Sebenarnya siapa orang itu? Apakah kau tahu namanya? Dan kenapa dia selalu memakai topeng creepy itu?"
Caleb dan Lizzie saling bertukar pandang.
"Dia pernah memperkenalkan dirinya sebagai Souji tetapi bisa saja itu nama palsu... Kita tak bisa mengonfirmasikannya." tutur Caleb.
Iya, Souji itu sama dengan kami merupakan pemilik mata shinigami yang berarti kami tak bisa melihat data kematiannya. Dipikir-pikir, Caleb dan Lizzie bisa saja juga nama palsu, bukan nama asli mereka. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa soal kedua orang ini juga.
Aku mendesah keras. Aku menatap benang hijau pada pergelangan tanganku dan aku baru menyadari bahwa kedua orang itu juga tidak dapat melihat benang tersebut. Berarti hanya aku dan Yohan sajakah yang bisa melihat keberadaan benang ini? Para pemilik mata shinigami tidak bisa melihatnya, tetapi apakah shinigami lain bisa? Aku tak mau tahu. Ketemu shinigami Yohan saja sudah membuatku stres, aku tak ingin bertemu yang lain lagi...kecuali mungkin Reina. Ah, hatiku berat memikirkan Reina dan kesepakatan yang kubuat dengan Yohan. Akankah kesepakatan itu menempatkan Reina dalam bahaya?
Maaf, Reina, tapi aku...tak mau jadi mainan kunyahan untuk Cerberus.
"Kurasa ini saatnya kita mengirimkan pesan kepada para pemburu." tukas Lizzie mendadak.
Aku dan Caleb memandang gadis itu dengan bingung dan terkejut.
Lizzie memandangku dengan tajam. "Lain halnya jika mereka menyerangku atau Caleb, tapi mereka menyerang kau. KAU. Kau itu...dalam segi bahaya sebagai pemilik mata shinigami, kau itu sama sekali tidak berguna."
Aku merasa tersinggung dengan perkataan Lizzie yang blak-blakan tetapi gadis itu tidak mempedulikanku dan masih terus menyerocos.
"Mereka itu pengecut! Menyerang titik paling lemah dulu!" seru Lizzie.
Lizzie terlihat sangat marah...sedikit untukku yang membuatku dapat menolerir fakta bahwa dia baru saja mengejekku sebagai orang yang tak berguna walau, ugh, itu benar.
"Dan, bagaimana caramu mengirim pesan kepada para pemburu itu agar menjauhi Eva?" tanya Caleb.
Lizzie memandangi Caleb dalam-dalam.
Caleb seperti menyadari maksud gadis itu karena dia langsung terlihat tidak suka. "Tidak."
"Aku tahu kau tak suka akan keberadaan mereka tetapi mereka memiliki koneksi yang kita perlukan."
"Kau juga tak suka dengan mereka!" tukas Caleb.
"Kau yang bersikeras melibatkan diri dengan anak ini..." seru Lizzie sambil menunjukku. "Ini satu-satunya cara untuk mengamankannya."
Caleb seperti kehabisan kata-kata. Dia memegangi pelipisnya sepertinya sakit kepala juga.
"Mereka itu siapa?" tanyaku kesal. "Bisakah kalian melibatkanku dalam pembicaraan yang berhubungan denganku?" tukasku semakin geram saat aku melototi keduanya.
Caleb dan Lizzie masih saling berpandangan sebelum menoleh kepadaku.
"Koneksi yang kumaksudkan tadi...adalah sebuah organisasi yang kebanyakan beranggotakan orang-orang seperti kita..." tutur Caleb.
Aku mengerang pelan. Kenapa satu organisasi lagi? "Sebenarnya ada berapa banyak pemilik mata shinigami yang ada di dunia ini?"
Keduanya tak menjawabku. Sepertinya yang dikatakan Lizzie dulu benar, bukan hanya aku orang yang istimewa di dunia ini. Gila, tapi jadi sebenarnya ada berapa jiwa ilegal di dunia ini? Shinigami di dunia nyata itu...benar-benar tidak bertanggung jawab sekali akan jiwa-jiwa yang lepas dari tangan mereka.
"Ok, organisasi beranggotakan pemilik mata shinigami... Apakah kalian juga anggota organisasi itu?" tanyaku.
Caleb terlihat tidak tenang. "Kami...anggota...yang belum resmi secara formal. Mereka memang berkali-kali ingin merekrut kami. Dan seperti kata Lizzie, organisasi itu memiliki koneksi yang besar, kira-kira setara dengan organisasi milik para pemburu." tuturnya. "Hanya saja aku tidak mempercayai setiap pengikut dalam organisasi itu. Mereka...memberiku firasat yang tidak enak." Pemuda itu mengkerutkan dahinya seakan teringat kenangan buruk.
Aku menoleh ke arah Lizzie. "Dan kau ingin meminta tolong kepada mereka soalku?"
"Lebih baik kita manfaatkan koneksi mereka, kita tak harus mempercayai mereka seutuhnya." kata Lizzie.
Caleb menggelengkan kepalanya. "Mereka mungkin akan menginginkan pertemuan...denganmu, Eva, untuk menilai apakah kau pantas bergabung dengan mereka."
Aku buru-buru menolak. "Aku tak mau bergabung dengan organisasi mencurigakan seperti itu."
Lizzie mendengus. "Lagipula kau tak akan lolos."
Perkataan ketus gadis itu membuatku sangat sebal.
Lizzie menatap tajam Caleb. "Kita bergabung secara resmi dengan mereka, lalu meminta bantuan mereka agar Eva bisa dilindungi..."
Caleb terlihat seperti mempertimbangkan hal itu walau dia sepertinya tidak suka akan ide Lizzie.
"Jangan. Jika kalian tak mempercayai organisasi itu, sebaiknya kalian jangan bergabung dengan mereka, tidak demi diriku." pintaku. "Kalian lupa...aku saat ini hidupku sudah tak lama... Jangan mengikat diri kalian dengan organisasi mencurigakan seperti itu."
Sebenarnya aku kurang jelas apakah aku masih sekarat atau tidak. Kesepakatanku dengan Yohan itu kurang jelas. Aku malah main menyetujuinya. Aku berharap aku tak akan menyesalinya dikemudian hari.
Caleb dan Lizzie memandangku dengan agak prihatin.
"Jika kami tidak melakukannya, kau akan menghabiskan sisa hidupmu dalam bahaya. Kami tak akan selalu ada untuk melindungimu." ujar Caleb.
"Tak apa. Disekelilingku banyak orang berkeadilan tinggi. Mereka akan melindungiku." Aku berusaha meyakinkan keduanya padahal sama sekali tidak ada jaminan bahwa orang berkeadilan tinggi disekitarku akan benar atau mampu melindungiku. Kenapa aku sok suci sih? Seharusnya aku membiarkan mereka bergabung saja demi keselamatan diriku, tapi...aku tak ingin menjadi orang yang egois seperti itu.
"Aku masih berpikir bergabung dengan mereka lebih baik sementara ini." tutur Lizzie. "Mereka bisa menemukan target yang pantas dimusnahkan untuk menyelamatkan nyawamu, Eva."
Aku tak percaya dia mengatakan itu. "Aku tak mau membunuh siapapun." ujarku. "Aku tak akan bisa..." Mencabut nyawa orang lain...walau demi menyambung nyawa, rasanya aku tak bisa melakukan hal seperti itu.
Lizzie kelihatan gusar mendengar jawabanku sementara Caleb tersenyum lembut kepadaku seakan dia mengerti dan menerima jawabanku itu.
Aku harus bertemu lagi dengan Yohan nanti soal kejelasan kesepakatan kami. Dia bilang dia akan membiarkanku bertahan hidup selama aku bekerja sama dengannya, apakah itu berarti aku tak lagi sekarat? Ataukah peraturan yang sama masih berlaku, bahwa aku harus mencabut nyawa satu orang pemilik mata shinigami demi esensinya yang akan memperbaiki ragaku? Dan benang hijau ini maksudnya apa? Ugh, aku merasa sungguh bodoh karena menyetujui kesepakatan darinya tanpa pikir panjang. Gara-gara keberadaan mengerikan Cerberus juga...dan namanya itu...memang nama mitologi untuk anjing neraka...tapi sungguh tidak original sekali. Yah, tapi jika namanya Blacky mungkin wibawanya jadi berkurang.
Aku merasa sakit kepala lagi memikirkan situasiku yang makin lama makin tidak karuan. "Bisakah kalian memberitahuku? Bagaimana awal mula pembentukan organisasi pemburu?" tanyaku. "Kenapa mereka bisa tahu keberadaan kita? Dan kenapa mereka sangat percaya bahwa kita itu orang jahat?"
Lagi-lagi keduanya bertukar pandang agak lama seakan mereka sedang mempertimbangkan, apakah akan memberitahu aku atau tidak, secara telepati.
Caleb mendesah. "Aku tak tahu sejarah awal pembentukan organisasi pemburu. Mungkin organisasi mereka lebih tahu karena keduanya sepertinya sudah ada jauh lama bahkan sebelum aku muncul didunia ini."
Aku pusing dan benci dengan kata organisasi. "Organisasi yang tadi kalian bilang ingin bergabung...apakah mereka memiliki nama? Organisasi putih?" tanyaku dengan nada sarkastis.
"Letifer..." jawab Caleb. "Artinya death bringer."
"Kau bercanda? Itu seperti nama organisasi orang jahat." seruku. "Tidak heran para pemburu itu jadi ingin memburu kita!"
Lizzie tersenyum kecil mendengar perkataanku.
Caleb tertegun sesaat sebelum tertawa kecil. "Aku rasa mereka memilih nama itu untuk membawa ketakutan pada yang mendengarnya memang..."
"Tapi, serius, kenapa para pemburu itu sangat ingin sekali membunuh kita? Darimana mereka tahu soal kita?" tanyaku lagi.
Caleb berpikir sesaat. "Aku tak tahu jelasnya...tetapi aku mendengar salah satu kejadian yang membuat mereka menganggap kita ancaman. Ada seorang pemburu...yang anaknya adalah pemilik mata shinigami seperti kita... Pemburu itu...entah bagaimana mengetahui kebenaran dibalik jiwa kita..."
Aku tercekat mendengarnya. Pemburu itu tahu jiwa anaknya ditukar oleh jiwa lain.
"Dan dia awalnya tidak mempermasalahkannya. Anak orang itu berusaha menyelamatkan warna kuning sebisanya, dia terobsesi ingin menyelamatkan orang-orang, dia mempercayai dirinya sebagai penyelamat. Lalu, dia mengetahui keberadaan orang-orang yang sama dengannya, memiliki mata shinigami." tutur Caleb. "Entah bagaimana, dia menyadari jika dia membunuh sesama pemilik mata shinigami, dia akan memiliki lebih banyak kekuatan shinigami. Dengan kekuatan shinigami yang lebih banyak, dia berpikir dia bisa lebih menyelamatkan semua orang."
"Intinya, dia menjadi Light Yagami!" tukas Lizzie mendadak.
Aku terbelalak mendengar nama tokoh dari manga Death Note dari mulut gadis itu.
"Aku tak tahan dengan gaya ceritamu yang dibikin dramatis." ejek Lizzie kepada pemuda itu yang hanya nyegir, sama sekali tidak tersinggung. "Si Light Yagami Wannabe itu kebanyakan kekuatan yang membuatnya besar kepala dengan ego selangit. Dia berpikir ingin jadi seperti dewa yang menjadi judge, jury, executioner bagi semua warna. Intinya, si idiot itu akhirnya menarik perhatian semua orang termasuk para shinigami."
Aku tertegun mendengarnya. "Lalu apa yang terjadi pada si Light Yagami Wannabe itu?" tanyaku.
Caleb mendesah. "Kudengar ayahnya yang membunuhnya. Tetapi tidak sebelum orang itu memberitahu kebenaran yang sebenarnya kepada orang itu. Akhirnya sang ayah menjadi pemburu yang sungguh keras kepala dan kejam dalam memangsa orang-orang seperti kita...karena dia percaya keberadaan kita membawa takdir buruk pada dunia."
Aku tercekat mendengarnya. "Jika...jika itu benar, keberadaan kita...memang tidak baik, bukan? Jika ada yang menyalahgunakan kekuatan tersebut..." Dahiku berkerut memikirkannya. Bisa jadi semua pemilik mata shinigami di dunia ini adalah calon Kira dan apakah itu berarti para pemburu berada di sisi yang benar sebagai calon L?
"Mungkin keberadaan mereka diperlukan untuk mengontrol keberadaan orang-orang seperti kita..." tutur Caleb. "Tetapi, mereka tak pandang bulu dalam melakukannya. Buktinya mereka menargetkanmu...padahal kau salah apa?"
Iya, benar. Aku rasa aku tak melakukan hal buruk selama di dunia ini tetapi fakta itu sepertinya tak akan mengubah pendirian para pemburu yang sudah yakin dengan misi mereka untuk menyingkirkan semua pemilik mata shinigami dari dunia ini. Bahkan wujudku sebagai anak kecil tak membuat mereka mundur untuk menargetkanku.
Aku mendesah. Hampir terbersit dalam pikiranku bahwa aku lebih suka sekarat lagi saja dan menunggu mati daripada diburu seperti binatang oleh para pemburu. Jika bukan karena Yohan dan ancamannya dengan Cerberus... Ugh!
"Aku akan memenuhi undangan mereka. Mungkin mereka memiliki solusi untukmu, Eva, perihal shinigami yang memergokimu itu..." ujar Caleb mendadak.
"Apa? Tidak usah!" protesku.
Pemuda itu tidak mempedulikan protesku dan menoleh kepada Lizzie. "Masalahnya saat kami harus menghadiri undangan mereka, kau akan disini seorang diri sebagai target yang mudah didapat." ujarnya.
Lizzie mengerutkan dahinya. "Dan ada Souji juga, kita masih tak tahu sebenarnya apa tujuannya kepadamu, Eva. Mana tahu dia akan menggunakan kesempatan ini untuk membunuhmu demi mendapatkan esensi shinigami-mu."
Gila, aku jadi banyak musuh di dunia ini. Aku mendesah galau.
"Bagaimana dengan orang bernama Subaru yang kau katakan padaku, Eva?" tanya Caleb mendadak. "Apa kau mempercayai orang itu?"
Lizzie kelihatan hendak protes tetapi Caleb menghentikannya dengan tangannya.
Aku terbelalak mendengar Caleb menyebutkan soal Subaru. Aku menenangkan diri sesaat. "Aku mempercayai orang itu. Dia pernah menyelamatkanku."
Caleb mengamatiku lekat-lekat. "Jika demikian, jadwalkan pertemuan dengannya. Aku harus memastikan sendiri apakah dia benar sanggup bisa melindungimu. Karena para pemburu itu...tak akan segan membunuh orang yang menghalangi mereka dari targetnya..."
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Subaru melangkah masuk membuat kami bertiga terperanjat. Dia membawa rangkaian bunga dalam genggamannya.
"Kalau begitu, mari berbicara..." ujarnya langsung nimbrung percakapan kami.
Aku hanya bisa melongo, melihat kemunculan orang itu.
Caleb dan Lizzie menatap tajam Subaru dengan posisi tubuh yang agak defensif seakan orang itu hendak mengajak mereka baku hantam saja.
"Shuichi Akai..." tukas Caleb dengan nada dingin. Dia sengaja menyebutkan nama asli orang itu. "Mencuri dengar pembicaraan orang bukanlah tindakan yang terpuji."
Aku mengernyit saat mendengar nama asli Subaru dari mulut Caleb. Aku jadi tegang padahal aku tahu hal itu tak akan terhindarkan momen dimana mereka bertemu muka.
Subaru tidak bereaksi bahkan saat mendengar orang asing yang baru pertama kali ditemuinya mampu mengetahui nama aslinya. "Saya akan menghargainya jika anda tidak sembarangan menyebutkan nama asli saya di tempat publik." tuturnya santai. "Dan seharusnya kalian yang berhati-hati untuk tidak membicarakan hal bersifat rahasia di tempat seperti ini."
Caleb dan Lizzie kelihatan seperti dua remaja yang habis ditegur saja, membuatku menahan senyum kecil. Tetapi Subaru benar, kami bertiga ceroboh.
Subaru memperkenalkan dirinya dengan nama palsunya. Caleb dengan agak enggan terpaksa memperkenalkan dirinya dan Lizzie.
Subaru menghampiriku dan menyodorkan rangkaian bunga itu padaku. "Saya lega melihatmu kelihatan lebih sehat, Eva." Dia tersenyum lembut kepadaku, membuatku jadi salah tingkah.
Subaru lalu menoleh kepada Caleb dan Lizzie. "Bolehkah saya menyarankan tempat lain untuk melanjutkan diskusi kita?" tanyanya dengan sopan.
"Tunggu, apapun yang kalian bicarakan, aku mau tahu juga!" seruku.
"Itu bisa diatur, tenanglah, Eva." ujar Subaru kepadaku sebelum kembali berpandangan fokus kepada Caleb.
Caleb masih menatap tajam Subaru sebelum akhirnya mendesah. Dia menoleh kepadaku. "Kau benar-benar yakin akan dia?" tanyanya.
Tanpa ragu, aku mengangguk.
Caleb mendesah lagi. "Baiklah." Dia mengeluarkan sebuah kartu nama dan melemparkannya kepada Subaru yang dengan sukses menangkapnya. "Ayo, kita pergi, Lizzie."
Lizzie kelihatan tidak senang tetapi dia menuruti Caleb dan pergi.
Aku memandang kepergian mereka. Aku menoleh ke arah Subaru yang tengah mengamatiku.
"Kau sungguh yakin dalam mempercayaiku soal ini..." tuturnya dengan agak heran.
Aku menatap orang itu sebelum tersenyum secemerlang mungkin. "Tentu saja karena Kakak adalah musuh orang jahat!"
Subaru terpana memandangku sebelum perlahan tersenyum akan kepolosan kekanak-kanakan yang kutampilkan.
Saat itu sama sekali tidak terlintas dipikiranku bahwa adanya kemungkinan aku-lah yang akan berada di posisi orang jahat suatu hari nanti.
"Lalu, soal apa ini...yang kudengar bahwa Eva hidupnya sudah tidak lama lagi...?" tanya Subaru menatapku dengan tajam sebelum membetulkan letak kacamatanya.
Aku hanya bisa menelan ludah dengan tegang mendengar pertanyaan dia dan tatapannya yang menginterogasi.
