Aku berjalan pulang seorang diri. Aku habis mampir menjenguk Yuka yang tidak masuk sekolah semenjak kejadian waktu itu akan tetapi anak itu menolak untuk menemuiku. Dia mengurung diri dikamarnya dan sering menangis keras jika dipaksa orangtuanya untuk keluar kamar. Aku tak tahu harus bagaimana untuk menolong anak itu. Sebenarnya juga aku ingin menanyakan bagaimana Yuka bisa berhubungan dengan pemuda bertopeng putih itu dan apa yang dikatakan orang itu kepadanya.

Aku mendesah pasrah, mengetahui aku tak akan bisa bicara dengan anak itu sementara ini. Aku harap dia segera tenang kembali. Aku ada berbicara padanya dari depan pintu kamarnya dan aku mengatakan bahwa aku dan Miyuki merindukan kehadirannya disekolah namun tidak ditanggapi. Saat orangtuanya sedang tidak mengawasiku, aku mengatakan kepadanya bahwa aku tak akan pernah membencinya dan dia tak perlu merasa bersalah kepada Eva.

Aku sebenarnya tak memiliki ingatan soal kecelakaan yang menimpa Eva yang asli tetapi aku yakin hal itu tidak seburuk yang dipikirkan Yuka. Apapun itu, aku yakin itu cuma kecelakaan semata dan bahwa Yuka dan Nanno tak ada niat buruk pada Eva. Aku tak ingin memikirkan kemungkinan adanya drama tidak jelas dalam persahabatan mereka...kami? Ugh! Aku memijit pelipisku saat merasa kepalaku mulai berdenyut-denyut lagi. Aku yakin pemuda bertopeng putih itu entah bagaimana memanipulasi emosi Yuka yang sedang labil. Entah kenapa aku yakin pemuda itu adalah penjahatnya dalam situasi ini. Fakta bahwa dia membiarkan Yuka nyaris kehilangan nyawa membuktikan semua itu.

Berbicara soal itu, aku jadi kepikiran akan apa yang dikatakan pemuda bertopeng putih yang kemungkinan bernama Souji itu soal Cecily dan Reina sebagai satu shinigami yang sama. Aku berasumsi bahwa Cecily ini adalah shinigami yang membawa Souji ke dunia ini. Akan lebih baik jika aku bisa menanyakan langsung pada Souji kenapa dia bisa berpikiran bahwa Cecily dan Reina adalah orang yang sama. Juga darimana pula dia tahu bahwa aku ada kontak langsung dengan shinigami Reina? Caleb dan Lizzie saja mengatakan bahwa mereka tak pernah bertemu langsung dengan shinigami yang membawa mereka ke dunia ini dan...yang mengetahui soal Reina hanyalah Caleb, Lizzie...dan Amuro?

Aku mendengus akan pemikiran paranoid-ku bahwa kemungkinan dari salah satu ketiga orang ini-lah Souji mendapat pengetahuan soal Reina. Atau-kah Souji mengetahuinya dari pengamatannya kepadaku selama ini? Tapi dari semua pemilik mata shinigami yang ada di dunia ini, kenapa dia bisa menemukanku bahkan menyadari bahwa aku memiliki kontak dengan Reina? Duh, kepala-ku mulai berdenyut-denyut lagi.

Mengenai Reina, gadis itu pernah mengatakan bahwa jiwa yang tersesat seperti diriku ada banyak dan bahwa kemungkinan bukan Reina seorang yang menghindari hukuman akibat kelalaian menangani jiwa dengan membawa jiwa tersebut ke dunia lain. Keberadaan para pemilik mata shinigami di dunia ini mengonfirmasi semua itu. Tetapi, aku heran shinigami di dunia nyata itu memangnya tidak memiliki data jiwa yang ter-update? Jumlah jiwa yang tersesat sepertinya lumayan banyak, apakah benar hal itu terlewatkan dari perhatian mereka? Sebenarnya tidak heran juga, jika pemerintah saja suka kesulitan mendatakan jumlah penduduk mereka, tidak heran jika shinigami juga mengalami kesulitan yang sama dalam mendata semua jiwa di dunia, bukan?

Lalu, aku teringat juga akan perkataan Reina bahwa saat ini dia sedang difitnah dan diburu oleh Reaper Council. Aku memang sebenarnya tidak mengenal Reina sama sekali bukan? Bisakah aku mempercayai gadis itu saat dia bersikukuh bahwa dia difitnah? Aku bahkan tidak tahu dia difitnah soal apa. Tetapi, Reina mengatakan diriku juga dalam bahaya dan bahwa shinigami dari dunia nyata juga akan mencariku. Aku berasumsi Reina terjebak dalam masalah besar dan kemungkinan fakta bahwa dia melakukan pelanggaran telah terbongkar makanya mereka juga berniat mencariku.

Sayangnya aku tidak pernah menanyakan pada gadis itu soal apakah aku adalah kelalaian yang pertama dia lakukan ataukah dia pernah mengirim jiwa lain selain diriku ke dunia lain. Mendadak aku juga jadi teringat Reina yang pernah meminta maaf padaku karena menyebabkan diriku memiliki mata shinigami, bahwa nasib pemilik mata shinigami tidak bagus. Dia benar-benar terlihat tidak enak kepadaku saat itu. Apakah dia hanya pura-pura menampilkan rasa simpati padaku? Sepertinya dia tahu terlalu jelas akan nasib jelek yang kemungkinan dimiliki pemilik mata shinigami seakan dia pernah menyaksikan langsung hal itu pada orang lain. Bagaimana jika orang itu adalah Souji? Bagaimana jika Reina benar adalah Cecily? Bukankah Reina memang pernah mengatakan dia memakai nama Reina sebagai nama alias semata karena kami ada di Jepang? Tapi, jika memang Reina adalah yang membawa Souji ke dunia ini, untuk apa dia ganti namanya dari Cecily jadi Reina? Supaya Souji tak mengenalinya? Atau dia sekedar iseng ingin ganti nama ataukah dia berganti nama untuk berjaga-jaga supaya tidak ada yang bisa menghubungkan bahwa dia-lah yang membawa Souji ke dunia ini juga?

Tetapi Souji sepertinya sangat mempercayai bahwa Cecily dan Reina adalah orang yang sama? Kenapa? Ugh, aku tak akan bisa mengetahuinya kecuali aku bisa menanyakannya langsung pada Souji atau Reina. Entah mereka akan jujur atau tidak jika ditanya. Lagipula, aku tidak begitu ingin bertemu langsung dengan Souji karena peringatan Caleb dan Lizzie bahwa Souji ini suka membunuh sesama pemilik mata shinigami.

"Eva?"

Aku menyadari ada yang memanggilku yang sedang melamun di pinggir jalan dan tentu saja orang itu ternyata Amuro. Aku tersenyum tipis saat melihat pemuda itu. "Hai, Kak Amuro." sapaku.

Amuro membalas senyumanku dengan ramah. "Kau tak apa-apa? Kudengar kau masuk rumah sakit lagi?"

Aku mendesah dengan agak gusar. "Iya, sepertinya aku akan jadi langganan tetap rumah sakit..." tukasku.

"Apa kau sekarang sudah sehat?" tanya Amuro sembari mencermati diriku seakan dia seorang dokter yang bisa mendiagnosa pasiennya hanya dengan mengamatinya.

Aku menampilkan senyum secemerlang mungkin. "Aku baik-baik saja."

"Syukurlah jika demikian. Tetapi, sepertinya Eva sedang dilanda masalah lagi?"

Aku terperanjat mendengar perkataan dia. "Kenapa Kakak bisa berpikir begitu?"

Dia tersenyum tipis lalu menepuk kepalaku. "Karena Eva kelihatan sedih."

Sedih? Aku mengamati Amuro dengan agak bingung. Apakah default setting ekspresi wajahku itu tertahan di posisi kelihatan sedih? Aku mendesah. "Yuka tak ingin berbicara denganku..." tuturku. Mulutku malah langsung membicarakan soal Yuka kepada dia. "Aku rasa dia menyalahkanku..."

"Memangnya kalian bertengkar soal apa?"

Aku mendesah lagi. "Terlalu rumit untuk dimengerti..."

Amuro memandangku sesaat sebelum tertawa geli mendengar perkataanku. Dia kembali menepuk kepalaku. "Sabarlah, nanti juga kalian akan berbaikan lagi."

Jujur aku merasa agak lelah, rasanya aku tak ingin terlalu berusaha keras untuk mempertahankan persahabatan ini. Aku menyadari pemikiran ini berasal dari diriku yang asli. Dahulu saat aku masih hidup, aku tidak memiliki banyak teman dan beberapa teman yang kumiliki, aku kurang bisa mempertahankan persahabatan. Aku cuma bisa basa basi dengan mereka dan tak bisa menemukan koneksi yang bisa membuat kami lebih dekat lagi. Tahun bertahun berlalu dan aku mulai menyadari temanku itu tak pernah mencariku dan aku yang harus mencari mereka, itupun kami hanya bertukar sepatah kata via chat. Mungkin hal itu dikarenakan aku sangat penyendiri sampai malas keluar rumah dan aku tak pernah mengajak mereka untuk bertemu. Alhasil persahabatan kami memudar dan kami sudah menjadi orang yang asing dengan satu sama lain. Setelah itu, aku meyakinkan diriku bahwa diriku terlalu lelah sekarang untuk memulai persahabatan baru karena aku tidak menyukai diriku sendiri dan aku yakin orang lain pun tak akan menyukai diriku.

Aku tak ingin pemikiran dan perilaku yang menyedihkan seperti itu kembali menggerogotiku. Kehidupan kedua ini harus berbeda. Aku memejamkan mata sesaat menuturkan doa agar aku dikuatkan lahir dan batin.

Melihat betapa muramnya diriku, Amuro tiba-tiba mengajakku untuk pergi makan es krim bersamanya. Aku tidak akan menolak kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan orang ini walau sempat terbersit dipikiranku apakah Amuro memiliki maksud tertentu dibalik ajakannya kepadaku.

Dia lalu menggandeng tanganku dan kami pun melangkah bersama menuju toko es krim di kota.

Kami memasuki toko es krim dan setelah memesan di kasir, Amuro menyuruhku mencari tempat duduk. Aku pun segera mencari tempat duduk yang enak dan agak jauh dari tamu-tamu toko yang juga sedang menikmati es krim.

Tiba-tiba, aku menyadari sosok Yohan yang sedang duduk didekat jendela kaca sambil menikmati es krimnya. Aku membelalakan mata dengan tidak percaya saat melihatnya. Aku menoleh ke arah Amuro yang masih mengantri. Aku menelan ludah lalu aku melangkah mendekati Yohan. Aku langsung duduk dikursi depannya.

Yohan kelihatan sedang asyik menikmati es krim mint chocolate chip-nya dengan wajah yang sangat bahagia.

Aku memandangi dia dengan cermat sembari memikirkan apakah keberadaan dia disini kesengajaan untuk menemui diriku ataukah kebetulan semata. "Yohan, kau sedang apa disini? Apakah kau mengikutiku?" Akhirnya aku memutuskan menanyakan langsung daripada menebak-nebak sendiri dengan tegang.

Yohan menatapku dengan agak tersinggung. "Aku yang disini duluan. Buat apa aku mengikutimu terus? The world does not revolve around you, you know?" ujarnya dengan sinis.

Aku memutar bola mataku dengan sinis juga. "Aku memiliki alasan untuk berpikir kau mengikutiku. Apakah kau benar-benar kebetulan saja berada disini?"

"Es krim disini enak..."

"Kau suka apel?" tanyaku random membuat Yohan tertegun. "Atau pizza?" Aku menanyakan itu karena teringat dewa kematian dalam Death Note tergila-gila akan apel sedangkan dewa kematian dalam Supernatural menyukai pizza.

"Apakah kau sedang mencoba untuk menyogokku dengan makanan?" tanyanya.

"Hah? Tidak!" seruku cepat. "Memangnya bisa berhasil?" tanyaku sesaat kemudian. "Apakah Shinigami perlu makan?"

"Memangnya kenapa? Aku dewa kematian sudah mati jadi tak perlu makan?" tanyanya agak sengit.

"Aku cuma sekedar bertanya saja, aku tidak melarangmu untuk makan." jawabku berusaha menenangkan orang itu. Dalam hati, aku merasa agak geli terhadap perilaku Yohan yang sangat defensif terhadap makanan. Rasanya image misteriusnya jadi agak retak melihatnya bertingkah sedemikian rupa terhadap topik makanan.

Aku tersenyum memandangi Yohan yang kembali menikmati es krimnya. Aku mengerjap-ngerjapkan mata saat menyadari sesuatu. Apakah ini berarti semua orang bisa melihat dia saat ini? Yohan pesan es krim ditoko ini, bukan? Membayarnya di kasir lalu duduk makan-makan disini jadi apakah saat ini dia wujudnya terlihat oleh orang-orang? Waduh, apakah Amuro melihatku sedang duduk dan mengobrol dengan dia saat ini? Aku menoleh ke arah Amuro yang kebetulan melihatku dan dia tersenyum kepadaku tetapi dia tidak memperlihatkan reaksi akan Yohan yang berada di sampingku.

"Peception filter. Aku disini tapi juga tidak disini. Orang-orang melihatku tetapi tak benar-benar menyadari keberadaanku." tutur Yohan mendadak seakan menjawab pertanyaan dalam pikiranku.

Aku mendadak merasa ngeri memikirkan apakah dia bisa membaca pikiranku.

"Aku tak bisa membaca pikiranmu." ujarnya lagi sembari mengamatiku dengan senyum agak dingin. "Bisa saja kulakukan jika aku mau. Kau ini...benar-benar tidak bisa menyembunyikan isi pikiranmu, yang kau pikirkan terpampang jelas dalam raut wajahmu setidaknya dalam hal ini..." Dia memandang benang hijau pada pergelangan tanganku. "Apakah kau memiliki pertanyaan soal kesepakatan kita?"

"Iya, benang ini tanda kesepakatan kita? Maksudnya bagaimana ini?"

"Benar, benang itu menandakan perjanjian yang kau buat denganku...juga benang itu memberitahu keberadaanmu kepadaku. Selama benang itu ada padamu, kau tak akan pernah bisa lari atau bersembunyi dariku." jelasnya santai.

Aku menelan ludah dengan berat hati saat mendengar penjelasannya. "Kau bilang kau akan membiarkanku tetap hidup untuk bekerja sama denganmu. Apakah itu artinya aku sudah tak sekarat lagi?"

"Aku memberimu sedikit esensi milikku...bisa dibilang untuk menambal nyawamu sementara ini tetapi efeknya hanya sementara saja, kau masih sekarat...hanya saja tubuhmu tak akan mudah kehilangan kontrol seperti sebelumnya." tuturnya. "Dan...karena aku sangat dermawan, aku juga memberimu semacam bel peringatan dalam benang itu. Hijau artinya kau masih aman. Jika berubah warna kuning, artinya nyawamu dalam bahaya. Tapi, aku yakin kau mengetahui soal warna dalam data kematian, bukan?"

"Aku masih sekarat?" tanyaku dengan emosi yang amburadul, antara sedih, takut dan pasrah. Tiba-tiba aku teringat perkataan Lizzie soal menyambung nyawaku dengan menukarkannya dengan nyawa lain. Aku menatap Yohan dengan bimbang, ingin menanyakan kebenarannya tetapi aku takut dia menanyakan darimana aku mengetahui informasi itu. Bagaimanapun aku tak ingin membuat Caleb dan Lizzie berada dalam sasaran orang ini. "Apakah tak ada cara lain supaya aku tidak lagi sekarat?"

Yohan memandangiku dalam-dalam. "Kau ingin tetap hidup?" tanyanya seakan agak terkejut.

Pertanyaan macam apa itu. Tentu saja aku ingin tetap hidup. Iya, kan? Sebersit keraguan memasuki batinku.

"Kau...jiwa-mu itu...tidak seperti berharap ingin terus hidup..." tuturnya.

Aku menggelengkan kepala keras-keras, berusaha mengusir bisikan-bisikan negatif yang selalu menggerogoti jiwaku. Ingin mati bukan berarti aku benar-benar ingin mengakhiri hidupku. Rasanya pemikiran itu hanyalah sebatas fantasi bahwa jika keadaan terlalu buruk, aku punya escape plan. Aku tak pernah bermaksud untuk benar-benar ingin mati.

Aku menghentikan pemikiranku soal isu itu dari berlanjut lagi karena berdasarkan pengalaman aku akan merasa malu pada diriku sendiri karena ingin menyia-nyiakan 'karunia' kehidupan atau benci diri sendiri karena aku tak benar-benar ingin mati yang berarti apakah aku hendak mencari perhatian saja dengan menggunakan label ingin mati?

"Aku...ingin hidup..." tuturku dengan tekad yang terdengar lemah.

"Kau sepertinya tidak yakin."

"Dari awalnya juga aku sama sekali tidak berniat mati. Aku mati gara-gara kelalaian shinigami."

"Apakah itu yang dikatakan...Reina...kepadamu?" tanyanya. "Karena kelalaian dia, kau jadi mati?"

Aku merasa sungguh terbebani oleh perkataan Yohan. Aku tidak suka. Aku tak ingin berpikir terlalu dalam soal itu. Aku merasa sesak nafas untuk sesaat.

"Apa yang akan terjadi pada jiwa ilegal sepertiku? Apakah kau tahu nasib jiwa sepertiku?" tanyaku setelah tenang kembali.

Yohan memegangi dagunya sembari berpikir. "Belakangan ini, memang sepertinya ada beberapa kasus jiwa ilegal yang tidak ada cacatannya seperti kau. Aku mendengar beberapa kasus soal jiwa ilegal yang mati...dibunuh... Kondisi jiwa mereka agak aneh, esensi jiwa mereka seperti habis disedot, mengkerut bagai mumi. Ditemukan sedikit bekas keberadaan esensi shinigami pada diri mereka namun esensi shinigami itu terasa aneh." Dia tiba-tiba menatapku tajam. "Sama seperti esensi dalam dirimu."

Terasa aneh? Aku menelan ludah berpikir apakah keanehan itu karena esensi shinigami itu dari dunia nyata? Aku merasa tertekan saat orang ini memandangiku sembari menekankan keanehan pada esensi-ku.

"Dan yang terburuk adalah kondisi jiwa itu sendiri...jiwa yang terluka dan kehilangan jati diri..." Dia perlahan memandangi lalu tiba-tiba tersenyum dingin. "Mungkin lebih baik kuperlihatkan langsung saja kepadamu...mungkin saja kau akan lebih bermotivasi untuk bertahan hidup setelah ini..."

Aku belum sempat menanyakan apa maksudnya ketika kepalaku terasa sakit dan pandanganku menggelap.

Aku membuka mataku dan terheran-heran melihat bahwa aku berada disebuah hutan pinus cemara? Aku memandangi sekelilingku dengan bingung. Aku tak tahu jelasnya kenapa Yohan membawaku kesini tetapi dia mengatakan sesuatu tentang memperlihatkan sesuatu padaku agar aku...lebih bermotivasi untuk hidup? Apakah itu berarti ada bahaya disini? Aku berasumsi dia berniat meletakkanku dalam bahaya untuk melihat apakah aku akan berjuang untuk hidup atau menyerah. Semacam tes? Jujur saja jika demikian, aku tak tahu apa yang akan kulakukan dalam situasi hidup dan mati. Apakah benar aku hanya akan pasrah?

Tetapi jika ada sekumpulan zombie disini (Oh, Tuhan, jangan sampai ada yang mengerikan seperti itu!), aku pasti akan lari ketakutan dan berusaha untuk menyelamatkan diri. Memangnya siapa yang mau cari mati yang menyakitkan seperti dimakan hidup-hidup? Duh, aku ini mikir apa sih?

Dalam film horor, jika tokoh dalam ceritanya menemukan diri mereka di tempat tak dikenal nan sunyi, mereka cenderung selalu meneriakkan hello saat ingin mencari tahu apakah ada orang disekitarnya. Tentu saja buntutnya ada saja makhluk tidak jelas yang bernaluri memburu dan membunuh atau pembunuh berkapak. Aku tak tahu dimana aku berada saat ini tapi aku tak mau memanggil-manggil tidak jelas dan mewaspadakan potensi pembunuhku akan kehadiranku. Tetapi diam tak jelas seperti ini juga tak berguna. Mana tahu saat ini sudah ada mata yang mengawasiku.

Aku menelan ludah dan mulai berlangkah disetapak jalan dalam hutan yang terlihat luas dan sunyi itu. Aku tak mendengar satu pun suara burung ataupun suara serangga. Ugh, sekarang aku sedang berada di suatu tempat yang berpotensi horor, bukan?

Sebelum aku berada disini, aku sedang menanyakan perihal apa yang akan terjadi kepada jiwa ilegal sepertiku dan Yohan malah jadi membawaku kesini untuk menunjukkannya namun shinigami itu tidak terlihat batang hidungnya. Aku rasa aku harus mencari tahu dahulu sebenarnya apa yang Yohan ingin perlihatkan padaku. Aku berasumsi jiwa ilegal sepertiku ada ditempat ini...dimanapun tempat ini berada. Apakah semacam limbo? Neraka? Neraka berbentuk hutan pinus cemara? Ha-ha!

Aku mendesah dan membulatkan tekad untuk memberanikan diri untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarku.

Setelah beberapa saat berjalan, aku dihadapan oleh 2 pilihan, jalan ke kiri atau ke kanan. Ugh! Kenapa harus ada yang semacam ini? Bagaimana jika aku memilih jalan yang salah? Aku berputar-putar di satu tempat sembari menutup mata sampai kepalaku keleyengan sendiri lalu asal memilih jalan yang pertama arah tubuhku bergerak. Aku menarik nafas panjang dan mulai membuka mata, memfokuskan kembali pandanganku sebelum mulai melangkah.

Aku melihat seorang wanita berambut panjang berdiri membelakangiku di ujung jalan. Dia berpakaian seperti wanita kantoran. Tetapi dia terus membelakangiku membuatku merasa takut bahwa wanita itu akan berwajah horor saat dia menghadapiku nanti. Aku tak berani menyapanya.

Wanita itu tiba-tiba berseru dengan lirih, "Siapa disana? Apakah ada orang disana? Bisakah kau menolongku? Aku...tak tahu aku berada dimana..." Dia terdengar putus asa membuatku merasa agak kasihan tetapi rasa kasihan itu langsung pupus digantikan kengerian saat wanita itu menoleh dan membenarkan apa yang kutakutkan tadi. Wanita itu tak memiliki wajah. Mata, hidung dan mulutnya tidak ada. Kalau begitu bagaimana tadi dia bisa berbicara?

Wanita itu seakan mendesah lega saat 'melihat'-ku. "Oh, syukurlah, ada orang lain juga disini... Tempat ini sungguh aneh."

Aku melangkah mundur saat wanita itu melangkah mendekatiku.

Wanita itu terdiam melihatku mundur. "Please...jangan pergi...jangan tinggalkan aku sendiri lagi..." pintanya.

Aku tak tahu harus berkata apa. Sekujur tubuhku meremang dihadapan wanita itu. Instingku seperti menyuruhku lari. "Maaf..." ucapku dengan lirih sebelum aku memutar badan dan lari.

Wanita itu ikut berlari mengejarku. "Jangan pergi!"

Aku semakin memperkencang lari-ku dan entah bagaimana aku berhasil meloloskan diri. Dengan nafas terengah-engah, aku duduk didekat tepian sungai yang kutemukan. Apakah wanita itu jiwa yang sudah mati? Apakah dia tidak menyadari dirinya sudah mati? Kenapa wajahnya seperti itu?

Aku merasa capek sehabis berlari kencang dan aku agak kehausan. Melihat air sungai yang terlihat bersih dan airnya sejuk hampir membuatku ingin mencicipi air untuk minum namun aku teringat kisah semacam ini. Jika kau mendapatkan dirimu berada ditempat yang aneh dan semacam limbo, kau tak boleh makan dan minum apapun yang ada disana. Aku tak tahu apakah peraturan itu berlaku juga ditempat ini. Better safe than sorry. Aku sungguh berharap Yohan tidak akan meninggalkanku ditempat ini untuk waktu yang lama.

Aku memandangi pantulan bayanganku pada air sungai. Tubuhku menegang saat sekilas aku melihat sosok hitam dibelakangku dari pantulan bayangan air sungai. Aku tak bisa melihat jelas sosok itu karena riak air sungai tetapi sepertinya benar-benar ada sosok hitam yang sedang mengamatiku diam-diam. Aku mengambil beberapa batu kerikil dalam genggamanku diam-diam lalu dengan gerakan secepat yang aku bisa aku langsung memutar badan dan melemparkannya ke arah dimana aku melihat sosok tersebut. Namun aku tak melihat sosok hitam itu dimanapun.

Aku tak tahan dengan aura suspense yang mengelilingiku saat ini. Aku tak mau berada disini lebih lama lagi. Aku mendongak ke atas langit dan berseru, "Yohan, bawa aku kembali! Ini tidak lucu! Aku tak suka berada disini!"

Tiba-tiba, sosok-sosok hitam pekat tanpa wajah keluar dari balik pepohonan membuatku tercengang dan mundur ketakutan.

"Orang hidup...dia bernyawa...aku ingin..."

Tiba-tiba aku mendengar bisikan-bisikan dalam angin disekelilingku dan aku menyadari bahwa itu adalah suara-suara dari gerombolan sosok hitam pekat itu yang dengan gaya yang agak sempoyongan dan agak creepy melangkah mendekatiku. Aku menyadari aku terpojok aku tak bisa lari kemanapun kecuali ke dalam sungai tapi aku tak tahu apakah sungai ini juga aman. Bagaimana jika ada makhluk aneh juga didalam sana?

Aku semakin panik saat aku berteriak-teriak memanggil Yohan untuk membawaku kembali. Aku terpaksa melangkah ke dalam sungai namun sepertinya hal itu tidak menghentikan gerakan gerombolan itu dari mendekatiku.

"Pergi! Jangan mendekat!" seruku. "Tolong!" Aku meminta tolong entah kepada siapa.

Tiba-tiba ada sesuatu yang menarik pergelangan kakiku dan aku dengan ngeri memandang ke bawah. Aku menjerit saat melihat tangan hitam yang sedang menggenggam kakiku. Lalu gerombolan tadi sudah melangkah dalam sungai sambil menjulurkan tangan bagai zombie kelaparan. Aku menjerit dengan putus asa saat tangan-tangan itu mulai meraba dan menarik-narikku.

Tiba-tiba semua sosok hitam pekat itu menghilang mendadak. Aku masih berdiri didalam sungai dalam keadaan shock dan kebingungan. Tubuhku masih gemetaran. Sesuatu menarik perhatianku, aku melihat pantulan bayanganku dan aku memekik ngeri saat menyadari aku melihat bayanganku juga tak memiliki wajah sama seperti wanita yang tadi. Aku tercekat sembari meraba wajahku dan benar saja aku tak bisa menemukan mata, hidung dan mulutku. Aku menjerit dan memang suara jeritanku keluar seakan aku masih memiliki lubang mulut namun...

"Eva? Eva!""

Aku seperti terbangun dari mimpi buruk saat Amuro menghentakkan tubuhku untuk menarik perhatianku. Airmata berlinang membasahi pipiku dan nafasku terengah-engah seakan aku habis berlari kencang atau habis keluar dari dalam air setelah hampir tenggelam. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku memandangi Amuro yang kelihatan sangat khawatir padaku. Aku merasa sesak nafas dan untuk sesaat aku seperti lupa cara bernafas.

Aku menyadari Yohan sudah tidak ada ditempat. Sama sekali tak ada bukti jejak keberadaan dia disana. Aku berusaha untuk memfokuskan perhatianku pada Amuro yang tengah menginstruksikan diriku untuk bernafas normal lagi. Setelah aku berhasil mengatur nafas, aku mulai menangis.

Aku tak bisa berhenti menangis, semakin membuat Amuro khawatir. Dia menarikku dalam pelukannya sembari menepuk-nepuk punggungku. Saat itu aku bahkan tidak peduli bahwa penampilanku sungguh jelek dan bahwa aku hampir menangis meraung-raung dalam pelukan orang yang kusukai itu.

Apakah itu preview yang akan terjadi pada jiwaku saat aku mati nanti? Menjadi hantu tanpa wajah dan berkeliaran dalam hutan seperti wanita itu?

Aku benar-benar benci dengan Yohan lalu Reina saat itu karena menempatkanku dalam situasi seperti ini.

Amuro mengamatiku dengan prihatin dimana aku masih menangis sembari cegukan dan menghabiskan banyak tissue untuk membuang ingus. Ugh, aku benar-benar kelihatan jelek saat ini. Saat mulai tenang kembali nanti mungkin aku baru bisa mulai merasa malu. Amuro dengan sabar membiarkanku menangis sepuas-puasnya sama sekali tidak mempermasalahkan orang-orang yang melihat kami.

Ada beberapa gadis yang menghampiri dia untuk menanyakan apakah adiknya baik-baik saja. Namun orang itu hanya tersenyum sopan dan mengatakan kami baik-baik saja. Sepertinya aku sudah mulai tenang kembali karena aku merasakan kegusaran terhadap gadis-gadis ini yang menggunakan keadaanku untuk berbicara dengan Amuro.

Amuro memusatkan perhatiannya kepadaku tetapi dia tidak mendesakku untuk menceritakan kenapa aku tiba-tiba seperti nervous breakdown.

Jujur juga aku tak tahu harus beralasan apa untuk menjelaskan kondisiku tadi. Akhirnya setelah kembali tenang, aku izin ke toilet dulu untuk membasuh dan memperbaiki muka.

Sekembalinya dari toilet, aku membungkukkan badan, meminta maaf kepada Amuro atas sikap jelek-ku tadi. Amuro tidak mau menerima permintaan maafku karena menurutnya aku tak melakukan kesalahan apapun. Aku semakin tidak enak hati kepada orang ini.

Amuro mengajakku jalan-jalan sebentar seakan ingin menghiburku. Aku pun mengirimkan pesan kepada Mama bahwa aku tak akan langsung pulang hari itu. Ketika Mama tahu bahwa aku bersama dengan Amuro, dia mengirimkan sekumpulan emoji macam-macam yang sepertinya membentuk kalimat tertentu hanya saja aku sama sekali tak bisa menafsirkannya. Mama-ku yang satu ini gaul sekali sampai bisa bahasa emoji. Aku kalah...

Orang ini benar-benar pengertian, tidak mengungkit kejadian tadi, menyadari mungkin aku tak begitu ingin menceritakannya. Mau tak mau perasaanku menjadi sedikit lebih baik daripada tadi. Yohan itu benar-benar penghancur mood.

Tidak sengaja kami berpapasan dengan Conan dan teman-temannya. Ai kelihatan agak tegang saat melihat Amuro. Tidakkah Conan memberitahu dia bahwa Amuro itu bukan orang jahat, bahwa dia itu agen PSB? Ataukah mungkin Conan tidak mempercayai Ai dengan identitas asli orang itu? Ya, memang adil juga, mengingat Conan pun tak mempercayai Amuro dengan identitas asli Ai, bukan? Tetapi jika Subaru saja mampu mengetahui identitas asli Conan dan Ai, pasti tak sulit bagi Amuro untuk memecahkan misteri keduanya, bukan?

Conan mengamatiku dengan seksama, membuatku tegang sementara Ayumi, Genta dan Mitsuhiko mengobrol dengan Amuro. Entah bagaimana, aku dan Amuro jadi berjalan bareng dengan grup detektif cilik dan...tentu saja kami jadi terlibat kasus. Tapi dengan gabungan kekuatan deduksi seorang Conan dan Amuro, kasus berhasil dipecahkan dengan sukses. Dalam hal ini, aku merasa sungguh beruntung dapat menyaksikan langsung aksi keduanya.

Di akhir semua itu, aku pun berterima kasih sekali lagi pada Amuro lalu berpamitan kepadanya. Mungkin aku sedikit ingin kabur darinya jika teringat kekonyolanku tadi. Saat aku melangkah pergi, aku merasakan tatapan Amuro dan mungkin juga Conan padaku. Atau mungkin aku ge-er.

777

Malam itu, aku bermimpi buruk akan tangan-tangan dari segerombolan sosok hitam pekat yang menggerayangiku bagai zombie kelaparan, membuatku terbangun dan nyaris menjerit ditengah malam. Entah kenapa rasa tidak enak diikuti rasa putus asa jadi menghantuiku.

Mendadak mual, aku pun melesat ke toilet mencoba untuk muntah namun tidak bisa. Aku membasuh wajahku dengan air pada wastafel dan seperti layaknya film horor, saat aku memandang cermin, aku dikagetkan bahwa aku tak bisa melihat mata, hidung dan mulutku, membuatku terpekik kaget dan melompat mundur. Detik selanjutnya bayangan pada cermin kembali normal. Aku meraba wajahku untuk memastikan kenormalan pada diriku.

Tentu saja...aku juga mulai akan kehilangan kewarasanku juga...disamping bahwa aku ternyata masih sekarat walau telah membuat kesepakatan dengan Yohan si brengsek.

Aku mendesah dengan berat hati sebelum kembali ke dalam kamarku. Aku memeriksa smartphone-ku dan merasa agak terhibur saat melihat sebuah pesan dari Amuro yang mengkhawatirkanku dan berharap agar aku segera merasa lebih baik. Dia juga menuliskan agar aku mampir ke Poirot besok untuk mencoba menu baru-nya. Aku tak bisa menahan senyumku setelah membaca pesan darinya.

Aku duduk ditepi ranjang dan tiba-tiba merasa diliputi kesedihan yang tidak jelas sumbernya. Aku dengan pasrah menyadari bahwa aku akan sulit melanjutkan tidur untuk selanjutnya.

777

Esoknya, aku memenuhi undangan dari Amuro untuk mencoba hidangan barunya. Saat aku masuk ke dalam Poirot, Amuro dan Azusa menyambutku seperti biasa. Aku menampilkan senyum ramah kepada mereka.

Aku pun segera memesan menu baru Poirot dan segelas juice jeruk. Amuro segera menyiapkan pesananku sembari melemparkan senyum hangat kepadaku. Aku tersenyum-senyum sendiri, merasa mood-ku saat ini sedang bagus, sembari memanjakan mataku dengan keberadaan seorang Amuro.

Aku melihat Azusa mengajak Amuro berbicara. Interaksi mereka kelihatan sungguh bersahabat. Dan melihat mereka, aku sungguh merasa silau. Mereka tidak kelihatan mesra namun entah kenapa diriku tak bisa berhenti menafsirkan bahwa ada sesuatu yang istimewa diantara mereka.

Berpikir demikian, hatiku sedikit terenyuh. Alhasil, mood-ku sedikit anjlok. Aku pun jadi tidak nafsu makan. Berbagai macam pikiran yang menyatakan kebodohanku perihal ketertarikanku kepada orang itu melintas dalam pikiranku.

Aku memaksakan diri untuk makan sampai habis. Indra perasa-ku seperti jadi tumpul saja karena makanan yang seharusnya enak rasanya jadi hambar. Aku hanya ingin segera pergi dari tempat ini.

Amuro dan Azusa, keduanya memang telah menyatakan bahwa tidak ada apapun diantara mereka saat kutanya sebelumnya. Tetapi bisa saja mereka berbohong, lebih mungkin karena mereka beranggapan apapun hubungan mereka sama sekali tak ada kaitannya denganku.

Ah, hatiku terasa berat... Dengan agak lesu, aku membayar tagihan pada Azusa kemudian pergi.

Jika keduanya menyadari kelesuanku, mereka tidak menanyakannya kepadaku. Tetapi aku melihat sekilas sepertinya Azusa tengah mengatakan sesuatu mungkin tentangku kepada Amuro.

Ah, aku memang bodoh. Aku tahu suatu kebodohan membiarkan diriku memupuk rasa suka kepada orang itu. Bagaimanapun usia kami terpaut jauh dan jika kami sepantaran pun, aku ragu dia akan tertarik padaku. Shuichi Akai juga sama, kecuali kau adalah Jodie, aku rasa.

Sebenarnya apa yang kupikirkan berusaha memiliki kaitan dengan kedua orang hebat itu?

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku keras-keras lalu menjambak rambutku. Jangan pikir macam-macam, Eva! Prioritasmu saat ini adalah berusaha bertahan hidup!

Tapi, apakah aku benar ingin hidup? Aku teringat perkataan Yohan soal itu, membuatku meringis dan aku memejamkan mataku seakan ingin menolak pemikiran semacam itu. Kenapa aku malah mempertanyakan pernyataan ingin hidupku? Semua orang tak perlu izin bukan untuk hidup? Sayangnya dalam kasusku, sepertinya aku memang perlu izin.

Bagaimana caraku untuk menyenangkan Yohan selanjutnya supaya dia membiarkanku hidup? Aku memang harus melakukan yang dia mau dariku, bukan? Soal Souji...bagaimana caraku bisa mendapatkan nama asli orang itu? Aku bahkan tidak tahu dimana dia sekarang...

Ya, aku memang harus berbicara dengan Yuka soal Souji, bukan? Tetapi sebenarnya aku tak begitu ingin memaksa anak itu untuk berbicara denganku jika dia tidak mau. Mungkin juga aku agak takut untuk menghadapi Yuka. Kenapa anak itu bisa mempercayai perkataan Souji soal diriku? Pasti perkataan orang itu sungguh meyakinkan jika Yuka sampai percaya. Ataukah...karena dia anak kecil maka mudah dipengaruhi? Ugh, pusing!

"Kalau tidak salah...Eva, bukan?"

Aku membelalakan mata kaget ada yang menyebutkan namaku dan aku menoleh ke arah suara itu dan melihat Shukichi .

"Apa kau tak apa-apa?" tanyanya sembari melangkah mendekatiku.

Untuk sesaat pikiranku berubah kosong. Aku buru-buru menampilkan senyum ramah. "Kakaknya Kak Sera!" seruku. "Kak...Kichi, bukan? Apa benar aku boleh memanggilmu demikian?"

Dia tersenyum kepadaku. "Terserah kepadamu. Jika kau nyaman memanggilku demikian, saya tak akan mempermasalahkannya." tuturnya.

"Ok, Kak Kichi, sedang apa Kakak disini?"

"Oh, saya hanya kebetulan lewat sini dan melihatmu. Kau kelihatannya sedang gundah?"

Aku mengeryit, menyadari orang ini pasti tadi melihatku menjambak rambut sendiri. "Aku tak apa-apa."

"Saya dengar dari Masumi, kau sempat masuk rumah sakit kemarin."

"Iya, tapi aku sekarang sudah baik-baik saja." jawabku sembari menampilkan senyum sepolos mungkin.

Aku heran ternyata Sera ada membicarakan soal diriku kepada kakaknya ini. Memang awal aku bertemu Shukichi pun Sera sepertinya sudah memberitahu dia soal diriku yang dikatakannya sebagai penulis kecil.

"Oh, syukurlah kalau begitu." Dia tersenyum kepadaku, sebelum mengamatiku dalam-dalam, membuatku merasa canggung. "Maaf sebelumnya, apakah Eva... Saya pernah mendengar dari Yumi, dia seorang polwan, bahwa dia bertemu anak kecil bernama Eva yang berjalan dalam tidur...apakah itu adalah kau?"

Aku tak mengira Yumi bahkan membicarakan soal diriku kepada pacarnya ini. Apakah aku seterkenal itu sekarang dalam kalangan karakter manga DC? Jangan-jangan selanjutnya aku akan bertemu Vermouth atau Gin lagi... Hiiih!

Aku menggaruk-garukkan kepalaku, merasa agak malu sendiri juga. "Benar, itu aku. Kak polwan bernama Yumi itu pacar Kakak?"

Wajah orang itu memerah, membuatku ingin tertawa.

Aku khawatir juga jika Yumi memberitahu orang ini soal diriku yang berjalan dalam tidur, apakah dia juga memberitahu soal bahwa saat aku berjalan dalam tidur, aku berpapasan dengan seorang pembunuh? Tetapi walau Shukichi itu memiliki kemampuan analisis yang mungkin setara Conan, sepertinya orang ini tidak berniat menggunakan kemampuannya untuk memecahkan misteri pembunuhan secara aktif seperti Conan. Jadi mungkin saja dia tak akan tertarik untuk menginterogasiku soal itu.

Mendadak merasa tidak nyaman, aku pun buru-buru berpamitan kepadanya untuk pulang. Walau mungkin aku terkesan kurang sopan, aku segera pergi meninggalkan orang itu sembari meminta maaf mengatakan bahwa aku terburu-buru. Aku terus berlari melewati pinggiran jalanan dimana macam-macam toko berada dan nyaris jatuh tersungkur ke tanah saat sekilas lagi-lagi aku melihat pantulan bayanganku yang tak memiliki wajah.

Aku berhasil menjaga keseimbanganku sehingga tidak jatuh. Dengan jantung berdebur keras, aku melangkah mendekati kaca yang memantulkan bayanganku. Perlahan-lahan aku bisa kembali bernafas lega begitu aku menyadari pantulan bayanganku normal. Aku mendesah sembari mengusap kedua pelupuk mataku dengan gemas. Kenapa aku terus melihat kilasan pantulan bayanganku yang tak memiliki wajah? Pertanda burukkah ini?