Aku dikejutkan oleh rencana Papa dan Mama yang katanya hendak meliburkanku dari sekolah selama 2 minggu untuk pergi ke England, London. Mama mengatakan kami akan pergi menemui Kakek, ayahnya Mama yang memang Eva yang asli juga belum pernah bertemu. Rupanya Kakek tidak menyetujui hubungan Papa dan Mama tetapi keduanya menolak berpisah dan akhirnya kawin lari. Wah, drama...

Tetapi, aku yakin ada alasan lain selain menemui Kakek yang katanya sudah lama sekali hilang kontak dengan Mama. Aku menyadari ternyata mereka berniat memeriksakan diriku di rumah sakit di London. Rupanya mereka masih saja mengkhawatirkan kesehatan diriku padahal aku beberapa hari ini baik-baik saja, tak mengalami kejadian yang aneh-aneh lagi. Yaa, mereka tidak tahu soal serangan panik yang kuderita saat bepergian bersama Amuro. Aku meminta orang itu untuk tidak memberitahu Papa dan Mama. Aku jadi tidak enak dengan orang itu, dia begitu pengertian kepada diriku dan aku malah tidak bersikap jujur kepadanya. Tapi, secara teknis, Amuro juga sebenarnya tidak jujur padaku juga, bukan?

Bagaimanapun menurutku hanya membuang waktu dan uang untuk memeriksakan diriku di rumah sakit London. Mereka juga pasti tak akan menemukan yang salah padaku. Tetapi, Papa dan Mama bersikeras untuk pergi. Mama juga mengatakan dia memang berniat untuk menjenguk ayah-nya juga. Mereka bahkan sudah mengurus izin dengan pihak sekolah agar aku bisa diberikan tugas susulan nantinya. Ugh, membayangkannya saja sudah membuatku gusar, aku malas harus mengejar ketinggalan. Karena aku memang dalam wujud anak kecil, aku tak berhak menolak keinginan mereka untuk membawaku pergi. Setidaknya aku tidak dipaksa pindah dari Jepang. Aku tak rela meninggalkan orang-orang dari manga DC. Aku tak mau jika sampai tak bisa bertemu lagi dengan Amuro dan Subaru.

Aku menuturkan komplain pada Subaru saat jam les hari itu.

Subaru mendengarkanku dengan sabar sebelum berkata, "Eva, saya rasa tak ada salahnya kamu mengikuti keinginan orangtuamu. Periksakanlah dirimu dirumah sakit disana. Anggaplah demi menenangkan pikiran orangtuamu."

"Tapi kan itu percuma, Kak! Dokter disana juga tak akan menemukan kejanggalan apapun pada diriku."

"Jika demikian pun, anggap saja kau sedang pergi liburan dengan orangtuamu."

"Aku perginya dengan Mama saja. Papa tidak ikut." tukasku dengan agak cemberut. "Kami akan menemui Kakek yang bahkan Eva belum pernah bertemu sama sekali. Katanya, Kakek tidak menyukai hubungan Papa dan Mama. Orang itu juga pasti tak akan menyukaiku karena aku anak Papa."

Aku tak percaya dengan diriku yang bisa saja merasa gugup hendak menemui 'Kakek' padahal orang itu bukan benaran Kakek-ku. Papa dan Mama juga bukan orangtua asliku tetapi entah kenapa aku menyayangi mereka dan tak ingin hal buruk terjadi pada mereka. Ah, sudahlah jangan dipusingkan. Jika orang itu tidak menyukaiku nantinya, aku tak harus terlalu mempedulikan soal itu, bukan? Ataukah esensi Eva yang asli dalam diriku juga akan merasa sedih, merasa ditolak? Aku benci dengan kemungkinan penolakan dari seseorang walau hal itu memang pasti tak bisa dihindarkan dalam hidup, bukan?

Subaru menepuk kepalaku dengan lembut. "Saya yakin Kakek-mu pasti akan menyukai keberadaanmu, Eva." Dia mengatakan kalimat seperti itu kurasa untuk menghiburku saja, mana mungkin dia bisa seyakin itu bahwa Kakek benar akan menyukai diriku. "Seperti yang saya katakan sebelumnya, anggap saja Eva pergi liburan. Saya rasa Eva akan menyukai jalan-jalan di London."

Yang dikatakan Subaru mungkin ada benarnya. Aku yang asli juga belum pernah ke London, England. Makanya, ini kesempatan baik untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri. Tetapi, apakah akan baik-baik saja jika aku pergi kesana? Bagaimana jika nanti aku dikejar pemburu lagi? Aku harap tidak. Aku sungguh berharap perkataan Caleb ada benarnya bahwa organisasi pemburu tak akan terus menargetkan diriku sekarang setelah beberapa kali gagal.

"Apakah Eva khawatir akan para pemburu?" tanya Subaru.

Aku mendesah. "Semoga saja mereka akan membiarkanku sendiri. Tanpa diburu pun, nyawa-ku mungkin sudah tak berapa lama lagi..." tuturku dengan mata menerawang jauh.

Subaru menatapku dengan agak prihatin. Aku memang sudah memberitahukan setengah kebenarannya kepadanya, bahwa aku seharusnya sudah mati, tetapi karena kesalahan dewa kematian, aku jadi kembali hidup dengan efek samping memiliki mata shinigami dan bahwa raga ini perlahan-lahan akan mengalami kegagalan sebelum shut down dan pada akhirnya nanti kematianku memang tak bisa dihindari.

Aku tak tahu bagaimana proses analisa pemikiran Subaru terhadap situasiku dan apakah dia sulit mencerna kenyataan aneh yang mengitari seorang Eva. Jujur aku benar-benar terkesan bahwa dia masih mau terlibat denganku.

"Apakah Eva berniat memberitahukan kenyataan sebenarnya kepada Kak Amuro-mu?" tanya Subaru dengan nada yang sedikit menyindir.

Aku mendesah lagi. "Untuk sementara ini, aku mungkin tak akan melakukannya. Aku tak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Lagipula, Lizzie akan marah padaku jika aku memberitahu orang lain lagi soal mata shinigami."

"Menurut saya, membiarkan kedua orang itu masuk dalam lingkup rahasiamu itu akan membantumu lebih baik. Mereka bisa lebih melindungimu. Apalagi mereka memang sudah mencurigai keanehan disekitarmu."

"Maksud Kakak, Kak Amuro dan Conan?" Aku mengangkat bahu sambil mengeryitkan hidung. "Tidak mungkin, kedua orang itu terlalu sibuk."

Subaru memandangiku dengan seksama. "Kenapa Eva berpikir demikian?"

Tanpa sadar, aku mengatakan hal itu karena aku memang menganggap Amuro sibuk dengan pekerjaannya sebagai triple agent dan tentu saja Conan juga disibukkan dengan mayat-mayat yang berjatuhan kemanapun dia pergi, belum lagi jika dia terlibat kasus yang berhubungan dengan organisasi hitam. Aku sungguh merasa aku tak memiliki tempat dalam kehidupan mereka yang sudah rumit.

"Tidak tahu, aku hanya merasa mereka orang sibuk saja." ujarku pelan. "Sebenarnya aku juga merasa Kak Subaru juga sama dengan mereka." Aku menatap orang itu dengan berat hati. "Maafkan aku yang merepotkanmu." Aku menundukkan kepala dalam-dalam memberi hormat kepadanya.

"Jangan memasang ekspresi wajah seperti itu."

Aku mengangkat kepala, memandangi orang itu.

"Saya sudah mengatakan hal ini sebelumnya, jangan menganggap dirimu sebagai beban. Carilah pertolongan yang kau perlukan tanpa rasa khawatir. Saya yakin kedua orang itu, jika Eva berniat memberitahu rahasiamu kepada mereka, mereka pun pasti bersedia menolongmu untuk hal apapun." ujarnya dengan tenang. "Selama Eva berhati-hati saat mengungkapkannya supaya tidak terjadi kesalahpahaman."

Aku menelan ludah, mengetahui bahwa Subaru mungkin benar. Tetapi, aku masih ragu apakah benar-benar baik melibatkan tokoh-tokoh manga DC dalam lika-liku kisahku? Melibatkan Subaru dalam kasusku saja sudah membuatku dag-dig-dug, takut keterlibatannya denganku akan mengubah nasibnya kelak dan mengingat perkataan Reina bahwa nasib orang bermata shinigami kebanyakan berakhir buruk, aku khawatir nasib buruk yang kumiliki juga akan menular kepada orang ini. Aku tak akan pernah bisa memaafkan diriku jika orang ini sampai mati karena diriku. Tetapi aku juga menyadari bahwa aku memang membutuhkan pertolongan orang ini dan mungkin pun kedepannya tak akan terelakkan bahwa aku harus melibatkan Amuro atau Conan.

"Kesalahpahaman?" tanyaku dengan agak bingung saat menyadari kata-kata terakhir dari Subaru.

Subaru tersenyum tipis. "Eva tahu nama mereka yang sebenarnya, bukan?" tanyanya.

Aku menelan ludah. "I-iya..."

"Apa Eva tak memiliki pertanyaan soal kenapa mereka tidak memakai nama asli mereka?"

Aku menjadi sedikit tegang. "Mungkin Kak Amuro mengganti namanya karena dia tidak suka nama aslinya?" Aku asal bicara saja. "Kalau Conan...sebenarnya aku agak heran karena dia memiliki nama yang sama dengan pacarnya Kak Ran yang katanya detektif SMA."

"Lalu...?"

Aku mendesah dan mengangkat bahu, berpura-pura bersikap bodoh saja. "Aku tak tahu...banyak hal yang tidak kumengerti...soal mata shinigami-ku jadi aku tidak begitu memusingkan soal nama yang berbeda. Aku...lebih tertekan akan keberadaan warna merah atau kuning..." tuturku dengan sedikit kejujuran.

"Begitu?"

Apa dia kecewa dengan jawabanku? Habis mana mungkin kukatakan sebenarnya alasanku tidak pernah mempertanyakan soal itu karena aku sudah tahu segalanya dari manga DC. Dan kenapa pula Subaru menyinggung soal nama mereka?

"Memangnya Kakak tahu nama asli mereka?" tanyaku pura-pura tidak tahu bahwa aku tahu dia tahu.

Subaru tidak menjawab. "Eva, kau harus berhati-hati untuk tidak menyebutkan nama asli orang yang memperkenalkan diri mereka dengan nama lain, kau mengerti? Beberapa orang...mereka tidak akan bereaksi baik kepada orang yang tahu nama asli yang mereka sembunyikan. Saya tak ingin kau sampai terlibat bahaya karena hal ini."

Aku mengangguk setuju. "Apa Kak Amuro dan Conan juga tak akan bereaksi baik jika aku mengatakan bahwa aku tahu nama asli mereka?"

Subaru tertawa halus. "Saya ingin melihat sendiri reaksi mereka saat-saat dimana Eva memberitahu mereka soal itu. Jadi, jika Eva berniat memberitahukan mereka yang sebenarnya, tolong jangan lupa memberitahu saya dahulu."

Aku mengeryitkan dahi akan permintaan orang itu tetapi aku mengangguk menyetujuinya.

777

Aku mengajak Miyuki ke Poirot untuk makan siang bersama. Aku merekomendasikan menu baru yang beberapa hari lalu Amuro menyuruhku mencoba dan aku sangat menyukainya sehingga aku ingin berbagi dengan Miyuki.

Yuka masih saja tidak masuk sekolah dan masih sulit untuk ditemui. Aku agak mengkhawatirkannya namun aku tak berdaya untuk melakukan apapun untuk anak itu. Aku dan Miyuki juga baru saja dari menjenguk Yuka dirumahnya namun harus gigit jari akibat penolakan anak itu untuk yang sekian kalinya.

Aku sudah memberitahu Miyuki soal kepergianku ke London selama 2 minggu. Anak itu agak bersedih karena dia akan di sekolah sendiri tanpa diriku dan Yuka. Aku jadi kasihan padanya. Aku hanya bisa menjanjikan souvenir lucu untuknya. Miyuki pun berjanji akan fotocopy semua catatan sekolah untukku selama aku pergi. Aku berterima kasih padanya.

"Eva akan pergi ke London?" tanya Amuro menimbrung percakapan kami saat dia mengantarkan pesanan kami.

Aku pun menceritakan soal alasan aku harus pergi ke London. Aku sudah mulai bisa menerima bahwa aku memang harus pergi ke London untuk check-up dan menemui Kakek. Aku tidak begitu antusias untuk kedua alasan tersebut tetapi aku mulai tertarik dengan ide jalan-jalan di London dengan Mama.

Azusa pun ikut menimbrung percakapan kami saat dia mendengar soal aku akan check-up dirumah sakit disana nantinya, gadis itu mengkhawatirkan diriku juga. Dia menyinggung soal kejadian dimana aku sempat jatuh pingsan di Poirot. Ugh, kenapa dia harus menyinggung soal itu?

Miyuki kaget mendengarnya dan bertanya, "Eva, kau benar-benar sakit?"

Aku menggeram dengan agak sebal. "Tidak, aku sehat sekarang. Papa dan Mama saja yang terlalu ketakutan."

Amuro menepuk kepalaku seakan menegurku. "Mereka mengkhawatirkan keadaanmu, Eva." ujarnya dengan serius, membuatku terdiam.

Aku berjanji pada Miyuki akan mengirim email atau video call jika bisa saat disana. Diam-diam aku melirik ke arah Amuro yang sedang mengobrol dengan Azusa dengan santai dan riang. Aku mendesah.

Miyuki tertawa kecil membuatku menoleh kepadanya. Melihat ekspresi wajahnya yang kelihatan seperti akan menggodaku, aku langsung melototinya.

777

Sesuai dugaanku, rumah sakit di London juga tak menemukan kejanggalan pada diriku. Mama membawa rekam medis-ku namun hal itu tak banyak membantu. Mereka hanya menyarankan agar aku konsultasi secara regular dengan psikiater anak.

Mama membawaku ke sebuah mansion besar yang ternyata adalah tempat tinggal Kakek. Aku tidak menyangka ternyata Mama adalah anak orang kaya. Tetapi, aku dan Mama tidak berhasil menemui Kakek, yang kata pelayan butler disana, sedang sibuk. Mama terlihat agak kesal, beranggapan Kakek menghindari kami.

Aku tak mengerti kenapa Mama sangat ingin menemui Kakek yang kelihatannya tidak tertarik untuk menemui kami. Aku jadi khawatir apakah keluarga kami sedang kesulitan uang dan Mama ingin meminta kepada Kakek? Ketika aku menanyakan soal itu, Mama menepis kekhawatiranku dengan mengatakan keluarga kami baik-baik saja, tidak kesulitan uang.

Pelayan Butler disana sudah agak tua tetapi wajahnya masih terlihat segar dan bisa dibilang tampan, dia juga ramah kepadaku dan Mama. Dia menyuguhkan teh dan kue yang enak kepada kami. Setelah menunggu beberapa jam, Mama menarikku pergi dari mansion itu. Pelayan Butler menyarankan agar kami tinggal disini daripada kembali ke hotel tetapi Mama menolaknya.

Akhirnya Mama menyerah soal check-up rumah sakit setelah aku merengek-rengek bahwa aku sehat dan ingin jalan-jalan di London untuk membeli souvenir untuk Papa, Miyuki, Yuka dan beberapa karakter manga DC yang kukenal lama selama ini. Kami sangat menikmati sisa waktu kami di London dan syukurlah tak terjadi hal buruk pada tubuh ini. Aku tak ingin sampai Mama menarikku kembali ke rumah sakit.

Saat sedang makan malam di salah satu kafe kecil, kami berpapasan dengan Yukiko Kudo. Mama yang merupakan penggemar wanita itu sangat senang sekali. Yukiko tersenyum ramah kepada kami dan dia mengajak kami jalan-jalan bersamanya.

Aku heran kenapa Yukiko ada disini, kebetulan semata-kah? Yukiko mengatakan dia meninggalkan suaminya yang sedang berkutat dengan novelnya di hotel. Mataku berbinar-binar mendengar soal Yusaku dan novelnya. Aku jadi merasa senang sendiri saat teringat janjinya untuk menulis novel berdasarkan plot Mentalist.

Yukiko tersenyum kepadaku. "Apakah Eva ingin bertemu dengan dia? Aku rasa dia akan senang menjumpaimu."

Mama buru-buru menolak, tak ingin kami mengganggu Yusaku yang sedang sibuk menulis novel.

Yukiko menyinggung soal ide cerita yang kuberikan pada suaminya, membuat Mama menoleh menatapku dengan penuh tanda tanya. Yukiko masih saja memuji-muji diriku sebagai calon penulis kecil. Aku hanya bisa tertawa renyah merasa tak bisa menerima pujian semacam itu saat ini.

Entah kenapa, akhirnya Mama diajak Yukiko untuk shopping bersama sementara aku ditinggal di kamar hotel bersama Yusaku yang memutuskan untuk beristirahat saat melihatku disana. Aku merasa super canggung dihadapan penulis terkenal ini.

Menyadari kecanggungan diantara kami, Yusaku lalu mengajakku keluar jalan-jalan juga.

"Apakah Pak Yusaku tidak memakai samaran? Pak Yusaku kan orang terkenal..." tanyaku dengan nada polos.

"Ide bagus..." Yusaku menyetujuiku dengan agak geli lalu dengan dramatis dia memakai kacamata hitam dan topi fedora. Dia lalu berpose dan menanyakan soal penampilannya kepadaku.

Aku tertawa terkekeh-kekeh melihat tingkahnya. Aku meraih kacamata hitamku juga dari dalam tas selempangku lalu aku pun berpose juga dengan dramatis.

Yusaku menjulurkan satu tangannya kepadaku sambil tersenyum ramah.

Aku pun membalas senyumnya sembari menjematkan tangan kecilku dalam genggaman pria itu. Orang lain yang melihat kami mungkin saja mengira orang ini adalah ayahku. Aku merasa terkesan pada orang ini yang ternyata pandai berinteraksi dengan anak kecil walau aku bukan anak kecil tulen juga. Dia membawaku jalan-jalan ke tempat neutral namun menyenangkan untuk kami berdua.

Tiba-tiba dia menanyakan apakah aku memiliki ide menulis menarik lainnya. Aku kaget juga ditanyakan demikian.

"Apa Pak Yusaku sedang kena writer's block?" tanyaku.

Dia tertawa mendengar pertanyaanku. "Mungkin. Jika demikian, apakah Eva bersedia membantuku menghilangkan writer's block ini?" tanyanya dengan geli.

Aku memandangi dia dengan seksama sebelum tersenyum secemerlang mungkin. "Ok!"

Dia sedikit terpana mendengar jawabanku. Dia tersenyum dan menepuk-nepuk kepalaku. "Saya jadi mengharapkan anak perempuan seperti Eva yang bisa bertukar cerita dengan saya." tuturnya. "Istriku juga sebenarnya mendambakan ingin seorang anak perempuan yang dia harapkan dapat berbagi kesukaan berakting yang sama dengannya..."

Aku merasa senang mendengar perkataan Yusaku soal diriku. Mungkin enak juga jika punya ayah seorang penulis cerita seperti dia. Aku heran jika Yusaku dan istrinya memang menginginkan seorang anak lagi, kenapa mereka tidak melakukannya? Kalau dalam canon, memang hal semacam ini tidak ada disebutkan. Mungkinkah keberadaanku mengubah ini karena mereka bertemu denganku? Ah, ge-er lagi deh aku...

Kau tak ingin anak perempuan sepertiku. Pemikiran itu mendadak muncul menusuk diriku saat aku memandangi orang itu. Aku bukan orang baik...atau pintar atau hebat... Kau tak ingin anak seperti aku. Aku mengecewakan.

Aku mendesah, sebal dengan diriku yang sepertinya tak bisa menahan pemikiran positif. Aku berusaha menyingkirkan pemikiran negatif yang familiar itu karena sering menusuk batinku saat aku masih hidup di dunia nyata. Aku berusaha fokus kepada Yusaku dan permintaannya untuk 'ide' menulis.

Ide-idemu itu bahkan bukan sebenarnya milikmu juga, kau mencurinya dari dunia nyata. Kau palsu, Eva. Palsu. Kau menyedihkan. Lebih baik kau mati saja daripada jadi beban bagi semua orang.

Aku menggeleng-gelengkan kepala keras-keras berusaha mengusir pemikiran menyakitkan dan menyebalkan yang merusak mood itu. Biarkan saja aku bersenang-senang, kenapa sih? Lama-lama dongkol sendiri...

Yusaku mengamatiku dengan prihatin. "Kau tak apa-apa, Eva? Ada apa?" tanyanya.

Aku menahan keinginan untuk menjambak rambut atau menjedukkan kepala ke dinding demi mengusir pemikiran yang menusuk-nusukku itu. Get a grip, Eva. Aku menampilkan senyum palsu. "Aku baik-baik saja."

Orang itu mungkin menyadariku kebohonganku namun untungnya dia tidak memaksa mempertanyakan kebenarannya padaku. Namun aku melihat kekhawatiran dalam ekspresi wajahnya. Mata orang ini benar-benar kelihatan ramah dan menenangkan.

Aku mengalihkan perhatianku darinya sebelum kelihatan terlalu terhipnotis oleh pesonanya lebih jauh. Aku memikirkan tentang keluarga Kudo. Dahulu aku pernah menemukan beberapa fanfiction dimana OC terlahir sebagai saudara perempuan dari Shinichi Kudo dan tentunya OC itu mengarah ke Mary Sue dengan kecantikannya, kemampuan analisis yang setara ayah dan anak Kudo, belum lagi kemampuan berakting setara sang ibu. Benar-benar sempurna. Tapi, jika anak perempuan Kudo benar sungguh ada, tidak heran juga jika dia mewarisi gen terbaik dari kedua orangtuanya itu, bukan? Mungkin masih bisa diterima.

Aku sempat berkhayal juga bagaimana rasanya jika aku terlahir di dunia ini sebagai karakter ekstra anak gadis dari keluarga Kudo, akankah aku sesempurna itu dalam mewarisi gen mereka? Aku mengerutkan dahi, merasa terganggu dengan khayalan semacam itu. Aku menoleh menatap orang itu dan merasa agak canggung juga melihat orang ini tengah mengawasiku dengan cermat. Jangan-jangan Conan memberitahu soal kecurigaannya kepadaku kepada kedua orangtuanya? Mungkinkah pertemuan ini bukan hanya kebetulan semata?

Aku jadi merasa agak sebal dengan Conan. Sepertinya aku lagi sensi.

"Aku punya ide tetapi ini lebih mengarah sedikit ke supernatural thriller..." tuturku. "Ini tentang seorang pemuda arogan yang berwajah tampan dan sangat pintar namun berperilaku tidak bagus sehingga dia dikutuk menjadi anak kecil dan ditugaskan untuk menetralkan kegelapan dalam jiwa seseorang. Maka anak itu pun memutuskan menjadi detektif untuk memecahkan kasus sekaligus menetralkan kegelapan dalam jiwa pelaku kejahatan." Aku melihat Yusaku tidak bereaksi atas ide ceritaku yang bisa dibilang memiliki kesamaan dengan situasi anaknya.

Sebenarnya kisah yang kututurkan adalah manga Mythical Detective Loki. Dulu saat aku membaca manga tersebut, aku selalu merasa situasinya memang mirip dengan Shinichi dalam arti keduanya berubah menjadi detektif cilik, hanya bedanya alasan Conan menjadi anak kecil adalah akibat obat eksperimen sementara Loki alasannya supernatural. Tetapi aku lebih suka manga DC daripada manga MDL itu dikarenakan terjemahannya lebih bagus dan mudah dimengerti. Sampai detik ini pun aku masih sulit memahami plot ragnarok yang ada dalam manga Loki itu.

Yusaku dengan wajah tenang mulai menanyakan plotline cerita macam apa yang ingin aku buat dari cerita itu. Sebenarnya aku asal bicara saja sekalian ingin sedikit menyindir dia dan anaknya akibat pemikiran paranoidku bahwa orang ini tengah mengawasiku atas permintaan anaknya. Tentu saja aku menyadari kemungkinan bahwa pertemuan kami murni kebetulan semata. Bukannya orangtua Shinichi dikatakan lebih sering di luar negeri? Jadi bukan tidak mungkin mereka bisa kebetulan berada di London. Berpikis logis begini aku jadi tidak enak hati karena menyindirnya sedemikian rupa.

"Aku tidak tahu. Aku punya banyak plot bunnies tapi aku tak pernah bisa menuliskannya..." tukasku dengan seenaknya.

Yusaku benar-benar menekanku soal plotline cerita tersebut. Setahuku orang ini hanya menulis novel misteri pembunuhan, apakah dia benar-benar akan tertarik menuliskan cerita yang mengarah ke supernatural thriller? Enaknya menjadi penulis cermat seperti orang ini. Aku harap suatu hari aku benar-benar bisa menerbitkan novel original karyaku sendiri, akan tetapi aku meragukan kemampuan menulisku. Jika aku menulis fanfiction untuk fandom yang kusukai pun, aku sama sekali tak yakin akan kemampuanku untuk menamatkan ceritanya, barangkali hanya akan berakhir dengan kata DISCONTINUED atau HIATUS.

Entah bagaimana saat kami berjalan-jalan bersama, kami berdua berakhir diculik orang jahat. Mendadak kami dihadang tiga pria berpakaian serba hitam yang memakai penutup wajah hitam sehingga kami tak bisa melihat wajahnya. Mereka menodongkan pistol kepada kami dan memaksa kami naik mobil van hitam. Didalam van kami disuruh memakai kain untuk menutup mata kami.

Penculiknya sepertinya mengenal Yusaku Kudo sebagai orang terkenal nan kaya dan dia ingin meminta uang tebusan yang berjumlah cukup besar kepada keluarganya. Aku tidak percaya aku jadi ikutan terlibat kasus, bahkan kali ini yang terlibat kasus malah ayahnya Shinichi.

Yusaku terlihat lumayan tenang dalam menghadapi para penculik. Dia menegosiasikan agar mereka melepas diriku karena aku tak ada kaitannya dengannya. Namun para penculik menolak melepaskanku, malah mereka menggunakan kehadiranku yang tak terduga untuk menambah uang tebusan.

Mereka memaksa Yusaku untuk menghubungi istrinya agar menyiapkan uang tebusan yang diminta. Awalnya Yukiko mengira suaminya sedang berpura-pura tetapi mendengar keterlibatanku, Yukiko pun menanggapi serius ancaman tersebut.

Mereka membawa kami dengan kasar menuju suatu tempat. Yusaku terdengar khawatir untukku saat dia menanyakan keadaanku. Aku tidak melihat warna Yusaku berubah kuning jadi aku rasa kami akan baik-baik saja? Tetapi mengingat sekarang mataku ditutup seperti ini, jika ada perubahan pada warnanya, aku tak akan tahu. Hal ini membuatku agak gelisah.

Tetapi aku tahu Yusaku juga merupakan tokoh penting dalam manga DC jadi pasti dia pun memiliki plot armor, bukan? Dia tidak mungkin mati disini, bukan? Mati ditangan penculik random? Ataukah...keberadaanku ini akan mengubah nasibnya? Rasanya aku ingin menjerit ke langit, ingin marah kenapa aku tak bisa beristirahat dengan tenang kemanapun aku pergi? Apakah aku benar-benar ketularan Conan menjadi magnet kasus?

Rupanya aku tak perlu khawatir karena selanjutnya kami diselamatkan oleh Jodie. Wanita itu dengan sukses berhasil meringkus pelaku penculikan satu per satu. Mulutku menganga lebar, memandang wanita itu dan keberadaannya yang tidak terduga. Aku jadi curiga Shuichi yang mengirim wanita itu untuk mengawasi sekaligus melindungiku. Tetapi apakah Shuichi bisa memberi perintah, menggerakkan agen FBI seperti Jodie untuk melindungiku tanpa alasan yang jelas? FBI sama sekali tidak tahu soal keberadaan diriku, bukan? Aku juga tak ada kaitan dengan organisasi hitam. Bukankah Jodie akan mempertanyakan akan ketertarikan Shuichi kepadaku? Shuichi memang mengatakan kepadaku bahwa dia tidak memberitahu Jodie soal mata shinigami-ku.

Ah, sudahlah terima saja, Jodie ada disini, bagus bukan? Dia menjadi penyelamat kami.

Jodie melepaskan ikatan tali pada diriku dan Yusaku. Dia mengerling padaku saat aku keterusan memandanginya. Mau tak mau aku tak bisa menahan senyum, apalagi saat melihat para penculik yang terkapar dilantai tak berdaya. Jodie is awesome!

Yusaku berterima kasih kepada wanita itu. Jodie lalu pura-pura menjadi fangirl-nya Yusaku Kudo saat dia 'menyadari' bahwa yang dia selamatkan adalah penulis novel misteri terkenal. Mereka dihadapanku sepertinya berpura-pura bahwa ini pertemuan pertama mereka.

Aku tersenyum kepada Jodie. "Bu Jodie keren! Tiga lawan satu dan kau yang menang! Hebat!" pujiku dengan antusias. "Keren seperti Nikita!"

Jodie dan Yusaku bertukar senyum. Yusaku menelepon istrinya untuk memberitahu bahwa dia baik-baik saja dan dia juga menelepon polisi lokal yang dia kenal untuk menangani para penculik.

"Nikita siapa, Eva?" tanya Yusaku mendadak.

Aku mengeryitkan hidungku dengan sebal menyadari aku kelepasan lagi. Tentu mereka tidak tahu siapa Nikita karena film serinya juga tidak ada di dunia ini. Tetapi, ini jadi membuatku ingin memberi ide kepada Yusaku untuk ceritanya yang berhubungan dengan Division.

"Nikita itu karakter agen wanita keren yang hidup dalam kepalaku..." tukasku asal.

Tetapi Yusaku sepertinya mengerti sebagai penulis, karakter-karakter yang dia buat juga hidup dalam kepalanya.

"Tidakkah Bu Jodie keren?" tanyaku sebelum dia sempat menanyakan lebih jauh soal Nikita. "Pak Yusaku harus membuat karakter agen wanita yang keren seperti Bu Jodie dalam ceritamu selanjutnya, setara dengan scarlet agent..."

Jodie tersenyum-senyum mendengar perkataanku. Aku rasa dia tahu juga bahwa seri scarlet agent milik Yusaku Kudo terinspirasi dari Shuichi Akai. "Oh, yes, that sound exciting..." serunya dan dia mengerling lagi kepadaku.

Aku tertawa terkekeh-kekeh.

Yusaku hanya tersenyum memandangi kami berdua.

Berasa ingin pamer, walau bukan ide original sendiri, aku pun mulai menuturkan 'ide'-ku soal Division dimana divisi itu merekrut orang-orang tertentu yang telah dipenjara, kebanyakan yang mendapat hukuman mati, untuk disamarkan kematiannya dan diberi identitas baru, dilatih keras menjadi agen rahasia.

Yusaku dan Jodie yang mendengarnya terlihat tertarik dengan 'ide'-ku itu. Aku pun menyerahkan kepada Yusaku untuk menggunakannya dalam ceritanya. Tetapi aku kaget saat dia menyinggung apakah Nikita salah satu agen yang direkrut Division. Untunglah saat itu aku menerima panggilan telepon dari Mama sehingga aku tak perlu menjawabnya.

Jodie beralasan kepadaku bahwa dia disini sedang liburan sekaligus misi pribadi, dia memintaku untuk tidak mengatakan kepada siapapun soal keberadaannya disini. Dia juga meminta hal yang sama kepada Yusaku.

Aku memandangi Jodie, ingin bertanya apakah Shuichi yang mengirim dia kesini untukku. Ah, jangan besar kepala deh, Eva!

Setelah selesai berurusan dengan polisi, Yusaku segera kembali ke hotel untuk menulis. Rupanya dia mendapatkan inspirasi untuk menulis. Dia menoleh kepadaku dan mengerlingkan mata kepadaku, membuatku merasa senang sendiri akan prospek cerita macam apa yang akan dia buat dengan menambahkan keberadaan Division. Fanfiction is the best!

Mama memelukku merasa lega aku tidak terluka. Aku berusaha menenangkan Mama yang panik.

777

Selama sisa waktu di London, Mama sangat dekat dengan Yukiko dan kami jadi dapat menikmati pelayanan istimewa karena pengaruhnya. Yukiko bahkan mengundang kami menghadiri undangan pesta yang diterimanya. Rupanya saat Mama shopping kemarin dengannya pun mereka sudah membicarakannya bahkan sudah menyiapkan gaun pesta untuk kupakai nanti.

It was fun. Pesta orang kaya memang beda dan pesta yang satu ini sungguh mewah dan elegan. Aku sungguh merasa seperti seorang putri saja saat menghadirinya. Untungnya pesta itu berjalan lancar tanpa suatu kasus apapun.

Saat di bandara, sesaat sebelum aku dan Mama akan naik pesawat, pelayan butler Kakek mendadak muncul dan memberikan kepadaku sebuah kado yang katanya dari Kakek. Aku memandang ke arah Mama dengan heran. Mama tersenyum dan menyuruhku membuka kadonya yang ternyata berisi sebuah gelang dengan berbagai bandul bertemakan England. Gelangnya sungguh imut. Pelayan butler menyampaikan permintaan maaf Kakek yang tidak bisa bertemu langsung denganku dan Mama saat ini.

Mama lalu pergi untuk bicara serius dengan pelayan butler dan menyuruhku untuk menetap ditempat.

Saat itu aku menyadari kejanggalan lain, aku melihat segerombolan orang-orang berwarna merah dan tertanggal hari ini. Langsung aku merasa seperti ada beban berat pada bahuku dan tenggorokanku tercekat seperti kesumbat. Aku mengamati sekelilingku dan aku menyadari ada beberapa orang lain juga berwarna merah dan tertanggal hari ini.

Aku berasumsi bahwa orang-orang ini akan mati dalam kecelakaan pesawat mengingat saat ini kami sedang di bandara. Warna merah berarti nasib mereka tak boleh diubah. Aku menoleh ke arah Mama dan merasa lega menyadari warna Mama masih normal. Berarti pesawat yang mereka tumpangi bukanlah pesawat yang sama denganku, bukan?

Aku merasa digerogoti rasa bersalah saat mengamati orang-orang berwarna merah ini berlalu lalang menjalani hari terakhir mereka tanpa tahu apa-apa. Ada anak kecil dan balita pula diantara mereka.

Saat aku sedang termenung dalam krisis moralitas, aku mendengar seseorang berkata, "Mereka semua akan mati hari ini..."

Aku terperanjat dan segera mencari sumber suara itu dan aku melihat seorang gadis berpakaian modis dan berwajah agak pucat dan yang paling penting aku tak bisa melihat data kematiannya. Gadis itu berarti sama denganku, pemilik mata shinigami.

"Aku harus memberitahu mereka..." Gadis itu berbisik sendiri dengan tubuh yang kelihatan tegang sekaligus gemetaran.

Tanpa pikir panjang, aku langsung melesat ke arah gadis itu dan mencengkram erat pergelangan tangannya.

Gadis itu tentu kaget melihatku dan kedua bola matanya melebar saat mencermatiku, mungkin menyadari bahwa dia tak bisa melihat data kematianku juga.